Actions

Work Header

Tega

Summary:

Sequel dari fanfic berjudul Ditolak.

Setelah pernyataan cinta dilakukan oleh Kuroko Tetsuna kepada Akashi Seijuuro, jalan percintaan diantara mereka berdua ternyata tidak berakhir begitu saja. Kuroko ingin meluruskan kembali jalannya menjadi jalan pertemanan tetapi ternyata tidak semudah itu. Perasaannya masih terlalu besar untuk dihilangkan secara langsung, bahkan dengan bantuan terselubung yang diberikan Akashi tanpa Akashi sendiri sadari.

Jadi, apakah jalan pertemanan bisa didapatkan kembali? Atau justru ada yang tidak puas dengan hal itu?

Notes:

Pairing: AkashixFem!Kuroko
Implied pairing: (AominexFem!Kagami), (KasamatsuxFem!Kise), (MurasakibaraxFem!Himuro), dan (MidorimaxTakao)

Penjelasan:
L: Laki-laki / P: Perempuan

*Akashi Seijuurou (L), Kuroko Tetsuna (P), Kagami Taiga (P), Kise Ryona (P), dan Himuro Natsu (P) bersekolah di SMA Teiko di Tokyo. Disini cuma Himuro Natsu yang kelas 3, sisanya kelas 2 semua.
*SMA Teiko punya Klub Basket untuk putri.
*Kasamatsu Yukio (L) masuk ke SMA Kaijo di Kanagawa. Sekarang sudah lulus dan melanjutkan kuliah tingkat pertama di Tokyo.
*Aomine Daiki (L) dan Momoi Satsuki (P) masuk ke SMA Touou di Tokyo. (kelas 2)
*Midorima Shintaro (L) dan Takao Kazunari (L) masuk ke SMA Shutoku di Tokyo. (kelas 2)
*Murasakibara Atsushi (L) masuk ke SMA Yosen di Akita. (kelas 2)
*Semua nama yang sudah disebutkan diatas itu alumni SMP Teiko, kecuali Himuro Natsu dan Takao Kazunari.

Warning: OoC
*Kuroko lebih menunjukan perasaannya jika bersama dengan Akashi.
*Akashi kurang peka soal cinta

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

"aaaaa" Pembicaraan karakter
'aaaaa' Kata-kata di dalam hati

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Mengenang Apa yang Sudah Terjadi

Chapter Text


 

Preview:

Mata Akashi Seijuurou melebar setelah mendengar pernyataan dari Kuroko Tetsuna. Ia tidak pernah menyangka jika temannya yang berwajah datar dan jarang berekspresi itu akan mengeluarkan ekpresi seperti sekarang. Ekspresi cemas dengan muka memerah. Kepalanya sedikit menunduk untuk menunjukan jika ia merasa malu dengan apa yang baru saja ia katakan. Kedua tangan saling meremas di depan perut sebagai tanda bahwa ia sedang menenangkan dirinya yang sedang gugup. Sungguh pemandangan yang langka.

.

“Akashi-kun menurutmu, aku mengatakan suka kepadamu karena aku menganggapmu sebagai teman?”

“Benar. Kau tidak mungkin mengatakannya karena dirimu sama dengan gadis-gadis lain yang memberikanku surat cinta, bukan?”

.

“Baka Bakashi!!! Aku ini benar-benar menyukaimu! Aku menyukaimu sampai aku ingin agar Akashi-kun bisa jadi kekasihku. Bagaimana bisa kau tidak menyadarinya?!”

“Aku ini sama dengan gadis yang menyatakan cintanya tiga hari yang lalu sewaktu istirahat. Kenapa kau bisa langsung sadar dengan gadis tersebut tetapi tidak denganku? Aku sudah menjadi temanmu selama empat tahun dan ini sudah tahun kelima.”

.

“Benar, aku sudah mengatakan perasaanku jadi sudah selesai. Oh ya, mulai besok Akashi-kun tidak usah mengingat lagi kejadian hari ini. Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya. Aku tetap ingin berteman dengan Akashi-kun seperti biasanya.”

Di dalam hati Kuroko juga berkata, ‘Setidaknya untuk hari ini, Akashi-kun akan ingat.’

“Um baiklah dan tentu saja kita tetap menjadi teman baik. Tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk menjadi teman baik selamanya. Ayo kita pulang!”

.

Kuroko Tetsuna, 17 tahun, siswa kelas 2 SMA Teiko, merasakan rasa sakit cinta yang tidak terbalas untuk pertama kalinya. Si pemuda yang disukainya tidak pernah menyadari perasaannya selama tiga tahun. Kuroko dianggap sebagai teman baik dan tidak berpotensi untuk menjadi gadis impian yang ideal.

 

 


 

 

“Oh iya Tetsuna, aku pikir selama ini kau menyukai Aomine.”

 

BAAAM!!!

 

Kuroko Tetsuna memukul meja dengan keras. Siswa-siswa lain yang sedang menghuni kelas tersebut langsung terkejut dan menoleh ke sumber suara. Akashi Seijuurou yang baru saja mengajak Kuroko berbicara juga cukup kaget dengan reaksi Kuroko.

Kuroko kemudian membereskan kotak bekal yang isinya belum habis. Ia bangkit berdiri lalu pergi sambil membawa kotak bekalnya. Melihat Kuroko yang sudah melewati pintu kelas, Akashi langsung bangkit berdiri dan menuju keluar kelas. Untung saja, dirinya sudah selesai makan tadi.

oOo

Kuroko membuka pintu atap sekolah lalu berjalan ke ujung kemudian duduk disana. Dibelakangnya ada Akashi yang terus mengikutinya semenjak dari kelas tadi. Kuroko membuka kembali kotak bekalnya untuk melanjutkan kembali kegiatan makannya yang tertunda. Saat ini kondisi atap sekolah sedang sepi tanpa ada siapapun.

Kuroko lalu membawa pandangannya ke sekeliling atap dan berhasil teringat kembali mengenai pengakuan cintanya. Kuroko segera mencela dirinya sendiri. Bisa-bisanya Ia membiarkan dirinya terbawa suasana dan berjalan ke atap tanpa sadar. Ia seharusnya menghindari tempat ini selama penyembuhan luka batin terjadi.

“Tetsuna ada apa? Kenapa tiba-tiba pergi dari kelas?” Akashi sekarang sudah duduk di sebelah Kuroko yang sedang makan.

“Kenapa Akashi-kun mengikutiku? Apa Akashi-kun sudah jadi anak bebek? Aku bukan bebek jadi jangan ikuti aku.”

Akashi menaikan alisnya setelah mendengar perkataan Kuroko.

“Kau marah? Kenapa? Apa aku sudah menyinggung perasaanmu?”

Kuroko kembali menghentikan kegiatan makannya. Ia meletakan sumpit lalu menghadap ke Akashi.

“Akashi-kun sudah bilang ‘iya’ waktu tempo hari aku memintamu untuk melupakan perkataanku pada hari tersebut. Dan tadi kau mengatakan kalau aku menyukai Aomine-kun. Hal ini juga berkaitan dengan perkataanku tempo hari jadi kenapa Akashi-kun masih membahasnya?”

“Yang tempo hari itu tentang diriku dan sekarang tentang Aomine, jadi tidak ada salahnya. Dan lagipula itu baru dua hari yang lalu. Secara logika aku pasti belum melupakan seluruhnya.”

“Tapi Akashi-kun sudah bilang iya jadi setidaknya kau bisa pura-pura lupa.”

“Kenapa aku harus seperti itu? Aku sudah memutuskan untuk tidak berpura-pura di hadapanmu semenjak akhir kelas 2 SMP.”

Setelah mendengar hal tersebut, Kuroko kembali mengalihkan pandangannya dari Akashi dan melanjutkan makan. Hatinya semakin tidak tenang sekarang. Akashi melihat Kuroko selama beberapa saat. Ia ingin melihat apakah Kuroko sudah tenang atau belum.

“Jadi bagaimana tanggapan atas penyataanku di kelas tadi?”

“Aku tidak pernah menyukai Aomine-kun. Aku hanya menganggapnya sebagai teman dekat. Aomine-kun juga sudah mempunyai gadis yang disukainya.”

“Benarkah? Gadis itu pasti Momoi. Mereka sudah bersama-sama dari kecil.”

“Hah… dasar Akashi-kun tidak peka. Orang itu bukan Momoi-san. Akashi-kun selama ini tahu, kan jika Aomine-kun suka berkunjung kemari saat latihan basket berlangsung.”

“Aku tahu, dia biasa berkunjung seminggu sekali kemari. Padahal di sekolahnya sendiri sudah ada Klub Basket.”

“Ada dimana tempat yang biasanya dikunjungi Aomine-kun? Kemudian tempat tersebut digunakan untuk apa?”

“Um, gymnasium kecil di belakang gymnasium ketiga, digunakan untuk latihan basket tim putri.”

“Ok, Aomine-kun pergi ke sana untuk mengunjungi Kagami-san.”

Akashi lalu memandangi Tetsuna selama beberapa saat. Dan Kuroko sekarang sedang menikmati pandangan yang diberikan Akashi.

“Aomine menyukai Kagami? Bukankah ia cuma suka bermain dengan Kagami karena Kagami merupakan pemain basket putri terkuat dan memiliki dada besar?”

“Kedua hal tersebut memang benar. Kemudian sisanya adalah Aomine-kun jatuh cinta dengan Kagami-san sewaktu akhir kelas 3 SMP. Tetapi ia baru menyadarinya sewaktu sudah masuk SMA Touou. Di SMA Touou tidak ada Klub Basket untuk putri jadi Aomine-kun tidak bisa mengajak Kagami-san pindah ke sana sehingga dia sering datang kemari.”

“Hah… dasar, bukannya berlatih malah main kemari. Aku sengaja membiarkannya karena itu bisa menjadi latihan yang baik bagi Kagami. Dengan begitu ace basket putri kita akan semakin kuat.”

“Aku mendukung mereka berdua jadi Akashi-kun tidak boleh menggangu. Berikutnya, kalau Kise-san, Akashi-kun sudah tahu siapa yang disukainya?”

Akashi lalu tersenyum kepada Kuroko. “Tentu saja aku tahu. Orang itu adalah Kasamatsu-san.”

“Tahu dari mana?”

“Kise pernah mengatakannya kepadaku dan ia pernah memberikan cokelat saat Valentine kepada Kasamatsu-san.”

“Akashi-kun tahu dari mana kalau Senpai pernah mendapat cokelat dari Kise-san. Waktu itu Kise-san sengaja meminta bantuanku untuk memberikan cokelatnya supaya tidak ada yang tahu.”

“Kasamatsu-san bertanya kepadaku mengenai hadiah White Day jadi ia memberitahuku siapa orangnya.”

“Hah… Senpai bertanya kepada orang yang salah.”

Akashi kemudian bergerak untuk mencubit pipi Kuroko yang sedang sedikit menggembung karena sedang mengunyah nasi. Dirinya tahu bahwa Kuroko akan kesal karena hal itu.

“Kalau begitu…” Tiba-tiba Kuroko berubah menjadi diam dan seperti ada aura gelap di belakangnya.

“Kenapa Akashi-kun tidak sadar jika aku menyukaimu? Padahal aku juga memberikan hadiah Valentine kepadamu kemarin.”

“Aku pikir kau memberikannya sebagai tanda persahabatan dan aku kira kalau yang lain juga dapat. Dan lagi, yang kau berikan itu bukan cokelat tetapi telur Paskah. Makanya aku memberikan easter lily putih untukmu saat White Day.”

Muka Kuroko tiba-tiba berubah menjadi agak merah. Ia kembali mengingat dirinya yang bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan hadiah. Padahal pada malam sebelumnya ia sempat kesulitan untuk tidur.

“Soalnya aku belum terlalu bisa membuat cokelat atau kue cokelat. Aku paling pintar merebus telur. Lalu supaya terlihat lebih menarik, aku menghias telur-telur tersebut. Dan laki-laki yang pernah mendapat hadiah Valentine dariku cuma Akashi-kun.”

“Oh…”

Kuroko kemudian sadar kalau kata-kata yang baru saja keluar sama dengan pengakuan cinta yang kedua. Dirinya sudah berpikir untuk memendam kembali perasaan sukanya. Tetapi, sekarang dirinya terlihat seperti sedang melakukan pendekatan kembali. Akashi yang melihat Kuroko yang sedang terdiam jadi berpikir jika Kuroko bisa-bisa tidak akan sempat untuk menghabiskan makanannya sebelum jam istirahat selesai.

“Baiklah… kita lanjut lagi. Sekarang siapa orang yang disukai Murasakibara-kun?”

“Setahuku, Murasakibara cuma sayang dengan cemilan. Dia tidak begitu tertarik dengan hal romantis.”

Kuroko lalu memutar bola matanya. “Tetapi Murasakibara-kun masih lebih baik dari Akashi-kun. Himuro Senpai sekarang sudah menjadi kekasih dari Murasakibara-kun.”

“Apa? Murasakibara ada di Akita sekarang dan Himuro-san ada disini. Himuro-san juga baru pindah ke Jepang bersamaan dengan Kagami tetapi ia masuk ke SMA bukan SMP. Mereka cuma pernah jadi teman waktu kecil.”

“Nah, ternyata setelah Himuro Senpai  pergi ke Amerika, mereka tidak putus hubungan begitu saja. Mereka berdua tetap berkomunikasi. Kemudian setelah Himuro Senpai kembali, mereka berdua menjadi semakin dekat. Lalu pada hari kelulusan Murasakibara-kun, Himuro Senpai menyatakan perasaannya dan tiga bulan kemudian mereka resmi berpacaran.”

“Oh, aku tidak tahu bagian itu. Aku pikir mereka biasa-biasa saja.”

“Apa maksudmu dengan biasa? Mereka terlihat sangat dekat padahal mereka berbeda tingkat. Disini justru kepekaan Akashi-kun yang biasa saja, tidak ada mutlaknya sama sekali. Kalau kita sedang bermain tebak-tebakan sekarang, Akashi-kun sudah pasti kalah.”

Akashi sekarang memandang Kuroko dengan serius. Dirinya selalu saja terpancing dengan kata-kata kalah dan menang. Apalagi jika yang mengatakan itu adalah Kuroko sendiri.

“Tidak, aku belum pernah mengikuti tebak-tebakan seperti itu jadi kau belum tahu hasil tepatnya.”

Kuroko lalu tersenyum kepada Akashi. Ia merasa sedikit senang karena dirinya berhasil memunculkan emosi dari Akashi.

“Selanjutnya adalah Midorima-kun. Ia sedang dekat dengan Takao Kazunari.”

Akashi lalu memandang Kuroko dengan heran. Dirinya tahu bahwa Midorima belum pernah menunjukan ketertarikan pada perempuan tetapi dirinya juga tahu bahwa Midorima tidak tertarik dengan lelaki. Selain itu, Akashi juga bingung mengapa Kuroko bisa tahu soal ini.

‘Apa Tetsuna adalah salah satu dari perempuan yang menyukai hubungan antara kedua pria. Apa ya namanya? … Fujoshi?’

“Itu adalah nama dari point guard di tim Shutoku, kan? Dia itu laki-laki Tetsuna. Aku yakin bahwa Midorima masih menyukai perempuan.”

“Benar. Tetapi jika kita perhatikan, mereka berdua itu benar-benar dekat Akashi-kun. Pergi membeli lucky item bersama, pulang pergi sekolah juga bersama. Aku juga pernah melihat mereka berdua di toko olahraga dan baju. Belum lagi, mereka berdua mempunyai kendaraan tidak biasa yang membuat dunia mereka berdua seperti tidak bisa diganggu. Aku tidak pernah melihat Midorima-kun sampai sedekat itu dengan teman sekolahnya sewaktu SMP. Sewaktu dengan Akashi-kun, juga tidak sampai seperti itu.”

“Tentu saja, Tetsuna bisa marah-marah jika aku dan Midorima sampai seperti itu, kan?”

“Eh?!”

Muka Kuroko langsung menunjukan ekspresi terkejut setelah mendengar perkataan Akashi. Ia merasa kalau Akashi sedang menggodanya sekarang.

“A… Aku… tentu saja aku akan cemburu.” Kuroko berkata sambil mengalihkan pandangannya dari Akashi. Perlahan suaranya terdengar semakin kecil. “Memangnya… siapa yang tidak akan cemburu jika orang yang disayanginya menjadi sangat dekat dengan orang lain.”

“Ternyata seperti ini ekspresimu jika sedang jatuh cinta. Aku baru tahu Tetsuna.”

Kepala Kuroko langsung tertengok ke arah Akashi. Akashi sekarang terlihat sedang memandangi Kuroko dengan serius.

‘Jadi, selama ini aku tidak terlihat seperti menyukaimu? Aku tahu bahwa keberadaanku tipis tetapi aku rasa tidak sampai seperti itu.’ Di dalam dadanya kembali terasa ada rasa sakit dari luka kemarin yang belum sembuh.

“Ada apa? Apa kau mau mengatakan sesuatu?”

Kuroko kembali mengalihkan pandangannya. Entah kenapa sekarang ia tidak bisa menatap Akashi lama-lama, setidaknya waktu untuk bertahan lebih singkat dari sebelum ia menyatakan perasaanya. “Tidak, aku tidak mau.”

Setelah itu, mereka berdua terdiam. Kuroko terdiam untuk mengatur kembali perasaanya yang tidak tenang. Akashi juga terdiam untuk memberi waktu kepada Kuroko menyelesaikan makanannya. Akashi sebenarnya juga merasa jika suasana diantara mereka berubah menjadi sedikit canggung, tetapi dirinya tidak merasa jika ada hal salah yang baru saja terjadi.

Akhirnya mereka berdua terdiam sampai Kuroko selesai makan. Kemudian, mereka langsung memutuskan untuk kembali ke kelas.

.

.

.

Bersambung