Work Text:
Yuji tidak tahu harus berbuat apa selain merapikan kamar kosnya.
Bukan karena ruangannya terlalu berantakan—meski kaus bekas pakai dan tumpukan buku diktat memang berserakan di ujung ranjang—melainkan karena ia butuh pelampiasan fisik. Tangannya harus terus bergerak.
Yuji memunguti pakaian, melipat seprai yang sebenarnya tidak kusut, lalu mencabut kabel pengisi daya yang menjuntai di dinding. Ia melakukan semua itu semata-mata agar pikirannya tidak melulu terpaku pada sebaris pesan singkat yang masuk ke ponselnya setengah jam lalu.
Apa boleh saya menginap dulu sementara di kos kamu?
Layar ponsel itu sudah lama menggelap, namun sebaris pertanyaan tersebut masih tercetak jelas di benak Yuji.
Seumur ia mengenal Hiromi, Yuji paham betul seberapa berat bobot di balik permintaan itu. Hiromi bukanlah tipe manusia yang sudi menengadahkan tangan jika dunianya masih sanggup ia topang. Pria itu, dengan segala kebanggaan dan kemandiriannya, tidak akan pernah meminta ruang bernaung di tempat orang lain kalau ia belum benar-benar terusir dari kewarasannya.
Selesai membereskan tempat tidur dan ruang tengah, Yuji berjalan ke kamar mandi, merapikan barang-barang yang ada di sana. Tepat ketika Yuji sedang membariskan botol sampo di rak kecil dekat kamar mandi, pendengarannya menangkap suara dari balik pintu kayu kamarnya. Tiga ketukan pelan. Tidak terburu-buru, namun terdengar sangat berat.
Yuji menghela napas, mengusap telapak tangannya yang mendadak dingin ke sisi celana, lalu memutar kenop pintu.
Di lorong luar yang diterangi lampu temaram kuning, Hiromi berdiri mematung.
Udara malam Jakarta yang lengket dan gerah—khas ibu kota yang selalu menyisakan sisa polusi dan panas aspal—seolah tidak menyentuh pria itu sama sekali. Alih-alih berkeringat, wajah Hiromi tampak sepucat kertas. Kemeja kerjanya yang biasanya disetrika tanpa celah kini kusut di bagian lengan, dan dasinya sudah dilonggarkan secara asal. Bahunya yang biasa tegak saat memimpin rapat kini merosot turun, seakan gravitasi lorong kosan ini sedang menariknya dua kali lipat lebih kuat.
"Masuk, Mas," ujar Yuji pelan. Ia menarik pintunya lebih lebar, memberi jalan.
Hiromi melangkah masuk tanpa suara. Yuji langsung mengambil alih dua tas kain dari cengkeraman tangan pria itu. Terdengar bunyi gemerisik plastik saat Yuji melongok sekilas ke dalamnya—ada dua gelas plastik berisi kopi dan matcha latte dari kafe ternama, seporsi dimsum kukus, dan sekotak salad.
Yuji menutup pintu dengan kaki, lalu menghela napas tipis. Ia tahu Hiromi membelinya bukan karena lapar. Menenteng makanan ini hanyalah refleks ego seorang Hiromi; sebuah cara konyol agar ia tidak merasa seperti parasit yang datang menumpang dengan tangan kosong.
Yuji berjalan menuju meja makan kecil di ujung kamar, mengeluarkan isi tas itu satu per satu. Ia sengaja membelakangi tamunya, membiarkan bunyi kemasan plastik dan denting es batu yang mencair mengisi ruangan, sekadar untuk memberi Hiromi ruang bernapas.
Dari celah jendela di atas meja, sayup-sayup terdengar deru knalpot motor membelah jalanan dari kejauhan, sangat kontras dengan kesunyian pekat yang mulai mencekik di dalam kamar ini.
Saat Yuji menoleh, Hiromi belum beranjak seinci pun dari dekat pintu. Pria itu berdiri kaku, matanya menatap kosong ke arah ujung sepatu pantofelnya sendiri. Ia terlihat seperti orang yang tiba-tiba lupa cara bernapas.
"Mas Hiromi tidak mau mandi lebih dulu?" tanya Yuji. Ia sengaja merendahkan nada suaranya, berucap selembut mungkin. "Biar segeran. Sabun dan sampo pakai saja yang ada di rak. Handuk bersih ada di gantungan dalam kamar mandi."
Hiromi tidak langsung merespons. Butuh dua detik baginya untuk mengerjap, seolah jiwanya baru saja dipanggil kembali ke dalam tubuh. Ia mengangguk kaku.
Hiromi menyeret langkahnya lebih dalam memasuki kamar kos Yuji. Selesai melepas sepatu pantofel di teras dekat pintu masuk, ia meletakkan dua tas dan jasnya ke lantai samping ranjang. Ia meraih tas berisi barang pribadinya, kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Tak lama, bunyi decit keran diputar disusul oleh suara kucuran air yang deras.
Yuji menggunakan waktu itu untuk membuka laci lemari plastiknya. Ia membongkar tumpukan baju, mencari sepotong kaus lengan pendek abu-abu dan celana olahraga yang masih lumayan baru. Pakaian itu jarang sekali Yuji sentuh karena ia salah menebak ukuran saat membeli. Kaus yang seharusnya ukuran medium itu justru setara dengan ukuran extra large, terlalu kedodoran untuk tubuh Yuji yang tidak terlalu besar. Ia merapikan lipatannya, lalu meletakkannya di atas keranjang cucian di luar kamar mandi.
Setelah semuanya siap, Yuji menarik salah satu kursi dari meja makan. Ia duduk, membuka tutup gelas matcha latte yang dibawakan Hiromi, dan mulai menunggu.
Waktu merangkak dengan sangat, sangat pelan.
Tetesan embun dari dinding gelas plastik mengalir turun, membasahi permukaan meja kayu. Sepuluh menit berlalu. Lalu lima belas menit. Dua puluh menit.
Suara kucuran air dari dalam sana tak kunjung berhenti. Sesekali air itu mati selama beberapa detik, lalu mengalir menderas lagi.
Yuji menumpu dagu dengan punggung tangannya. Ia tahu, orang di dalam sana tidak sedang benar-benar membersihkan diri. Hiromi mungkin hanya berdiri mematung di bawah pancuran dingin, membiarkan air mengguyur kepalanya berulang-ulang untuk menenggelamkan suara-suara berisik di dalam otaknya. Yuji tidak mengetuk pintu untuk menyuruhnya cepat. Ia membiarkan pria itu mengambil waktu sebanyak apa pun yang ia butuhkan. Yuji hanya diam, mendengarkan dengung monoton dari mesin pendingin ruangan di atasnya.
Ketika kenop pintu akhirnya berbunyi klik dan Hiromi melangkah keluar, aroma sabun mandi Yuji langsung menguar di udara.
Hiromi telah mengenakan pakaian yang Yuji siapkan. Yuji sempat mengira kaus dan celana itu akan terlihat longgar, tapi ternyata ia keliru. Kaus abu-abu yang biasanya menenggelamkan tubuh Yuji itu ternyata membingkai pas di tubuh Hiromi. Kain kaus lengan pendek itu merengkuh pas di dada bidang pria tersebut, menonjolkan postur tubuhnya yang tegap, dengan lengan-lengan yang sedikit berotot.
Meski proporsi fisiknya begitu solid dan kuat, anehnya malam ini, hal itu tidak membuatnya terlihat mendominasi. Tanpa setelan jas formal dan dengan rambut basah yang jatuh menutupi dahi, aura intimidasi yang biasa ia bawa di ruang sidang seolah menguap tak bersisa. Di mata Yuji, Hiromi saat ini tak lebih dari sekadar manusia biasa yang kehabisan tenaga.
Yuji menunjuk kursi plastik di hadapannya dengan dagu, mengisyaratkan Hiromi agar segera bergabung dengannya. "Duduk, Mas. Makan dulu."
Hiromi menurut tanpa penolakan. Ia menarik kursi itu dan duduk di seberang Yuji. Mereka membiarkan malam melarut dalam bisu. Hanya terdengar denting garpu plastik yang bergesekan dengan dasar wadah mika. Yuji menyuap dimsumnya perlahan, sementara ujung matanya diam-diam mengawasi Hiromi.
Pria itu sama sekali tidak makan. Ia hanya menusuk-nusuk selada di dalam kotak saladnya, membaliknya, lalu meletakkannya lagi. Gerakannya lambat, tanpa minat. Matanya memang tertuju pada sayuran di depannya, tapi Yuji tahu tatapan itu kosong. Pikirannya sedang mengembara entah ke mana, tersesat di suatu tempat yang menyakitkan.
Yuji membiarkan keheningan itu bertahan sedikit lebih lama lagi. Ia membiarkan bunyi jarum jam dinding berdetak puluhan kali, membiarkan udara di antara mereka terasa semakin berat, memberi jeda pada kecamuk di kepala pria itu. Ketika ia merasa Hiromi sudah menumpuk terlalu banyak sayuran di satu sisi kotak plastiknya, Yuji akhirnya meletakkan garpunya.
Ia menarik selembar tisu, mengusap bibirnya dengan pelan, membuang tisu itu ke keranjang sampah, lalu kembali menumpu dagunya, menatap lurus ke arah sisi wajah Hiromi.
"Mas, saya boleh tanya sesuatu?"
Pertanyaan itu meluncur dari bibir Yuji setenang air telaga. Tidak ada desakan. Tidak ada nada menuntut.
Tangan Hiromi yang sedang memegang garpu langsung terhenti di udara.
"Kenapa Mas tiba-tiba minta menginap di tempat saya?"
Pria itu menelan ludah. Perlahan, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meletakkan garpunya di atas meja. Selama beberapa detik yang terasa menyiksa, ia hanya diam. Ia menarik kedua tangannya jatuh ke pangkuan, lalu saling menautkan jari-jarinya erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Yuji tidak menyela. Ia membiarkan Hiromi berperang dengan kata-katanya sendiri.
"Mas Hiromi bukan tipe yang suka lari dari masalah," lanjut Yuji, menurunkan volume suaranya, mencoba menyusup ke balik dinding pertahanan Hiromi yang tebal. "Kalau Mas sampai mengetuk pintu kos saya selarut ini... pasti rasanya sudah terlalu berat untuk ditelan sendirian, kan?"
Bahu Hiromi bergetar halus. Pria itu menarik napas panjang melalui hidung, namun napas itu terdengar tersendat dan patah di ujungnya.
"Adik saya bikin ulah lagi," bisik Hiromi akhirnya.
Suaranya sangat pelan dan serak, seolah ada butiran pasir yang menggores pita suaranya.
"Saya dapat pesan dari ayah saya, beliau menyuruh saya untuk pulang. Malam ini juga. Ayah meminta saya untuk pasang badan, menutupi semua kekacauannya, supaya nama keluarga tidak hancur."
Yuji menahan napasnya. Dadanya mulai terasa nyeri, seakan ada batu yang menindihnya perlahan. Tapi ia tetap mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Sungguh lucu, ya," Hiromi memaksakan sebuah senyum. Namun tak ada lengkungan bahagia di sana. Senyum itu kosong, getir, dan luar biasa pucat. "Tiga puluh delapan tahun hidup... fungsi saya di rumah itu ternyata hanya jadi tukang sapu. Setiap kali adik saya memecahkan piring, saya yang selalu disuruh memungut pecahannya... agar kaki orang lain tidak berdarah."
Hiromi menundukkan kepalanya semakin dalam. Ia mengangkat kedua tangan, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Pertahanan yang selama ini ia bangun bata demi bata akhirnya mulai runtuh malam ini.
"Ayah selalu bilang, bahwa keluarga kami butuh integritas. Jadi sejak kecil saya dipaksa jadi sempurna, dibentuk sebagai tameng mereka. Semua ekspektasi dijejalkan ke pundak saya," suara Hiromi mulai terdengar putus asa, napasnya memburu. "Tapi anehnya... semua maaf, semua maklum, dan toleransi di rumah itu cuma berlaku untuk adik saya. Anak itu bisa bikin hancur apa saja semaunya, dan mereka akan selalu mencari cara menyelamatkannya. Lewat saya."
Yuji mengatupkan rahangnya keras-keras. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat dengan jelas luka menganga yang selama ini disembunyikan begitu rapi di balik setelan jas mahal dan gelar mentereng pria itu.
"Tapi saya tolak," lanjut Hiromi, suaranya kini menyusut, terdengar seperti embusan napas yang rapuh. "Untuk pertama kalinya seumur hidup... akhirnya saya bisa berkata 'tidak' pada sesuatu yang tidak saya sukai."
Hiromi menelan ludah dengan susah payah.
"Lalu, ayah saya… sangat emosi mendengarnya. Beliau berkata saya adalah pembangkang. Beliau memaki saya sebagai... anak durhaka yang egois. Tidak sayang pada keluarga."
Hiromi menoleh pelan. Ia menatap Yuji dengan sepasang mata yang pias, lelah, dan memerah. Tatapan itu menelanjangi segalanya. Yuji seolah mendengar jeritan tertahan dari seorang anak sulung yang seumur hidupnya tak pernah diizinkan menjadi sekadar manusia biasa.
"Padahal saya hanya lelah," suara Hiromi akhirnya retak di udara malam itu. Air mata tidak jatuh dari pelupuknya, namun keputusasaannya tumpah, membanjiri setiap sudut ruangan. "Sejak dulu, saya menunggu… menunggu—setidaknya—satu orang di rumah itu bertanya pada saya, 'Hiromi, apa kamu lelah?'."
Pria itu menunduk lagi, memandangi meja kayu di depannya dengan pandangan nanar.
"Tapi ternyata... di rumah saya sendiri, saya bahkan tidak diberi hak untuk sekadar merasa letih."
Keheningan yang menyusul terasa teramat pekat. Bising kendaraan di luar sana seakan lenyap tak bersisa, tergantikan oleh bunyi napas Hiromi yang berat dan tersendat. Pria itu meringkuk perlahan, kepalanya tertunduk dalam, bahunya melengkung turun seolah ada beban berton-ton yang baru saja menghancurkan tulang punggungnya.
Yuji tidak sanggup lagi hanya duduk diam melihatnya.
Tanpa sepatah kata pun, tanpa bertanya apakah ini boleh atau tidak, Yuji mendorong kursinya ke belakang. Bunyi decit kakinya beradu dengan lantai bergema ke penjuru kamar.
Ia bangkit, melangkah mendekati kursi Hiromi. Ia merengkuh pundak pria itu, menarik kepala Hiromi dengan lembut namun pasti untuk bersandar ke perutnya, lalu memeluknya erat.
Tubuh Hiromi mendadak menegang. Sangat kaku. Ia tampak terkejut oleh kehangatan fisik yang tiba-tiba melingkupi dirinya.
Namun perlahan, detik demi detik, seiring dengan usapan tangan Yuji yang konstan dan menenangkan di punggung belakangnya, seluruh ketegangan itu luruh. Hiromi tidak menangis terisak—ia sudah lupa bagaimana caranya menangis—namun ia memiringkan wajahnya, membenamkan keningnya semakin dalam ke lipatan kaus Yuji, dan melepaskan satu helaan napas yang teramat panjang.
Itu adalah sebuah rintihan tertahan selama puluhan tahun yang akhirnya menemukan tempat untuk berlabuh.
Kedua lengan Hiromi, yang semula kaku di sisi tubuh, terangkat dengan ragu. Perlahan, lengannya membalas pelukan itu. Ia mencengkeram kain kaus Yuji di bagian pinggang dengan sangat erat, buku-buku jarinya memutih, seakan pemuda yang sedang memeluknya ini adalah satu-satunya jangkar yang menahannya dari amukan badai di tengah kerasnya dunia.
"Terima kasih," gumam Hiromi redam di balik pelukan itu. Suaranya bergetar hebat menahan sesak. "Terima kasih sudah mendengarkan saya, Yuji."
Yuji tidak membalas dengan rangkaian kalimat penenang yang klise. Ia tahu Hiromi tidak butuh nasihat. Ia hanya mengeratkan rengkuhannya, menumpukan dagunya pelan di atas puncak kepala Hiromi, dan membiarkan kesunyian malam Jakarta menjaga mereka. Ia membiarkan kamar kos sempit ini menjadi ruang aman yang selama ini dirampas dari hidup Hiromi.
