Chapter Text
.
Pesan itu datang ketika Taehyung menghabiskan waktu lemburnya di ruang kantor, di depan meja editornya, pukul sebelas lebih lima belas menit dan ia bisa melihat kerlip bintang yang mengintip di balik sela-sela ventilasi jendela.
Seokjin memang tidak bohong soal reuni itu. Dan Taehyung seolah terbawa arus pada masa sepuluh tahun silam.
Teringat tentang bangku-bangku di SMA, tentang kenakalan kecil, tentang kebebasan tanpa batas meski celah masa depan mulai terlihat. Ia mengingat siapa itu Kim Namjoon, ketua OSIS yang katanya galak itu. Tapi sekarang berprofesi sebagai dosen di negara antar bagian Amerika, populer tapi ditakuti. Ia juga ingat lagu-lagu keren hasil karya Min Yoongi, dan Taehyung bertanya-tanya bagaimana konser pria itu sekarang ini. Terakhir kali ia mendengar soal Yoongi, musiknya berhasil menembus kancah internasional. Keliling dunia sudah pasti menjadi rutinitasnya.
Ada Jung Hoseok, seperti Yoongi, karier-nya melejit di dunia hiburan. Dance adalah napasnya, hip-hop sudah pasti pilihannya. Lagi-lagi seperti Yoongi, entah berapa banyak negara yang pria itu datangi dalam waktu kurun satu dekade.
Kalau tidak salah, Park Jimin baru saja pulang ke Busan seminggu yang lalu. Penelitian biologinya berjalan sukses di Rusia. Pria itu sampai mengirimkannya banyak buah tangan dan makanan yang enak. Meski sebenarnya Taehyung tidak terlalu suka kaviar, ya Tuhan.
Seokjin yang paling dekat dengan Taehyung, untuk saat ini. Sama-sama bekerja di kantor penerbitan, sama-sama merasa sangat nyaman dengan pekerjaan masing-masing, dan sama-sama melahirkan banyak penulis terkenal karena kepiawaian mereka dalam mengedit naskah. Itu sudah cukup. Melakukan pekerjaan yang disukai itu jauh lebih menyenangkan.
Terakhir, Jeon Jungkook.
Taehyung menarik napas dalam-dalam, layar laptop masih menyala, namun ia mengabaikan sejenak lantas merebahkan punggung di sandaran kursi. Cangkir kopi sudah lama kandas, pun kudapan manis tengah malam.
Jungkook, ya. Kilasan memori Taehyung kembali berputar. Dua tahun lebih muda darinya, seorang CEO di sebuah perusahaan terkenal, kesibukan tanpa akhir, kekasih pertama, senyum terakhir, dan perpisahan mereka dua tahun yang lalu. Taehyung mendengus.
Yeah, perpisahannya memang secara baik-baik juga. Bahkan mereka masih bertukar sapa lewat e-mail saat tahun baru. Itu, mungkin bagus. Semoga.
Lamunan Taehyung buyar saat notifikasi lain masuk. Sudut kanan bawah layar laptopnya berkedip malu, surel baru satu sekon yang lalu. Taehyung mengarahkan trackpad, suara klik dua kali dan cepat, yang kemudian layar berganti menjadi halaman browser.
Oh, e-mail dari Jungkook.
Cukup enam puluh detik ia membaca, cukup kebisuan menemani ketika matanya bergerak secara monotonis, cukup satu tarikan napas begitu Taehyung paham akan isi dari pesannya.
Cukup satu perasaan.
Namun Taehyung tak merasakan apa-apa.
