Chapter Text
Shinyu sebagai kepala rumah tangga paling mantap satu dunia (ini klaim sepihak) punya satu peraturan di rumah kecilnya yang mutlak tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, termasuk suami cantik dan anak lanang sok jagoannya. Aturan itu bahkan sudah ada sebelum Kyungmin resmi diadopsi menjadi anak satu-satunya di keluarga kecil Shinyu. Hari pertama Kyungmin menapakkan kaki di teras rumah Shinyu dan Youngjae, ayah barunya itu sudah merangkulnya akrab sambil berujar santai.
“Gampang kok kalau gak mau Ayah depak dari rumah ini. Pokoknya malam minggu tuh kamu harus ngosongin waktu buat family time. Absen sehari kita langsung ke dukcapil ngurus penghapusan nama kamu dari kartu keluarga Ayah.”
Kyungmin jadi bingung harus bersyukur atau tidak atas status ‘jomblo terakhir putus sama tali pusar’ miliknya sebab hal itu jelas membuatnya tak perlu repot-repot membujuk sang pacar supaya agenda malam minggu mereka diadakan via zoom meeting saja.
Sudah lewat lima tahun sejak ia pertama kali diadopsi dan berani ia katakan bahwa dirinya pantas masuk nominasi anak paling beruntung di dunia versi On The Spot. Ia punya Papa yang memiliki paras paling menawan satu Indonesia (bukan sedunia, di negara lain masih ada Enami Asa yang menurutnya sedikit lebih cantik dari Papa). Namun jelas kalau mau adu kebaikan dan kelembutan hati, sang Papa konstan jadi juara pertama satu galaksi. Papanya itu ibarat tameng bagi Kyungmin. Dengan tatapan tajam dari Youngjae saja, Shinyu langsung mengurungkan niatnya untuk mengusili Kyungmin.
Namun Kyungmin tidak pernah menyangka bahwa aturan yang dibuat Shinyu bakal dilanggar oleh Shinyu sendiri. Malam ini ruang keluarga kosong, padahal sudah lima belas menit berlalu sejak waktu yang mereka janjikan. Biasanya sepuluh menit sebelum mulai, Shinyu sudah sibuk mengutak-atik remote televisi, mencari tontonan seru di platform streaming. Atau menyiapkan board game semisal Youngjae sedang tidak dalam mood untuk menonton film.
Kyungmin sudah setengah balik badan ketika ia mendengar suara Youngjae memanggil namanya dari anak tangga paling atas. Papanya menghampiri dirinya dan merangkul pinggangnya, menuntunnya untuk bersama-sama menaiki anak tangga.
“Ngumpulnya di kamar Papa aja ya, Dek. Ayahmu lagi demam. Ga kuat ke bawah.”
Kyungmin mengangguk-angguk. Ternyata itu alasannya.
Omong-omong, ini adalah kali pertama Kyungmin memasuki kamar Ayah dan Papanya. Tidak seluas yang Kyungmin kira selama ini, malah sedikit lebih sempit dari ukuran kamar miliknya yang hanya dihuni oleh satu orang. Aroma kamar ini menyenangkan, adalah wangi cendana padmasana yang sudah pasti merupakan pilihan Papanya.
Di atas kasur dengan ukuran king size itu, tampak Shinyu terbaring dengan mata yang sedikit terkatup. Tidak pernah Kyungmin melihat Ayahnya serapuh dan sediam ini. Ia iba sedikit, tapi keluarga kecil ini tidak mengenal apa itu kalimat manis penuh kasih sayang.
“Pantesan hari ini rumah damai banget. Ternyata perusuhnya lagi tumbang.” Ia berceletuk sambil menahan tawa.
Ayahnya mengerang kesal. “Liat aja kamu, Dek. Abis Ayah sembuh, kamu bakal Ayah iket di pohon mangganya Pak RT.”
Kyungmin langsung merapatkan tubuhnya ke Youngjae, mencari perlindungan. Sang Papa hanya geleng-geleng kepala heran. Adu congor antara Shinyu dan Kyungmin benar-benar tidak bisa bolong meski sehari. Kedamaian di rumah ini memang cuma mimpi belaka.
Saat Youngjae sudah duduk di samping kanan Shinyu, Kyungmin pun ikut mengambil tempat di sebelah Papanya. Malam ini giliran Kyungmin yang memilih tontonan dan pilihannya jatuh pada Howl's Moving Castle. Ia sedang antusias mengikuti karya-karya berbahasa Jepang sebagai upaya untuk menguasai bahasa tersebut.
Shinyu yang paling semangat bertanya ini-itu.
“Sou desu ne tuh artinya apa deh, Dek?”
“Itu ada subtitle, Kak.” Youngjae yang menjawab.
“Loh aku nanya Kyungmin, kok. Hayo kamu kegeeran ya? Kangen dipanggil adek sama aku ya? Utututu adek sayangnya kakak.”
Seluruh adegan menggelikan itu Kyungmin tonton lewat lirikan mata, jaga-jaga takut ketahuan oleh kedua orang tuanya. Papa itu orangnya gampang salah tingkah, apes banget jatuh cintanya malah sama si Ayah yang suka melempar rayu sampai si Papa merona malu. Digodain begitu, Youngjae yang semula duduk menempel pada sisi kanan Shinyu jadi membalikkan badan dengan bibir cemberut. Shinyu pantang berhenti secepat itu, malah makin menjadi-jadi tawanya. Ia kejar tubuh Youngjae yang menjauh dengan kedua tangannya lalu ia peluk seerat mungkin.
Kyungmin mengernyitkan kening ketika netranya menangkap senyum tertahan di bibir Papa. Apalah, kalau seneng dipeluk ga usah malu-malu gitu kali? Kerutan di dahinya makin dalam ketika Papanya merajuk, meminta sang Ayah untuk berhenti menggodanya setiap kali ia salah paham. Ayahnya masih tertawa sambil sesekali mengecup pundak kecintaannya, minta maaf berulang kali. Janji tidak akan mengulangi, katanya. Semua makhluk di kamar itu tahu kalau itu cuma bujukan Ayahnya supaya Papa tercinta berhenti merajuk.
Sinema fantasi romantis yang ditayangkan di televisi kamar Youngjae dan Shinyu berhasil mereka tonton hingga ending scene; Howl dan Sophie beradu bibir sambil mengakui perasaan masing-masing. Kedua orang tuanya serempak menutup mata Kyungmin, kiri dan kanan.
“Adegan dewasa. Masih kecil kamu. Belum boleh liat begituan.” Shinyu yang bilang, disetujui Youngjae dengan anggukan sebanyak tiga kali.
Halah. Terus menurut Ayah dan Papanya tuh Kyungmin dikasih tontonan sampingan apa selama hampir dua jam tadi? Kecup-kecup manja tadi bukan adegan dewasa, ya?
Kyungmin merengut. Dengan jengkel ia menunggu kedua tangan orang tuanya menyingkir dari matanya. Namun setelah ia menghitung waktu secara manual hingga 90 detik, tangan-tangan itu masih saja menutupi penglihatannya. Padahal suara dari televisi sudah tidak ada lagi, kemungkinan besar sedang menampilkan closing credits. Barulah belasan detik kemudian matanya diperbolehkan menangkap cahaya. Dalam penglihatan yang masih sedikit kabur, ia lihat sang Papa mengelap bibirnya berkali-kali. Tatapan tajam ia tujukan kepada suaminya yang sedang pura-pura tidur dengan senyum tertahan. Sama sekali tidak merasa bersalah.
"Ah kamu mah. Lagi sakit juga masih aja."
"Gara-gara filmnya ini. Kan jadi pengen juga. Hehe."
Wah. Kyungmin langsung geleng-geleng kepala. Serius? Di keadaan seperti ini? Sempat-sempatnya.
“Adek tidur di sini aja. Temenin Ayah biar cepet sembuh.”
Shinyu akhirnya buka suara, berhenti untuk berpura-pura terlelap. Kesadarannya sudah beberapa kali nyaris direnggut akibat kantuk serta sakit kepala yang menyerang. Tangannya menepuk-nepuk ruang kosong di sebelah kirinya, memberi isyarat pada Kyungmin untuk segera berbaring di sana.
“Kalau Ayah tidur ditemenin Papa dan Adek di kiri-kanan, besok pagi dijamin langsung sembuh dan sanggup menggantikan bapak presiden. Percaya deh!”
Tuh, kan. Shinyu suka ngelantur kalau kehendaknya cuma didengar lewat kuping kanan dan keluar di kuping kiri. Kyungmin menoleh pada Youngjae untuk meminta pendapat Papanya, berharap Papanya menyuruhnya untuk kembali ke kamarnya sendiri. Namun respon Papanya tidak seperti yang ia inginkan.
Sebab di atas cinta Ayahnya kepada Papa yang ditunjukkan lewat tingkah laku yang terkadang berlebihan dan bikin mual itu, masih jauh lebih tinggi tingkat rasa cinta sang manusia paling cantik satu Indonesia (menurut Kyungmin) dan paling sempurna satu dunia (menurut Shinyu) itu terhadap sang Ayah. Kyungmin tahu betul bahwa Papanya itu sibuk sekali mengurus Ayahnya sampai-sampai ia hanya memesan layanan pengantaran makanan untuk sarapan hingga makan malam mereka hari ini. Bukan permintaan Shinyu untuk menahan Youngjae agar berada di sisinya selalu, laki-laki itu sendiri yang memutuskan untuk menemani Shinyu sepanjang hari. Takut terjadi hal yang tidak-tidak kalau ia tinggal, katanya.
Maka saat Kyungmin mendapatkan anggukan tegas dari Youngjae, ia praktis tidak punya pilihan lain selain membaringkan badan di sebelah kiri Ayahnya. Shinyu tersenyum lebar, ia dekap anak semata wayangnya hingga dapat Kyungmin rasakan panas dari tubuh Ayahnya menembus ke dalam kaos tipis yang Kyungmin gunakan. Ah, ternyata sakit Ayahnya memang tidak dibuat-buat.
“Cepat sembuh, Ayah. Kalau gak sembuh nanti aku mau sawah sama kos-kosan delapan pintu punya Ayah jadi punyaku, ya.”
Youngjae terbahak mendengarnya. “Kalau aku ga muluk-muluk, deh. Mau ruko punyamu yang di dekat sekolahnya Kyungmin itu aja.” Ia ikut menimpali.
Shinyu makin nyut-nyutan. Bisa-bisanya ia punya keluarga yang matrenya gak ketolong begini.
