Work Text:
|
Jadi... ini gila.
Rasanya sangat bodoh karena aku harus duduk di sampingnya. Kuulangi, benar-benar DI SAMPINGNYA. Dan tidak, tidak, aku tidak gugup, oke? Geez! Oh, astaga, dear, yah apa pun itu, KENAPA AKU HARUS DUDUK DI SAMPING JEON JUNGKOOK?
Seharusnya aku turuti saja perkataan Jimin kalau besok—maksudku, tepatnya hari ini—sonsaengnim akan mengacak kembali susunan urutan bangku kelas. Dasar pria tua berkumis dan botak itu, AKU KAN JADI HARUS DUDUK DI SAMPING JEON JUNGKOOK!
Err... sebenarnya tidak ada masalah, sih. Sama sekali tidak ada masalah dengan si Jeon itu. Tapi—serius ini, tapi—kalau dia tidak menembakku (iya, oke, bukan tembak dengan pistol astaga) kemarin sore di depan kafe langganan sambil menyerahkan sepuluh balon, dan DI DEPAN SEMUA ORANG, termasuk warna putih dan toska dari balon-balon itu, aku... aku... YA TUHAN, BUKAN! AKU TIDAK MERONA!
Dan demi Tuhan, ini Jeon Jungkook! Bukannya aku bermaksud hiperbolis, ya.
Tapi Jeon Jungkook ini aktor dari segala aktor di sekolah. Dia pintar, keren, langganan surat cinta dan coklat valentine, tampan, keren, mungkin ramah terhadap semua orang, keren dan—
—ASTAGA, KENAPA BANYAK KATA
Oke, tenangkan dirimu Kim Taehyung. Mungkin kejadian kemarin sore itu hanya main-main agar aku bisa dipermalukan. Mungkin itu juga semacam tantangan untuk sebuah taruhan yang sering ada di drama-drama televisi. Kudengar Oh Sehun, si rival Jungkook itu, baru saja putus karena pacarnya lebih memilih Jungkook. How poor you are, dunia memang tidak pernah adil. Tapi mau bagaimana lagi, Jeon Jungkook itu memang ke—
—SUDAH HENTIKAN.
Ah, sial. Sebenarnya aku tidak ingin menulis ini dan Jimin pasti akan mentertawakanku. Ralat, dia pasti akan mengejekku habis-habisan.
Tapi, sial sial siaaaaaaaaal, tanganku seakan bergerak sendiri.
Jujur saja, aku gugup sekali.
Dan berdebar-debar.
Astaga.
Duduk di samping Jungkook tidak baik untuk kesehatan jantung.
Dear, siapa pun tolong aku. Jangan berpikir kalau aku menyukai—
|
“Jeon Jungkook.”
Satu suara dalam yang berbisik, penuh kehati-hatian, namun mengandung jenaka juga godaan itu berhasil membuat tengkuk Taehyung meremang. Ia tidak menulis, tidak berbicara, dan tidak juga menyebutkan nama Jeon Jungkook seperti tadi.
“Hee, aku tidak tahu kau akan segugup ini, Kim.”
Taehyung menoleh dengan gerakan patah-patah.
Dan ia melihat bagaimana senyum itu terbit, diulas dengan begitu ringan juga lugas, termasuk sisa-sisa jail yang sempat terselip lewat nada suaranya.
Jeon Jungkook, dan Taehyung merasa dunianya tampak sangat mengecil.
“Jadi,” Jungkook tertawa renyah, renyah sekali. “Mengakui kalau aku ini memang keren?”
Oh, shit.
|
INI LEBIH PARAH. DIA MEMBACA TULISAN BODOH SIALAN INI ASDFGHJKLASAKB—
|
