Work Text:
Dirinya lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Setidaknya dirinya pernah merasakan cinta, sebelum sang matahari tak lagi meneranginya.
Bukan. Sang matahari masih hidup, namun tak lagi bersamanya. Bagaimana badai 'kan pergi jika awan kelabu masih menutup langit, tanpa matahari.
Amnesia.
Sebuah penyakit sialan yang menghapus memori sang surya, menyisakan setitik gelap gulita.
Sebuah insiden kecil yang membuat segala hal berubah. Jika saja dirinya dan sang kasih tak bertikai pagi itu, jika saja dirinya dapat menahan emosi tak menentu, dan jika saja dirinya mengabari sang kasih malam itu. Segala hal tak perlu terjadi.
Sang kasih tak perlu keluar dari rumah, tak perlu pergi dengan tangisan. Dan jika saja dirinya mencoba merayunya, mencoba mengejarnya. Bukan malah ikut pergi dan berdiam dikantornya.
Tak menjawab dering telpon yang mungkin menjadi pertanda.
Arjuna tak akan mengalami kecelakaan, tabrak lari.
Dan dirinya tak bersama dengan sang kasih dalam ruang dingin tersebut.
Karena ketidaktahuannya dalam membaca pertanda.
Kesadaran menimpanya saat dia menyadari rumah tak benar-benar menyala, bahkan larut telah datang.
Mobil melaju kencang seketika, setelah ia membaca pesan dari salah satu rekannya. Rumah sakit.
Bau antiseptik menekan hidung, namun tak pernah ia pedulikan. Fokusnya hanya tertuju pada satu ruang.
Dibukanya pintu. Terlihat sang kasih tengah terduduk menatap kosong layar depan, bersama sang rekan yang menjaganya selama itu.
“...kau terlambat, Bima.” cemoh sang rekan.
Tak ia hiraukan, entah bagaimana dadanya bercampur aduk.
Debaran ketakutan, napas yang tak beraturan, dan... Lega.
Mata sang kasih akhirnya menatapnya, “Siapa?”
Satu kata yang berhasil menghancurkan seluruh dunianya. Seolah mencari jawaban atas candaan, dirinya menoleh kearah sang rekan yang hanya disambut oleh gelengan.
“Arjuna, jangan bercanda... Aku kekasihmu,” getaran dalam nada suara Bima membuatnya tampak semakin menyedihkan.
Namun sang empu hanya menatap kosong, tak percaya. Bak dirajam, pandangannya mulai kabur diiring dengan dengungan yang memekakkan. Hanya satu hal yang membuatnya tetap sadar, dentingan logam yang menempel pada dinding.
“...kurasa kau harus menemui dokter yang menanganinya, Bima.”
Bertepatan dengan selesainya kalimat, sang dokter masuk tanpa peringatan.
Memasuki ke ranah pribadi, sang rekan keluar dari ruangan, membiarkan segala informasi keluar tanpa penghambat.
“Karena tabrakan yang dialami oleh pasien, menyebabkan dirinya mengalami gagar otak ringan,” ujar sang dokter, “saat benturan keras terjadi, dirasa diringi dengan sebuah gangguan emosional yang kuat menyebabkan otak pasien mengalami sedikit gangguan, yang menyebabkan terjadinya amnesia.”
Kalimat yang keluar, berhasil membuatnya lemas.
“...apa ada kemungkinan ingatannya kembali?” ujarnya pelan.
“berusahalah membuatnya mengingat kembali, sisanya serahkan kepada waktu.”
Waktu. Lagi-lagi ia memainkan perannya. Lebih penting dari yang ada.
Tentunya mereka bertikai sesaat sebelumnya, tapi tak pernah sekalipun dirinya berpikir hal ini 'kan terjadi. Tak pernah sekalipun dirinya mengharapkannya.
Mau bagaimanapun, Arjuna adalah kekasihnya. Pemegang hatinya. Miliknya. Jadi dirinya telah memutuskan. Persetan dengan waktu, dirinya 'kan kembali memulihkan memori sang kasih.
Bahkan jika membutuhkan ribuan tahun lamanya.
Hari berlalu menyisakan luka yang tak nampak. 'tuk sementara waktu, Arjuna masih menetap disana, rumah sakit.
Membangun kembali memori bersamanya. Menulis kembali lembar yang sempat hilang.
Sang rekan tetap membantunya, walau mungkin sejujurnya ia tak rela.
Seolah waktu mengoloknya. Hari berubah menjadi minggu, minggu berubah menjadi bulan. Tak satupun ingatan sang kasih kembali.
Dirinya mulai kehilangan harapan. Bukan. Dirinya tak mungkin kehilangan rasa cintanya pada Arjuna.
Namun, keraguan muncul begitu saja. Setiap kali sang kasih semakin dekat kepada sang rekan daripada dirinya.
Apa ini memungkinkan? Apa ini bahkan akhir? Setelah hampir dua puluh tahun bersama?
Yah, apapun 'tuk tak kehilangan mataharinya.
Pertemuan pertama mereka bahkan tak terlalu berkesan. Hanya seorang bocah 9 tahun yang berusaha menghentikan aksi yang dilakukan bocah 8 tahun.
This was the very first page
Seorang yang lebih tua menasihati yang muda. Namun entah mengapa, didengarkan.
Menjadi seseorang yang lebih dekat dari tahunnya.
Not where the story line ends
Sebuah keberanian yang entah datang darimana muncul. Sang bocah bermasalah —yang kini telah menjadi remaja gagah— mengakui perasaanya.
Dan entah bagaimana pula, perasaan saling terjalin. Berlalu hingga saat ini, tentunya sebelum semua ini terjadi.
My thoughts will echo your name
Kencan awal mereka bahkan tak pernah berada dalam pikiran Bima. Sesaat melihat sang kasih, dirinya merasa 'kan selalu jatuh hati padanya.
Until I see you again
Senyumnya. Tawanya. Candanya.
Seolah dunia selalu berputar pada mereka.
These are the words I held back, as I was leaving too soon
Seakan lembar pertama tak pernah benar-benar menjadi lembaran akhir. Tak pernah terpikirkan berakhirnya sebuah cerita diantara mereka.
I was enchanted to meet you
Bahkan setelah bertahun lamanya, perasaannya tak pernah sekalipun pudar.
Sebuah kalimat yang tak pernah benar-benar keluar, hanya dirinya yang mengetahuinya.
Bahwa dirinya rela menukar apapun 'tuk sang terkasih. Bahkan itu berarti menukar nyawanya agar sun mengingatnya kembali.
Memori yang terlalu sempurna tuk dikacaukan.
Please don't be in love with someone else
Mungkin kali ini, dirinya ingin bersikap serakah.
Tapi ia harap, selamanya Arjuna tak pernah jatuh hati pada yang lain.
Please don't have somebody waiting on you
Karena, ia bahkan tak kan jatuh hati selain pada sang kasih. Arjuna tersayang, cintanya, dan selamanya Miliknya.
