Chapter Text
"Dew!" Seru Nakula memanggil sambil melambai saat melihat kembarannya dari kejauhan. Ia berlari kecil saat Sadewa mendekat.
"Heh, jangan lari-lari. Nanti kepeleset jatuh" Sahut Sadewa sambil menatap wajah adiknya yang nampak agak pucat. Sudah 6 tahun berlalu dari mereka berdua terakhir bertemu, namun selama ini masih tetap berhubungan melalui surat pada awalnya sampai chat dari ponsel.
Nakula memeluknya tanpa aba-aba, dan Sadewa membalas pelukan itu lebih erat. Sedikit aroma melati tercium dari adiknya. Selang beberapa menit, Nakula melepas pelukan itu dan bersidekap tangan di dada dan memasang wajah cemberut. Lalu pergi melongos ke arah barang bawaannya dan mendorongnya ke Sadewa.
"Ya habisnya kau lama banget. Ini barangku beraat! Nih, bawain"
"Baru juga ketemu, udah jadi kuli" Gerutu Sadewa namun tetap mengambilnya.
"Salah siapa yang TELAT jemput aku! Lihat jam berapa sekarang, aku datang jam 3 pagi sekarang udah jam 5 lewat!"
"Maaf bar nya rame tadi. Barusan selesai, aku malah belum mandi, langsung kesini"
"Yawes, makasihh! Walau telat parah" Nakula berbalik pergi berlawanan dengan pintu keluar stasiun.
"Mau kemana?" Tanya Sadewa, Nakula menoleh menjawab
"Tunggu bentar, mau ke toilet aku. Jagain barangku"
"Iya iya bawel" Sahutnya sambil menatap punggung adiknya yang perlahan menghilang diantara kerumunan.
.
.
.
.
"Mau beli sarapan dulu? Atau nunggu aku masak?" Tanya Sadewa, pandangannya fokus ke jalan dan menyetir dengan halus. Nakula yang duduk disebelahnya berpikir sebentar.
"Lama ngga masaknya?"
"Ngga lah, kau tinggal mandi sama ganti baju juga selesai" Jawab Sadewa sambil memakai kacamata hitam yang diambilnya dari dashboard mobil.
"Emang masak apa?"
"Bubur ayam sama sup"
"Buatin teh anget ya sekalian, pakai teh yang kubawa aja. Lebih enak" Nakula mulai mencari di tas batik birunya, barang yang dimaksud.
"Teh melati yang bungkusnya putih itu?" Sadewa memastikan, hampir hapal diluar kepala karena tiap seminggu sekali Nakula pasti cerita tentang petualangannya mencari teh yang enak rasanya.
"Mau yang mana lagi?"
.
.
.
Mobil itu sampai di depan rumah dua lantai yang cukup besar dengan halaman depan cukup terawat, meski terlihat jarang dihuni. Dan masuk terparkir di garasi samping rumah.
Nakula menatap rumah yang akan menjadi tempat tinggal itu dengan pandangan ragu. Lalu menoleh ke Sadewa yang saat ini mengeluarkan barang bawaannya dari bagasi mobil.
"Kau yakin aku bisa tinggal di sini?"
"Yakin, kenapa?"
"Aku ngga enak ketemu suaminya mama"
Nakula tau suami baru mamanya adalah pria yang baik, namun ia tetap canggung saat berinteraksi dengannya. Wajar, karena hanya bertemu dua kali : saat hari peringatan kematian bapak dan liburan kenaikan kelas saat usia 14 tahun.
"Ngga serumah juga, cuma kita berdua disini" Sahut Sadewa menenangkan sambil setengah merangkul Nakula.
"Ha? Emang bisa?"
"Ya bisa lah kocak. Udah, jangan mikir yang aneh-aneh. Cepet masuk, tadi bilang capek" Sadewa mengacak rambut Nakula dengan keras dan dibalas teriakan melengking adiknya yang risih.
"Iya iya, kau yang masuk duluan! Yang pegang kunci kan kau" Balasnya dengan mendorong Sadewa dari belakang menghindari tangan kematian yang bisa membuat kepalanya botak!
"... Eh iya"
"Bodo" Sadewa terkekeh geli mendengar gerutuan adiknya. Membuka kunci rumah, dan mempersilahkan Nakula masuk duluan.
"Nah, masuk. Duduk disofa dulu, aku bawa barangmu keatas" Katanya sambil menggotong bawaan Nakula dibahunya. Cukup berat.
"Lho, aku dikamar atas? Ngga dibawah aja?"
"Kenapa? Takut?"
"Ih, mana ada. Aku pergi ke kebun eyang putri sendirian jam 4 aja berani! Enak aja kau bilang"
"Terus kenapa?"
"Ngga kebiasa"
"Sengaja aku atur gitu. Kau kan perlu tempat tenang buat studimu nanti, jadi mending diatas biar ngga keganggu"
"Oh, gitu ya, dew" Sarkas Nakula
"Mandi sana, kamar mandi nya disitu. Pakai ini dulu. Nanti malam atau besok baru belanja keperluan mu" Sadewa memberikan handuk dari lemari ke Nakula dan menunjuk arah kamar mandi. Mengangkat lagi bawaan nakula dan berjalan naik keatas membawa barang bawaan adiknya.
"Sebegitu bau kah aku?" Nakula mencium kemeja dan jaketnya yang masih wangi. Mengangkat bahu sebentar, ia pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual pagi yang khusyuk.
.
.
.
Setelah mandi dan berbau harum, Nakula memastikan tiga kali, sebelum keluar dari kamar mandi dan duduk di ruang santai. Sadewa masuk dan membawa nampan berisi dua mangkuk besar bubur dan dua mangkong kecil sup yang harumnya semerbak. Mereka berdua makan dalam diam dan lahap.
"Beneran enak masakanmu" Kata Nakula mengusap perutnya yang kenyang. Sadewa mengangguk sambil beberapa kali menguap.
"Hoamm" Menguap lagi, Sadewa membawa peralatan makan yang kosong ke dapur dan mencucinya. Lalu kembali lagi dengan membawa toples kecil berisi kue, memberikannya ke adiknya.
"Nanti malam kerja lagi?" Tanya Nakula sambil membuka toples dan memakan kue nya perlahan. Sadewa duduk dan merebut kue dari tangan Nakula yang mendelik sebentar sebelum mengabaikannya.
"Iya, mau ikut?" Sadewa menerima toples kue dari Nakula yang udah kenyang, dan memakan beberapa lagi sebelum menutupnya.
"Mager. Mau bobo cantik aja aku" Sahutnya sambil merebahkan tubuh disofa, menyamankan posisinya dan menguap lebar. Menatap Sadewa dengan linglung, mengantuk.
"Ya udah. Aku berangkatnya agak sore supaya besok bisa temani kau belanja" menatap jam penuh pertimbangan, mengangguk mengambil keputusan.
"Yee, aku sendiri juga bisa, tau" Gerutu Nakula dan dijawab dengan geli dari kembarannya.
"Daripada nyasar, aku sendiri yang pusing tujuh keliling cari kau. Kamarku di sebelah sana" Tunjuk Sadewa ke sebuah kamar dekat tangga. Kemudian bangkit dan menaruh toples kue di lemari penyimpanan.
"Aku tidur disini boleh nggak? Udah nyaman..."
"Mau tambah bantal?" Tanya Sadewa menuju kamarnya untuk mengambil beberapa bantal.
"Mau, hoamm. Ngantuk aku" Nakula menerima bantal itu dan segera memakai dan membuat posisi yang nyaman di sofa yang empuk itu.
"Nih, pakai selimut juga"
"Iyaa, taruh aja disitu. Mau kemana?" Gerutu Nakula menunjuk sandaran sofa di kakinya sambil memperhatikan Sadewa mengambil sesuatu dari laci meja. Sebelum memejamkan mata, tertidur.
"Ke teras depan, ngerokok sebentar"
".... "
"? Udah tepar duluan" Tidak ada jawaban, mendapati kembarannya yang sudah pulas tertidur.
Sesaat Sadewa kembali dari mengambil rokok dan mendapati kembarannya sudah berselimut seperti ulat. Bukannya tadi ngga makai ya? Masa bodo, Sadewa pergi keluar tanpa tahu ada yang mengamati dalam diam.
.
.
.
#Keesokan harinya, jam 09.00, kamar Sadewa
"Dew" Panggi Nakula dari samping tempat tidur. Menatap Sadewa yang masih tertidur.
".... "
"Mas Sadewa" Panggilnya sekali lagi.
"..... "
".... AAAAAAAAAAAA DEWAAAAA! " Akhirnya karena jengkel ia berteriak tepat di samping kakaknya.
BRAK
Sadewa terjatuh dari tempat tidur karena kaget akan teriakan keras yang tiba-tiba.
"ngga usah teriak bisa ngga sih?" Sahutnya cemberut sambil mengusap telinganya pelan. Nakula tidak Terima dan mulai mengomel.
"Mana bisa. Dibangunin dari tadi kau ngga bangun-bangun. Kaya kebo"
"Mana ada kebo ganteng kayak aku" Dengan pedenya, Sadewa membuat pose keren dan mendapat jawaban muka speechless Nakula yang khas, disusul ledakan tawa nyaring.
"Bwahahaha, ngapain kau nyamain diri sama kebo"
"Kau duluan. Jam berapa sekarang?"
"Jam 09.15, mandi sana!"
"Iya iya. Nanti sekalian makan diluar ya?"
"Makan siang? Boleh boleh. Aku tadi pagi beli roti. Sarapan itu aja dulu. Spreimu ganti sekalian sana, bau semua!" Perintah Nakula sebelum keluar dari kamar kembarannya.
.
.
.
Sadewa memasuki ruang santai dan mendapati Nakula yang membaca buku.
"Udah siap?"
"Belum lah. Kau ngga makan dulu?" Tanya Nakula dengan tatapan memperingatkan, Sadewa mengalah.
"Yaudah aku makan. Kau ganti baju sana dulu"
"Iya, tungguin. Awas kalau kau tinggal" Balas Nakula sambil berlari kecil keatas untuk mengganti pakaian.
"... Buat kopi dulu. Guntingnya dima- lah kok disini? Perasaan aku simpan laci" Herannya, seingatnya tadi ngga ada gunting.
"Pasti Na yang mindahin" Lirih Sadewa, positif thingking. Kemudian mengambil sepotong roti dan memakannya.
/nomnomnom/ (suara mengunyah)
Tangannya bergerak untuk memasak air dan mengambil toples bubuk kopi.
"Buat kopi?" Tanya Nakula memasuki dapur saat mencium aroma kopi yang khas. Kemudian duduk dan menatap gerakan halus kakaknya.
"Kau mau? /Nomnom/ dibuatin kopi atau teh?" Tanyanya sambil mengangkat toples kopi dan toples teh.
"Ngga, nanti kepuyuh aku. Malas cari-cari toilet" Tolaknya cepat.
"... Toilet banyak lho, ngga satu. Pasti kau ke toilet nanti habis kita makan juga"
"Ngga akan" Bantah Nakula cepat, mengetahui kondisi tubuhnya sendiri.
"Mau taruhan?" Tantang Sadewa.
"Taruhan apa?" Nakula tak mau kalah.
"Yang kalah harus mau ngelakuin 1 hal permintaan dari yang menang" Sadewa membuat ide yang bagus, karena jarang bisa meminta Nakula melakukan sesuatu tanpa alasan jelas.
"Permintaan yang masuk akal tapi, ngga aneh aneh!" Mengetahui pikiran picik Sadewa, Nakula menambahkan persyaratan.
"Iyalah, aneh-aneh mah kalau kau menang pasti suruh aku-"
Sadewa terdiam, membayangkan beberapa kemungkinan yang memalukan.
"-ngga jadi"
"Ha?" Nakula meminta penyelesaian kalimat yang terputus itu.
"Kau dapat ide aneh nanti" Gerutu Sadewa sambil membereskan dapur setelah makan.
"Yawes ben karepmu. Jangka waktunya sampai kapan?"
"Jam 4 sore"
"... Masuk akal. Tadi kalau kau bilang jam 7 malam, ku hantam pakai panci ya"
.
.
.
#Garasi rumah, pukul 17.00
"Ini sumpah, kau mau buka toko ya? Belinya banyak gini" Omel Sadewa mengeluarkan belanjaan Nakula dari bagasi mobil dan dari kursi belakang. Sebagian Nakula membantu membawanya.
"Banyak apanya? Ini dikittt, kalau banyak dan bisa mah, aku beli nya full 1 pick up" Balas Nakula jengkel.
"... Nawarmu juga beringas tadi" Sadewa merinding mengingat bagaimana Nakula menawar harga serendah-rendahnya seperti mau membuat keributan. Khas ibu-ibu mode.
"Itu namanya hemat, mas Sadewa. Aku kan juga belum dapat kerja sampingan kalau tugas studiku udah agak longgar. Ish, udah jangan banyak omong, bantuin ini napa. buka bungkusnya sambil nata gitu"
"Iya iya, perasaan aku omong cuma dua kali" Gerutunya pelan namun tetap membantu adiknya.
" Eh eh eh, kau ngapain nginjak karpet masih sepatu!?" Nakula merasa amarahnya naik lagi melihat dengan jelas Sadewa tanpa masalah menginjak karpet dengan sepatu!
"Lha kan biasanya juga gini, kocak" Balas Sadewa cepat
"Engga ngga ngga! Lepas sepatunya! Aturan pertama Nakula : dilarang nginjek karpet pakai sepatu dari luar!" Nakula mengomel dengan agresif. Sadewa mundur, menjauh beberapa langkah ke belakang dari karpet.
"Hish, ngga usah teriak teriak napa. Iya iya aku lepas sepatunya. Pakai sandal rumah boleh?"
"Boleh, pokoknya alas kaki dari luar, lepas didepan!" Perintahnya tanpa mau bantahan. Mendelik yang menurut Sadewa lucu.
"Nggih, doro" Sadewa membuat pose membungkuk seperti menerima titah dari penguasa.
"Berhubung aku menang taruhan, permintaan nya aku simpan dulu buat nanti"
".... Iya iya, Nakula adikku tersayang"
"Aku beneran gapapa tanam bunga di halaman samping?" Tanya Nakula memastikan. Ada sedikit keraguan dalam pertanyaannya.
"Iya gapapa, ini kan rumahmu juga. Bebas mau ngapain" Balas Sadewa
"Makasih ya, mas"
"Iya, sama-sama. Eh, memangnya mau tanam apa?"
"Bunga melati sama bunga Asoka"
".... Secinta itu kau sama melati"
"Wanginya enak lho" Angguk pasti dari Nakula.
.
.
.
#Keesokan harinya, jam 9 pagi
Nakula jongkok ditanah, celana pendek dan bajunya sedikit kotor. Lalu menatap Sadewa yang berdiri memandanginya sambil tersenyum.
"Dewa, bantuin! Ngapain pegang sekop doang ngga bantuin"
"Sengaja" Jawabannya dengan cepat
"Sengaja buat aku marah!"
Sadewa tertawa geli
"Geser dikit, aku bantuin gali tanahnya"
Nakula menggeser badan
Sadewa mulai menggali tanah yang ditunjuk kembarannya.
"Melati itu jangan terlalu kena panas. Sukanya ditempat yang agak adem"
"Kayak kau"
"Apalagi kau ini. Namanya jalan kalau ada pilihan tempat yang adem ya orang pilih yang itu lah. Ada pilihan mudah, kok milih yang susah" Ucap Nakula
"Bener juga"
/angin sepoi lewat membawa aroma melati/
membuat Sadewa sedikit heran, namun ia abaikan.
"Nah, gini kan bagus. Ngga surem" Nakula mengangguk puas melihat hasil tanamannya.
"Iya iya"
"Nanti malam kerja?"
"Iya, berangkatnya agak malem. Baru pulang besok pagi. Nanti aku masak dulu, kau tinggal manasin kalau mau makan"
"Sarapan besok aku yang beli. Ngga usah masak, capek nanti"
.
.
.
#Dua hari kemudian
Nakula menatap kantung mata Sadewa yang semakin menghitam. Aura hitam melekat, posisi badannya agak membungkuk, tidak seperti biasanya. Mungkin orang bilang karena capek kerja dari sore sampai pagi hari. Namun Nakula tidak berpikir seperti itu. Ini bukan hal yang normal terjadi.
"Dew"
"Apaa?"
"Duduk di sofa, aku pijit"
"...? Tumben"
"Masa ngga boleh? Mukamu kayak mau semaput tau"
"Kan tinggal kau angkat, harusnya bisa"
"Lambemu! Kau berat tau, mau aku seret kayak nyeret karung beras 50 kilo?!"
"Pfttt, aku ngebayangin tahu, bwahahaha"
"... Cepetan!"
"Iya iya"
"Lepas bajumu! Aku urut pakai minyak pijat"
Sadewa duduk dibawah, sedikit merosot ke sofa. Nakula dibelakangnya duduk disofa. Membuka botol minyak pijat yang mengeluarkan aroma rempah yang khas dan sedikit aroma lavender tercium. Baunya cukup enak, pikir Sadewa.
Tangan Nakula mulai memijat pundak nya pelan dan ritmis
Dari pundak pindah ke leher, lalu ke punggung.
Beberapa kali terhenti lama di beberapa titik
Berulang-ulang, dengan pola persis sama. Seperti dipijat oleh dua tangan lebih.
"Ada yang sakit bagian lain ngga?"
"Ngga, yang kau pijit itu yang agak sakit. Terusin, enak tau. Badanku pegel semua"
"Emang habis angkat banyak barang di bar?"
"Ngga lah. Mungkin karena bar rame beberapa hari terakhir"
"Udah selesai mijitnya"
"Makasih ya, enteng jadinya badanku. Besok-besok lagi ya?"
"Yee, besok kasih upah apa gitu. Masa iya gratis"
"Besok aku bawain brownies yang kau suka itu"
"Bener ya? Awas besok ngga dibawain"
"Engga lah"
.
.
.
#Tiga hari kemudian
Sadewa merasa kondisi tubuhnya mulai menurun. Untungnya ada Nakula yang bersedia memijitnya, membuatnya terasa lebih baik. Namun itu hanya solusi jangka pendek. Apakah dia perlu berolahraga lagi lebih rutin?
Pikirannya melayang sampai ia melangkah ke garasi untuk berangkat ke bar. Saat masuk, ia tidak sadar kalau Nakula mengikuti nya tanpa suara dalam diam. Tepukan keras dipunggung berulang kali menyadarkan nya dari lamunan yang tidak terasa.
Harusnya terasa sakit
Namun, entah kenapa tepukan itu membuat badanya terasa lebih ringan
Seolah sesuatu yang menekan tubuhnya sejak pagi
Hilang begitu saja
Sadewa mengeryit
Aneh
Mungkin karena dia terlalu capek?
"Dew! Ish, kau melamun daritadi. Aku panggil ngga jawab-jawab! Aku ngga yakin kau bisa nyetir ke bar dengan selamat kalau keadaanmu kayak gini" Omel Nakula berkacak pinggang, menatapnya dengan khawatir. Tapi tadi Sadewa merasakan tatapan adiknya lebih lama dari yang seharusnya.
"... Maaf, aku ngga konsen, Na"
"Hari ini ijin dulu ngga ke bar bisa ngga?"
"Ngga bisa, anak-anak hari ini ada yang ijin"
"Kalau gitu, hari ini aku temenin ke bar!" Kata Nakula dengan nada yang lebih tegas dari biasanya. Membuat Sadewa speechless sebentar.
"Tumben, ngga mau bobo cantik aja dirumah?"
"Malas, kau buat aku khawatir dari pagi tau. Malah ngga pules tidurku nanti"
"Ya udah. Ganti baju sana, aku tungguin disini. Jangan lupa kunci pintunya" Kata Sadewa sambil bersender dimobil. Menatap Nakula yang berjalan masuk ke rumah.
"Iya iya, bawel! Tungguin, awas kalau ninggalin"
"Perasaan yang bawel itu dia sendiri" Gumam geli Sadewa.
.
.
.
#Bar
Suasana bar lebih ramai dari biasanya. Sadewa terus menatap kembarannya yang duduk di pojok sesekali waktu ia luang untuk memastikannya tidak berkeliaran sembarangan. Untungnya ada beberapa pelanggan tetap wanita yang bersedia menemani adiknya berbicara setelah melihat Nakula yang menempel padanya sejak masuk ke bar.
Sepertinya mereka sudah cukup akrab, ia melihat Nakula yang mulai berbicara bawel seperti biasanya dan obrolan berlanjut lebih seru. Ia tak khawatir lagi dan melanjutkan perkerjaan seperti biasanya.
Entah kenapa suasana di bar terasa lebih ringan
Musiknya masih sama
Bisingnya masih seramai biasanya
Tapi
Tidak seberat tadi
Mengabaikan perasaan itu, Sadewa mulai melayani pelanggan yang mulai berdatangan
Ia mengusap lengannya pelan
Dingin
Padahal bar sedang ramai
.
.
.
Nakula senang mendapat teman mengobrol baru, kakak-kakak -ia yakin mereka menolak dipanggil tante- membeberkan beberapa fakta dan rumor yang cukup menarik. Kebanyakan mengenai Sadewa sisanya tentang kondisi keluarga mereka dan kondisi lingkungan para elite kaya.
Sebagai balasan nya, Nakula memberikan tips hidup kepada mereka dari eyang putri dan beberapa tentang hal-hal lain. Pertama mereka agak skeptis, namun Nakula membujuk untuk mencoba satu kali, karena tidak ada salahnya kan? Akhirnya mereka setuju dan obrolan santai itu berlanjut. Nakula pamit ke toilet sebentar, ada 'beberapa hal' yang perlu ia urus.
Nakula berjalan menyusuri lorong yang agak redup
Langkahnya terhenti sesaat di depan pintu toilet
Senyumnya memudar
'Licin juga' gumamnya pelan
Selang beberapa jam, bar sudah mau tutup. Pelanggan wanita mengucapkan selamat tinggal dan beberapa dengan semangat memuji Nakula kepada Sadewa, bahkan memberi tips yang cukup banyak.
"Kau kayak maneki neko, Na. Ini pertama kali lho dapat tips sebesar ini. Ayo tiap hari ikut ke bar aja ya"
"Emoh, malas kali. Bobo cantik aja aku di rumah, dapat beberapa tips perawatan dari kakak-kakak tadi" Tolak Nakula dengan cepat. Kesini saja sudah menghabiskan banyak energi.
"Oh, kau memanggil mereka kakak-kakak? Bukan tante?"
"Hee, kau kira aku apa? Emang ada wanita yang mau dipanggil dengan sebutan tua seperti tante-tante sedangkan mereka berusaha keras perawatan dan berdandan cantik supaya kelihatan lebih muda? EQ nya jongkok itu kalau ada yang manggil mereka Tante"
Pfft
"hahaha, bener juga. Pintarnya kembaranku" Tawa Sadewa dan dengan semangat mengacak rambut Nakula dengan gemas. Diiringi teriakan kaget adiknya yang berusaha lepas dari cengkramannya.
"Ish, ngga usah ngacak rambutku napa! Berantakan tau!!" Geram, Nakula mulai menjiwit lengan Sadewa dengan brutal.
"Adu duh duh, Na sakit tau! Kau jiwit kecil kali!! Ampun Na!" Sadewa berusaha menjauh, namun Nakula lebih gesit dan tidak melepaskannya dengan mudah, dendam kesumat padanya.
"Hmm, rasain! Rasain!"
Tawa mereka berdua pecah di dalam bar yang hampir kosong
Dan untuk sesaat
Sadewa merasa ada yang ikut tertawa
.
.
.
#Tiga hari kemudian
Beberapa malam terakhir di bar terasa lebih aneh. Lebih dingin yang tidak mengenakan dalam beberapa hari terakhir. Sadewa sudah merasakannya dari awal, cuma dia abaikan. Namun malam ini terasa berbeda. Aura nya jauh lebih kelam, berat dan dingin. Hari ini ia menjaga sendirian, tekan kerjanya kebetulan ijin.
Sadewa sudah membersihkan bar, kursi sudah dinaikkan ke meja. Ia tinggal melap gelas untuk ditaruh di kabinet.
"Aneh"
Lampu berkedip
Awalnya pelan
Namun semakin lama
semakin cepat
"Kayaknya ada masalah dengan saklarnya"
Sadewa mulai mengirim pesan kepada pemilik bar untuk segera diperbaiki. Semua tugasnya sudah selesai. Kemudian ia mendapat chat dari Nakula, yang cukup mengejutkan karena biasanya dia jarang chat jam segini. Namun pesannya janggal
Dew, pulang sekarang. Jangan mampir kemanapun dan jangan noleh ke belakang apapun yang terjadi!
Baik, Sadewa akan menuruti semua kemauan kembarannya. Ia akan menanyainya nanti setibanya di rumah. Segera ia mengunci pintu bar, dan menuju ke mobilnya yang terparkir. Dan tancap gas, sesuai yang Nakula bilang.
Udara semakin pekat
Menekan dari segala arah
Ada suara di kursi belakang
Hembusan nafas dan geraman yang pelan
Bahunya terasa berat
seolah ada beban diatasnya
Namun Sadewa tetap berpegang teguh pada perkataan Nakula.
"Jangan noleh"
Segera, ia sampai dirumah.
Saat kurang selangkah untuk membuka pintu, kakinya tertahan sesuatu. Sekeras apapun ia coba melangkah, hasilnya nihil. Hawa dingin mulai menyebar, membuat bulu kuduknya berdiri. Ingin ia memanggil Nakula, namun suaranya tidak keluar sama sekali.
Jantungnya mulai berdegup kencang
Keringat dingin mulai muncul
Namun ia ingat untuk tidak menoleh ke belakang
Ia menurut
Sunyi
Terlalu sunyi
Namun, hal mengerikan terjadi
Sesuatu menyentuh bahunya
Berat
Lalu-
Sosok wajah terjulur dari bahunya, kemudian menoleh kearahnya.
Mata kosong
Muka bercucuran darah, setengah kepala hancur
Mulut yang terbuka terlalu lebar
Reflek, Sadewa terhuyung maju karena tambahan berat dari belakang tubuhnya-
Kemudian tangannya digenggam oleh tangan hangat dan ditarik ke arah dalam rumah.
Ia jatuh terduduk
Sadewa menatap punggung Nakula didepannya, yang berani menatap makhluk mengerikan itu.
"Pergi! "
Kemudian, Sadewa merasakan hembusan angin kencang dari dalam rumah, sesosok perempuan rambut panjang dengan baju abu-abu gelap melesat dan menerjang makhluk itu.
Terus berkelahi di udara
Hingga membentuk nyala api yang tidak lazim
abu-abu dan hitam
Energi yang saling bertabrakan membuat ledakan
Pertarungan yang sengit
Yang hitam perlahan melemah
Diiringi teriakan mengerikan dan makhluk itu lenyap.
Kemudian ada satu sosok lagi
Wanita memakai kebaya putih hijau
Dengan rambut disanggul
Berdiri tepat di depan Nakula
Menatap pertarungan didepan dengan tenang
Menjaga mereka berdua dari depan
Kemudian sosok wanita kebaya itu berbalik
Wajahnya cantik
Menepuk bahu Nakula pelan sambil tersenyum
Lalu
Berjalan pelan ke arahnya yang masih terduduk
Dahinya diketuk pelan
Namun membuat tubuhnya semakin rileks
Wanita itu berlalu, masuk ke dalam rumah.
Sadewa merasakan Nakula merangkulnya sebentar dan memboyongnya masuk. Ia didudukan disofa, sementara Nakula ke dapur dan kembali membawa secangkir air madu hangat untuknya.
"Minum dulu, tarik nafas pelan-pelan"
/minum/
15 menit berlalu dengan hening. Nakula setia di samping sambil mengenggam tanganya.
".... Na, itu tadi apa?"
Nakula tidak langsung menjawab, lalu berkata dengan tenang
"Yang dulu waktu kecil aku pernah cerita ke kau beberapa kali.... Tapi kau tidak percaya"
Hening sesaat
"Sejak kapan kau tau ada makhluk itu di bar?"
"Mulai seminggu yang lalu. Awalnya samar, cuma semakin hari semakin kuat aura jelek yang nempel saat kau pulang dari bar"
"Kau ngga takut?"
Nakula terdiam, lama.
"Dulu iya, sekarang udah engga. Kalau takut terus, capek"
Suara sadewa serak namun memaksa untuk bertanya
"Na... Kenapa ngga maksa aku buat percaya waktu itu? "
/menggengam tangan lebih erat/
Nakula tertawa kecil
Yang agak letih
"Mas, percaya itu tidak bisa dipaksa. Tapi dibangun"
"... "
Lidahnya kelu
Tubuhnya membeku kaku
Sadewa tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya yang harus dialami Nakula dari kecil sampai sekarang, tiap waktu dan tiap hari. Bertahun-tahun.
"Na, maafkan mas ya"
"Iya, udah kok mas. Dari dulu aku udah maafin mas, peristiwa ini juga bukan hal yang normal terjadi"
".... "
"Mas, tidur dulu ya. Tenangin diri, besok aku cerita semuanya garis besarnya"
"Na, temenin aku ya"
"Iya, mas"
.
.
.
#Pagi yang menjelang siang
"Na?"
"Bentar! Lagi masak mie sama telur ceplok aku, buat kita makan"
"Jangan lama"
"Mana ada masak mie instan lama? Udah, tunggu aja disitu"
/Nakula datang membawa nampan berisi dua mangkuk mie rebus dengan dua telur ceplok. Dan dua cangkir teh hangat/
"Makan dulu, jangan protes kalau ngga enak. Penting perut terisi"
"Iya, aku makan semuanya"
#selesai makan
"Na, mereka ada disini?"
"Dari awal aku datang. Kau bisa ngerasain sekarang? "
"Iya, mungkin dari kejadian kemarin. Jadi lebih terasa"
"Mereka berdua baik kok"
"Kenalin"
"... Hah?"
"Kalau mereka disini terus, kenalin ke aku"
Nakula mengerjab, lalu tertawa kecil
"Yakin kau? Satunya agak galak lho"
"Yakin, mereka juga udah jagain kau"
Nakula tersenyum lembut
"Mbak"
Udara berubah
Tidak terlalu drastis
Kemudian aroma melati lembut muncul
Sadewa terdiam
Menatap ke arah Nakula yang menatap ke arah sofa kosong
Perlahan sosok itu mulai muncul
Seperti kabut pagi hari
Semakin jelas
Wanita kebaya putih hijau duduk dan menatap mereka berdua dengan tenang
Sadewa terdiam
"... Ini mbak Gayatri" Kata Nakula memperkenalkan.
"... Selamat pagi, mbak"
Suasana hening, namun hangat. Sosok mbak Gayatri mengangguk pelan. Matanya tersenyum.
Sadewa lega
"Dan Terima kasih"
"Lha, kenapa bilang makasih ke mbak?"
"Terima kasih soalnya mbak Gayatri jagain kau selama ini"
Nakula terdiam tanpa kata-kata.
Namun mbak Gayatri sekarang tersenyum baik di wajah dan matanya. Menerima ucapan dari Sadewa.
Lalu udara perlahan berubah dingin beberapa derajat. Aroma bunga sedap malam tercium.
Satu sosok muncul di samping sofa mbak Gayatri. Wanita berbaju abu-abu kehitaman, rambut hitam menjuntai sampai mata kaki. Rambutnya juga menutup sebagian wajahnya.
Sadewa dapat melihat mata bersinar merah dari helai rambutnya. Jangan lupakan tangan dengan kuku tajam bewarna putih yang agak panjang. Kepalanya miring ke kiri.
Sosok itu hanya terlihat sebentar, kemudian menghilang. Namun aroma bunga sedap malam masih tertinggal.
Sadewa menelan ludah.
"Itu tadi mbak Sri. Yang udah nemenin aku di rumah bapak sejak awal"
"Terima kasih udah jagain Na selama ini dan bantu kita tadi pagi, mbak"
"Hah!?"
"Apa? Ngga usah kaget gitu napa. Mbak Sri udah bantuin kemarin. Jadi aku harus berterima kasih juga"
Lalu Nakula tertawa kecil
"Baru pertama kali selain aku yang bilang gitu ke mbak Sri"
Kemudian sosok mbak Gayatri perlahan menghilang bersama dengan aroma melati dan aroma sedap malam.
"Mereka kemana?"
"Kembali ke alam sebrang"
"Ajarin aku"
"Apa?"
"Gimana caranya menangani hal yang kemarin"
"Itu, bukan hal yang bisa dipelajari dengan mudah"
"Pasti ada caranya kan? Minimal menghindari? Aku ngga mau jadi orang yang nunggu diselamatkan"
"Ada satu yang mudah. Ingat ini ya mas : kalau ada terasa ngeliatin dalam artian yang janggal, jangan ditantang buat liat balik. Kalau lihat sekilas, jangan ditatap lama-lama. Dan jangan ngajak ngomong duluan"
"Kalau dia yang ngajak ngomong duluan?"
"Lari, atau pergi jauh-jauh. Jangan dianggap, pura-pura ngga lihat. Pergi ke tempat yang ramai dan yang cahayanya terang. jangan yang sepi sunyi dan gelap".
" Aku paham"
"Kalau masih ngikutin dan bahkan nyakitin, panggil namaku lalu nama mbak Sri. Nanti mbak yang nanganin sisanya"
"Gapapa gitu?"
"Aman, mbak Sri lebih jago buat ngelawan gituan. Aku juga masih ada mbak Gayatri yang nemenin, jangan khawatir"
"Bapak dulu juga?"
"Iya, bapak tau dan bisa lihat juga. Cuma ngga sejelas aku"
"Lalu?"
"Inget ngga bapak sama mama selalu ribut sebelum perceraian?"
"Iya, inget. Jangan bilang itu-"
"Dari garis keturunan bapak, ada warisan yang wajib tiap satu keturunan laki-laki, yang turun-temurun. satu orang itu harus jadi mediator dari segala hal yang terjadi di alam manusia akibat dari makhluk dunia sebrang."
"Bayarannya itu mahal seiring dengan kekuatan yang tumbuh. Bapak salah satunya. Kekeh dalam warisan itu, sampai muncul di aku."
"Mama tau itu, makanya ribut sama bapak. Bapak ngga pernah jujur dari awal ke mama. Dan kau tau sisanya, bagaimana mama yang bingung sekaligus takut saat aku mulai aneh"
"Puncaknya ya perceraian itu, kata bapak mama berniat membawaku juga. Cuma ngga bisa, aku udah dipilih dan ngga bisa lepas"
"Penyesalan itu selalu terlambat. Tiga tahun sejak kau sama mama pergi, bapak mulai menyesali semuanya dan membayar harga yang mahal untuk menghentikan warisan itu"
.
.
.
#Flashback, Nakula berumur 8 tahun.
Malam itu terlalu sunyi.
Tidak ada suara serangga.
Tidak ada angin.
Ada aura aneh dari kamar bapak sejak pagi.
Nakula kecil berdiri di ambang pintu kamar bapak sambil memeluk boneka burung hantu gemuk hadiah dari Sadewa.
“Pak…?”
Di dalam kamar—
Nyala sebuah lilin, terang yang redup di atas meja dekat jendela.
Bapaknya duduk di lantai, menghadap jendela dimana samar ada sosok hitam besar dan beberapa yang kecil
“…Nakula.”
Suaranya pelan.
“Masuk, Nak.”
Nakula melangkah masuk pelan.
“Bapak belum tidur?”
Tidak ada jawaban langsung.
Bapaknya berbalik, hanya menatapnya lama.
Seperti… ingin mengingat wajahnya.
“…kamu takut?”
Nakula menggeleng kecil.
“…ada Mbak Sri”
Jawaban polos.
Bapaknya tersenyum tipis.
Sedih.
“Iya… Bapak tahu.”
Hening.
Nakula mendekat.
Duduk di sampingnya.
“Bapak kenapa?”
Tangan bapaknya terangkat untuk...
Mengusap rambut Nakula
Merapikan poninya yang sedikit berantakan
Gerakan yang biasa
Namun terasa berbeda
Lebih lama
“…Nakula kuat ya.”
Nakula mengernyit.
“Kenapa?”
Bapaknya tidak langsung jawab.
Matanya… tidak lagi melihat Nakula.
Seperti melihat sesuatu yang lain.
“…ini harus berhenti di Bapak.”
Nakula tidak mengerti.
“Berhenti apa?”
Hening.
Udara di ruangan terasa berat.
“Kalau diteruskan…”
Suaranya semakin pelan.
“…kamu nggak akan pernah hidup tenang.”
Nakula memeluk boneka kesayangannya di lengan kiri dan tangan kanannya mengenggam jari bapak yang mulai mendingin.
“Aku nggak apa-apa kok, Pak.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi—
justru itu yang membuat bapaknya memejamkan mata.
“…justru itu.”
Hening.
Ia menarik napas panjang.
“…Nakula, dengarkan Bapak.”
Nada suaranya berubah.
Lebih tegas.
“Apapun yang terjadi nanti…”
“…jangan takut dengan penampilan luar mereka saja”
Nakula menatap.
“Kenapa?”
Bapaknya membuka mata.
“…karena tidak semuanya bisa dipercaya.”
Sejenak—
angin masuk.
"Nanti kalau Nakula ketemu Mama sama Sadewa, bilang bapak sayang sama mereka. Maafin bapak yang salah selama ini"
"Iya, bapak"
Bapak nya tersenyum
Tipis dan rapuh
"Nakula, kalau sedih dan ada masalah.... jangan dipendam sendiri ya"
".... Laki-laki boleh nangis"
"Jangan takut untuk ngomong kalau itu benar"
"Saat ngga enak badan, jangan lupa pakai selimut, jaket sama minum air hangat ya"
Satu per satu
Seperti daftar permintaan yang tidak boleh dilupakan
Dan Nakula ingat semuanya
".... Bapak sayang sama Nakula"
Nakula tersenyum kecil
Walaupun tidak mengerti sepenuhnya
"Na juga sayang sama bapak"
Lilin berkedip seperti hendak padam.
Bapaknya berdiri perlahan. Mengusap mata yang menangis pelan. Kemudian menepuk kepala Nakula dan membalikkan badan anaknya menuju pintu.
“Nakula… keluar dulu ya.”
Nakula langsung menggeleng. Lalu memeluk bapak dengan erat.
“Ngga mau.”
“Keluar dulu.”
Nada itu tidak bisa dibantah
Nakula menggigit bibir
“…aku tunggu bapak di luar.”
Bapaknya mengangguk kecil
Nakula berjalan keluar
Pintu ditutup pelan
Dari luar—
ia duduk di depan pintu
Memeluk lutut
“…Mbak Sri?”
Sunyi.
Aroma melati dan bunga sedap malam muncul pelan
Mbak Sri muncul, memeluk tubuhnya erat
Nakula menenangkan diri
Tapi—
dari dalam kamar—
suara mulai terdengar
Berat
Seperti banyak suara… bertumpuk dan menggeram. Dengan erangan kesakitan suara yang familiar.
Nakula menutup telinganya.
“bapak…”
Air matanya jatuh.
Cahaya lilin di lorong mati
Gelap.
Dan malam itu—
menjadi terakhir kalinya
ia mendengar suara dan kehadiran bapaknya
Kemudian, pada pagi buta. Nakula dituntun mbak Sri pergi dari rumah. Menatap sendu ke arah rumah tempat masa kecilnya yang kemudian terbakar oleh api. Penduduk desa berusaha memadamkan api, sedangkan Nakula diamankan oleh ibu-ibu sekitar yang memeluknya dan menenangkannya.
Ia mulai menangis dalam diam sampai tertidur.
Lalu yang Nakula ingat, ia diantar kepala desa ke rumah eyang putri dari pihak bapak. Yang jaraknya 4 jam perjalanan naik pick up. Tempatnya agak terpencil namun kendaraan masih bisa lewat namun jarang. Ia diantar ke rumah paling ujung jalan.
Kepala desa berbincang dengan wanita tua yang memiliki wajah lembut. Kemudian kepala desa pamit pergi dan memberikan amplop santunan kepada Nakula yang diam termenung sambil mempererat pelukan ke boneka burung hantu nya.
"Nakula ya"
".... Iya, eyang putri"
"Ayo masuk ke rumah dulu"
"Anu, mbak Sri boleh ikut masuk?"
"Boleh kok, ada Nimas gayatri juga didalam buat nemenin mbak Sri"
" Eyang bisa lihat?".
"Dari dulu"
"Na janji ngga buat repot eyang putri"
"Eyang tau kok. Dek Na kan baik hati. Ayo masuk, dek Na lapar kan?"
"Eum"
/mengikuti eyang putri masuk/
Di dalam rumah—
suasana hangat
Tidak ada tekanan
Tidak ada rasa “berat”
Untuk pertama kalinya—
Nakula merasa…
dia tidak perlu waspada
Dari sudut ruangan—
aroma melati muncul lagi
Lebih tenang dan lebih lembut
.
.
.
#Flasback end
Hening.
Tidak ada yang langsung bicara.
Udara di ruang tamu terasa berat—
bukan karena sesuatu yang tak kasat mata,
tapi karena…
sesuatu yang selama ini tidak pernah dibicarakan.
Sadewa tidak bergerak.
Duduk di sana.
Menatap kosong ke depan
Menggengam tangan Nakula lebih erat.
"Na.. Bapak... sendirian mengakhiri warisan itu"
"Emm"
Cukup.
Sadewa menunduk
Tangannya naik menutup wajah
Nafasnya tidak teratur
"... Dan aku, saat kamu sendirian mengalami hal mengerikan itu.."
Sadewa tertawa kecil
Tapi kosong
"Aku tidur terlelap, besoknya tersenyum ketawa, bahkan membenci keputusan bapak setiap hari"
Menutup matanya yang memerah
Nakula menggenggam tangannya lebih erat
Itu sudah cukup jadi jawaban
Sadewa memejamkan mata
Air matanya jatuh lagi
“…aku nggak sempat bilang makasih…”
“…nggak sempat bilang maaf…”
“…nggak sempat bilang—”
Suaranya hilang.
Nakula langsung menjawab dengan pelan
“…bapak tahu.”
Tangannya bergetar
Sadewa menelan ludah
“…kalian berdua…”
Tidak sanggup melanjutkan
Sunyi.
Sadewa mengangkat wajahnya
Matanya merah
“Na…”
Suaranya pecah
“…waktu kamu cerita dulu…”
.
.
.
#Flasback, Sadewa Nakula berumur 5 tahun
Nakula menarik lengan baju kakaknya dengan gemetar, pandangan nya tidak fokus namun melirik ke arah pojok atas pepohonan saat mereka berdua berjalan pulang dari sekolah, dimana makhluk berwujud kepala manusia mengerikan menatap setiap pergerakannya.
“Mas… ada yang liatin aku…” kata Nakula pelan agar tidak didengar
“Halusinasi kamu aja itu, ngga ada siapa-siapa kok. Jangan bilang aneh-aneh.”
Lalu saat dirumah
"Mas, anterin Na ke kamar mandi. Ada yang ngintip dari jendela"
"Na, jangan bohong. Sini, lihat! Ngga ada apa-apa!" Kata Sadewa menggandeng Nakula ke kamar mandi dan telah melihat sekeliling.
"Aku ngga bohong, mas. Bisa temenin aku sebentar?"
"Sadewa! Tolong beli in mama kecap di warung!"
"Dengar? Mas tinggal dulu, ini masih siang. Na bisa sendiri kok, udah besar harus berani kan!? Janji sama mas!" Sadewa melepas genggaman tangan Nakula dan pergi menemui mama yang di dapur.
Nakula hanya menunduk kecewa dan memberanikan diri masuk, namun di tepuk di bahu membuatnya tersentak kaget. Menoleh, mendapati Bapak yang menatap nya menyesal.
"Na ..... bisa lihat yang di jendela itu?"
"Iya, bapak. Na takut sendirian ke dalam"
"Bapak temenin ya, jadi Na ngga perlu takut. Ada bapak!"
"Eum! "
Sadewa melirik dari kejauhan mendapati Bapak yang menemani Nakula masuk ke kamar mandi. Dan berujar
"Pembohong"
#Flasback end
Sadewa menutup mata.
“…aku bilang kamu bohong”
Tangannya mengepal kuat
“…aku marahin kamu”
Nafasnya gemetar
“Mas ninggalin kamu sendirian…”
Air matanya jatuh.
“…padahal kamu nggak pernah sendirian…”
Menarik nafas dalam
“…kamu cuma… ingin mas percaya”
Hening
Nakula diam
Sadewa tertawa kecil
Pahit
“…aku pikir aku udah jadi kakak yang terbaik”
“…yang hebat”
“…yang nggak percaya hal aneh”
Ia menggeleng
Pelan
“…aku gagal.... jadi kakak buat kamu”
Nakula menggeleng cepat dan menyela-
“Mas—”
Sadewa mengangkat tangan
Menghentikan
“…jangan.”
Pelan.
“…jangan dibela”
Nafasnya berat
“…aku tahu aku salah”
Hening
Ia menunduk lagi
“…bapak tahu semua ini sendirian…”
“…kamu ngalamin semua ini sendirian…”
“…dan aku—”
Suaranya hilang
“…aku nggak ada buat nemenin kamu, dukung kamu”
Tangannya jatuh ke pangkuan
Kosong
Beberapa detik
Lalu pelan—
“…Na.”
Nakula menoleh
Sadewa menatapnya
Langsung
Untuk pertama kalinya—
tanpa ragu
“…apa makhluk-makhluk mengerikan itu buat kamu ketakutan? ”
Pertanyaan itu… berat
Nakula diam
Lama
“…bukan mereka, aku ngga takut soal wujudnya”
Nakula berbisik pelan yang menyakitkan
“aku takut… ngadepin itu semua sendirian, mas"
Sadewa membeku
Air matanya jatuh lagi
Lebih deras
Ia menunduk
Menutup wajahnya
“…maaf…”
"maaf…”
“…maaf, Na…”
Berulang
Seperti… tidak cukup satu kali
Nakula menatapnya
Pelan—
ia mendekat
Duduk di samping
Menggenggam tangan Sadewa lalu memeluknya erat dan membenamkan wajah di bahu Sadewa. Mas Sadewa yang selama ini dimatanya adalah sosok yang kuat dan keren, kini menahan erangan tangis bersalah yang memilukan.
“…udah gapapa mas. Jangan nangis lagi”
Sadewa menggeleng cepat
“…nggak cukup.”
“…nggak bakal cukup.”
Nafasnya tersengal
“…aku telat”
Nakula diam sejenak, lalu menjawab
“…iya.”
Pelan
Jujur
"Mas telat"
Sadewa terdiam
Kalimat itu—
tidak menyakitkan.
Tapi…
menghancurkan
Hening panjang
Lalu—
Nakula mengencangkan pelukannya.
“…tapi sekarang mas ada buat dukung dan percaya lagi ke aku. Itu udah cukup dan buat aku senang!”
Sadewa melepas pelukan dan menatapnya penuh janji.
“…iya.”
Pelan
“…sekarang ada aku”
Ia menarik napas dalam.
“…dan aku nggak bakal ke mana-mana.”
Tangannya menggenggam tangan Nakula lebih erat.
"kali ini… aku percaya dan yang jaga kamu”
Nakula tersenyum kecil.
“…Nah, itu perkataan yang keren!”
Sadewa tertawa pelan.
Di antara sisa tangis.
“…ya, keren”
Hening
Tapi kali ini—
tidak kosong
Sadewa menyandarkan kepalanya ke bahu Nakula.
Pelan
“…Na.”
“Hmm?”
“…Makasih"
"... Sama-sama, mas"
Di luar—
angin lewat
Aroma melati masuk perlahan
Tenang
Hangat
Dan untuk pertama kalinya—
Sadewa tidak menghindar dari rasa bersalahnya.
Ia menerimanya.
Dan memilih—
untuk tinggal.
"Na, kamu sering-sering cerita ke mas apapun. Mas dengerin bahkan kalau kamu ngomel, mas ngga akan nyela. Bergantung sedikit ke mas ya? Bagi beban juga. Kalau ditanggung berdua lebih ringan"
"Aaa, mas buat suasana jadi sedih lagi, ih. Mau nangis aku"
"Nangis bareng gimana?"
Tidak ada yang bicara
Hanya duduk berdampingan, membiarkan semuanya mengalir.
Isak tangis keduanya terdengar pelan
Perlahan, nafas mereka mulai teratur
Tidak sepenuhnya lega
Namun itu cukup.
Mereka tidak sendirian lagi
Tidak pernah.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu, di tepi hutan perbatasan saat malam bulan purnama. Sesosok berjubah hitam melangkah keluar dan menatap bulan dengan senyum miring. Diiringi dengan suara lonceng yang nyaring.
"Ke.te.mu~"
End.
Mau lanjut?
