Chapter Text
“Tetsuna selamat.” Akashi lalu memajukan tangannya dengan bahasa tubuh ingin berjabat tangan. “Kau sudah menjadi Wakil Ketua Klub Basket Putri. Aku mohon kerja sama darimu sebagai Ketua Klub Basket Putra.”
Kuroko lalu berjabat tangan dengan Akashi. “Terima kasih Akashi-kun. Aku juga mohon kerja sama darimu.”
“Sama-sama.”
Saat ini merupakan saat dimana masa pergantian perangkat klub berlangsung. Murid kelas tiga sudah diharuskan untuk pensiun dari kegiatan klubnya dan memusatkan konsentrasi pada ujian masuk universitas. Murid kelas dua maju untuk melanjutkan kepemimpinan klub dengan harapan, perkembangan yang dihasilkan bisa lebih baik lagi.
Akashi dan Kuroko sekarang sedang berada di perjalanan menuju ke ruang kerja pelatih dari kelas mereka. Kemarin mereka baru saja melakukan serah terima jabatan klub dan sekarang mereka diharapkan untuk berkumpul bersama pelatih sebelum memulai hari pertama kepemimpinan mereka.
“Aku juga mau memberi selamat kepada Akashi-kun karena sudah terpilih menjadi Ketua OSIS yang baru. Walaupun belum diresmikan tetapi tidak ada salahnya memberi selamat. Dan ini sudah kedua kalinya kau sama-sama menjadi Ketua Klub dan Ketua OSIS setelah waktu kita SMP. Apa Akashi-kun tidak stres?”
“Tidak. Apakah aku pernah mengeluh kepadamu waktu kita SMP?” Akashi bertanya kepada Kuroko tanpa mempedulikan jawaban Kuroko karena ia sudah tahu pasti apa yang akan Kuroko katakan.
“Tidak pernah.”
Setelah selang beberapa lama, Kuroko kembali berbicara. “Tetapi…” Oke, sekarang Akashi menjadi sedikit peduli. “Aku rasa kau pasti akan merasa berat karena bagaimanapun juga Akashi-kun masih SMP saat itu dan aku juga yakin bahwa ada hal lain yang kau lakukan selain kegiatan sekolah.”
“Aku bisa melewatinya jadi tidak ada masalah. Dan lagi, sekarang aku sudah lebih dewasa jadi aku pasti lebih siap melaksanakan tanggung jawabku.”
Akashi kemudian berkata dengan percaya diri tetapi tegas, seakan-akan dirinya tidak hanya mau memberitahu Kuroko tetapi juga dirinya sendiri. “Untuk bisa menjadi seseorang yang berpengalaman baik di lapangan maupun di balik meja kerja, seorang Akashi harus selalu unggul dalam segala bidang. Tanggung jawab yang aku ambil bukan suatu beban tetapi kesempatan untuk membuat diriku maju.”
Kuroko lalu memandangi Akashi selama beberapa saat. “Kurasa aku bisa memahami apa yang Akashi-kun yang pikirkan. Oleh karena itu, aku berharap Akashi-kun bisa berbagi cerita jika ada yang menghambat. Aku juga ingin membantumu dan yang bisa aku lakukan sekarang hanya menjadi temanmu.”
“Aku tidak masalah berbagi cerita denganmu tetapi belum tentu jika itu adalah cerita mengenai hambatan. Aku akan menyelesaikan masalah dengan caraku sendiri. Entah itu akan melibatkan orang lain atau hanya diriku saja.”
“Baiklah, aku terima tawaranmu.” Kuroko lalu berkata dengan santai.
Akashi menengok ke arah Tetsuna dan bertanya. “Kalau begitu, apa hari Minggu ini kau ada waktu kosong?”
“Ada, memang ada apa?”
“Aku ingin mengajakmu untuk membantuku dalam memilih hadiah untuk perempuan.”
Untuk sesaat Kuroko merasa senang tetapi dirinya baru saja mengingat satu hal. Satu hal yang membuatnya sedih.
“Untuk hal seperti itu sebaiknya Akashi-kun mengajak tunanganmu saja. Tidak baik jika dirimu terlihat lebih sering bergaul denganku daripada dirinya.”
Akashi merasa sedikit tidak senang dengan pernyataan Kuroko. “Apa maksudmu dengan itu? Tidak ada yang salah dengan bergaul bersama teman. Dan aku sudah pernah menjelaskan bahwa pertunanganku hanya untuk keperluan bisnis. Kami sudah berjanji bahwa kami tidak akan menyampuri urusan pribadi masing-masing. Oh ya, hadiah yang aku maksud itu adalah hadiah ulang tahun tunanganku jadi aku memang tidak mungkin mengajak dirinya, bukan?”
PANG!
Kuroko tidak tahu apakah ini adalah saat yang buruk atau tidak untuk merasa cemburu. Akashi mengajak perempuan yang menyukainya untuk membeli hadiah bagi tunangannya. Kuroko terkadang ingin sekali memukul Akashi. Dirinya ingn agar beberapa persen informasi pelajaran sekolah bisa keluar dari otak Akashi. Setelah itu, ruang yang kosong akan diisi dengan informasi mengenai cinta dan perempuan. Dengan begitu Akashi bisa lebih sedikit peka.
‘Satu bulan yang lalu ia berkata bahwa dirinya ingin bertunangan. Sekarang ia mengajak diriku untuk membeli hadiah bagi tunangannya. Satu bulan lagi mungkin ia akan mengajakku untuk memilih cincin pernikahan!’
Kuroko sengaja hanya berdialog dalam hati untuk meluapkan kekesalan sehingga bisa tetap terlihat tenang dari luar.
“Jadi, kau bisa atau tidak?” Akashi bertanya sekali lagi. Dirinya memutuskan bahwa pembicaran tentang tunangannya sudah berakhir.
“Um, aku…”
Proses berpikir kembali terjadi di dalam kepala Kuroko. Dirinya ingin menolak tetapi ia sudah berjanji untuk membantu Akashi dalam menyelesaikan hambatannya. Selain itu, jika dirinya menolak, Akashi mungkin akan mengajak perempuan lain yang entah siapa untuk membantunya.
‘Tidak! Lebih baik memang aku saja. Anggap saja ini salah satu kenangan bersama yang bisa aku buat sebelum Akashi-kun benar-benar pacaran dengan orang lain.’ Kuroko tersenyum miris dalam hatinya.
“Aku bisa Akashi-kun. Nanti kirimkan saja waktu dan tempat janjian lewat email.”
Akashi kemudian tersenyum. “Baiklah, aku tahu kalau dirimu memang selalu aku bisa andalkan Tetsuna.”
Kuroko yang melihat senyuman Akashi juga ikut tersenyum. Dirinya memang selalu merasa senang saat Akashi juga merasa senang. Jika Kuroko merasa bahwa Akashi sedang merasakan perasaan negatif maka ia akan merasa resah. Sungguh suatu cinta yang mengharukan, tetapi jadi terlihat miris jika tidak terbalas.
Mereka berdua akhirnya sampai di kantor pelatih. Pembicaraan antar teman dihentikan. Sekarang peran mereka adalah seperti partner kerja yang bekerja di klub basket. Yang dibutuhkan adalah hal mengenai basket, kerja sama, dan kepemimpinan, bukan lagi masalah cinta atau perempuan.
oOo
Akashi dan Kuroko berjalan berdampingan di dalam suatu ruangan dengan kelap-kelip cahaya yang terpantul. Kelap-kelip cahaya tersebut berasal dari banyak perhiasan yang terpajang di sekeliling mereka. Perak, emas, platina, intan, dan bahkan terdapat batu berwarna-warni yang entah apa namanya, juga bahan imitasi tetapi dengan kualitas tingkat atas. Kuroko merasa sedikit aneh karena ini pertama kalinya Ia masuk ke toko seperti ini. Toko ini sudah pasti tidak sama dengan toko yang lain. Tampilan interior terlihat elegan tetapi simple, dibuat seperti itu untuk membuat pelanggan merasa nyaman.
Barang-barang yang dipajang mempunyai kelas nomor satu. Memang sengaja ditawarkan kepada mereka yang bersedia membayar mahal untuk mendapatkan kualitas terbaik. Dan pada kegiatan mereka hari ini, Kuroko belajar satu hal dari tata krama keluarga terpandang. Hadiah bisa menjadi cerminan dari kasta keluargamu. Itu bukan hanya suatu barang dengan maksud tulus untuk merayakan moment yang dimaksud.
“Akashi-kun ingin memberikan perhiasan seperti apa?” Setelah selesai melihat-lihat sekelilingnya, Tetsuna bertanya kepada Akashi. Akan lebih baik jika urusan mereka disini segera selesai.
“Untuk jenisnya, aku ingin bertanya kepadamu. Perhiasan seperti apa yang kau inginkan?”
Akashi dan Kuroko sekarang sedang duduk di bagian longue. Mereka berdua perlu memutuskan dulu apa yang harus dicari sebelum berinteraksi langsung dengan bagian pelayanan toko.
“Akashi-kun, pertanyaanmu tidak tepat. Kau membeli hadiah untuk orang lain bukan diriku. Kau bisa mengira-ngira apa yang sedang diinginkan tunanganmu atau perhiasan mana yang sepertinya cocok untuk menambah nilai penampilannya, dan perhatikan seleranya juga. Atau Akashi-kun juga bisa melihat tren terbaru, perempuan biasanya memang suka mengikuti perkembangan jaman.”
Akashi lalu memandang Kuroko tanpa mengeluarkan ekspresi, seakan dirinya tidak begitu peduli dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Kuroko. “Aku tidak tahu tentang hal-hal itu. Aku tidak tertarik dengan apa yang disukainya. Jadi, aku menjadikanmu sebagai patokanku.”
“Akashi-kun, tunanganmu bisa sedih jika kau menyiapkan hadiah untuknya dengan pandangan seperti itu. Jadi, tolong jangan katakan hal seperti itu kepadanya.” Entah kenapa Kuroko jadi merasa sedikit kasihan dengan tunangan Akashi. Perkataan tersebut sudah pasti akan sedikit melukai hatinya jika hal itu ditunjukan kepadanya.
Akashi kemudian mengeluarkan sedikit senyuman. “Kenapa kau jadi terbawa perasaan seperti itu Tetsuna? Tenang saja, ia tidak mengetahui sama sekali tentang pembiacaraan kita hari ini.”
“Entahlah, aku hanya merasa jika itu sedikit kasar karena dia adalah tunanganmu. Aku pasti akan merasa sedikit kecewa jika Akashi-kun memilih hadiah untuk diriku dengan pandangan yang sama.”
“Tentu saja aku tidak akan berbuat seperti itu kepada dirimu. Dirimu itu lebih dekat denganku daripada dirinya.”
Setelah mendengar perkataan Akashi. Kuroko lalu mulai terbenam dalam pikirannya.
‘Bolehkah diriku berharap dengan kata-katamu? Tetapi, aku tidak mau berharap terlalu banyak jika pada akhirnya akan membuatku kecewa.’
“Oke, kita tidak boleh membuang waktu lagi. Jadi, apa yang seharusnya aku berikan?”
Akashi lalu memecahkan lamunan Kuroko. “Um… tunggu sebentar. Bagaimana kalau anting-anting saja? Ia bisa memakainya setiap hari tanpa harus merasa ada yang terhalang. Tidak seperti kalung dan gelang yang biasanya akan dilepas setelah berkegiatan diluar selesai, kecuali jika itu adalah perhiasan yang sederhana.”
Akashi tiba-tiba menyibak rambut yang ada di sebelah kiri Kuroko lalu menaruh rambut tersebut di belakang telinganya. Telinga kiri Kuroko yang awalnya tertutupi rambut jadi terlihat dengan jelas sekarang.
“Apa maksudmu anting yang seperti ini?”
“Eh?”
Kuroko langsung memegang telinga kirinya. Kepalanya sedikit ditundukan agar mata tidak bertatapan langsung dengan mata Akashi. Kuroko merasa kaget dengan tangan Akashi yang tiba-tiba ada di dekat wajahnya. Walaupun mereka berdua sudah sering saling berinteraksi tetapi Kuroko belum terbiasa jika Akashi langsung menyentuhnya.
“A… bukan Akashi-kun. Anting ini terlalu sederhana. Ini anting yang dipasangkan oleh ibuku saat masih SD.”
“Hm… tapi anting ini memang terlihat cocok untukmu.”
“Oh, benarkah? Kalau begitu terima kasih.”
Kuroko merasa wajahnya sedikit memanas dan jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Di sekeliling mereka bisa terlihat ada aura-aura pink imajiner dari bagian pelayanan toko. Di dalam mata mereka, Akashi dan Kuroko terlihat seperti pasangan muda yang sedang berkencan. Supaya saat memilih perhiasan terasa lebih romantis maka pemanasannya perlu dilakukan terlebih dahulu di lounge. Mungkin ini adalah salah satu maksud dari perancang interior toko perhiasan tersebut.
“Akashi-kun bagaimana jika kita langsung ke bagian anting-anting saja. Disana kita bisa bertanya kira-kira anting seperti apa yang cocok untuk gadis yang lebih muda tetapi tidak terlihat sangat mencolok.”
Akashi kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Baiklah, ayo kita kesana.”
Bagian pelayanan toko langsung mendekati Akashi setelah Akashi memberikan sinyal panggilan. Disana terjadi percakapan singkat. Kemudian Akashi dan Kuroko berjalan ke sudut kanan toko yang terletak di paling ujung. Di sana terdapat anting-anting dengan berbagai bentuk, ukuran, dan bahan. Dari yang bentuknya wajar menurut Kuroko sampai yang tidak wajar. Kuroko bingung, apakah ada orang yang mau memakai anting yang panjang dan berat seperti itu.
“Aku mencari yang cocok untuk usia 13 tahun. Jadi, modelnya tidak perlu yang terlalu mencolok dan jangan yang besar. Ini adalah hadiah untuk ulang tahun.” Akashi berbicara dengan lancar kepada pelayan toko.
Pelayan toko kemudian memberikan beberapa pasang anting. Pelayan tersebut juga menjelaskan keunikan serta hal spesial dari anting-anting tersebut. Ada model terbaru, model yang biasa diminati oleh gadis muda, model yang sesuai dengan tren sekarang, dan model yang cukup sederhana juga ada. Kuroko akui bahwa toko ini cukup fair. Mereka tidak hanya menawarkan barang-barang yang sekiranya sudah sesuai dengan permintaan pelanggan tetapi dengan harga yang paling mahal.
Akashi lalu melihat ke Kuroko. Dari pandangan Akashi, Kuroko tahu bahwa Akashi memberinya sinyal untuk berpendapat dan memilih.
‘Hm, kurasa ini tidak cocok untuk dipakai ke sekolah. Tetapi, apa benar yang dimaksud itu anting yang sesuai untuk kegiatan sehari-hari.’
“Akashi-kun, apa anting yang kau maksud itu untuk yang bisa dipakai pada kegiatan sehari-hari?”
Akashi kemudian terlihat berpikir sejenak. “Ya.”
‘Oke, kalau begitu yang ini dan ini dieliminasi. Kemudian… hm, rambutnya panjang tidak ya?’
“Dia memiliki rambut seperti apa? Mungkin kira-kira panjangnya itu seberapa?”
“Kira-kira sampai ke punggung tetapi tidak sampai melewati bagian dada.”
Kuroko kemudian menyentuh bagian punggungnya untuk menunjukan batas rambut. “Apa kira-kira panjangnya sama dengan rambutku.”
“Ah ya, kira-kira seperti itu.”
‘Kalau begitu yang dua ini sebaiknya tidak.’ Kuroko menggeser sedikit dua pasang anting ke atas.
Sekarang pilihannya tinggal tiga pasang. Dan salah satu diantaranya terdapat anting yang memiliki batu kecil berwarna biru laut. Sebenarnya dari awal, mata Kuroko sudah tertangkap dengan anting tersebut tetapi Kuroko tidak mau terlalu cepat memutuskan.
Di sebelah anting dengan batu biru tersebut terdapat juga anting dengan batu berwarna merah darah. ‘Mungkin, jika Akashi-kun yang memberikan, akan lebih cocok yang merah ini. Um… tetapi yang biru ini terlihat lebih manis.’
Karena masih belum bisa memutuskan, Kuroko menyerahkan keputusan akhirnya kepada Akashi. “Akashi-kun, aku punya dua pilihan untukmu.” Kuroko lalu menggeser kedua pasang anting tersebut ke hadapan Akashi.
Akashi memandang anting-anting tersebut selama beberapa lama. Pandangannya kemudian kembali pada Kuroko. “Kalau begitu lepaskan anting-anting yang kau pakai sekarang.”
“Hah?”
“Aku ingin kau mencoba kedua-duanya.”
“Oh, jadi maksudnya itu.”
Kuroko kemudian melepas kedua anting di telinganya. Kemudian dia mengambil anting dengan batu merah untuk dipasang terlebih dahulu. Kuroko sedikit kesulitan dalam melakukannya. Ia sebenarnya sangat jarang pasang lepas anting. Jadi, dirinya sama sekali tidak terbiasa. Tetapi, ia tetap mencoba dengan tenang karena tidak mau terlihat seperti perempuan yang tidak bisa memasang anting sendiri. Setelah beberapa menit, anting-anting tersebut akhirnya terpasang. Kuroko kemudian menunjukannya kepada Akashi.
Akashi kemudian terdiam selama beberapa menit. “Sekarang coba yang ini.” Akashi menyerahkan anting dengan batu berwarna biru.
‘Tidak ada komentar sama sekali!’ Kuroko sedikit protes di dalam hatinya.
Kuroko mengulangi proses yang sama dengan tadi. Bedanya, hanya waktu pemasangannya lebih cepat karena anting yang ini lebih mudah untuk dipakai.
Akashi kembali menatap Kuroko selama beberapa lama. Kuroko tidak tahu apa saja yang terlintas di pikiran Akashi. Baguskah? Anehkah? Atau biasa saja.
“Oke, sudah selesai. Kau bisa memasang kedua antingmu lagi.”
‘HAH!!!’
Kali ini yang terdengar adalah suara kaget dari para pelayan toko. Mereka kaget karena si pria sama sekali tidak mengeluarkan komentar. Biasanya, para pria akan memuji pasangannya ketika mencoba anting. Setidaknya ada satu kata yang keluar. Para pelayan toko jadi bingung kira-kira kemana perginya pemanasan romantis yang sudah mereka lakukan tadi. Tapi, jika dipikir-pikir lagi situasinya juga tidak mirip dengan pasangan muda yang sedang pacaran. Mereka membeli hadiah untuk perempuan lain dan tidak ada percakapan manja, canggung, atau sedikit menggoda.
“Aku mau yang merah.”
Akashi memberi instruksi kepada pelayan untuk membungkus sepasang anting tersebut. Kemudian ia meminta Kuroko untuk menunggu di lounge. Akashi lalu berbicara sebentar dengan pelayan toko. Setelah itu, ia bergerak ke arah kasir.
Selama menunggu, Kuroko merenungi kembali pencarian mereka tadi. Kuroko berpikir bahwa dirinya tidak cukup menarik untuk memakai anting tersebut. Buktinya saja Akashi sampai tidak mengeluarkan satu katapun.
‘Akashi-kun mungkin bingung kenapa tidak ada yang cocok makanya dia diam saja.’
oOo
Akashi kembali kepada Kuroko dengan tas kecil di tangannya. Melihat Akashi yang sudah mendekat, Kuroko memutuskan untuk berdiri sehingga mereka bisa langsung keluar.
“Sekarang ayo kita pergi ke sana.” Akashi berbicara sambil menunjuk ke sebelah kiri toko. Pandangan Kuroko jadi mengikuti tangan Akashi.
“Memangnya untuk apa Akashi-kun?” Kuroko bertanya dengan heran. Akashi memberitahu dirinya bahwa Ia hanya ingin membeli hadiah untuk tunangannya.
“Aku ingin membeli cincin untuk calon kekasihku.” Akashi berkata sambil tersenyum manis.
“Hah!”
JEEEEENG!
Suara tuts-tuts piano yang ditekan bersamaan terdengar memilukan. Suara piano sumbang itu terdengar berkali-kali. Entah sang pianis sebenarnya tidak bisa bermain piano atau memang pikirannya sedang kalut sehingga tidak bisa memainkan piano tersebut.
Kuroko tidak menyembunyikan keterkejutannya. Matanya melebar, suaranya sedikit mengeras, dan otot-otot wajah tertarik ke luar. Kuroko bahkan lupa jika mereka sedang berada di tempat umum walaupun sebenarnya bersifat VIP.
“Aku akan mengajaknya untuk menjadi kekasihku satu bulan lagi. Memang waktunya masih lama tetapi tidak ada salahnya membeli sekarang. Aku juga bisa sekaligus mengajakmu untuk membantu memilih.”
‘Satu bulan!!! Memangnya kapan Akashi-kun pernah dekat dengan seorang perempuan? Tapi… bukan berarti aku tahu semua kegiatan Akashi-kun.’
/Ingat! Yang barusan berbicara itu bukan Midorima-kun./
“Siapa orangnya?”
“Aku akan mengenalkannya saat dia sudah menerimaku. Anggap saja ini sebagai perwujudan tekadku. Dengan begitu aku tidak akan bisa mundur lagi. Kau dan yang lain akan menjadi kumpulan orang pertama yang kuberitahu.”
Akashi kembali tersenyum. “Jadi, ayo kita ke sana.” Dan dengan tanpa perasaan dia mengajak Kuroko untuk tetap menemaninya.
“Maaf Akashi-kun, aku tidak bisa.”
Wajah Kuroko tertunduk dan suaranya terdengar lebih pelan. Akashi jadi ikut melihat ke bawah. Ia ingin tahu apa yang diperhatikan Kuroko dari ubin lantai yang ada dibawah kakinya.
“Cincin harus pas di tangan jadi sebaiknya Akashi-kun mengajak dia setelah kalian berpacaran.” Suara Kuroko sekarang terdengar lirih.
“He… kalau begitu, bagaimana jika cincinnya dijadikan seperti kalung? Seperti milik Kagami.”
“Itu tanda persaudaraan Akashi-kun. Apa Akashi-kun mau jadi korban Brotherzone?” Suara Kuroko terdengar seperti berbisik.
Akashi sekarang sedang berpikir apakah Tetsuna baru saja mengajaknya bercanda atau tidak.
“Ya sudah, kalung sungguhan saja.”
Kuroko terdiam. Akashi juga terdiam. Bagian pelayanan toko juga terdiam. Entah karena toko tersebut sedang tidak memiliki pengunjung lain atau memang perhiasan yang dijualnya tidak laris. Tetapi jika memang tidak laris, tidak mungkin Akashi dan Kuroko bisa ada disini.
“Maaf Akashi-kun, sebenarnya tadi aku mendapat pesan untuk segera pulang. Jadi aku tidak bisa lanjut menemani Akashi-kun.” Kuroko sekarang berbicara cukup keras. Walaupun yang dikatakannya itu cuma kebohongan.
“Sayang sekali, kau tidak bisa menemaniku. Baiklah, hari ini aku juga langsung pulang saja.”
‘Bagaimana sih? Masa jawabannya gonta-ganti terus! Kita jadi tidak bisa menjual lagi, kan?!’ Bagian pelayanan toko yang sedang menonton drama jadi berkomentar dalam hati.
“Kalau begitu, ayo kita pulang Akashi-kun.” Suara Kuroko kembali jadi lemah dan kepalanya juga masih tertunduk.
Akashi dan Kuroko keluar dari toko tersebut. Mereka berdua sama-sama diam. Kuroko memang pendiam tetapi sekarang dirinya memang sedang tidak ingin bicara apa-apa. Walaupun begitu, bukan berarti pikiran Kuroko diam. Sejak mereka berdua keluar dari toko ada satu kalimat yang selalu terucap di kepalanya.
‘Tolong jauhkan aku dari Akashi-kun!’
.
.
.
Bersambung
