Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 8 of 닺몐 story collections
Stats:
Published:
2026-05-24
Updated:
2026-05-24
Words:
3,643
Chapters:
1/2
Comments:
2
Kudos:
32
Bookmarks:
1
Hits:
501

cuci mobil

Summary:

Soulmate AU; di mana terkadang kamu bisa merasakan apapun yang soulmate-mu rasakan di mulut.

Notes:

* ooc
* Fictional work
* I don't own any of those characters
* no beta please dont mind the typos

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: 01

Chapter Text

Soulmate AU; di mana terkadang kamu bisa merasakan apapun yang soulmate-mu rasakan di mulut.

Carmen sudah punya semuanya saat ini. Puncak karir solo sebagai penyanyi dangdut spesialis lagu galau, kerjasama dengan merk-merk ternama, investasi di sektor industri kosmetik, hanya dengan satu menjentikkan jari apapun bisa ia dapatkan jika ia mau.

Kecuali satu hal: Jawaban akan siapa soulmate-nya di dunia ini.

Awalnya Carmen tidak peduli karena sibuk meniti karir dan menjalani kehidupan entertainernya. Jalan menempuh puncak tidaklah mulus, ada kalanya Carmen menghadapi jalan buntu yang memaksanya putar otak cari solusi. Insting bertahan membuatnya abai akan rasa di lidahnya yang datang dari soulmatenya yang entah ada di mana.

Sekarang ketika semuanya sudah tenang barulah Carmen mulai terpikirkan soal soulmatenya.

Bukan karena dia butuh pasangan atau apa, tapi karena Carmen kadang merasakan sabun di mulutnya pada jam-jam yang tak menentu. Apa yang diperbuat soulmate-nya sampai dia sering menelan sabun? Sangat konyol. Carmen hanya ingin bertemu dan menegurnya soal sabun karena mau tidak mau Carmen akan merasakan sabun juga karena dasarnya soulmate bisa merasakan yang dirasa satu sama lain walaupun terpaut jarak jauh. Kadang selera makannya rusak karena seenak apapun makanan yang terhidang akan kalah dengan rasa sabun di mulutnya.

Lagipula siapa sih yang masih percaya soulmate. Carmen tahu tidak akan semudah itu jatuh cinta pada orang asing. Menurut Carmen perasaan hanya ada ketika Carmen sudah mengenal betul siapa calon pasangannya.

Suara lagu dangdut menggelegar beradu kencang dengan kompresor yang tak henti memompa air. Ember isi sabun sudah ratusan kali diisi seiring dengan datang-perginya banyak mobil kotor yang merengek minta dibersihkan. Nyaris setiap hari minggu tidak ada waktu untuk menaruh pantat bersantai sambil menyedot es teh kecuali saat jam makan siang. Jiwoo dan dua rekannya, Juun dan A-na selalu siap sedia mencuci bersih setiap mobil yang datang ke tempat cuci mobil mereka.

“Eh gila gue suka banget penyanyi ini, katanya namanya Carmenita ya, lagunya asoy banget buat galau sambil showeran,” celetuk A-na sambil membilas mobil ke sepuluh hari ini. Jiwoo hanya menggeleng kepala, “iya suaranya bagus tapi gak buat galau sambil showeran juga, inget tagihan air lu,”

A-na cemberut, “bete jir gue diingetin lagi soal tagihan, udah gue bayar ya tunggakan tiga bulan gue.”

Akhir-akhir ini mereka cukup populer pasalnya mereka dibuat viral di sosial media karena menyediakan cuci mobil khusus wanita. Ada yang datang karena memang dekat dan ingin opsi cuci mobil yang aman dari siulan cabul lelaki, ada juga yang sengaja datang dari jauh hanya karena ingin melihat tiga wanita good looking itu mencuci mobil dengan cekatan.

Carmen yang tidak tahu menahu tentang mereka mampir hanya karena tempat cuci itu adalah tempat terdekat dari komplek perumahannya. Dia bahkan tidak sadar kalau pegawai di sini hanya ada tiga orang perempuan. Setelah memarkir mobil di tempat antrian ia berjalan ke ruang tunggu yang disediakan di pojokan.

Tampilannya yang serba tertutup membuat anak kecil yang tadi sedang bermain lego di ruang tunggu berlari ke pelukan bundanya. Setelah Carmen membuka masker dan kacamata hitamnya sambil minta maaf barulah anak itu berhenti menangis, bahkan berubah menjadi girang karena menyadari Carmen adalah penyanyi lagu “sedih” yang sering tampil di televisi. Carmen hanya mengiyakan lalu menerima ajakan foto bareng dengan anak kecil tadi.

Senyum tersungging di bibir Carmen melihat betapa girangnya anak tersebut. Carmen lalu menutup wajahnya lagi dengan kacamata dan masker, tidak ingin mengundang perhatian lebih.

“Mobil plat B 2232 HH?”

Carmen menoleh, “Mobil saya,”

“Boleh minta kuncinya? Mau digeser sudah gilirannya dicuci,”

Carmen merogoh tas selempangnya, meraih kunci dengan gantungan hello kitty pink neon. Pegawai dengan tag name A-na itu menerima sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan ruang tunggu. Tatapan Carmen mengekor punggung A-na karena dia baru saja sadar karyawan cuci mobil di sini perempuan, tidak biasa.

Saat itulah Carmen melihat kalau tidak hanya A-na, 2 karyawan lainnya juga perempuan. Yang berambut hitam kebiruan sedang fokus membersihkan interior mobil dengan vacuum cleaner sementara yang berambut pirang sedang mengisi ember dengan air dan sabun. Pekerja sekarang sangat modis ya, batin Carmen.

A-na memarkir mobil Carmen ke bagian cuci dibantu arahan dari si pirang yang sudah selesai mengisi ember. Carmen duduk bertopang dagu dengan tatapan lurus ke mobilnya, biasanya tak peduli saat mobilnya dicuci namun kali ini pemandangannya agak tidak biasa jadi ia sedikit penasaran.

Keduanya bekerja selayaknya tukang cuci mobil pada umumnya, tapi sesekali A-na terlihat jahil dan menyipratkan air sabun ke temannya yang berambut pirang itu. Yang diganggu tidak bergeming masih sibuk menyikat ban mobil Carmen. A-na sepertinya tidak kehabisan akal ia berpura-pura menumpahkan sabun ke temannya saat menyabuni kap mobil.

Gadis pirang itu akhirnya terpancing dan balas menyipratkan air sabun, keduanya tertawa di sela-sela mencuci mobil Carmen.

Saat itulah Carmen merasakan sabun lagi di mulutnya.

Tidak mungkin.

Terlalu kebetulan.

Setiap kali keduanya saling ciprat sabun Carmen merasakan rasa sabun di mulutnya.

Jadi… salah satu dari mereka adalah soulmatenya? Konyol, bukan berarti Carmen merendahkan profesi mereka hanya saja-

sangat tidak romantis bertemu di tempat cucian mobil.

 

Walau mobilnya sudah berpindah ke tempat vacuum cleaner, tatapan Carmen masih tertuju ke A-na dan si pirang. Mencoba menerka-nerka di antara keduanya mana yang merupakan soulmatenya. Kalau disuruh memilih sih, Carmen… tidak ada pilihan dari keduanya. Namun ia sedikit berharap bukan A-na karena dia terlihat sangat berisik dan jahil. Carmen sudah bisa membayangkan kepalanya pening menghadapi lawan bicara seperti A-na. Belum lagi membayangkan kalau Carmen minta A-na berhenti makan sabun…? Sepertinya sulit.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, yang mengantar kunci ke tempat tunggu ganti si pirang yang Carmen tidak tahu namanya itu.

“B 2232 HH?”

“Saya,” Carmen bangkit dari duduknya.

“Jadi lima puluh ribu ya, ini kunci mobil sama kartu garansi hujan. Kalau besok hujan boleh balik lagi cuci gratis,”

Carmen menyerahkan selembar lima puluh ribu lalu menerima kunci mobilnya. Matanya curi pandang melirik turun ke tag name karyawan satu ini.

Jiwoo.

Oke, jadi soulmatenya antara A-na atau Jiwoo.

Carmen belum sepenuhnya percaya jadi ia berencana untuk kembali lagi lain waktu untuk memastikan.

 

 

Dua minggu kemudian seusai jadwal pemotretan dengan majalah Carmen minta izin ke managernya untuk langsung pulang sendiri. Awalnya sang manager menolak, khawatir kalau Carmen akan diuntit lagi oleh media yang tak kenal lelah mencari celah untuk bergosip. Setelah merujuk dengan seribu satu alasan akhirnya Carmen dibolehkan dengan syarat menyalakan live location.

Kali ini Carmen datang dengan beberapa makanan & minuman dengan rasa yang “nyentrik”. Buah asem, kopi hitam, brem, es lemon kecut, dan permen rasa-rasa aneh yang dia tahu karena ikut ragam acara di televisi.

Seperti biasa A-na yang menyambutnya dengan ramah untuk mengambil kunci dan menanyakan apa bagian dalam mobil dibersihkan juga. Carmen menggeleng lalu duduk di kursi yang menghadap kaca lagi supaya dia bisa melihat jelas reaksi siapapun yang merupakan soulmatenya itu. Awalnya dia membiarkan keduanya mulai membasahi mobilnya dengan air, setelah mereka mulai menyabuni mobilnya baru ia mulai makan buah asem.

Dengan sedikit berharap tidak ada yang bereaksi dari keduanya.

Sejauh ini A-na tidak bereaksi. Sementara Carmen tidak bisa melihat ekspresi Jiwoo karena dia berdiri memunggungi tempat Carmen duduk. Keduanya masih fokus menyikat noda di ban mobil Carmen.

Kini Carmen ganti mengunyah brem lalu menyedot es lemon super kecut. Sangat absurd tapi Carmen harus untuk memastikan jawaban dari pertanyaanya. Jeda air mineral, Carmen lanjut mengunyah permen yang… dia sendiri juga ingin muntah merasakannya.

 

Jiwoo menyerah.

Entah kenapa tiba-tiba hari ini dia merasakan rasa yang campur aduk di lidahnya. Awalnya dia masih bisa tahan, namun pergantian rasa di lidahnya yang cukup ekstrim dalam waktu pendek membuatnya mual.

Ia meletakkan spons di ember kemudian berjalan mengambil botol air di dekat kompresor. A-na menghampirinya dan memastikan Jiwoo baik-baik saja karena sekarang mukanya terlihat pucat.

“Lu… serius gapapa? Gue aja deh yang kelarin lu istirahat dulu,”

“Gue gapapa Na, serius. Gue gak sakit cuma ini… mulut gue rasanya aneh banget…”

“Tumbenan? Biasanya lu cuma ngerasain rasa makanan mahal yang cuma bisa liat barangnya di menu tapi gak bisa beli,”

“Lisan,”

“Mungkin soulmate lu lagi ngode,”

“Gak tau gue gak pedu-”

Ucapan Jiwoo terputus karena ia tiba-tiba muntah. Perutnya mual efek rasa aneh bertubi-tubi di lidahnya.

A-na hanya melipat tangan di dada sambil menggelengkan kepala melihat temannya yang keras kepala itu.

“Udahlah lu duduk dulu gue yang kelarin cepet, hari ini kita tutup awal aja.”

“O-oke… Maaf ya, jadi ngerepotin,”

“Gapapa, lu duduk aja dulu sampe enakan baru balik lagi aja, kalo gak enakan sampe kelar dua mobil kita tutup cepet hari ini,”

Keduanya tidak tahu kalau di pojokan lain ada seseorang yang tengah mengamati gerak-gerik mereka berdua.

Normalnya juga Carmen tidak tahan makan dan minum semua itu tadi. Sekarang dia sedang membilas mulutnya dengan air sampai mulutnya kembali netral. Pengorbanannya tidak sia-sia karena setidaknya dia tahu jawabannya sekarang.

Si pirang itu, Jiwoo. Sembilan puluh persen yakin kalau dia orangnya. Carmen lihat Jiwoo sempat beberapa kali membuka mulut seperti ingin muntah.

Carmen menunggu mobilnya selesai dicuci karena biasanya Jiwoo yang akan menagihnya sambil mengantarkan kunci. Dia duduk dengan sabar menunggu mobilnya selesai dicuci. Setelah semua terlihat beres dan keduanya membereskan alat-alatnya, entah kenapa malah A-na yang datang membawa kuncinya.

“B 2232 HH?”

“Saya,”

“Jadi empat puluh ribu saja ya karena tidak minta divakum dalamnya,”

“Oke,”

Carmen menyerahkan dua lembar uang berwarna hijau sambil menatap A-na. Yang ditatap hanya bingung karena dia tidak bisa melihat penuh wajah Carmen yang tertutup masker sebagian.

“A.. ada apa ya kenapa ibu liatin saya begitu?”

“Temen kamu yang biasanya nagih ke mana?”

“Oh, dia gak enak badan barusan jadi saya suruh istirahat dulu,”

“Boleh saya ketemu dia?”

“Dia lagi istirahat bu,”

“Hmph,” Carmen merogoh tasnya, mengambil struk bekas dan sebuah pulpen, “kamu bisa kasih saya nomer dia? Uang bukan masalah, kamu sebut nominal saya kasih,”

A-na yang saat itu sedang butuh uang lebih untuk tabungan “healing” nya tanpa pikir panjang mengiyakan.

 

 

Jiwoo menghempaskan tubuhnya ke kasur. Rasa mual di perutnya sudah berangsur hilang tapi dia masih tidak berani makan. Takut kalau dia makan sekarang akan berujung muntah lagi. Untung saja teman-temannya pengertian dan mengajak tutup lebih awal hari ini.

Sebagai orang yang tidak percaya soulmate, Jiwoo selama ini berpikir kalau soulmate-nya sudah hidup bahagia dengan pasangan pilihannya sendiri. Lagipula dengan usia yang sudah seperempat abad sepertinya sudah terlambat untuk mencari. Jadi Jiwoo tidak pernah mencari siapa soulmate-nya.

Walau kondisi dirinya kini agak menyedihkan tapi entah kenapa ia malah terpikirkan apakah soulmate-nya baik-baik saja. Tidak biasanya ada rasa aneh hinggap di mulutnya, selama ini Jiwoo merasakan makanan-makanan “normal”.

Apa soulmate-nya baik-baik saja?

Jiwoo yang nyaris terlelap kembali sadar karena merasakan ponselnya bergetar.

1 pesan belum dibaca.

Halo Jiwoo. Saya Carmenita. Sebelumnya maaf lancang, saya minta nomor kamu dari A-na

Jiwoo berdecak, A-na harus berhenti memberikan nomernya ke orang asing yang mencoba mendekati Jiwoo.

Saya dengar kamu tidak enak badan karena mual. Walau belum 100% yakin, saya ingin minta maaf karena saya tadi makan aneh-aneh untuk memastikan apa benar kamu-

Jiwoo yang semula tidak tertarik langsung melotot membaca ujung paragraf pertama.

adalah soulmate saya.

Deg.

Awalnya saya juga tidak peduli tapi kamu terus-menerus makan sabun dan jujur itu membuat saya tidak selera makan. Entah apa yang semesta inginkan sampai kebetulan kita dipertemukan di tempat cuci mobil-

Jiwoo menelan ludah. Dia tidak ingat yang mana. Terlalu banyak pelanggan belakangan ini.

-jadi saya memutuskan untuk memastikan apa hanya kebetulan saja rasa sabun saat kamu mencuci mobil. Mungkin sedikit berlebihan mencoba banyak makanan minuman dalam waktu singkat tapi sepertinya cukup efektif untuk membuat kemungkinannya semakin besar. Sekali lagi maaf ya sudah buat kamu mual,

Dalam kepala Jiwoo hanya terbesit dua hal: keraguan dan ketakutan.

Ragu kalau orang ini adalah soulmate-nya, takut kalau orang ini benar soulmate-nya.

Jiwoo tidak siap.

Mungkin terlalu dini untuk berpikir kalau orang ini akan mengajaknya menjalin hubungan. Lagipula, bisa jadi orang ini hanya memastikan karena dia sudah punya pasangan. Apapun yang terjadi Jiwoo menyakinkan dirinya sendiri kalau dia hanya butuh memastikan lalu mengabaikan orang ini setelah semuanya terjawab.

 

Keduanya membuat janji untuk bertemu di kafe kecil yang terletak tak jauh dari tempat cuci mobil. Carmen sengaja memilih tempat sepi karena sadar kalau orang-orang pasti mengenalinya. Biasanya ia tidak masalah diajak berfoto namun kali ini ia hanya ingin bicara dengan “soulmate”nya saja.

Carmen memesan sepotong tiramisu dan air mineral. Di usia yang sudah menginjak kepala tiga ini Carmen sudah tidak banyak mengonsumsi minuman dan makanan manis. Lagipula tidak perlu makan atau minum manis pun Carmen sudah merasakan manis dari Jiwoo yang sering minum es teh siang-siang. Wajar ya, pasti segar minum es teh habis mencuci mobil sebanyak itu. Hari ini juga Carmen beberapa kali merasakan es teh dan tidak ada rasa sabun, sepertinya Jiwoo sudah berbicara dengan A-na perihal rasa sabun itu membuat Carmen tidak nyaman. Carmen mengapresiasi itu.

Cuci mobil tutup jam enam sore, setengah jam lagi Jiwoo berjanji akan tiba. Mau terlambat atau tidak Carmen tidak peduli. Ia cukup menikmati me time sendirian, menyadari kalau selama ini dia jarang istirahat dan menikmati hasil kerja kerasnya. Ternyata duduk sendiri di kafe sepi seperti ini cukup menenangkan, apalagi lagu instrumental yang diputar juga mendukung suasana tenang. Ia mengeluarkan buku dan pulpen, menulis apapun yang ada di pikirannya saat ini. Siapatahu ada yang bisa jadi lagu baru nanti.

Jiwoo tiba tepat tiga puluh menit setelah cuci mobil tutup. Matanya bergantian menatap layar ponsel dan menyusur setiap meja di kafe mencari “yang katanya” soulmatenya itu. Saat tatapannya beradu dengan Carmen lututnya seketika lemas dan ia jatuh berlutut ke lantai.

 

Cantik. Menawan. Sempurna.

 

Carmen panik lalu lari menghampiri si tukang cuci mobil pirang itu, takut kalau Jiwoo sakit atau kelelahan.

 

“Kamu… Carmenita?”

“Iya, saya Carmen.”

“Ah, masa sih. Bukannya malaikat jatuh dari langit?”

 

Ucapan Jiwoo barusan benar-benar di luar kendalinya. Ia ingat persis beberapa minggu lalu Carmen datang ke tempat cuci mobil dan reaksi tubuhnya normal saat berdekatan dengan Carmen. Namun sekarang? Ia mendadak berubah menjadi buaya yang menyedihkan di hadapan Carmen. Apa ini respon alami soulmate kalau sudah sadar soulmate-nya siapa?

“Ehem, aduh, maaf, maaf, maaf, saya lancang barusan,” Jiwoo buru-buru berdiri lagi dan menepuk-nepuk celana training kumalnya yang berdebu itu. Carmen hanya menatap Jiwoo bingung, lalu mengikuti Jiwoo ke meja tempat Carmen duduk sebelumnya. Kuping Jiwoo yang mencuat dari sela-sela rambutnya terlihat sedikit merah.

Masih dengan pipi sedikit merah merona, Jiwoo sedikit memalingkan wajah saat berbicara dengan Carmen. Tekadnya untuk datang dan lupakan kini menguap entah ke mana, jantungnya berdebar tak karuan melihat sosok Carmen yang cantik paripurna walau hanya dihiasi rias tipis di wajahnya.

 

“Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri, Saya Nyoman Ayu Carmenita.”

“A.. Aku- Saya- Choi Jiwoo, orang tua saya pindah ke sini waktu saya SMA,”

“Oh, jadi kamu bukan orang Indo?” Carmen menaikkan salah satu alisnya. Jiwoo menelan ludah, wanita di hadapannya ini benar-benar membuatnya tidak bisa bersikap lurus.

“Bukan.. Tapi sudah lama di sini jadi sudah lumayan lancar bahasa Indonesia,”

“Logat kamu lucu,” Carmen mengabaikan tiramisunya karena kini ada yang lebih menarik dari kudapan miliknya. Jiwoo tidak membalas, ia sibuk mengatur napas.

“T-terima kasih?”

 

Percakapan mereka terhenti saat pramusaji membawakan jus stroberi yang warnanya semerah pipi Jiwoo saat ini. Saat pramusaji tersebut pamit barulah Carmen angkat bicara lagi.

 

“Jadi to the point saja Jiwoo, saya mau bahas soal kita.”

Jiwoo yang tadi salah tingkah mendadak kaku, sedikit takut dan panik.

“Iya? Bagaimana?”

“Kamu punya pacar?”

Jiwoo menggeleng, “tidak,”

“Bagus, karena kalau kamu tidak keberatan saya mau kenal kamu lebih jauh.”

 

 

Senyum tidak kunjung pudar dari wajah Carmen sepulang dari kafe. Dia yang awalnya juga tidak tertarik menjalin hubungan langsung berubah pikiran melihat betapa lucunya tingkah Jiwoo. Awalnya Carmen kira kalau Jiwoo tipikal orang yang jaga image atau sombong karena rambut pirang dan kulit putihnya membuatnya terlihat seperti manekin berjalan. Ternyata dia salah besar. Jiwoo yang salah tingkah, Jiwoo yang selalu keceplosan jujur depan Carmen ternyata cukup menggugah rasa penasaran Carmen. Iya, memang Carmen tidak langsung jatuh hati dengan Jiwoo tapi Carmen tertarik bagaimana Jiwoo bisa membuatnya jatuh hati.

 

Setibanya di rumah Carmen mendengar notif chat dari Jiwoo.

Maaf lancang, tapi apa aku boleh minta jadwal kakak setiap minggu. Aku tidak mau chat mengganggu kakak,

Carmen tersenyum lagi, di antara ratusan chat yang memintanya untuk secepatnya membalas ada Jiwoo yang mencari waktu senggang Carmen supaya tidak mengganggu.

[lampiran terkirim]

Ini jadwalku, tapi kalau kamu mau chat kapan saja aku tidak masalah. Kamu tidak mengganggu.

Oke kak, info diterima.

 

Carmen tertawa. Balasan macam apa itu, tidak ada romantis-romantisnya. Mana Jiwoo yang tidak sengaja gombal tadi?

Baru saja ditinggal mandi sudah ada lima pesan belum dibaca dari Jiwoo. Carmen dengan rambut yang masih setengah basah itu mengambil ponselnya dan meletakkannya di meja supaya bisa membaca chat Jiwoo sambil mengeringkan rambut.

 

Kak. Sumpah.

Aku baru searching. Kakak… yang… nyanyi lagu kesukaan A-na? Yang disetel di tempat cuci mobil sampai pelanggan pada bilang ini mana pegawainya yang gamon?

Aku cuma tukang cuci mobil, kalau dibanding kakak bagai pungguk merindukan bulan.

Tapi beneran kakak cantik banget. Kalo bangun tidur ngaca kakak selalu bersyukur ya lahir dengan wajah sebadai itu dan suara semerdu itu?

Eh, udah malam. Aku gak mau ganggu kakak. Selamat tidur kakak, semoga tidur nyenyak, soalnya nyenyak aja gak tidur,

Apa sih, batin Carmen.

Carmen tertawa. Sudah lama dia tidak tertawa karena terhibur, hari ini dia banyak dihibur celotehan Jiwoo yang aneh itu. Malam itu Carmen tertidur dengan mengingat-ingat betapa lucunya wajah malu Jiwoo di kafe. Rasanya dia ingin melihat wajah itu lagi secepatnya.

 

 

Sayangnya kata cepat tidak datang semudah membalikkan telapak tangan. Carmen tiba-tiba dapat panggilan manggung di pulau seberang. Manajernya bingung, Carmen yang biasanya antusias pergi kini terlihat bete. Bahkan sebungkus nasi padang untuk makan siang tidak disentuh sampai Carmen diingatkan supaya tidak terlambat makan.

 

“Kamu kayak anak sekolah ngambek gak diizinin main tau nggak sih,”

“Ngga kok, cuma kaget aja kok tiba-tiba.”

“Ya namanya lagi tenar, wajar dong banyak panggilan.” managernya, Stella, hanya bisa geleng-geleng kepala. Hari ini Carmen benar-benar berlagak seperti anak puber kedua.

“Maksudnya, kenapa aku gak ditanya dulu loh mau ngga,”

“Kamu ngiyain minggu lalu.”

“Hah,”

“Hah hoh kayak keong, makanya kalau dikasi offer dibaca dulu lah jangan mentang-mentang sibuk jadi iya-iya aja gak dibaca,”

 

Carmen mengelus keningnya yang tidak pusing. Kenapa dia jadi uring-uringan begini, tidak biasanya dia bersikap tidak profesional dengan pekerjaanya. Tidak mungkin perkara bocah pirang satu itu Carmen kini tidak suka ketika semesta menghalanginya bertemu dengannya.

Akal-akalan soulmate. Carmen pikir ini adalah sesuatu yang bisa dia atur tapi nyatanya salah besar. Bagaimana bisa semesta menulis dia dan Jiwoo sebagai soulmate tapi disaat yang bersamaan tidak mengizinkan mereka bertemu lagi dalam waktu dekat.

Anehnya lagi kenapa dia tiba-tiba uring-uringan tidak bertemu Jiwoo. Dia bahkan belum jatuh cinta dengan si pirang itu. Carmen seratus persen yakin kalau dia belum jatuh cinta.

 

Belum.

 

 

Sementara di sisi lain Jakarta, Jiwoo dan dua rekannya sedang duduk meluruskan kaki setelah selesai bersih-bersih lantai tempat cuci mobil. Juun masih memasang bagian-bagian vakum tapi untungnya bisa dikerjakan sambil duduk.

“Wah gila, capek tapi seru banget tiap hari, jujur gue enjoy mana gajinya juga OK. Makasih banget Ji lu dulu ngiyain tawaran Pak Damar buat ngurus cuci mobil punya dia.” A-na mengacung jempol dengan tangannya yang masih memegang es teh dalam plastik. Jiwoo hanya tertawa.

“Ya tapi inget gak lu awal-awal ngeluh ‘masa princess nyuci mobil’ hahaha,”

“Iya, bawel banget si A-na mana awal-awal kaga bersih nyucinya,” Juun menimpali. A-na melempar plastik kosongnya ke Juun tapi Juun bisa menghindar dengan mudah.

“Gini-gini gue udah impruv ya sekarang, liat tuh semua mobil kinclong kayak kepalanya Pak Damar,”

“Woy gak tau diri lu durhaka,” Juun ganti melempar plastik bekas es A-na tadi ke wajah A-na. Kena. A-na bangkit lalu mengejar Juun yang sudah lari duluan karena tahu A-na pasti akan mengejarnya.

 

Keduanya saling kejar-kejaran sekarang, Jiwoo hanya duduk sambil melihat kelakuan dua sahabatnya itu yang kadang benar kadang kidding. Mendengar ringtone burung berkicau dari ponselnya ia lantas meraih ponselnya dengan satu tangan sambil menyedot habis es teh miliknya.

 

Sore, Jiwoo. Ini Carmen. Sepertinya dua minggu ke depan kita tidak bisa bertemu, saya ada acara manggung di pulau seberang, besok pagi flight jam lima.

Jiwoo meletakkan plastik es tehnya. Dua tangannya kini memegang ponsel siap mengetik.

Baik siap info diterima.

Oh gak bakal kangen?

 

Jiwoo terdiam. Otaknya memutar kembali ingatan saat keduanya masih bercengkrama di kafe. Seumur hidupnya Jiwoo tidak pernah suka pada siapapun apalagi pacaran. Baginya hidup hanyalah istirahat - sekolah - pulang atau istirahat - kerja - pulang. Kalaupun ada hal lain yang membuatnya tetap manusia itu adalah latihan dance dengan A-na dan Juun. Selama ini konsep cinta yang romantis asing baginya. Bahkan dia tidak pernah melempar gombal ke siapapun karena tidak tahu bagaimana caranya. Entah mengapa mulutnya bisa mengucapkan gombalan begitu lancar saat bertemu Carmen untuk pertama kalinya tempo hari.

 

Soulmate ya… tidak bohong kalau Jiwoo tertarik pada Carmen. Jiwoo hanya tidak yakin kalau rasa tertariknya hanya sebatas kagum karena Carmen cantik menawan atau karena Jiwoo benar-benar jatuh hati.

 

Jiwoo tidak tahu karena dia sendiri tidak pernah jatuh hati.

 

Suara chat masuk membuyarkan lamunannya. Carmen mengirimkan foto. Jiwoo yang masih memegang ponselnya lantas menekan notifikasi dari Carmen.

 

Carmen mengirimkan selfie. Kolase dua foto jadi satu.

 

Jiwoo seketika membeku. Tubuhnya merespon foto Carmen seperti saat mereka bertemu di kafe. Juun dan A-na yang melihat perubahan drastis Jiwoo berhenti berlari dan menghampiri sahabatnya itu. Keduanya duduk di sebelah Jiwoo dan ikut melihat layar ponsel Jiwoo.

 

“Lu kenapa dah Ji-BUSET INI KAN CARMENITA MY IDOLA GUE?” A-na berteriak histeris. Juun yang kaget terkena suara ngebass A-na memukul bahu A-na.

“Sejak kapan lu juga ngefans, Ji?” Juun melempar pandang ke arah Jiwoo sekarang. Jiwoo menelan ludah.

“Engga ngefans… gue…”

“Lu?” A-na dan Juun bertanya bersamaan.

“Gimana kalo gue bilang, dia soulmate gue?”

“Mana percaya gue, halu lu ngalahin presiden ke delapan ya,” A-na berdiri lalu berkacak pinggang. “Mending kita balik sebelum masuk angin, dah malem nih,”

“Gak percaya?”

 

Entah keberanian dari mana, Jiwoo tiba-tiba menekan tombol call di pojok. Tidak ada lima menit sudah diangkat Carmen.

 

“Iya, Jiwoo?”

“Hati-hati ya kak, semoga manggungnya lancar dan sukses. Call aku kalau udah landing, have a safe flight tomorrow.”

“Thanks, jadi aku bakal dikangenin gak nih?”

Of course, who wouldn’t miss someone as fine as you?”

Jiwoo tersenyum puas lalu melirik kedua sahabatnya yang melongo itu.

 

"Jiwoo seriusan???" ujar Juun dan A-na bersamaan.

 

 

Notes:

kepanjangan jadi satu jadi dipisah dua deh... part dua nya kapan-kapan ya...

Series this work belongs to: