Actions

Work Header

𝓓𝓾𝓪 𝓐𝓻𝓴𝓪 𝓢𝓪𝓽𝓾 𝓝𝓪𝓫𝓪𝓼𝓽𝓪𝓵𝓪☀️🌟

Summary:

Dua Arka, Satu Nabastala. Dua surya di satu langit, mustahil memang. Tapi jika matahari adalah bintang, maka bintang bisa menjadi matahari di tempatnya sendiri, bukan?

 

Dua benda langit yang serupa namun berbeda, sama-sama memberikan sinarnya pada insan-insan di dunia. Bagaimana jika keduanya, yang bersinar dengan cara yang berbeda namun dengan terang yang sama, bertemu?

 

Ini adalah kisah dua Arka yang dipisahkan oleh takdir. Tapi, siapa kira, Sang Semesta berkehendak agar keduanya bersatu kembali, layaknya Yin & Yang, yang dibutuhkan keseimbangannya?

 

"ᴛᴏʟᴏɴɢ ᴊᴀɢᴀ ᴅɪʀɪ ᴀʀᴋᴀɴᴀ."

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Prolog : Janji yang Menghantui

Chapter Text

“Arkana, kamu bisa saya percaya, kan?”

 

“Hm? Absolutely lah, mas. Kenapa emang?”

 

“Saya punya satu permintaan, mungkin pelajaran terakhir yang bisa saya berikan disini.”

 

“Maksud mas? Ngomongnya kok kayak mau pergi.”

 

“Jaga-jaga, Arkana. Tidak ada yang tahu kapan maut menjemput.”

 

“...”

 

“Saya cuma mau ngasih tahu, apapun yang terjadi, entah kamu melihat sendiri atau dengar dari siapapun, jangan pernah mencari saya sampai salah satu rekan saya mengkonfirmasi bahwa saya beneran kenapa-napa.”

 

“Hah? Tapi kan Juna gatau rekan-rekannya mas kecuali si Mas Onyxis.”

 

“Kamu akan selalu tahu kok, lihat saja apa mereka memakai pin lily putih yang saya beri. Benda itu tidak bisa dipalsukan, karena itu campuran gadolinium, platina dan emas putih itu alasan kenapa warnanya sedikit keperakan dan terasa dingin.”

“Gadolinium? Bukannya sangat sulit mencampurkan logam itu, mengingat sifat magnetiknya dan mudah teroksidasi?”

“Benar, itu lah yang membuatnya tidak bisa dipalsukan, karena gadolinium sulit mempertahankan warnanya karena mudah oksidasi. Itu juga trial dan error, yang kebetulan berhasil.”

 

“Berarti…”

"Benar, ҉k҉҉a҉҉l҉҉u҉҉n҉҉g҉   milikmu juga.”

“... Juna usahakan, mas. Untuk menepati permintaan mas."

 


“Ingat Arjuna Arkana,  ᏠᏗᏁᎶᏗᏁ ᏕᏋᏕᏋᏦᏗᏝᎥ⎾⟟⍴⌰☊ ⍓ℇ☊⍧⌾⌦⍲ ⍓ℇ☊⍧⍲☈⟟ ⎎⍲⍦⍲, 闩尸闩尸ㄩ𝓝 ㄚ闩𝓝Ꮆ ㄒ㠪尺丿闩ᗪ工.”

 

 

 

~

 




“*Gasp*”

 

Arjuna terbangun dari mimpinya dengan terengah-engah, matanya dengan panik mencari-cari ke seluruh ruangan sebelum akhirnya menenangkan diri begitu menyadari  bahwa itu semua hanyalah mimpinya, atau mungkin lebih tepatnya, kenangan.

 

Dirinya menghela nafas dengan lega namun berat, meminum segelas air yang ada di meja dekat tempat tidur, yang entah sejak kapan berada disana. Arjuna pun pelan-pelan mengumpulkan kesadarannya, akhirnya mengenali kamar nya yang minimalis itu. Diluar pun matahari belum menunjukkan dirinya.

 

‘Hufft… Mimpi itu lagi,’ batin Arjuna, mengusap wajahnya yang sedikit basah karena keringat.

 

Dia sudah kehilangan hitungan tentang berapa kali dirinya memimpikan kenangan pada masa Ia masih bekerja sebagai secret agent itu, sebuah janji yang dengan bodohnya Ia buat dan tak bisa dirinya langgar meski ada kemauan di dasar hatinya yang terdalam. Bagaimana dia tidak memperhatikan? Bahwa seniornya itu sudah menduga kemalangan sudah mendekat kepadanya, dan bahkan tidak repot-repot berusaha menghindarinya.

‘Okay, stop. Fokus pada masa ini, Aya hari ini sekolah,’ Arjuna menepuk nepuk pelan pipinya sebelum bangkit dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.



 

꧁⎝ 𓆩༺✧༻𓆪 ⎠꧂

 

 

“Kak Juna! Lihat bandana-nya Aya ga?”

 

Sang kakak menghela nafas pelan, Ia mematikan kompor dan menata nasi goreng yang sudah matang sebelum menghampiri kamar adiknya. Wajah Arjuna berubah menjadi sedikit masam melihat kamar adiknya itu sekarang berantakan karena si empu sedang mengobrak-abrik isi kamarnya untuk mencari bandana kesayangannya.

 

“Ya ampun, Aya! Kakak kan udah bilang, barang itu jangan sembarangan naruhnya!” tegur Arjuna sambil membantu Aya mencari bandananya.

 

“Maaf deh kak, Aya bakal lebih rapi deh,” ujar Aya dengan sedikit cengengesan, berusaha tidak membuat kakak tsundere nya itu makin marah.

 

Kedua bersaudara itu terus mencari bandana Aya, sampai mata Arjuna melihat sekilas bandana itu di sela-sela bantal. Dia mengambil bandana itu dan menunjukkannya kepada Aya dengan senyum ‘manis’ berbonus aura gelap di sekitarnya.

 

Ini apa namanya, hm~?” ujar Arjuna dengan nada manis yang dibuat-buat, Aya yang mendengarnya langsung merinding seketika.

 

“Ehe~ Aya kira Aya taruh di lemari,” Aya memberikan cengiran kecil pada kakak nya yang sudah dikelilingi aura hitam.

 

“Lain kali, cari tuh pake mata,” Arjuna berdecak kesal sambil memberikan bandana itu pada adiknya. Aya dengan gembira langsung memakai bandana kesayangannya itu

 

“Hehe~ okey kak Juna.”

“Yaudah. Ayo, cepet beresin terus sarapan. Jangan sampe telat.”

 

Arjuna pun meninggalkan adiknya yang membereskan sebagian besar kekacauan kamarnya dan kembali ke dapur, menata bekal untuk adiknya. Beberapa saat kemudian, Aya akhirnya keluar dari kamar dan bergabung dengan kakaknya yang sudah mengerjakan pekerjaannya disambi sarapan.

 

“Kak Juna kalo makan, jangan disambi kerja dong! Kasihan makanan nya kakak PHP-in sama kerjaan kakak!” Tegur Aya pada Arjuna yang lebih fokus pada hp-nya itu ketimbang menyuap sesendok nasi goreng yang hanya Ia pegang daritadi.

“Iya, iya,” jawab Arjuna dengan segera menyimpan handphone-nya di saku dan kedua bersaudara berinisial AA itu melanjutkan sarapan dengan tenang yang diselipi beberapa obrolan ringan.

 

.




“Kak Juna, Aya berangkat dulu!”

“Gaada yang ketinggalan kan?” tanya Arjuna sambil memastikan pelacak dan panic button yang dia pasang di hp Aya berfungsi dengan sempurna.

 

“Udah semua kok. Nih!” Aya menunjukkan bekal yang disiapkan Arjuna pada si empu, “Bekalnya juga udah!”

“Yaudah, ati-ati berangkatnya,” Arjuna menghela nafas dan mengembalikan hp adiknya ke pemiliknya.

“Daah, Kak Jun!”

 

Arjuna tersenyum tipis dan melambaikan tangannya balik pada adiknya yang dengan riang berangkat ke sekolah bersama teman-temannya itu. Begitu adiknya menghilang dari pandangan, sang ladder segera membuka file-file yang Nakula kirimkan pagi ini dan segera membacanya.



⋆˖⁺‧₊☽◯☾₊‧⁺˖⋆ 

 

Hm?”

Suncatcher yang dijadikan lonceng angin itu berderak dengan kacau dan tidak harmonis, yang tidak seperti biasanya, mengalunkan melodi acak yang indah nan harmonis. Hal itu membuat si pemilik lonceng itu merasa bahwa sesuatu akan terjadi, sesuatu yang mungkin tak pernah ia bayangkan.

“Starlight, ayo cepat! Toko akan segera buka!”


Teriakan itu membangkitkan si empu dari lamunannya dan segera meninggalkan lonceng angin itu untuk segera bergegas. Tanpa sepengetahuan si pemilik wind chimes itu, beberapa suncatcher membentuk siluet dua matahari.

 

 

 

 

 

~𝒯𝑜 𝒷𝑒 𝒸𝑜𝓃𝓉𝒾𝓃𝓊𝑒𝒹