Work Text:
“Jiwoo,”
“Bentar, yang tadi kurang jelas fotonya,”
Jiwoo masih fokus dengan usahanya mengabadikan indahnya bulan malam ini. Sementara Carmen lengket memeluk Jiwoo dari belakang, menghangatkan diri karena angin di balkon membawa udara dingin yang sedikit menusuk kulit.
“Dingin,”
“Ya kamu pakai baju minim gitu,”
Tanpa menoleh Jiwoo tahu kalau bibir Carmen maju setengah senti. Jiwoo cekikikan dibalas Carmen dengan pukulan pelan di bahunya.
“Peka napa sih maksudnya minta peluk, kamu tuh,”
Setelah dirasa sudah mendapatkan foto yang bagus Jiwoo akhirnya balik badan, menghadap Carmen yang masih cemberut minta dipeluk itu.
“Sini-sini, maaf ya habisnya aku grogi kamu peluk jadi fotonya blur terus tadi,” Jiwoo langsung menarik Carmen dalam pelukannya. Yang dipeluk masih tidak bergeming, hanya menikmati pelukan Jiwoo. Sesekali tangan Jiwoo naik, menari di antara helai rambut Carmen sebelum akhirnya mengelus puncak kepala Carmen.
“Kamu kan yang ngajakin liat bulan bareng,”
“Kamunya fokus sama HP mulu, akunya didiemin,”
“Ututu ngambek…” Jiwoo mencubit pelan pipi Carmen.
“Buat kompensasi pokoknya hari ini aku mau kita pamer di weverse,”
Tangan Jiwoo yang dari tadi mengelus punggung Carmen kini berhenti.
“Eh? Tapi kan…”
“Kita udah ga boleh post foto bareng, tapi aku mau kita ngepost barengan,”
Jiwoo terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk, “Oke, caption dari aku ya,”
—
Sepuluh menit kemudian mereka sudah kembali ke dalam kamar. Carmen lanjut mengambil selfie sementara Jiwoo memastikan pintu ke balkon sudah terkunci. Saat sedang asik memilih foto, sepasang tangan melingkari pinggang Carmen dari samping.
“Udah belum milih fotonya, sayang,” Jiwoo berbisik di telinga Carmen.
“Mending yang mana kata kamu?” Carmen mengarahkan layar HP nya ke Jiwoo sambil menunjukkan hasil selfienya.
“Semua cantik,”
“Aku minta pendapat upload yang mana,”
“Upload semua ke chatku gak apa-apa,”
Carmen meletakkan HPnya lalu bergeser menghadap Jiwoo “kamu ituuuu nyebelin banget tau gak dari tadi,” hidung Jiwoo dicubit pelan.
“Nyebelin juga kamu sayang kan,” Jiwoo tersenyum lebar. Carmen tidak bisa membantah.
“Iya-iya deh terserah kamu,”
“Kok terserah sih sayang, mana I love you nya,”
“Nanti aku bales kalo kamu berani ngepost gitu di publik.”
Deg.
“Carmen…”
“Berani ngga?”
Jiwoo terdiam sesaat untuk berpikir. Ia lalu bangkit dari kasur dan meraih HPnya.
“Berani. Lima menit lagi ayo post bareng,”
—
Carmen cekikikan di kasur, jarinya aktif menggulir di layar HPnya. Jiwoo yang baru selesai sikat gigi penasaran dan ikut duduk sebelah Carmen.
“Ada apa sih,”
“Ini loh, kamu itu jago banget bikin fans overthinking,”
“Maksudnya?”
“Ngode segala, jadi pada mulai teori kanan-kiri hahahaha, lucu banget liatnya.”
“Kan kamu yang minta aku bilang I love you di publik,” Jiwoo menyenderkan kepalanya di kepala Carmen sambil melihat sederetan postingan fans yang dia tidak paham karena ditulis dengan bahasa Indonesia.
“Iya, makanya jadi seru karena kamu bilangnya implisit gitu,”
“Yaudah kan aku udah nepatin, mana I love you nya,”
Carmen mencium pipi Jiwoo sekilas, “I love you,”
Lalu kembali lanjut membaca postingan fans, tidak peduli kalau Jiwoo di sebelahnya salah tingkah karena dicium kakak kesayangannya itu.
