Actions

Work Header

Tega

Chapter 2: Kejutan Khusus untuk Tetsuna

Summary:

Akashi memberikan bantuan terselubung yang pertama bagi Kuroko untuk kembali pada jalan pertemanan.

Notes:

Implied Pairing: (KasamatsuxFem!Kise), (AominexFem!Kagami)

Warning: OoC
* Kuroko lebih menunjukan perasaannya di hadapan Akashi
* Akashi tidak peka dengan hal cinta

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

"aaaaaa" Pembicaraan Karakter
'aaaaaa' Pembicaraan di dalam hati

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text


 

“Kuroko, bagaimana persiapan untuk pertandingan Winter Cup*?”

“Latihan berjalan dengan baik Akashi-kun. Bagian yang kurang saat babak regional kemarin juga sudah dilatih lagi dan hasilnya cukup memuaskan. Aku rasa Akashi-kun tidak perlu khawatir.”

Akashi dan Kuroko duduk saling berhadapan di salah satu café di Ikebukuro. Mereka berdua baru saja selesai dari kegiatan mengerjakan tugas kelompok. Awalnya mereka ingin langsung pulang tetapi karena tiba-tiba kereta yang ingin mereka tumpangi mengalami gangguan teknis dan ternyata harus menunggu cukup lama, mereka memutuskan untuk duduk dulu di sebuah café. Mereka tidak mau menunggu di stasiun karena pada saat itu suhu udara cukup rendah dan mereka berdua juga merasa sedikit lapar. Jadi, di sinilah mereka berdua berakhir. Kuroko duduk dengan tenang dan sopan sambil minum susu vanila hangat dengan strawberry short cake yang belum tersentuh. Kemudian Akashi duduk di depannya sambil menyesap black coffee dengan dua balok gula, dilengkapi dengan castella cake.

“Lalu bagaimana perkembangan murid baru?”

“Sampai saat ini masih tersisa sepuluh orang yang mau bertahan Akashi-kun. Dan untuk kejuaran kali ini, kami berencana untuk memasukkan tiga orang di bangku cadangan.”

“Bagus. Mereka memang perlu banyak belajar dari luar lapangan sebelum pertandingan perdana mereka.”

“Benar, dengan begitu mereka tidak akan berakhir seperti diriku yang tersandung kakiku sendiri di pertandingan pertama.”

Akashi menarik kedua sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman. Kepalanya sedikit menunduk untuk melihat castella cake yang ingin diambilnya.

“Aku ingat. Saat itu bahkan aku tidak bisa tertawa ataupun merasa kasihan. Tetapi setelah diizinkan keluar lagi, kau berhasil membuat orang yang menjagamu kebingungan.”

“Saat itu aku pasti terlihat konyol sekali jika Akashi-kun sampai seperti itu.”

Kuroko lalu melihat keluar jendela. Kebetulan tempat duduk mereka ada di ujung belakang dan terletak paling dekat dengan jendela yang menuju ke arah jalan. Dari kejauhan perlahan-lahan terlihat warna kuning yang cerah. Kuroko terus memperhatikan warna tersebut dan akhirnya sadar jika itu adalah rambut milik seorang gadis.

Gadis tersebut memakai kacamata hitam dan masker sehingga wajahnya tidak terlihat tetapi Kuroko bisa mengetahui identitas gadis tersebut. Di sebelah gadis tersebut, berjalan seorang pemuda berambut hitam pendek. Wajahnya terlihat sedikit memerah karena lengan kirinya sedang dipeluk oleh gadis berambut kuning tersebut dan tubuh mereka saling bersentuhan.

“Kise-san…”

“Apa?” Akashi lalu mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan Kuroko.

Kuroko menunjuk pada pasangan yang sedang berjalan di sebrang jalan. “Ada Kise-san dan Kasamatsu Senpai.”

“Oh benar, itu Kasamatsu-san dan sepertinya itu memang Kise. Mereka terlihat semakin dekat. Sepertinya rencana Kise selama ini sudah berhasil, ia tinggal mengajaknya untuk menjadi kekasih.”

Pandangan Kuroko kembali kepada Akashi. Kuroko lalu memandangi Akashi yang masih melihat ke arah Kise dan Kasamatsu. Di dalam pikirannya timbul tanda tanya. Setelah itu, Kuroko menghela napas.

“Jadi, Akashi-kun belum tahu ya?”

Kepala Akashi kembali mengarah ke depan. “Apa?”

“Kasamatsu Senpai sudah resmi menjadi kekasih dari Kise-san.”

Mata Akashi lalu terbuka sedikit lebar. “Kapan?”

“Saat upacara kelulusan Kasamatsu Senpai, Kise-san pergi ke SMA Kaijo untuk mengucapkan selamat. Sepulang dari sekolah mereka lalu berhenti di sebuah taman dan disanalah Senpai menyatakan perasaannya. Kise-san mengatakan jika dirinya sampai menangis saking terkejutnya. Dia berpikir bahwa dirinyalah yang akan bergerak lebih dulu.”

“Wow, aku pikir Kasamatsu-san baru akan mengajak Kise pacaran setelah dirinya lulus kuliah. Sepertinya Kise sudah bekerja sangat keras.” Akashi kembali mengambil kopinya yang sudah setengah mendingin.

“Kise-san mengunjungi Senpai di waktu luangnya. Dan lagi ia mendapat dukungan dari Misaki-san**. Terkadang saat Kise-san sedang berkunjung ke sana, ia akan menginap di tempat Misaki-san yang tinggal di asrama putri Kaijo.”

“Oh, adik Kasamatsu-san. Pantas saja mereka dulu terlihat dekat.”

“Sepertinya Kise sering sekali bercerita denganmu Tetsuna?”

“Pada dasarnya Kise-san memang suka mengobrol. Jadi, ia sering meminta saran untuk permasalahan cintanya.”

Mereka berdua kemudian terdiam karena pembicaraan tentang pasangan KasamatsuxKise sudah selesai. Kuroko memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memakan kuenya. Perlahan Kuroko mulai ingat dengan kejadian sekitar tiga minggu lalu dimana dirinya sedang berdua saja dengan Akashi di atap sekolah. Mereka berdua juga sedang membicarakan kehidupan percintaan dari teman-teman SMP mereka.

Semenjak saat itu, Kuroko mulai mengurangi kenampakan emosinya di depan Akashi. Diantara teman-temannya yang lain, Akashi memang yang paling bisa membuat Kuroko lebih sering memakai otot-otot wajahnya. Kuroko juga mulai menganggap bahwa dirinya cuma salah satu dari teman kelas Akashi. Walaupun begitu, ia tetap belum bisa menahan perasaan cinta yang dimilikinya terhadap pemuda tersebut.

Kuroko memandangi susu di dalam cangkir selama beberapa saat. “Akashi-kun apa kau sudah menyadari sesuatu?”

Akashi yang kebetulan sedang memeriksa handphone, menjawab pertanyaan Kuroko tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone miliknya. Dirinya sama sekali tidak tahu ke mana arah pembicaraan Kuroko.

“Sadar akan apa?”

“Diantara kita semua, cuma Akashi-kun yang belum menyukai seseorang. Sebulan yang lalu Momoi-san sudah bercerita kepadaku jika ia ternyata menyukai salah satu teman sekelasnya.”

Akashi kembali menatap Kuroko setelah menyimpan handphone di saku celananya. “Hm… apakah itu harus? Tidak ada yang salah dengan hal itu. Aku bebas menyukai siapapun dan kapanpun.”

“Tapi, hal itu bisa menandakan bahwa masa pubertas Akashi-kun terlambat.”

Kuroko menatap Akashi dengan seirus. Seakan-akan memang ada suatu masalah rumit yang terjadi. Akashi yang ditatap hanya bisa terdiam melihat wajah Kuroko. Dari luar mungkin mereka berdua terlihat seperti sedang bermain permainan tatap-tatapan. Siapa yang lebih dulu mengedip akan kalah.

“Tetsuna, aku bisa pastikan jika masa pubertasku sama sekali tidak terlambat. Aku juga tidak mengalami kelainan apapun. Memangnya kenapa dengan belum menyukai seseorang? Bukan berarti aku tidak akan pernah mengalaminya, aku hanya belum. Bisa saja besok aku akan menyukai seseorang. Jadi, kau tidak perlu terlalu serius dengan hal tersebut.”

Untuk sesaat, Kuroko merasa jika ada sesuatu yang menggores hatinya. ‘Mana bisa aku tidak serius Akashi-kun! Aku ini menyukaimu jadi wajar saja jika aku sensitif dengan hal tersebut.’

“Kalau begitu, apa Akashi-kun sudah mengalami mimpi basah?”

Tiba-tiba Akashi merasa seperti ada bola basket yang mengenai kepalanya.

“Apa?! Tetsuna, ini bukan tempat yang tepat untuk membahas itu. Dan lagi kau itu perempuan, jadi jangan tanya hal itu secara sembarangan.”

“Tetapi aku cuma tanya sudah atau belum? Akashi-kun cukup menjawabnya dengan singkat.”

Akashi lalu menghela napas. Kemudian ia menjawab dengan ketus. “Tentu saja sudah, memangnya kau pikir aku sudah umur berapa?”

“Kalau begitu isi mimpinya apa?” Kuroko bertanya tanpa perubahan ekspresi sama sekali.

Akashi langsung mundur ke belakang dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sudah bisa terlihat jika Ia merasa sangat keberatan untuk membahas hal tersebut. “Cukup! Kita tidak akan membahas hal tersebut.”

Namun, Kuroko mengabaikan apa yang baru saja dikatakan Akashi. “Aomine-kun pernah mengatakan kepadaku bahwa ia memimpikan Kagami-san. Jadi Akashi-kun bisa mengetahui siapa orang yang disukaimu dari mimpi tersebut.”

“Aomine pernah menceritakannya padamu?!” Akashi sekarang memandang Kuroko dengan terkejut. Dirinya berpikir jika kedekatan antara Aomine dan Kuroko tidak akan sampai seperti itu. Akashi kemudian maju ke depan agar bisa lebih dekat dengan Kuroko. Ia merasa jika Kuroko butuh sedikit pembelajaran. Dirinya lalu berbicara sambil sedikit berbisik. “Tetsuna, sistem mimpi basah bukan seperti itu. Dan jika kau penasaran, jangan bertanya hal mengenai seksualitas kepada Aomine. Akan lebih baik jika kau bertanya dengan seorang dokter.”

“Berarti aku tidak boleh bertanya dengan Akashi-kun?”

Akashi tidak langsung menjawab pertanyaan Kuroko. Dirinya tidak boleh salah mengambil kata-kata yang akan dikeluarkan. “Aku akan menjawab pertanyaan yang ingin kujawab. Jadi, kalau aku tidak suka maka aku tidak akan menjawab pertanyaanmu. Aku hanya akan menyarankan orang lain yang bisa memberikan jawaban dengan baik.”

Pandangan Akashi terpaku pada Kuroko, lalu Ia berbicara lagi. “Tetapi, aku tidak suka jika kau bertanya dengan sembarang laki-laki. Nanti mereka bisa berpikir macam-macam tentang dirimu. Jadi, tanyakan lebih dulu kepadaku.”

Kuroko lalu merasakan ada sesuatu yang hangat di dadanya. Entah kenapa dirinya jadi merasa senang setelah mendengar jawaban Akashi barusan. Mungkin karena terus diberikan perhatian seperti itu akibatnya, Kuroko bisa suka dengan Akashi.

“Um, baiklah.” Kuroko menjawab sambil sedikit tersenyum.

“Oke, ini sudah saatnya kita untuk pulang. Ayo kita pergi Tetsuna!”

Akashi dan Kuroko kemudian menghabiskan sisa minuman mereka. Mereka membayar makanan yang dibeli lalu keluar dari café tersebut.

oOo

Saat ini Akashi dan Kuroko sedang berada di dalam kereta untuk perjalanan pulang. Mereka berdiri berdampingan di dekat jendela kereta.

“Oh ya, minggu depan aku tidak bisa menonton pertandingan kalian jadi aku mau memberi semangat sekarang. Walaupun sebenarnya aku sudah tahu bahwa kalian pasti akan menang. Bagaimanapun juga kalian itu kuat.”

Kuroko menatap Akashi dengan heran. “Memangnya kenapa Akashi-kun tidak bisa menonton?”

Akashi lalu menjawab dengan santai. “Pada hari itu aku akan bertunangan dan ternyata aku harus siap selama satu hari penuh.”

 

JDEEEEEEEER!!!

 

Kuroko kaget. Ia benar-benar sangat kaget dengan perkataan yang baru saja keluar dengan santainya dari bibir Akashi.

Di dalam kepala Kuroko, berbunyi sirine yang menandakan ada keadaan darurat terjadi. Petir yang baru saja menyambar berhasil membuat penghuni otak Tetsuna mengalami black out. Sirine langsung dibunyikan agar para penghuni bisa menghadapi situasi dengan tenang. Tetapi tetap saja, sesuatu yang terjadi tiba-tiba selalu saja terasa mengejutkan.

“Tu… tunangan?”

“Benar, mungkin kedengarannya aneh tetapi itu memang terjadi.”

“Tetapi, Akashi-kun masih tujuh belas tahun! Dan ini sudah bukan jaman dulu lagi. Kenapa Akashi-kun tidak menolaknya?”

Kuroko memandang Akashi dengan ekspresi yang benar-benar khawatir. Entah khawatir terhadap Akashi atau lebih terhadap hatinya yang masih belum sembuh benar.

“Itu hanya pertunangan untuk memperlancar rencana bisnis. Bukan berarti suatu saat kami pasti akan menikah. Aku tidak akan menikah secepat itu dan aku hanya akan menikahi gadis yang aku cintai dengan sungguh-sungguh.” Sekali lagi Akashi menjawab dengan santai. Ia juga tersenyum sambil mengelus-elus kepala Kuroko untuk menenangkan Kuroko yang sepertinya terlihat sangat cemas.

Walaupun Akashi menyuruh dirinya untuk tenang, Kuroko masih belum puas. “Tapi bagaimana jika mereka menganggapnya serius, Akashi-kun? Jika Akashi-kun membatalkannya, mereka pasti bisa sakit hati ataupun tidak setuju.”

“Tenang saja, aku sudah memastikan dengan Ayahku kalau mereka juga memikirkan hal yang sama. Lagipula, yang dijodohkan denganku lebih muda empat tahun dari kita. Ia tidak mungkin mau langsung menikah apalagi dengan orang yang belum pernah ditemuinya.”

‘Tapi, bagaimana jika setelah bertemu, dia jadi jatuh cinta kepadamu? Akashi-kun itu populer!’

“Oh ya, kau orang pertama yang Aku beritahu. Jadi jika ada yang bertanya, bilang saja aku sedang ada urusan keluarga.”

‘Justru, kenapa harus aku yang diberitahu, Akashi-kun?!’

Laju kereta perlahan menjadi lambat sebagai tanda bahwa kereta tersebut akan berhenti di salah satu stasiun.

“Tetsuna, aku turun disini. Hari ini aku tidak pulang bersamamu.”

Kuroko yang awalnya sudah terdiam langsung sadar lagi dari lamunannya. “Eh, kenapa?”

“Hari ini aku akan bertemu dengan calon tunanganku dan keluarganya jadi aku turun disini. Sampai jumpa, hati-hati di jalan!”

Kuroko yang biasanya selalu mengucapkan salam sebelum mereka berpisah seperti sedang lupa dengan hal tersebut. Dari kecil dirinya sudah diajarkan salam tersebut tetapi, entah kenapa untuk kali ini ia tidak bisa mengatakannya. Kuroko tidak rela Akashi turun di stasiun ini sehingga ia bisa bertemu dengan calon tunangannya. Ia tidak mau berpisah. Ia ingin menarik lengan Akashi untuk menahannya agar tidak pergi. Tetapi pada kenyataannya, kakinya hanya terpaku pada dasar gerbong kereta. Matanya hanya mengikuti pergerakan Akashi yang menjauh untuk keluar dari stasiun.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kuroko benar-benar merasa iri dengan orang yang tidak pernah dikenalnya. Orang yang bisa mendapatkan status calon tunangan padahal belum pernah bertemu sama sekali dengan Akashi Seijuurou. Pada hari itu Kuroko berhasil kelewatan tiga stasiun dari stasiun dimana seharusnya ia turun. Bagaimanapun juga dirinya perlu waktu untuk menangisi diri sendiri.

.

.

.

Bersambung

Notes:

*/Oh ya, Aku tidak tahu apakah Kejuaran Winter Cup untuk pertandingan basket perempuan itu ada atau tidak. Jadi, mohon dimaklumi kalau ternyata salah./
**/Adik Kasamatsu buatan saya: Kasamatsu Misaki (seumuran dengan Kise dan alumni SMP Teiko)/
- Di fanfic ini, SMA Kaijo mempunyai asrama putra dan putri

Terima kasih bagi yang sudah mau baca, ngasih Kudo, dan ngasih komentar di chapter pertama dan di fanfic sebelumnya yang berjudul 'Ditolak'.