Work Text:
Jungkook memilih untuk menelan keluh di ujung lipatan lidah ketika Taehyung nyaris meninggalkan luka bakar kecil di bagian sisi epidermis kelingkingnya dan cangkir yang oleng. Pekikan lolos, dan lirikan spontan pada likuid kental yang dengan lekas mengalir juga menetes kecil di akhir kelokan keramik putih kopi paginya. Jungkook mengangkat alis, maklum akan senyum Taehyung yang merekah malu.
“Ceroboh, sori,”
Sudut bibirnya diangkat tipis. “Kebiasaan.”
Taehyung nyengir, meletakkan cangkir putihnya yang belum lepas dari basah dan lengket di atas konter dapur, di hadapan Jungkook, seolah menanti barisan semut tiba ketika mencium aroma glukosa bercampur kafein.
“Aku akan mengambil lap, sebentar.”
Ia tak perlu balasan karena tanpa mendengar pun, Jungkook hanya perlu mengangguk samar, membiarkan cerkas-cerkas matanya jatuh di punggung Taehyung. Kemudian ia tersenyum, lalu diam-diam melirik segaris kulacino yang terbentuk hanya untuk menyisipkan kekeh geli sepelan mungkin.
Jungkook pikir, pagi harinya memang selalu berkisah seperti Taehyung.
