Actions

Work Header

My Accidental Mate

Summary:

Koneko, mahluk hidup baru yang muncul di tengah masa berkabung yang dialami manusia. Rasa sedih akibat punahnya keluarga kucing perlahan mulai membaik. Koneko menggantikan peran kucing sebagai sahabat manusia.

Kagami Taiga menemukan hal tak terduga saat dirinya baru saja pulang dari luar kota. Koneko miliknya yang bernama Kuroko Tetsuya ternyata tidak sendirian. Ada juga Koneko lain yang tidur di sebelah Kuroko.

Dan dari sanalah kehidupan Kagami dan Kuroko mulai berjalan secara melenceng. Apa yang sudah direncakan Kagami bagi Kuroko harus berubah setelah Akashi Seijuurou datang menyerang. Ia bahkan juga membawa serta seorang pemilik host club bernama Aomine Daiki untuk meladeni Kagami. Kuroko dan Kagami tentu saja merasa tidak rela. Tetapi, Akashi dan Aomine tidak akan mau membiarkan sesuatu yang berkualitas lepas dari tangan mereka.

Notes:

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

"aaaaaa" Pembicaraan Karakter
'aaaaaa' Pembicaraan dalam Hati

Warning: OoC dan ini bukan fanfic serius

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Prolog

Chapter Text


Sekitar seribu tahun yang lalu populasi kucing mulai mengalami kepunahan secara perlahan. Suatu penyakit menular muncul secara tiba-tiba, tetapi anehnya, penyakit tersebut hanya menyerang Keluarga Felidae atau familia dari kucing. Saat kepunahan itu dimulai, manusia sama sekali tidak menyadari hal tersebut karena bisa dibilang bahwa kepunahan tersebut berlangsung dengan perlahan, yaitu selama 500 tahun. Manusia bahkan belum mulai mengelompokan berbagai macam mahluk hidup di dunia secara khusus.

Manusia baru menyadari fenomena tersebut saat mulai terjadi banyak kematian keluarga kucing di seluruh dunia. Terbatasnya penyebaran informasi juga menjadi penghambat besar bagi manusia pada saat itu. Pada awalnya manusia mengira fenomena tersebut hanya sebagai wabah penyakit di suatu tempat. Tetapi, ketika informasi mulai menyebar, manusia akhirnya sadar bahwa bencana besar telah terjadi. Manusia berusaha melakukan apapun yang mereka bisa dengan pengetahuan yang masih sangat terbatas. Namun, tidak ada perubahan yang terjadi. Seakan hal-hal tersebut hanyalah perihal yang tidak berguna. Dan akhirnya, sekitar 500 tahun yang lalu, manusia melihat keluarga kucing untuk terakhir kalinya.

Manusia di seluruh dunia berkabung. Tidak peduli itu adalah kucing-kucing besar yang hidup liar ataupun kucing-kucing kecil yang tinggal bersama mereka. Salah satu teman terdekat manusia telah hilang selamanya dari muka bumi.

Namun, suatu keajaiban tiba-tiba muncul. Di tengah masa abu-abu tersebut, seorang peneliti yang masih melakukan pencarian terhadap keberadaan keluarga kucing terakhir yang mungkin masih tersisa justru menemukan suatu hal yang sangat mengejutkan.

 

Mahluk hidup baru telah ditemukan.

Dan mahluk tersebut merupakan perpaduan antara manusia dan kucing.

 

Secara fisik, mahluk baru tersebut memiliki tubuh seperti manusia ditambah dengan atribut-atribut yang ada pada kucing.

Bentuk kepala mereka menyerupai manusia. Hal yang berbeda adalah telinga lancip berbulu yang besar, rambut yang memiliki bermacam-macam warna, dan mata berpupil tajam yang dapat melihat dengan jelas di malam hari. Gigi-gigi mereka tajam dan memiliki taring.

Kedua tangan dan kaki memiliki cakar tajam dan berbulu, tetapi bulu-bulu tersebut kian menipis dan hanya sampai pada daerah pergelangan tangan dan kaki. Selain itu, terdapat otot-otot tambahan pada daerah telapak tangan dan telapak kaki. Sendi-dendi mereka juga lebih fleksibel jika dibandingkan dengan manusia. Hal itu memungkinkan mereka untuk melompat dari ketinggian dan berlari menggunakan kedua kaki dan kedua tangan.

Terakhir, ada ekor panjang yang dapat menyeimbangkan pergerakan mereka.

Satu hal yang sangat spesial dari mahluk tersebut adalah tingkat kecerdasan yang hampir setara dengan manusia. Mahluk tersebut bahkan lebih menyerupai evolusi dari manusia dari pada evolusi dari keluarga kucing.

Keberadaan mahluk ini seakan-akan menjawab sebuah kehilangan yang dialami umat manusia.

Mahluk tersebut ditemukan pertama kali dalam bentuk sekelompok kawanan. Awalnya manusia memutuskan untuk membiarkan saja mahluk tersebut supaya bisa hidup secara alami. Tetapi, muncul sebuah ketakutan mengenai wabah penyakit yang pernah menyerang keluarga kucing. Bagaimana jika penyakit tersebut datang lagi dan manusia terlambat menyadarinya?

Akhirnya, manusia memutuskan untuk menangkap kawanan tersebut dan menelitinya.

Perlahan, mahluk-mahluk serupa mulai bermunculan. Dengan pengetahuan baru yang terus berkembang dari penangkapan-penangkapan sebelumnya, manusia mulai membuat sistem untuk mereka. Mahluk tersebut yang diberi nama Felis Homos, tidak diperbolehkan untuk hidup secara liar. Mahluk tersebut harus hidup bersama manusia. Alasannya adalah untuk mengontrol mereka sehingga keutuhan spesies tersebut tetap terjaga. Tetapi, ada juga yang berpikir bahwa manusia sebenarnya merasa takut jika mahluk tersebut mungkin akan menyerang manusia dan menjadi predator.

Seiring berjalannya waktu, jumlah dari Felis Homos terus bertambah. Hal itu membuat keberadaan yang pada awalnya hanya merupakan hewan langka yang dilindungi berubah menjadi peliharaan bagi manusia. Tetapi, tentu saja mereka bukanlah peliharaan biasa. Memelihara seekor Felis Homos sama dengan merawat seorang anak manusia. Mereka mempunyai suatu sistem khusus untuk bisa hidup di lingkungan manusia. Dan tentu saja, sistem tersebut berlaku untuk Felis Homos dan pemiliknya.

Di berbagai negara, Felis Homos disebut dengan nama yang berbeda-beda. Salah satu contohnya adalah di Negara Jepang, Felis Homos disebut dengan Koneko yang berarti anak kucing. Di masa sekarang Koneko lebih banyak dimanfaatkan sebagai hewan peliharaan manusia. Walaupun pada akhirnya sebagian besar manusia lebih sering menganggap mereka sebagai ‘manusia’ yang lain. Teman dan keluarga adalah peran yang dapat dipenuhi oleh Koneko.

Jika kita berbicara mengenai mitos dan dongeng, Koneko tentu saja mempunyai cerita tersendiri. Terlepas dari semua pengetahuan yang didapat dari penelitian, penciptaan Koneko dianggap sebagai perwujudan dari doa tulus yang dikabulkan dewa.


Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang anak laki-laki dari keluarga miskin. Anak tersebut merupakan anak yang pendiam. Ia tidak mempunyai teman dan selalu terlihat sendirian. Suatu hari anak tersebut menyelamatkan seekor kucing betina yang terjatuh ke sungai. Ia membawanya pulang, mengeringkannya, lalu membiarkannya beristirahat di dalam gudang yang ada di rumah milik saudagar kaya dimana dirinya dan orang tuanya bekerja. Setelah itu anak tersebut hanya mengabaikan kucing tersebut. Ia berpikir bahwa kucing tersebut akan segera pergi dari tempat tersebut. Tetapi, kucing tersebut justru selalu kembali kepadanya untuk bermain dan meminta makanan. Anak yang merasa kesepian tersebut perlahan mulai terlihat ceria. Akhirnya ia mendapatkan sebuah teman yang sudah lama diinginkannya. Namun, ternyata ada yang merasa iri dengannya.

Anak dari saudagar kaya tanpa sengaja melihat anak laki-laki tersebut sedang bermain dengan kucingnya. Melihat hal tersebut, anak saudagar kaya kemudian memohon kepada orang tuanya untuk memberikannya kucing. Orang tuanya ternyata tidak mengabulkan permintaannya tersebut. Mereka tidak mau ada hewan peliharaan yang berkeliaran di tempat tinggal mereka. Anak saudagar kaya pun akhirnya menyerah setelah permintaannya ditolak berkali-kali dan ia hanya bisa menonton Anak laki-laki miskin bermain dengan kucingnya setiap hari.

Beberapa bulan kemudian kucing tersebut ternyata melahirkan beberapa anak kucing. Si anak laki-laki miskin merasa sangat senang karena dirinya bisa mempunyai lebih banyak teman. Dan hal ini ternyata juga tidak luput dari penglihatan Si anak saudagar kaya. Rasa iri semakin tumbuh di dalam dirinya. Saat anak-anak kucing sudah bisa berjalan, Si anak saudagar kaya mencuri salah satu anak kucing dan membawanya ke kamar. Hal ini ternyata diketahui oleh salah satu pelayan dan pelayan tersebut melaporkannya. Sang saudagar kaya marah besar. Ia bertanya kepada anaknya mengenai asal kucing tersebut. Si anak pun menceritakan semua yang dilihatnya selama ini. Sang Saudagar Kaya lalu memerintahkan salah satu pelayannya untuk meracuni induk kucing tersebut. Dengan begitu, anaknya tidak akan ribut lagi mengenai hewan peliharaan.

Si induk kucing berhasil diracuni. Anak-anaknya yang saat itu masih perlu menyusui juga ikut mati satu-persatu. Anak laki-laki miskin merasa sangat sedih dan akhirnya ia membawa dua anak kucing yang masih tersisa ke sebuah kuil yang ada di tengah hutan. Di sana ia berdoa kepada Dewa untuk menyelamatkan kedua anak kucing tersebut. Setelah mendengar permitaan tulus tersebut, Dewa lalu menampakan dirinya. Ia berkata bahwa kedua kucing tersebut bisa selamat asalkan ada seorang manusia yang dikorbankan. Hawa kehidupan manusia akan digunakan untuk mengubah anak kucing tersebut menjadi siluman sehingga mereka bisa bertahan hidup. Sang Dewa juga berkata bahwa anak laki-laki miskin  bisa tetap hidup dengan setengah waktu hidupnya tetapi anak kucing yang ditolong hanyalah satu ekor. Sang Dewa memberikan pilihan kepadanya.

Anak laki-laki miskin memilih untuk memberikan seluruh nyawanya. Dengan begitu, Sang Dewa bisa menolong keduanya. Kedua anak kucing tersebut lalu diubah menjadi siluman kucing dimana rupa mereka menyerupai manusia tetapi juga terdapat kenampakan dari kucing. Sebagai penghargaan kepada anak laki-laki tersebut, Sang Dewa bersedia untuk mengajarkan kedua siluman yang masih anak-anak tersebut untuk bertahan hidup. Akhirnya kedua siluman yang terdiri dari betina dan jantan tumbuh dewasa dan berkembang biak terus sampai mereka bisa berterima kasih langsung atas kehidupan yang sudah diberikan Si anak laki-laki miskin.


Jadi, apakah cerita ini bisa menjelaskan mengenai asal-usul Koneko. Entahlah, sampai sekarang kebenaran itu belum diketahui.

Jika melihat kenyataan, maka memang benar bahwa masa hidup seekor Koneko setara dengan setengah masa hidup manusia. Seekor Koneko berumur satu tahun setara dengan anak manusia berumur dua tahun. Koneko tertua yang tercatat oleh sejarah berhasil hidup selama 48 tahun. Tetapi, para peneliti menduga bahwa mereka mungkin masih bisa hidup lebih lama lagi.

.

.

Lalu…

.

.

.

Mengapa kita membahas semua hal ini dengan begitu panjang? Alasannya adalah untuk membantu para pembaca masuk kedalam cerita utama.

.

.


 

Matahari bangun dari arah timur. Sinar matahari keluar untuk membangunkan para mahluk hidup yang masih tertidur dengan pulas. Sudut-sudut jalan yang gelap mulai terlihat terang karena sinar matahari yang terpantul oleh berbagai benda yang ada di jalan. Dan pada saat itu, seorang pemuda yang baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya memanfaatkan semua sinar yang yang ada untuk mengantarnya pulang ke rumah. Pemuda itu bernama Kagami Taiga.

Kagami Taiga memiliki ukuran fisik yang besar untuk orang Jepang. Tinggi badan mencapai 190 cm, tangan dan kaki memiliki otot kuat hasil tempaan latihan olahraga basket, serta otot perut yang terbagi menjadi enam bagian. Rambutnya memiliki warna merah membara yang bergradasi menjadi hitam mencekam. Kulitnya berwarna sedikit kecokelatan karena ditempa oleh sinar matahari. Kemudian, semua itu dilengkapi dengan ekspresi garang dan alis mata berganda.

Kagami berjalan dengan tegap. Walaupun baru saja pulang dari perjalanan jauh, dirinya tidak terlihat lemas. Matanya bahkan tidak terlihat sayu. Semua hal itu dikarenakan dirinya sudah tidur terlebih dahulu sebelum pulang. Tetapi, Kagami tetap ingin beristirahat setelah sampai di rumah. Dan apakah hal itu bisa terjadi?

Jawabannya adalah tidak.

Kagami langsung tahu itu ketika ia melihat keadaan di dalam rumahnya. Rumahnya terlihat seperti kapal pecah. Dan pecahan kapal itu hancur berkeping-keping.

Ada apa ini?

 

“Tetsuya!!! Tetsuya, kau ada dimana?!”

Pada saat seorang manusia merasakan adanya bahaya, dirinya akan langsung mencari sesuatu yang berharga bagi dirinya saat itu. Hal itu bisa berupa orang yang disayangi, benda yang bisa dipakai untuk menghadapi bahaya, ataupun nyawanya sendiri.

Kagami berlari ke lantai dua. Ke tempat yang ia duga menjadi tempat persembunyian dari orang yang dicarinya. Pintu dibuka dengan cepat dan akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya.

Di dalam dekapan sebuah mahluk hidup.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!!!”

Entah Kagami ini sebenarnya bertanya kepada yang mana.

oOo

Kuroko Tetsuya membuka kedua matanya. Dirinya baru saja mendengar suara yang sangat keras.

‘Apa itu?’

Kuroko masih ingin melanjutkan tidurnya. Dirinya merasa masih lelah, ia butuh istirahat yang lebih lama. Jadi, kepada siapapun yang ingin Kuroko bangun, harap datang kembali setelah empat jam berlalu. Mata Kuroko kembali tertutup.

‘Hm, kenapa ada yang menggeliat-geliat?’

Tidur yang tenang ternyata tidak bisa didapatkan Kuroko kembali. Kuroko terpaksa membangunkan dirinya untuk menyelesaikan masalah. Dan masalah tersebut ternyata berbentuk sebuah mahluk hidup yang sejenis dengannya.

Seekor Koneko berambut merah cerah yang tengah memeluk dirinya tanpa busana apapun.

Kuroko langsung bergerak melepaskan apapun yang membelenggu tubuhnya. Entah itu selimut, tangan, kaki, ataupun kepala. Setelah lepas, Kuroko malah jatuh dari tempat tidur.

‘Ya ampun, badanku lemas.’

Hawa dingin langsung menyerang Kuroko. Baik itu hawa yang berasal dari lantai ataupun yang  berasal dari udara. Dirinya tidak mengenai pakaian apapun, tentu saja akan merasa dingin.

“Tetsuya ada apa?! Apa kau baik-baik saja?!!!” Kepanikan menemani suara yang baru saja masuk ke kuping Kuroko.

“Taiga-kun?”

“Ya, aku disini Tetsuya.”

Kagami yang baru saja masuk ke kamar tersebut langsung membantu Kuroko untuk bangun. Setidaknya Kuroko bisa berpisah dari lantai yang dingin itu. Dan tentu saja, menjauh dari mahluk yang ada di tempat tidur itu.

Kagami membawa Kuroko ke satu-satunya sofa yang ada di kamar itu. Kuroko didudukkan disana, dan akhirnya Kagami bisa memeriksa dengan baik apa saja hal baru yang tertempel pada tubuh Kuroko.

Rambut Kuroko masih berwarna biru muda. Dan seperti biasa, rambut itu terlihat berantakan sekali sehabis bangun tidur. Kuping Kuroko masih lengkap. Jumlahnya ada dua dan memiliki bulu halus berwarna abu-abu terang. Tetapi, terdapat bekas gigitan disana. Untuk bagian wajah, ada dua luka goresan yang sudah mengering. Mata Kagami terus menyelusuri tubuh Kuroko ke bawah. Ekor abu-abu terang panjang masih ada. Tangan dan kaki berbulu biru muda juga masih lengkap. Kemudian ada luka gores, bekas gigitan, memar, lebam… yang entah berapa jumlahnya...

Lama-kelamaan Kagami tidak kuat melihatnya.

“Taiga-kun, maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga rumah ini selama kau pergi.” Kuroko berbicara dengan suara lemah. Itu tanda bahwa dirinya malu terhadap Kagami.

Kagami lalu tersenyum dan mengelus kepala Kuroko dengan lembut. “Tidak apa, aku mengerti. Sehabis ini kita pergi ke rumah perawatan.”

Setelah itu pandangan Kagami berubah ke arah mahluk satu lagi yang dari tadi memperhatikan mereka berdua.

“Kau! Jelaskan padaku semuanya! Langsung! Atau aku akan menghajarmu.”

Rasa lelah yang Kagami rasakan hilang sudah. Ia cuma mau marah sekarang.

Mahluk itu menatap mata Kagami langsung dan berkata, “Aku adalah kekasih Kuroko Tetsuya.”

“HAH?!!!”

Penjelasannya terlalu langsung, terlalu singkat, dan terlalu padat.

.

.

.

BERSAMBUNG…