Actions

Work Header

The Scarlett Vendetta

Summary:

Shuichi Akai dan Jodie Starling ditugaskan untuk menyusup ke sebuah pesta berisikan jajaran konglomerat, yang di mana gala itu memiliki potensi besar untuk berkaitan dengan Organisasi Hitam. Satu yang Akai mungkin tak tahu, target sesungguhnya dari Jodie malam itu adalah... dirinya.

Notes:

Super duper terima kasih kepada Rara yang sudah menyumbang ide. Ayo semua ucapin selamat ulang tahun buat Rara!!!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tokyo pada malam ini terasa cukup dingin, angin yang hadir kerap bertiup sepoi-sepoi, dan dedaunan dari pohon yang berjajar bergemerisik dibuatnya. Tepat di depan lobi apartemen yang sunyi senyap, Shuichi Akai berdiri seraya menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada mobilnya yang telah terparkir rapi sejak beberapa saat lalu. Memang ia datang agak terlalu cepat dari jam yang telah disepakati, namun ia tak dapat menahan diri untuk sesekali melirik jam tangan berwarna perak yang dikenakannya.

Gelagatnya tampak begitu terukur dan terkendali dari luar, tetapi di dalam hatinya, entah sudah berapa kali ia bertanya-tanya  pada dirinya sendiri apa yang dikenakan oleh rekan kerja yang akan menjadi pasangannya malam ini. Akai tak pernah gemar berpakaian formal, meski begitu, khusus malam ini, ia menggunaan tuksedo hitam yang potongannya begitu sempurna di tubuhnya lengkap pula dengan dasi kupu-kupu yang menghiasi lehernya. Rambutnya tertata rapi ke belakang, memberikan ruang yang cukup agar kedua mata hijaunya dapat memancarkan pesona yang dingin namun memikat. Cocok sekali untuk kelangsungan misi yang akan dijalankannya malam ini.

Segala sikap tenang yang berusaha dijaga oleh Akai seketika hancur berantakan saat pintu kaca dari lobi itu terbuka lebar.

Jodie Starling—rekan kerja yang sedari tadi ditunggunya, melangkah keluar, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, napas Akai tertahan di tenggorokan, tanpa bisa bisa ia hela sebagaimana mestinya. Akai sadar betul bahwa ia lah pihak yang telah mengakhiri hubungan romansanya dengan Jodie, dan ia juga tahu betul bahwa malam ini ia akan menjadi lelaki brengsek yang tak tahu malu. Sambil menghela sebuah napas panjang, ia memejamkan kedua matanya sekila dan memohon kepada Dewa yang bahkan tak dipercayainya untuk membiarkannya memuji betapa menawannya wanita yang sedang berjalan ke arahnya itu.

Gaun yang memeluk tubuh Jodie tak terlihat sebagai sebatas pakaian; namun juga merupakan sebuah pernyataan perang. Warna burgundy gelap itu seolah adalah api bergelora yang siap membakar kegelapan malam, melahapnya hingga habis, dan menjadikan siapa saja yang menatapnya akan menari persis di atas telapak tangannya. Potongannya yang berani dengan jelas memamerkan garis bahu dan punggung yang selama ini tersembunyi di balik jaket FBI yang memberi kesan begitu kaku. Setiap langkah yang diambil oleh Jodie memancarkan aura wanita yang tahu persis daya ledak serta racun mematikan yang ia bawa.

Jodie menghentikan langkahnya tepat di hadapan Akai, membiarkan aroma ceri hitam—sirup manis dengan diikuti pahit getir yang memabukkan—dari parfumnya menyapa indra penciuman pria itu sebelum satu patah katapun terucap dari bibir mungilnya.

“Apa kita sudah terlambat, Shu?” tanya Jodie. Suaranya tak kalah tenang dari sikap Akai beberapa saat yang lalu, namun ada percikan provokatif di balik kacamata yang sengaja ia tanggalkan malam ini.

Akai tak segera menjawab—ia tak bisa. Tanpa ia minta, kedua matanya menyusuri tiap jengkal dari siluet Jodie. Bibirnya dipulas warna merah yang menyerupai darah, ujung gaunnya tersingkap hingga paha, serta rambut pendeknya memperlihatkan leher, tulang selangka, serta bagian atas dadanya dengan begitu jelas. Akai sempat menelan kembali ludahnya, lalu mengepalkan tangannya di dalam saku celana yang dikenakannya. Ia merasakan bahwa detak jantungnya mulai mengkhianati akal sehatnya. Ia tahu betul Jodie melakukan ini dengan sengaja, bahwa target misi mereka bukanlah satu-satunya yang berusaha wanita itu pancing. Dan tampaknya usaha Jodie begitu tepat sasaran.

“Belum,” jawab Akai akhirnya dengan suara serak, yang kemudian disusul oleh sebuah deheman singkat. Tanpa basa-basi lebih lanjut, ia membukakan pintu mobil untuk Jodie, namun matanya tak bisa lepas dari sosok wanita yang sudah bukan miliknya lagi itu. “Kurasa target kita akan jauh lebih mudah untuk kita kuasai daripada yang kubayangkan.”

Jodie melempar sebuah senyum tipis yang tak mencapai ujung matanya. Klasik Shuichi Akai. Jodie tahu betul bahwa kalimat tersirat itu adalah cara Akai memuji bahwa usaha wanita itu dalam memoles penampilannya dengan sedemikian rupa berhasil menyita sebagian besar perhatian pria penuh gengsi itu.

“Baguslah,” bisik Jodie saat Akai menutup pintu mobilnya. “Karena malam ini aku tak berencana untuk membiarkan siapa pun berpaling dariku. Termasuk pula dirimu.”

--

Keheningan yang tak sengaja terbangun di dalam Ford Mustang milik Akai terasa begitu padat dan memekakkan, membuat Akai ingin sedikit melonggarkan dasi yang dikenakannya. Tak ada satupun percakapan maupun suara dari radio yang menemani, hanya ada deru mesin dan aroma ceri dari Jodie yang mulai mengambil alih. Aura luar biasa yang terpancar dari Jodie seolah menertawakan ketegangan yang terbangun antara mereka berdua, seakan Akai hanyalah seorang pecundang yang bahkan tak berani menoleh ke arah pasangan kencannya malam ini.

Fokus kedua mata Akai pada jalanan Roppongi di depannya sesaat terpecah saat ia melirik ke arah Jodie yang terduduk di bangku penumpang tepat di sebelahnya. “Target kita malam ini adalah Harrison Reid,” suara berat Akai meruntuhkan keheningan yang sedari tadi menyergap. Dingin yang terasa dari nada bicaranya seolah ingin menyaingi suhu Tokyo di malam ini. “Dia adalah seorang konglomerat di bidang farmasi dari East Coast. Menurut intel yang kita dapatkan, ia mulai panik karena usianya sudah menyentuh tujuh puluh, dan ia tak berniat untuk segera lengser dari jabatan dan kewenangannya."

Jodie menyilangkan kakinya, membiarkan belahan dengan tinggi se-paha pada gaun burgundy-nya tersingkap, memperlihatkan kulit porselennya yang begitu kontras dengan jok kulit berwarna gelap yang didudukinya. “Reid adalah tipe pria yang akan menjual jiwanya pada iblis demi bisa hidup sepuluh tahun lebih lama, kan?”

“Tak hanya sampai di situ,” sahut Akai. Suaranya tetap terdengar tenang, namun kedua tangannya mencengkeram roda kemudi sedikit lebih erat ketika ia melihat aksi yang dilakukan Jodie dari sudut matanya. “Reid mendengar rumor tentang sebuah obat yang dapat memberikan keabadian yang dikembangkan oleh sebuah sindikat di Jepang. Dia membawa jutaan dolar dalam bentuk aset yang tak akan terlacak, dengan harapan ia akan mendapatkan kanal yang bisa mempertemukannya dengan obat keabadian itu di pesta malam ini.”

Mendengar penjelasan dari Akai, Jodie menyunggingkan sebuah senyum, lalu ia mengeluarkan cermin kecil dari tasnya untuk memeriksa kondisi bibir merah meronanya. “Jadi, kita di sini untuk memastikan dia tak akan melakukan transaksi, atau setidaknya mengintersepsi siapa pun yang akan menjadi penghubung—yang diduga berkaitan dengan anggota Organisasi Hitam, betul?”

“Tepat. Reid memiliki kelemahan pada wanita yang… mencolok. Setelah kematian istrinya dua dekade lalu, ia memiliki tiga orang pacar—atau istri tidak sah, lebih tepatnya. Namun tak ada satu pun dari anaknya yang benar-benar diberikan hak atas suksesi.” Akai mendecak singkat. “Pria yang begitu arogan.”

Ketika Ford Mustang merah itu telah mendekati hotel bintang lima di mana gala konglomerat diadakan, Akai memperlambat laju kemudinya. “Itulah peranmu malam ini, Jodie. Menjadi sebuah distraksi yang tak mungkin ia abaikan.”

“Kalau kau ingin tahu, aku tak setuju bahwa kita harus menaruhmu pada posisi seperti itu. Kau jauh lebih berharga dari sekedar trofi yang bisa diperebutkan oleh pria tua bangka. Namun, kita tak memiliki banyak pilihan.” Dengan volume yang jauh lebih pelan dari sebelumnya, Akai melengkapi kalimatnya.

Sontak, Jodie menutup cerminnya dengan bunyi klik yang nyaring. Ia menoleh ke arah Akai, dengan sebuah senyum tipis yang penuh arti. “Tenang saja, aku hadir bersamamu malam ini dengan kesadaran penuh atas apa yang akan aku lakukan. Menjadi umpan bagi pria tua yang gila akan keabadian? Pekerjaan yang mudah bagiku, Shu. Lagipula, kau juga menikmati peranku malam ini, bukan?”

Akai bungkam, membiarkan bisu yang menjawab. Ia lebih memilih untuk membelokkan mobilnya ke area valet, namun sebelum pintu dibuka, ia berbisik, “Jangan lepaskan pandanganmu dari Reid. Dan jangan… melakukan hal yang tak perlu.”

Jodie hanya bisa mengangguk pelan, sebuah senyum kemenangan terkembang di bibirnya, seolah ia tahu bahwa apa yang diucap Akai adalah sebuah bentuk kecemburuan yang tersirat. “Tenang saja, Shu. Aku tahu persis apa yang harus kulakukan.”

--

Begitu pintu ganda ballroom terbuka, simfoni orkestra, denting gelas kristal, serta terangnya lampu gantung raksasa langsung menyambut kehadiran Jodie dan Akai. Namun, ketika Jodie mulai melangkahkan kakinya—yang terpampang jelas dari belahan tinggi gaun yang dikenakannya, seisi ruangan seolah kehilangan keramaiannya untuk sesaat.

Tanpa berpikir panjang, Akai bertindak secepat kilat, seolah-olah gerakannya adalah refleks dari seorang pria yang bangga sekaligus posesif. Saat ia melingkarkan lengannya di pinggang Jodie, jari-jarinya dapat merasakan tektur korset kaku di bawah kain burgundy tipis yang membalut tiap lekuk tubuh wanita itu. Untuk sesaat, Akai merasa ia tengah diingatkan oleh gaun itu bahwa wanita di sampingnya bukan sebatas rekan kerja, melainkan histori romansa yang dapat kembali menjeratnya kapan saja.

“Tetaplah dekat denganku,” bisik Akai pelan, tepat di sebelah telinga Jodie yang dihiasi oleh anting mutiara. Seraya menuntun jalan keduanya, Akai mengedarkan pandangannya ke tiap sudut ruangan, selayaknya seekor elang yang tengah mencari mangsa.

Jodie tak membalas Akai dengan kata-kata. Ia hanya menyesuaikan posisinya, membiarkan tubuhnya sedikit tersandar pada tuksedo yang dikenakan Akai, menciptakan gambaran sempurna dari pasangan yang begitu mesra. Atau juga seorang putri dan pengawal gagahnya, bagaimana pun orang-orang di ballroom itu ingin menginterpretasikannya. Kain tipis yang membangun struktur gaun yang menyelimuti badan Jodie mempersilakan panas dari jemari Akai yang bertengger di pinggang wanita itu mulai merambat ke tubuhnya. Seakan provokasi yang disengaja oleh Jodie adalah pedang bermata dua, bahwa pihak yang malam ini fokusnya terpecah-belah bukan hanya Akai seorang, melainkan dirinya pun juga.

Mereka berdua perlahan tapi pasti menyusuri lantai marmer di ruangan itu, dengan sengaja menembus tengah kerumunan dengan niat menarik perhatian orang banyak. Setiap langkah Jodie bukan hanya memamerkan kaki janjangnya dari balik belahan paha gaun itu, tetapi juga menonjolkan potongan rendah pada bagian dadanya. Gaun itu seolah sengaja dirancang dengan berani untuk menyisakan sedikit ruang untuk imajinasi, memastikan bahwa hadirin lain akan memalingkan pandangan mereka ke arah Jodie.

Akai bisa merasakan pandangan-pandangan lapar dari para pengusaha dalam dan luar negeri yang hadir jatuh ke arah Jodie. Tanpa bisa ia tahan, rahang seketika mengeras, seakan hasrat paling mentah yang ia pendam dalam-dalam di dadanya seketika membuncah-ruah.

“Target berada di pukul dua,” gumam Akai, mengarahkan Jodie menuju area bar di mna Harrison Reid sedang mememutar-mutarkan gelas wiskinya, tampak bosan dengan obrolan seorang pengusaha lokal.

“Aku melihatnya,” balas Jodie dengan suara yang mendayu, tutur katanya terdengar begitu manis manja. Sandiwaranya telah dimulai. “Lepaskan aku, Shu. Aku yakin pria hidung belang sepertinya tak akan mendekati wanita yang sudah memiliki pawang.”

Akai ragu sejenak, selayaknya ia tak rela Jodie menjalankan tugas yang menjijikkan itu. Entah sebagai rekan kerja atau sebagai mantan pasangan. Genggaman di pinggang Jodie justru sempat mengerat selama satu detik ekstra sebelum akhirnya ia terpaksa melepaskannya. “Jika nanti kau harus berpindah posisi, jangan terlalu jauh. Aku akan mengawasi dari balkon lantai atas.”

Jodie memberikan senyum merekah yang paling mempesona—yang sebelumnya hanya bisa dilihat oleh Shuichi Akai seorang, namun kali ini itu adalah senjata pamungkasnya. Wanita itu melenggang pergi, meninggalkan Akai yang masih berdiri mematung di tengah kerumunan yang kian memadat. Kini Akai hanya berteman sisa aroma ceri yang menempel di tuksedonya, dan sebuah rasa sakit di dada akan bayangan pria tua yang akan berusaha mendekati rekan kerjanya.

Jodie melangkah pasti menuju area bar dengan pesona serta keanggunan yang mematikan. Dengan penuh kesengajaan, ia membelakangi Reid saat ia memesan segalas martini, membiarkan pendar cahaya lampu bar itu memperjelas punggungnya yang terbuka, sekaligus memberi kesan susah didapatkan pada si tua bangka. Hanya butuh beberapa detik saja hingga Jodie merasakan adanya tatapan nanar dari pria tua yang tak jauh dari posisi duduknya—Reid. Keduanya memang masih sangat berjarak, tapi tatapan yang terasa seperti sentuhan langsung itu berhasil membuatnya bergidik mual.

Seperti perkiraan Akai, hanya butuh waktu sampai martini pesanan Jodie tiba sampai wanita itu mendengar sapaan dengan Bahasa Inggris, yang disertai aksen khas New York, yang datang dari sebelah kanannya.

“Senang sekali melihat wajah non-lokal yang belum aku kenali di pesta ini. Aku sudah lelah mengobrol dengan pengusaha tak jelas dengan Bahasa Inggris yang acak-acakan,” ujar Harrison Reid, seraya melangkah mendekati Jodie. “Dan gaun merahmu tampaknya berhasil mengusir kebosananku malam ini, Nona Cantik.”

Mendengar betapa rasisnya pria tua itu, besar rasa Jodie ingin menanggapi dengan Bahasa Jepang sebagai bentuk serangan balik, namun ia tahu tindakan itu hanya akan mensabotase misinya sendiri. Jodie menoleh pelan, memasang ekspresi terkejut yang elegan. “Aku setuju sekali, aku juga sudah lelah didekati pria-pria yang berbicara dengan bahasa dan logat yang tak aku mengerti. Aku senang kita menemukan satu sama lain malam ini. Dan, terima kasih. Aku kira para pria di sini terlalu sibuk akan bisnisnya untuk menyadari warna sebuah gaun.”

Reid terkekeh hingga kepalanya agak terlempar ke belakang. Sebelum pria tua itu duduk persis di sebelah Jodie, ia memindai wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu kembali naik lagi di dada ranum Jodie yang mengintip dari belahan rendah gaun itu. “Bisnis bisa menunggu,  namun wanita dari East Coast yang belum aku kenal? Tentu harus kukejar sebelum sempat lepas. Aku Harrison Reid.”

Di lantai atas, Akai bersembunyi di balik pilar besar di area balkon, tangannya mencengkram erat railing dengan kekuatan luar biasa yang datang entah dari mana. Melalui earpiece miliknya, ia dapat mendengar jelas apa saja yang terucap dari bibir Jodie. Kata demi kata. Tawa demi tawa. Apa saja yang wanita itu lakukan untuk berhasil menjerat pria itu ke dalam jebakannya. Dari ketinggian dan sudut yang sempurna, ia melihat bagaimana Reid menarik kursinya semaki mendekati Jodie, jarak keduanya kian menipis.

Di satu sisi, Akai senang bahwa Jodie—seperti biasanya—memperlihatkan betapa kompetennya dia sebagai seorang agen, namun di sisi lainnya, ia tak tahan akan apa yang tengah ia lihat. Ia merasa seolah ada kutu kasur yang tengah berjalan di bawah kulitnya. Dan Akai tak mengerti perasaan apa yang kini mulai menghimpit di dalam dadanya.

“Seekor burung kecil berbisik padau bahwa kau sedang mencari sesuatu yang lebih berharga daripada sebongkah emas di kota ini, Tuan Reid,” Jodie berbisik, nada sensualnya sengaja dituturkan dengan volume yang nyaris tak terdengar, mengharuskan Reid semakin mendekat ke arahnya.

Akai memejamkan kedua matanya, lalu berdehem pelan, berusaha menahan sait kepala yang tiba-tiba menghantamnya bak palu godam. Ia tahu betul bahwa apa yang Jodie lakukan adalah bagian dari rencana; bahwa Jodie sedang memancing informasi tentang si perantara. Namun, dengan bagaimana ia harus menyaksikan bagaimana tangan Reid berusaha menyentuh tangan Jodie, Akai menyadari satu hal:

Strategi balas dendam yang dilancarkan Jodie telah berhasil sepenuhnya. Akal sehat milik Akai mulai mengucap ke udara, dan malam masih sangat muda. Misi yang mereka jalankan masih jauh dari kata selesai.

Di tengah kemeriahan pesta yang bertabur kemewahan, Harrison Reid sudah benar-benar kehilangan kewaspadaannya. Pria tua bangka itu kini selayaknya tikus yang dengan senang hati menikmati keju pada perangkap, khas serial kartun lawas. Ia semakin merapatkan tubuhnya ke arah Jodie, tangannya mulai bergerak naik, berusaha membelai rambut Jodie yang menggantung di leher indahnya. Dari balik lensa matanya yang lapar, Reid tak menyadari mara bahaya yang telah menelannya bulat-bulat.

Suasanya area bar yang semula syahdu, tiba-tiba berubah sedingin es di yang kerap berdenting saat berbenturan dengan dinding gelas kristal. Sebuah bayangan gelap yang menjulang tinggi sontak menghalau tangan nakal Reid dengan kecepatan setara Mach 3. Sebelum tangan berkerut pria itu sempat menyentuh punggung mulus Jodie, Shuichi Akai sudah hadir di sana, bagaikan angin topan yang siap memporak-porandakan apa saja yang berada di jalannya.

Tanpa basa-basi, Akai menarik Jodie hinga bangkit dan merapat ke tubuhnya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Jodie dengan tarikan yang sarat akan kepemilikan yang posesif, hingga punggung Jodie menempel erat di dada bidangnya. Akai dapat merasakan kini hangat dari punggung Jodie mulai merambat, menembus tiap lapisan tuksedo yang dikenakannya. Ia mengencangkan cengkeraman tangannya yang melingkar, hingga ia dapat benar-benar merasakan dari tekstur gaun itu, membuatnya berpikir bahwa ia ingin sekali menanggalkannya sekalian. Dengan sebuah tatapan tajam, Akai mengirimkan isyarat pada Reid untuk menjauhi Jodie mulai detik ini juga.

“Maaf mengganggu momen Anda, Tuan Reid,” suara bariton Akai terdengar sangat rendah, tersirat jelas ada amarah memuncak di dalamnya. “Tapi kurasa aku sudah terlalu lama membiarkan tunanganku berkeliaran sendirian.”

“Maafkan aku karena urusan bisnisku berjalan lebih lama dari yang kukira, ya, Sayang.” Akai melanjutkan lakonnya, yang disusul oleh sebuah kecupan singkat di puncak kepala Jodie.

Reid tesentak, kedua matanya menangkap sorot mata Akai yang seakan tengah menusuknya bak pisau belati. “Ah… aku tak tahu dia sudah memiliki tunangan… maaf atas kelancanganku.”

“Sekarang Anda tahu,” potong Akai tajam. Dengan satu gerakan lugas, Akai memutar badan Jodie seratus delapan puluh derajat hingga wanita itu menghadap ke arahnya. Akai sedikit menundukkan pandangannya agar mata hijaunya bertatapan persis dengan Jodie, lalu ia edarkan perhatiannya ke arah bibir yang masih merah merona, hingga akhirnya berhenti pada belahan dada yang terekspos. Rahang milik Akai kembali mengeras dibuatnya. “Kita pergi. Sekarang.”

Akai menarik Jodie keluar dari ballroom tanpa memberi celah kesempatan bagi keduanya untuk saling bicara. Di sepanjang lobi hotel yang megah, tangan Akai tetap saja terkunci di pinggang milik Jodie, seakan-akan ia sedang mengklaim kembali apa yang seharusnya hanya mliknya. Apa yang sempat hilang darinya. Dan ia ingin memamerkan itu ke hadapan seluruh penjuru dunia.

--

Perjalanan pulang di dalam Ford Mustang merah itu diselimuti oleh lapisan tebal keheningan yang memuakkan. Tak ada satu pun dari mereka yang angkat bicara, dan situasi itu bertahan hingga Akai berhasil mengantar Jodie hingga tujuan akhir. Begitu mobil milik Akai tiba di parkiran apartemen Jodie, Akai mematikan mesin, namun tangannya masih mencengkeram roda setir hingga buku jarinya mati rasa.

“Aku minta maaf,” suara parau Akai akhirnya membelah keheningan yang melingkupi keduanya. Di dalam mobil yang terparkir di sebuah basement yang remang-remang, pria itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia membiarkan rambutnya, yang sudah tak tertata ke belakang, jatuh hingga menutupi air mukanya yang hancur-lebur. “Malam ini aku sudah membiarkan emosiku mengambil alih sisi profesionalku. Aku mengacaukan misi kita karena aku tak bisa bertindak dengan kepala dingin.”

Jodie memilih untuk tetap diam seribu bahasa, tetapi jemarinya memainkan ujung tas yang dibawanya. Meski ia merasa berhasil setelah melihat Akai menunjukkan kecemburuannya tanpa ia tutup-tutupi lagi, namun di saat yang bersamaan ia tak menikmati bagaimana Akai bersikap sekarang. Bukan penyesalan sendu lah hasil yang ia harapkan dari rencana besarnya.

“Jika James Black mempertanyakan kegagalan ini, aku yang akan bertanggung jawab penuh,” lanjut Akai, yang kini menoleh sepenuhnya ke arah Jodie dengan binar mata yang dipenuhi oleh penyesalan mendalam. “Aku lah yang telah merusak sandiwaramu sebelum kau sempat mengorek informasi darinya.”

Jodie akhirnya menoleh balik. Sebuah senyum tipis nan dingin muncul di sudut bibirnya, diikuti oleh beberapa gelengan pelan. “Kau tak merusak apa pun, Shu. Aku sudah menyelesaikan misi kita saat kau datang, dan Reid bahkan tak tahu apa-apa.”

Akai tertegun hingga dahinya mengkerut dalam saat Jodie menjelaskan bahwa ia sudah mendapatkan segala informasi yang diperlukannya: bahwa Reid dan semua orang di ruangan itu hanyalah pengejar rumor tanpa koneksi nyata ke Organisasi Hitam.

“Jadi… semuanya sia-sia?” tanya Akai dengan nada yang lirih.

“Aku tak akan mengatakan bahwa misi ini sepenuhnya sia-sia, karena aku menyimpulkan bahwa sepertinya broker yang menjadi narahubung dengan Organisasi Hitam tak melihat Reid serta kawanannya sebagai rekan bisnis yang influensial dan menjanjikan. Setidaknya setelah ini kita dapat mengeliminasi jejaring yang sudah sempat kita duga.” Jodie menatap Akai lekat-lekat.

Mendengar penjelasan lebih lanjut dari Jodie, Akai hanya bisa menghela sebuah napas panjang dan menepuk dahinya pelan. Ia tak habis pikir bagaimana emosinya yang meluap bahkan bisa membuatnya gagal mengolah informasi dengan benar.

“Terlebih lagi, reaksi yang kau tunjukkan padaku sepanjang malam menjadikan misiku sangat jauh dari sia-sia.” Suara Jodie memang tetap tenang, tapi ada secercah godaan yang terkandung di dalamnya.  Wanita yang satu itu belum puas sampai di situ.

Kini Akai sudah tak tahan lagi dengan ketenangan Jodie yang semakin mengiris tipis kewarasannya. Ia bergerak mendekat, mencondongkan badannya hingga dahinya dapat bersandar di tulang selangka Jodie. Dalam jarak yang hamper nihil, aroma parfum milik Jodie terasa berusaha mengaburkan sisa-sisa akal sehat Akai yang masih tinggal.

“Aku membenci tiap detik yang kita lalui malam ini,” bisik Akai dengan nada bicara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya, bagaikan ketegangan di kedua pundaknya sirna begitu saja. Ia membenarkan posisinya, membiarkan hidungnya terbenam di ceruk leher Jodie, mencium tiap inci kulit di sana dengan jejak hangat yang putus asa. “Aku membenci bagaimana pria-pria brengsek di sana menatapmu. Aku… paling benci akan fakta bahwa gaun ini membuatku hampir gila, Jodie.”

Jodie memejamkan kedua matanya sejenak, menikmati getaran di suara pria yang biasanya selalu terlihat tangguh itu. Pria yang sama dengan dia yang pernah meninggalkannya tanpa pernah menengok ke belakang satu kali lagi pun.  Mungkin memang bukan ini yang diharapkan oleh Jodie. Ia ingin respons fisis yang membara, yang menyala hebat hingga enggan untuk padam, bukan haru biru nan sendu seperti sekarang. Namun bagaimana pun juga, kemenangan adalah sebuah kemenangan.

Melihat Akai yang masih bersandar nyaman di tubuhnya, Jodie memilih untuk tetap diam. Alih-alih membalas kecupan yang diterimanya, ia mendorong bahu Akai menjauhinya dan membuka pintu mobil itu seorang diri sebelum akhirnya melangkah pergi.

“Jodie!” Akai mengejar Jodie yang belum jauh, langkahnya yang terburu-buru membuatnya hamper jatuh tersandung. Dengan cekatan, ia meraih lengan Jodie dan menariknya tepat saat wanita itu hendak membuka pintu basement itu dengan kartu akses miliknya. Suaranya terdengar begitu frustasi, menampakkan gundah-gulana yang sudah tak bisa ia bendung lagi. “Hanya itu? Setelah segala yang terjadi sepanjang malam ini, kau bahkan tak berniat mengundangku masuk ke rumahmu?”

Sesaat ia merasakan cengkeraman kuat di lengannya, Jodie menghentikan langkah kakinya. Ia menatap Akai dari atas hingga bawah dengan tatapan heran yang membuat Akai tersadar bahwa mereka tak lagi berada dalam frekuensi gelombang yang sama. Ah. Mungkin ini yang mereka sebut sebagai karma, pikir Akai.

“Memangnya apa yang kau harapkan dariku, Shu?” tanya Jodie, suaranya yang tenang terasa bagai anak mata panah yang menancap tepat di jantung Akai. “Apakah kau benar-benar berpikir kau punya hak untuk menginginkan sesuatu dariku? Setelah apa yang kau lakukan padaku? Begitu?”

Tanpa memberi waktu untuk Akai merespons, Jodie menempelkan kartu akses pada pintu di hadapannya. Dengan sebuah suara klik yang pelan, ia melangkah masuk ke dalam lobi lift yang jauh lebih terang, meninggalkan Akai terpatung sendirian di tengah parkiran yang hampir gelap sepenuhnya. Akai tertawa kecil, pada akhirnya ia menuai apa yang telah ia tanam sebelumnya.

Notes:

Gak penting-penting amat, tapi kalau ada yang pengen tau di bayangan aku Jodie pake parfum apa, jawabannya adalah Lost Cherry-nya Tom Ford!