Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of klise
Stats:
Published:
2016-10-28
Completed:
2016-10-28
Words:
483
Chapters:
2/2
Comments:
2
Kudos:
27
Bookmarks:
2
Hits:
352

platonik

Summary:

Namun, jika linimasa senang mempermainkan waktu, maka Taehyung tak ragu bisa mengenal kebiasan pemuda itu.

Chapter Text

Jika Taehyung menghitung, ada sekiranya dua kali dalam seminggu dan delapan kali dalam satu bulan Jeon Jungkook menunjukkan batang hidungnya di pintu masuk toko buku tempatnya bekerja. Taehyung tidak mengenal, tidak pernah bertukar sapa, tidak juga memiliki hubungan khusus sebagai teman. Ia tidak benar-benar mengenal siapa sebenarnya Jeon Jungkook, tapi Taehyung mengetahuinya.

Jungkook, subjek yang seringkali dibicarakan di kampus, terlebih oleh gadis-gadis lajang. Jungkook, sepasang iris kelam tajam itu, dan seringai-seringai kecilnya dalam bentuk meremehkan.

Well, mungkin ini tidak sopan (dan demi Tuhan, Taehyung bahkan tidak pernah berbicara dengan pemuda itu), tapi dia memang pria yang brengsek. Terserah apa kata orang, Taehyung dan pendapatnya yang arogan.

Namun, jika linimasa senang mempermainkan waktu, maka Taehyung tak ragu bisa mengenal kebiasan pemuda itu.

Hari Senin adalah jam sastra; romansa, sastra klasik, sastra terjemahan, bahkan karya terkenal seperti William Shakespeare atau mungkin Nakamura Chuuya; yang Jungkook habiskan dalam waktu dua jam meski akhirnya tidak benar-benar membeli. Kamis untuk lima judul manga. One Piece adalah favoritnya, shoujo terlalu melankolis, dua judul asing yang belum pernah dibacanya, dan ia sering kali menyempatkan waktu untuk membaca karya dari seorang mangaka lama seperti Ono Eriko.

Suatu kali, Rabu dan Selasa menjadi jam berkunjung. Taehyung bisa menebak buku-buku non-fiksi seperti apa saja yang diambil Jungkook. Ia tahu Jungkook tidak suka membaca fisika kuantum, tetapi pemuda itu begitu tertarik mengenai kronologis Perang Dunia II selama Adolf Hitler berkuasa. Ada judul aneh tentang segitiga bermuda atau istilah-istilah sekte terlarang, dan Taehyung tak mengerti mengapa Jungkook bisa bertahan dengan bacaan seperti itu.

Taehyung pikir, Sabtu dijadikan hari istimewa. Karena dari setiap waktu senggang yang ada, eksistensinya jarang terlihat.

Ini adalah siklus yang biasa. Jeon Jungkook tiba pada pukul tiga sore, menghabiskan waktu hingga jarum menunjuk angka lima, berdiri di tempat yang sama; tidak jauh dari konter kasir dan jendela besar berlukis panorama luar; sehingga Taehyung tanpa sadar memerhatikan terlalu lama. Untung saja ia tidak ketahuan, mau taruh di mana mukanya nanti kalau Jungkook melihat?

Ketika Jungkook berhenti di konter kasir, mata mereka akan bertemu. Tak perlu memasang senyum lebar atau sok kenal, tipis saja, dan mereka tahu kalau dunia begitu sempit. Frekuensi pertemuan di kampus dapat dihitung jari, barangkali Jungkook mengetahuinya, dan Taehyung tidak keberatan akan hal itu.

“Pakai plastik atau langsung dibawa?” Itu adalah pertanyaan stereotipe, tetapi Jungkook tidak pernah protes. Taehyung juga sadar itu hanya sebagian kecil dari tuntutan pekerjaan.

Toh, pada akhirnya, tanpa bertanya pun Taehyung tahu jawaban Jungkook selalu sama.