Work Text:
“Jiwoo kalo ciuman kacamatanya dicopot gak ya,”
Tidak ada angin, tidak ada hujan. Celetukan Carmen itu membuat Stella menekan pensil mekaniknya sampai patah. Carmen bertanya padahal matanya masih melihat ke luar kelas.
“Hah?”
“Kepo aja,”
“Kamu kan juga pakai kacamata,”
Stella tidak menanggapi lebih lanjut asbun Carmen itu. Sahabat sekaligus teman sebangkunya ini memang suka berpikir sesuatu yang tidak dipikirkan orang lain. Misalnya tiba-tiba bertanya saat kelar pelajaran seni rupa “Stel, tanah liat itu liat apa ya?”
Tidak ada tanggapan serius dari Stella. Dia lanjut menyalin tulisan dari papan tulis. Hampir semua orang selalu jadi bahan pertanyaan Carmen. Yah, walau hanya Stella yang betah mendengarkan celotehannya itu. Keduanya sudah sebangku dari masuk SMA karena waktu itu sisa bangku kosong hanya di sebelah Carmen. Awalnya Stella tidak paham Carmen, tapi lama kelamaan dia paham kalau Carmen pintar tapi agak nyentrik saja.
Jiwoo yang tadi disebut Carmen juga bukan berasal dari kelas ini. Kebetulan tadi dia lewat sambil membawa tumpukan buku dari kantor guru. Wajah sampingnya tidak kalah cantik dari tampak depan. Rambutnya selalu dipotong rapi di atas leher, biasanya menari saat Jiwoo bermain futsal di lapangan sekolah.
“Gak nyangka orang kayak Jiwoo yang bau matahari gitu kalo diliat cakep juga,”
“Naksir Jiwoo kah? Biasanya kamu cuma bahas orang dalam satu pertanyaan, ini sampai tiga.”
“Mungkin.”
Mulut Stella membentuk O bulat. Ia meletakkan pensilnya, kiri bertopang dagu sambil menatap Carmen di sampingnya.
“Wow. Tanpa denial, seorang Carmen.”
“Kalau cuma penasaran pengen ciuman gitu apa aku dipenjara, Stel?” Carmen menatap Stella serius.
Stella tidak bisa menanggapi serius. Masalahnya Carmen bercanda dan serius hampir tidak ada bedanya.
“Ya… nggak sampai dipenjara juga sih, paling kamu dikatain mesum. Atau paling buruk ditampar. Apapun itu tolong jangan nekat ya Carmen. Jangan permalukan diri kamu sendiri hanya karena pertanyaan itu, okay?”
Carmen mengangguk lalu kembali menyalin pelajaran di papan tulis ke bukunya. Stella menganggap itu hanya angin lalu tanpa tahu kalau minggu depan Carmen akan berangkat ke sekolah dengan cerita yang mengejutkan Stella.
***
Carmen itu pintar tapi otaknya terlalu penuh dengan banyak pertanyaan sampai dia kadang lupa menyusun kalimat yang tepat saat berbicara dengan orang lain.
Kadang dia juga lupa mempertimbangkan satu faktor: malu.
Carmen tidak pernah malu. Dia selalu percaya diri dengan apapun yang dia lakukan dan tanyakan. Otaknya seakan tak pernah berhenti bertanya kecuali saat dia lapar dan tidur. Baginya, rasa ingin tahu yang muncul di benaknya harus diberi jawaban.
Termasuk bertanya langsung pada Jiwoo sepulang sekolah. Di koridor sepi, Jiwoo dicegat Carmen yang merentangkan kedua tangannya.
“Jiwoo, kalo kamu ciuman kacamatanya dilepas gak?”
Jiwoo tidak kenal Carmen secara personal. Ia hanya tahu karena nama Carmen sering disebut saat memenangkan lomba karya tulis ilmiah. Mereka tidak pernah bertegur sapa. Jiwoo sudah sering menghadapi tawaran pacaran sepulang latihan futsal tapi baru kali ini dia dapat pertanyaan seperti ini.
Bibirnya naik, tersenyum. Menarik.
“Gimana kalau kamu cari tahu sendiri?” Jiwoo mendekat ke arah Carmen. Carmen tidak mundur, malah balas menatap Jiwoo yang masih tersenyum itu.
“Caranya?” Carmen menatap Jiwoo dengan mata yang berbinar-binar di balik kaca matanya. Terlalu naif.
Orang aneh, batin Jiwoo.
“Kita ciuman.”
“Eh, kok gitu,” Carmen menahan bahu Jiwoo yang kini condong ke arahnya. Wajah mereka hanya terpaut dua puluh sentimeter sekarang.
“Kan kamu yang penasaran. Apa ini bagian dari riset untuk karya tulismu?”
Jarak berkurang tiga senti. Carmen bisa mencium bau matahari dari rambut Jiwoo. Mata Jiwoo yang biasanya tidak jelas karena pantulan di kacamatanya kini terlihat lebih jelas menatap Carmen intens. Jantung Carmen mulai berdebar tak karuan. Perasaan gugup ini menarik. Carmen tidak pernah merasa gugup sebelum presentasi karya tulisnya. Carmen ingin melanjutkan ini. Kedua matanya menutup, penasaran.
Jiwoo memangkas jarak antara mereka, kini maju lima senti. Belum sempat bibir mereka bertemu, kacamata mereka sudah bertabrakan satu sama lain. Carmen meringis.
“Aduh, hidungku,”
“Pfft,”
Saat Carmen membuka matanya, ia disambut Jiwoo yang tertawa pelan.
“Sekarang sudah tahu?”
“Ulang,”
Jiwoo berhenti tertawa. Alisnya terangkat naik sebelah.
“Apa?”
Carmen tidak menjawab, hanya melepas kacamatanya dan menyematkan di kantong bajunya lalu memejamkan mata lagi. “Cium.”
Untung cantik. batin Jiwoo. Tangannya meraih dagu Carmen, menariknya pelan sampai bibir mereka bertemu. Hanya menempel saja.
Bibir Jiwoo terasa kering di bibir Carmen. Bau matahari semakin jelas di hidungnya namun kini sedikit bercampur dengan bau badan Jiwoo yang wangi sabun bayi. Kacamata Jiwoo sedikit menekan hidung Carmen, namun tidak sakit karena lima detik kemudian Jiwoo menarik diri.
Carmen membuka matanya perlahan. Melihat Jiwoo yang ekspresinya masih datar tapi telinganya sedikit merah. Nafas keduanya belum teratur.
“Jadi begitu,” Carmen mengangguk.
“Sudah terjawab sekarang penasarannya, tuan putri?” Jiwoo menekankan suaranya pada dua kata terakhir, menggoda Carmen.
“Sudah. Terima kasih banyak, Jiwoo.”
Carmen menepuk bahu Jiwoo lalu beranjak pergi. Baru dua langkah, pergelangan tangannya dicengkram Jiwoo dari belakang.
“Tidak gratis.”
“Apanya?”
“Ciuman.”
Carmen merogoh sakunya mencari dompet.
“Aku tidak mau uang,”
“Lalu?”
“Aku mau kita pacaran.”
Jiwoo meraih pulpen di sakunya kemudian menulis nomor HP nya di telapak tangan Carmen.
“Itu nomerku. Kalau sampai besok kamu belum chat, aku bakal dateng ke kelasmu hari senin,” Jiwoo mendekatkan wajahnya ke telinga Carmen “sambil teriak Carmen sayang.”
Jiwoo kemudian menepuk bahu Carmen sebelum meninggalkannya ke arah parkiran sepeda.
Carmen terdiam. Seketika kepalanya yang biasanya penuh dengan pertanyaan hening tanpa suara untuk lima belas menit.
***
Ada jeda dua hari setelah ciuman itu sebelum keduanya kembali ke sekolah. Carmen berangkat seperti biasa diantar kakaknya yang arah kantornya sejalan dengan SMA Carmen. Kepalanya sudah kembali penuh dengan pertanyaan, namun kini sedikit mengerucut fokusnya pada Jiwoo.
Ia mengingat kembali percakapan mereka di chat. Jiwoo langsung bersikap seperti mereka sudah pacaran lama. Memasuki jam makan akan bertanya apa Carmen sudah makan dan memasuki jam tidur Jiwoo akan mengirim foto boneka cerpelai putih yang diselimuti dengan caption “have a nice dream”. Jiwoo juga selalu menjawab pertanyaan absurd Carmen yang biasanya hanya ditanggapi setengah serius oleh Stella. (Carmen tidak masalah, Stella tahan berteman saja sudah syukur)
Carmen bertanya-tanya kenapa Jiwoo terlalu mudah masuk ke hidupnya. Padahal biasanya orang tidak tahan dengan pertanyaan-pertanyaan Carmen dan pergi menjauh setelah itu.
Stella memperhatikan Carmen yang pagi ini datang dengan diam. Padahal biasanya Carmen akan datang sambil bertanya mengenai apapun yang dia lihat di jalan.
“Kamu sakit?” Tanya Stella. Nadanya terdengar khawatir.
“Eh, enggak Stell. Cuma bingung harus ngomong dari mana,”
“Tumben, biasanya asal ngomong.”
Carmen memutar matanya.
“Aku pacaran sama Jiwoo.” Bisik Carmen pelan. Tidak ingin teman sekelas lain tahu karena Jiwoo cukup populer baik di kalangan siswa maupun siswi.
“Hah. Bercanda kamu.”
“Serius,”
“Apa buktinya?”
Carmen menunjukkan chatnya dengan Jiwoo. Stella menutup mulutnya yang tidak bisa berhenti menganga.
Carmen. Menaklukan si bondol yang selalu jadi buah bibir siswa siswi setiap turnamen futsal. Yang terkenal selalu menolak ajakan pacaran dengan alasan aku lebih suka main futsal daripada pacaran.
“Wow. Selamat Carmen,” Stella masih melihat Carmen tidak percaya. “Ingat, kalau dia macam-macam kamu harus bilang aku ya? Aku gak mau kamu jadi korban dia mainin cewek,”
Carmen memiringkan kepalanya. “Emang dia pernah begitu?”
“Ya takutnya kamu cuma dijadiin mainan dia, kalo bosen ditinggal. Dia kan terkenal, kalau mau pacarin siapapun tinggal tunjuk,” Stella mengangkat bahunya.
Carmen tidak sempat bertanya lagi, guru sudah masuk ke kelas dan keduanya harus berhenti mengobrol.
***
Tiga minggu pacaran dengan Jiwoo, Carmen merasa kalau Jiwoo berbeda dengan yang selalu dibicarakan orang. Dia tidak sombong dan kaku. Jiwoo hanya tidak suka kalau orang mendekatinya karena dia terkenal atau karena ingin dilihat sebagai pacar Jiwoo si ace futsal.
Carmen mendekati Jiwoo karena Carmen adalah Carmen yang suka bertanya.
Jiwoo paham kalau Carmen suka bertanya jadi Jiwoo selalu membawanya ke tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Saat ke museum, Jiwoo rela membayar lebih untuk pemandu karena ia ingin Carmen leluasa bertanya dan mendapatkan jawaban jelas. Jiwoo di samping Carmen hanya tersenyum setiap kali melihat Carmen antusias mengetahui hal yang baru sambil mengelus punggung tangan Carmen dengan ibu jarinya.
Lain waktu Jiwoo membawa Carmen ke tempat servis motor resmi. Carmen berpikir Jiwoo hanya butuh teman menunggu selama motornya diservis jadi dia mengiyakan. Selama menunggu, Carmen banyak bertanya soal motor dan Jiwoo akan menjawabnya dengan sabar, tidak merendahkan atau menggurui.
Jiwoo menikmati dunia barunya bersama Carmen. Biasanya ia hanya berpikir kalau yang seru hanya futsal, kini dia menemukan keseruan menjawab Carmen yang selalu bertanya walau kadang di luar nalar.
Carmen juga tidak pernah mempermasalahkan kalau “batre” Jiwoo habis. Biasanya setelah mereka jalan diwarnai pertanyaan-pertanyaan Carmen, Carmen akan menemani Jiwoo duduk diam sambil mengunyah cemilan. Membiarkan Jiwoo mengisi batrenya sambil sesekali bersandar ke bahu Carmen.
Stella ikut senang kini Carmen punya pendengar setia selain dirinya. Carmen masih bertanya hal aneh ke Stella namun sekarang Carmen lebih sering bercerita soal Jiwoo. Itu cukup mengurangi intensitas Stella harus menjawab pertanyaan Carmen.
Stella tidak benci atau lelah menjawab Carmen, namun dia kadang merasa bersalah kalau tidak bisa menjawab Carmen saat sedang antusias. Sementara Jiwoo, setiap kali ia mampu ia akan menjawab Carmen walau kadang agak ngawur dan dibalas bibir Carmen yang cemberut.
Keduanya asik dengan dunia baru mereka, sampai akhirnya Jiwoo ingat.
Dia belum pernah menyatakan perasaannya dengan benar.
“Carmen,” panggil Jiwoo dengan nada lembut. Keduanya sedang berada di kamar Carmen mengerjakan tugas bersama. Carmen sudah berganti baju rumah sementara Jiwoo masih mengenakan seragam. Biasanya Carmen akan bercanda “Jiwoo bau matahari jangan dekat-dekat” dan dibalas cubitan pelan di pipi Carmen.
“Iya, Jiwoo?”
Jiwoo meraih tangan Carmen. Menyelipkan jemarinya di antara jemari Carmen, sambil menatap Carmen lembut.
“Aku sayang kamu,”
“Tiba-tiba banget…”
“Aku belum pernah bilang. Malah udah ngajak pacaran,” Jiwoo menunduk, “maaf baru inget,”
Carmen hanya tertawa pelan.
“Aku juga sayang kamu, makasih ya udah selalu sabar jawab pertanyaan aneh. Walau kadang bikin kamu frustasi, kamu lucu kalo lagi pusing.”
Jiwoo yang biasanya cemberut kalau diejek, sekarang malah mendekat ke arah Carmen menempelkan keningnya di kening Carmen. Kacamata mereka saling membentur pelan.
“Kamu gak pengen ciuman lagi?” tanya Jiwoo.
“Eh?”
“Apa karena udah gak penasaran jadi gak mau lagi?”
Carmen terdiam, berpikir sejenak.
“Mau… cuma gak kepikiran aja karena kamu selalu bisa bikin aku penasaran sama hal positif ketimbang hal negatif,”
“Maksudnya penasaran ciuman sama aku itu negatif, gitu?” Jiwoo cemberut. Tangan Carmen naik mengelus pipi Jiwoo.
“Enggak sayang, maksudnya…”
“Maksudnya apa?”
Carmen tidak menjawab, ia hanya melepas kacamatanya lalu menarik dasi Jiwoo, bibirnya mengecup bibir Jiwoo pelan.
“Udah tuh, aku masih mau kok,”
“Lagi,”
Jiwoo–masih dengan kacamata bertengger di hidungnya–mengecup bibir Carmen lagi. Sekali, dua kali, kecupan kecil yang diselingi benturan pelan kacamatanya di hidung Carmen.
Tangan Carmen masih menarik dasi Jiwoo, tidak peduli dasi itu sedikit mencekik leher Jiwoo. Ia menikmati setiap kali bibir Jiwoo menyentuh bibirnya, sesekali merasakan hisapan atau gigitan lembut di bibir bawahnya.
Kali ini Carmen menemukan hal baru lagi, kepalanya tidak penuh pertanyaan ketika ia berciuman dengan Jiwoo. Otaknya hanya merespon setiap sentuhan Jiwoo entah karena ciuman atau karena tangan Jiwoo yang menarik leher Carmen setiap kali mereka berciuman. Suara debaran jantungnya terdengar lebih jelas daripada pertanyaan yang biasa ada di otaknya.
Lima menit kemudian mereka berhenti. Wajah mereka sama-sama panas walau AC sore ini ada di suhu tujuh belas derajat.
“Maaf aku kelewatan,” gumam Jiwoo, sedikit menunduk.
“A-aku suka kok… tapi…” balas Carmen malu-malu. Ia merapikan rambutnya yang sedikit kusut karena Jiwoo menarik lehernya tadi.
“Tapi?”
“Lain kali… jangan banyak-banyak. Aku takut,”
“Takut apa, sayang?” Jiwoo kini menatap Carmen panik. Carmen menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Takut lupa kalau masih anak sekolah,”
Jiwoo hanya tertawa sambil berusaha mencubit pipi Carmen. Keduanya lanjut menyelesaikan tugasnya sebelum… sebelum benar lupa kalau masih anak SMA.
