Work Text:
Namaku Coki. Aku tinggal di pojokan apartemen nomor 107.
Dibanding nomor apartemen lain yang seringkali gaduh pemiliknya di sini cenderung lebih tenang. Aku tidak ingat bagaimana awalnya aku ada di dunia ini. Yang jelas setelah berkelana ke sana dan kemari mencari tempat singgah apartemen inilah yang cocok denganku. Pemiliknya tidak berisik kecuali saat sedang menonton gambar corak yang bergerak di televisi.
Hidupku hanya dihabiskan untuk tidur, makan, dan melihat gemerlap kota dari jendela. Aku memilih untuk tidak menampakkan diri di depan pemilik apartemen ini karena aku tidak ingin membuatnya takut dan berujung diusir dari sini. Jadi aku hanya mengais makan ketika sang pemilik tidak menampakkan batang hidungnya baik di ruang tamu maupun di dapur.
Terkadang aku sedikit khawatir bagaimana gadis pemilik apartemen ini hidup. Bagaimana bisa dia hidup hanya dengan makanan instan atau makanan cepat saji yang ia bawa sepulang dari bekerja? Jujur aku yang menumpang saja rasanya bosan sekali hanya makan makanan yang itu-itu saja…
Begitu terus.
Sampai akhirnya suatu malam gadis pemilik apartemen 107 ini pulang dengan gadis lain yang terlihat seumuran dengannya. Tubuhnya sedikit lebih kecil dan ramping dibanding pemilik apartemen ini. Rambutnya panjang sepunggung. Ekspresi yang sebelumnya belum pernah kulihat dari si pemilik apartemen malam ini silih berganti terukir di wajahnya seiring dengan larutnya obrolan keduanya di sofa.
Sebuah koper besar masih terduduk diam di depan pintu masuk. Sepertinya gadis baru ini akan tinggal di sini juga. Pantas saja tempo hari sang pemilik apartemen tiba-tiba membersihkan kamar kosong yang sebelumnya hanya berisi kardus-kardus dari figure koleksinya. Sedikit sedih ini artinya tempat mainku berkurang di apartemen ini.
“Ini serius kamu bolehin aku tinggal di sini gak bayar sewa? Padahal gak apa-apa loh aku bayar setengah sewa kamu sampai aku dapet kerja…”
“Gak apa-apa, itung-itung ada yang ngeramein di sini. Aku sendirian aja kadang sepi banget hahaha tau sendiri kan aku juga jarang ngomong…”
“Ya ngomong sendiri juga aneh sih, dulu pas kuliah kan kamu ngomong juga sama temen aja seperlunya,”
Lagi-lagi pemilik apartemen ini tertawa dengan lepas. Biasanya dia hanya akan begitu saat menonton televisi. Selagi keduanya asik bercengkrama aku menyelinap ke dapur. Mereka belum membereskan wadah bekas makanan yang dibawa tadi jadi aku memutuskan untuk mencicipi sedikit. Daripada tontonan di televisi sepertinya lebih asik menonton keduanya bercengkrama sambil mengisi perut.
Jarang-jarang si pemilik apartemen membeli makan enak begini… sesekali tidak buruk juga.
***
Hari-hari berikutnya di apartemen ini sedikit lebih hidup daripada sebelumnya. Untung saja si penghuni baru suka mengoceh namun tidak gaduh. Dari obrolan mereka kini aku tahu pemilik apartemen ini bernama Jiwoo dan temannya bernama Carmen. Rutinitas pagi di apartemen ini juga perlahan berubah karena adanya Carmen. Biasanya Jiwoo tidak pernah sarapan di sini. Sehabis mandi dan rapi dia akan langsung bergegas ke tempat kerja. Sekarang? Walaupun sederhana Carmen pasti memasak untuk Jiwoo. Dari curi-curi dengar Carmen bilang lebih hemat kalau membeli bahan mentah dan masak sendiri.
Selain Jiwoo tentu saja aku yang bahagia. Walau seringkali makanan mereka tidak bersisa tapi setidaknya ada sisa bahan masak yang bervariasi di tong sampah.
Kalau beruntung kadang aku juga bisa merasakan masakan Carmen. Harusnya aku tidak bisa merasakan makanan, kan? Tapi entah mengapa aku bisa. Mungkin aku adalah satu dari sekian juta keajaiban yang Tuhan ciptakan di dunia ini.
Sesungguhnya aku tidak paham apa yang manusia takutkan ketika melihatku. Tubuhku saja tidak lebih besar dari telapak tangan mereka. Tidak berbahaya juga seperti ular berbisa yang lebih mudah meregang nyawa mereka. Tapi itu bukan perkara penting saat ini. Yang penting adalah aku bisa makan banyak setiap hari, hore!
Selain itu juga mendapat tontonan baru.
Satu malam Jiwoo tertidur di sofa karena marathon menonton gambar corak kesukaanya. Carmen yang biasanya baru selesai haha hihi depan ponsel jam sebelas lantas ke luar kamar untuk mengecek kenapa televisi masih menyala. Mendapati Jiwoo yang tertidur dia mengambil selimut ke kamar Jiwoo kemudian menyelimuti Jiwoo yang sudah tertidur pulas di sofa.
Lain waktu gantian Carmen yang tertidur di sofa karena lelah seharian membersihkan apartemen. Berbeda dengan Carmen yang membawakan selimut, Jiwoo tanpa basa-basi menggendong Carmen ke kamarnya. Entah aku salah lihat atau tidak sepertinya si bondol itu sempat mengecup kening Carmen sebelum mengangkatnya.
Apa ini artinya aku adalah mahluk ketiga di apartemen ini? Mengapa belakangan ini mereka terlihat semakin dekat seperti drama yang ada di televisi?
Seminggu kemudian sepertinya aku salah tanggap. Entah mengapa setelah malam di mana Jiwoo menggendong Carmen, seperti ada jarak di antara keduanya. Canggung tetapi keduanya masih bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa.
Membosankan. Aku ingin lihat lagi ekspresi Jiwoo yang mendadak menjadi lunak setiap kali menatap Carmen itu.
Mungkin aku harus sedikit ikut campur?
***
Akhir pekan dihabiskan keduanya di apartemen saja. Obrolan yang mereka lontarkan terdengar seperti basa-basi belaka. Jadi aku berpikir mungkin ini saatnya aku sedikit membantu menyadarkan mereka kalau… mereka saling menyukai?
Semoga saja asumsiku tidak salah.
Keduanya duduk di sofa depan televisi. Jiwoo asik menonton gambar corak sambil mengunyah kentang goreng yang Carmen buat tadi. Sementara Carmen di sebelah kanannya hanya duduk menggulir ponselnya.
Aku merayap pelan di tembok yang mereka punggungi sampai tiba di belakang bahu kiri Jiwoo. Menghitung mundur aku bersiap melompat ke bahu Jiwoo.
3
2
1
Tuing.
“RMEN!!!! APA INI DI LEHERKU??”
Aku memutuskan untuk terbang setelah Jiwoo menyadari keberadaanku. Kini dia sedang histeris berdiri menarik Carmen untuk mencari apa yang menempel di lehernya. Sementara Carmen yang masih bingung hanya menatap Jiwoo heran sambil mencoba melihat apa yang menempel di leher Jiwoo.
Aku sembunyi lagi di sela-sela lemari dan tembok. Maaf Jiwoo kamu sepertinya trauma tapi jujur ekspresi takut itu sangat menghibur. Sekarang aku paham kenapa banyak spesiesku yang suka terbang hanya untuk membuat manusia panik.
Sebelum Jiwoo menangis Carmen sudah menariknya dalam pelukan dan mengelus punggung Jiwoo. Tangan Jiwoo yang semula hanya terjuntai ke bawah kini perlahan naik balas memeluk Carmen.
“Udah gak apa-apa Ji, udah ga ada kecoanya,”
“Hiks…”
“Besok aku bersihin lagi satu apart buat mastiin udah ga ada,”
“Ngga usah… kamu capek nanti…”
Jiwoo mengeratkan pelukannya.
“Terus maunya apa biar gak takut lagi?”
“Malem ini… boleh tidur sekamar?”
Mendengar percakapan mereka aku bersorak dalam hati. Apa ini akhirnya mereka akan terbuka satu sama lain nanti? Hihihi.
