Work Text:
Mana Carmen tahu kalau Jiwoo ini sebenarnya… wibu akut.
Dua hari lalu Jiwoo dapat tantangan buat nembak Carmen dari teman sekelasnya. Carmen, lagi gabut akhirnya mutusin buat nerima pengakuan Jiwoo di jam istirahat kedua itu. Iseng aja, pikirnya. Habis selama ini Jiwoo cuma terkenal sebagai murid yang lempeng, kerjanya hanya belajar dan belajar, jarang ikut temennya nongkrong pulang sekolah.
Jiwoo bingung kenapa Carmen nerima, keduanya bahkan tidak pernah ngobrol, hanya tahu nama satu sama lain. Tapi nasi sudah menjadi bubur, keduanya sudah terlanjur diingat oleh khalayak umum sebagai pasangan jadian di siang bolong. Siapa suruh Jiwoo confess di tengah kantin yang ramai orang makan siang, batin Carmen.
Sekarang Carmen sedang duduk di kamar Jiwoo. Seperti melewati seribu langkah PDKT dan langsung pacaran tanpa kenalan babibu, Carmen mati kutu duduk di tengah kamar yang ukurannya dua kali kamar tidurnya itu.
Sambil menunggu Jiwoo mengambil jajanan, Carmen mengamati setiap sudut kamar Jiwoo. Action figure, komik, CD, poster idol Jepang…? Dan entah apa lagi Carmen tidak tahu. Yang jelas hari ini dia datang karena diundang Jiwoo supaya mereka bisa lebih kenal satu sama lain.
Bisa saja Carmen memutuskan Jiwoo di hari kedua setelah jadian, toh keduanya tidak ada yang saling naksir. Otak Carmen berkata lain, ada perasaan kepo bagaimana Jiwoo si lempeng itu kalau pacaran.
“Maaf lama, bunda tadi gorengin kentang dulu.” Jiwoo masuk membawa nampan berisi makanan ringan dan dua gelas jus jeruk.
“Gak apa-apa, santai aja, Ji.”
“Mana bisa santai kamu kan pacar aku,”
Carmen yang baru saja menyedot jus langsung keselek, matanya beralih dari menatap jus ke Jiwoo yang tengah bertopang dagu dengan senyum template.
“Sumpah ya kamu tu, kita pernah ngobrol di sekolah aja engga, kok bisa milih aku buat korban Truth or Dare.”
“Soalnya… aku penasaran.”
“Sama aku?”
“Sama perasaan waktu jatuh cinta gimana.”
Carmen terdiam, tidak percaya. Jiwoo aneh, ia mengulang kalimat itu belasan kali dalam benaknya.
“Jatuh cinta gak butuh alasan tapi datangnya gak bisa diprediksi, cuma ya Ji, kalo kamu ngeskip part jatuh cinta langsung ke pacaran emangnya gak aneh?”
“Ngga tau juga. Biar kayak di manga, gitu?”
“Jiwoo aneh banget,”
Carmen mengusap keningnya. Jiwoo aneh, ia lanjut merutuki dalam hati. Yang dimaki hanya tertawa.
“Aku emang aneh, gak tau juga mau ngobrol apa. Gimana kalau kamu dengerin aku bahas manga kesukaanku aja?”
“Hah,”
Tanpa persetujuan, Jiwoo bangkit menuju rak bukunya. Mengambil beberapa komik kemudian meletakkannya di samping jus jeruknya. Carmen awalnya berniat menghentikan, tapi kentang goreng mamahnya Jiwoo enak jadi dia lanjut ngunyah sambil dengerin Jiwoo ngomong soal manga kesukaanya yang hanya nyangkut sebagian intinya di otak Carmen.
Jiwoo masih lanjut cerita, kentang goreng di meja udah habis. Entah bisikan setan dari mana, tiba-tiba Carmen bangun terus duduk di pangkuan Jiwoo. Belum sempat Jiwoo merespon, dasinya sudah ditarik, bibirnya bertemu bibir Carmen yang masih asin rasa kentang goreng digaremin itu. Nempel sebentar sebelum akhirnya Carmen mundur karena bibirnya dijilat Jiwoo yang ngerasa ada yang asin itu.
“Jiwoo!?”
“Carmen?”
Keduanya tukar pandangan sebentar sebelum akhirnya sadar apa yang barusan terjadi. Carmen ingin bangkit namun pinggangnya ditahan tangan Jiwoo yang melingkar di sekitarnya.
“Berani banget..?”
“E… apa… kirain emang begitu,” jawab Jiwoo kikuk. Matanya berpaling tidak ingin menatap Carmen tapi tangannya masih tidak melepaskan Carmen.
“Kamu duluan… tiba-tiba cium?”
“Habis gak tau gimana cara buat kamu diem,”
Carmen yang awalnya nyesel kenapa asal sosor sekarang malah balik nyengir. Pasalnya Jiwoo yang biasanya ekspresinya lempeng lurus itu sekarang pipinya merah sampai telinga. Lucu, jadi pengen godain lagi. Belum sempat Carmen melancarkan aksinya, Jiwoo tiba-tiba gantian nyosor bibir Carmen. Masih asin kayak kentang goreng tapi Jiwoo kecanduan, perasaan asing yang mengundang penasaran, membuat Jiwoo ketagihan nempelin bibirnya ke bibir Carmen.
Tangan Jiwoo secara tidak sadar mengelus pelan punggung Carmen, menarik Carmen supaya lebih dekat. Sayangnya saat keduanya sudah larut tiba-tiba suara pintu diketuk mampir ke telinga, menyadarkan keduanya kalau ada orang lain di sini.
Carmen buru-buru turun, Jiwoo berjalan ke pintu sambil berusaha menutupi mukanya yang merah padam.
“A-ada apa bunda?”
“Ini masih ada lagi kentangnya di dapur, bunda mau pergi arisan jadi abisin aja,”
“O-oke bunda, nanti Jiwoo ambil,”
Setelah terdengar suara langkah kaki menjauh, Jiwoo bersandar ke pintu, menghela napas lega. Jantungnya tak karuan, entah karena ia habis ciuman atau karena nyaris kepergok bundanya. Yang jelas, ia dan Carmen sekarang sama-sama diam. Kelewat panas untuk lanjut ngobrol biasa tapi sudah kedinginan kalau mau lanjut panas. Begitulah, yang jelas keduanya sama-sama sadar kalau ciuman yang amatir itu rasanya asin.
