Work Text:
Langit sore menggantung rendah, seperti napas yang tertahan terlalu lama. Meredup, bukan karena malam segera datang, melainkan karena cahaya memilih ‘tuk mundur perlahan, meninggalkan jejak keemasan yang enggan menetap.
Kilau kerumunan mengabur tanpa arah. Langkah-langkah bersilangan; suara bersentuhan tanpa benar-benar saling menyentuh. Dunia berjalan sebagaimana mestinya — atau setidaknya berpura-pura demikian.
Bima berjalan diantara semua itu. Tak pelan, tak pula tergesa.
Seperti seseorang yang tahu kemana ia harus pergi, namun menolak mengakui.
Lalu —
Sebuah benturan kecil.
Tubuh ringan, nyaris tak berarti, namun cukup membuat langkahnya terhenti.
Seorang anak.
Anak itu mundur setengah langkah, menatapnya dengan tatapan jernih untuk dunia yang terlalu bising.
Bima menuduk. Gerakan refleks, nyaris naluriah. Tangan terangkat, namun tertahan di udara — sebuah gestur antara ingin menolong dan ragu untuk menyentuh.
Waktu berhenti bekerja.
Tak benar-benar berhenti, hanya melambat. Cukup membuat sesuatu tersembunyi nyaris naik ke permukaan. Sesuatu yang tak terlihat, namun cukup jelas.
Aroma.
Tipis. Samar.
Namun cukup untuk menghancurkan pertahanan yang telah ia bangun bertahun-tahun lamanya.
Familiar.
Seperti rumah yang pernah ia tinggali terlalu lama.
And I don′t wanna learn another scent
Napasnya terputus di tengah. Dada yang selama ini terasa lapang, mendadak sesak oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Anak itu menatapnya — polos, tanpa prasangka; hanya kebingungan murni yang tertampang. Seolah tak ada yang salah.
I don’t want the children of another man
Seolah dunia memang seharusnya sesederhana itu.
Namun realitas tak pernah memberikan kemudahan yang serupa.
“Maaf.”
Satu kata. Suara yang datang terlalu cepat. Pendek.
Terlalu tiba-tiba. Tepat.
Terlalu dikenal. Terlambat.
Arjuna.
Nama yang tak perlu disebut dua kali. Tubuhnya mengenali lebih dulu sebelum pikiran sempat mengejar.
Arjuna tak menatapnya.
Seolah satu tatapan saja cukup untuk meruntuhkan sesuatu yang telah susah payah ia tegakkan kembali.
Tangannya bergerak cepat meraih tangan kecil itu, menggenggamnya dengan kepemilikan tenang; tak perlu diumumkan.
Gerakan yang menetap. Rapi. Terbiasa.
Seolah itu adalah rutinitas yang telah dilakukan berkali-kali.
To have the eyes of the girl that I won′t forget
Dunia kembali bergerak.
Namun dirinya tidak. Tubuh yang masih berdiri di tempat yang sama, namun pikiran yang tak lagi disana. Seolah dunia tertinggal satu langkah dibelakangnya.
Atau mungkin dirinya yang tertinggal.
Seperti bayangan yang kehilangan sumber cahayanya.
Anak itu menatapnya, sedikit lebih lama. Cukup untuk membuka luka yang tak benar-benar menutup.
Mata itu.
Bukan miliknya. Namun terlalu dekat ‘tuk tak dikenali.
Seperti cermin yang memantulkan sesuatu yang seharusnya sudah hilang.
I won’t forget
Anak itu berbalik, seolah mengenali sosok di belakangnya lebih dari apa pun di hadapannya.
“…mama?”
Kata yang tak ditujukan padanya. Jatuh seperti palu di atas sesuatu yang rapuh. Tak keras; tak bising. Namun menghancurkan.
Arjuna mengangkat pandangannya — menatap. Bertemu langsung dengan irisnya.
Waktu benar-benar berhenti kali ini. Bukan karena dunia berhenti, melainkan karena mereka berdua tak tahu bagaimana melanjutkannya.
Tatapan itu tak lagi sama. Tak lagi hangat; tak lagi mencari.
Hanya dua masa lalu yang berdiri saling berhadapan, membawa versi diri yang tak lagi sama.
Hanya ada sesuatu yang rapi. Senyumannya — terlalu rapi. Seperti sesuatu yang dipelajari, bukan dirasakan.
Namun dibalik itu, retakan kecil yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang pernah tinggal disana.
Malam menelan sisa-sisa cahaya tanpa permisi.
Bar itu berdiri seperti biasa — setia pada keheningan yang tak pernah benar-benar sepi. Lampu redup, denting gelas bersentuhan, dan aroma alkohol yang bercampur dengan kelelahan manusia.
Sadewa ada disana.
Bukan sekadar hadir, melainkan menyatu. Seperti gelas yang tak pernah benar-benar kosong.
Bima datang dengan langkah yang tak lagi utuh. Sebagian dari dirinya yang tertinggal dan tak berusaha diambilnya kembali.
Ia duduk. Kursi itu mengenalinya; meja itu mengingatnya, hanya dirinya yang berpura-pura lupa.
Sadewa menatapnya sekilas. Lalu kembali pada gelas di tangannya. Tak bertanya.
“Aku bertemu dia,”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak dramatis, tak dipersiapkan. Seperti sesuatu yang sudah terlalu berat untuk ditahan lebih lama.
Tangan Sadewa berhenti sejenak. Cukup untuk menunjukkan bahwa ia mengerti sebelum dijelaskan.
“Bersama anak kecil.”
Kalimat itu terasa asing di mulutnya, seperti luka kedua. Tak perlu, namun tetap ada.
Sadewa menarik napas dalam, terukur.
Ia tahu. Sadewa selalu tahu lebih cepat dari yang lain, namun kali ini — ia berharap dirinya tak perlu mengatakannya.
“Bima,” ujarnya pelan.
Terlalu hati-hati, seolah tengah menimbang kata-katanya. Seperti seseorang yang tahu kalimat yang akan mengubah segalanya.
Bima tertawa kecil. Kosong.
“Kenapa…?”
Sadewa menatapnya.
“Dia…sudah lama menikah.”
Sunyi. Sunyi yang tak lagi kosong. Pecah dalam kepala, memekakkan. Penuh dengan sesuatu yang terlalu besar ‘tuk diberi nama.
Bima tak langsung bereaksi.
Tak marah, tak pula terkejut.
Hanya diam.
Seperti sesuatu yang berhenti bekerja; seperti tubuh yang menolak pikiran yang baru saja ia pahami.
“Ah.”
Sederhana.
Namun terasa seperti reruntuhan yang dijatuhkan dalam satu kata.
Sadewa berhenti menyeka gelas. Mengamati dalam diam; memperhatikan.
Tak iba. Tak menghakimi.
Hanya memahami.
“Harusnya kau…”
Berhenti.
Memilih kata yang tak ada, kalimat yang tak benar-benar tepat.
“…mencoba melepaskannya.”
Kalimat sederhana, yang mustahil ‘tuk dilakukan.
Bima tersenyum.
Tipis. Pahit.
Seolah kalimat itu adalah lelucon yang terlalu kejam untuk ditertawakan.
“Melepaskan?”
Ia mengulangnya pelan. Seolah konsep itu tak pernah ia pahami.
“Kalau bisa,”
Hatinya telah lama berada di tempat yang sama. Dalam genggaman yang bahkan sudah tak ada lagi. Bukan sesuatu yang dapat dilepas begitu saja.
Ia mengangguk.
Seolah menyetujui sesuatu yang tak ia percayai.
Namun di dalam kepalanya —
Sebuah kemungkinan tumbuh. Tipis. Rapuh.
Namun cukup untuk membuatnya kembali berjalan.
Sekali lagi.
Atau mungkin,
Untuk terakhir kalinya.
Pesan itu dikirim tanpa ragu.
Dibaca lebih cepat dari yang diharapkan.
Dibalas tanpa banyak kata.
Disetujui tanpa banyak alasan.
Pertemuan kedua terasa seperti mengunjungi reruntuhan yang pernah disebut ‘rumah’.
Segalanya masih ada. Tempat yang masih sama. Seolah waktu pernah berhenti disana.
Namun tak lagi sama.
Canggung.
Bukan karena tak ada yang dikatakan, justru terlalu banyak.
Mencoba menghidupkan kembali sesuatu yang telah lama mati.
“Dulu kita sering ke sini,” ujarnya.
Arjuna mengangguk. Senyumnya hadir, namun tak menetap.
“Iya.”
Singkat. Terukur. Seperti segala hal tentang mereka saat ini; seperti jarak di antara mereka.
Percakapan itu berjalan. Atau lebih tepatnya — dipaksa berjalan.
Telepon itu berbunyi.
Sekali. Dua kali.
Arjuna mengangkatnya.
Nada suara yang berubah. Lebih lembut. Lebih hidup.
Bima tak perlu mendengar isi percakapan untuk mengerti.
Menunggu tanpa benar-benar menunggu, menghitung detik-detik yang telah berlalu.
Arjuna menutup telepon.
Menatapnya sebentar.
“Maaf, aku harus pergi.” Ujarnya.
Tentu saja.
Selalu ada tempat lain yang lebih penting untuk dituju.
Selalu begitu.
Namun sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata, Arjuna menatapnya dengan keseriusan di wajahnya.
“It’s not your fault,”
Dirinya tak bergeming, tak bisa.
“…we’re not meant for each other.”
Kalimat sederhana yang cukup merobohkan sesuatu yang telah lama berdiri.
Takdir.
Kata yang terlalu mudah digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang seharusnya pilihan.
Matanya jatuh pada cincin yang menempel di jari manis Arjuna.
Berpendar pelan, namun cukup terang untuk menyilaukan.
Nyata.
Tak dapat disangkal.
Ia tersenyum. Mengangguk.
“Ya,”
Satu kata.
Namun berisi seluruh hal yang tak sempat ia katakan.
Bima Bayusena tak pernah benar-benar mengerti kapan semuanya mulai retak.
Atau mungkin,
Kapan ia mulai berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Memori itu tak pernah benar-benar hilang. Itu datang begitu saja tanpa diundang.
— Desember —
Udara dingin yang tak biasa, menembus langsung ke lapisan kulit.
Dan tubuh Arjuna yang terlalu dekat.
Berbaring diatas dadanya.
Hangat.
Terlalu hangat.
Ia tak bergerak.
Takut jika sedikit saja ia bernapas terlalu keras, semuanya akan lenyap.
I still remember
Ia masih ingat.
Setiap detail kecil yang tak penting, namun tak bisa dilupakan.
I was scared to take a breath, didn’t want you to move your head
Ia bahkan rela menahan napasnya sendiri.
Takut mengganggu ketenangan yang terlalu sempurna untuk dunia yang terlalu kejam.
Retakan itu datang perlahan, tanpa peringatan.
“Kurasa kita perlu…berpisah untuk sementara waktu.”
Kalimat yang datang, bak hujan tanpa awan.
How can we go back to being friends
“Arjuna, aku — ”
“Kau selalu saja keras kepala…”
Nada itu tak marah.
Lebih buruk, ia lelah.
“…kapan kau benar-benar berhenti, Bima?”
Dirinya terdiam. Tak benar-benar bisa membantah.
“…apa kau bahkan pernah mendengarku? Sekali saja?”
When we just shared a bed?
“Ayo kita akhiri,”
Sederhana.
Seolah itu keputusan kecil.
“Kurasa kita berdua butuh waktu…”
Seperti mematikan lampu yang tak lagi dibutuhkan.
How can you look at me and pretend
“Kurasa kita tak benar-benar cocok ‘kan, Bima?”
Kalimat itu terasa asing. Kalimat yang terasa seperti pengkhianatan dari sesuatu yang terasa benar. Kalimat berbeda dari orang sama yang pernah mengucapkan seribu janji.
I’m someone you’ve never met?
Bar kembali sunyi. Tak pernah benar-benar berubah, kecuali waktu.
Dan akhirnya, dirinya mengerti.
Tidak semua kehilangan datang dengan suara keras.
Sebagian datang seperti kabut — perlahan; diam-diam, hingga saat kau sadar, telah tersesat terlalu jauh.
Arjuna tak benar-benar pergi.
Ia hanya…tak lagi tinggal di tempat yang sama.
Dan dirinya,
Tetap berdiri disana.
Menjaga sesuatu yang sudah tak lagi ada.
Karena beberapa cinta tak pernah selesai.
Mereka hanya kehilangan kemungkinan untuk dilanjutkan.
