Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of 닺몐 story collections
Stats:
Published:
2026-04-03
Words:
1,759
Chapters:
1/1
Kudos:
21
Hits:
291

jantung hati

Summary:

hanya dua gadis yang kebetulan bertemu di panti asuhan

Notes:

* ooc
* Work of fiction
* I don't own any of those characters

Work Text:

Carmen melirik pergelangan tangannya, memastikan ia tidak terlambat di hari pertamanya menjadi volunteer di panti asuhan Jantung Hati. Ia membuka ponselnya, berlatih senyum di depan kamera yang sebenarnya tidak perlu dilatih sudah senantiasa menghiasi wajah ayunya itu. Rambut panjangnya diikat dengan pita merah yang senada dengan bajunya.

 

Tangannya meraih gagang pintu, membuka perlahan sembari melirik ke dalam ruangan.

 

"Ah, kak Carmen ya?"

 

Mendengar namanya dipanggil, Carmen langsung masuk dan tersenyum sambil melihat sekelilingnya.

 

Orang yang tadi memanggilnya sedang duduk dikelilingi anak-anak panti asuhan. Sepertinya ia sedang membacakan dongeng, melihat buku yang dipegang dan anak-anak yang antusias memperhatikannya.

 

"Ayo duduk melingkar dulu, kita kenalan sama kakak baru yang bakal nemenin kalian di sini,"

 

"T-tapi kak Jiwoo gak ninggalin kita kan?"

 

Ternyata ini Jiwoo yang akan jadi mentor sekaligus partnernya selama volunteer di sini, Carmen mengangguk dalam hati.

 

"Ngga kook, Kak Jiwoo masih di sini, kalau kak Jiwoo pergi nanti siapa yang tahu kalau Cici gak suka wortel?"

 

"Ih kak Jiwooo!" Anak kecil yang dipangkuan Jiwoo itu merengek.

 

Setelah semua perhatian tertuju pada Carmen, ia mulai memperkenalkan diri. Buku cerita yang sudah dia bawa tak lupa ia pamerkan, mengundang antusias dari anak-anak yang mengelilinginya.

 

Selesai berkenalan, semuanya kembali berpencar, asik dengan kegiatannya masing-masing. Tinggal Jiwoo yang masih duduk di sebelah Carmen.

 

"Maaf ya belum sempat perkenalan sebelum kamu masuk sini, aku Jiwoo."

 

"Gak apa-apa kok, aku Carmen. Mohon bimbingannya,"

 

Jiwoo membalas uluran tangan Carmen, merasakan temperatur tangan Carmen yang sedikit lebih tinggi dari suhu ruangan.

 

"Gugup ya tadi?"

 

"Sedikit, takut anak-anak pada ga nerima aku,"

 

"Anak-anak itu jujur, mereka tahu kok kamu baik makanya mereka gak takut sama kamu," Jiwoo tersenyum. Yang dipuji hanya memalingkan wajah sebentar, sedikit malu.

 

"Sudah dapat list jobdesk dari Miss Na? Sebenarnya kegiatan di sini fleksibel sih tergantung anak-anak maunya apa, tapi in case mereka bosan kita siapin kegiatan yang bisa ngilangin bosen mereka,"

 

"Sudahhh," jawab Carmen sambil membuat gestur OK dengan jarinya.

 

"Good then, kalau gitu karena sekarang mereka masih asik sendiri kita bisa ngobrol-ngobrol dulu. Kalau ada yang mau ditanyain boleh, kuusahain jawab dengan baik."

 

"Ga perlu terlalu kaku Jiwoo, kita seumuran kokk,"

 

"Ah iyakah, maaf kebiasaan begitu," Jiwoo menggaruk lehernya yang tidak gatal.

 

 

Baru Carmen ingin bertanya, seseorang memeluk lehernya dari belakang,

 

"Kak Carmen! Kakak bisa dansa?" 

 

Yang ditanya menoleh, melihat gadis umur lima tahun dengan dress layaknya tuan putri.

 

"Eeh, tidak bisa, kenapa memang? Kakak cuma bisa nyanyi,"

 

"Biasanya aku minta kak Jiwoo dansa kayak di buku dongeng, tapi kak Jiwoo bilang kalau dansa kayak pangeran dan tuan putri gak bisa sendiri, jadi Mimi mau lihat Kak Jiwoo peragain dansa sama Kak Carmen! Biar Mimi bisa belajar sebelum ketemu pangerannya Mimi!"

 

Carmen melempar pandang ke Jiwoo. Yang ditatap hanya menutup mulut, menyembunyikan tawanya. Ah, ini sih sepertinya Jiwoo tidak bisa menolak jadi mau tidak mau Carmen harus menurut permintaan Mimi.

 

"Okee, tapi Kak Carmen ga jago gapapa yaa,"

 

"Gapapa selama ada kak Jiwoo pasti kakak bisa! Kak Jiwoo jago banget nari," mata Mimi berbinar-binar antusias, membuat rasa malu Carmen hilang berganti semangat. Pantas saja Jiwoo tidak bisa menolak.

 

"Oke kalau gitu duduk manis ya, perhatiin dengan baik jadi Mimi bisa belajar,"

 

"Siap laksanakan!"

 

Mimi kemudian kembali ke kerumuman temannya, seperti membawa kabar gembira yang disambut sorak dari 3 gadis kecil lainnya.

 

Carmen bangkit dari duduknya, meletakkan tas yang dari tadi masih tersampir di bahunya. Sementara Jiwoo sepertinya sedang menyambungkan ponselnya dengan speaker di pojok ruangan.

 

"Gak kepikiran kalau awal dateng udah disuruh begini," Carmen terkekeh saat Jiwoo sudah kembali ke sebelahnya.

 

"Memang gak bisa ditebak, makanya seru di sini."

 

Walau sedikit kikuk, Carmen terkejut Jiwoo bisa menuntunnya berdansa layaknya putri kerajaan seperti di drama-drama. Jiwoo merangkul pinggang Carmen untuk menuntun ke mana mereka akan melangkah, walau sesekali tak sengaja kaki Carmen menginjak kaki Jiwoo. Namun Jiwoo tidak marah, ia malah terkekeh setiap Carmen menginjak kakinya. 

 

"Kereen!!" 

 

Tepuk tangan menutup dansa Jiwoo dan Carmen. Awalnya hanya Mimi dan tiga temannya yang menonton, tapi sepertinya Carmen terlalu fokus berdansa sampai tidak sadar kalau anak-anak lain juga ikut menonton. Jadi malu, batinnya.

 

Tanpa terasa jam sudah memasuki waktu makan malam, Carmen membantu Jiwoo mengarahkan anak-anak supaya duduk di mejanya masing-masing, menunggu makan malam datang. Di sisi lain meja panjang ini Jiwoo terlihat masih asik mengajak bercanda Niko dan Bobi, setelah sebelumnya melerai keduanya yang berebut mainan. 

 

Ruangan yang semula ramai perlahan hening saat makanan dihidangkan, semuanya fokus dengan makanannya masing-masing walau ada yang sedikit unik di mata Carmen. Maksudnya, kenapa ada anak yang makan lauk dulu lalu nasinya terpisah? Yah, mungkin memang dia sukanya begitu, batin Carmen.

 

"Capek, ya?"

 

Carmen sedikit tersentak saat Jiwoo tiba-tiba sudah di sebelahnya.

 

"Sedikit sih, memang anak-anak gak ada capeknya ya. Tapi seneng kok,"

 

"Kalau capek gak apa-apa bilang aja ya, jangan sungkan pokoknya. Volunteer sebelumnya habis hari pertama ga berangkat lagi soalnya,"

 

Jiwoo menyilangkan tangannya di dada lalu bersandar ke dinding. 

 

"Atau mungkin karena aku gak bisa jadi mentor sekaligus partner yang baik,"

 

"Kata siapa, mentor keren bisa ngajarin aku dansa dadakan nih," Carmen mengacungkan jempolnya, berusaha meyakinkan Jiwoo supaya dia tidak kecewa.

 

"Pfft, kamu lucu ya."

 

"Memang, makanya anak-anak suka aku," kalimat itu diakhiri Carmen dengan bersikap sok imut, membuat peace dengan kedua jarinya sambil memanyunkan bibir. Jiwoo tersenyum, merasakan gejolak kecil di dadanya.

 

"Betul. Memang harus ada yang lucu kayak kamu biar mereka ga bosen liat aku,"

 

"Ih, kok bukannya bantah malah setuju," Carmen menatap Jiwoo bingung, yang ditatap tidak menjawab, hanya tersenyum lagi lalu kembali memperhatikan anak-anak yang sedang makan.

 

Selesainya anak-anak makan berarti selesai juga jam volunteer Carmen di Jantung Hati. Sebagian anak sudah beranjak ke kamar, sebagian masih bermain di ruang utama, dan tiga anak masih mendengarkan Jiwoo mendongeng.

 

Carmen membereskan barang-barangnya, lalu menoleh ke sofa 

"Jiwoo jam selesainya lebih larut kah?" 

 

"Eh? Sebenernya sama sih, harusnya habis ini pulang. Tapi aku tinggal sendiri, jadi pulang telat bukan masalah. Lagian mereka juga masih seneng denger cerita,"

 

"Betuul, harusnya kak Jiwoo tidur sini aja..." Rengek salah satu bocah sambil memeluk lengan Jiwoo.

 

"Yaudah kalo gitu sini gantian aku bacain, sekalian aku nyanyiin,"

 

"Yayyy!" Ketiganya bersorak senang.

 

"Tapi habis ini izinin kak Jiwoo istirahat yaa?"

 

Ketiganya serempak memberi hormat kepada Carmen. Yang diberi hormat hanya tertawa, "oke, oke, ayo duduk manis."

 

Carmen meraih buku yang tadi dipegang Jiwoo lalu mulai membaca ceritanya. Sesekali ia memperagakan ekspresi atau gestur dari cerita tersebut, membuat anak-anak antusias menyimak cerita yang dibaca Carmen. Tidak cukup di situ, bahkan di akhir cerita Carmen menyanyikan lagu yang tertulis di belakang buku, dengan nada karangannya tentu saja.

 

"Sssst Kak Carmen," salah satu anak menunjuk ke arah Jiwoo yang telah tertidur.

 

Mulut Carmen membentuk O bulat, kemudian berbisik kepada 3 anak itu "ayo pelan-pelan balik ke kamar kalian ya, biar kak Jiwooo istirahat..."

 

Setelah ketiganya pergi, Carmen menatap Jiwoo bingung. Di satu sisi dia tidak ingin membangunkan Jiwoo, di satu sisi dia juga tidak ingin meninggalkan Jiwoo sendiri di sini. Jadi ia memutuskan ikut duduk di sebelah Jiwoo sambil bermain ponsel.

 

Enam jam berlalu di panti asuhan tidak terasa karena banyak sekali yang ia lakukan. Ia menahan tawa mengingat kembali saat anak-anak mengajak mereka menggambar, ternyata baik Jiwoo maupun Carmen tidak bisa menggambar. Keduanya hanya tertawa saat anak-anak menebak gambar mereka salah, saking jeleknya menurut Carmen.

 

Asik dengan ponselnya, Carmen tidak sadar kalau kepala Jiwoo jatuh bersandar ke bahunya. Baru setelah video lucu yang ia tonton selesai, ia sadar Jiwoo bersandar di bahunya.

 

"Ha!" 

 

Teriakan Carmen membangunkan Jiwoo, wanita berambut pendek itu nampak linglung karena baru bangun tidur.

 

"Eh, maaf, aku ketiduran ya..."

 

"Gak apa-apa, pasti kamu capek kan."

 

"Mmm... Ngga-"

 

"Kalau ngga capek, nggak ketiduran ya Jiwoo," 

 

Jiwoo hanya menggaruk lengannya untuk menepis rasa malunya itu.

 

 

"Mau makan malem bareng gak?"

 

"Eh?"

 

"M-maksudnya!! Anggep aja welcoming party partner baru di sini... Lagian salahku juga kan kak Carmen jadi gak pulang-pulang."

 

"Kok tiba-tiba jadi pake kak sih..." Carmen pura-pura ngambek, Jiwoo serba salah.

 

"Em.. iya.. kak.. eh maksudnya... Carmen... Aku tau tempat makan enak deket sini, siapatau cocok sama ka... Carmen!"

 

Tawa Carmen lepas, melihat Jiwoo yang linglung semakin bingung. Jiwoo tidak mengerti kenapa Carmen tiba-tiba tertawa, lantas menarik tudung jaketnya dan menutup wajahnya.

 

"Maaf... Gak keren ya,"

 

"Gak apa-apa, lucu.”

 

Setelah berpamitan dengan staff Jantung Hati, keduanya melangkah pergi dari panti. Langit seakan merestui perjalanan mereka berdua, menampilkan beribu bintang terang tak tertutup awan.

 

"Kenapa kepikiran buat volunteer?" Jiwoo mencoba memecah keheningan antara mereka berdua.

 

"Lagi libur aja sih, pengen cari pengalaman berkesan,"

 

"Ooh..." 

 

"Kalau Jiwoo sendiri kenapa?”

 

"Aku..." ada jeda yang lumayan lama sebelum Jiwoo melanjutkan jawabannya. Carmen tetap memperhatikan Jiwoo, menunggu jawaban.

 

"Dulu punya adik, lalu meninggal karena sakit. Jadi biar gak kepikiran, aku kerja sambilan di sini."

 

Suara Jiwoo seperti bergetar tapi Carmen tidak ingin membuat Jiwoo larut bersedih, 

 

"Dia pasti bangga sama kamu, kamu kakak yang keren."

 

"Thanks, kamu juga hebat kak,"

 

Carmen berkacak pinggang, Jiwoo lagi-lagi hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal.

 

 

Sesampainya di depan restoran, Carmen melihat dari ujung ke ujung. Bukan tipe restoran besar, hanya restoran rumahan. Semua terasa seperti di rumah, mungkin ini alasan Jiwoo suka ke sini. Keduanya melangkah masuk, disambut wanita separuh baya yang terseyum hangat terutama pada Jiwoo.

 

"Pesan apa saja, kutraktir." Ucap Jiwoo sambil menyerahkan buku menu. Keduanya memilih meja dekat jendela supaya Carmen bisa melihat suasana sekitar.

 

"Tidak usahhh, aku bisa bayar sendiri kok,"

 

Entah kenapa Jiwoo yang dari tadi selalu terlihat keren depan anak-anak mendadak bisa ekspresi memelas bak anjing yang tak ingin ditinggal tuannya.

 

"Sekali aja..."

 

"Hih.. oke oke, sekali ini aja ya,"

 

Jiwoo cekikikan, melihat jurusnya berhasil. Carmen hanya bisa menggelengkan kepalanya.

 

Keduanya lanjut ngobrol setelah memesan, entah kenapa Carmen merasa nyaman berbicara dengan Jiwoo padahal mereka baru kenal hari itu. Sesuatu tentang Jiwoo membuat Carmen merasa nyaman, mungkin karena ia melihat Jiwoo sebagai sosok yang bisa sabar dengan anak-anak, tidak semua orang bisa begitu.

 

Percakapan mereka terhenti ketika makanan tersaji. Perut kosong ditambah rasa lelah seharian mengurus anak-anak membuat keduanya makan dalam keheningan. Hanya ada suara alat makan terdengar sampai piring keduanya bersih tak bersisa.

 

"Enak, kamu sering makan di sini?"

 

"Iya, biasanya habis dari panti asuhan aku makan di sini."

 

"Setiap hari?"

 

"Nyaris, makanya pemiliknya sudah kenal aku."

 

Jiwoo menyedot sisa jus jeruk miliknya sebelum beranjak ke kasir. Carmen memperhatikan Jiwoo dari belakang, posturnya bagus. Kalau ada yang bilang Jiwoo bagian dari militer atau kepolisian mungkin Carmen akan percaya.

 

Keduanya larut dalam percakapan, sampai akhirnya waktu harus memisahkan mereka. Rasa sepi menggelitik Carmen saat keduanya berpisah di halte bus, namun tangannya tetap bergerak melambai, mengantar kepergian bus yang Jiwoo naiki.

 

Carmen tersenyum, merasa pilihannya volunteer di panti asuhan adalah keputusan tepat. Kini ia menantikan kejadian apa yang akan menantinya esok selama satu bulan ke depan.

 

Series this work belongs to: