Work Text:
“Tidur, Ji. Udah malem, besok lanjut ada jadwal lagi.”
Yang diajak bicara tidak merespon. Masih asik menggulir layar dengan jemari lentiknya itu. Senyum tak kunjung pudar dari wajahnya menatap puluhan foto dan video dirinya dan kakak kesayangannya di acara hari ini. Sepertinya tidak hanya fans yang bahagia hari ini tapi si pirang ini juga senang bukan kepalang.
“Nanggung, sedikit lagi.”
“Kamu tuh, kayak ga tiap hari foto sama aku aja.”
“Beda rasanya…”
Jiwoo merasakan berat di sisi lain kasurnya. Posisinya yang semula menghadap tembok kiri berputar ke arah Carmen yang duduk di tepi kasurnya sambil mengeringkan rambut.
“Mau dibantu?”
“Boleh,”
Ponsel yang sedari tadi jadi pusat perhatian Jiwoo kini diletakkan di kabinet sebelah kasur. Jiwoo dengan cekatan mengambil sisir dan pengering rambut kemudian duduk bersila di belakang Carmen. Dengan telaten ia mengeringkan rambut Carmen yang masih panjang karena ekstensi itu.
“Aku paham sih Ji kenapa orang bilang beauty is pain, ini rambut panjang dikit aja ngeringinnya lama banget. Padahal udah pengen rebahan,”
“Tahan dikit lagi juga kering semua kok. Atau mau rebahan dulu di atas aku?”
Carmen menoleh. “Ha? Maksudnya?”
“Ya biar gak nempel kasur, nempel di aku aja,”
Tidak begitu paham tapi entah kenapa Carmen setuju. Sedari tadi punggungnya sudah pegal ingin rebahan tapi rambutnya masih basah jadi ia mengurungkan niat. Awalnya dia bingung maksud Jiwoo bagaimana rebahan di atas Jiwoo tapi setelah Jiwoo meluruskan kaki dan menepuk pahanya Carmen akhirnya paham.
“Kenapa gak bilang aja mau mangku kepalaku sih, Ji.”
“Mendadak lupa bahasa korea.”
“Harusnya aku yang bilang gitu,” Carmen memukul pelan bahu Jiwoo. Ia perlahan merebahkan tubuhnya ke kasur dan menempatkan kepalanya di pangkuan Jiwoo. “emangnya kamu gak capek duduk?”
“Kan senderan ke tembok,”
“tapi-”
“Sst, gak ada tapi-tapian. Udah istirahat dulu aja,”
Carmen memejamkan matanya. Niatnya hanya memejamkan mata tidak sampai terlelap tapi pijatan lembut Jiwoo di kepalanya membuat rasa kantuk menang di atas segalanya.
***
Saat Carmen membuka mata posisinya tidak banyak berubah. Ia masih terlelap di pangkuan Jiwoo yang kini tengah tertidur pulas. Memang bukan rahasia kalau Jiwoo bisa tidur dengan kondisi apapun namun Carmen merasa tidak enak karena Jiwoo yang tidak kalah lelah harus tidur dengan posisi duduk. Akhirnya Carmen bangkit lalu menarik Jiwoo supaya badannya lurus terbaring di kasur.
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Jadwal hari ini hanya video call, masih ada waktu untuk memejamkan mata lagi sebelum alarm berbunyi.
Carmen merebahkan diri di sebelah Jiwoo. Terlalu malas untuk berpindah ke kasurnya sendiri. Kini ia menatap lekat-lekat gadis pirang yang masih tenang di alam mimpi itu. Hubungan keduanya terlalu dekat untuk dikatakan sebagai teman tapi terlalu jauh untuk dikatakan pasangan. Tidak bohong kalau Carmen memang nyaman dengan semua perhatian Jiwoo. Rangkulan dan gandengan yang kerap terjadi di antara keduanya juga seperti reflek alami yang terjadi begitu saja tanpa perlu berpikir.
Perasaanku saja, batin Carmen. Menepis pikirannya yang kian liar ke sana kemari Carmen mencoba memejamkan matanya lagi.
Sampai ia merasakan tangan melingkari pinggangnya.
Jiwoo kini yang kini tidur menyamping ke hadapan Carmen menganggap Carmen adalah guling miliknya. Tangan Jiwoo menarik Carmen ke dalam dekapannya hingga Carmen bisa mencium bau sabun mandi Jiwoo yang masih menempel. Hati kecilnya ingin melawan karena tidak ingin berharap lebih jauh namun egonya memilih untuk diam dan menikmati apapun yang terjadi saat ini. Carmen membenamkan wajahnya di ceruk leher Jiwoo sebelum akhirnya menyusul Jiwoo ke alam mimpi.
***
Entah karena lelah atau memang nyaman berpelukan keduanya tidak mendengar suara alarm sama sekali. Pendingin ruangan pagi ini juga seperti menunjang alasan keduanya masih terlelap dengan posisi memeluk satu sama lain.
Jiwoo terbangun karena suara A-na mengetuk pintu dari sisi lain ruangan. Matanya terbelalak mendapati Carmen meringkuk dalam dekapannya mencari kehangatan. Padahal biasanya keduanya sepakat untuk tidur di kasur masing-masing…
Karena Jiwoo tahu sekali ini terjadi dia tidak akan bisa kembali lagi tidur tanpa Carmen di sebelahnya.
Lagipula bagaimana mereka ada di posisi ini, Jiwoo ingat betul tadi malam ia masih tidur dalam kondisi terduduk. Mencuri kesempatan Jiwoo mengecup sekilas kening Carmen yang masih terlelap sebelum akhirnya menghampiri A-na di pintu.
Tanpa tahu sebenarnya Carmen sudah terbangun dan kini berteriak dalam hati karena Jiwoo baru saja mengecup keningnya.
