Actions

Work Header

Ruang Singgah Dhiya: Mangga Muda, Bathtub, dan Obrolan Tengah Malam

Summary:

Bukan tentang siapa yang paling siap menjadi orang tua. Ini tentang siapa yang mau tetap duduk di depan pintu kamar mandi saat lelah mengalahkan segalanya. Sebuah cerita tentang mangga muda, tangis tanpa alasan, dan obrolan tengah malam yang menyadarkan Dhiya... bahwa tumbuh menjadi seorang ibu tidak harus membuat dirinya perlahan menghilang.

Notes:

Inspired by this tweet on X

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Dhiya sudah bilang dari jam tiga sore.

Bukan sekali. Bukan dua kali. Tiga kali. Empat, kalau pesan terakhir yang hanya berisi stiker kucing menunjuk papan bertuliskan JANGAN LUPA ikut dihitung sebagai bentuk komunikasi rumah tangga yang sah. Pesan pertamanya masih sopan: Mas, pulang nanti beliin mangga muda ya. Pesan kedua muncul tujuh menit kemudian, setelah Dhiya selesai menonton video orang makan rujak serut di TikTok dan air liurnya nyaris menetes ke layar ponsel: Yang asem. Bukan mangga matang. Pesan ketiga dikirim setelah ia mulai curiga Shaka Mahawira, suaminya yang tampan tapi kadang otaknya seperti browser kebanyakan tab, akan menganggap semua mangga sama selama bentuknya lonjong dan warnanya mendekati hijau: Mas, aku ulang: MANGGA MUDA. ASEM. RENYAH. Kalau bisa dipotongin. Garam cabainya dipisah.

Shaka membalas pukul tiga lewat dua belas.

Siap laksanakan, Bosque.

Lengkap dengan stiker beruang hormat.

Dhiya menatap balasan itu lama sekali dari sofa ruang tengah, satu tangan memegang ponsel, satu tangan lagi bertengger di atas perutnya yang sudah masuk bulan ketujuh dan belakangan ini terasa seperti membawa semangka pribadi ke mana-mana. Di dalam sana, Arsa bergerak kecil, entah karena setuju dengan misi mangga muda atau sekadar sedang menggeliat mencari posisi nyaman. Dhiya menepuk perutnya pelan.

"Ayahmu tuh kalau udah jawab pakai stiker, antara beneran paham atau cuma pengin terlihat paham."

Arsa tentu saja tidak menjawab. Namun, ada gerakan kecil lagi dari dalam perutnya, cukup untuk membuat Dhiya mendengus.

"Jangan belain dia dulu. Reputasinya belum aman."

Sore itu Jakarta gerimis. Bukan hujan deras yang dramatis, bukan juga rintik romantis yang cocok jadi latar video slow motion. Gerimisnya menyebalkan; tipe gerimis yang membuat jalanan licin, ojek online lama datang, dan rambut orang jadi lepek tanpa alasan mulia. Dari lantai apartemen mereka, Dhiya bisa melihat lampu kendaraan menyala satu per satu di jalan bawah sana, membentuk antrean panjang merah-kuning seperti ular kelelahan. Biasanya, pemandangan begitu membuatnya ingin mengeluh soal hidup di ibu kota. Namun hari itu, fokus Dhiya cuma satu: mangga muda.

Ia sudah membayangkannya sejak siang. Potongan mangga hijau pucat, sedikit kekuningan di pinggir, masih renyah kalau digigit, lalu dicocol ke garam cabai yang pedasnya tidak terlalu brutal. Asemnya harus pas; bukan asem yang bikin ingin menggugat penjual buah, melainkan asem yang bikin mata merem, bahu naik, lalu setelah itu muncul rasa manis samar yang membuat hidup terasa punya masa depan.

Dhiya tahu definisinya ribet. Ia sadar. Kalau dirinya tidak sedang hamil, ia mungkin akan mengejek orang yang mendeskripsikan mangga seperti sedang menilai karakter tokoh drama. Namun masalahnya, ia memang sedang hamil. Tujuh bulan. Dengan punggung yang pegal, kaki yang mulai gampang bengkak, dan emosi yang kadang bergerak lebih liar daripada grafik saham. Jadi, kalau ia ingin mangga dengan spesifikasi emosional tertentu, seisi dunia seharusnya memberi jalan.

Pukul setengah tujuh, pintu apartemen terbuka.

"Selamat malam, halo penghuni rumah paling cantik," suara Shaka muncul duluan sebelum orangnya kelihatan. "Dan penghuni kedua yang masih numpang di perut."

Dhiya, yang sejak tadi duduk di sofa sambil pura-pura menonton acara masak, langsung menegakkan punggung. "Halo, Mas. Dapet?"

Shaka muncul dari lorong kecil dengan kemeja kerja lengan digulung, rambut agak lembap kena gerimis, dan satu kantong plastik di tangan kanan. Wajahnya terlalu cerah. Terlalu percaya diri. Itu biasanya pertanda buruk.

"Dapet."

Dhiya menyipitkan mata. "Kok muka kamu kayak orang habis berhasil menipu dosen pembimbing?"

"Lho, ini muka suami sukses menjalankan amanah."

"Keluarin."

Shaka mengangkat kantong plastiknya seperti pembawa acara kuis. "Sebelum itu, aku mau bilang bahwa proses pencarian ini penuh perjuangan. Tukang buah pertama kehabisan mangga muda. Tukang buah kedua—"

"Mas."

"Iya?"

"Keluarin mangganya."

Shaka berhenti bicara. Ia menelan ludah, lalu mengeluarkan sebuah mangga dari kantong plastik.

Kuning.

Besar.

Harum.

Matang sempurna.

Mangga itu cantik sekali. Kalau hari biasa, Dhiya mungkin akan senang. Ia bisa memotongnya dingin-dingin, makan sambil nonton drama, lalu menyuapi Shaka satu potong hanya supaya laki-laki itu berhenti menatapnya seperti anak anjing minta jatah. Tapi hari itu bukan hari biasa. Hari itu, mangga kuning itu terlihat seperti penghinaan pribadi.

Dhiya menatap mangga di tangan Shaka. Lama. Sangat lama sampai Shaka mulai memindahkan berat badan dari kaki kanan ke kaki kiri.

"Mas," panggil Dhiya akhirnya.

"Iya, Sayang."

"Itu warna apa?"

Shaka melihat mangganya, seolah buah itu mungkin berubah warna kalau ditatap cukup intens. "Kuning."

"Kuning tuh biasanya apa?"

"Cerah?"

Dhiya menutup mata sebentar. Arsa bergerak di perutnya, mungkin merasakan tensi rapat keluarga yang tiba-tiba naik.

"Shaka Mahawira."

"Matang," jawab Shaka cepat. "Iya, matang. Tapi kata abang buahnya ini masih ada asem-asemnya dikit. Dia bilang—"

"Abang buahnya hamil tujuh bulan juga?"

Shaka langsung diam.

"Enggak."

"Berarti abang buahnya tidak valid."

"Valid gimana, Dhi?"

"Valid memahami kebutuhan psikologis mangga muda."

Shaka menatapnya dengan wajah orang yang sedang mencoba keras untuk tidak terlihat bingung. "Oke. Kebutuhan psikologis mangga muda. Aku terima."

"Bukan diterima, Mas. Dicari."

"Sekarang?"

Dhiya menatapnya.

Shaka langsung mengangguk. "Sekarang. Oke. Aku berangkat lagi."

"Yang hijau. Tapi jangan hijau batu banget. Asem, tapi jangan asem yang bikin trauma. Renyah. Jangan lembek. Jangan yang kayak habis disimpan di kulkas warung tiga generasi. Kalau bisa dipotongin abang buahnya sekalian. Garam cabainya pisah. Jangan kebanyakan garam. Cabainya jangan yang bikin mati rasa."

Shaka diam beberapa detik.

"Kamu mau mangga atau pasangan hidup baru?"

"Kalau mangganya benar, aku pertahankan pasangan hidup yang lama."

"Baik. Motivasi diterima."

Shaka sudah berbalik menuju pintu ketika Dhiya memanggil lagi, "Mas."

"Iya?"

"Jangan beli rujak campur. Aku cuma mau mangga."

"Oke."

"Jangan tergoda nanas."

"Oke."

"Jangan beli jambu air cuma karena kelihatan lucu."

Shaka mengangkat telunjuk. "Nah, ini agak berat karena jambu air memang sering kelihatan lucu."

"Shaka."

"Iya, iya. Mangga muda. Fokus."

Dhiya hendak menyilangkan tangan di depan dada, tapi perutnya menghalangi gestur dramatis itu. Ia akhirnya hanya meletakkan kedua tangan di atas perut, memasang wajah paling galak yang bisa ia punya dalam piyama rumah warna biru pucat.

Shaka memperhatikannya dua detik, lalu mendekat lagi.

"Apa lagi?" tanya Dhiya curiga.

"Cium dulu."

"Nggak."

"Arsa aja?"

"Anakmu kecewa."

"Justru aku harus minta maaf sama dia."

Tanpa menunggu persetujuan penuh, Shaka berjongkok di depan sofa dan menempelkan bibirnya sebentar ke perut Dhiya, di atas kain piyama. "Arsa, Ayah mohon maaf atas kelalaian memahami brief mangga. Ayah akan revisi sesuai arahan klien utama."

Dhiya mengambil bantal kecil di sampingnya dan memukul kepala Shaka pelan.

"Drama."

Shaka mendongak, tersenyum. "Tapi kamu nggak marah banget, kan?"

"Masih diproses."

"Aku bisa ajukan banding?"

"Tergantung mangga kedua."

"Baik. Aku pergi sebelum status pernikahan kita ditinjau ulang."

Begitu pintu apartemen tertutup lagi, Dhiya masih berusaha mempertahankan wajah kesal selama beberapa detik. Ia bahkan mendengus keras-keras, seolah Shaka masih bisa mendengar dari lift. Namun setelah itu, ruang tengah menjadi sunyi. Acara masak di televisi sudah berganti iklan sabun cuci piring. Di meja, mangga matang hasil kegagalan pertama Shaka tergeletak dalam plastik, mengilap dan tidak berdosa.

Dhiya menatap mangga itu.

Lalu, tanpa peringatan, matanya panas.

"Jangan," gumamnya pada diri sendiri. "Ini cuma mangga. Jangan nangis gara-gara mangga. Malu."

Tentu saja tubuhnya tidak peduli pada konsep malu. Air mata pertama jatuh begitu saja, lalu disusul yang kedua. Dhiya buru-buru mengusap pipinya, kesal pada diri sendiri karena hal-hal kecil belakangan ini terlalu gampang menekan tombol rusak di dalam dadanya. Shaka salah beli mangga, ia menangis. Iklan susu menampilkan bayi tertawa, ia menangis. Celana jeans favoritnya tidak bisa naik melewati paha, ia menangis. Naya mengirim foto nongkrong di kafe Senopati dengan caption "next bawa baby bump ya ibuuu", ia tertawa di chat, lalu menangis setelahnya.

Dhiya tahu tidak ada yang jahat. Shaka tidak jahat. Naya tidak jahat. Mangga kuning di meja itu jelas tidak punya niat buruk. Namun entah kenapa, semua hal seperti menabrak tempat yang sama dalam dirinya; tempat kecil yang belakangan ini sering berbisik bahwa sebentar lagi Dhiya yang dulu akan hilang pelan-pelan.

Dulu ia Dhiya Arkatama, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang selalu kelihatan niat bahkan ketika hanya turun ke minimarket. Dulu ia bisa menghabiskan dua jam di depan cermin untuk memastikan eyeliner-nya simetris, outfit-nya nyambung, dan rambutnya jatuh dengan cara yang terlihat tidak sengaja padahal jelas disengaja. Dulu akhir pekannya berisi kafe baru, foto OOTD, debat panjang dengan Shaka soal film action versus romcom, dan rencana mendadak keliling kota jam sebelas malam cuma karena ingin sate padang.

Sekarang, ia Dhiya yang punya aplikasi penghitung usia kandungan di ponsel. Dhiya yang tasnya berisi vitamin, minyak kayu putih, permen jahe, dan biskuit asin. Dhiya yang kalau berdiri terlalu cepat langsung memegang pinggang. Dhiya yang mulai dipanggil "Bunda" oleh orang-orang yang bahkan tidak sedekat itu dengannya. Dhiya yang kadang menatap pantulan dirinya di cermin dan merasa seperti sedang menunggu versi lamanya selesai berkemas lalu pergi.

Tangannya turun ke perut.

"Arsa," bisiknya pelan. "Ibu lebay nggak sih?"

Ada gerakan kecil dari dalam. Halus, seperti gelembung soda pecah di bawah kulit.

Dhiya tertawa basah.

"Kamu jangan jawab iya."

Gerakan itu datang lagi, sedikit lebih jelas. Dhiya menunduk, air mata masih jatuh tapi sudut mulutnya terangkat. "Lihat? Kamu belum lahir aja udah kompak sama Ayah."

Ia duduk beberapa menit lagi di sofa, mencoba menenangkan diri. Namun ruang tengah terasa terlalu terang, televisi terlalu berisik, dan mangga matang di meja terlalu menuduh. Maka Dhiya bangkit pelan-pelan, satu tangan menyangga pinggang, lalu berjalan ke kamar mandi.

Bathtub apartemen mereka tidak besar. Waktu pertama kali pindah, Dhiya sempat girang karena merasa hidupnya naik kelas. Punya bathtub di apartemen ibu kota terdengar seperti sesuatu yang dilakukan orang dewasa sukses, bukan pasangan muda yang kadang masih berdebat apakah beli detergen ukuran besar itu investasi atau pemborosan. Namun sejak hamil, bathtub kecil itu berubah fungsi menjadi tempat persembunyian resmi.

Di sana, air hangat membuat perutnya terasa lebih ringan. Di sana, Dhiya tidak perlu tersenyum ketika orang mengomentari tubuhnya. Di sana, ia tidak perlu menjelaskan kenapa ia bisa bahagia dan takut pada saat bersamaan. Di sana, kalau ia menangis, suara air bisa membantu pura-pura tidak ada apa-apa.

Ia menyalakan keran, menunggu uap tipis naik ke kaca, lalu masuk perlahan ke dalam bathtub. Begitu air hangat merendam punggungnya, Dhiya memejamkan mata. Napasnya keluar panjang. Untuk beberapa menit, tubuhnya berhenti terasa seperti milik gravitasi.

Lalu pikirannya kembali berisik.

Besok ada kontrol kandungan. Minggu depan kelas persiapan melahirkan. Bulan depan mungkin semua perlengkapan bayi harus sudah siap. Setelah itu, Arsa akan lahir. Orang kecil yang sekarang bergerak-gerak di dalam dirinya akan menjadi nyata, menangis, bernapas, membuka mata, membutuhkan Dhiya dan Shaka sepenuhnya.

Dhiya sayang Arsa. Sayang sekali sampai kadang dadanya sakit. Namun rasa sayang itu tidak menghapus takut. Justru kadang membuat takutnya semakin besar. Bagaimana kalau nanti ia tidak tahu harus apa saat Arsa menangis? Bagaimana kalau ia tidak cukup sabar? Bagaimana kalau ia merindukan hidup lamanya lalu merasa bersalah seumur hidup? Bagaimana kalau Shaka, yang sekarang masih memandangnya dengan mata penuh cinta meski rambutnya berantakan dan piyamanya kebesaran, suatu hari ikut merindukan Dhiya yang dulu tapi tidak berani bilang?

Air mata yang tadi sempat berhenti jatuh lagi. Kali ini lebih deras. Dhiya menutup mulut dengan tangan agar suaranya tidak keluar. Ia tidak mau Shaka pulang dan langsung menemukannya seperti ini. Shaka pasti akan panik, lalu memasang wajah suami siaga yang membuat Dhiya makin ingin menangis. Shaka akan bertanya kenapa, dan Dhiya tidak tahu jawabannya. Atau ia tahu, tapi jawabannya terlalu banyak sampai ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Ia menunduk, mengusap perutnya di bawah air.

"Arsa, kalau nanti Ibu nggak seru lagi gimana?" bisiknya. "Kalau nanti Ibu cuma capek terus? Kalau nanti Ayah capek sama Ibu?"

Isakannya pecah sedikit di ujung kalimat. Dhiya menggigit bibir. Di luar kamar mandi, samar-samar terdengar suara pintu apartemen dibuka.

"Dhi?" suara Shaka memanggil dari depan. "Aku pulang. Aku bawa tiga kandidat mangga. Kita bisa audisi."

Dhiya langsung membeku.

Sial. Cepat sekali.

Ia mengusap wajah dengan kedua tangan, tapi percuma. Wajahnya sudah basah total. Rambut di pelipis menempel. Hidungnya pasti merah. Matanya pasti sembap. Ia bahkan tidak bisa pura-pura sedang mencuci muka karena jelas-jelas sedang berendam.

Langkah Shaka mendekat ke lorong. "Dhi?"

"Apa?" jawab Dhiya, berusaha membuat suaranya datar.

"Di kamar mandi?"

"Iya."

"Mangganya aku taruh dulu ya. Yang satu kayaknya paling mendekati brief. Aku sampai minta abang buahnya potong di tempat, terus dia nanya, 'Istrinya ngidam ya, Mas?' Aku bilang iya. Dia langsung serius, Dhi. Kayak ikut sidang."

Dhiya ingin tertawa, tapi yang keluar justru napas patah.

Di depan pintu kamar mandi, Shaka berhenti.

"Dhi?"

"Hm?"

"Kamu nangis?"

"Enggak."

Hening.

Lalu Shaka menghela napas sangat pelan. "Kamu kalau bohong tuh suaranya jadi galak."

"Aku memang galak."

"Galaknya beda. Ini galak habis kehujanan."

"Perumpamaan kamu jelek."

"Tapi akurat?"

"Pergi, Mas. Aku lagi berendam."

"Nggak bisa."

"Kenapa?"

Di luar, Shaka diam sebentar. Dhiya bisa membayangkan wajahnya: alis sedikit berkerut, bibir maju sedikit karena sedang berpikir, mungkin tangan memegang mangkuk mangga, mungkin masih memakai jaket basah. Lalu laki-laki itu berkata dengan nada paling memelas sedunia.

"Aku mau berteman sama Baby."

Dhiya berkedip. Air matanya masih jatuh, tapi dahinya otomatis berkerut.

"Apa?"

"Aku mau berteman sama Baby," ulang Shaka. "Boleh masuk?"

Dhiya menatap pintu kamar mandi seolah pintu itu baru saja mengucapkan sesuatu yang menyinggung akal sehat.

"Mas, kamu habis dicuci abang buah?"

"Nggak."

"Habis kehujanan terus demam?"

"Nggak juga."

"Terus kenapa ngomong aneh?"

"Karena kalau aku bilang mau nemenin kamu, kamu pasti bilang nggak usah."

Dhiya terdiam.

"Kalau aku tanya kamu kenapa, kamu pasti bilang nggak apa-apa."

Dhiya menunduk.

"Kalau aku maksa masuk, kamu bisa lempar botol sampo. Dan botol sampo kamu gede banget, Dhi. Aku masih butuh hidungku buat kerja besok."

Dhiya menutup wajahnya dengan tangan. Sial. Ia tertawa. Kecil, basah, jelek, tapi tawa. Di luar, Shaka langsung menangkap itu seperti orang menemukan sinyal satu bar di tengah hutan.

"Nah. Ketawa."

"Aku ngetawain kebodohan kamu."

"Yang penting ketawa."

"Nyebelin."

"Iya. Tapi boleh masuk nggak? Aku bawa mangga juga. Sebagai persembahan damai."

Dhiya menggigit bibir. Ia bisa saja bilang tidak. Shaka akan menghormatinya. Laki-laki itu akan duduk di luar, mengobrol dari balik pintu, menunggu sampai Dhiya siap keluar. Justru karena tahu Shaka tidak akan memaksa, Dhiya jadi ingin membiarkannya masuk.

"Masuk," gumamnya. "Tapi jangan komentar."

Pintu terbuka sedikit. Shaka muncul dengan satu tangan menutup mata, tangan lainnya memegang mangkuk kecil berisi potongan mangga muda dan wadah garam cabai terpisah. Rambutnya agak basah kena gerimis, ujung kemejanya lembap, wajahnya serius sekali untuk seseorang yang baru saja meminta izin berteman dengan janin.

Dhiya menatapnya lelah. "Kamu ngapain nutup mata?"

"Protokol suami sopan."

"Kita udah nikah."

"Tetap harus sopan."

"Aku hamil anak kamu, Shaka."

"Justru harus makin sopan. Kamu sedang mengemban warga negara baru."

Dhiya hampir tertawa lagi, tapi menahannya dengan menggigit bibir.

"Buka mata. Nanti kamu nabrak wastafel, aku nggak kuat gotong."

Shaka membuka mata pelan. Hal pertama yang ia lihat bukan tubuh Dhiya, bukan air, bukan perut bulat yang muncul di antara busa tipis, melainkan wajah Dhiya. Mata sembap, hidung merah, pipi basah. Shaka menatapnya begitu hati-hati sampai Dhiya langsung sewot karena malu.

"Jangan lihat aku kayak gitu."

"Kayak apa?"

"Kayak aku kasihan."

"Aku nggak kasihan."

Shaka masuk dan menutup pintu dengan pelan, lalu duduk di lantai samping bathtub. Celananya langsung kena cipratan air, tapi ia pura-pura tidak sadar. "Aku sayang. Mukanya mungkin mirip, tapi beda departemen."

"Gombal kamu murahan."

"Kalau mahal, nanti kamu bilang boros."

Dhiya mengambil satu potong mangga dari mangkuk sebelum mulutnya menjawab terlalu lembek. Potongannya tidak rapi. Ada yang besar, ada yang kecil, ada yang bentuknya seperti pulau gagal. Namun warnanya benar. Hijau pucat dengan sedikit kuning di bagian pinggir. Dhiya mencocolkannya ke garam cabai, lalu menggigit.

Matanya langsung terpejam.

Shaka menahan napas seperti sedang menunggu pengumuman kelulusan.

"Gimana?"

Dhiya mengunyah pelan. Asemnya naik duluan, membuat rahangnya sedikit ngilu, lalu manis tipis muncul setelahnya. Renyah. Segar. Persis seperti yang ia bayangkan sejak siang.

"Pas," katanya akhirnya.

Wajah Shaka langsung cerah.

"Beneran?"

"Hmm."

"Puji Tuhan." Shaka mengelus dada. "Aku hampir sujud syukur di depan abang buah."

"Jangan norak."

"Aku sudah berada di ambang kehancuran rumah tangga."

"Memang."

"Berarti aku dimaafkan?"

"Belum. Tapi ada peluang."

"Cukup. Aku hidup dari peluang."

Dhiya makan satu potong lagi. Lalu satu lagi. Shaka memperhatikan dengan wajah puas, seolah tugas negaranya selesai. Setelah tiga potong, Dhiya baru sadar tangisnya agak mereda. Bukan hilang, tapi tidak lagi menekan dada seperti tadi.

Shaka menunduk ke arah perutnya. "Halo, Baby. Ini Ayah. Ayah sudah berhasil membawa mangga sesuai brief Ibu. Mohon dipertimbangkan dalam seleksi pertemanan."

Dhiya mendengus. "Dia bukan HRD."

"Bisa jadi. Kita belum tahu minat bakatnya."

"Dia janin."

"Janin visioner."

"Jangan mulai."

"Arsa," lanjut Shaka, mengabaikan peringatan, "kalau kamu mau berteman sama Ayah, tendang sekali."

"Jangan ngajarin anak nendang orang."

"Ini bukan nendang. Ini tanda tangan kontrak."

"Pakai kaki?"

"Dia belum bisa pegang pulpen."

Dhiya tertawa, dan tepat setelah itu perutnya bergerak kecil.

Keduanya langsung diam.

Shaka menatap perut Dhiya dengan mata melebar. "Dhi."

"Hm?"

"Itu dia?"

"Kayaknya."

"Dia nendang?"

"Gerak."

"Nendang?"

"Mas, jangan heboh."

"Arsa." Shaka mendekat sedikit, wajahnya berubah serius sekali. "Kalau tadi itu tanda tangan kontrak, Ayah terima."

Dhiya memutar mata, tapi ia membiarkan Shaka meletakkan telapak tangan di perutnya saat laki-laki itu melirik minta izin. Tangan Shaka hangat di kulitnya yang basah air. Untuk beberapa detik, tidak ada gerakan apa-apa. Shaka menunggu dengan konsentrasi penuh, seperti sedang mengerjakan maket arsitektur mepet deadline.

"Baby," bisiknya lagi. "Ayah tahu pertemanan kita masih awal. Ayah juga sadar tadi sempat salah beli mangga. Tapi Ayah ini orangnya mau belajar. Jadi teman, ya?"

Dhiya hendak meledek, tapi Arsa bergerak lagi.

Kali ini tepat di bawah telapak tangan Shaka.

Shaka membeku. Benar-benar membeku. Wajahnya kehilangan semua gaya konyol yang sejak tadi ia pakai untuk menyelamatkan suasana. Matanya membesar sedikit, mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Ia menunduk, menatap tangan sendiri di perut Dhiya seperti baru saja disentuh sesuatu yang suci dan tidak masuk akal.

"Dhi," katanya pelan.

"Iya."

"Dia jawab aku."

"Mungkin."

"Dia mau berteman sama aku."

Dhiya menatap wajah Shaka yang begitu bahagia sampai terlihat bodoh, lalu dadanya terasa hangat dan sakit sekaligus. "Iya, Mas," jawabnya lembut. "Dia mau."

Shaka tersenyum. Senyum yang tidak besar, tapi terang sekali. Ia menunduk, mencium pelan perut Dhiya lewat sisa air dan busa tipis.

"Makasih, Arsa."

Dhiya tidak tahu kenapa kalimat sesederhana itu membuat matanya panas lagi. Mungkin karena Shaka menyebut nama itu dengan natural. Nama yang sempat mereka debatkan berminggu-minggu karena Shaka bersikeras ingin memberi nama tengah yang terdengar seperti tokoh fantasi penunggang naga, sementara Dhiya hanya ingin nama yang hangat dan tidak membuat petugas akta kelahiran menghela napas.

"Mas," panggil Dhiya.

"Hm?"

"Kamu tadi bilang Arsa."

Shaka mendongak. "Iya."

"Kupikir kamu masih mau nama yang kemarin."

"Yang mana? Yang artinya ksatria langit penjaga tujuh samudra?"

"Iya. Yang kalau ditulis di formulir rumah sakit, suster mungkin minta istirahat."

Shaka tertawa kecil. "Arsa lebih cocok."

"Kenapa?"

"Karena kedengarannya pulang."

Dhiya menatapnya.

Shaka mengusap perut Dhiya dengan ibu jarinya, pelan. "Kayak... kalau dipanggil, dia tahu ada rumah yang nunggu."

Dhiya menutup mata. "Jangan ngomong bagus-bagus pas aku lagi jelek."

"Kamu nggak jelek."

"Mataku bengkak."

"Iya."

"Hidungku merah."

"Iya."

"Rambutku lepek."

"Iya."

"Terus?"

"Terus tetap kamu."

Dhiya terdiam.

Shaka tidak menambahkan apa-apa lagi. Mungkin ia tahu kalau satu kalimat tambahan saja bisa membuat Dhiya menangis lebih keras. Untuk beberapa saat, kamar mandi hanya diisi suara air bergerak pelan dan hujan yang mengetuk kaca kecil di atas wastafel.

Dhiya mengambil satu potong mangga, mencocolkannya ke garam cabai, lalu menyodorkannya ke mulut Shaka.

"Buka."

Shaka membuka mulut tanpa curiga. Begitu menggigit, wajahnya langsung mengerut.

"Astaga, asem banget."

Dhiya tertawa.

"Itu enak."

"Lidah kamu sudah tidak bisa dipercaya."

"Kamu yang lemah."

"Arsa, tolong catat, Ayah rela menderita demi pertemanan ini."

"Jangan ngadu."

"Aku korban."

"Kamu lebay."

"Memang. Tapi kamu senyum."

Dhiya tidak bisa membantah. Ia memang tersenyum. Meski air mata masih sesekali jatuh, wajahnya tidak lagi terasa kaku karena menahan semuanya sendirian.

Shaka duduk lebih nyaman di lantai, punggung bersandar ke dinding. "Jadi..."

"Jangan tanya kenapa."

"Aku belum nanya."

"Tapi mukamu nanya."

"Mukaku memang banyak ekspresi."

"Kurangi."

"Sulit." Shaka diam sebentar. "Aku boleh duduk di sini aja?"

Dhiya menatapnya.

"Di lantai?"

"Iya."

"Celanamu basah."

"Biar. Nanti kering."

"Kamu nanti masuk angin."

"Aku anak kuat."

"Kemarin kena gerimis dikit langsung minta tolong dibuatin teh."

"Itu manja terencana."

Dhiya mendengus. "Aneh."

"Tapi boleh?"

Dhiya menatap mangkuk mangga di pinggir bathtub, lalu tangan Shaka yang masih ada di tepi, dekat dengan tangannya. Ia tahu Shaka sedang berusaha. Tidak menerobos. Tidak menginterogasi. Tidak memaksa Dhiya menjadi orang yang langsung bisa menjelaskan kekacauan kepalanya.

"Mau ngapain di sini?" tanyanya pelan.

Shaka menoleh ke perutnya lagi. "Berteman sama Baby."

"Alasan."

"Iya."

Dhiya diam.

Shaka tersenyum kecil, kali ini tidak bercanda. "Alasan buat nemenin kamu."

Kalimat itu jatuh pelan sekali. Tidak heboh. Tidak dramatis. Tidak seperti kalimat yang dipersiapkan. Justru karena itu, Dhiya merasakannya langsung sampai dada.

Ia menunduk, menatap air yang mulai kehilangan busanya.

"Mas."

"Hm?"

"Aku capek."

"Iya."

"Capek banget."

"Iya."

"Aku nggak tahu capek karena apa. Banyak. Badanku. Kepalaku. Orang-orang. Besok kontrol. Terus tadi kamu salah beli mangga dan aku nangis, padahal itu cuma mangga. Aku merasa bodoh."

Shaka tidak buru-buru menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Dhiya yang basah, ibu jarinya bergerak pelan di punggung tangan.

"Nangis gara-gara mangga nggak bodoh," katanya akhirnya.

"Bodoh, Mas."

"Ya sudah, kalau bodoh, kita bodoh bareng. Aku juga salah beli mangga."

Dhiya tertawa kecil, lalu menunduk lagi.

"Aku takut."

"Takut apa?"

"Banyak."

"Satu-satu."

"Kayak daftar belanja."

"Biar nggak ketuker. Nanti kamu takut lahiran, aku malah beli roti."

Dhiya memelototinya.

"Maaf. Lanjut."

Dhiya menarik napas. Dadanya masih sesak, tapi tangan Shaka terasa hangat. Arsa diam di perutnya, seperti ikut mendengarkan.

"Aku takut lahiran. Takut sakit. Takut ada apa-apa sama Arsa. Takut aku panik terus malah nyusahin semua orang." Ia berhenti sebentar, menggigit bibir bawahnya. "Aku takut nanti Arsa lahir dan aku nggak tahu harus ngapain. Takut dia nangis terus aku nggak ngerti. Takut aku bukan orang tua yang baik. Takut aku kangen hidupku yang dulu, terus aku merasa jahat karena kangen."

Shaka mengangguk pelan.

Dhiya menatapnya, matanya kembali panas. "Aku takut kamu capek sama aku."

Kali ini Shaka langsung menatapnya.

"Dhi."

"Aku tahu kamu nggak pernah bilang begitu. Aku tahu. Tapi aku sendiri aja capek sama diriku. Aku gampang marah, gampang nangis, susah tidur, susah jalan, badanku kayak bukan badanku lagi. Orang-orang udah manggil aku Bunda, Ibu, calon ibu, segala macam. Padahal aku masih Dhiya. Aku masih pengin dipanggil Dhi sama teman-temanku. Aku masih pengin dandan. Aku masih pengin nongkrong. Aku masih pengin kamu lihat aku, bukan cuma lihat Arsa."

Suara Dhiya patah di kalimat terakhir. Ia buru-buru menutup wajah dengan tangan, tapi Shaka menarik tangannya pelan. Tidak memaksa, hanya cukup membuat Dhiya berhenti bersembunyi sedikit.

"Aku lihat kamu," kata Shaka.

Dhiya menggeleng. "Jangan jawab cepat-cepat. Kayak gampang."

"Nggak gampang." Shaka menunduk, mencari kata-kata, lalu mengangkat wajah lagi. "Aku nggak ngerti semua yang kamu rasain. Aku nggak bisa ngerasain hamil tujuh bulan. Aku nggak tahu rasanya badan berubah segitunya terus semua orang merasa boleh komentar. Aku juga nggak tahu rasanya bawa Arsa setiap detik kayak kamu."

Dhiya diam.

"Tapi aku lihat kamu, Dhi. Beneran. Bukan cuma perut kamu. Bukan cuma kamu yang nanti jadi ibunya Arsa. Aku masih lihat kamu yang kalau marah sama aku alisnya naik sebelah. Aku masih lihat kamu yang suka protes bajuku nggak punya konsep. Aku masih lihat kamu yang kalau nonton film sedih pura-pura nggak nangis padahal tisu habis setengah kotak. Aku masih lihat kamu yang nyuruh aku makan walaupun lima menit sebelumnya kamu bilang aku bolot."

"Memang bolot."

"Nah, itu. Dhiya-nya masih ada."

Dhiya tertawa di sela tangis.

Shaka tersenyum kecil. "Kalau nanti kamu merasa hilang, bilang ke aku."

"Aku nggak tahu cara bilangnya."

"Pakai kode."

"Kode apa?"

Shaka menatapnya serius. "Mau berteman sama Baby."

Dhiya bengong.

Lalu tertawa. "Serius?"

"Serius."

"Itu kode paling nggak jelas sedunia."

"Tapi gampang diingat."

"Kalau aku bilang itu di supermarket?"

"Aku dorong troli ke pinggir, siap siaga."

"Kalau di rumah orang tuamu?"

"Aku ajak pulang."

"Kalau kamu lagi meeting?"

"Aku izin."

"Mas, nanti kamu dipecat."

"Aku bilang ke bos: 'Pak, izin, suami saya mau berteman sama Baby.'"

Dhiya tertawa lebih keras sampai air di bathtub beriak.

"Jangan! Nanti bosmu mikir kamu stres."

"Memang. Stres mencintai keluarga."

"Jelek banget kalimatnya."

"Tapi tulus."

Dhiya mengusap pipinya. Tangisnya belum habis, tapi sudah tidak menggulung sebesar tadi. Di antara sisa sesak, ada ruang untuk bernapas. Untuk tertawa. Untuk merasa tidak sendirian di dalam tubuhnya sendiri.

"Mas," katanya pelan.

"Hm?"

"Kalau aku berendam lama..."

"Iya?"

"Jangan langsung tanya kenapa."

"Oke."

"Tapi jangan pergi juga."

Shaka menatapnya lembut. "Oke."

"Kadang aku nggak tahu kenapa aku nangis. Kadang aku cuma capek. Kadang aku cuma pengin ada kamu, tapi gengsi kalau bilang."

"Jadi aku datang pakai alasan Baby?"

Dhiya mengangguk kecil.

"Ya sudah," kata Shaka. "Mulai sekarang SOP-nya begitu."

"SOP?"

"Standard Operating Procedure Shaka menghadapi Dhiya di bathtub."

Dhiya memutar mata. "Apa isinya?"

"Satu, jangan panik. Dua, jangan tanya kenapa sebelum Dhiya siap. Tiga, bawakan camilan sesuai mood. Empat, minta izin berteman sama Baby. Lima..." Shaka berhenti sebentar, lalu meremas tangan Dhiya pelan. "Tetap di situ sampai Dhiya nggak merasa sendirian."

Dhiya menatapnya lama.

"Kamu kadang nyebelin banget," katanya akhirnya, "tapi kadang berguna."

Shaka tersenyum lebar. "Pujian tertinggi dalam pernikahan kita."

"Jangan besar kepala."

"Telat."

Malam itu, Shaka tetap duduk di lantai kamar mandi sampai air bathtub mulai dingin dan mangga di mangkuk tinggal dua potong. Ia tidak banyak bertanya lagi. Sesekali ia mengajak Arsa bicara dengan nada seolah sedang rapat penting.

"Arsa, poin pertama kontrak pertemanan: jangan tendang kandung kemih Ibu terlalu sering. Kasihan, Ibu bolak-balik toilet."

"Mas, jangan bahas kandung kemihku di depan anak."

"Dia sudah tahu, Dhi. Dia tinggal di sana."

"Shaka."

"Iya, maaf."

Lima menit kemudian, ia mulai lagi.

"Poin kedua: kalau Ayah salah beli sesuatu, kamu jangan langsung berpihak ke Ibu. Kita dengar dulu kronologinya."

Dhiya menatapnya. "Kamu mau menghasut anakku?"

"Bukan menghasut. Pendidikan keadilan."

"Dia pasti pilih aku."

"Belum tentu."

"Pasti."

Shaka menatap perut Dhiya. "Arsa, tendang kalau Ayah benar."

Tidak ada gerakan.

Dhiya tersenyum puas. "Tuh."

"Dia sedang tidur."

"Dia menolak ikut kebohongan."

"Dia abstain."

Dhiya tertawa lagi.

𓍯𓂃𓂃𓂃

 

Beberapa malam setelah itu, kalimat "mau berteman sama Baby" menjadi sesuatu yang tinggal di rumah mereka. Awalnya, Shaka mengucapkannya setiap kali Dhiya berendam terlalu lama. Ia akan mengetuk pintu, memanjangkan suara dengan gaya paling memelas yang bisa membuat Dhiya antara ingin tertawa dan ingin melempar gayung.

"Dhi..."

"Apa?"

"Mau berteman sama Baby, please."

Kadang Dhiya membiarkannya masuk. Kadang tidak. Kalau tidak, Shaka duduk di depan pintu kamar mandi sambil mengobrol dengan Arsa dari luar.

"Halo, Arsa. Ayah di luar karena Ibu sedang mode privasi. Di keluarga ini, consent penting."

Dari dalam, Dhiya akan berseru, "Jangan ngomong kayak iklan layanan masyarakat!"

Shaka akan menjawab, "Baik. Ayah ulang dengan gaya santai. Arsa, kalau orang bilang nggak, ya nggak. Paham?"

"Dia janin, Mas!"

"Pendidikan dimulai sejak dini."

Atau malam lain, ketika Dhiya menangis karena timbangan naik lagi dan dokter bilang itu normal, tapi kata "normal" tetap tidak membuat celananya bisa muat, Shaka datang membawa keripik kentang rasa rumput laut.

"Mau berteman sama Baby."

"Baby lagi nggak mau teman."

"Pernyataan resmi belum keluar."

"Aku juru bicaranya."

"Baik, Bu Jubir. Bisa dijelaskan kenapa konferensi pers dilakukan sambil nangis?"

"Shaka, aku cubit ya."

"Silakan. Tapi habis itu makan keripik dulu. Aku beli yang merek kamu suka."

Dhiya diam.

"Yang rumput laut?"

"Yang rumput laut."

"Taruh sini."

Lima menit kemudian, Dhiya menangis sambil makan keripik di bathtub, dan Shaka duduk di lantai memegang gelas air putih seperti asisten pribadi yang gajinya dibayar dengan omelan.

Ada juga malam ketika Dhiya habis menonton video edukasi melahirkan yang terlalu detail dan langsung menyesal karena sekarang kepalanya penuh skenario mengerikan. Shaka tidak masuk. Ia duduk di luar pintu, telapak tangan menempel di kayu.

"Mau berteman sama Baby."

"Jangan sekarang."

"Justru sekarang. Pertemanan harus diuji saat krisis."

"Aku takut, Mas."

Shaka langsung berhenti bercanda. "Takut lahiran?"

"Iya."

"Takut sakit?"

"Iya."

"Takut aku pingsan duluan?"

Dhiya terdiam, lalu menjawab dengan nada lebih cemas, "Kamu jangan pingsan beneran."

"Aku usahakan. Kalau mau pingsan, aku lihat muka galak kamu dulu biar sadar."

"Motivasi kamu jelek."

"Tapi efektif."

"Kalau aku marah-marah nanti?"

"Aku terima."

"Kalau aku bilang benci kamu?"

"Aku tahu itu sakitnya yang ngomong."

"Kalau aku cubit?"

"Jangan area vital."

Dhiya tertawa. Tidak keras, tapi cukup.

Shaka bersandar ke pintu, memejamkan mata sebentar. Kadang ia sendiri takut. Tentu saja. Ia baru dua puluh tiga tahun, baru mulai bekerja, baru belajar membayar tagihan listrik tepat waktu, dan sebentar lagi akan menjadi ayah. Ada hari-hari ketika ia menatap keranjang baju bayi yang belum dicuci dan merasa ingin bertanya pada semesta apakah ada masa training dulu sebelum seseorang diberi makhluk kecil yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada mereka.

Namun kalau Shaka menunjukkan takutnya terlalu banyak, Dhiya akan semakin takut. Jadi ia memilih menjadi konyol. Menjadi suami yang salah beli mangga lalu memperbaikinya. Menjadi orang yang duduk di depan pintu kamar mandi. Menjadi calon ayah yang meminta izin berteman dengan janin supaya pasangan hidupnya punya alasan untuk tidak sendirian.

Puncaknya terjadi pada malam hujan, hampir dua minggu setelah tragedi mangga.

Shaka pulang terlambat karena macetnya Jakarta seperti tidak punya belas kasihan. Ia masuk apartemen dengan kemeja kusut, rambut lembap, dan wajah bersalah karena lupa membeli roti gandum yang Dhiya pesan.

"Aku tahu aku salah," katanya begitu membuka pintu.

Dhiya menoleh dari sofa. "Apa yang kamu lakukan?"

"Aku ke minimarket."

"Terus?"

"Aku beli Yakult, baterai, sama tisu dapur."

Dhiya menunggu.

Shaka meringis. "Rotinya lupa."

Dhiya menarik napas panjang. "Aku minta roti."

"Iya."

"Kenapa yang kebeli baterai?"

"Baterainya promo."

"Roti juga sering promo, Shaka."

"Aku panik di kasir."

"Kamu panik lihat roti?"

"Bukan. Mbak kasirnya nanya mau sekalian pulsa atau nggak, terus otakku bubar."

Dhiya menatapnya lama, lalu menghela napas. "Nggak usah turun lagi. Hujan."

"Bener?"

"Iya. Aku makan yang lain aja."

"Kamu nggak marah?"

"Marah. Tapi aku malas melakukannya sekarang."

"Baik. Marahnya dijadwalkan?"

"Besok pagi mungkin."

"Siap."

Malam itu seharusnya biasa saja. Mereka makan nasi goreng sisa kemarin yang dipanaskan ulang. Shaka bercerita tentang klien kantor yang minta desain rumah "minimalis, mewah, murah, tapi jangan kelihatan murah", dan Dhiya sempat tertawa sambil berkata, "Itu bukan brief, itu doa."

Mereka menonton setengah episode drama, lalu Dhiya mulai mengantuk. Namun saat berdiri dari sofa, punggungnya nyeri tiba-tiba. Tidak parah, tapi cukup membuat wajahnya berubah.

Shaka langsung berdiri. "Kenapa?"

"Punggung. Biasa."

"Mau aku pijat?"

"Nanti."

"Mau kompres?"

"Nanti."

"Mau—"

"Mas, aku cuma mau berendam."

Shaka langsung menutup mulutnya sendiri. "Oke."

Dhiya masuk kamar mandi. Air hangat mengisi bathtub. Uap naik ke kaca. Ia melepas pakaian, masuk perlahan, lalu menghela napas ketika tubuhnya tenggelam. Punggungnya sedikit membaik. Namun malam itu, yang sakit bukan cuma punggung. Semua rasa yang selama ini datang kecil-kecil seperti cicilan tiba-tiba menagih bersamaan.

Roti yang lupa dibeli terasa bodoh sekali untuk ditangisi, tapi Dhiya menangis juga. Besok kontrol kandungan. Arsa makin besar. Tidurnya makin susah. Bajunya makin sempit. Komentar orang makin terasa dekat ke kulit. Ia capek. Bukan capek yang bisa selesai dengan tidur, karena tidur pun sekarang harus miring kiri dengan bantal hamil besar yang membuatnya merasa seperti sedang membangun benteng.

Ia menutup mulut, tapi isakannya keluar. Bahunya bergetar. Air mata jatuh cepat, bercampur air hangat.

Di luar, ketukan pelan terdengar.

"Dhi?"

Dhiya tidak menjawab.

"Dhiya?"

Isakannya malah makin jelas.

Shaka diam beberapa detik di luar pintu. Lalu suaranya terdengar, pelan, tanpa gaya bercanda yang biasanya ia pakai.

"Mau berteman sama Baby, please."

Dhiya menangis lebih keras. Bukan karena kalimat itu lucu. Bukan juga karena sedihnya bertambah. Namun karena malam itu, untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti maksudnya. Selama ini, Shaka tidak cuma ingin mengajak Arsa bicara. Tidak cuma ingin merasakan tendangan kecil atau membuat lelucon soal kontrak pertemanan.

Kalimat itu adalah cara Shaka mengetuk tanpa memaksa. Cara Shaka berkata, aku tahu kamu menangis, tapi aku tidak akan mempermalukanmu dengan pertanyaan yang belum siap kamu jawab. Cara Shaka berkata, aku ada di depan pintu.

Cara Shaka meminta izin untuk masuk ke sedih Dhiya dengan alasan paling konyol yang bisa diterima oleh gengsi Dhiya.

"Dhi?" panggil Shaka lagi. Kali ini suaranya lebih memelas. "Boleh?"

Dhiya mengusap wajahnya kasar. "Masuk."

Pintu terbuka pelan. Shaka muncul tanpa mangga, tanpa keripik, tanpa bantal sofa, tanpa lelucon pembuka. Hanya Shaka dengan kaus rumah dan rambut yang masih setengah basah, wajahnya terlihat takut tapi ia berusaha tidak membuat takut itu memenuhi ruangan. Tangannya tetap menutup mata.

Dhiya, di sela tangisnya, tertawa kecil.

"Kamu ngapain?"

"Protokol."

"Buka mata. Aku nggak punya tenaga buat ngawasin kamu nabrak."

Shaka membuka mata. Begitu melihat Dhiya menangis, wajahnya melunak, tapi ia tidak langsung bertanya kenapa. Ia masuk, menutup pintu, lalu duduk di lantai samping bathtub. Untuk beberapa saat, mereka tidak bicara. Shaka hanya meletakkan tangannya di tepi bathtub, menawarkan tanpa memaksa.

Dhiya melihat tangan itu.

Lalu mengambilnya. Jari-jari Shaka menggenggam balik, hangat dan kuat.

"Mas," suara Dhiya pecah. "Aku capek."

"Iya."

"Capek banget."

"Iya."

"Aku bahkan nggak tahu capek karena apa. Semuanya. Badanku. Kepalaku. Besok kontrol. Roti yang kamu lupa beli. Terus aku merasa bodoh karena nangis gara-gara roti."

"Maaf."

"Jangan minta maaf dulu. Nanti aku makin nangis."

"Oke. Maafnya aku simpan dulu."

Dhiya tertawa kecil meski air matanya masih jatuh. "Kamu tuh..."

"Bolot?"

"Iya."

"Terima kasih. Konsisten."

Dhiya menarik napas patah. "Aku takut, Mas."

"Kali ini daftar belanjanya banyak?"

"Banyak banget."

"Oke. Kita cicil."

"Aku takut lahiran. Takut sakit. Takut ada apa-apa sama Arsa. Takut aku nggak bisa jadi Ibu yang baik. Takut kamu capek sama aku. Takut nanti aku bukan aku lagi."

Shaka menggenggam tangannya lebih erat.

Dhiya menatap air, suaranya makin kecil. "Aku takut nanti semua orang cuma lihat aku sebagai ibunya Arsa. Aku takut kamu juga. Aku takut kamu kangen Dhiya yang dulu tapi nggak enak bilang. Aku takut badanku nggak balik. Aku takut aku jadi orang yang marah-marah terus. Aku takut kangen nongkrong terus merasa jahat. Aku takut... hilang."

Kamar mandi menjadi sunyi.

Hujan di luar masih mengetuk kaca. Air di bathtub bergerak pelan setiap kali Dhiya menarik napas. Shaka tidak langsung menjawab, dan anehnya itu membuat Dhiya lega. Ia tidak butuh jawaban cepat. Ia butuh didengar.

"Dhi," kata Shaka akhirnya. "Lihat aku."

Dhiya menggeleng. "Aku jelek."

"Aku nggak lagi cari yang cantik. Aku lagi cari kamu."

Kalimat itu membuat Dhiya terpaksa menoleh, hanya untuk menatapnya dengan wajah antara mau marah dan mau menangis lebih keras. "Jelek banget, tapi kena."

"Maaf. Aku bukan penyair."

"Memang bukan."

"Tapi aku serius." Shaka mengusap punggung tangan Dhiya. "Aku nggak nikah sama kamu karena kamu selalu rapi. Walaupun dulu kamu rapi banget sampai aku takut nyapa."

"Kamu takut nyapa aku?"

"Banget. Kamu kalau jalan di kampus auranya kayak orang yang bisa menilai harga diri cowok dari sepatu."

"Aku memang lihat sepatu dulu."

"Nah, kan."

Dhiya tertawa pelan.

Shaka tersenyum sedikit, lalu melanjutkan, "Aku nikah sama kamu karena kamu Dhiya. Yang kalau marah serem, tapi setelah itu tetap nanya aku udah makan atau belum. Yang kalau sayang suka pura-pura jutek. Yang ribet soal warna baju, tapi justru itu yang bikin rumah ini jadi kamu banget. Yang sekarang nangis di bathtub karena capek dan takut, tapi masih mikir apakah dia jahat karena takut."

Dhiya menggigit bibir.

"Kamu nggak hilang cuma karena nanti jadi ibunya Arsa."

"Tapi rasanya begitu."

"Kalau rasanya begitu, kita cari bareng."

"Gimana caranya?"

"Pelan-pelan. Hari ini mungkin cuma bisa mandi dan nangis. Besok mungkin bisa pakai lip balm. Minggu depan mungkin bisa video call Naya tanpa pura-pura kuat. Nanti setelah Arsa lahir, mungkin kamu bisa nongkrong sejam, aku jagain. Kalau kamu mau dandan dua jam, dandan. Kalau kamu mau foto OOTD di ruang tengah, aku geser mainan. Kalau aku lupa geser, kamu marahin."

"Kamu pasti lupa."

"Makanya aku siapkan hak marah untuk kamu."

Dhiya tertawa lagi, dan kali ini tawanya tidak terlalu patah. Shaka menatap perut Dhiya yang muncul di antara air dan busa yang hampir habis. Ia meletakkan tangan satunya di sana setelah Dhiya mengangguk kecil.

"Halo, Arsa," katanya pelan. "Ayah mau berteman sama kamu bukan cuma karena Ayah nggak sabar ketemu kamu. Itu juga, sih. Banget. Tapi Ayah juga butuh bantuan."

Dhiya menatapnya.

"Kalau nanti Ibu sedih tapi pura-pura nggak, kamu kasih kode ya. Kalau Ibu capek tapi masih bilang bisa, kamu bilang ke Ayah. Tapi pelan-pelan aja. Jangan bikin Ibu sakit. Kita jagain Ibu bareng-bareng."

Dhiya menutup mulut dengan tangan.

"Mas..."

"Sebentar. Aku lagi rapat sama anak."

"Dia mungkin tidur."

"Kalau tidur, semoga masuk mimpi."

Shaka menunduk sedikit, suaranya lebih lembut. "Tapi kamu juga harus tahu, Arsa. Ibu bukan cuma Ibu. Ibu juga Dhiya. Orang paling galak kalau Ayah salah beli mangga, tapi juga orang paling sayang sama Ayah. Orang yang ketawanya bikin rumah nggak sepi. Jadi nanti kalau kamu lahir dan semua orang sibuk lihat kamu, Ayah bakal tetap lihat Ibu. Itu tugas Ayah. Kamu nggak usah ikut mikirin. Kamu cukup tumbuh sehat."

Dhiya menangis lagi.

Tapi kali ini ia tidak merasa sendirian.

Tepat di bawah tangan Shaka, Arsa bergerak.

Sekali.

Kecil, tapi jelas.

Shaka membeku. Lalu pelan-pelan mendongak dengan wajah yang membuat Dhiya ingin tertawa di tengah tangis.

"Dhi."

"Iya."

"Dia jawab."

"Iya."

"Dia setuju."

"Mungkin."

"Dia resmi mau berteman sama aku."

Dhiya mengusap pipinya. "Iya, Mas. Dia mau."

Shaka tersenyum. Senyum yang lebih lembut daripada semua leluconnya malam itu.

"Makasih," bisiknya pada perut Dhiya.

Dhiya menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya malam itu, udara tidak terlalu sakit di dada.

"Mas."

"Hm?"

"Peluk."

Shaka langsung berdiri setengah, panik. "Peluk gimana? Aku masuk bathtub juga?"

Dhiya terdiam.

Shaka juga.

Lalu, entah bagaimana, gambaran Shaka nyemplung ke bathtub kecil mereka dengan muka memelas muncul begitu saja di kepala Dhiya. Ia tertawa. Tawa yang benar-benar keluar dari perut, membuat air beriak dan sisa tangisnya berantakan.

"Bathtub-nya kecil, Mas."

"Aku bisa masuk."

"Nanti airnya luber."

"Aku pel."

"Kakimu panjang. Nanti mentok."

"Aku lipat."

"Kamu bukan kursi."

"Tapi aku suami."

"Argumen macam apa itu?"

Shaka menatapnya dengan mata memelas yang dibuat-buat, bibir sedikit maju, wajahnya sok memohon. "Mau berteman sama Baby, please."

Dhiya tertawa lagi, lebih keras.

"Jangan pasang muka begitu! Jelek!"

"Jelek tapi efektif?"

"Nggak!"

"Tapi kamu ketawa."

"Karena kamu tolol."

"Tolol yang mau nemenin."

Tawa Dhiya pelan-pelan mereda. Ia menatap Shaka yang masih berdiri di samping bathtub, serius dan bodoh dalam waktu bersamaan. Laki-laki itu benar-benar akan masuk kalau Dhiya mengizinkan. Ia akan duduk tidak nyaman, akan membuat lantai basah, akan mengepel setelahnya, hanya supaya Dhiya tidak sendirian di air yang mulai dingin.

Dhiya menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang semampunya.

"Kalau air luber, kamu yang pel."

Wajah Shaka langsung cerah. "Serius?"

"Jangan bikin aku berubah pikiran."

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, Shaka sudah melepas kaus, kemudian celana pendek dan dalamannya dengan cara yang sama sekali tidak elegan, lalu masuk ke bathtub seperti orang mencoba masuk ke koper kabin. Air naik drastis.

"Mas, pelan-pelan!"

"Aku pelan!"

"Airnya!"

"Maaf! Badanku nggak bisa di-zip!"

"Ya Tuhan."

Shaka akhirnya berhasil duduk di belakang Dhiya dengan posisi yang jelas tidak nyaman tapi ia pura-pura nyaman. Lututnya menekuk aneh, satu bahunya menempel dinding, dan air sudah tumpah sedikit ke lantai. Dhiya bersandar hati-hati ke dadanya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.

Karena ternyata, meski konyol, meski sempit, meski airnya mulai dingin, rasanya enak sekali. Shaka melingkarkan tangan di bawah perut Dhiya, menopangnya pelan. Dhiya memejamkan mata. Tubuh Shaka hangat di belakangnya, napasnya dekat telinga, detak jantungnya stabil di punggung. Kamar mandi mereka tidak berubah menjadi adegan film romantis. Lantainya basah. Kaki Shaka pasti kesemutan. Namun Dhiya merasa aman.

"Nyaman?" tanya Shaka pelan.

"Lumayan."

"Lumayan tuh artinya enak?"

"Artinya jangan banyak gerak. Lutut kamu nusuk pinggangku."

"Maaf." Shaka menggeser sedikit. "Jangan—"

Byur.

Air tumpah lagi ke lantai.

Mereka berdua diam.

Shaka berbisik, "Aku pel nanti."

Dhiya menutup wajah, tertawa sampai bahunya bergetar.

"Aduh, Mas. Kita aneh banget."

"Kamu yang nikahin aku."

"Keputusan administrasi yang dipertanyakan."

"Tapi buku nikahnya asli."

"Sayangnya."

"Untungnya."

Dhiya tersenyum, matanya terpejam. Setelah beberapa lama, ia berkata pelan, "Maaf ya."

"Buat apa?"

"Sering nangis."

"Ya nggak apa-apa."

"Sering marah."

"Masih dalam batas wajar."

"Sering nyusahin."

"Dhi, kamu hamil anak kita. Kalau ada yang nyusahin, itu kita berdua. Bahkan lebih tepatnya aku, karena kontribusiku di awal doang terus kamu yang bawa ke mana-mana sembilan bulan."

Dhiya membuka mata. "Kontribusi di awal?"

Shaka langsung kaku. "Maksudku secara biologis—"

"Mesum."

"Bukan! Aku sedang ilmiah."

"Ilmiah dari mana?"

"Biologi."

"Diam."

"Iya."

Dhiya tertawa pelan, lalu menggenggam tangan Shaka yang ada di perutnya.

"Mas."

"Hm?"

"Kalau nanti aku bilang mau berteman sama Baby..."

"Iya?"

"Itu artinya jangan tanya dulu. Temenin aja."

Shaka mengangguk, dagunya menyentuh bahu Dhiya.

"Oke."

"Kadang aku nggak ngerti aku kenapa."

"Oke."

"Kadang aku cuma capek."

"Oke."

"Kadang aku cuma pengin kamu ada."

Shaka memeluknya sedikit lebih erat.

"Aku ada."

Dhiya menggigit bibir. "Jangan ngomong bagus-bagus. Aku nanti nangis lagi."

"Ya nangis. Aku udah terlanjur basah juga."

"Shaka."

"Apa? Praktis."

Dhiya mencubit lengannya.

"Aduh."

"Biar."

Shaka tertawa pelan. Ia menunduk ke arah perut Dhiya, telapak tangannya masih menempel di sana. "Arsa, lihat. Ibu melakukan kekerasan lagi."

"Dia nggak bisa lihat."

"Dengar."

"Jangan ngadu."

"Tapi Ayah korban."

"Kamu lebay."

"Arsa, tendang sekali kalau Ayah benar."

Tidak ada gerakan.

Dhiya tersenyum puas. "Tuh."

"Dia tidur."

"Dia memihak aku."

"Dia abstain."

"Dia anakku."

"Anak kita."

Dhiya diam sebentar, lalu tersenyum lebih lembut.

"Iya. Anak kita."

Shaka mencium pelan bahunya.

𓍯𓂃𓂃𓂃

 

Mereka bertahan di bathtub sampai air benar-benar dingin dan Dhiya bersin sekali. Shaka langsung heboh menyuruhnya keluar, seolah bukan dia yang tadi ngotot masuk. Proses keluar dari bathtub jauh dari anggun. Shaka hampir terpeleset, Dhiya berteriak, air menetes ke lantai, handuk jatuh, dan Shaka berkali-kali berkata "aman" sambil jelas-jelas tidak terlihat aman.

Setelah Dhiya terbungkus piyama dan duduk di tepi kasur, Shaka kembali ke kamar mandi membawa pel dengan wajah pasrah.

Dhiya memperhatikannya dari kamar.

"Mas."

"Iya?"

"Kamu belum makan."

"Aku makan nasi goreng tadi."

"Itu tadi jam tujuh. Sekarang jam sepuluh."

"Ada pisang?"

"Ada di meja."

Shaka berhenti mengepel, menatapnya. "Kamu habis nangis di bathtub tapi masih ingat aku belum makan?"

"Ya kalau kamu pingsan, aku nggak bisa gotong."

"Romantis sekali."

"Makan."

"Siap."

Shaka keluar mengambil pisang, lalu makan sambil berdiri di ambang kamar mandi seperti tukang bangunan istirahat proyek. Dhiya memutar mata, tapi dadanya hangat. Ini juga mereka. Dhiya yang bahkan dalam keadaan sembap masih ingat Shaka belum makan. Shaka yang bahkan setelah pulang kerja, salah beli roti, dan nyemplung ke bathtub sempit masih mengepel lantai tanpa mengeluh selain komentar-komentar tidak penting.

Mereka berantakan.

Muda.

Kadang bodoh sekali.

Tapi malam itu, Dhiya merasa mungkin mereka akan baik-baik saja. Bukan karena mereka siap. Mereka jelas belum siap sepenuhnya. Namun karena mereka mau saling menemani saat belum siap.

Setelah lantai kering, Shaka mematikan lampu kamar mandi dan naik ke kasur. Dhiya sudah berbaring menyamping dengan bantal hamil besar di depannya. Shaka menyelip dari belakang, mengisi ruang yang tersisa, lalu meletakkan tangan di perut Dhiya seperti biasa.

"Dhi," bisiknya.

"Hm?"

"Besok aku beli roti."

"Harus."

"Terus aku beli stok camilan bathtub."

Dhiya tersenyum dalam gelap. "Stok camilan bathtub?"

"Iya. Emergency emotional support snack."

"Ngaco."

"Praktis. Kita taruh keripik, buah, permen jahe..."

"Cokelat jangan. Nanti meleleh."

"Oh iya. Kamu pintar."

"Kamu aja yang kurang."

"Otakku habis dipakai berteman sama Baby."

Dhiya tertawa pelan.

Di bawah tangan mereka, Arsa bergerak kecil. Sekali. Lembut.

Shaka langsung berbisik, "Tuh. Dia setuju."

"Dia mau tidur."

"Dia mau berteman sama aku."

"Besok lagi."

"Kenapa?"

"Karena sekarang Ibu ngantuk."

Shaka menunduk ke perut Dhiya. "Dengar tuh. Ibu ngantuk. Besok kita lanjut rapat."

Dhiya memejamkan mata. Hujan masih turun di luar, membuat kaca jendela buram dan lampu gedung seberang tampak seperti bintik-bintik kuning yang jauh. Jakarta tetap ramai di bawah sana, tetap penuh klakson, macet, dan orang-orang yang bergerak mengejar hidup masing-masing. Namun di kamar kecil mereka, dunia Dhiya mengecil menjadi napas Shaka di belakang telinganya, tangan hangat di perutnya, dan gerakan kecil Arsa yang makin lama makin tenang.

Sebelum tidur menariknya sepenuhnya, Dhiya sempat berpikir bahwa suatu hari nanti, setelah Arsa lahir, rumah ini mungkin akan berubah total. Karpet bulu putih kesayangannya mungkin digulung. Playmat warna-warni mungkin memenuhi ruang tengah. Botol susu mungkin berjejer di dapur. Cucian mungkin menumpuk. Shaka mungkin lupa mengganti galon dan membuat krisis tengah malam. Dhiya mungkin berdiri di depan cermin dengan mata panda, rambut berantakan, dan kaus Shaka yang kena gumoh, bertanya-tanya ke mana perginya Dhiya yang dulu.

Tapi malam ini, sebelum semua chaos itu datang, Dhiya sudah tahu satu hal.

Kalau nanti ia merasa tenggelam di bathtub, di kamar tidur, di ruang tengah yang berantakan, atau di kepalanya sendiri—Shaka akan datang.

Mungkin membawa mangga yang salah dulu sebelum akhirnya benar.

Mungkin membawa keripik.

Mungkin lupa roti.

Mungkin dengan muka melas yang jeleknya minta ampun.

Tapi ia akan datang, mengetuk pelan, lalu berkata,

"Mau berteman sama Baby, please."

Dan Dhiya akan mengerti.

Itu bukan cuma tentang Shaka dan Arsa.

Itu cara Shaka bilang: aku tahu kamu berat, aku tahu kamu takut, aku tahu kamu masih kamu. Itu cara Shaka meminta izin untuk menemani.

Dan untuk malam itu, dengan tubuh lelah, mata sembap, punggung yang masih sedikit nyeri, serta suami konyol yang memeluknya dari belakang seperti satpam keluarga paling berisik sedunia, Dhiya akhirnya percaya bahwa mungkin ia tidak sedang hilang.

Mungkin ia hanya sedang menjadi lebih banyak.

Menjadi Dhiya.

Menjadi Ibu.

Menjadi rumah pertama Arsa.

Dan tetap menjadi orang yang setiap kali ingin menangis di bathtub, akan dicari Shaka dengan alasan paling aneh tapi paling manis yang pernah ia dengar.

Notes:

HELOOWWW kembali lagi bersama pasangan muda clueless kita ini! ngelihat tweet ini samalam aku jadi kepikiran Shaka-Dhiya.. karena suami kakaknya sangatlah Shaka coded😭 dan lahirlah tulisan ini hohoho

Series this work belongs to: