Work Text:
Sejak pintu kaca berganda bagian barat itu terbuka, Taehyung memilih ragu pada dirinya sendiri. Ada sebuket bunga mawar dengan pancarona berbeda yang baru saja ia beli dari seorang wanita paruh baya dan dagangan setiap rangkaian bunga-bunga cantik juga segarnya. Ia tidak menduga itu sebelumnya; tentang buket mawar dan rasa gugup yang Taehyung pilih ketika barisan padat khalayak berbaju hitam juga rawis-rawis berbagai warna, termasuk topi toga itu, lewat di hadapannya seperti pengantre.
Ponselnya dibiarkan sepi, tergenggam erat di tangan kiri sambil berharap keringat dinginnya tidak mengalir terlalu deras. Ini bukanlah hari kelulusannya, ya Tuhan, tapi Taehyung merasa gelisah.
Di antara para populasi itu, Taehyung melihat Namjoon. Lengkap dengan map khusus yang terjepit di ketiak kirinya, lengkap dengan toga yang terpasung miring ke sisi kanan, lengkap dengan lengkungan lebar yang terpoles begitu manis.
Adalah detik di mana akhirnya mata mereka bertemu, dan Taehyung balas tersenyum, dan ia tak perlu lagi bertanya-tanya bagaimana proses kelulusan tadi kalau mimik pemuda jangkung itu sudah lebih dulu menjelaskan tanpa perlu sesuatu yang verbal.
“Well, selamat?”
Namjoon terkekeh. “Trims. Ini hari yang hebat.”
“Aku tahu. Omong-omong, judul skripsimu juga bagus,”
“Oh, astaga. Tidak mungkin.”
Seringai Taehyung muncul.
“Itu bukanlah sesuatu yang layak untuk kau baca, Tae. Asal kau tahu,”
“Tidak layak tapi berhasil mendapat nilai tertinggi, eh?”
Balasannya nihil, Namjoon meringis. Namun tidak bertahan lama ketika Taehyung mengulurkan sebuket mawar ke hadapan Namjoon. Yang diberi mengangkat sebelah alis, tersenyum kecil, dan tidak berkomentar lebih saat menerima dengan baik.
“Trims yang kedua.”
Ponselnya tetap dibiarkan sepi. Mungkin ini sudah cukup, buket di hari seremoni kelulusan sudah lebih dari cukup. Mungkin akan banyak orang-orang di luar sana melakukan hal yang sama terhadap Namjoon, mungkin juga lebih spesial. Taehyung tak perlu memberikan sesuatu yang khusus.
“Oh,”
Tetapi Namjoon tanpa tanggapan yang cepat bukanlah Namjoon.
“Kau benar,” sahut Namjoon, “aku kira kita sudah berfoto.”
Dan mengambil ponsel dari jemari Taehyung sebelum kemudian membuka aplikasi kamera.
Dan menariknya dalam satu rangkulan erat.
Dan sama-sama tersenyum sebelum seremoni berakhir di penghujung hari nanti.
