Actions

Work Header

now then, mardy bum

Summary:

oscar piastri dan usahanya merasionalisasi bagaimana hari-hari dan keyakinannya terdekonstruksi oleh keberadaan lando norris yang, dia percaya, adalah sebentuk anomali.

atau,

oscar di suatu sore dan dadanya yang lando jadikan tempat bersandar.

Notes:

for better reading experience, listen to arctic monkeys' mardy bum <3

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Oscar Piastri jarang sekali melakukan sesuatu tanpa kalkulasi.

Buat dia, hidup itu cuma serangkaian probabilitas yang bisa dihitung dan dieksploitasi. Sejauh yang bisa dia ingat, Oscar selalu pastikan setiap langkah yang dia ambil punya persentase return of investment yang menguntungkan, atau setidaknya, tingkat friksi paling rendah—biar dia nggak perlu dihadapkan dengan hal-hal yang kiranya akan bikin dirinya kerepotan. 

Termasuk saat anak itu bikin keputusan mendaftar ke formula racing team besutan kampusnya di tahun pertamanya jadi mahasiswa. 

​Oscar nggak suka rapat kepanitiaan yang menguras social battery, benci senioritas konyol yang menuntut penghormatan buta, dan paling anti dengan hal-hal berbau solidaritas Teknik atau sejenisnya. Pakai jaket himpunan berlogo gir dan obeng nggak bikin dia serta-merta punya urgensi buat nongkrong sampai subuh di sekre jurusan atau jadikan prodi Teknik Mesin ini his whole personality macam banyak orang di sekelilingnya—oke, Oscar akui dia suka sih bikin jedag-jedug tiap habis foto pakai korsa, tapi ya sudahlah, self-love itu manusiawi. Lagian nggak di-posting-nya ke mana-mana juga. 

Makanya alih-alih jadi tipikal anak Teknik yang begitulah, Oscar memilih buat salurkan energinya ke UKM balapan kampusnya itu. Dia masuk divisi engine dan jadi tahu, garasi serta bengkelnya punya alat-alat yang lebih lengkap dari lab fakultas dan job desc-nya di sana sejalan dengan silabus jurusannya. Oscar girang sekali dong karena kapan lagi coba dia bisa belajar sambil sekalian main-mainan mesin tapi dibayari kampusnya? ​Lagipula Oscar cuma perlu datang, pastikan rasio kompresi piston di ruang bakar kerjanya optimal, rakit sasis, lalu sudah, dia bisa pulang. Kalau mesin yang dirakitnya itu nggak meledak dan tim mereka kebetulan menang di ajang balapan formula antarkampus, titel Race Engineer yang mentereng bakal tercetak dengan sangat arogan dan elegan di CV-nya nanti waktu dia melamar ke perusahaan otomotif multinasional.

Lewat sedikit yang bisa diintip dari isi kepala Oscar, setuju kan bahwa tiap aspek di hidup dia semuanya terukur dan rasional? Setuju sih harusnya. Sangat amat setuju. Karena kurang lebih begitu kan fakta absolut yang berlaku di dalam ekosistem kehidupan Oscar Piastri?

Atau setidaknya, sebelum semestanya tiba-tiba dibobol oleh sebuah anomali berjalan bernama Lando Norris.

Lando itu layaknya glitch di tengah kode software yang sudah Oscar susun rapi. Coba, siapa juga yang nggak bakal salah fokus melihat eksistensi mahasiswa Sastra Inggris—dengan fashion sense metroseksualnya yang didominasi warna-warni ngejreng dan tingkahnya yang nggak bisa duduk diam—nyasar di markas UKM balap yang isinya kebanyakan anak-anak Teknik yang nyaris semuanya seragam dan komunal, baik pakaiannya atau identitasnya? 

Lebih nggak masuk akalnya lagi, keberadaan Lando di sana bukan sekadar usaha menuh-menuhin CV atau FOMO atau apalah. Anak FIB itu, surprise, adalah driver utama tim mereka. Pemuda yang biasanya mengelilingi garasi sambil cengengesan melompat-lompat seperti anak kecil kebanyakan gula itu adalah orang yang sama yang biasanya mengitari sirkuit dengan mobil yang Oscar dan rekan se-divisinya rakit.

Dinamika mereka berdua kalau sudah berurusan dengan mesin dan aspal sering kali bikin Oscar sakit kepala. Atau mungkin yang salah memang Oscar sih, segala sodorkan lembar data pakai kerutkan kening buat menuntut kejelasan ke Lando soal hilangnya traksi di tikungan keempat atau grafik oversteer yang berantakan—knowing damn well Lando paling-paling bakal jawab dengan bibir manyun dan kerling sok polos sambil bilang, “Hmmmm… Nggak tahu, ya, Osc. Pokoknya feeling gua tadi ban belakangnya agak licin aja. Hehe.” 

Jadi Oscar yang gantian manyun kalau Lando sudah jawab begitu. Feeling itu konsep absurd yang dibenci Oscar sampai ke ubun-ubun karena sama sekali nggak bisa dikuantifikasi pakai rumus mana pun. Tapi ajaibnya, nyetir pakai feeling entah bagaimana selalu sukses membawa Lando mengeksekusi manuver-manuver yang kadang sembrono di lintasan—manuver yang secara bersamaan selalu berhasil cetak waktu tercepat, sekaligus sukses bikin jantung Oscar rasanya anjlok sampai ke perut.

Ya intinya, bagi Oscar Piastri, Lando Norris itu anomali. 

Logika dasarnya, jika ada sebuah variabel yang terbukti berpotensi merusak fungsi otak dan memicu cardiact arrest di usia dua puluhan, langkah paling rasional yang harus diambil adalah mengeliminasinya. Atau minimal, bangun garis demarkasi dan jaga jarak aman. Radius lima meter kalau bisa. Matikan kontaknya, jauhi sumber anomalinya.

Tapi nyatanya Oscar malah pasang keset welcome dan buka pintu lebar-lebar—maksudnya membiarkan Lando menjajah teritori personalnya tanpa sisa. Awalnya sih Oscar membohongi logikanya sendiri dengan dalih observasi. Pikirnya pakai otaknya yang masih ngotot merasionalisasi, untuk menciptakan setting mobil balap yang paling optimal, seorang race engineer wajib memahami habit si driver secara komprehensif. Masuk akal, kan?

Masalahnya, observasi teknis macam apa yang mengharuskan Oscar ikut terseret sampai ke lapangan indoor sewaan di hari libur, pasrah didesak meladeni Lando yang kelewat kompetitif bermain padel? Semua orang juga tahu Oscar Piastri adalah penganut efisiensi garis keras yang amat sangat anti membuang energinya buat hal-hal nirfaedah di akhir pekan. Atau rumus mana yang bisa menjelaskan alasan kenapa Oscar tiba-tiba bersedia mengekor anak Sastra itu menyusuri pasar loak berjam-jam demi menemani Lando berburu kamera digital bekas? Atau minimal beri penjelasan rasional di balik Oscar yang rela-rela saja kamar kosnya sering diinvasi karena, anehnya, dia suka melihat Lando merengek tantrum gara-gara kalah main FIFA atau Mario Kart lawan dirinya. Atau kalau Lando nggak sengaja ketiduran di kasurnya memeluk macam-macam boneka yang dia bawa dari rumah karena dipaksa adik-adiknya. Atau—kok Oscar makin aneh, ya?

Lama-kelamaan, alasan demi kelancaran riset UKM itu kadaluarsa juga. Batas antara urusan aspal sirkuit dan kehidupan pribadi Oscar buram, lalu raib sama sekali. 

Salah satu bukti valid dari hilangnya batas itu bisa dilihat dari apa yang terjadi di kamar kos Oscar sore ini.

Dua puluh menit yang lalu ponsel Oscar bergetar, mengabarkan pesan masuk yang datang bertubi-tubi—dari siapa lagi kalau bukan dari si anomali?—dan menginterupsi fokusnya yang sedang rungsing mengoreksi tulisan asal-asalan dalam setumpuk laprak milik adik-adik tingkatnya. 

Lando: osc :(  
Lando: otak gw rasanya mau meledaaaaak
Lando: anak2 kos gw lg ribut karaokean di ruang tengah
Lando: nyanyi kicau mania masa anjggggg 

Oscar mendengus pelan membaca rentetan bubble chat itu, tapi mau tak mau tetap tersenyum konyol karena dari sekian banyaknya kontak manusia yang Lando simpan di ponselnya, anak itu memilih berkeluh kesah di room chat miliknya—walau nggak penting-penting amat, sih, sebenarnya. Sempat Oscar tergoda untuk suruh Lando pakai earplug atau pergi menumpang Wi-Fi di kafe 24 jam, atau beri saran gila seperti lempar kunci inggris saja ke ruang tengah biar teman-teman kosnya diam. 

Yaudah sini aja
Mau dijemput?

Hehehe. 

Oscar belum sempat memikirkan ulang implikasi apa yang akan dia dapatkan dari mengundang Lando Norris ke kamar kosnya di sore hari Sabtu karena balasan Lando langsung muncul tepat di detik berikutnya.

Lando: mauuuuu
Lando: eh maksudnya mau ke sana
Lando: tp gak usah dijemput
Landotbtb lagunya ganti la la lost you anjir
Landokyknya semua orang lg stress ya osc

Ponsel itu dimatikan pemiliknya karena Oscar jadi keki sendiri setelah kelepasan tersenyum membaca lima huruf U yang Lando kirim.

Tadinya Oscar berniat untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda, tapi jangankan mengoreksi tiap perhitungan ngawur adik-adik tingkatnya, membaca nama maba di sudut kertas saja matanya mendadak tidak fokus. 

Dalam diam, pemuda itu akhirnya bangkit dari kursi, menyingkirkan diktat-diktat tebal yang berserakan di atas karpet abu-abunya, diam sebentar untuk menimbang-nimbang apakah dia perlu menata bantal di atas karpet atau tidak—yang pada akhirnya tetap dilakukan, lalu memastikan suhu AC tidak terlalu dingin juga tidak terlalu hangat, pas di angka yang jaga kamarnya tetap sejuk tapi tidak menusuk karena Lando akan banyak diam kalau kepanasan dan gampang sekali bersin-bersin ketika kedinginan. Kenapa, ya, Oscar perlu sebegitunya menyambut teman? Dia juga nggak paham mengapa.

Nggak sampai dua puluh menit kemudian, kenop pintu kamar Oscar diputar dari luar disusul suara decitan pelan. Kepala Lando menyembul lebih dulu dari balik pintu, menyapa penglihatan Oscar dengan rambut ikalnya yang mencuat acak-acakan dan kacamata bulatnya yang melorot ke ujung hidung. Lando tersenyum begitu pandang keduanya bertemu, membuat citranya di mata Oscar berganti dari anak anjing kehujanan minta dipungut jadi mirip adiknya yang paling kecil waktu dijemput dari taman kanak-kanaknya dulu—maksud Oscar, Lando terlihat seperti bocah yang nggak akan mau disuruh tidur siang dan malah minta jatah snack sore yang berlebihan. 

Lando masuk dengan langkah diseret, melempar tote bag kanvasnya ke sudut ruangan. Pemuda itu berjalan ke arah pemilik kamar yang duduk di atas karpet, lalu tanpa aba-aba menjatuhkan diri di dekatnya setelah sempat-sempatnya merebut satu bantal dari pangkuan Oscar yang masih memaksakan diri mencoba mengoreksi.

"Skripsi anjing," Lando mengerang, memecah hening kamar itu dengan suara serak yang teredam karena wajahnya sengaja ia tenggelamkan ke bantal.

Oscar menipiskan bibirnya, menghalau keinginannya menyentuh rambut Lando sebelum bertanya, “kenapa lagi?”

“Disuruh reframe bab tiga masa soalnya katanya analisis gua soal hauntology di narasi dystopian-nya Margaret Atwood kurang mendalam anjir padahal ya gua udah nyeret-nyeret konsep lost futures-nya Mark Fisher buat ngejelasin trauma kolektif karakternya—"

Hauntology? Apa, sih, itu, masa lalu menghantui masa depan? Mirip-mirip metal fatigue? Baja yang didinginkan terlalu cepat waktu proses manufaktur bakal punya tegangan sisa. Dari luar kelihatannya mulus, tapi di tingkat mikroskopis atomnya akan menjerit karena memori trauma termal. Saat diberi beban konstan bertahun-tahun kemudian, baja itu akan patah tanpa peringatan. Sesederhana itu. Masa lalu merusak masa depan. Kenapa anak Sastra harus repot-repot meminjam istilah hantu dari Mark Fisher untuk sesuatu yang di Fakultas Teknik bisa dijelaskan lewat grafik uji tarik material yang lagi dia coba koreksi ini?

Oscar belum paham kenapa mahasiswa humaniora secara sukarela menyiksa fungsi otak mereka dengan variabel yang menolak buat dikalibrasi. Di mesin, kalau sebuah persamaan gagal mencapai ekuilibrium, piston akan berbenturan dan blok mesin meledak. Manusia bisa mati. Di ilmu sastra? Kalau variabelnya nggak kunjung terpecahkan, mereka cuma bakal tulis seratus halaman tambahan berisi kutipan-kutipan pretensius dari filsuf Prancis era 60-an yang hobinya merokok. 

“Dan kemungkinan homoseksual!” Lando pernah riang sekali berceletuk itu di sela obrolan mereka tentang filsuf Prancis suatu waktu. Oscar di masa kini jadi hampir ketawa tapi nggak jadi setelah dirinya ingat Lando yang di hadapannya sekarang lagi gelisah galau merana karena skripsi.

"Maksud gua gimana coba caranya gua nyari benang merah antara signifier dan signified di teks yang sedari awal emang dikonstruksi buat mendekonstruksi realitas? Hah apa, sih? Gua bahkan nggak ngerti lagi ngomong apa sekarang," Lando lanjut merepet dengan nada yang makin melengking, "tapi terus ya dospem gua bilang kerangka berpikir Derrida yang gua pake soal différance—kalau makna itu selalu tertunda—masih dangkal. Apa sih ya gua ngerasa di-gaslight sama teks gua sendiri masa sumpah ya gua sampai lupa struktur subjek-predikat yang bener tuh kayak gimana karena di otak gua isinya cuma post-structuralism bullshit ini dan—"

Signifier dan signified. Penanda dan petanda. Cetak biru vs produk prototype. Lagi-lagi Oscar merasionalisasi dengan logikanya sendiri. Cetak biru selalu menjanjikan toleransi ukuran yang sempurna, mungkin, desain yang mengklaim realitas ideal. Tapi begitu desain itu diterjemahkan ke mesin pemotong CNC di dunia nyata, suhu pahat dan getaran mesin akan menciptakan deviasi sekian milimeter. Angkanya boleh kecil, tapi tiba-tiba nggak ada satu pun sparepart yang bisa dirakit karena desain ideal nggak bakal pernah benar-benar akurat mewakili benda fisiknya. Realitas memang sifatnya selalu mendekonstruksi teori.

Lah. Kenapa kedengarannya malah mirip kelakuan Lando dan pengaruhnya ke hari-hari Oscar sejauh ini?

Oscar buru-buru menutup pulpen merahnya. Sialan. Kayaknya dia sudah harus berhenti mikir sebelum sungguhan ketularan gila. Radiasi krisis eksistensial anak FIB ini sepertinya betulan bahaya buat kesehatan akal sehat Oscar. Persetan dengan laprak maba, Derrida, dan segala macam teori dekonstruksi. Kertas-kertas penuh coretan grafik regangan baja yang sekarang lagi disingkirkannya sejauh mungkin dari jangkauan tangan itu bisa dia koreksi lagi besok pagi. Atau dia suruh ngulang sekalian. Bodo amat.

Oscar akhirnya bangkit dari duduknya, melangkah melompati lengan Lando yang masih telentang meratapi nasib di atas karpet, lalu membuka pintu kulkas kecil di sudut kamar. 

Brownies?” nada bicara Oscar kelewat datar waktu dia menginterupsi ocehan Lando sambil menyodorkan loyang berisi bongkahan kue pekat yang wangi coklatnya langsung menguar memenuhi sekitar. 

Lando mendongak dari posisi telentangnya dan Oscar menunduk buat tatap balik anak itu tepat di mata—Oscar bisa lihat perubahan drastis di mukanya yang tadinya kuyu kini jadi semringah karena baru saja ditawari cokelat. Oscar jadi ikut tersenyum karenanya. 

Memanggang kue pada dasarnya adalah ilmu pasti—perkara menimbang rasio tepung dan agen pengembang dengan takaran yang, lagi-lagi, harus presisi. Karena Oscar suka makanan manis tapi nggak suka membeli sesuatu yang bisa dia ciptakan sendiri, anak itu memanggang kue sesekali. Dan karena Lando adalah tong sampah berjalan buat segala hal yang mengandung gula ekstra, probabilitas brownies ini dibuat karena subconscious Oscar tahu Lando akan datang merusuh ke kosnya akhir pekan ini adalah... sangat tinggi. 

Alih-alih kembali ke tempatnya semula yang lumayan menyisakan jarak, Oscar sengaja membawa loyang itu dan duduk bersandar pada kaki dipan kasurnya, dekat sekali dengan tempat Lando menaruh kepala. Kakinya yang dilipat diposisikannya rendah sedemikian rupa—juga sengaja, sebab dia tahu Lando akan hapus sisa jarak di antara keduanya.

Yang nggak bisa Oscar prediksi adalah dengan cara apa Lando akan melakukannya. Makanya waktu Lando bergerak menggeser kepala dan hampir setengah tubuh bagian atasnya naik ke pangkuan Oscar, napas anak itu sempat tertahan sepersekian detik selagi Lando memutar posisinya jadi setengah menyamping, menyurukkan wajahnya ke perut Oscar sebentar sebelum mendongak dan sepenuhnya bersandar di dada Oscar. 

Oscar masih menatap Lando, bingung harus taruh tangannya di mana saat pemuda di pangkuannya balas menatapnya dari bawah dengan mulut yang dibuka lebar-lebar, “Aaaaa.” 

Oscar berdecak buat tutup senyumnya—nggak berhasil karena satu sudut bibirnya tetap tertarik naik. “Lu punya dua tangan yang masih berfungsi, kalau lu lupa.”

“Lemes,” Lando merengek, “suapin, Osc.” 

Kalau saja ada anak Teknik lain yang melihat kejadian ini, reputasi Oscar Piastri sebagai asdos nyaris nirempati se-prodi bisa-bisa langsung hancur lebur tanpa sisa. Karena bukannya gunakan tangannya buat dorong Lando dan menyuruhnya duduk yang benar, Oscar justru memakainya buat patahkan sepotong pinggiran brownies dari loyang—bagian pinggir yang sedikit gosong dan renyah karena dia tahu persis Lando nggak suka bagian itu dan akan cepat-cepat mengunyah—lalu melakukan persis seperti yang Lando minta. 

Sesuai kalkulasinya, kening Lando langsung berkerut begitu mulai mengunyah. Hidungnya mengerut walaupun anak itu tetap telan habis suapannya sambil sedikit benahi posisi kepalanya di perut Oscar. "Kering banget, Osc," keluhnya, persis seperti yang Oscar perkirakan. Lando mendongak lagi, matanya menatap Oscar dengan sorot menuntut. "Itu bagian pinggir, ya? Mau yang tengah dong. Yang gooey."

Oscar tersenyum tanpa ditahan kali ini sebelum kembali menyuapi Lando.

Kamar itu jadi senyap karena mulut Lando penuh dan Oscar tidak mau bicara, malah diam-diam mengamati bagaimana helai-helai rambut Lando membingkai profilnya dan bibir terkatupnya yang bergerak-gerak seiring dia mengunyah. Lucu. Lando sering bikin ekspresi begitu tiap dia makan. Alisnya jadi tertekuk dan matanya bakal kelihatan sedih, padahal nggak—oh, tapi ternyata sekarang nggak begitu karena mata Lando tetap terlihat jernih dan, gimana ya cara menyusun kata-kata buat jelaskan bagaimana mata Lando saat ini terlihat biar terdengarnya nggak terlalu menye-menye, karena Oscar cuma bisa terpikir berbinar lembut

Oscar jadi tersadar pemuda di pangkuannya itu tengah menatapnya lurus-lurus. Oscar nggak paham apa maksud Lando memandanginya begitu, tapi Oscar suka menangkap samar bayangannya di sana. Oscar baru sadar kalau dia suka rasanya dilihat sedemikian rupa. Mungkin karena Lando yang melakukannya. 

Dan karena yang sedang duduk nggak mau putuskan kontak mata itu, jadi ditantangnya tatap Lando karena dia mau

Beberapa saat berlalu sampai Lando tiba-tiba mengulas senyum kecil dengan kepala disurukkan ke dada Oscar, dan begitu saja, Oscar langsung kalah. 

Pemuda itu berdeham pelan, memutus kontak mata mereka seraya mengalihkan pandangan sebentar ke arah pinggiran loyang.

​"Mau lagi?" tanya Oscar pelan, tanpa sadar berusaha meredam suaranya sendiri.

Oscar nggak ngerti kenapa dia bisa berpikir Lando tersenyum lagi padahal anak itu memang belum berhenti senyum—kali ini lengkungnya ikut menarik sudut-sudut matanya jadi menyipit waktu pemuda di pangkuannya itu berkata, ​"Lagi." []

Notes:

heheheh mungkin sambatnya saya bocor sedikit lewat lando. thank you all for reading! :3