Actions

Work Header

Tega

Chapter 4: Aku Mau Berubah

Summary:

Akashi akhirnya mendapatkan pemberitahuan dari jalan pertemanan yang Kuroko ambil.

Notes:

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

“aaaaaa” Pembicaraan karakter
‘aaaaaa’ Suara dalam hati

(See the end of the chapter for more notes.)

Chapter Text


Merah dan biru saling berhadap-hadapan. Dua warna dengan panjang gelombang berbeda yang kontras. Si Biru menatap dengan polos dan Si Merah menatap dengan intimidasi. Suasana terasa aneh karena seperti ada dua aura yang terpancar dan aura tersebut tidak bisa disatukan.

“Tetsuna, kenapa kau menghindar dariku?”

Akashi menatap Kuroko yang sedang berdiri tepat di depan dinding. Jarak diantara mereka hanya terpaut kira-kira setengah meter. Akashi memang tidak ingin jarak diantara mereka jauh. Karena dengan begitu, ia bisa membuat Kuroko menjadi tersudut ke dinding dan tidak bisa pergi kemana-mana. Akashi tahu jika hal itu bisa membuat suasana diantara mereka menjadi tegang, tetapi itu tidak apa-apa. Justru suasana seperti ini yang dirinya inginkan.

“Maaf, aku tidak mengerti dengan apa yang Akashi-kun katakan.” Kuroko menjawab dengan tenang tanpa perubahan ekspresi dan tinggi nada.

Mata Akashi sedikit bereaksi setelah mendengar kata-kata Kuroko.

‘Jadi, walaupun sudah kupojokan seperti ini kau tetap mau berdalih Tetsuna?’

“Apa kau tidak sadar bahwa selama sebulan ini kita seperti bermain kejar-kejaran? Aku adalah pemburu dan kau adalah kelinci. Kelinci kecil yang selalu bisa menemukan celah untuk kabur. Tetapi, sekarang kelinci itu tidak bisa kabur lagi karena sudah masuk ke dalam perangkap.”

Mata merah menatap mata biru dengan tajam. Cadangan rasa sabar Akashi sudah habis. Ia tidak mau jika dirinya kembali diabaikan.

“Akashi-kun, tolong jangan samakan diriku dengan kelinci. Aku tidak suka disamakan dengan hewan buruan. Jika Akashi-kun sedang mau baca buku cerita, kau bisa pergi ke perpustakaan.”

Yak, cadangan kesabaran Akashi sudah mencapai angka nol. Sekarang yang bisa ia rasakan hanya kemarahan. Akashi tiba-tiba mencengkram lengan Kuroko dengan kuat. Dirinya mulai berjalan dengan cepat sambil menarik Kuroko di belakangnya. Akashi bisa merasakan bahwa Kuroko menahan dirinya sendiri untuk tidak ikut bergerak mengikuti Akashi. Tetapi Akashi benar-benar tidak peduli sampai dirinya juga menghiraukan rasa sakit yang mungkin dirasakan Kuroko dari cengkramannya.

oOo

Akashi dan Kuroko sekarang sedang berada di atap sekolah. Kegiatan belajar sudah selesai dan seharusnya mereka berdua sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. SMA Teiko saat ini sedang mengadakan ujian bersama sehingga kegiatan klub dilarang untuk beroperasi agar murid-murid bisa fokus pada kegiatan akademik. Kesempatan ini kemudian dimanfaatkan Akashi untuk menyendiri bersama Kuroko. Dirinya yakin bahwa mereka berdua mempunyai masalah sekarang.

“Akashi-kun, lepaskan tanganku! Aku mau pulang sekarang.”

Akashi membalik tubuhnya dan mulai berhadapan lagi dengan Kuroko. “Aku tidak akan melepaskannya sampai kau memberitahuku semuanya. Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Sikapmu seperti teman sekelas yang baru saja berkenalan denganku. Apa-apaan itu?! Kalau kau mempunyai masalah denganku, kau harus mengatakannya.”

Setelah dimarahi oleh Akashi ternyata Kuroko tetap tidak bergeming. Kuroko tidak peduli dengan apa yang dikatakan Akashi. Dirinya cuma mau agar tangannya lepas dan ia pergi dari sana.

“Aku bersikap biasa saja Akashi-kun. Aku yakin bahwa selama sebulan ini diriku tidak pernah marah dengan Akashi-kun.”

“Tidak, itu tidak biasa. Tetsuna yang sudah berteman denganku sejak SMP tidak bersikap seperti itu. Kau berubah dan aku tahu jika kau cuma berubah di depanku.”

Akhirnya wajah Kuroko mulai menunjukan sedikit kekesalan. “Akashi-kun, aku hanya bersikap seperti teman-teman sekelasmu yang lain. Aku menyapamu saat kita bertemu di kelas sebelum pelajaran dimulai. Aku tetap berdiskusi denganmu mengenai pelajaran. Aku makan di kelas seperti biasanya. Aku juga berlatih basket seperti biasanya. Setiap kau bertanya tentang kemajuan kami, aku selalu memberikan jawaban yang lengkap kepadamu. Aku tidak bersikap aneh. Akashi-kun yang sudah berlebihan.”

Akashi langsung membalas perkataan Kuroko dengan keras. “Kau tidak mau berdua saja denganku! Selama sebulan ini kau cuma mau berinteraksi denganku jika ada orang lain. Kau tidak mau membicarakan hal lain selain sekolah dan basket. Kagami yang seorang idiot basket saja lebih baik darimu.”

“Kalau begitu, Akashi-kun bisa mencari Kagami-san!” Kuroko mengeraskan suaranya. Akashi bisa melihat kalau emosi Kuroko sudah berhasil terpancing. Tangan Kuroko mengepal. Kedua alis tertarik ke bawah untuk saling mendekat dan mata biru menatap Akashi dengan tajam.

“Aku memang sedang ingin jauh dari Akashi-kun. Aku ingin kau memberikanku ruang untuk bergerak lebih bebas. Jika Akashi-kun selalu berada di dekatku, perhatianku akan selalu teralihkan kepadamu. Dan aku mau mengubah hal itu! Aku tidak mau melihat Akashi-kun terus-menerus. Aku bahkan berharap diriku bisa tertarik dengan orang lain.”

Akashi kemudian terdiam setelah mendengar kata-kata Kuroko.

Kuroko kemudian berkata-kata dengan nada sedikit mengejek. “Ah, aku lupa bahwa Akashi-kun itu sebenarnya tidak peka. Baiklah, akan aku perjelas lagi kata-kataku.”

Kuroko lalu mengambil napas panjang dan menghembuskannya. Seakan-akan bersiap untuk mengatakan suatu hal yang penting.

“Aku ingin melupakan perasaan sukaku terhadap Akashi-kun. Dan aku tidak bisa melakukannya jika kita tetap bersikap seperti biasanya. Apalagi, sekarang aku tahu bahwa Akashi-kun sudah bertunangan. Selain itu, kau juga mengatakan bahwa dirimu sudah mempunyai orang yang disukai. Saat aku mendengar hal itu, jujur hatiku merasa sakit Akashi-kun. Maaf… tetapi…”

Kuroko diam sejenak. Akashi bisa melihat perasaan sedih di wajah Kuroko. Matanya terlihat berkaca-kaca dan mukanya berubah menjadi sedikit merah. Matanya bergerak ke samping dan ke bawah seperti sedang panik. Entahlah, Kuroko terlihat seperti sedang menahan sesuatu untuk keluar.

“Tetapi aku tidak bisa menjadi teman yang baik bagimu. Oleh karena itu, aku memilih untuk bersikap egois. Kita tetap berteman tetapi tidak sedekat dulu lagi. Saat ini aku sedang tidak bisa. Jika aku sudah mengatur perasaanku lagi, kita bisa jadi teman baik lagi. Jadi, tolong untuk saat ini, berikan aku waktu.”

Kuroko lalu meletakan tangannya yang bebas di depan paha lalu menundukan kepala dengan sedikit membungkukan badannya.

“Aku minta maaf Akashi-kun dan aku ingin agar Akashi-kun mengabulkan permintaanku.”

Dengan mata yang masih melihat Kuroko yang sedang membungkuk, Akashi terbenam dalam pikirannya. Akashi benar-benar merasa tidak senang dengan apa yang baru saja didengarnya. Dirinya ingin marah dan menuntut Kuroko.

“Kau tidak perlu minta maaf dan aku tidak menerima permintaan setengah hatimu. Lebih baik mulai hari ini kita tidak usah berteman lagi.”

Akashi akhirnya melepaskan tangan Kuroko. Dirinya kemudian bergerak maju menuju pintu untuk masuk ke gedung. Sebelum Akashi membuka pintu, Ia berhenti dan mengucapkan sesuatu kepada Kuroko.

“Hari Senin, perkenalkan lagi dirimu kepadaku! Aku tidak tahu lagi siapa dirimu.”

Akashi membuka pintu lalu menutupnya lagi tanpa berpaling ke belakang. Dirinya tidak mau melihat apakah Kuroko sedang menangis atau tidak.

 


 

 

“Kuroko-cchiiiii! Apa yang kau lakukan dengan rambutmu?! Kenapa jadi seperti itu?”

Kise Ryona yang baru saja datang ke kelas Kuroko untuk main saat istirahat langsung ribut begitu melihat pemandangan di depannya. Kise bahkan belum sampai di depan Kuroko.

Kise merupakan salah satu teman satu tim dari Kuroko. Remaja perempuan yang juga bekerja sebagai model. Rambut panjang kuningnya yang dikuncir di bagian samping kiri belakang bergerak naik turun mengikuti Kise yang setengah berlari. Suara yang baru saja dikeluarkan Kise benar-benar menarik perhatian semua orang yang ada di kelas.

Kise segera bergerak ke arah bangku Kuroko. Di belakangnya, Kagami Taiga juga ikut masuk ke kelas. Remaja perempuan bertubuh tinggi tersebut dengan rambut merah darah bergradasi hitam yang diikat dengan gaya pony tail, merasa kaget dengan apa yang terjadi dengan rambut Kuroko.

Kagami dan Kise baru saja kembali dari kantin untuk makan siang. Tempat duduk yang kebetulan kosong di depan Kuroko langsung diduduki oleh Kise. Dirinya memang tahu siapa pemilik tempat duduk tersebut dan merasa jika pemiliknya tidak akan merasa keberatan. Kagami memilih untuk berdiri di samping meja Kuroko. Ia sepertinya merasa tidak sabar jika harus duduk.

“Kuroko-cchi, kenapa tiba-tiba potong rambut dengan model laki-laki –ssu? Aku tahu kalau memang ada beberapa model potongan rambut tomboy yang sedang populer, tapi bukan yang seperti ini. Ini sudah pasti model untuk laki-laki –ssu.”

Kise sekarang benar-benar bersikap seperti seorang kakak perempuan yang sedang mengomentari adik perempuannya. Bukannya mau bersikap cerewet tetapi ia tidak mau jika adik perempuannya dikira sebagai laki-laki.

“Aku hanya sedang ingin memiliki rambut pendek Kise-san. Kalau seperti ini aku tidak perlu merasa kesulitan saat sedang bermain basket.”

“Aku tidak percaya kalau kau melakukan ini sendiri Kuroko. Aku yakin pasti ada orang yang mempengaruhimu. Siapa orangnya? Jangan bilang kalau itu si Ahomine.” Kagami ternyata juga sama tidak sabarnya dengan Kise.

“Tidak, Aomine-kun tidak pernah menyarankan hal itu. Aku sendiri yang memutuskan untuk memotong rambutku dengan model seperti ini. Ini adalah model rambut Ayahku.”

Kise merasa tidak percaya dengan jawaban yang baru saja keluar dari mulut Kuroko. Dirinya tidak menyangka jika ternyata ada remaja perempuan seumuran dengannya yang ingin memiliki model potongan rambut seperti Ayahnya. Maksudnya, hal itu mungkin saja terjadi tetapi kalau modelnya itu yang sedikit feminim.

“Midorima-cchi? Mungkin dia bilang kalau lucky item untuk Aquarius adalah model rambut laki-laki –ssu. Dan Kuroko-cchi menurutinya.”

“Bukan Kise-san. Aku rasa lucky item seperti itu tidak akan ada dan aku bukan penggemar Oha-Asa.”

“Murasakibara? Ia mungkin hanya sedang asal bicara.”

“Bukan Kagami-san. Murasakibara-kun tidak begitu peduli dengan penampilan.”

“Kalau begitu si Haizaki, Ia pasti cuma mau iseng.”

“Bukan lagi Kagami-san. Haizaki-kun tidak pernah mencoba untuk berbuat iseng denganku.”

“Jelas –ssu. Dia bisa diancam Akashi-cchi kalau sampai seperti itu.”

“Oke, berarti pilihannya tinggal Akashi. Aku tahu kalau suatu saat Ia pasti bisa berpikir aneh.”

“Tidak mungkin –ssu. Penggemar Akashi-cchi bisa langsung potong rambut semua kalau seperti itu. Dan aku belum dengar ada yang membicarakan itu –ssu.”

Kuroko menghela napas dalam hati. Ia memang sudah tahu bahwa kedua teman di depannya ini memang memiliki kondisi dimana otak mereka kekurangan ide untuk berpikir. Jadi, dirinya hanya bisa membawa diri dengan sabar. Perdebatan mengenai rambut Kuroko masih saja dilanjutkan oleh Kagami dan Kise. Walaupun Kuroko sudah menegaskan dengan jelas bahwa memang dirinya sendirilah yang memutuskan hal itu.

Saat waktu sudah mendekati waktu selesai istirahat, Akashi berjalan memasuki kelas dan bergerak ke arah Kagami, Kise, dan Kuroko. Kise yang menyadari hal itu langsung berdiri dan menghampiri Akashi untuk berbicara soal rambut Kuroko.

“Akashi-cchi apa kau tahu kenapa Kuroko-cchi potong rambut dengan model seperti ini?” Kise berbicara sambil menunjuk ke arah Kuroko. Kuroko sama sekali tidak menengok kearah Akashi. Dirinya sedang merasa segan untuk berinteraksi langsung dengan Akashi.

Akashi lalu melihat kearah Kuroko. “Maaf, Aku tidak mengenal orang itu. Jadi, aku tidak mungkin tahu alasannya.”

Mulut Kise langsung terbuka. Hal ini terjadi sebagai reaksi terkejut setelah mendengar perkataan Akashi. Dirinya seperti tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Kagami yang juga terkejut langsung memberikan protes kepada Akashi. “Dia ini Kuroko! Kuroko Tetsuna! Masa kau tidak mengenalnya? Dia cuma potong rambut, bukan operasi plastik.”

“Aku sudah bilang bahwa aku tidak mengenalnya. Mau kalian protes sampai kapanpun, hal itu tidak akan berubah. Lagipula, orang ini belum mengenalkan dirinya kepadaku.”

Akashi lalu berjalan melewati Kagami dan Kise. Ia kemudian duduk di bangku yang ada di depan meja Kuroko. Akashi kemudian menoleh kepada Kise dan Kagami. “Ini sudah waktunya kalian kembali ke kelas. Pergilah!”

Kagami yang memiliki temperamen tinggi merasa tidak terima dengan jawaban Akashi. Jawaban tersebut sama sekali tidak menjelaskan apa-apa, justru malah menghadirkan pertanyaan baru. Kise langsung bereaksi untuk menahan Kagami. Dirinya tahu bahwa Akashi sudah tidak mau diganggu lagi. Selain itu, terasa juga ada suasana tidak menyenangkan diantara Akashi dan Kuroko. Kise lalu menengok kepada Kuroko untuk mencari jawaban. Tetapi Kuroko hanya memperhatikan pemandangan di luar seakan-akan dirinya sama sekali tidak mendengar percakapan yang baru saja terjadi.

Bel tanda selesai istirahat berbunyi. Melihat sikap Kuroko, Kise memutuskan untuk benar-benar mundur. Dirinya akan bertanya kepada Kuroko nanti, saat Akashi sedang tidak berada di dekat mereka. “Baiklah, kami kembali ke kelas dulu –ssu. Bye-bye Kuroko-cchi dan Akashi-cchi! Ayo Kagami-cchi!” Kise bergerak sambil menarik lengan Kagami.

“Tunggu dulu Kise! Akashi dan Kuroko jadi aneh!” Kagami ternyata masih protes walaupun bel sekolah sudah berbunyi.

“Nanti saja –ssu! Ini sudah waktunya untuk kembali ke kelas.”

Suara Kagami dan Kise akhirnya sudah tidak terdengar lagi. Tetapi bukan berarti suasana kelas jadi hening. Guru masih belum masuk ke kelas Kuroko dan kejadian tadi berhasil menarik perhatian murid-murid lain. Bisa terdengar sayup-sayup pembicaraan mengenai Akashi dan Kuroko.

Seluruh murid di kelas sudah tahu bahwa Kuroko adalah teman baik dari Akashi dan bisa dikatakan juga bahwa Akashi memang paling dekat dengan Kuroko di kelas ini. Mereka sebenarnya juga sempat bertanya-tanya mengapa Kuroko tiba-tiba potong rambut saat mereka sadar dengan kehadiran Kuroko saat sedang dilakukan cek kehadiran. Tetapi, sedikit keributan tersebut tidak berlangsung lama. Mereka tidak mau jika Akashi terus mengeluarkan hawa tidak menyenangkan sepanjang pelajaran, walaupun dari luar dirinya terlihat tenang. Sama seperti Kuroko yang bersikap tidak peduli terhadap pembicaraan teman-temannya.

Guru pelajaran berikutnya akhirnya datang dan suasana belajar kembali lagi.

.

.

.

Tega Selesai

(Akan berlanjut di cerita yang lain)

Notes:

Terima kasih kepada semua pembaca yang sudah mengikuti cerita ini dari fanfic pertamanya.
Cerita ini belum berakhir jadi nantikan kelanjutannya di fanfic berikutnya.

See you soon!

Notes:

Ini pertama kalinya Aku buat fanfic drama. Walaupun entah dramanya dapet atau ngak.
Dan fanfic ini lebih banyak dialognya.

Jika berkenan bisa dikomentari. Terima kasih.