Work Text:
Bumi, tahun ke-4220.
Untuk Angkasa, dan secuil curhatan sebelum esensiku terlupakan.
Dulu, aku sangat berambisi untuk menjadi astronot. Berkostum seperti robot, terombang-ambing di dalam roket seperti bola basket. Kata mamaku, itu keren. Sesuai dengan namaku, Bintang Darien. Aku ingin tahu apa yang langit pada kegelapan malam takutkan, pun juga apa yang mentari pikirkan tentang rembulan. Aku juga ingin berteman dengan bintang di sana, atau pada suatu hari aku bisa menjadi salah satu dari mereka.
Semoga kamu masih familier dengan mereka. Mungkin yang kita pahami selama ini adalah langit yang tertutupi layar jumbo dengan cuaca yang tak perlu lagi mengikuti ramalan kuno. Tapi aku ingat, saat pelajaran sejarah astronomi di SMP, guruku mengatakan ada hal yang lebih indah lagi di luar sana. Galaksi, konstelasi, (mungkin) alien dengan wajah seperti ikan pari, dan banyak hal lain yang dulu manusia kaji setengah mati.
Sekarang, kata orang-orang, kita sudah tak payah lagi susah-susah mencari tahu apa yang galaksi malu-malu tutupi. Kata mereka, angkasa itu sudah mati. Bintang-bintang sudah melebur menjadi satu sembari menunggu takdir datang menghampiri. Peradaban luar bumi hanyalah dongeng pengantar mimpi untuk anak-anak di bawah sembilan tahun. Lebih baik fokus pada apa yang para ilmuwan itu berjerih payah tekuni selama berdekade lamanya. Begitu katanya.
Saat dihantam realita di masa putih-abu, arahku seperti kapal reyot yang keras kepala terombang-ambing di lautan biru. Kulupakan impian kecilku itu dan beralih berkeinginan menjadi bintang film. Atau lebih baik, aktor dalam sebuah teater musikal akhir tahun. Beriaskan hiasan bak pangeran rupawan, mengendarai kuda yang terbuat dari hologram dengan rupa khayalan, tak lupa juga menyelamatkan tuan putri dari kerajaan. Berlari ke dalam hutan lalu hidup bahagia hingga maut memisahkan. Dan pada akhirnya, panggung kami ditutup dengan lantunan pujian dan harap untuk berjumpa lagi tahun depan.
Romantis, komedi, mungkin horor, apapun akan kulakukan agar namaku disoraikan di akhir lakon ketika tirai sudah tertutup rapi dan orang-orang sudah sibuk memilih untuk apa akan pulang nanti. Dengan kereta melayang berkecepatan tinggi, atau jalan kaki saja meski harus bertemu dengan ribuan manusia yang mungkin saja jantungnya sudah tergantikan oleh kerangka besi.
Sama-sama menjadi bintang, bukan? Bedanya, bintang yang ini akan terampil di panggung sandiwara, bukan di lembayung angkasa.
Pada akhirnya, institut teater kota menjadi pilihanku yang utama. Dibandingkan dengan gedung universitas yang megah nan gagah, aula teater mungkin hanyalah sebutir biji semangka. Mungkin aula kami tidak memiliki sekuritas fantastis ataupun pengenal ID otomatisㅡsehingga beberapa kali kami kecolongan kantung koin hasil pentas mini akhir bulan dan juga beberapa perangkat pencahayaanㅡataupun lampu neon futuristik yang kadang membuat mata mengernyit kesakitan. Tapi, di sini semuanya boleh masuk. Semuanya, tanpa terkecuali. Tidak peduli kamu manusia, setengahnya, atau bukan sama sekali.
Tidak sering orang berkunjung. Paling hanya belasan, atau setidaknya puluhan jika itu musim liburan anak sekolahan. Tapi di situlah, bagaimana aku bisa bertemu dengan kamu, Angkasa Hardian. Diam-diam, aku berterima kasih kepada Tuhan tiap malam karena sudah menggariskan takdir kita untuk bersinggungan.
Angkasa, saat itu kamu hanyalah orang asing baik hati yang entah darimana datang meminjamkanku 5 koin untuk memesan taksi. Hari itu, dompetku sepertinya terselip di tumpukkan rongsokkan besi atau mungkin terjatuh saat aku menyusuri gang sempit dekat apartemen yang penuh dengan preman dengan setidaknya sepasang lengan panjang yang sudah dimodifikasi.
Pada malam itu, kamu rela mengantarku ke kantor polisi untuk mencoba agar dompet kulit peninggalan mamaku itu kembali dalam dekapan. Meski hasilnya nihil (karena polisi-polisi brengsek itu meminta bayaran 1000 koin. Gila saja!), kita sempat-sempatnya bertukar referensi kopi, tertawa ketika kakimu tersangkut di sela gorong-gorong penuh pipa tua, dan mempelajari bahwa ternyata kita tinggal di satu atap apartemen yang sama, hanya berbeda beberapa angka.
Setelah itu, pertemuan denganmu rasanya candu.
Pagi hari selalu kumulai dengan menyapamu di ruang tunggu sebelum kamu beranjak menaiki mobil kapsul bersama rekan-rekanmu ke distrik sebelah. Di siang hari, bisa jadi kamu mengirimkanku pesan tentang menu makan siangㅡyang katamu terasa seperti debu dan karat tuaㅡatau bertanya Bintang pulang pukul berapa? Dan di malam hari, mungkin aku akan menemukanmu bersandar di ujung pintu, menawarkanku untuk berjalan-jalan di alun-alun kota sehabis hujan imitasi mereda.
Tak jarang juga kamu sempat-sempatnya mampir ke teater meski butuh waktu berjam-jam untuk bertamu, belum lagi kalau jalanan sedang macet-macetnya, maupun udara ataupun jalanan beraspal di bawah sana. Kamu tidak pernah menjelaskan kenapa, pun bagaimana bisa kamu ada di sana di malam kita pertama kali berpandang mata. Atau aku lupa? Biasanya, kamu akan datang dengan senyum tipis dan dua gelas kopi murah di tanganmu—yang satu terlalu manis untukku, dan yang satu lagi terlalu pahit untukmu. Tapi kita tetap meminumnya sampai habis, sambil saling mengejek pilihan masing-masing.
Kalau boleh jujur, Angkasa … di antara semua peran yang pernah kumainkan di atas panggung—pengembala yang kehilangan arah mencari tempat bermalam, pangeran yang jatuh cinta diam-diam, bahkan tukang sihir tua yang hidupnya dipenuhi dendam—tidak ada satupun yang benar-benar terasa seperti aku, selain ketika aku bersamamu.
Lucu, ya?
Padahal kamu bukan penonton yang paling berisik. Kamu jarang bertepuk tangan paling kencang, jarang bersiul atau berdiri lebih dulu saat tirai selesai dibentang. Tapi entah kenapa, dari atas panggung, aku selalu tahu kamu ada di sana. Duduk agak ke ujung dengan tangan terlipat dan mata yang tidak pernah benar-benar lepas dari panggung.
Meski, yah ... pakaianmu memanglah seperti alien yang datang ke bumi mencari mangsa. Di saat orang-orang lain cenderung datang dengan mantel rajut berlapis tiga atau kemeja-kemeja bermotifkan bunga magnolia, kamu datang dengan baju hangat ketat (atau kadang jas putihmu kau taruh di pundakmu) dan sepatu boot yang decitannya menggema. Ditambah dengan sorot matamu yang dingin bisa saja membuat orang membatin jika kamu tidak mungkin datang hanya karena ingin.
Kamu lebih cocok berada di dalam laboratorium dengan beberapa perangkat yang mungkin saja beberapa tahun kemudian akan menggantikan seorang tuan yang baru saja memberikanmu sapaan hangat, atau segerombolan anak kecil yang memberimu sebuah permen coklat. Tapi, kamu tidak pernah gagal membuatku sempat-sempatnya melirik ke arah penonton meski jantungku sedang ditusuk pedang kayu atau diriku sedang terayun dalam cairan ramu, hanya untuk memastikan bahwa Aku tampil dengan baik, ‘kan?
Seumur hidup … tidak pernah sekalipun aku membutuhkan anggukan apresiasi atau netra yang berartikan aku layak mendapatkan kasih cinta dari orang lain. Kecuali …
Kecuali?
Jika ini rasanya jatuh cinta, aku akan tetap memilihmu bahkan saat diriku perlahan sirna.
Teater tidak selalu berjalan lancar, kamu tahu? Ditambah dengan perkembangan teknologi yang makin melesat, orang-orang ogah-ogahan untuk menonton pertunjukan yang kata mereka tidaklah lagi memikat. Kuno, ketinggalan zaman, katanya. Tapi, siapa lagi yang akan jadi manusia kalau bukan kita? Kamu tahu, robot-robot dengan teknologi secanggih apapun tidak bisa bisa menggantikan peran bapak tua kolot dengan janggut melengkung di atas panggung, tidak bisa juga menduplikasi atmosfer ketika dua pemeran utama di tengah pentas perlahan mengikis jarak ditemani soraian penonton yang berdengung.
Dan kamu tahu?
Robot-robot dengan teknologi secanggih apapun tidak bisa benar-benar merasakan bagaimana jantung berdebar hanya karena satu nama disebut perlahan di tengah malam buta. Mereka tidak tahu rasanya gugup saat jemari saling bersentuhan di tempat yang tidak semestinya. Mereka tidak tahu rasanya haru saat dialunkan tak henti untaian cantik, milikku selamanya, di saat tubuhmu mati rasa.
Dan mereka tidak akan pernah tahu … bagaimana rasanya mencintaimu, Angkasa.
Katamu, kamu paling suka naskah dengan tajuk “Saat Pulang.” Aku sempat tertawa waktu pertama kali mendengarnya. Pulang? Di kota yang bahkan tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah? Kedengarannya seperti lelucon yang terlalu dipaksakan.
Sejak saat itu, aku mulai memperhatikan. Bagaimana matamu selalu berbinar setiap kali aktor di atas panggung menemukan jalan yang dirindukan—entah ke pelukan ibunya, sahabatnya, ataupun kekasihnya. Bagaimana kamu diam lebih lama dari biasanya, seolah berharap cerita itu benar-benar tak ada ujungnya.
Bagaimana pula di teras atap teater kamu menarikku ke dalam hangatmu di bawah bintang jatuh palsu, tak peduli dengan kamera pengintai yang mungkin merekam tiap bait yang kita ucapkan malam itu.
Di malam itu kamulah pemeran utamanya, sang pangeran, dengan apiknya bersimpuh di depan sang pujaan hati yang didamba. Di bawah cahaya remang dari bulan purnama, mendeklarasikan bahwa aku berhak menjadi milikmu hingga hari tua. Katamu, mari berteduh di sana. Katamu, ada yang ingin aku utarakan sebentar saja. Dan katamu, mungkin saatnya kita menetap di satu atap yang sama.
Oh iya, kamu juga harus ingat bagaimana merah mukamu saat itu. Seperti lobster rebus.
Jika ini rasanya jatuh cinta, aku akan selalu pulang padamu meski dunia terasa fana.
Rasanya baru kemarin kamu memindahkan koper berisi baju-baju anehmu ke apartemenku, tapi sekarang, kurang rasanya kalau aku tidak melihat celana tutul-tutul macanmu saat akan kubawa ke penatu. Aku bahkan lupa kapan tepatnya kita berhenti jadi dua orang asing yang saling sapa di ruang tunggu, dan mulai terbiasa berebut mie instan sisa semalam di dapur sempit. Rasanya, tiba-tiba saja sandalmu sudah rapi di sebelah punyaku. Tiba-tiba saja, aku sudah hafal suaramu yang lembut menggumamkan lagu lawas 2 abad yang lalu.
Jika ini rasanya jatuh cinta, aku sudi menjual jiwaku hanya untuk menghentikan masa.
Agar surat ini dapat kuberikan padamu tanpa ada dusta, atau sepatah yang mungkin terlupa. Aku juga ingin tahu jikalau kamu bergedik geli atau mungkin tersipu setengah mati. Tapi kuharap, Angkasa, kamu tidak terlalu terlarut dalam haru karena aku tau kamu pasti benci itu. Kamu benci menangis sendirian, mengingatkanmu pada masa kelam menggarap proyek dari Pak Tua Nihil sekian tahun yang lalu.
Masih hangat di ingatan, ketika malam itu ketemukan dirimu di balkon apartemen dengan wajahmu kemelut, piyamamu kusut, dan laptop di hadapanmu masih berdengung ribut. Coklat hangat yang awalnya hendak kuhidangkan kepadamu tak sedikitpun kamu hiraukan, dan kamu malah memilih menarikku ke dalam dekapanmu begitu erat. Layaknya anak kecil yang sedang merajuk minta dibelikan mobil mainan ke mamanya, kamu benamkan pucuk kepalamu yang beberapa hari lalu itu diberikan pewarna merah muda tepat di tengah dadaku.
Katamu, Bintang … pusing banget, mau jadi badut sirkus malam saja …
Angkasa, suamiku, bukannya kamu menonton film horor badut dengan hidung merah itu saja terkencing-kencing? Bagaimana jika kamu berada di sepatu mereka?
Kala itu, aku kira semuanya sudah sempurna.
Kadang aku bertanya-tanya, seandainya aku bisa mengulang waktu, apa aku masih akan memilih jalan yang sama? Atau, jika aku diberi kesempatan kedua, akankah rasa sayangku padamu akan lebih berpendar, atau malah memudar? Entahlah, Angkasa. Kadang, aku merasa seperti hidup di antara sisa-sisa mimpi dan serpihan ingatan yang terlalu jelas untuk dilupakan.
Jika ini rasanya jatuh cinta, akupun rela bersimpuh untuk meminta kehidupan kedua.
...
Angkasa … Kasihku, pemeran utama romansaku.
Hiduplah dengan baik meski tanpa aku.
Makanlah yang banyak, meski tak ada aku untuk membantumu cuci piring. Tidurlah yang nyenyak, meski sebelumnya kamu menangis hingga air matamu kering. Tertawalah dengan terbahak, meski kutau tak akan lagi sering.
Aku ingin kamu tetap menjadi cemerlang, masih seperti Angkasa yang masih selalu menyiram tanaman yang kita rawat dengan sebegitu apik di saat petang. Masih selalu datang ke taman kota untuk melihat angsa-angsa rekayasa mengarungi danau yang tenang. Masih selalu perfeksionis soal tata letak sikat gigi, meski nantinya yang milikku tak akan dipakai lagi.
Aku ingin kamu tidak berubah. Meski tak dapat dipungkiri, jikalau aku di posisimu, kehilangan presensi pertama yang disapa di pagi hari, rasanya pasti ingin mati. Jujur, kalau boleh memilih, aku ingin menjadi yang menulis bait perpisahan seperti ini daripada menjadi tuan yang ditinggalkan duluan.
Bukan berarti aku berkenan hati. Aku bingung. Hatiku berat sekali, Angkasa. Aku sedih. Aku tidak berani meninggalkanmu sendirian. Aku mau sama kamu selamanya.
Aku takut. Aku tidak mau kamu lupa suaraku, Angkasa. Wangiku, suara bersinku, caraku membuka pintu, semuanya. Aku takut. Aku takut.
Tapi, tolong, hiduplah dengan namaku selalu ada di helaan napasmu, di manapun kamu memutuskan untuk berpijak. Maaf, kalau aku kurang romantis, pun suratku ini mungkin terlalu dramatis. Tapi Angkasa, sayang, aku pastikan nama kita yang berdampingan akan selalu terpatri abadi. Dan satu hal lagi yang kuberani jamin, rembulanpun iri melihat kita telah menari bersama di bawah kungkungan bima sakti.
Aku bersyukur itu kamu, Angkasa. Aku bersyukur pernah menyandang nama akhirmu.
Waktu yang kuhabiskan denganmu mungkin tidak banyak. Aku tidak tahu bagaimana rupamu ketika remaja, dan sayangnya akupun tak akan ada ketika punggungmu sudah mulai bungkuk terbebani usia. Aku juga tidak sempat mengusahakan kamar ketiga di apartemen kecil kita, atau merencanakan tujuan bulan madu kedua. Dan sayangnya, nomor ponselku tidak bisa menjadi pilihan pertama kontak darurat jika kamu jatuh sakit atau tertahan di sekuritas tiap kali kamu lupa ID-mu ada di mana.
Aku tidak tahu kapan kamu akan selesai membaca surat ini, atau kapan kamu siap menatap langit lagi. Tapi aku janji, akan selalu ada di sana, di titik paling terang yang selalu kamu cari-cari. Kamu bilang kamu bisa bahagia dengan adanya aku, jadi, kalau kamu rindu, temui aku di penghujung biru. Aku yakin kamu ingat sandi yang aku simpan kala itu. Atau kalau kamu benar-benar buntu, tataplah langit gemerlap. Tataplah satu titik paling terang, bintang yang kerap kita berdua pandang.
Untuk sekarang, biarkan aku diam di sini—di sela-sela napasmu, di antara detik yang kamu habiskan sendiri dalam semu. Aku titip sisa cintaku di langit yang kita bagi berdua.
Jika ini rasanya jatuh cinta, aku akan tetap mengorbit padamu meski semesta tak lagi sama.
Saat waktunya datang, kupastikan tanganku terlentang dan aku janji akan bawa dirimu ke bentangan langit angkasa penuh gemintang bintang.
— Cantikmu selamanya, Bintang.
