Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of 닺몐 story collections
Stats:
Published:
2026-04-03
Words:
3,804
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
44
Hits:
865

touch me, please

Summary:

Carmen pikir dia tidak akan punya "personal space" setelah apapun yang terjadi di antara dia dan Jiwoo.

Notes:

* ooc.
* semua hanya fiksi.
* sudah diposting juga di platform sebelah, yang tahu-tahu saja.
* No beta read, ignore typos.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Carmen menepuk celemeknya, memastikan semua persiapan selesai. Meja-meja yang nyaris bebas berdebu, tanaman hias yang tertata rapi, dan mesin kopi yang sudah selesai dibersihkan siap menerima pesanan. Tidak lupa ia menyapa Jono, kaktus kesayangannya yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya jika tidak ada kesibukan yang melanda.

 

“Jono, semoga hari ini lancar,” gumamnya.

 

Cafe ini tidak besar, namun cukup ramai saat jam pulang kerja karena letaknya cukup strategis. Berada di jalan yang menyambungkan kawasan perkantoran dan perumahan, membuat pejalan kaki seringkali mampir ke sini. Sekedar penasaran atau memang sudah langganan, yang manapun bukan masalah karena Carmen selalu siap sigap melayani.

 

Suara lonceng terdengar saat pintu terbuka, menandakan kehadiran pelanggan pertama hari ini. Sosok yang baru pertama kali menapakkan kaki di cafe ini, karena Carmen tidak ingat pernah melihat gadis berambut pendek ini.

 

Kacamata bulat dan tebal menggantung di hidung mancungnya, tahi lalat menghiasi pipi tirusnya, dan rambut yang terlihat sedikit berantakan terikat rendah di belakang. Kantong matanya tidak menutupi kalau gadis ini berparas cantik. Carmen tidak akan meragukan pembeli walau pakaiannya urakan juga seperti ini, hanya hoodie yang kusam dan celana jeans yang lututnya sedikit kecoklatan.

 

“Iced americano satu, triple shot,” tanpa memberi waktu untuk Carmen menyebutkan total harganya, kartu debit sudah diletakkan di meja.

 

“Jadi tiga puluh ribu ya,”

 

Gadis itu hanya mengangguk. Carmen memproses pembayaran sambil memberi senyum yang tak dibalas.

 

Setelah menerima struk, gadis itu beranjak dari kasir dan memilih duduk di pojokkan. Ia mengeluarkan laptop dan mulai membuka AutoCAD. Dari balik etalase kaca, Carmen mencuri pandang. Terlihat seperti mahasiswa kurang tidur, mungkin semester akhir. 

 

“Ini kopinya, dan ini ada roti isi karena kakak pelanggan pertama hari ini.”

 

“Terima kas-”

 

Saat jemari mereka tidak sengaja bersentuhan, gadis itu ambruk ke meja. Carmen panik, buru-buru menyingkirkan kopi dan roti supaya tidak terkena rambut gadis itu.

 

“Kak?? Kak?? Kakak pingsan??” Carmen memegang bahu gadis itu, mengguncangnya pelan. Dipegangnya kening gadis itu, tidak panas. Berarti dia tidak sakit. Lalu kenapa tiba-tiba dia ambruk? 

 

Carmen kembali ke meja kasir, meraih handphonenya dan menelpon sahabatnya, Yuha.

 

“Halo, Yuha… Yuha!! Kamu belum berangkat kan? Bisa mampir ke cafeku bentar ga? Ada orang pingsan!”

 

“…”

 

“Oke, oke, makasih banyak Yuha maaf ngerepotin,”

 

Carmen menutup telponnya, lalu kembali ke meja gadis itu. Dia masih terdiam, wajahnya menatap meja. Takut gadis itu kesakitan karena meja keras, akhirnya Carmen mengambil bantal dari sofa dan meletakkannya di bawah kepala gadis itu. Tidak lupa ia melepaskan kacamata tebal yang sepertinya tadi sedikit tergores oleh meja.

 

Tidak sampai lima belas menit, Yuha, sahabat sekaligus tetangganya itu sudah sampai. Ia datang dengan tas kerjanya dan stetoskop yang katanya seharga gaji Carmen satu minggu itu. (Yuha selalu pamer, katanya barang mewah yang ia beli pertama kali dengan uang sendiri).

 

Dengan bantuan Carmen, Yuha memindahkan gadis itu supaya berbaring di sofa. Awalnya Yuha pesimis karena gadis itu terlihat lebih besar dari ia dan Carmen, namun siapa sangka tubuhnya ringan sekali. Tanpa babibu ia mengecek detak jantung, denyut nadi, dan apapun yang Carmen lihat selalu dilakukan dokter di poli umum.

 

“Gimana, Yuha?

 

“Aneh,”

 

“Aneh?”

 

Yuha duduk di sebelah Carmen, ikut menatap gadis yang tengah terbaring itu.

 

“Tidak ada gejala apapun, dia sepertinya hanya tidur.”

 

“Apa dia kurang tidur ya? Kantong matanya tebal juga,”

 

“Bisa jadi. Nanti kalau dia bangun suruh minum air cukup dan bilang kalau jangan sentuh kopi dulu. Bibirnya kering, dehidrasi juga sepertinya.”

 

Carmen mengangguk, “oke, tapi… dia udah bayar, aku ganti yang lain aja kali ya? Susu gitu…”

 

“Apapun asal jangan yang berkafein,” 

 

Carmen menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

 

“Kalau gitu aku berangkat dulu ya, nanti semisal dia ada keluhan apa, suruh mampir klinikku aja. Gak perlu bayar, anggep aja studi kasus,”

 

“Yuha ini anak orang jangan dibuat studi kasus terus,”

 

“Hehe, bercanda.” Yuha menjulurkan lidahnya.

 

Sebelum pergi, Carmen memberi bungkusan berisi pastry untuk Yuha. Awalnya Yuha menolak, tapi kata Carmen ini kompensasi 45 menit Yuha yang berharga.

 

Untungnya pagi ini cafe tidak begitu ramai. Hanya ada beberapa pegawai kantoran yang mampir untuk beli kopi atau kue sebelum berangkat kerja. Sesekali Carmen melongok ke sofa di sela-sela kesibukannya membuat kopi, mengecek kalau gadis itu terbangun. 

 

Saat matahari sudah tinggi barulah gadis itu menggeliat, terbangun dari tidur nyenyaknya.

 

“Siang,”

“Huh? Aku.. aku di mana?”

“Kamu tadi pingsan-”

 

Gadis itu langsung bangun, lari ke arah laptopnya di ujung cafe. Tentu semua masih aman, hanya Carmen lupa memindahkannya setelah ia dan Yuha membopong gadis itu ke sofa.

 

“Syukurlah… sudah disave,” wajahnya sedikit rileks setelah melihat laptopnya.

 

“A anu… kakak kalau mau istirahat lagi gak apa-apa,” Carmen mendekat perlahan. Gadis itu menoleh sebentar sebelum akhirnya kembali ke laptop untuk mematikan laptopnya.

 

“Namaku Jiwoo. Maaf kalau merepotkan, tadi itu… aneh. Aku sudah empat hari tidak bisa tidur, lalu entah kenapa saat dekat kakak aku ngantuk parah.”

 

“Ya kamu kurang tidur aja…”

 

“Serius, kemarin kupaksa tidur tidak bisa, makanya aku juga heran…”

 

Carmen hanya menggeleng. “Oke Jiwoo, kata dokter kamu tidak boleh minum kopi dulu atau apapun yang mengandung kafein. Jadi sebagai kompensasi, ini aku tukar minuman kamu jadi milkshake dan toast,”

 

“Tapi-”

 

“Tidak ada tapi-tapian, kalau kamu pingsan di sini sekali lagi nanti aku blacklist,”

 

Jiwoo seperti anak anjing yang ditelantarkan pemiliknya. Jujur, Carmen ingin tertawa. Tapi kalau dibiarkan bisa-bisa Jiwoo meninggal kelelahan di sini, jadi ia harus memaksanya pulang dan beristirahat. Daripada cafenya jadi tempat horor, hilang nanti sumber uangnya.

 

“Besok kembali lagi kalau sudah istirahat cukup,”

 

***

 

Benar saja, keesokan harinya Jiwoo kembali tapi bukan wajah segar yang hadir di hadapan Carmen malah wajah yang kusut.

 

“Aku tidak bisa tidur,”

 

“Jangan minum kopi,”

 

“Tidak, aku tidak minum kopi,”

 

Carmen menghela napas, “kamu ini… terus kenapa ke sini kalau bukan karena mau beli kopi?” pertanyaannya meluncur sembari menuliskan daftar belanjaan untuk nanti sore.

 

“Soalnya cuma kamu yang bisa bikin aku tidur, jadi, mau nggak malem ini nginep kosku?”

 

Pulpen yang dipegang Carmen jatuh ke lantai,

 

“Kamu ngerti gak apa yang barusan kamu tanyain??”

 

“Iya,”

 

“Kita bahkan gak kenal,”

 

“Kemarin sudah kenalan,”

 

Carmen menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap gadis bondol yang berdiri di seberang meja “gini ya Jiwoo, kamu itu cuma pembeli yang kebetulan kemarin kelelahan dan tidur di sini. Bukan aku yang bikin kamu bisa tidur, tapi kamu aja kurang tidur.”

 

“Dipegang kamu bikin aku bisa tidu-”

 

Carmen buru-buru maju dan menutup mulut Jiwoo sebelum omongannya didengar pelanggan lain. Mata Carmen menyusuri setiap sudut cafe, untungnya pelanggan yang ada sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

 

Saat matanya kembali melihat Jiwoo, ia kaget bukan main.

 

Gadis itu tertidur lagi. Berdiri. Wajahnya masih bertumpu ke tangan Carmen.

 

“Benar-benar…”

 

Karena tidak ada Yuha, kali ini Carmen terpaksa menyeret Jiwoo ke ruangan pribadinya yang lebih dekat dengan kasir. Lagipula tidak mungkin ia menyuruh pelanggan lain geser dari sofa hanya karena Jiwoo butuh tempat tidur.

 

Setelah berjibaku memindahkan Jiwoo ke ruang karyawan, Carmen kembali ke kasir dan mengurus pembeli yang baru datang. Siang itu cukup ramai, sampai Carmen lupa kalau ada Jiwoo yang tertidur di ruang pribadinya. Baru setelah jam istirahat sore, ia teringat ada Jiwoo.

 

Memastikan pintu depan cafe sudah terkunci dan tulisan Buka lagi jam 8 malam sudah terpampang, Carmen masuk ke ruang pribadinya. Jiwoo masih tertidur, namun wajahnya seperti tidak tenang. Mimpi buruk mungkin.

 

Karena tidak percaya dengan omongan Jiwoo tadi, Carmen berjongkok di sebelah sofa. Tangannya maju ke kening Jiwoo, mengusap perlahan. Lambat laun ekspresi tidur Jiwoo mulai melembut, sampai akhirnya tenang seperti orang tidur pada umumnya.

 

Carmen bangkit lalu duduk di sebelah Jono.

 

“Orang gila apa ya dia? Tapi kayak waras juga,”

 

Tentu saja Jono tidak akan membalas, dia hanya kaktus. Itu tidak menghentikan Carmen lanjut berbicara seolah-olah Jono menjawabnya.

 

“Apa aku harus hubungi Yuha lagi. Beneran studi kasus jadinya deh nanti,”

 

Carmen merogoh sakunya, mengecek ponselnya yang jarang dihinggapi chat selain dari keluarganya atau Yuha. Jemarinya menari di atas layar, mengundang Yuha untuk mampir ke cafenya petang ini setelah shiftnya selesai.

 

Lima menit berselang, Yuha mengiyakan. Shiftnya selesai lebih awal karena ada dokter lain yang jaga jadi ia bisa mampir ke cafe milik Carmen.

 

Sambil menunggu Yuha datang, Carmen hanya duduk di kursi kerjanya. Sesekali mencuri pandang ke arah Jiwoo yang masih terlelap itu. Dilihat-lihat cantik juga, sayang aneh. Tidak paham maksudnya apa baru kenal sudah mengajak tidur bareng padahal dari kemarin Carmen yang ditinggal tidur Jiwoo di cafe.

 

Yuha masuk lewat pintu belakang, rambutnya dikuncir tidak digerai seperti biasanya.

 

“Beneran tidur lagi ini orang? Aneh banget,”

 

“Iya kan Yu, aku juga bingung beneran tiap sentuhan dia tidur.”

 

“Sentuhan?” alis Yuha naik sebelah.

 

“... Bukan gitu!!” Carmen seperti menangkap arti tatapan Yuha “kemarin jari kita senggolan, tadi aku nutup mulut dia karena dia ngomong aneh-aneh, jadi beneran dia tidur pas kita sentuhan doang,”

 

Yuha tertawa, “secara medis kayak ga masuk akal tapi secara psikologis mungkin dia nyaman sama kamu,”

 

“Ya aku siapanya dia juga jir, cuma kebetulan aja dia jadi pembeli di sini,”

 

“Tapi cakep loh Men, ga pengen diiyain aja? Lagian apa ga capek seperempat abad jomblo, lumayan nih gaperlu dicari udah dateng jodoh,”

 

“Yu Haram!! Sekarang bukan saatnya ituu, lagian kamu bukannya khawatir ada orang aneh deketin aku malah mikir gitu,”

 

Yuha lanjut tertawa, senang sekali menggoda sahabatnya itu. Sementara yang digoda hanya sesekali mencubit lengan Yuha, mencoba menghentikan cocok-cocokan yang tidak cocok itu.

 

 

“Mungkin gini aja deh, nanti pas dia bangun coba lagi kamu peluk kek apa kek. Kalau misal dia udah tidur kan harusnya ga ketiduran lagi, kecuali emang badan kamu bikin dia ketiduran Men,”

 

“Konotasinya kayak negatif, jangan diomongin gitu Yuha.”

 

“Kamu aja yang ngeres!” Yuha mencubit pipi Carmen. Keributan keduanya sukses mengusik tidur Jiwoo.

 

“Nah tuh, bangun.”

 

Jiwoo bangkit, sedikit linglung karena bangun di tempat asing. Ditambah lagi kini di hadapannya ada sosok lain yang tidak ia kenali.

 

“Siapa…”

 

“Yuha, sahabat Carmen. Memastikan kamu tidak ingin berbuat aneh ke sahabatku atau kamu pulang tinggal nama,” Yuha memperkenalkan diri sambil nyengir.

 

“A.. aku.. Jiwoo… cuma pembeli.”

 

“Iya tahu, sekarang coba biar Carmen peluk kamu.”

 

“Hah?” Ujar keduanya bersamaan. Yuha tertawa lagi.

 

“Serius. Kata Carmen kamu tidur tiap kalian sentuhan, ya siapatau kamu bohong kan cuma akal-akalan mau nidurin temenku,”

 

“Yuha!”

 

Jiwoo panik, hendak berdiri dari sofa namun Carmen langsung memeluknya.

 

Benar saja, Jiwoo langsung terlelap lagi. Padahal tadi dia sudah sepenuhnya sadar dan berbicara dengan Yuha dan Carmen.

 

 

“Wah gila sih, Men. Beneran ini bukan bercanda,”

 

“Kok bisa njir, mending bangunin aja lah. Jiwoo, kamu cuma pura-pura tidur kan?” Carmen mengguncangkan bahu Jiwoo, mencoba membangunkannya. Namun sia-sia, yang ada Jiwoo tidur semakin nyenyak.

 

“Yuha aku harus ngapain? Yakali aku tinggalin ini orang di cafe,”

 

“Bener juga ya,”

 

“Gimana sih tadi kamu yang ngusulin,”

 

Yuha mengangkat bahu, “ya kan membuktikan aja, siapatau dia bohong. Yaudah kalo gitu kamu lanjutin aja buka cafe malem ini, aku tungguin dia di sini sambil ngetik laporan. Nanti kalau dia bangun baru kita suruh ke mana kek, kamar kamu kek,”

 

Carmen menatap Yuha sinis “beneran ya kamu ini mau suruh temen sendiri tidur sama orang asing,”

 

“One chance won't hurt, aku siap jagain di rumah kamu in case dia mau aneh-aneh. Gantinya aku dapat objek penelitian baru…”

 

“Jadi itu maunya kamu ya,”

 

Yuha hanya membuat peace dengan tangannya, lalu mendorong Carmen.

 

“Sudah mau jam tujuh, kamu makan dulu deh. Takutnya gak sempet nanti pas cafe buka,”

 

“Iya-iya, yaudah titip si aneh itu ya,” Carmen meninggalkan Yuha dan objek penelitian barunya itu di ruang pribadinya. Semoga saja Yuha tidak aneh-aneh ke gadis itu.

 

***

Setelah pelanggan terakhir pergi, Carmen mengunci semua jendela dan pintu Cafe. Bagian lain sudah ia bersihkan sambil menunggu pelanggan terakhir pulang, jadi ia tinggal mematikan lampu sebelum akhirnya kembali ke ruang pribadinya.

 

Jiwoo sudah bangun dan kini ia seperti sedang diinterogasi Yuha. Carmen belum masuk, ia masih menguping dari pintu.

 

“Kamu sudah insomnia, jangan ditambah kopi.”

 

“Baik dokter,”

 

“Obat tidur tidak sebaiknya diminum melebihi aturan pakai. Lagipula ujungnya tidak bisa tidur juga, kan. Kalau begitu aku akan mencoba bicara dengan Carmen supaya mau membantumu tidur normal,”

 

Carmen menghela napas, beneran dia dijadikan kelinci percobaan oleh sahabatnya sendiri. Entah mengapa ia tidak bisa marah, karena ada sedikit rasa kasihan dengan Jiwoo. Yuha terlihat serius, sepertinya dari tadi dia sudah berbicara dengan Jiwoo terkait pola tidurnya yang berantakan. Jadi ini sesuatu yang serius bukan sekedar Jiwoo mencoba untuk meniduri Carmen atau apalah.

 

Setelah dirasa percakapan keduanya usai, Carmen masuk seperti tidak mendengar apapun yang ia dengarkan dari tadi.

 

“Carmen, satu malam ini kita coba.” Yuha menatap Carmen serius.

 

“S-serius banget Yuha… kalo aku gak mau gimana?”

 

“Harus mau, aku bayar pendapatan cafe kamu 2 hari off setara pendapatan seminggu, asal aku bisa analisa Jiwoo.”

 

Carmen menepuk keningnya, “gak segitunya juga Yuha,”

 

“Tapi ini case menarik, aku mau observasi buat diskusi sama teman satu klinik,”

 

Carmen menarik kursi, duduk di sebelah Yuha.

 

“Maksudnya,” Carmen menghela napas, “kamu gak perlu bayar aku segitunya, aku sukarela bantu. Kamu dapat data, Jiwoo bisa tidur. Fair kan,”

 

“Waktu kamu kebuang buat bantu aku tidur, jadi aku dan dok Yuha patungan buat kamu,”

 

Carmen berdecak, “bisa gak sih kamu ngomong jangan ambigu, kayak apa patungan buat aku,” 

 

“Maaf, ya intinya gitu, please kak Carmen bantu aku ya, mau ya?”

 

Muka itu lagi, tatapan melas yang membuat pipi Carmen memanas. Seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Jiwoo yang diam di pojok cafe saat datang.

 

“Fine, tapi kalau kamu aneh-aneh aku gak segan lapor polisi,”

 

***

 

Malam itu Jiwoo bermalam di rumah Carmen. Lebih tepatnya, lantai dua cafe milik Carmen. Carmen memang sengaja membeli ruko untuk cafenya karena lebih hemat waktu dan biaya transportasi. Modalnya memang tidak sedikit, tapi Yuha melihat tidak sia-sia karena memang tempatnya strategis.

 

Jiwoo tadi izin pulang dulu, mengambil ganti dan perlengkapan menginap. Yuha sudah terbiasa menginap jadi bajunya ada beberapa di situ, ia tadi menumpang mandi sambil menunggu Jiwoo datang lagi. Sementara Carmen… kebingungan. Memproses bagaimana tiba-tiba ia harus tidur dengan orang asing.

 

“Carmen stop mondar-mandir atau aku iket kamu ke kursi,”

 

“Hii takut ada Yuha yang kinky”

 

Alis Yuha beradu, ia meletakkan iPad nya di meja lalu bangkit mengejar Carmen. Yang dikejar hanya tertawa. Keduanya sudah akrab dari kecil dan bersyukur sampai sebesar ini masih bisa berteman dekat. Yuha adalah orang yang paling sabar dan suportif untuk Carmen, selain keluarganya tentu saja. Sementara Carmen adalah teman yang selalu ada selama Yuha stres kuliah sampai sekarang lulus dan jadi dokter umum.

 

Keduanya berhenti bercanda saat mendengar teriakan Jiwoo dari bawah. 

 

“Aku aja yang jemput Jiwoo naik dan kunci pintu nanti, princess siap-siap tidur sama adek gemesnya,”

 

“Yuha sekali lagi begitu aku reset iPad kamu,”

 

“Gak seru mainnya ngancem,” Yuha hanya nyengir sebelum akhirnya turun dan menjemput Jiwoo naik.

 

Situasi sedikit aneh saat Jiwoo dan Carmen sudah berdua saja di kamar. Yuha di ruang tengah, sibuk dengan Ipad-nya.

 

“Mau langsung tidur aja?”

 

“Iya.. aku butuh tidur biar bisa ngelarin kerjaanku, deadlinenya tiga hari lagi,”

 

Carmen menghela napas, “udah jangan pikirin dulu kerjaan, tidur dulu. Sini-sini,” ia menepuk sisi kasurnya yang kosong. Jiwoo awalnya ragu-ragu, namun ia mendekat perlahan. Raut wajahnya sedikit ketakutan dan Carmen wajar karena kali ini Jiwoo tidur di tempat asing untuk ketiga kalinya.

 

Gemas karena Jiwoo lambat sekali mendekat, Carmen reflek menarik Jiwoo ke pelukannya. Gadis berambut pendek itu belum sempat bereaksi sudah tertidur pulas.

 

Oh my God. Carmen tidak percaya benar-benar sentuhannya yang membuat Jiwoo terlelap.

 

Saat kamar sudah sunyi, Yuha mengetuk pintu. Memastikan sahabatnya tidak diapa-apakan oleh orang asing, yah, walau awalnya juga Yuha yang menyarankan.

 

Yuha menutup mulutnya yang menganga saat melihat Jiwoo yang tertidur dalam rangkulan Carmen.

 

“Tadi nolak, terus sekarang kamu agresif gini Men?”

 

“Ssst ah, udah tuh beneran liat,”

 

Yuha duduk selama lima belas menit, memperhatikan Jiwoo yang tengah terlelap. Tidak ada tanda-tanda seperti pura-pura tidur. Nafasnya pun normal.

 

“Aman ya, Men. Aku tidur sofa, kalau ada apa-apa pokoknya teriak aja aku langsung masuk getok dia pake panci nanti,”

 

“Yuha hahaha kamu nih, tapi kayaknya gantian aku yang gak bisa tidur deh,”

 

“Kenapa?”

 

“Ya… kamu liat aja ini gimana aku tidur sambil dipeluk erat gini, gerah tau,”

 

Yuha meraih remote AC, menurunkan suhunya, “nah sekarang udah enak kan kelonan, simulasi tidur sama pacar cihuy,”

 

“Yuha!”

 

Carmen tidak bisa mengejar Yuha kali ini, ia hanya bisa memutar bola matanya saat Yuha melipir pergi dari kamarnya.

 

***

 

Keesokan paginya Jiwoo bangun dengan perasaan yang ia rindukan sejak seminggu lalu. Bangun tidur dengan keadaan segar, tidak lagi kesusahan tidur semalaman. Belum sempat ia meregangkan tubuhnya, sudah kaget karena wajahnya begitu dekat dengan Carmen. Nyaris berteriak namun suaranya tertahan di tenggorokan. Tak ingin membangunkan Carmen dari tidurnya.

 

 

Jiwoo pelan-pelan berusaha bangun, namun Carmen tipe orang yang mudah bangun. Jadi pada akhirnya keduanya bangun bersamaan dan menghampiri Yuha yang masih tertidur di sofa.

 

“Makasih banyak loh, aku ga nyangka bisa tidur normal lagi… wow…”

 

Carmen yang awalnya ingin membangunkan Yuha, jadi mengurungkan niatnya. “Memang awalnya kenapa sih kamu susah tidur,”

 

“Aku? Hm… oh. Aku melihat orang tuaku ditabrak dua minggu lalu.”

 

Hening. Carmen duduk di sebelah Jiwoo, kali ini tatapannya melembut.

 

“Tidak perlu mengasihani, keluargaku kaya. Uang bukan masalah sampai masa depanku,”

 

“Iya tau, tapi, itu pasti bikin kamu shock,”

 

Jiwoo terdiam sejenak. Tidak ingin berbicara lebih jauh namun sudah kepalang basah, jadi ia jujur saja. “Mungkin. Aku mati rasa, tidak peduli apapun selain lanjut bekerja setelah itu. Tapi mulai seminggu ini tidak bisa tidur, mungkin karena terbayang.”

 

“Kalau gitu kamu boleh lanjut tidur di sini, setidaknya sampai enakan,”

 

“Tapi jadi ngerepotin kamu…”

 

“Ya… asal tidurnya di jam normal dan jangan di cafe sih gak apa-apa.”

 

Jiwoo tersenyum, “makasih banyak.”

 

“Sama-sama. Jangan minum kopi tapi ya,”

 

Jiwoo cemberut, “kan gak ngaruh, tetep bakal tidur kal

au dipegang kamu,”

 

Pipi Carmen memanas, tangannya memukul lengan Jiwoo “kamu tuh jangan kayak Yuha suka ngomong- lah? Tidur lagi dia…”

 

 

Sekarang Carmen sendiri yang terbangun, sementara di ruang tengah rumahnya ada dua orang yang tertidur. Satunya sahabat dari kecilnya, satunya lagi orang yang mungkin akan mewarnai hari-harinya ke depan nanti… mungkin.

 

 

---

 

2 bulan kemudian...

 

 

Halo, aku Jono. Kaktus kecil yang biasanya ada di dekat meja kasir Carmen. Keseharianku? Mendengarkan celotehan dari pemilikku sambil merasakan hangatnya mentari lewat jendela walau Carmen selalu menutupnya rapat, padahal aku juga mau angin segar bukan angin AC.

 

Biasanya orang akan memilih tanaman hias yang lebih cantik, tapi sepertinya Carmen berpikiran kalau memelihara kaktus lebih mudah. Seminggu sekali saja disiram tidak perlu perhatian khusus, akulah Jono si Kaktus.

 

Akhir-akhir ini aku perhatikan ada orang yang sering dekat dengan Carmen selain Yuha dan pegawai cafe yang magang. Ingat sekali pertama kali dia datang, dia sudah membuat Carmen repot karena dia pingsan! Dasar pelanggan menjengkelkan, bisa-bisanya dia membuat Carmen repot. Bukan hanya itu, dia pingsan dua kali! Benar-benar… kalau aku punya kekuatan mungkin sudah kulemparkan satu duriku ke tubuhnya.

 

Tapi rasanya semakin ke sini pelanggan itu bukan hanya pelanggan biasa. Kalau malam tiba, dia masih ada di cafe menunggu Carmen selesai membersihkan etalase. Hari ini aku tahu namanya Jiwoo. Kalau datang dandannya selalu seperti orang tidak mandi, untung saja cantik. Kalau tidak, dia tidak boleh bersanding dengan pemilikku yang cantik dan baik hati itu.

 

Dua bulan berlalu setelah kedatangan Jiwoo, cafe semakin ramai. Carmen bilang ingin memindahkanku ke lantai dua karena ia tidak ingin ada yang menyenggolku jatuh. Aku tidak mau! Aku tetap ingin di sini menemani Carmen di sebelah meja kasir sambil mendengar celotehan yang diselingi senyumnya yang khas. Melihatnya yang selalu bekerja tanpa mengeluh seolah-olah setiap pelanggan adalah orang yang butuh dipahami. Ah, memang Carmen itu malaikatku.

 

Malam ini si bondol Jiwoo itu datang lagi, membawa tas ranselnya yang buluk itu. Carmen berbicara dengan si bondol sambil menunjuk ke arahku. Aku tidak bisa dengar karena Carmen berada di seberang ruangan ini. Yang jelas setelah itu si bondol menghampiriku dan mengangkatku.

 

Hei! Mau apa kamu! Turunkan aku!! Kembalikan aku ke sebelah meja kasir!!

 

Dia membawaku ke lantai dua, kemudian meletakkanku di sebelah televisi bersama beberapa boneka milik Carmen. Aku tahu karena kadang Carmen juga membawa salah satu bonekanya mengobrol di cafe. Sayang sekali aku tidak bisa mendengar boneka itu berbicara.

 

Setengah jam hanya dihabiskan dengan suara ketikan keyboard dan mouse di ruang tengah. Si bondol ini sangat tidak asik, dia tidak mengajakku berbicara seperti Carmen saat bekerja. Lagipula, kenapa dia tiba-tiba ada di sini sih?? Bukannya ini rumah Carmen. Kenapa dia bekerja di meja ruang tamu Carmen seperti dia yang punya tempat ini.

 

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Carmen masuk lalu merebahkan dirinya di sofa. Kakinya dibiarkan terjulur di pangkuan Jiwoo. Sementara Jiwoo masih saja asik dengan laptopnya. Hei bondol, lihat itu Carmen datang jangan cuma lihat layar!!

 

“Jiwoo,”

 

“Hm?”

 

“Masih lama?” Carmen bangun, menggeser tubuhnya naik ke pangkuan Jiwoo. Kini mereka berhadapan dan Jiwoo tidak lagi menatap layar laptop. Hanya Carmen.

 

“M… masih.. maksudnya sedikit lagi,”

 

“Lanjut nanti aja,”

 

Adegan macam apa ini, Carmen duduk di pangkuan menghadap Jiwoo lalu jemarinya naik menggoda telinga Jiwoo. Jiwoo hanya menunduk mencoba mengubur malu yang berujung tawa kecil dari Carmen.

 

“Kamu tuh, imut banget tau nggak sih Ji,”

 

“Ngga… aku nggak imut, kamu yang imut,” balas Jiwoo. 

 

Ini kalau bisa tutup mata mungkin aku mau tutup mata, kenapa sih mereka harus berbicara seperti itu di hadapanku!! Carmen!! Lihat aku Carmen, kamu tega menodai aku, Jono yang polos ini…

 

Awalnya hanya ngobrol sambil bertatapan namun lambat laun Carmen menarik Jiwoo hingga bibir mereka bertemu. Sekali, dua kali, lama-lama kecupan Jiwoo turun ke leher Carmen. Carmen menyambut Jiwoo dengan menyibakkan rambutnya, membiarkan gadis berambut pendek itu menelusuri setiap sudut lehernya.

 

 

Jono mau tidur saja… Jono tidak sudi lihat Carmen disentuh Jiwoo!

 

 

***

 

Jiwoo berhenti sejenak, mengalihkan pandangannya melihat ke sekeliling ruang tamu.

 

“Kenapa rasanya kayak ada yang ngeliatin ya?”

 

“Perasaan kamu aja kali, kan cuma berdua aja kita,” Carmen tidak peduli, menahan tangan Jiwoo supaya tidak melepaskan pelukannya. “lagian yang biasa ke sini cuma kamu sama Yuha, Yuha lagi ada shift malam.”

 

“Emm.. okay…”

 

“Mau lanjut buka AutoCAD atau buka aku?” Carmen melepas dua kancing kemejanya, memamerkan kaos barunya bermotif macan tutul itu.

 

Jiwoo melotot. Bukan karena tidak suka, hanya kaget kalau pacarnya itu terlihat tujuh kali lebih seksi dari biasanya. Kemeja putih yang sudah kusut karena tangan Jiwoo tidak bisa diam saat mereka bercumbu dan motif macan tutul yang kontras mencolok dibanding kemeja putih milik Carmen.

 

“Carmen…”

 

“Norak ya? Lagi percobaan aja sih siapa tau kamu suka gitu…” 

 

“Banget… suka banget” Jiwoo menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Kamu pakai apa aja aku suka soalnya itu kamu,” Carmen terkekeh, pacarnya ini menggemaskan sekali. Kelihatannya saja keren dan kalem tapi aslinya digoda sedikit pipinya langsung merah sampai telinga. Carmen suka. Kalau sudah begini dia tidak tahan menghujani Jiwoo dengan cium di kening, pipi, hidung, telinga, bibir, dan tentu saja tahi lalat di pipi Jiwoo. Part kesukaan Carmen.

 

“Aku mau lanjut, tapi janji dulu kamu gak ketiduran lagi, Ji,”

 

Jiwoo menggaruk lehernya, “aku usahain, habisnya kalo sentuhan sama kamu itu aku tenang jadinya… ngantuk,”

 

“Yaudah aku buka semua sekarang biar kamu gak ngantuk,” Carmen cemberut.

 

“J-jangan ngambek dong, iya aku usahain malem ini gak ketiduran…”

 

Begitulah percobaan kesekian Carmen untuk “ditiduri” Jiwoo bukan tidur bersama Jiwoo, walau akhirnya ia harus mengalah lagi karena lagi-lagi Jiwoo ketiduran saat Carmen sudah kepalang basah.

 

“Untung sayang, kalo enggak udah aku cubit nih kamu,” ujar Carmen sambil menatap wajah Jiwoo yang tenang saat tertidur.

 

Notes:

jatuh tersungkur dalam pesona kapal selam.

Series this work belongs to: