Work Text:
— Desember —
Udara dingin menggantung, menekan perlahan tanpa benar-benar melukai. Tak datang sebagai sesuatu yang kasar, hanya menetap diam-diam di sela napas yang terlewatkan.
Dan tubuh Arjuna berbaring di atasnya.
Ringan. Namun cukup ‘tuk menahan segala gerak yang akan ia lakukan.
Tak benar-benar tertidur, namun tak sepenuhnya terjaga; berada di antara sadar dan lelap, tempat dimana seseorang paling jujur tanpa perlu berbicara.
Napas teratur. Hangat. Kontras dengan udara yang perlahan menurun, seolah dunia luar tak memiliki kuasa atas ruang kecil yang mereka ciptakan sendiri.
Bima tak bergerak.
Bukan karena tak bisa, melainkan karena ia tahu —tak semua hal perlu disentuh ‘tuk terasa tetap utuh.
Aroma itu muncul perlahan. Tak datang tiba-tiba, melainkan menyusup; halus, nyaris tak disadari.
Manis. Tak menyengat. Cukup untuk dikenali, tanpa benar-benar meminta perhatian.
Ia menahan napasnya sesaat. Bukan karena takut mengganggu, melainkan karena ia tahu persis apa yang sedang ia rasakan.
Dan ia ingin mengabdikannya, sekali lagi.
Arjuna bergerak sedikit.
“Kenapa diam saja?” ujarnya pelan, setengah mengantuk.
“Takut kamu bangun.”
Arjuna mendengus ringan, nyaris seperti kebiasaan.
“Memangnya aku selemah itu?”
“Tidak,” jawabnya. “Aku hanya…tak ingin kamu pergi.”
Sunyi turun diantara mereka, bukan sebagai jeda, melainkan sebagai ruang. Ruang yang tak perlu diisi, karena kehadiran sudah cukup.
Arjuna tak langsung menjawab. Ia hanya menyesuaikan posisinya, semakin tenggelam dalam tempat yang telah terlalu lama ia kenal.
Seolah tempat itu memang sudah seharusnya miliknya.
“Bima.”
“Hm?”
“Kalau nanti kita…”
Kalimat itu terhenti. Bukan karena kehilangan arah, melainkan karena terlalu banyak kemungkinan yang menunggu di ujungnya.
Bima tak menyela. Ia tahu, beberapa hal tak bisa dipaksa keluar, hanya menunggu waktu hingga siap menjadi nyata.
“…kita tetap seperti ini?”
Pertanyaan sederhana. Namun tak benar-benar ringan.
Bima menatap langit-langit, bukan untuk mencari jawaban, melainkan memastikan bahwa apa yang ia katakan nanti tak ‘kan berubah di tengah jalan.
“Tetap seperti ini bagaimana?”
Arjuna menghela napas kecil.
“Kamu tau maksudku,”
Bima tersenyum tipis, bukan ‘tuk menghindar, melainkan memberi ruang.
“Berarti kamu yang seharusnya jelasin.”
Arjuna mengangkat wajahnya, cukup untuk menatapnya. Tatapan tenang, namun tak memberi pilihan untuk bercanda.
“Kalau aku tetap disini,” ujarnya pelan, “bukannya kamu yang lelah?”
Pertanyaan itu tak datang sebagai keraguan semata, melainkan sebagai sisa yang hampir membuatnya pergi.
Bima mengernyit.
“Lelah?”
“Iya”
Jeda singkat.
“Ngurus aku. Nunggu aku. Hadapin aku yang…”
Ia berhenti. Kalimat itu tak perlu diselesaikan ‘tuk dimengerti.
Bima mengangkat tangannya, menyentuh rambut Arjuna dengan gerakan sederhana, yang terlalu akrab untuk sebuah kebetulan. Sentuhan yang tak perlu meminta izin, karena telah terlalu lama menjadi bagian dari rutinitas.
“Kalau lelah, aku sudah pergi dari dulu.”
Arjuna diam.
“Masih disini,” lanjutnya, “harusnya cukup jelas ‘kan?”
Napas Arjuna berubah, sedikit lebih berat, seolah sesuatu yang akhirnya menemukan tempatnya.
“Jangan janji kalau tidak bisa ditepati.”
Kalimat itu jatuh tanpa tekanan, namun cukup tajam untuk meninggalkan jejak.
Bima tak langsung menjawab. Untuk kali ini, ia memilih diam sebelum berbicara — bukan karena ragu, melainkan karena ingin jawabannya terasa benar.
“Aku tidak memberimu janji yang aneh-aneh,” katanya akhirnya.“Hanya satu…”
Arjuna menatapnya, menunggu.
“Selama kamu masih disini…”
Jeda.
“Aku tidak akan menyuruhmu pergi.”
Sunyi kembali hadir, namun kali ini berbeda. Tak lagi terasa sebagai sesuatu yang menggantung, melainkan sesuatu yang terasa lebih damai.
“Dan kalau aku yang pergi?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba, namun tak mengejutkan.
Bima tersenyum kecil, “ya ‘kan ku cari.”
Sederhana. Namun justru karena itu — tak bisa dibantah.
Arjuna menghela napas pelan, kembali merebahkan kepalanya. Lebih dekat dari sebelumnya.
Aroma itu kembali terasa, tak lagi samar.
Lebih manis; lebih hangat. Tak tergesa.
“Bodoh,”gumamnya pelan.
Bima tertawa kecil, tak membalas. Tangan masih menetap, tak berpindah. Seolah tahu — ini adalah sesuatu yang enggan ‘tuk dilepas.
Sore datang tanpa perubahan yang mencolok. Tak lebih terang, tak pula lebih redup.
Namun entah bagaimana, terasa lebih berbeda.
Langit menggantung dengan warna keemasan yang tak lagi terasa seperti sesuatu yang akan hilang. Ia hanya berubah, perlahan, tanpa pernah meninggalkan kesan bahwa ia pernah pergi.
Bima berdiri tak jauh dari trotoar.
Menunggu. Bukan karena harus, melainkan karena sudah menjadi bagian dari hari.
Sebuah benturan kecil.
Tubuh ringan, nyaris tak berarti, namun cukup membuat langkahnya terhenti.
“Eh-”
Seorang anak.
Anak itu mendongak, menatapnya dengan tatapan jernih untuk dunia yang terlalu luas.
Bima tersenyum. Bukan karena sopan, melainkan karena ia mengenali sesuatu di sana.
“Pelan-pelan,” ujarnya.
Tangan terulur, tanpa ragu.
Anak itu tak menjauh. Sebaliknya, ia mendekat, seolah jarak bukan sesuatu yang perlu dipertahankan.
Aroma itu datang lebih dahulu. Tipis. Familiar.
Bukan sesuatu yang perlu diingat, melainkan sesuatu yang tak pernah benar-benar hilang.
Miliknya, atau setidaknya — pernah menjadi miliknya, sebelum akhirnya menjadi milik mereka.
“Bikin masalah lagi?”
Anak itu tertawa, tanpa merasa perlu menjawab.
Langkah lain menyusul dari belakang.
Tak tergesa.
“Vivaswanti.”
Suara itu datang dari arah yang tak perlu ia cari.
Arjuna.
Kali ini ia menatap,
Langsung.
Tanpa jeda.
Seolah tak ada yang perlu dihindari.
Anak itu berbalik.
“…mama.”
Sederhana. Seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.
Dan memang begitu.
Arjuna mendekat. Berdiri di samping dirinya, bukan di seberang.
Dekat. Nyaris tanpa jarak.
Tangannya meraih anak itu, tanpa sadar menyentuh punggung tangan Bima.
Singkat.
Namun tak ditarik.
Seolah itu adalah sesuatu yang terlalu lama menjadi kebiasaan ‘tuk dipertanyakan.
Bima menoleh, menatapnya dengan cara yang tak lagi menahan diri.
“Kalau aku lelah, dari dulu aku sudah pergi.”
Kalimat itu keluar tanpa peringatan.
Arjuna terdiam sejenak, seolah waktu menoleh ke belakang, memastikan sesuatu yang dulu hampir hilang kini benar-benar ada.
“Masih disini,” gumamnya.
Bukan bertanya. Hanya memastikan.
Bima mengangguk.
“Masih disini,”
Anak itu menarik tangan mereka berdua, tak sabar; tak mengerti sepenuhnya. Namun cukup tahu bahwa keduanya harus ikut.
Dan mereka menurut.
Langkah yang tak selalu seirama. Kadang terlalu cepat, kadang pula tertinggal. Namun tak benar-benar terpisah.
“…hingga maut memisahkan.” Lanjutnya.
Arjuna menoleh sekilas. Menatapnya.
Tatapan yang berbeda dari dulu.
Tak lagi ragu, tak lagi menahan.
Hanya ketenangan.
“…benar,”
Ia mengeratkan genggamannya pada tangan kecil diantara mereka.
“Hingga maut memisahkan.”
Mata itu —
Tak sepenuhnya milik siapapun.
Namun ada sesuatu disana.
Sesuatu yang lahir dari dua hal, memilih ‘tuk tetap tinggal.
Bima menunduk, merapikan rambut anak itu. Gerakan sederhana, namun penuh dengan sesuatu yang hampir hilang.
Sesuatu yang pernah ia bayangkan…dan akhirnya menjadi nyata.
Arjuna menatapnya, lebih lama dari yang diperlukan.
Tak ada yang perlu disembunyikan lagi, dan tak ada pula yang perlu dijaga terlalu hati-hati. Hanya ada satu hal yang tetap ada — tak pernah benar-benar berubah.
“Pulang?” tanya Bima, lebih menyerupai sebuah kebiasaan.
Arjuna mengangguk.
“Pulang.”
Satu kata.
Namun kali ini, memiliki arti yang utuh.
Bima meraih tangan kecil itu. Arjuna berjalan di sampingnya.
Tak ada lagi yang perlu dikejar; seolah dunia akhirnya memilih ‘tuk tak memisahkan mereka.
Langit perlahan menggelap, namun tak lagi terasa seperti kehilangan cahaya.
Karena kali ini —
Mereka tak lagi mencari; tak lagi meninggalkan. Dan mungkin,
Kebahagiaan tak pernah datang dengan cara yang besar.
Ia hanya…
Memilih ‘tuk tinggal,
Dari hal-hal kecil yang tak pernah mereka lepaskan.
