Actions

Work Header

Love Potion

Summary:

your typical love potion story, but with a little twist and make it rulnyul.

Notes:

few things you should keep in mind:
- set taking place in a magic academy (kayak di Harry Potter), where students learn spellwork, potion-making, and magical theory in a structured environment (think a university-level institution, but with a more rigid, academy-style system)
- ryul, ohyul, carmen are sophomore
- woojin, martin, and juhoon are freshmen
find me on twt @warmsunbath <3

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Ryul mengelap peluh yang menuruni pelipisnya dengan punggung tangan.

Jubah hijau gelapnya ia lempar sembarangan ke atas meja, menyisakan kaos hitam oblong yang sudah setengah basah keringat dan menempel tidak nyaman di punggungnya. Ia dudukkan tubuhnya di bangku kayu kantin yang sudah reyot, merasakan bunyi kreek familiar dari bilah kayu yang hampir copot di bagian pojok kiri.

Dari sini, pemandangan teman-teman timnya yang masih berterbangan mengejar bola di lapangan dengan sapu sihir masih terlihat jelas. Ryul memilih untuk tidak peduli. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi dan ia tidak punya cukup idealisme untuk lanjut berlatih dengan perut kosong.

Ia melahap habis ayam panggang dengan mashed potato hambar khas buatan kepala chef kantin akademi, Mrs. Hilton. Hambar luar biasa, bahkan untuk ukuran makanan kantin. Entahlah — mungkin karena beliau sedang hamil besar, indra pengecapnya bermigrasi ke tempat yang tidak bisa dijangkau bumbu manapun.

Sesuap terakhir sudah tinggal seinci dari mulutnya.

Lalu meja di depannya digebrak tanpa peringatan, dan ayam panggang itu jatuh sia-sia ke lantai.

“Bang Ryul, you won’t believe this!”

Ryul menatap bekas makanan siangnya yang kini tergeletak di ubin kotor kantin. Lalu menatap Woojin, adik tingkatnya yang berdiri di depannya dengan mata berbinar seperti anak anjing yang baru menemukan bola.

“About my last bite of lunch dropped because of your ass? katanya datar. “Yeah. I would totally not believe it.”

Woojin mengabaikan tatapan sinisnya dengan ahli — sudah terlatih bertahun-tahun, agaknya — dan menaruh sebuah botol kecil di atas meja dengan penuh dramatik. Cairan di dalamnya nyaris transparan, tapi cukup pekat untuk disebut berwarna magenta.

Ryul menatapnya sedetik.

Yup.” Ia bersandar malas. “Of course you made another poison.”

“Enak aja lu, bang,” Woojin cemberut tidak terima. Bibir kecilnya maju beberapa senti ke depan — ekspresi yang persis sama dengan yang ia pakai sejak sepuluh tahun lalu saat Ryul pertama kali mengenalnya. 
“Kali ini berhasil, bang. Sumpah.” Tangannya membentuk gestur peace berkali-kali seperti itu bisa memperkuat argumentasinya.

Ryul memerhatikan botol itu penuh sangsi.

Pasalnya kejadian serupa tidak terjadi sekali dua kali. Woojin akan datang membawa botol kecil berisi cairan dengan berbagai warna — merah, biru, kuning, hijau lumut yang sangat mencurigakan — dan mengklaim bahwa ia akhirnya berhasil menciptakan obat dengan kedua tangannya sendiri, seperti yang selalu dilakukan kedua orang tuanya.

Hasilnya, hingga hari ini, selalu nol besar.

Ingata Ryul bulan lalu masih jelas, Woojin datang dengan cairan kuning keemasan. Obat supaya hewan bisa berbicara seperti manusia, katanya penuh keyakinan. Ryul yang waktu itu belum cukup skeptis menyaksikan percobaan itu dengan mata kepala sendiri dan hasilnya sebuah kodok di laboratorium akademi mengeong dengan lantang selama dua puluh menit penuh.

Mereka masih dilarang masuk laboratorium sampai sekarang.

“Emang ini potion apaan?” Ryul mengangkat botol itu, membolak-balikkannya untuk mendapatkan seluruh informasi yang setidaknya dapat dilihat oleh mata telanjang.

Mata Woojin bersinar. Ia mendekatkan wajahnya, lalu berbisik dengan gaya seorang mata-mata yang sedang membocorkan rahasia negara.

“It’s a love potion.”

Ryul langsung buru-buru menaruh botol itu menjauh. Nyalang matanya penuh horor. Gelengan kepalanya frantik. 

“You’re crazy, pal.”

Cukup dramatis, kalau boleh Woojin katakan. Ia memutar matanya malas. Sedikit banyak ia sudah tau reaksi seperti inilah yang akan didapatkannya.

“Dengerin dulu, bang. Tadi, gue — ”

“Jung Woojin!”

Dua sosok berlari dari arah pintu kantin. Martin dan Juhoon, dengan ekspresi yang bisa Ryul baca dari jarak sepuluh meter sebagai: ada yang salah dan kami tidak mau kena getahnya.

Woojin mendecak kesal.

“Bentar ya, bang,” ia menunjuk botol itu dengan serius. “Jagain bayi gue dulu. She’s precious.

Lalu ia melesat pergi.

Ryul hanya bisa geleng-geleng kepala.

Ia merapikan nampan makannya — termasuk berduka sejenak atas ayam panggang yang tidak sempat ia makan — dan baru hendak berdiri ketika bel istirahat berdering dan matanya menangkap sesuatu yang langsung membuat seluruh motoriknya mengambil jeda paksa.

Rambut hitam kecokelatan yang memantulkan cahaya siang seperti milik orang bangsawan yang pernah ia lihat di koran. Kaki jenjang yang berjalan khas dengan lenggak-lenggoknya. Tangan lentik yang sibuk menggotong tumpukan buku pasca kelas.

Carmen.

Ryul menarik napas pelan.

Embarrassing. Benar-benar memalukan — bahwa satu orang bisa menyebabkan sistem sarafnya mengalami brief shutdown hanya dengan berjalan melewati kantin.

Carmen duduk di meja beberapa langkah darinya, menaruh barang-barangnya, lalu bangkit lagi untuk mengambil makanan.

Dan sebelum Ryul sempat menikmati pemandangan itu lebih lama , 

...Hembusan angin dingin menerpa wajahnya dengan tajam. Ia menyipitkan mata.

Ohyul berdiri tidak jauh darinya, tongkat sihir terarah padanya, mulut bergerak tanpa suara. Watch your eyes.

Lalu lelaki itu melenggok pergi menyusul sang kembaran seperti bodyguard pribadi yang sangat, sangat menjengkelkan.

Goddamn Ohyul. 

Ia lah alasan di balik sulitnya Ryul menaklukkan hati Carmen. Padahal belum ada perempuan yang pernah menolak ketampanannya, tetapi untuk kasus Carmen ini… rasanya beribu kali lebih susah karena selalu ada sang kembaran, Ohyul, di sampingnya. Ryul jadi tidak leluasa melancarkan aksi PDKT-nya pada sang terkasih.

Api emosi kadang memang lebih cepat bekerja daripada akal sehat.

Dan itulah satu-satunya penjelasan logis mengapa, dalam hitungan detik berikutnya, botol kecil milik Woojin sudah berpindah ke kantong celana bahannya — dan juga bagaimana kaki Ryul melangkah sendiri ke arah meja Carmen dan Ohyul yang masih kosong.

Di atas meja itu ada sekaleng kopi susu yang sisa setengah dan sebuah botol pink dengan stiker kucing hitam. 

Ia menimbang-nimbang botol kecil itu di dalam sakunya, sebelum menuangkan tiga tetes ke dalam botol pink yang seharusnya milik Carmen itu. Ayolah, dengan image trendy dan dandy boy milik Ohyul, hanya ada probabilitas sebesar 0,0001% botol pink ini miliknya.

Cepat, rapi, lalu Ryul kembali ke mejanya sendiri seolah tidak terjadi apa-apa. Gusi dalamnya sibuk ia gigit sembari mencermati gerak-gerik si kembar Carmen dan Ohyul yang akan kembali ke meja mereka. Jantungnya berdegup kencang.

“Bang!”

Woojin, Martin dan Juhoon mendatanginya.

“For god sake, bisa nggak ngomong pake volume manusia normal, Martin?”

“Bang Ryul, I did something bad…” aku Woojin tiba-tiba. Ia mengambil botol potion-nya dengan hati-hati.

“Hah, kenapa?”

Dari melihat ekspresi ketiga bocah ini saja Ryul sudah mules duluan. Ia bahkan tidak mau membayangkan apa yang akan dikatakan ketiganya.

“Woojin bikin another oplosan, bang.” Juhoon berbicara, terdengar begitu pasrah. “Tapi kali ini… it’s pretty dangerous

“Gimana-gimana? Don’t make me scared, guys.”

“Loh — ” Woojin tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju pada botol potionnya, “kok cairannya berkurang?” Suaranya naik dua oktaf.

Ia menoleh pada Ryul, menuntut jawaban. “Bang?”

Tatapan Martin dan Juhoon ikut membelalak. 

Perasaan Ryul tidak enak. “Perasaan lu aja kali.”

Woojin menggeleng cepat, napasnya mulai cepat. “I know my potion, bang. Gue inget banget potion gue harusnya ada 2.5 ml tapi sekarang…” ia menyipitkan mata pada botol potion di depannya, “sekarang sisa 2 ml.”

Ryul mengangkat bahu. “T-tumpah mungkin?”

“Bang, lu nggak paham.” Woojin menatapnya tepat di mata. Ada sesuatu di ekspresi bocah itu yang membuat bulu tengkuk Ryul berdiri. “Itu gak boleh diminum sembarangan.”

Ryul mematung. Ada jeda kecil sebelum akhirnya dia membalas, lebih pelan.

“Emang kalau diminum… kenapa?”

Woojin menghela napas gusar. 

“Harusnya, kalau potion gue sempurna, orang yang minum bakal jatuh cinta sama orang yang nuang, perlahan, the love should’ve grew slowly and steadily.”

Apa kata Woojin tadi?

“Harusnya?” 

Ia mengangguk cepat. “Karena ternyata potion-nya cacat, bang.” Woojin memejamkan mata sebentar. “Tadi Martin sama Juhoon manggil gue buat kasih tau kalau Prof. Marcus ternyata lihat ulang laporan gue and he said my potion is dangerous. I put too much magic rose into it, bang.”

Bibir kecil Woojin terus mengoceh dan di saat yang bersamaan si kembar kembali di meja mereka. Carmen dan Ohyul duduk, menaruh nampan mereka.

“Woojin, baby language, will ya?”

Di depan sana, bisa Ryul lihat dengan jelas tutup botol pink itu dibuka.

Lalu botol pink itu diangkat, siap diminum kapan saja.

“Intinya perasaan cinta yang muncul nggak akan stabil. Bisa jadi terlalu kuat, terlalu cepat, dan nggak punya batas.”

Langkah kaki terdengar mendekat ke arah meja mereka berempat.

“Or it can turn into something worse,” lanjut Woojin, seperti peringatan yang terlambat datang, “obsession.”

Dan seperti tersihir, Ohyul sekarang… telah berdiri tepat di depan Ryul. lengkap dengan tatapan yang tidak pernah sekalipun Ryul lihat di mata lelaki itu sebelumnya.

Siapapun tolong ingatkan Ryul untuk menanyakan kenapa Ohyul bisa-bisanya memiliki botol minum unyu berwarna pink dan berstiker kucing hitam, ya.