Work Text:
Hujan bulan Desember selalu punya cara sendiri untuk membuat orang enggan beranjak dari kasur. Di luar sana, rintik-rintik air menderas, mengetuk-ngetuk kaca jendela seolah memaksa masuk, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di situasi normal, cuaca seperti ini adalah waktu terbaik untuk gelung-gelung manja di balik selimut bedcover tebal, maraton drama Korea, atau sekadar berpelukan sampai pagi datang.
Namun, kata 'normal' sudah menguap dari kamus kehidupan Dhiya dan Shaka sejak tiga bulan yang lalu. Tepatnya, sejak seorang bayi laki-laki mungil bernama Arsa lahir ke dunia dengan tangisan pertamanya yang melengking, meresmikan status mereka sebagai orang tua di usia yang masih terbilang sangat muda.
Jam weker di atas nakas menunjukkan pukul 03:15 pagi, dan apartemen yang biasanya tertata dengan rapi itu sekarang lebih mirip kapal pecah. Dulu, sebelum Arsa lahir, apartemen ini adalah kebanggaan Dhiya. Desain interiornya bergaya minimalis Skandinavia, dengan karpet bulu putih kesayangannya yang selalu jadi spot foto Outfit of the Day (OOTD) andalan sebelum pergi ke kampus atau hangout bersama teman-temannya. Sudut-sudut ruangan dihiasi tanaman hias monstera yang daunnya selalu dilap bersih seminggu sekali.
Sekarang? Boro-boro mengelap daun monstera. Karpet bulu putih itu sudah lama digulung dan disingkirkan ke dalam gudang karena pernah menjadi korban 'insiden pup bocor' di minggu kedua Arsa lahir. Sebagai gantinya, lantai ruang tengah kini dilapisi playmat warna-warni yang menutupi separuh ruangan. Bantal sofa berserakan entah di mana, tumpukan baju bersih yang belum sempat dilipat menggunung di pojokan seperti monumen kemalasan, dan jangan lupakan berbagai macam mainan berbunyi 'krek-krek' yang sering tak sengaja terinjak.
Di tengah kekacauan estetik itu, suara tangisan bayi melengking memecah keheningan malam, mengalahkan suara rintik hujan di luar. Tangisannya tidak sekadar merengek, tapi tipe tangisan yang menuntut perhatian detik itu juga.
Di atas ranjang ukuran queen size yang seprainya sudah kusut masai, Dhiya bergerak gelisah dalam tidurnya sebelum akhirnya terbangun dan bangkit. Tubuhnya terasa seperti baru saja digilas stoomwals. Punggungnya pegal, matanya perih, dan kepalanya berdenyut-denyut.
"Mas, mas Shaka.." suara serak Dhiya terdengar dari arah boks bayi. Matanya masih setengah terpejam sambil menepuk-nepuk pelan pantat kecil yang dibalut pampers itu. Dhiya sengaja merendahkan suaranya agar getar frustrasi yang mengendap di tenggorokannya tidak terlalu kentara.
Namun, sosok yang dipanggil sama sekali tak bergeming. Shaka, pemuda berusia dua puluh tiga tahun yang kini menyandang status sebagai suami dan ayah itu, tertidur dengan gaya telungkup, mendengkur halus seolah tangisan Arsa hanyalah backsound dari mimpi indahnya.
Dhiya menggigit bibir bawahnya. Kesabarannya yang tersisa setipis tisu. Tadi siang dia sudah full mengurus Arsa yang sedang rewel karena growth spurt, sementara Shaka bekerja di firma arsitekturnya. Janjinya, malam ini Shaka yang akan ambil shift jaga.
"Mas!" Dhiya menyenggol lengan suaminya agak keras. "Giliran kamu bikin susu, astaga. Aku udah nggak kuat melek."
Mendapat serangan fisik secara tiba-tiba, Shaka mengerang pelan. Alih-alih bangun, cowok itu malah menarik selimut sampai menutupi kepala, mencoba mengabaikan kenyataan, sebelum akhirnya menyerah ketika cubitan maut Dhiya mendarat mulus di pinggangnya.
"Aw! Iya, iya, Sayang. Ampun," gumam Shaka dengan suara serak parah.
Dengan rambut yang acak-acakan parah—Dhiya bilang persis seperti rambut singa—dan mata yang masih lengket bagai dilem, dia melangkah gontai ke arah dapur. Shaka berjalan dengan gaya zombie, tubuhnya miring ke kanan dan ke kiri. Di kepalanya, alarm tanda bahaya berbunyi nyaring. Sumpah, jadi bapak ternyata lebih capek daripada lari maraton, batinnya merana. Waktu zaman kuliah dulu, begadang mengerjakan maket arsitektur sampai pagi rasanya tidak pernah setersiksa ini. Dulu, begadang ditemani kopi susu dan obrolan ngalor-ngidul bareng teman-teman kosan. Sekarang, begadang ditemani kepanikan dan rasa kantuk yang menekan kelopak mata hingga berkilo-kilo beratnya.
Dapur apartemen mereka dulunya adalah tempat yang romantis. Di situlah Shaka sering memasakkan pasta kesukaan Dhiya sambil mendengarkan lagu-lagu indie lewat speaker bluetooth. Namun malam ini, dapur itu terasa seperti arena rintangan Ninja Warrior.
Shaka meraih botol susu dari alat sterilizer dengan gerakan mekanis yang sudah terlatih. Dia mengambil wadah susu formula, menakar bubuknya dengan presisi yang hanya dimiliki oleh seorang ayah yang takut dimarahi istri—atau dalam kasus mereka adalah, suami—nya karena takaran yang salah bisa membuat bayi sembelit. Tiga sendok takar munjung. Pas.
Sekarang, tinggal menuangkan air hangat. Shaka menekan tombol hot di dispenser.
Tidak ada yang keluar.
Shaka mengerjap. Dia menekan tombol itu lagi, lebih keras. Terdengar bunyi dengungan pelan dari mesin dispenser, disusul suara tetesan air yang menyedihkan. 'Tes. Tes.' Lalu, berhenti total. Lampu indikator dispenser berkedip merah, menandakan galon di bawahnya telah kosong melompong.
Mata Shaka yang tadinya hanya terbuka lima derajat, kini melotot sempurna. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Di kamar, tangisan Arsa semakin kencang, seolah tahu ayahnya sedang menghadapi krisis logistik tingkat dewa.
"Air hangatnya habis, yang!” teriak Shaka panik dari dapur, diiringi suara panci beradu karena dia terburu-buru mencari panci kecil untuk merebus air mineral. Suara 'klontang-klontang' itu jelas tidak membantu menenangkan suasana.
Di dalam kamar, Dhiya menghela napas panjang. Udara ditariknya dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa kewarasan yang berceceran di lantai kamarnya.
"Kan aku udah bilang tadi sore buat isi dispenser lho, maaaas!" rengek Dhiya setengah berteriak. Nada suaranya perpaduan antara gemas, capek, dan pengen ikut nangis bareng anak mereka.
Dhiya ingat betul pesannya lewat WhatsApp jam empat sore tadi. Mas, jangan lupa ganti galon ya kalau pulang. Airnya tinggal segaris. Dan Shaka, dengan segala kepolosannya, hanya membalas dengan stiker beruang hormat bertuliskan Siap laksanakan, Bosque! yang rupanya hanya sekadar wacana.
Sambil terus menepuk-nepuk pantat Arsa, Dhiya menunduk melihat penampilannya sendiri di cermin lemari pakaian yang berdiri tak jauh dari boks bayi. Bayangan yang memantul di sana membuat hatinya mencelos sejenak.
Menjadi orang tua di usia awal dua puluhan itu tantangannya bukan cuma soal kurang tidur, tapi soal identitas. Dhiya ingat betul siapa dirinya setahun yang lalu. Dia adalah mahasiswa semester akhir jurusan Ilmu Komunikasi yang sosoknya selalu terlihat rapi, modis, dan up-to-date dengan tren fashion terbaru. Dhiya yang dulu rela menghabiskan waktu dua jam di depan meja rias hanya untuk memastikan eyeliner-nya presisi dan outfit-nya color-coordinated. Dhiya yang akhir pekannya diisi dengan cafe-hopping mencari spot aesthetic.
Namun sekarang, Dhiya yang membalas tatapannya di cermin hanyalah seorang orang tua muda dengan kantung mata hitam legam bak mata panda. Rambutnya disibak asal-asalan dengan bando yang entah kapan terakhir kali dilepas, dan dia cuma pakai kaos oblong kebesaran—milik Shaka, tentu saja—yang ada noda gumoh kekuningan di bahu kirinya. Ia bahkan tidak peduli lagi apakah noda itu bau asam atau tidak. Bau telon, bedak bayi, dan susu formula telah bermutasi menjadi parfum alaminya sehari-hari.
Ada kalanya, di saat-saat sepi seperti ini, rasa kehilangan itu muncul. Dhiya merindukan kebebasannya. Dia merindukan tubuhnya yang dulu. Dia rindu bisa nongkrong berjam-jam tanpa perlu mengecek jam tangan setiap sepuluh menit karena takut payudaranya bengkak karena harus pumping. Ia merasa seolah bagian dari dirinya yang 'keren' telah mati, digantikan oleh entitas baru bernama 'Ibu' yang hidupnya berputar di antara jadwal menyusui, mengganti popok, dan menidurkan anak.
Lamunan melankolis Dhiya terputus oleh suara langkah kaki tergesa dari lorong.
Lima menit kemudian, Shaka kembali ke kamar membawa botol susu yang suhunya udah dipastikan pas. Peluh sebesar biji jagung menetes di pelipis cowok itu, bukti betapa paniknya dia merebus air, mencampurnya dengan air dingin, dan mengocok botol itu dengan kecepatan kilat.
Di ambang pintu, Shaka menghentikan langkahnya sejenak. Dia melihat Dhiya lagi jalan mondar-mandir sambil menimang si kecil yang masih aja rewel. Wajah pasangannya itu kelihatan lelah, sangat lelah. Pucat dan kurang bercahaya. Tapi, di saat yang bersamaan, Shaka bisa melihat sesuatu yang membuat hatinya menghangat. Tatapan Dhiya saat menenangkan bayi mereka tetap selembut kapas. Suaranya saat menyenandungkan lullaby pelan-pelan terdengar begitu menenangkan, kontras dengan omelannya soal dispenser tadi.
Bagi Shaka, Dhiya dengan kaos oblong bernoda gumoh itu berkali-kali lipat lebih cantik daripada Dhiya dengan setelan mahal di hari kelulusan mereka. Ada kekuatan magis dalam diri suaminya yang baru Shaka sadari setelah mereka punya anak. Ketangguhan yang luar biasa.
"Sini, gantian,” Shaka melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Suaranya kini lebih lembut, rasa kantuknya sudah menguap entah ke mana digantikan oleh rasa bersalah karena membiarkan Dhiya menunggu. Ia mengambil alih bayi mereka dengan hati-hati dari dekapan Dhiya, sementara Dhiya langsung merosot duduk di pinggir ranjang, seolah tulang-tulang di kakinya baru saja dilolosi satu per satu.
Begitu ujung karet silikon dot masuk ke mulutnya, tangisan si kecil langsung berhenti seketika, bagai saklar yang dimatikan. Hening sesaat, digantikan suara hisapan rakus. Cuk. Cuk. Cuk. Arsa minum dengan sangat bernafsu, tangan mungilnya bergerak-gerak pelan di udara, seolah sedang memberi isyarat bahwa dia menyukai pelayanan restoran bintang lima pukul tiga pagi ini.
Suasana kamar mendadak tenang, menyisakan suara dengungan pendingin ruangan yang monoton dan ketukan rintik hujan di jendela. Kedamaian yang langka ini terasa seperti oasis di tengah gurun pasir.
Shaka duduk bersila di atas kasur, meletakkan Arsa dengan nyaman di pangkuannya sambil menahan botol susu. Tanpa banyak bicara, Dhiya menyandarkan kepalanya ke bahu Shaka ketika suaminya itu turut bergabung bersamanya di atas ranjang, memperhatikan anak mereka yang matanya perlahan mulai terpejam lagi seiring dengan berkurangnya volume susu di dalam botol. Ia menarik napas panjang, meresapi aroma hujan dan wangi lotion bayi yang menguar dari tubuh anaknya. Dan bahu Shaka selalu menjadi tempat bersandar paling nyaman bagi Dhiya, dulu, sekarang, dan selamanya.
Hening menyelimuti mereka selama beberapa menit. Keduanya terlalu lelah untuk bicara, tapi terlalu enggan untuk memejamkan mata selagi Arsa masih berada di pangkuan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, merefleksikan betapa gilanya rollercoaster kehidupan mereka setahun belakangan ini. Dari sepasang mahasiswa tingkat akhir yang kebingungan menyusun skripsi, lalu menikah dengan restu (dan sedikit kekhawatiran) kedua orang tua karena dinilai masih terlalu muda, hingga akhirnya dihadapkan pada makhluk kecil bernapas yang hidup dan matinya bergantung sepenuhnya pada mereka.
"Mas, kita berantakan banget ya?" bisiknya pelan, setengah tertawa. Suara Dhiya memecah keheningan, memecah lamunan mereka berdua. Ada nada getir, namun juga penerimaan dalam pertanyaan singkat itu.
Shaka menoleh, menatap wajah suaminya dari samping. Ia bisa melihat kantung mata yang menghitam, bibir yang sedikit kering, dan rambut yang berantakan. Shaka mencondongkan kepalanya, mengecup puncak kepala Dhiya dengan sayang, menghirup aroma sampo stroberi yang samar-samar bercampur dengan aroma minyak telon.
"Banget," jawab Shaka jujur. "Kantung mata kamu udah kayak panda, terus aku lupa kapan terakhir kali kita berdua tidur nyenyak lebih dari tiga jam tanpa harus kebangun karena alarm atau tangisan."
Dhiya terkekeh pelan mendengar jawaban jujur suaminya. "Tau nggak, tadi pas nungguin kamu bikin susu, aku sempat ngaca. Aku ngerasa kayak... ini siapa ya? Dhiya si mahasiswa hits kampus yang dulu suka judging orang pakai baju salah warna sekarang malah pakai kaos bolong dan bau gumoh."
Shaka ikut tertawa pelan. Botol susu di tangannya sudah kosong. Ia menariknya perlahan dari mulut Arsa, lalu menepuk-nepuk punggung bayi itu pelan agar bersendawa. Setelah terdengar suara sendawa kecil yang lucu, Shaka membaringkan Arsa kembali di boks bayinya, menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut rajut berwarna biru muda.
Setelah memastikan Arsa aman dan tertidur pulas, Shaka kembali merangkak naik ke atas kasur, menarik Dhiya ke dalam pelukannya. Posisi mereka kini saling berhadapan, berbaring menyamping dengan bantal yang sama.
"Tapi lihat deh," Dhiya mengarahkan pandangannya ke arah boks bayi yang tembus pandang. Cahaya lampu tidur berwarna kuning keemasan menerangi wajah damai putra mereka. "Kalau lagi tidur begini hidungnya mirip banget sama kamu. Mancung, tapi ujungnya agak bulat." Dhiya tersenyum tipis, matanya berbinar penuh cinta. Tiba-tiba saja, semua rasa lelah, pegal, dan insecure yang tadi ia rasakan menguap begitu saja.
Shaka mengikuti arah pandangan Dhiya. Dadanya selalu berdesir aneh setiap kali menatap wajah miniatur dirinya itu.
"Dan manisnya persis kamu," balas Shaka tulus. Dia merangkul pinggang Dhiya dengan satu tangan yang bebas, menarik tubuhnya merapat. "Capek sih, gila rasanya mau pingsan. Tadi pas panik air panas habis, aku rasanya pengen pingsan aja di lantai dapur. Tapi ngelihat dia..." Shaka memberi jeda, menatap lurus ke dalam mata Dhiya. "...rasa capeknya kebayar lunas, kan? Kayak, oh, jadi ini toh rasanya cinta tanpa syarat yang sering diomongin orang-orang tua."
Dhiya mengangguk pelan, menyusupkan dirinya lebih nyaman di pelukan suaminya. Kepalanya kini bersandar pas di dada Shaka, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur. Kehangatan tubuh Shaka adalah obat penenang terbaik yang pernah ada.
“Kamu kepikiran nggak sih, mas?” buka Dhiya, suaranya sedikit teredam di dada Shaka. Ia memainkan ujung kaos suaminya dengan jemarinya. “Dulu kita debatnya soal hal-hal remeh. Kamu inget nggak waktu kita berantem di depan bioskop gara-gara kamu milih nonton film action padahal aku maunya romcom? Terus kita bisa musuhan dua hari cuma karena menu makan malam. Aku maunya sushi, kamu maunya sate padang.”
Shaka tertawa pelan mendengarnya, dadanya naik turun. Mengingat memori masa pacaran mereka yang kadang terasa cringe namun menggemaskan. "Oh, jelas ingat. Waktu itu kamu sampai ngambek ngeblokir WhatsApp aku semalaman."
"Nah itu!" seru Dhiya antusias, meski tetap menjaga volume suaranya. "Sekarang coba lihat kita. Sekarang kita debat soal anak kita, kayak merk sabun bayi mana yang nggak bikin iritasi kulitnya Arsa. Atau debat soal botol dot mana yang anti-kolik. Skala prioritas kita udah geser jauh banget."
Shaka nyengir lebar. Tangan kanannya mengelus punggung Dhiya dengan ritme yang menenangkan. “Iya juga. Hidup kita berubah 180 derajat, ya. Aku kangen sih masa-masa di mana kita bisa bebas ngelakuin apa aja karena cuma ada kita berdua. Bisa spontaneous road trip ke Puncak jam sebelas malam, nonton midnight, atau nongkrong di coffee shop hits sampai pagi tanpa beban."
Shaka menerawang sejenak ke masa lalu. "Tapi sekarang, kalau aku liat muka anak kita... rasanya aneh. Kayak ada sesuatu di dadaku yang penuh banget. Kayak sebuah kepingan puzzle yang selama ini aku nggak tau hilang, tiba-tiba ketemu dan terpasang sempurna di sana."
Mendengar pengakuan jujur suaminya, mata Dhiya terasa sedikit memanas. Ia tidak menyangka Shaka yang biasanya slengean dan cuek bisa sebijak ini. Perubahan status dari sekadar 'pacar' menjadi 'ayah' rupanya telah mendewasakan laki-laki itu dengan cara yang luar biasa.
Dhiya mengangguk. Dia paham betul perasaan itu. Rasa rindu pada masa lajang memang kadang menyapa, tapi tak sedikitpun terbesit penyesalan di hatinya. “Aku ngerasa jadi orang yang lebih baik sejak ada dia, Mas. Dulu aku egois banget, selalu mentingin penampilanku, feed Instagram-ku, penilaian orang lain tentangku. Tapi sejak jadi ibu, aku jadi belajar sabar. Belajar nahan ego. Belajar kalau dunia itu nggak cuma berputar tentang diriku sendiri."
Dhiya menengadah, menatap rahang tegas suaminya dari bawah. "Kamu juga. Kamu jadi jauh lebih sabar, lebih bertanggung jawab. Ya... walaupun kadang masih suka bolot kalau disuruh ganti galon." Dhiya menyempatkan diri menyelipkan sindiran, membuat Shaka meringis merasa bersalah.
"Janji deh, besok pagi hal pertama yang aku lakuin setelah melek adalah ganti galon," janji Shaka sambil mengangkat dua jarinya membentuk tanda peace, berusaha merayu suaminya agar tak lagi mengungkit tragedi dispenser.
"Bagus," sahut Dhiya dengan senyum jahil yang mulai kembali menghiasi wajah pucatnya. Ia memejamkan mata, merasakan kantuk yang amat sangat mulai menyerang kembali. Namun sebelum kesadarannya benar-benar hilang ditarik alam mimpi, ia menggumam pelan.
"Tapi besok pagi, pokoknya tetap kamu yang kebagian shift ganti popok, ya. Jadwal meeting kantormu kan jam sepuluh. Aku mau balas dendam, aku mau tidur sampai siang!” ujar Dhiya jenaka, nada bicaranya kembali seperti Dhiya si mahasiswa cerewet yang dulu membuat Shaka jatuh cinta setengah mati.
Shaka tak bisa menahan senyumnya. Pasangan hidupnya ini memang tidak pernah kehabisan akal. "Iya, iya, siap komandan," tawa Shaka pelan, ekstra hati-hati agar tidak membangunkan malaikat kecil mereka yang akhirnya terlelap damai dalam boksnya. Ia mempererat pelukannya pada tubuh Dhiya, menyelimuti mereka berdua, siap untuk menyusul Arsa ke alam mimpi, meski tahu mungkin satu atau dua jam lagi alarm tangisan itu akan kembali berbunyi.
Malam itu, di tengah tumpukan baju kotor yang menggunung di sudut kamar, mainan kerincingan yang berserakan di ruang tengah, dan deretan botol susu yang menunggu untuk dicuci besok pagi, mereka berdua menemukan sebuah epifani.
Mereka sadar kalau fase menjadi orang tua baru itu emang chaos abis. Melelahkan, menguras emosi, dompet, dan kewarasan. Butuh banyak kompromi, butuh banyak menurunkan gengsi, dan butuh kerjasama tim yang solid. Tidak ada lagi akhir pekan yang dihabiskan untuk marathon series Netflix berdua tanpa gangguan, tidak ada lagi kencan romantis yang diakhiri dengan obrolan mendalam hingga subuh.
Tapi anehnya, di tengah semua rasa lelah yang menggerogoti tulang, di antara omelan soal galon air dan popok yang bocor, ada kebahagiaan paripurna yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Sebuah rasa cukup yang memenuhi rongga dada setiap kali mereka melihat dada kecil anak mereka naik turun saat bernapas.
Rasanya, baik Dhiya maupun Shaka tahu, mereka nggak akan mau menukar momen berantakan ini dengan apapun di dunia. Biarlah apartemen ini terus berantakan seperti kapal pecah, asalkan di dalamnya ada tawa, tangisan, dan cinta yang tumbuh setiap harinya. Karena pada akhirnya, rumah yang sempurna bukanlah yang paling rapi dan estetik untuk difoto, melainkan rumah yang menjadi saksi bisu betapa kerasnya mereka berjuang untuk mencintai satu sama lain, hari demi hari.
Hujan di luar sana masih turun dengan derasnya, tapi di dalam kamar berukuran empat kali empat meter itu, segalanya terasa hangat, utuh, dan tepat pada tempatnya. Menunggu pagi yang baru, tantangan yang baru, dan tumpukan popok kotor yang baru.
