Chapter Text
Di tengah riuhnya obrolan kampus. Mahasiswa berlalu-lalang dengan langkah terburu-buru, menciptakan suara langkah kaki yang beradu. Di tengah arus itu, Seonghyeon berjalan berdampingan dengan Juhoon teman sebayanya. Keduanya adalah sosok yang sulit untuk diabaikan, dua Alpha Dominan dengan postur tegap yang secara alami membelah kerumunan.
Koridor fakultas hukum siang itu terasa lebih sempit dari biasanya, fokus Seonghyeon sedang tidak tepat. Kepalanya sedikit tertunduk, matanya menatap kosong ke lantai ubin yang mengkilat sembari telinganya mendengarkan Juhoon yang terus meracau panjang lebar soal tugas mata kuliah yang tak kunjung usai. Seonghyeon hanya mengangguk sesekali.
"Hyeon, lu dengerin gue nggak sih? ini tugas kelompoknya mau gimana—"
Belum sempat Juhoon menyelesaikan kalimatnya, sebuah dentuman keras bergema di antara dinding koridor, disusul antara jeritan mengaduh pelan yang tertelan keramaian.
Seonghyeon tersentak, bahu tegapnya baru saja terbentur dengan bahu seseorang. Ia menyaksikan tumpukan buku-buku tebal meluncur bebas dari dekapan seseorang, menghantam lantai beton sebelum akhirnya berantakan ke segala arah. Sosok di hadapannya itu terhuyung, kehilangan keseimbangan, dan berakhir jatuh terduduk di tengah jalan.
"Astaga, maaf!" Seonghyeon berseru panik. Jantungnya berpacu cepat karena rasa bersalah yang muncul lebih keras dari tabrakan tadi. "Maaf banget, saya nggak merhatiin jalan."
Juhoon pun ikut terpaku, matanya membelalak melihat kekacauan di lantai. "Duh, maaf ya. Temen saya gak fokus."
Banyak pasang mata mulai melirik secara bersamaan, menatap ingin tahu pada insiden itu. Namun, Seonghyeon menghiraukan mereka. Ia berlutut, merendahkan tubuhnya di depan laki-laki yang masih terdiam, mungkin tengah mengumpulkan kesadarannya yang sempat terlempar. Jarak mereka kini begitu dekat, membelah kerumunan yang berlalu-lalang.
"Ada yang luka? ada yang sakit? maafin saya ya, gak sengaja." Seonghyeon berujar beruntun.
Tangannya bergerak ragu di udara, ingin menyentuh bahu laki-laki itu untuk memastikan keadannya baik-baik saja namun tertahan oleh rasa sungkan.
Laki-laki itu perlahan mengangkat kepala, jemarinya bergerak untuk membenarkan letak kacamata yang sedikit miring, lalu ia mengusap bagian belakang kepalanya yang mungkin sempat tersentak karena terkejut. Saat wajah itu mendongak sepenuhnya, Seonghyeon merasa napasnya tertahan.
Wajah itu. Ia mengenalnya.
Memorinya mendadak berputar mundur, kembali pada barisan panas di lapangan tengah saat orientasi kampus setahun yang lalu. Saat itu, ia dan Juhoon berdiri gagah dengan almamater sebagai kakak pembimbing, berteriak memberikan instruksi di depan ratusan mahasiswa baru.
Dan di sana, di barisan belakang yang tidak terlalu terkena sinar matahari, ada sosok yang sekarang terduduk di hadapannya ini. Mahasiswa baru yang paling pendiam, yang namanya sering Seonghyeon panggil saat absensi karena ketenangannya yang janggal.
"Keonho...?" ia bersuara, nada paniknya kini berganti menjadi keheranan yang mendalam.
Juhoon, yang tengah memunguti buku-buku tebal di lantai, ikut terperangah. "Lho... Keonho? kamu anak gugus padma bimbingan kita dulu kan?"
Keonho—sang pemilik buku—akhirnya menghembuskan napas panjang. Ia tidak terlihat murka, hanya ada sedikit gurat malu di wajahnya karena mendadak menjadi pusat perhatian. Ia mulai bergerak untuk bangkit, tetapi Seonghyeon bergerak lebih sigap. Dengan penuh kehati-hatian, ia menggenggam siku Keonho, menopang beban tubuhnya agar bisa berdiri dengan sempurna.
"Aku bener-bener gak sengaja, maaf ya Keonho," ucap Seonghyeon lagi, masih enggan melepaskan pegangannya sampai ia yakin laki-laki di hadapannya itu sudah berdiri stabil.
"Nggak apa-apa kak. Aku juga tadi mikirin hal lain, jadi gak fokus," ujar Keonho pelan. Suaranya terdengar datar, persis seperti Keonho yang ada dalam ingatan Seonghyeon.
Saat berdiri sedekat ini, indra penciuman Seonghyeon yang tajam menangkap sesuatu yang asing. Di tengah atmosfer koridor yang penuh dengan berbagai aroma feromon Alpha atau Omega yang agresif dan menekan, aroma dari laki-laki di depannya ini terasa sangat berbeda.
Sangat tipis. Nyaris hambar namun menenangkan. Hanya ada aroma samar seperti kayu cendana bercampur vanilla yang tidak terlalu menyengat. Tidak ada tekanan insting, tidak ada aura intimidasi.
"Dia... Beta? tapi kenapa feromonnya beda banget sama kebanyakan Alpha?" batin Seonghyeon. Seingatnya, data gugus mereka dulu mencatat Keonho sebagai seorang Alpha, namun aroma ini sama sekali tidak mencerminkan kasta itu.
Juhoon menyodorkan tumpukan buku yang sudah ia rapikan kembali. "Ini, Keon."
"Terima kasih, kak Ju," Keonho menerima bukunya, kembali memeluknya di depan dada. Ia memberikan senyum tipis. "Kalau begitu, aku duluan ya. Ada kelas."
Seonghyeon hanya bisa mematung, menatap punggung Keonho yang perlahan menjauh dan menyatu kembali dengan kerumunan mahasiswa. Tangannya yang tadi menopang siku Keonho masih meninggalkan sedikit sensasi dingin.
"Hyeon? halo? kenapa malah melamun?" Juhoon menyikut lengannya. "Kasihan Keonho, dari dulu dia emang pendiem ya. Padahal denger-denger dia salah satu tutor andalan di kelas akuntansi."
Seonghyeon tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada titik di mana Keonho menghilang. Ada sesuatu yang kini mengusik benaknya—sebuah rasa penasaran yang jauh lebih dalam daripada sekadar rasa bersalah karena telah menabrak seseorang.
"Aku baru sadar," gumam Seonghyeon pelan.
"Sadar apa?"
"Aku beneran nggak pernah sadar sama dia, padahal dulu jadi pembimbing dia."
●
●
●
●
●
Aroma makanan dan riuh rendah tawa mahasiswa menyambut kedatangan mereka di kantin yang sesak. Seonghyeon duduk di hadapan Juhoon, membiarkan segelas es teh manisnya berembun tanpa disentuh. Pikirannya melayang entah kemana, entah ke pertemuan tak terduga ia yang menabrak Keonho, atau yang lainnya.
"Hyeon, makan. Keburu basi nasinya," tegur Juhoon sembari menuangkan saos tomat ke nasi gorengnya.
Seonghyeon tersentak, lalu perlahan mengambil sendok. "Ju, lu inget nggak? Keonho yang tadi."
Juhoon mendongak, alisnya bertaut. "Ya ingetlah. Kan tadi ketemu, kenapa emangnya?"
Seonghyeon menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, matanya menatap lurus ke arah Juhoon dengan binar yang berbeda. "Dari jarak sedeket itu, gue sama sekali gak ngerasain tekanan."
Juhoon tertawa kecil, hampir tersedak kerupuknya. "Ya iyalah. Dia kan emang pendiem. Lu berharap dia bakal nantangin lu adu feromon di tengah koridor?"
"Bukan itu," sela Seonghyeon cepat. "Maksud gue dia Alpha, kan? tapi feromonnya tipis banget. Tadi pas gue bantu berdiri, gue hampir ngira dia seorang Beta. Kayak nggak ada beban insting yang biasanya nempel sama Alpha Dominan kayak kita ini."
Mendengar itu, Juhoon menghentikan aktivitas makannya. Ia menatap sahabatnya itu dengan selidik. "Tunggu. Sejak kapan lu jadi se-observan ini sama orang? apalagi sama sesama Alpha? biasanya lu paling males kalau disuruh merhatiin orang yang 'lemah' menurut standar kasta."
Seonghyeon terdiam sejenak, menyesap es tehnya yang kini terasa hambar. "Gue nggak tau. Cuman, ya... ada sesuatu yang buat gue tertarik. Cara dia nggak marah meski jatuh di depan banyak orang, cara dia tetep tenang meski kita ini—yah, lu tau—mantan kakak pembimbingnya yang paling sering teriak di depan mukanya dulu."
"Mungkin dia emang udah biasa diremehin," Juhoon kembali menyendok makanannya. "Banyak yang meragukan status Alpha-nya karena dia resesif. Tapi gue denger dari anak akuntansi, otak Keonho itu nggak main-main. Dia satu-satunya tutor yang bisa menjelaskan statistik sampai mahasiswa paling bebal pun paham. Dia hebat dengan caranya sendiri."
Seonghyeon mengangguk pelan, otaknya mulai menyusun kepingan informasi itu. Alpha Resesif yang hebat, namun memilih untuk meredam suaranya.
●
●
●
●
●
Keonho melangkah cepat menelusuri selasar menuju gedung fakultas ekonomi dan bisnis. Pelukannya pada tumpukan buku di dada terasa sedikit lebih erat dari biasanya. Jantungnya masih berdetak kencang, bukan karena rasa takut, tapi karena keterkejutan saat bahu kokoh Seonghyeon menghantamnya tadi.
Begitu sampai di belokan gedung, Keonho melambatkan langkahnya. Ia menoleh sekilas ke belakang, memastikan tidak ada sosok tinggi tegap Seonghyeon atau Juhoon yang mengikutinya.
Sebenarnya, ia berbohong. Tidak ada kelas siang ini. Jadwalnya baru dimulai pukul empat sore nanti, itu pun bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai tutor sebaya. Tapi berdiri di antara dua Alpha Dominan seolah menyedot seluruh oksigen di koridor tadi benar-benar membuatnya sesak. Ia harus pergi dari sana secepat mungkin.
Keonho segera masuk ke dalam perpustakaan pusat, menuju sudut paling belakang yang jarang dijamah mahasiswa—area buku-buku tua bersejarah. Di sana, suhu udaranya lebih dingin dan, yang paling penting, aromanya netral.
Keonho menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara yang tenang. Ia meletakkan buku-bukunya di atas meja kayu panjang, lalu duduk perlahan.
Jemarinya bergerak merapikan ujung kemejanya yang sedikit kusut akibat jatuh tadi, sebelum akhirnya ia menyentuh sikutnya sendiri.
Keonho mengerutkan kening, ia ingat betul siapa Seonghyeon dan Juhoon. Siapa yang bisa melupakan dua Alpha Dominan paling vokal di gugus padma setahun lalu? Seonghyeon yang selalu berdiri tegap dengan pandangan tajam, sosok yang seolah-olah menguasai seluruh lapangan hanya dengan keberadaannya.
Dulu, Keonho selalu berusaha menunduk serendah mungkin agar tidak terpapar oleh aura dominan Seonghyeon. Namun tadi... saat Seonghyeon berlutut di depannya, Keonho merasakan sesuatu yang aneh.
"Kenapa dia nggak menekan?" gumam Keonho pelan pada dirinya sendiri.
Biasanya, saat Alpha Dominan berada dalam jarak sedekat itu, insting Keonho sebagai Alpha Resesif akan merasa tercekik atau setidaknya tidak nyaman.
Tapi tadi, Seonghyeon justru menarik kembali semua feromonnya. Seonghyeon menatapnya dengan tatapan yang sulit Keonho artikan. Rasa bersalah? atau sesuatu yang lain? Keonho menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu.
Ia mengambil laptop di ransel dan membukanya, layar menampilkan deretan angka dan tabel matakuliah akuntansi keuangan yang sebenarnya lebih ia sukai daripada statistik, meski ia sering diminta mengajar keduanya. Angka tidak pernah berbohong, tidak seperti dirinya yang baru saja menggunakan alasan "kelas" untuk melarikan diri.
Mendadak, memori tentang aroma Seonghyeon terlintas. Ia tahu Seonghyeon adalah Alpha Dominan, namun ia tidak menyangka bahwa dari jarak sedekat itu, ia bisa merasakan betapa berbedanya Seonghyeon.
"Fokus, Keonho. Dia cuma kakak tingkat yang merasa bersalah karena nabrak kamu," bisiknya pada diri sendiri, jemarinya mulai menari diatas keyboard.
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Keonho merasa ada yang bergeser. Dunia tenangnya yang selama ini ia jaga dengan rapat di balik angka-angka akuntansi, baru saja retak sedikit karena kehadiran seorang Seonghyeon yang aromanya... entah kenapa, terasa terlalu familiar.
●
●
●
●
●
Cahaya matahari sore yang mulai menguning masuk melalui celah jendela kelas yang hampir kosong. Keonho duduk di samping seorang gadis bersurai panjang, sebuah meja kayu panjang menjadi saksi bisu tumpukan kertas yang penuh coretan pensil.
Keonho tidak suka gaya mengajar yang kaku. Ia lebih suka duduk bersisihan seperti ini, seperti dua teman yang sedang mengerjakan tugas kelompok, menjelaskan setiap baris materi.
"Jadi, selisihnya itu ada di bagian beban penyusutan. Kamu harus teliti di sini, Ian," ujar Keonho pelan. Ujung pensilnya menunjuk pada satu angka di buku besar.
Ian tidak menyahut. Tangannya memang memegang pulpen, tapi matanya tidak tertuju pada angka itu. Ia justru menatap profil samping wajah Keonho. Menatap bagaimana kacamata itu bertengger di pangkal hidung Keonho dan betapa seriusnya laki-laki itu saat bekerja.
"Ian?" panggil Keonho, menoleh sedikit.
Ian berkedip, lalu berdeham sambil membuang muka sedikit, kembali memasang wajah cueknya yang khas. "Ya, kedengaran kok."
Keonho hendak melanjutkan penjelasannya tentang penyesuaian akhir tahun, namun suara Ian memotongnya dengan nada bicara yang datar—sedikit kasar, namun terdengar seperti rasa ingin tahu yang besar.
"Keon, status kamu masih sering diraguin ya sama orang-orang?"
Gerakan pensil Keonho berhenti seketika. Ia terdiam, pertanyaan itu bukan hal baru, tapi mendengarnya dari Ian—seorang Beta yang tidak bisa merasakan tekanan feromon-terasa berbeda. Keonho hanya menatap kertas di depannya tanpa ekspresi yang berarti.
Ian, yang memang dikenal sebagai perempuan cuek dan bicaranya sering ceplas-ceplos tanpa filter, melanjutkan, "Habisnya, aku liat kamu nggak ada bedanya sama aku. Nggak ada aura-aura Alpha yang bikin pusing itu. Tenang-tenang aja."
"Mungkin karena aku resesif," tukasnya, berusaha kembali fokus pada angka. "Udah, lanjut ke bagian-"
"Tau nggak? kamu kayaknya bakal cocok kalau sama sepupu aku," sela Ian tiba-tiba. Ia menyandarkan punggungnya, memutar-mutar pulpen di jemarinya dengan senyum yang jarang ia tunjukkan. "Meskipun dia Alpha juga."
Keonho menghentikan kegiatannya sepenuhnya. Ia menoleh ke arah Ian dengan dahi berkerut, ekspresi herannya tidak bisa disembunyikan. "Maksudnya? sesama Alpha nggak bisa bersama. Itu gak lazim."
Ian hanya terkekeh kecil, senyumanya kini tampak lebih lebar. "Siapa bilang nggak bisa? bisa aja kalau mau. Lagian, aturan kasta itu kan cuma buatan manusia yang terlalu banyak mikir pake hidung."
Keonho mengerjap. Ia tidak tahu apa yang di maksud oleh gadis itu. Baginya, Ian hanyalah mahasiswi Beta yang butuh bantuan materi akuntansi.
"Sepupumu itu... orangnya kayak apa emangnya?" tanya Keonho, sedikit terbawa rasa ingin tahu yang jarang ia tunjukkan.
Ian mengangkat bahu, wajahnya kembali ke setelan pabrik, cuek dan terlihat sebal. "Berisik, suka ngatur. Kepalanya sering pusing sendiri nggak jelas. Pokoknya tipe yang minta banget ditendang setiap hari. Tapi, dia itu butuh seseorang yang bisa bikin dia diem. Dan pas aku liat kamu, aku ngerasa kamu satu-satunya orang yang bisa bikin si cerewet itu tenang."
Keonho hanya menggelengkan kepala pelan, menganggap itu hanya bualan Ian untuk mengalihkan sesi belajar. "Aneh-aneh aja. Ayo, selesaiin ini. Aku mau pulang sebelum malem."
Ian tidak menjawab lagi, ia kembali fokus ke kertasnya dengan senyum tipis. Dalam hatinya, ia membayangkan betapa lucunya jika sepupunya yang "dominan" itu benar-benar bertemu dengan Keonho yang setenang air.
●
●
●
●
●
Malam pun tiba, Keonho mematikan mesin mobilnya tepat di saat mobilnya sudah terparkir rapi di garasi. Tangannya masih mencengkeram setir dengan kencang, berusaha melepaskan sisa energi dari aktivitas di kampus. Setelah menarik napas panjang, ia pun membuka pintu mobil, meraih tas ranselnya, dan melangkah keluar.
Suara kenop pintu dibuka terdengar di sunyinya ruang tengah. Begitu pintu terbuka, aroma masakan rumahan yang gurih menyambut Keonho, bercampur dengan kehangatan rumah.
"Kok tumben cepet pulangnya, nak?" suara wanita paruh baya terdengar dari arah meja makan. Sang mama sedang menata piring, senyuman mengembang melihat putra bungsunya masuk.
"Iya, ma," jawab Keonho pelan sambil menghampiri mamanya untuk menyalimi tangan beliau. "Cuma ngajarin satu orang aja, makanya pulang lebih awal."
Tak lama, terdengar suara pintu terbuka dari arah lorong. Perempuan tinggi muncul dengan kaus rumahan dan rambut tergerai sedikit basah setelah mandi. Aroma feromon sang kakak terasa di udara-tipis, maskulin, dan sangat "Alpha" pada umumnya, namun tidak pernah terasa mengancam bagi Keonho karena ini adalah rumah.
Yujin baru saja pulang dari kantor. Ia berjalan menuju dapur, langsung membantu mama memindahkan panci sup ke meja makan sambil menatap adiknya dengan tatapan selidik.
"Muka lu kusut banget, dek. Mahasiswa akuntansi kalau belajar nggak tanggung-tanggung ya?" goda Yujin sambil menarik kursi. "Sana mandi dulu, ganti baju. Bau kampus tuh. Habis itu langsung makan, mama udah masak enak hari ini."
Keonho hanya merotasikan bola matanya menanggapi godaan dari kakaknya. "Iya, kak. Aku ke atas dulu sebentar."
Keonho melangkah menuju anak tangga, sesampainya diatas, ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Keheningan langsung menyelimutinya, kamar ini adalah teritorinya yang paling sakral-penuh dengan rak buku yang tertata menurut alfabet, meja belajar yang bersih, dan aroma kayu yang samar.
Ia meletakkan tasnya di kursi meja belajar, lalu duduk di tepi tempat tidur. Keonho melepas kacamatanya, memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal.
Pikirannya mendadak berputar ke kejadian hari ini. Dimulai dari tabrakan di koridor dengan Seonghyeon, hingga celetukan aneh Ian soal "sepupu" yang Alpha. Keonho merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, menatap langit-langit kamar.
Tiba-tiba, ingatannya kembali ke satu titik- siku tangan kirinya.
Keonho mengangkat tangannya, menatap area yang tadi sempat dicengkeram oleh Seonghyeon untuk menahannya agar tidak jatuh lagi. Rasanya aneh. Sebagai Alpha Resesif, Keonho biasanya sangat sensitif dan enggan disentuh oleh Alpha Dominan.
Tapi Seonghyeon... sentuhannya tadi tidak terasa seperti sebuah klaim atau intimidasi. Itu adalah pegangan yang anehnya... lembut.
