Chapter Text
Langit berawan galau mewarta akan turun hujan menarik garis cembung pada bibir Kaminaga. Setelah sebelumnya sempat mendiagnosa bahwa cuaca akan muntah air kapan saja, Kaminaga sudah mengambil start duluan melesat meninggalkan sekolah tepat setelah bel penyemangat berdentang.
Eh, tidak disangka tiba-tiba ditengah jalan hujan turun lebat.
"Sial, padahal masih siang tapi sudah hujan deras." keluh Kaminaga yang untungnya langsung bisa berteduh di sebuah halte. Rambut dan sebagian atas Seragamnya agak basah tapi masih lebik baik daripada kehujanan, meski akhirnya juga ia tetap terkepung hujan.
"Eh, kamu."
Cuping kiri menjaring sebuah suara untuk sudut mata melirik bersama kepala menoleh kearah penarik atensi. Rupanya ia hanya berdua saja dengan sosok itu di halte ini.
Sosok seorang bocah kira-kira kelas satu SMP lengkap dengan seragam dan segala perabotannya bersama tas punggung tengah berdiri disampingnya, menghadap kearahnya dengan pandang mata seolah mendikte.
"Kau Kaminaga-san temannya Seto-oniisan, bukan?"
Sudut bibir Kaminaga terasa dicubit, "Benar. Dan kamu- oh! Touma-kun, adiknya Tazaki, kan?"
Bocah bernama Touma nampak tidak tersentil dengan nada manis Kaminaga, "Kamu ada hubungan apa dengan kakakku?"
Kaminaga mengerjap, "Maksudnya hubungan?"
"Err... Itu," kini si bocah berganti bingung akan menceritakannya bagaimana, "Pokoknya jauhi oniisan!"
"Kenapa?"
"Karena aku tau kau suka dengan kakakku!"
JEGEEEEEERRRR
Kilat menyambar dramatis memberi kesan tonjok pada kalimat yang dilontarkan si bocah. Sementara sang pemuda bergakuran bengong. Membatu. Termangu.
Kok bocah ini bisa tau?!
Usut diusut, kalau tidak salah Kaminaga pernah mendengar rumor burung kalau ternyata keluarga Tazaki itu keturunan penyihir. Apalagi ayahnya Tazaki, Reiji, adalah pesulap terkenal dan legendaris yang pernah berkarir di Inggris. Tidak aneh kalau Tazaki meyukai sulap dan segala jenisnya. Bisa jadi bocah ini, Touma, juga memiliki bakat yang sama. Apa dua adik Tazaki yang lain juga ya?
Dan soal perasaannya, ehem - sebenarnya itu adalah rahasia yang ia simpan sejak mereka pertama kali bertemu saat masuk SMA, dan ia sukses gagal paham dengan otaknya yang enggan mengusir wajah Tazaki yang membayangi tiap sel neuron. Tazaki sudah terkenal sebagai maniak merpati sampai dijuluki pigeon-lovers. Tapi disamping itu ia sebenarnya cukup ramah dan sopan. Kadang sifatnya yang dewasa membuatnya terlihat lebih tua dari usia aslinya.
"Jadi, anak anda sudah berapa?"
"Maaf, tapi saya masih SMA."
Kaminaga serasa ingin ngakak tiap kali mengingat pertanyaan orang pada Tazaki saat dulu mereka berdua berkesempatan pergi jalan-jalan bersama - sayangnya itu bukan kencan. SAYANGNYA BUKAN KENCAN.
Perhatian sang pemuda yang lebih tua kembali kearah sang anak membawa seulas senyum kembang gula, "Sebenarnya itu bukan urusanmu, adik kecil."
"Tentu saja ada urusan!" Touma memekik dengan dua alis menaut, pipinya bersemu, "A--aku peduli dengan Seto-oniisan!"
Oh, brother complex.
"Touma-kun, dengar ya. Aku dan Tazaki hanya berteman dekat. Tidak lebih, tidak kurang."
"BOHONG! Kamu pasti bermaksud untuk mengambil oniisan untuk dirimu sendiri! Aku tidak mau oniisan bersama dengan orang sepertimu! Monster jahannam!"
JEGEEEEEEEERRRR
Gelegar membelah langit sekejap. Siluet terang mem-blitz sesaat moment beku diantara keduanya, potret suram berbayang kelam pada sosok yang lebih tinggi.
Dalam lowong waktu tanpa seperdetikpun mengganggu, sehembus suara mengalun mistik.
"Hati-hati dengan ucapanmu."
"Hei, nak. Jangan mentang-mentang kamu adiknya Tazaki maka kamu bisa seenaknya mengatur siapa saja yang boleh dekat dengan kakak tercintamu. Harusnya kamu mengatakannya pada para merpati yang menjadi kekasih Tazaki itu. Selangkang masih botak sepertimu sudah belagu." ucap dingin Kaminaga tanpa embel pernak-pernik, tajam minus basa basi busuk tanpa peduli anak kecil ini adalah calon adik ipar kelak.
Sementara Touma terdiam dengan dua matanya membulat syok. Tidak lama dua pundak mungil bergetar bersama air muka memerah dan mata melembab.
"KAMU..! KU KUTUK--...." ucapannya tertelan bengis derasnya hujan seiring tubuh berbalik, berlari menembus tirai hujan yang seketika merajam basah tubuh kecilnya.
Disisi lain, Kaminaga yang gagal menahan betapa senangnya ia menang adu bacot langsung tertawa bejat khas pemeran antagonis brengsek di sebuah sinetron.
"BWHAHAHAHAHH--"
BYUUUUURRR
Namun tawa nya tidak awet karena tiba-tiba sebuah mobil melaju melewati genangan air yang otomatis langsung mengguyur keji seluruh badan Kaminaga.
"Bwah! Sialan! WOOIII MINTA MAAF KAU, KEPARAT!" Kaminaga mencak-mencak heboh imitasi nenek-nenek kearah wujud si mobil yang tetap melaju innocent dan menghilang diujung jalan.
"Uhuhuhu.... Wajah tampanku, tubuh seksi ku, seragamku jadi-... LOH?!!" Kaminaga terbelalak saat merasakan ada kejanggalan.
Dimana tangannya? Dimana kakinya? Mengapa segala sesuatu menjadi jauh lebih besar dari sudut visinya?
Ada yang tidak beres!
Ia lalu melangkah pelan kearah kubangan air tidak jauh dari sampingnya, melongokkan kepala untuk memastikan keadaan.
"Coo coo...?!!"
Kaminaga sukses syok luar binasa saat melihat tampilan bayangan dirinya sendiri yang ditunjukkan diatas permukaan air.
Yang benar saja?!!
Ia berubah menjadi merpati?!
.
