Work Text:
Uap tipis menguar dari ujung corong teko di atas meja makan kecil. Iris karamel Yuji lekat menatap pusaran asap transparan itu, tidak benar-benar melihatnya.
Empat puluh menit. Ia sudah menjerang air empat puluh menit yang lalu. Dan dalam empat puluh menit itu, satu kata terus berputar di kepalanya tanpa jeda.
Bodoh.
Bukan pertanyaan. Lebih tepatnya adalah hujatan diam-diam untuk dirinya sendiri.
Yuji Itadori punya satu prinsip yang tidak pernah ia kompromikan sejak ia cukup dewasa untuk mengerti konsekuensinya: jangan pernah menaruh perasaan pada orang yang sudah punya pasangan. Bukan karena ia takut disakiti. Melainkan karena ia tahu betul rasa sakit seperti apa yang ditinggalkan oleh orang-orang yang meremehkan batasan itu. Ia tidak ingin menjadi bagian dari rantai kesakitan yang sama.
Namun, sekarang ia duduk di sini. Dengan dua cangkir kosong berdiri tegak di atas meja, kepulan uap dari teh di dalam teko yang semakin menipis, dan satu kesadaran yang tidak bisa lagi ia hindari: ia sudah melakukannya juga.
Tanpa sengaja. Tanpa sadar. Tapi terjadi.
Dan yang paling menyakitkan bukan kenyataan bahwa ia jatuh cinta. Melainkan kenyataan bahwa ia merasa begitu bodoh pada dirinya sendiri, pada perasaannya, pada setiap momen kecil yang tanpa ia sadari sudah ia izinkan masuk terlalu dalam.
Sebenci apa pun perasaannya malam ini, etika dasar menerima kedatangan seseorang pantang ia abaikan. Maka dua cangkir itu tetap ia biarkan berdiri tegak.
Tiga ketukan tegas di pintu membuyarkan fokusnya. Yuji beranjak lambat. Begitu engsel pintu berderit terbuka, sosok Hiromi berdiri di baliknya. Tidak ada jejak peluh di pelipis pria itu, kontras dengan udara malam Jakarta yang terasa pengap. Jas kerjanya tersampir rapi di lengan kanan, sementara tangan kirinya menggenggam tas laptop usang yang seolah menjadi ekstensi tubuhnya.
Namun, atensi Yuji seketika tertuju pada satu hal: simpul dasi yang merosot beberapa sentimeter dari kerah kemeja yang lengannya telah digulung hingga siku.
Sebuah pemandangan familier. Selama menjadi staf pria itu, Yuji tanpa sadar menimbun perbendaharaan observasi yang sama sekali tidak tertulis di dalam kontrak kerjanya. Dasi yang melonggar adalah sebuah pertanda bahwa badai tengah mengamuk di kepala sang pengacara. Sama halnya dengan kebiasaan Hiromi mengusap wajah dengan kasar saat menemui jalan buntu dalam pembuktian perkara, atau lirikan berulang ke arah jam tangan di ruang sidang saat pembacaan putusan majelis hakim terlalu bertele-tele. Yuji merutuki ingatannya sendiri. Ia merasa kalah karena otaknya dengan lancang menyimpan detail-detail kecil yang tidak memberi keuntungan apa pun bagi lintasan kariernya.
Terutama untuk hatinya.
"Masuk, Mas—" Lidah Yuji terpeleset, buru-buru ia menelan sisa kalimatnya. "Masuk, Pak."
Yuji mundur selangkah, memberi ruang. Begitu sepatu pantofel Hiromi tertinggal di lantai teras dan pria itu melangkah masuk, Yuji memutar kunci pintu. Klik. Bunyi pelan itu seolah menegaskan batas di antara mereka berdua. Yuji menunjuk meja di sudut ruangan dengan gerakan dagu. "Duduk."
Tanpa repot-repot menarik kursi untuk tamunya, Yuji mengambil posisi di sisi kanan dan menghempaskan tubuhnya. Hiromi menurut tanpa bantahan, menarik kursi di seberangnya dalam diam. Begitu pria yang lebih tua itu menyandarkan punggung, Yuji meraih gagang teko. Aliran teh kecokelatan memecah keheningan, mengisi cangkir kecil yang mengarah tepat di hadapan Hiromi.
Lipatan halus muncul di dahi Hiromi. Matanya bergerak dari cangkir yang mengepul ke wajah pemuda di depannya. "Kamu... masih menyeduh teh untuk saya?"
Yuji meletakkan teko itu ke atas meja. Bunyi derit lapisan stainless steel dan kayu yang beradu terdengar cukup menyentak. Tatapannya lurus, dingin. "Kemarahan personal saya tidak ada urusannya dengan adab, Pak. Marah bukan berarti saya berhak memperlakukan tamu seenaknya."
Hening lekas mengambil alih.
"Saya tidak akan bertele-tele." Suara berat Hiromi memecah senyap. Pria itu menunduk sejenak, menggeser tas laptopnya ke sela kaki kursi. Gerakannya pelan, seolah tengah merapikan sisa-sisa keberanian. "Perempuan yang kamu lihat di lobi tadi... dia mantan pacar saya."
Yuji memperhatikannya tanpa bersuara. Menunggu.
Mantan.
"Hubungan kami sudah berakhir sekitar tiga tahun lalu," lanjut Hiromi, sebelum Yuji sempat sepenuhnya mencerna kata itu. "Bukan perpisahan yang baik-baik saja. Tapi lembaran itu sudah lama ditutup. Pertemuan tadi murni urusan kerjaan. Ada dokumen yang perlu ia tanda tangani terkait sengketa lama yang belum beres. Tidak lebih dari itu."
Simpul ketat yang sejak tadi mencekik dada Yuji perlahan terurai. Hanya salah paham. Sebuah helaan napas terlepas begitu saja dari bibirnya, namun kelegaan itu seketika berbalik menjadi rasa pahit di pangkal lidah. Perutnya melilit oleh rasa muak yang tiba-tiba menyergap. Ia merutuki kepalan tangannya yang melemas, merutuki betapa murahan perasaannya yang mendadak lega karena sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar ada dalam genggamannya.
Jadi bukan pasangan. Jadi ia sudah merasa bodoh selama berjam-jam untuk sesuatu yang ternyata—
"Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan." Hiromi membuka mulutnya lagi.
"Kalau memang sudah selesai, berarti tidak ada yang perlu dibahas lebih lanjut." Yuji memotong, lebih cepat dari yang ia rencanakan. Ia meraih cangkirnya sendiri. "Saya terima penjelasan Bapak."
Hiromi terdiam. Matanya tidak beranjak dari wajah Yuji. Tatapan pria itu terlalu awas, seperti sedang mencari celah di balik pernyataan yang baru saja diutarakan lawan bicaranya.
"Kamu terima begitu saja?" tanya Hiromi, perlahan.
"Ya."
"Kamu yang bilang kalau saya punya banyak hal untuk dijelaskan."
Jari-jari Yuji mengepal di bawah meja.
"Dan saya sudah menerima penjelasan Bapak tentang perempuan itu." Yuji berusaha menjaga intonasi suaranya tetap datar. "Kalau memang itu yang membuat Bapak merasa perlu datang ke sini malam-malam, maka urusan kita selesai."
Hiromi tidak langsung merespons. Pria itu menyandarkan punggung, mengamati Yuji dengan ekspresi yang sulit dibaca, campuran antara frustrasi dan sesuatu yang tampak seperti getir.
"Saya tidak datang ke sini hanya untuk menjelaskan soal mantan saya," kata Hiromi akhirnya. Nada suaranya turun, lebih dalam. "Ada hal lain."
"Kalau soal pekerjaan, bisa besok, Pak." Yuji tidak menatapnya.
"Bukan soal pekerjaan."
Hening. Mendadak jarum jam dinding terasa berdetak terlalu keras untuk ruangan sekecil ini.
Yuji akhirnya mendongak. Dan begitu ia mempertemukan pandangannya dengan Hiromi, ada sesuatu di tatapan pria itu yang membuat tenggorokannya menegang. Bukan ekspresi yang biasa ia temukan di balik meja persidangan. Bukan juga ekspresi yang biasa ia temukan di rapat firma. Ini adalah Hiromi yang—untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun bekerja bersama—terlihat tidak tahu harus mulai dari mana. Jari-jari pria itu bergerak gelisah di atas meja, tanpa arah, sebelum berhenti begitu ia sadar Yuji memperhatikan.
"Baik," balas Yuji, pelan. "Saya dengarkan."
Tangan kanan Hiromi bergerak di atas meja. Sebuah gerakan setengah jadi, seolah hendak menjangkau sesuatu, sebelum pria itu mengurungkannya dan meletakkan tangannya kembali dengan rapi.
Yuji pura-pura tidak melihat.
"Saya capek," kata Hiromi.
Yuji diam, menunggu.
"Capek lari dari perasaan saya sendiri." Hiromi menghela napas, memandang ke permukaan cangkirnya. "Saya sudah mencoba tidak memikirkannya. Sudah mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanya karena kita terlalu sering bekerja berdampingan, bahwa ini akan hilang sendiri kalau saya cukup sibuk."
Jeda.
"Tapi ternyata tidak juga hilang."
Yuji menahan napas tanpa disadarinya.
"Dan selama itu—" Hiromi berhenti di tengah kalimat. Rahangnya mengeras sejenak. "Selama itu, saya berlindung di balik satu kalimat."
Tatapan Hiromi tidak goyah sedikit pun.
"Kamu itu junior saya."
Yuji tidak bergerak. Ia tidak bereaksi.
"Setiap kali saya mulai sadar bahwa perasaan saya sudah melampaui batas yang seharusnya, saya gunakan kalimat itu sebagai tameng." Nada suara Hiromi lebih rendah, seolah kalimat itu lebih ditujukan untuk dirinya sendiri daripada untuk Yuji. "Saya bilang ke diri saya: kamu pengacara, dia junior kamu, kalian harus jaga jarak. Lalu saya mundur. Lalu saya beri kita jarak. Dan kamu—" Ia berhenti lagi. "Kamu pasti merasakannya."
"Tarik-ulur," sela Yuji datar.
"Iya." Hiromi tidak mengelak. "Karena saya pengecut. Karena saya tahu betul kalau saya berhenti berlindung di balik kata itu, saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya sudah—" Ia kembali menjeda. Lebih lama dari yang sebelumnya. "Sudah setengah gila jatuh cinta sama kamu. Sejak lama. Lebih lama dari yang saya berani akui, bahkan pada diri saya sendiri."
Ruangan itu terasa seperti menyempit.
"Tadi malam, sewaktu kamu membaca pesan saya tapi tidak kunjung membalas," Hiromi mengusap rahangnya sekali, dengan gerakan yang Yuji hafal betul sebagai tanda orang itu sedang memilih kata dengan sangat hati-hati. Yuji baru sadar betapa dekat jarak mereka duduk—cukup dekat sampai ia bisa mencium samar aroma parfum Hiromi bercampur AC ruangan yang sudah lama mati. "Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah saya miliki. Dan waktu kamu akhirnya mau bicara tapi hanya sebatas kerjaan..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Napas Yuji tercekat di tenggorokan.
"Saya jatuh cinta sama kamu, Yuji." Enam kata. Diucapkan dengan nada lirih, tanpa bertele-tele, langsung menuju inti pembicaraan oleh seseorang yang—akhirnya—memutuskan untuk berhenti menyangkal, melucuti pertahanannya sendiri, dan membiarkan perasaannya terbuka di hadapan Yuji. "Dan saya sudah terlalu lama menjadi pengecut untuk menghindari kenyataan itu."
Untuk beberapa detik, waktu seakan-akan berhenti berputar. Yuji menggigit dinding pipi bagian dalamnya, mencoba mencari celah kebohongan di sepasang mata Hiromi. Ia tidak menemukan apa pun selain kejujuran yang diutarakan sangat gamblang, sekaligus kelelahan dari seseorang yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu sendirian.
"Terus... apa yang saya lihat di lobi tadi?" Suara Yuji terdengar jauh lebih pelan dari yang ia rencanakan.
Helaan napas meluncur dari hidung Hiromi. "Hak sepatu mantan saya tersandung celah ubin lobi yang tidak rata. Saya refleks memegang lengannya murni karena mencegah dia jatuh. Tidak lebih dari itu." Ia menatap Yuji lurus. "Saya bersumpah. Kamu boleh potong lidah saya kalau saya terbukti berbohong."
Sebuah dengusan pendek menyelinap keluar dari hidung Yuji. Pertahanan sedingin es yang ia bangun susah payah sejak tadi perlahan retak.
"Bapak ini pengacara," balas Yuji. Suaranya masih sedikit bergetar, meski ia berusaha membalutnya dengan nada sinis. "Jangan sembarangan membuat kontrak lisan. Kalau suatu saat Bapak ketahuan wanprestasi dan saya benar-benar menuntut klaim potong lidah itu di pengadilan, Bapak mau menanggungnya?"
Hiromi tertegun sejenak. Namun sedetik kemudian, tawa rendah yang renyah mengalun dari dadanya. Udara di dalam ruangan yang tadinya sesak oleh ketegangan berangsur-angsur mengendur.
"Kalau pihak penggugatnya itu kamu, saya rela kalah putusan," sahut Hiromi tenang.
Gurauan itu seharusnya melegakan. Namun begitu gema tawa Hiromi mereda, realita justru kembali menghantam dada Yuji dengan telak.
Perlahan, iris karamelnya turun. Menatap pantulan dirinya di permukaan meja kayu kosnya yang sudah memudar peliturnya. Lalu beralih ke kemeja dengan potongan rapi di badan Hiromi. Bahan yang berbeda kelas dengan kaus yang sering Yuji pakai ke kantor karena belum punya cukup koleksi kemeja formal. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan sang atasan. Tas laptop yang usang, tapi tetap tampak lebih mahal dari seluruh isi lemari pakaian Yuji.
Founding partner. H&P Law Firm.
Nama Hiromi ada di papan nama kantor itu. Tidak hanya sebagai dekorasi, namun merupakan sebuah bagian dari sejarah panjang firma yang ia bangun.
Dan Yuji?
Yuji adalah junior associate yang bahkan belum diperbolehkan menandatangani dokumen hukum atas namanya sendiri. Yang masih mengumpulkan jam terbang magang, hari demi hari, karena ia tahu tanpa jam terbang yang cukup, ia tidak bisa mengikuti Ujian Profesi Advokat, ujian yang akan menentukan apakah ia berhak berdiri di ruang sidang sebagai pengacara, bukan sekadar asisten yang mencatat dan mengangguk. Yang belum punya satu klien pun atas namanya sendiri, karena memang belum diizinkan.
Jurang perbedaan itu—yang selama ini berhasil ia abaikan dalam kesibukan harian—tiba-tiba menjadi sangat nyata. Sangat lebar. Seakan-akan terlalu mustahil untuk digapai.
"Pak..." Yuji memanggil pelan. Jemarinya diam-diam meremas ujung kausnya di bawah meja. "Kenapa... harus saya?"
Hiromi meletakkan cangkirnya perlahan. "Maksud kamu?"
"Bapak sudah mapan." Kata-kata itu mulai keluar sebelum Yuji sempat menyaringnya. "Bapak adalah founding partner. Nama Bapak ada di papan nama kantor. Sementara saya?" Tenggorokannya mengering. "Saya masih magang, Pak. Belum boleh pegang klien sendiri. Masih mengumpulkan jam terbang supaya bisa ikut Ujian Profesi Advokat. Ujian yang bahkan belum tentu saya lolos." Ia menelan ludah. "Kita beda level. Jauh. Dan tiba-tiba Bapak datang ke sini dan bilang hal seperti tadi, rasanya saya—"
Suaranya terputus. Bukan karena tidak punya kata-kata, melainkan karena kata-kata yang sesungguhnya ingin ia ucapkan terasa terlalu berat untuk diutarakan.
"Saya takut, Pak." Kalimat itu akhirnya lolos juga. Pelan, hampir berbisik. "Saya merasa tidak pantas. Dan itu menyakitkan. Karena bagian lain dari saya ingin—"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Hiromi tidak langsung memberikan reaksi. Pria itu tidak membantah. Tidak menyela. Tidak melontarkan kalimat-kalimat penenang yang mungkin akan membuat Yuji muak.
Ia hanya diam, membiarkan Yuji menyelesaikan kecamuknya sendiri.
Kemudian, tanpa terburu-buru, Hiromi menggeser maju kursinya. Menumpukan kedua lengannya di atas meja. Mengeliminasi jarak sejauh yang meja kecil itu izinkan.
"Yuji." Intonasinya serius, tapi berbeda dari nada lugas yang biasa digunakannya saat berbicara di ruang sidang. Kali ini lebih lembut. Lebih sabar. Seperti suara yang biasa Yuji dengar ketika Hiromi sedang menjelaskan sesuatu yang penting. Tidak menuntut, tapi memastikan lawan bicaranya benar-benar mengerti. "Saya mau kamu dengarkan saya."
Yuji tidak menjawab, tapi juga tidak membuang muka.
"Saya tidak sedang mencari—" Hiromi memutus ucapannya sendiri. Rahangnya mengeras sebentar, seolah menyadari kata-katanya terasa keliru. Ia menarik napas, mencoba lagi. "Maksud saya, saya tidak sedang mencari rekan merger. Bukan mencari seseorang yang CV-nya sebanding dengan saya. Itu—" Ia menggeleng pelan, mencoba membuang sisa-sisa diksi-diksi berat dan formal yang biasa digunakannya. "Itu bukan cara yang tepat untuk menjelaskannya."
Yuji menunggu. Buku-buku jari Hiromi mengetuk pelan meja kayu itu, dua kali, sebelum benar-benar diam.
"Kamu tahu siapa yang pertama kali mengingatkan saya makan siang waktu saya lupa karena sidang?" Suaranya merendah. "Yang dengan tenang—kadang dengan omelan—bilang ke saya bahwa saya manusia, bukan mesin?"
Yuji mengenal jawabannya, namun tenggorokannya terkunci.
"Kamu tahu siapa yang pernah bilang ke saya, waktu saya hampir kalap mengejar satu kasus yang sebenarnya sudah tidak sepadan secara energi—" Hiromi memejamkan mata sesaat. Kedua alisnya sedikit menyatu, memunculkan lipatan tipis pada dahinya. "'Pak, menang di pengadilan tidak selalu berarti Anda benar.' Itu kamu, Yuji." Kemudian, Hiromi membuka mata. Ia tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah Yuji. "Kamu yang selama ini jadi pijakan saya. Waktu kepala saya terlalu penuh untuk berpikir jernih."
Sesuatu di balik tulang rusuk Yuji bergerak tanpa izin.
"Kamu bicara soal jam terbang. Soal ujian profesi. Soal lisensi yang belum kamu punya." Hiromi memberi jeda. Matanya turun sejenak ke meja, lalu kembali mengunci pandangan Yuji. "Itu semua nyata. Saya tidak akan pura-pura jarak itu tidak pernah ada. Tapi, Yuji—" Ia terdiam, jakunnya bergerak naik-turun menahan sesuatu. "Setiap orang yang sekarang punya lisensi, pernah melalui fase yang kamu jalani. Setiap founding partner—termasuk saya—pernah jadi magang yang tidak boleh pegang klien sendiri. Yang beda cuma... waktu. Bukan nilai."
Tangan kanan Hiromi bergerak perlahan melintasi meja, berhenti persis di sebelah kepalan tangan Yuji yang masih kaku. Ia tidak langsung menyentuhnya. Untuk beberapa saat, tangannya hanya berdiam di sana, seolah memberi Yuji celah untuk menarik diri. Namun, saat pemuda itu bergeming, ibu jari Hiromi bergerak menyentuh pelan buku-buku jarinya.
"Jadi jangan jadikan itu alasan untuk menyimpulkan bahwa kamu tidak pantas." Ibu jarinya membelai lembut buku-buku jari Yuji, satu kali. "Kamu sedang dalam proses. Dan proses itu tidak membuat kamu kurang dari siapa pun."
"Rasa takut yang kamu rasakan itu wajar." Suaranya turun lagi, kini nyaris menyerupai bisikan yang hanya diperuntukkan bagi mereka berdua. "Sangat manusiawi. Tapi jangan biarkan rasa takut itu yang mengambil keputusan untuk kamu. Atas nama ketidakpantasan yang—" Ia berhenti sekali lagi, cukup lama sampai Yuji nyaris menyela sebelum Hiromi menyelesaikan kalimatnya, "—yang kamu bayangkan sendiri."
Kedua tangan Hiromi ditangkupkan ke wajahnya, menutupi hidung hingga bibir. Dari sela jarinya, Yuji mendengar embusan napas yang bergetar, jauh dari suara tenang yang biasa dijaga Hiromi, bahkan di depan majelis hakim paling ketus sekalipun. Untuk sesaat, Yuji pikir pria itu akan berhenti bicara sama sekali, menelan kembali semua yang sudah susah payah ia utarakan malam ini.
Tapi tangan itu akhirnya turun.
Matanya tampak lelah. Lelah yang belum pernah Yuji temukan di wajah itu. Namun ia tidak memalingkan pandangan. Justru mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, seolah memaksa dirinya sendiri tetap di sana, tetap membiarkan Yuji melihatnya seperti ini.
"Saya tidak minta kamu untuk menjawabnya sekarang." Ia menundukkan kepala sejenak, lalu kembali mendongak. Sepasang mata gelapnya menatap Yuji lama, tanpa berkedip. "Ini… terlalu banyak. Untuk satu malam."
"Tapi saya di sini," pungkas Hiromi. "Saya akan menunggu."
Semua argumen di ujung lidah Yuji menguap tanpa sisa. Ia menelan ludah, berusaha mengurai rentetan kalimat Hiromi, sementara matanya tidak bisa lepas dari tangan pria itu. Telapak tangan sang atasan—yang biasanya begitu tegas membolak-balik lembar dokumen—kini bersandar tenang di atas punggung tangannya. Tidak merengkuh, tidak juga menuntut balasan.
Buku-buku jari Yuji sedikit gemetar.
Yuji belum memiliki keberanian untuk membalikkan telapak tangan dan menautkan jemari mereka malam ini. Semuanya masih terlalu rumit untuk dicerna. Namun, Yuji sama sekali tidak memundurkan lengannya. Ia membiarkan kehangatan itu meresap ke kulitnya, membiarkan Hiromi bertumpu di sana.
