Work Text:
“Ini beneran Ye-on mundur? Sisa dua bulan sebelum konser amal loh,” Stella menyilangkan tangannya sambil menatap Juun yang baru selesai menyampaikan berita perihal Ye-on. Stik drumnya sudah disimpan di meja kecil
“Iya, bukan kemauan dia sebenarnya. Keluarganya tiba-tiba bilang kalau mereka mau pergi ke Jepang selama tiga bulan, urusan keluarga.”
Ruang musik yang disewa itu hening. Padahal dua bulan lalu mereka sudah merencanakan semuanya dengan matang. Tidak ada yang menduga kalau rencana mereka harus dirombak total di tengah jalan. A-na hanya bersandar di dinding sambil berpikir sementara Jiwoo membereskan bass nya.
“Aku sudah menghubungi dua kandidat, mereka akan ikut latihan di hari yang berbeda. Tinggal kalian pilih, mana yang lebih cocok dengan lagu kita.”
Stella menatap semuanya bergantian. A-na terlihat tidak peduli, siapapun bukan masalah baginya. Juun juga tidak masalah, apalagi dia yang sudah repot menyeleksi kandidat. Jiwoo… dia itu yang sulit beradaptasi dengan orang baru. Ye-on sudah kenal dengan Jiwoo karena mereka satu jurusan. Mengganti Ye-on sama dengan memaksa Jiwoo beradaptasi dengan orang baru lagi. Secara performa Jiwoo professional, tapi kalau dia tidak bisa berkomunikasi dengan vokalis baru maka dampaknya cukup serius.
“Jiwoo,”
Yang dipanggil berhenti menyetting senar bassnya, “Ya, Stella?”
“Aku mau nanti kamu jujur saat berkomunikasi dengan calon vokalis. Kita berempat sudah biasa blak-blakan kalau ada kendala saat latihan, tapi kalau kamu tidak bisa jujur dengan orang baru itu akan jadi masalah.”
“Aku mengerti. Maaf ya merepotkan,”
Stella hanya membalas dengan tersenyum, “teman harus pengertian dan professional,”
***
Hari kamis, vokalis pertama datang latihan. Namanya Yu Haram atau biasa dipanggil Yuha. Sebenarnya ini rekomendasi dari A-na, tapi ia ingin terlihat netral jadi ia yang menyuruh Juun memperkenalkan diri sebagai teman Yuha.
Jiwoo tidak banyak bicara. Sepanjang latihan dengan Yuha ia hanya mengikuti arus. Stella yang sadar kalau Jiwoo tegang sampai sempat salah kunci beberapa kali, tidak cukup besar untuk disadari Juun dan A-na. Bahunya baru terlihat rileks kalau lagu sudah berhenti.
Hari sabtu, vokalis kedua datang. Stella memperhatikan Jiwoo saat pintu dibuka. Reaksinya di luar dugaan Stella.
“Halo, aku Carmen. Teman sekamar Juun di dorm,”
Stella yakin Jiwoo kenal orang itu. Ia sudah cukup lama kenal Jiwoo untuk tahu ekspresi jujur Jiwoo. Kalau belum kenal Jiwoo akan memakai ekspresi defaultnya. Yang hadir di depan Stella kali ini Jiwoo dengan ekspresi lembut seperti orang yang rindu.
“Salam kenal, Carmen, aku A-na. Gitaris paling keren,” A-na membuat pose peace diacungkan ke Carmen.
“Aku Stella, pegang drum. Aslinya gitaris, tapi A-na mau di bagian depan biar keliatan ‘fans’ ghaibnya itu.” Stella melirik ke A-na, dibalas A-na sewot “Stella!”
“Aku Choi Jiwoo. Salam kenal.” singkat, padat, jelas.
“Jiwoo orangnya emang begitu, mohon maklum ya,” Juun langsung menjelaskan. Carmen mengangguk, “tidak apa-apa. Baiklah kalau begitu bisa langsung mulai saja, aku sudah latihan beberapa lagu dengan Juun di dorm kemarin,”
Jiwoo mencengkram leher bassnya. Stella yang dari tadi mengamati tersenyum usil.
Sepertinya ada sesuatu di antara Jiwoo dan Carmen.
***
Seusai latihan, Carmen pamit undur diri terlebih dahulu. Sementara mereka berempat masih duduk di lantai melingkar sambil menenggak soda kaleng dingin.
“Sebelum diskusi pilihan sepertinya ada yang perlu klarifikasi,” Stella membuka obrolan dan matanya melirik ke arah Jiwoo.
“Benar. Jiwoo, kamu natap Carmen kayak kalau dia pergi kamu bakal hilang dari dunia ini,” A-na menambahkan.
“Kalian saling kenal sebelumnya? Carmen tidak pernah cerita apapun,” Juun tidak ketinggalan mengintrogasi Jiwoo.
Jiwoo seperti tertangkap basah. Awalnya ingin mengelak tapi sepertinya tidak ada gunanya saat ketiga sahabatnya sudah paham betul kebiasaannya.
“Aku…”
Ada jeda cukup panjang yang diakhiri helaan nafas.
“Dulu suka sama Carmen pas SMP. Cinta monyet, sih.”
“Apa iya,” goda A-na sambil menyikut Jiwoo. Bahu Jiwoo yang biasanya tegap itu kini sedikit condong ke depan.
“Sampai SMA kebetulan masih satu sekolah. Pas lulus tidak tahu dia ke kampus mana, tapi ya sudah ini hanya perasaan satu arah. Kita bahkan tidak pernah kenalan dengan benar,”
“Terus gimana bisa suka?” tanya A-na.
“Pernah satu bis pulang sekolah yang kebetulan searah. Dia bawel cerita soal jajanan di sekolah dan dia cerita ingin cari teman yang banyak. Hanya di situ saja sekali mengobrol lalu tidak pernah lagi.”
A-na mengguncang lengan Jiwoo “Bisa-bisanya naksir orang cuma karena ngobrol?? Jiwoo?? Aneh???”
“Ya… kalian tahu sendiri jarang yang berani ngajak ngobrol aku,” Jiwoo menunduk, “kecuali kalian, waktu ospek kampus tiba-tiba adopsi aku kayak kucing pungut di jalan.”
“Carmen orangnya friendly ke semua orang, sih.” Timpal Juun.
“Memang. Makanya besar kemungkinan aku cuma angin lalu di hidupnya,” balas Jiwoo. A-na dan Stella saling bertukar pandang seperti memiliki pikiran yang sama.
“Sekarang masih suka?” Tanya A-na. Jiwoo mengangkat bahu.
“Entahlah. Setelah lulus SMA aku tidak peduli,”
“Kamu gak mutualan sosmed atau apa sama dia?” Ganti Stella yang bertanya seperti interview. Harusnya mereka membahas pilihan vokalis, entah mengapa malah berujung mengulik masa lalu Jiwoo. Ketiganya kaget karena tidak menyangka seorang Jiwoo pernah naksir orang, mereka pikir Jiwoo tidak tertarik dengan romansa atau sejenisnya.
“Nggak. Aku… pengen lupain dia. Kita kayak ada di dunia berbeda, she's out of my league.”
“Tapi sekarang dia balik lagi, gak mau nyoba lagi?” Stella menyandarkan dagunya di bahu Jiwoo.
“Aku gak relevan di hidupnya.”
“Payah banget Jiwoo langsung nyerah,” ejek A-na. Juun mengangguk setuju. “Siapatau emang takdir kalian ketemu lagi,”
“Mending pilih vokalisnya,” Jiwoo mencoba mengalihkan pembicaraan. Ketiganya saling tatap dengan pemikiran yang sama.
“Kita pilih Carmen.” ucap ketiganya bersamaan.
“Kok? Bahkan baru mulai diskusi kita,”
“Biar sambil menyelam minum air, kita latihan dan kamu PDKT lagi ke dia.” balas Stella.
Jiwoo menunduk pasrah, lagi. Ia tidak menolak tapi juga tidak benar-benar antusias. Hatinya masih terombang-ambing, meraba apakah perasaan itu masih ada di sana. Enam tahun dia menyukai Carmen dalam diam sebagai motivasi berangkat sekolah lalu dikubur dalam-dalam saat mereka lulus SMA. Dua tahun berlalu, Carmen datang lagi tanpa tahu kalau dalam hati Jiwoo ada perasaan yang belum padam apinya.
“Nanti aku ngerusak latihan dan performa kita,”
“Nggak bakal, Jiwoo. Aku tahu kamu paling perfeksionis di antara kita berempat,” kini ganti A-na yang bersandar di bahu Jiwoo. Jiwoo hanya menghela napas, merasakan tekanan (literally) di bahu kiri (Stella) dan bahu kanan (A-na). Di hadapannya Juun juga seperti memberi lampu hijau.
“Baiklah. Tapi aku mau kalian tidak memaksakan apapun depan dia, aku tidak mau dia merasa tidak nyaman.”
Ketiganya tersenyum puas. “Pasti.”
***
Dua minggu latihan dengan Carmen berjalan tanpa kendala. Sesuai janji A-na, Stella, dan Juun tidak mengungkit apapun soal perasaan Jiwoo di depan Carmen. Ketiganya hanya mengamati dengan perasaan gemas karena Jiwoo tidak melakukan pergerakan apapun selain menatap punggung Carmen setiap latihan.
Sampai akhirnya Stella menyeret Jiwoo ke luar di jeda latihan mereka,
“Jiwoo ayo bantu aku beli minum,”
“Kok aku,” Jiwoo mencoba menghindar saat Stella meraih lengannya. Bassnya sudah ditaruh di dudukan.
“Udah ikut aja,”
Jiwoo pasrah dan mengikuti langkah kaki Stella. Sementara A-na, Juun, dan Carmen sibuk berdiskusi tentang pakaian yang akan mereka gunakan untuk tampil.
Perjalanan ke vending machine terasa sangat lambat. Jiwoo tahu Stella akan mencoba mendorongnya untuk inisiatif bicara dengan Carmen. Jiwoo tidak bisa. Selain anggukan dan balasan singkat, Jiwoo tidak bisa mengucapkan apapun pada Carmen. Wajah Carmen, suara Carmen, bisa berada di dekat Carmen sudah membuat Jiwoo overwhelmed sampai ingin meledak.
Stella menodongkan teh kaleng hangat dan dingin ke Jiwoo, “nih, kamu tanyain Carmen mau yang dingin atau hangat. Buat Juun sama A-na aku yang bawain aja.”
“A.. aku.. gimana aku bisa ngomong sama Carmen…”
“Ya senormalnya manusia ngobrol aja lah, Ji.”
Tangan Jiwoo naik perlahan mengambil dua kaleng yang disodorkan Stella. Keduanya lalu bergegas kembali ke ruangan sewa.
“Minum dulu guys, biar adem,” Stella meletakkan soda depan Juun dan A-na. Carmen menatap Stella, melihat Stella memberi kode untuk melirik Jiwoo.
“Mau.. dingin atau hangat? Soalnya kan kamu nyanyi… kita gak mau suara kamu kenapa-napa,” gumam Jiwoo pelan sampai Carmen tidak bisa mendengarnya. Akhirnya Carmen bangkit dari duduknya, mendekati Jiwoo yang langsung kaku seperti kanebo kering itu.
“Kamu sukanya apa?”
Jiwoo kaget, belum sempat ia menjawab Carmen sudah berbicara lagi.
“Aku gak masalah dingin atau anget, sebelum tidur aku minum anget kok. Jadi kamu duluan aja yang pilih,”
“Aku… sukanya kamu.”
Hening. Stella menepuk jidat, temannya ini terlalu polos atau bodoh atau bagaimana dia tidak tahu. Jiwoo yang baru menyadari ucapannya barusan lantas menyodorkan paksa dua kaleng teh ke Carmen lalu berlari ke luar ruangan.
Carmen bingung. Ia berbalik badan dan pandangannya bertemu tiga pasang mata yang menyaksikan percakapan barusan.
“Guys… temen kalian itu segitu canggungnya sama orang? Atau aku terlalu intimidating ya? Maksudnya, apa harus segitunya karena takut ga disukain aku?” Tanya Carmen.
Ketiganya bertukar pandang bergantian sambil menahan tawa.
“Enggak Carmen. Kamu biasa aja, toh sama kita gak masalah. Jiwoo aja yang emang sedikit aneh,” balas Stella. “Menurut kamu Jiwoo orangnya gimana?”
“Efisien? Tidak banyak bicara di luar membahas soal latihan kita. Datang dan pulang tepat waktu. Kelihatan sedikit dingin tapi dia dekat dengan kalian jadi kemungkinan dia tidak biasa denganku saja,”
“Kalau yang tadi dikatakan Jiwoo itu jujur bagaimana?” Tanya Stella lagi.
“Hah? Kok bisa, bukannya kita baru kenal?”
Juun menepuk keningnya. Benar-benar Carmen tidak ingat. Salah Jiwoo juga tidak menonjol saat sekolah (mereka sudah lihat foto Jiwoo culun selama sekolah) dan tidak pernah inisiatif mendekati Carmen lagi.
“Coba tanya sama Jiwoo nanti sepulang latihan. Biar kita yang atur,”
Carmen masih bingung tapi mengiyakan saja. Dalam hatinya ada sedikit perasaan penasaran, bagaimana Jiwoo, orang yang tidak terlihat tertarik padanya bisa kelepasan bicara seperti itu.
Lima belas menit Jiwoo kembali ke ruang sewa dengan muka yang datar seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka berempat juga bersikap seolah pernyataan Jiwoo tadi tidak ada dan lanjut mulai latihan. Carmen sesekali melirik ke arah Jiwoo. Gadis itu professional. Kalau Carmen kelepasan begitu sih dia tidak akan bisa kembali latihan dengan normal seperti Jiwoo sekarang.
Dilihat-lihat, jujur, Jiwoo memang cantik. Rambut pendeknya yang sedikit lepek karena keringat tampak sempurna membingkai wajahnya yang tegas. Keringat di peluhnya seperti cherry on top, membuat Jiwoo terlihat… seksi.
“Okay, good job everyone today.” Juun menutup latihan mereka hari ini. “Masih ada lima minggu sebelum tampil jadi aku berharap semuanya istirahat cukup setelah ini. Jaga kesehatan, ya. Biarpun kita cuma band filler, kita harus memberikan yang terbaik di konser amal nanti.”
“Siap jendral,” A-na melempar hormat ke arah Juun.
Juun berjalan ke tas gitarnya, menyimpan gitar warna biru langit kesayangannya itu dengan hati-hati.
“Oh iya, Carmen. Maaf kita gak bisa pulang bareng. Aku sama Stella mau belanja pakaian anak buat donasi.”
“Okeii, tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri, kamu bawa kunci dorm, kan?”
Juun mengangguk. “nanti kalau mau titip sesuatu, chat aja.”
Yang tidak disadari Carmen adalah kini tersisa ia dan Jiwoo di ruang sewa berukuran enam kali lima meter itu. Jiwoo masih fokus menggulung kabel, memastikan semua fasilitas sewa sudah kembali rapi. Sementara dia? Semenjak Juun pamit hanya memperhatikan Jiwoo sampai lupa waktu. Bagaimana Jiwoo terlalu fokus dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari kalau hanya sisa mereka berdua di situ.
“Jiwoo.”
Suara yang hinggap di telinga Jiwoo memaksa Jiwoo berhenti menggulung kabel. Ia tahu persis itu suara Carmen.
“Y.. ya?”
“Aku menakutkan ya, sampai kamu kelepasan begitu tadi…”
Jiwoo menyimpan gulungan kabel yang sudah rapi di pojok ruangan sebelum akhirnya balik badan menghadap Carmen.
“Nggak, kok.” Singkat, padat, jelas. Seperti ada jarak yang coba dibangun Jiwoo di antara mereka.
“Berarti, pernyataan itu beneran karena suka.”
Jantung Jiwoo seperti jatuh ke lantai.
“Em… bukan…”
“Terus?”
Setiap satu langkah Carmen mendekat, Jiwoo mundur satu langkah. Begitu terus hingga Jiwoo terpojok di dinding. Jiwoo memalingkan wajahnya, tidak sanggup kalau menatap Carmen. Dia tidak bisa berbohong.
“Suka… suara…”
Carmen tersenyum iseng. Mendekatkan wajahnya ke wajah Jiwoo yang sedikit lebih tinggi darinya itu. Jiwoo memejamkan mata, pasrah dengan apapun yang akan Carmen lakukan. Nafasnya tertahan, jantungnya berdebar tak karuan.
“Suaranya aja? Akunya nggak?”
Mati aku, batin Jiwoo.
Jiwoo reflek mendorong Carmen pelan, pipinya merah sampai ke telinga. Sementara Carmen hanya memandangi punggung Jiwoo yang meninggalkan ruang sewa sambil tersenyum.
“Beneran suka? Kok bisa ya, masa cuma karena latihan bareng. Emang ada yang naksir cuma dari ngeliat gitu?”
***
Semenjak malam itu, sesi latihan berikutnya selalu sama. A-na, Stella, dan Juun akan mencari alasan pamit lebih awal dan meninggalkan Jiwoo berdua dengan Carmen di ruang sewa untuk beres-beres. Jiwoo hanya bisa pasrah, tahu sahabatnya sedang mencoba membuatnya bicara dengan Carmen. Sayangnya tidak ada yang terucap di antara keduanya, hanya keheningan yang mengisi sembari mereka merapikan kabel di ruang sewa.
Jiwoo takut kalau Carmen tidak nyaman didorong begini oleh teman-temannya. Sementara Carmen masih penasaran kenapa Jiwoo bisa suka dengannya. Konsep suka tanpa pernah berbicara lebih personal terdengar asing bagi Carmen. Benar-benar tidak ingat kalau dia pernah berbicara dengan Jiwoo yang dulu. Jiwoo yang berambut panjang dan culun karena kacamata tebalnya itu. Rasa penasarannya tidak sampai karena Carmen juga takut kalau ia menekan Jiwoo, gadis itu akan kabur lagi meninggalkannya.
Jadi setiap selesai latihan mereka hanya akan diam sambil membereskan kabel, malam ini juga begitu.
Bedanya kali ini tangan Carmen menahan Jiwoo sebelum mereka berpisah di pertigaan jalan.
“Jiwoo,”
“... ya?”
“Boleh minta nomer HP?”
Jiwoo yang semula menunduk kini membalas tatapan Carmen. “Untuk apa..”
“Kalau kamu tidak mau cerita kenapa suka aku, bagaimana kalau aku yang mencoba suka kamu,”
Jalanan yang ramai lambat laun terdengar redup, hanya suara Carmen yang terus terngiang di telinga Jiwoo. Perasaan Jiwoo campur aduk, antara merutuki dirinya yang begitu pengecut tidak bisa jujur ke Carmen atau senang karena sekarang Carmen menyadari keberadaanya.
“Aku tidak akan memaksa, kalau kamu tidak mau aku akan berhenti,” Carmen melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Jiwoo.
Jiwoo terdiam dua menit sebelum merogoh sakunya, mengambil ponselnya dan menyerahkannya ke Carmen.
“Nomermu. Ketik.”
Carmen menatap Jiwoo lalu turun melihat tangannya. Bergetar. Senyum tersungging di bibir Carmen, Jiwoo ini terlihat sok cool padahal aslinya salting brutal. Lucu, pikir Carmen.
Ia meraih ponsel Jiwoo, mengetik nomernya lalu menuliskan “Carmen (calon pacar)” di kontak sebelum menekan simpan.
Jiwoo menatap ponselnya tidak percaya.
“Carmen… maksudnya apa?”
“Emang kamu gak mau nanti pacaran sama aku?”
Kepala Jiwoo rasanya pusing. Terlalu banyak. Terlalu cepat. Semua hal tentang Carmen yang datang bertubi-tubi membuatnya tidak bisa memproses apapun.
“Atau kamu gak beneran suka aku? Cuma bercanda? Kayak… semua orang yang ngejar aku di kampus.”
Nada bicara Carmen berubah, kali ini tidak secerah tadi.
“Delapan tahun…”
Jemari Jiwoo mencengkram ujung jaketnya sendiri,
“Delapan tahun lalu… aku sudah suka kamu dari delapan tahun lalu saat kita satu bis sepulang sekolah,”
“Delapan tahun?” Kali ini gantian Carmen yang kaget.
Jiwoo ingin melanjutkan kalimatnya namun senggolan di bahunya menyadarkan Jiwoo kalau mereka masih di trotoar. Dengan keberanian yang entah dari mana, Jiwoo menggandeng Carmen ke taman di seberang jalan. Carmen hanya mengikuti Jiwoo, memperhatikan punggungnya yang tertutup tas berisi bass itu.
Keduanya duduk di kursi taman, hening karena tidak ada orang lain di sana.
“Jadi,”
Jiwoo menarik nafas, mencoba mengatur jantungnya yang berdebar tak karuan.
“Delapan tahun lalu kita masuk ke SMP yang sama. Pulang satu bis untuk pertama dan terakhir kalinya. Lanjut masuk SMA yang sama, aku masih perhatiin kamu dari jauh.”
Carmen tidak membalas, seakan tahu kalau cerita Jiwoo tidak cukup sampai di situ.
“Sampai lulus juga aku hanya berani lihat kamu dari jauh. Kupikir kita gak akan ketemu lagi setelah lulus, tapi lihat sekarang. Takdir suka bercanda memang.”
“Kalau gitu, kamu beneran masih suka? Setelah selama itu?”
“Ya. Karena cuma kamu yang berani ngajak ngobrol aku tanpa takut, dulu.”
“Sekarang? Kan kamu punya tiga sahabatmu itu.”
“Beda,”
Jiwoo mendongak, menatap langit sebelum akhirnya menatap Carmen.
“Mereka datang satu paket, adopsi aku kayak anak kucing di pinggir jalan. Aku gak bisa suka mereka secara romantis karena mereka sudah kuanggap keluarga sendiri,”
Ada jeda lagi. Carmen tidak melepaskan pandangannya dari Jiwoo, tidak percaya kalau ada yang menyukainya dalam diam tanpa mengharap perasaanya dibalas.
“Dan aku rasa aku belum bisa suka orang lain selain kamu. Perasaan hangat waktu kamu ngajak ngobrol di bus itu belum ada yang bisa membuatku merasakannya lagi. Maaf ya, kesannya jadi kayak penguntit. Pengecut pula,”
Jiwoo menunduk. Merasa lega karena akhirnya dia bisa jujur setelah selama ini memendam rasa. Urusan nanti Carmen mau membalasnya atau tidak, dia sudah pasrah. Selama ini bisa melihat Carmen bahagia saja sudah cukup baginya.
“Jiwoo…”
“Ya?”
Air mata menggenang di pelupuk mata Carmen. Jiwoo yang menyadarinya panik, buru-buru mengambil tisu dari saku tasnya.
“Aku ada salah ngomong, ya? Maaf ya Carmen,” ucap Jiwoo sambil menyodorkan tisu.
“Nggak, cuma… aku gak nyangka aja cuma karena hal kecil itu kamu suka aku.”
“Bagi kamu kecil, bagiku tidak.”
“Kalau gitu, boleh aku egois dan minta kamu tetap suka aku? Karena aku juga mulai tertarik sama kamu, aku mau kenal kamu lebih jauh.”
***
Tidak ada yang berubah di studio sewaan itu. Latihan dua kali seminggu di sela-sela kesibukan kuliah mereka berjalan normal. Sesekali ada argumen antara Stella, Juun, dan A-na tapi ujungnya akan ada keputusan tengah yang diambil.
Konser amal semakin dekat, ketiganya lupa dengan tujuan awal mereka ingin mencomblangkan Jiwoo dengan Carmen. Latihan demi latihan, persiapan demi persiapan menyibukkan mereka hingga waktu istirahat yang tersisa hanya dipakai istirahat.
“Saking banyaknya latihan, kurasa aku bisa membawakan lagu kita sambil menutup mata.” ujar A-na sambil duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya ke dinding.
“Jangan sombong, kamu pegang gitar bagian melodi. Salah sedikit langsung kedengeran jelas, tau.” balas Stella.
“Iya iya ibu negara,”
Stella bangkit dari belakang drum, menghampiri A-na untuk memukul pelan kepalanya sebelum akhirnya ikut duduk di sebelahnya. Meluruskan kakinya yang mulai pegal karena menekan drum.
Sementara itu Jiwoo dan Carmen juga belum berbicara lebih lanjut pasca obrolan di taman. Jiwoo butuh waktu untuk mencerna kalau Carmen juga tertarik padanya. Di depan ketiganya, mereka berbicara normal perihal penampilan, perihal lagu, atau apa pun yang tidak menyangkut hubungan mereka berdua.
Walau sebenarnya Carmen kini lebih memperhatikan setiap gerakan Jiwoo. Bagaimana Jiwoo mengikat rambutnya yang pendek itu jika ia mulai gerah. Bagaimana jemari Jiwoo lihai memetik senar bass. Bagaimana kalau Jiwoo berada di atasnya- okay cukup sampai situ Carmen, calm down.
“Carmen,” Juun membuyarkan lamunan Carmen.
“I-iya Juun?”
“Makasih banyak ya udah mau direpotin, aku sampai lupa bilang.”
“Santai aja, aku kan seneng nyanyi. Lumayan, itung-itung jadi gak berisikin tetangga dorm hehe,”
Carmen sudah takut kalau Juun akan mengungkit soal Jiwoo, untungnya hanya obrolan ringan seputar persiapan tampil. Obrolan mereka berjalan begitu saja sampai Carmen melihat Stella menyandarkan kepalanya ke bahu Jiwoo.
Rasa nyeri hinggap di hatinya. Bahkan Jiwoo yang suka padanya tidak pernah berani bersentuhan dengan Carmen selain saat mereka di trotoar itu.
Carmen juga ingin, namun ia pendam perasaan itu sebelum mengganggu fokusnya bicara dengan Juun.
***
Penampilan mereka sukses. Mereka tidak menyangka walau hanya band pengisi di antara band terkenal, antusias tak kalah semangatnya. Bahkan Juun seperti mendapat fans baru yang tidak henti-henti meneriakkan namanya selama tampil. Ia hanya tersipu malu setiap kali mendengar seseorang meneriakkan namanya keras-keras.
Setelah kembali ke backstage, A-na menangis sambil memeluk Stella. Anak itu selalu mudah tersentuh, batin Jiwoo. Juun menarik mereka berlima untuk group hug dan berfoto sebagai kenang-kenangan. Secara sengaja Carmen berdiri di sebelah Jiwoo dan menyandarkan kepalanya ke bahu Jiwoo di salah satu jepretan.
Jiwoo konslet. Bau shampoo dan parfum Carmen yang sedikit bercampur keringat masuk ke hidungnya. Terlalu dekat, mencekat. Ia takut debaran jantungnya terdengar sampai telinga Carmen.
“Aku izin ke toilet,” pamit Jiwoo setelah mereka selesai berfoto. Dua menit setelah Jiwoo pergi Carmen juga pamit. Ketiganya hanya saling tatap, mencium gelagat aneh dari keduanya.
“Menurut kalian, Jiwoo udah ngomong sama Carmen? Atau dia cupu gak lanjut gerak. Soalnya habis keceplosan itu Jiwoo beneran kayak robot depan Carmen.” ujar A-na.
“Kayaknya nggak deh, soalnya Carmen juga gak ada perubahan di dorm. Misalnya Jiwoo ngomong sesuatu harusnya Carmen keliatan beda pas pulang.” balas Juun sambil mengelap keringatnya.
“Tapi lihat,” Stella menunjukkan layar HPnya. “Carmen nyender Jiwoo.”
Juun dan A-na menatap layar tidak percaya.
“Gak sengaja kali? Foto sebelumnya nggak nyender juga,” Juun menerka sambil mencoba zoom in-zoom out fotonya.
“Terlalu spesifik buat gak sengaja,” Stella zoom out lagin ke pinggang Carmen.
Tangan Jiwoo merangkul Carmen.
“Masa mereka udah pacaran?”
“Belum,” Stella tersenyum. “Habis ini mungkin,”
***
“Jiwoo, tunggu,”
Carmen berusaha mengatur nafasnya yang tersengal. Dia lelah sudah menyanyi lima lagu kini harus berlari mengejar Jiwoo. Keduanya kini berada agak jauh dari panggung, tidak perlu berteriak lagi untuk bicara.
“Aku… tidak siap Carmen. Aku tidak siap ditolak,”
Carmen berkacak pinggang.
“Kamu itu bodoh, tolol, atau botol.”
“Apa?” alis Jiwoo mengernyit.
“Botol, bodoh dan tolol.”
“Kasar,”
“Ya habis, kenapa udah asumsi mau ditolak sih. Kamu pikir chat kita setiap hari itu apa!” Carmen mendekat, memukul lengan Jiwoo.
“Formalitas?” Jiwoo menjawab tanpa dosa.
“Kan aku udah bilang mau kenal kamu lebih jauh Jiwoo,”
“Kupikir cuma disuruh Juun biar aku gak kaku pas latihan,”
Carmen gemas bukan main. Jiwoo menghindari topik utamanya. Ia masih mengoceh panjang lebar, mencoba memancing Jiwoo untuk bilang kalau Jiwoo masih suka Carmen. Validasi supaya Carmen tidak jatuh cinta sendirian.
Carmen masih berbicara sambil sewot. Jiwoo tertawa, tangannya meraih dagu Carmen lalu menempelkan bibirnya, membuat Carmen diam seketika.
“Kamu lucu,” Jiwoo tertawa sambil menatap Carmen. “Aku tau kok, aku cuma mancing aja biar tau kamu beneran suka aku juga atau cuma pengen naikin ego karena ada yang suka sama kamu selama delapan tahun.”
“Jiwoo-”
Delapan tahun lalu tidak akan membayangkan kalau hari ini dia bisa mencium gadis yang ia sukai. Tidak hanya sekali, bahkan dua kali. Carmen yang dulu lebih tinggi dari Jiwoo sekarang terasa lebih kecil, membuat Jiwoo merasa lebih unggul saat mereka beradu kasih. Tangannya mulai berani menyentuh pinggang Carmen, menarik Carmen lebih dekat hingga Jiwoo bisa merasakan suhu tubuh Carmen yang lebih tinggi darinya.
Keduanya berhenti saat sudah kehabisan nafas.
“Sesuai janji di taman. Aku mau kamu jujur Jiwoo.”
“Sudah jujur kan tadi, lewat bibir.”
“Maksudnya-” Carmen mencubit lengan Jiwoo. “Tembak aku.”
“Gak mau, nanti mati. Siapa lagi yang aku sukai dalam diam nanti~” goda Jiwoo.
Dalam satu bulan Carmen menemukan kalau Jiwoo yang kaku itu sebenarnya tengil. Pantas dia satu frekuensi sama A-na, Stella, dan Juun. Dia hanya lebih pandai menyembunyikan sifat aslinya. Sifat itu juga yang membuat Carmen akhirnya benar-benar jatuh hati pada Jiwoo. Dia nyaman bersama Jiwoo.
“Oke, oke, My Sunshine and My sweetheart Carmenita, mau jadi pacar Jiwoo yang kata orang kaku kayak kanebo ini?” Jiwoo berlutut depan Carmen, merogoh kantong celananya dan mengeluarkan origami bentuk burung.
“Ah kamu tuh gak ada romantisnya,” Carmen mengambil origami itu, “tapi aku mau.”
Jiwoo berdiri lalu bertepuk tangan, “yeey,”
“Kamu aneh, Jiwoo.”
“Tapi kamu suka, kan.”
“Iya.”
***
Dari balik semak-semak, tiga pasang mata memperhatikan kelakuan Carmen dan Jiwoo.
“A-na kamu ngajarin Jiwoo apa, barusan itu apa, Jiwoo mana pernah begitu,” Juun menutup mulutnya tidak percaya.
“Kok aku!!”
“Kan kamu yang suka godain Yuha kayak gitu,” balas Juun tenang.
“Jangan ngintip chatku sama Yuha!!”
“Sudah-sudah, ayo kita pergi sebelum mereka tahu kita ngintipin mereka,” ajak Stella sambjl merangkul bahu Juun dan A-na.
“Iyalah, yuk jajan aja. Kita tinggalin mereka berdua siapa tau habis ini mau ciuman lagi,”
Ketiganya hanya cekikikan sambil menuju jejeran tenda yang menjual makanan.
—
