Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 7 of 닺몐 story collections
Stats:
Published:
2026-04-25
Words:
843
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
34
Bookmarks:
1
Hits:
570

mi tumpah

Summary:

perihal apa yang Carmen perbuat sampai Jiwoo menumpahkan mi instan ke pangkuannya?

Notes:

* ooc
* Fictional work
* I don't own any of those characters
* Not related to actual event pure delusional

Work Text:

Malam itu Jiwoo pulang cepat bersama semua anggota kecuali Carmen dan Yuha. Awalnya Jiwoo tidak setuju dan mengajukan tukar posisi dengan Yuha, tapi Carmen bersikeras Jiwoo harus memastikan semua anggotanya pulang ke dorm dan istirahat awal hari ini setelah seharian penuh latihan. Tidak ingin terlihat manja di depan adik-adiknya, Jiwoo akhirnya menuruti keinginan Carmen dengan wajah sedikit ditekuk sepanjang perjalanan.

 

 

Sebenarnya bukan waktu yang tepat untuk cemburu. Jiwoo tahu persis jadwal mereka padat dan Carmen selalu ingin tampil lebih baik dari sebelumnya. Mengingat tekad kekasihnya itu tidak bisa diganggu gugat akhirnya Jiwoo mencoba ikhlas mengurangi waktu bersama Carmen.

 

 

Setibanya di dorm Jiwoo memastikan semuanya sudah bersih-bersih dan istirahat di kamar. Ia sendiri lelah tapi pikirannya masih berkecamuk jadi ia memutuskan untuk menyeduh mi instan dalam gelas. Persetan diet, sekali ini saja dia ingin makan pedas untuk mengalihkan cemburunya. Sembari menunggu mi nya jadi, ia membereskan sepatu-sepatu yang berserakan di pintu masuk sambil sesekali menoleh ke arah pintu.

 

 

Jam menunjukkan pukul dua dini hari tapi Carmen belum juga tiba. Jiwoo merogoh saku jaketnya, bolak-balik membuka chatroom Carmen seperti ingin membuat panggilan namun dihentikan oleh suara kecil di kepalanya “Jangan terlalu posesif nanti dia merasa dikekang”. Sesuatu seperti itu yang kadang membuat Jiwoo merasa takut kehilangan. Sudah cukup mereka diberi instruksi tidak terlalu touchy on cam, Jiwoo tidak sanggup kalau off cam juga harus menjauh dari kakak kesayangannya itu.

 

 

Saat timernya berdering Jiwoo mengambil segelas mi instan tadi dan membuka tutupnya. Di antara kepulan asap Jiwoo mengaduk mi dengan sumpit supaya bumbunya tercampur rata, seperti berharap rasa cemburunya juga bisa lebur semudah bumbu terkena air panas. Sendirian duduk di meja makan membuatnya merasa agak menyedihkan malam ini.

 

 

Baru satu suapan mendarat di mulut Jiwoo ada suara pintu dibuka. Jiwoo tidak pernah siap dengan apapun yang muncul di hadapannya lima detik kemudian. Carmen dengan rambut hitam menawan.

 

 

 

Gelas mi yang dipegang Jiwoo langsung terjatuh. 

 

 

 

“Mom- eh, Carmen, sudah pulang…”

 

“Jiwoo itu mi nya tumpah!”

 

Carmen meletakkan tasnya di lantai dan lari ke arah Jiwoo. “Kamu kenapa sih? Kalo capek istirahat jangan begadang,”

 

“Kamu…” Jiwoo masih tidak bisa melepaskan pandangannya dari Carmen. Rambut hitam menawan yang membingkai sempurna wajah ayu milik Carmen.

 

 

Jiwoo jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya.

 

 

Sampai dia tidak sadar celananya sekarang basah kuyup karena kuah mi panas.

 

 

“Jiwoo!” Carmen menyentil kening Jiwoo. Akhirnya Jiwoo tersadar dari delusinya.

 

 

“Ah, eh, oh… aduh.. maaf… aku…”

 

 

“Kamu jangan nambahin kerjaan bibi yang jaga dorm, kemarin bibi baru ngepel tau,” Carmen mengambil lap dan meletakkan di lantai tepat di atas tumpahan kuah mi milik Jiwoo. Sementara Jiwoo tidak peduli, matanya masih terpukau melihat rambut baru Carmen. Carmen bergerak naik mengambil tisu dan ganti mengelap tumpahan di celana Jiwoo dengan tisu.

 

 

“Habisnya kamu… cantik banget, aku sampai-”

 

 

Alis Carmen naik sebelah.

 

 

“Sampai apa?”

 

 

“Sampai… sampai… aku… lupa…. Kamu bidadari ya?”

 

 

Carmen lantas melempar gumpalan tisu ke wajah Jiwoo.

 

 

“Gombal jelek, gak bakat gombal kamu tuh,” 

 

“Ya maaf,”

 

“Pokoknya bersihin tumpahan mi nya, kalau aku kelar hapus make-up dapur masih kotor kamu gak boleh tidur peluk aku,”

 

 

“Kok gitu???”

 

 

 

 

 

Dan begitulah akhirnya Jiwoo menghabiskan tiga puluh menit menghilangkan jejak tumpahan mi nya sebelum akhirnya lari ke kamar menyusul Carmen. Carmen yang tengah mengeringkan rambut seusai keramas hanya menatap Jiwoo bingung.

 

 

 

“Kamu kenapa sih liat aku kayak gitu banget, bukannya sebelumnya juga udah liat aku rambut panjang,”

 

 

“Kamu cantik banget” yang ingin diucapkan Jiwoo,

 

tapi

 

“Mommy-” yang keluar dari mulut Jiwoo.

 

 

 

Hening.

 

 

 

“Jiwoo.”

 

“Maaf, aku tidur di sofa aja-”

 

 

Sebelum Jiwoo pergi dari kamar Carmen sudah bangkit dari meja rias dan menarik ujung kaos Jiwoo.

 

 

“Kamu punya mommy issue?”

 

“N…ngga…”

 

 

Jiwoo menelan ludah. Dia masih tidak menoleh tapi terlihat jelas telinganya merah padam. Ide usil terlintas di benak Carmen.

 

 

“Kalau gitu,”

 

 

Carmen memutar tubuh Jiwoo dan memojokkannya ke dinding,

 

 

 

 

“Gak mau dimanjain sama mommy?” dilontarkan Carmen di depan muka Jiwoo dengan nada menggoda dan diakhiri dengan kedipan genit.

 

 

 

 

Kaki Jiwoo langsung lemas. Kedua tangannya naik menutupi wajahnya yang kini merah padam.

 

 

 

“Jiwoo sayang, jawab mommy,”

 

“C-Carmen gak lucu bercandanya…” balas Jiwoo lirih, masih dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.

 

“Kamu duluan yang manggil gitu,”

 

“Keceplosan…”

 

“Tapi jujur kan.”

 

 

 

Jiwoo akhirnya menurunkan tangannya dan mengangguk pelan. Ia membuang tatapannya ke samping, tak sanggup harus menatap Carmen dengan wajah yang tak karuan ini.

 

 

“Lucu banget kamu tuh,” Carmen tertawa lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Jiwoo sambil memeluk Jiwoo lembut. “Jadi pengen ngisengin lagi tapi udah waktunya istirahat, ayo tidur. Kamu juga pasti capek kan habis ngepel.”

 

 

Jiwoo tidak menjawab dengan kalimat tapi tangannya naik membalas pelukan Carmen. Kepalanya condong ke samping, mengusap-usap pipinya ke pucuk kepala Carmen. 

 

 

“Aku sayang kamu,”

 

“Aku tau,”

 

 

Jiwoo melepaskan pelukannya dengan wajah ditekuk lagi.

 

 

“Kamu tuh. Gak tau ah nyebelin, mau tidur,”

 

 

Carmen tertawa lagi. Jiwoo kalau cemburu memang jadi sasaran empuk untuk digoda. Sisi perfeksionis dan teraturnya runtuh ketika menghadapi gejolak perasaanya pada Carmen. Itu selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Carmen karena tidak ada orang lain yang melihat sisi Jiwoo yang manis ini.

 

 

 

Malam itu Jiwoo tidur dengan kondisi ngambek tapi senyum-senyum tak lain dan tak bukan karena Carmen memeluknya dari belakang selama mereka tidur.

 

 

 

---

 

Series this work belongs to: