Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-01
Completed:
2026-05-15
Words:
17,030
Chapters:
9/9
Comments:
25
Kudos:
432
Bookmarks:
13
Hits:
5,948

ROOMMATE ROULETTE

Summary:

Manis, Ganteng, Tapi Ngangenin?
Cuek, Ganteng, Tapi Nyebelin?

​"Gue gak peduli sama dunia lu," katanya. Tapi nyatanya, dunia mereka justru makin bersinggungan.

Notes:

pencet kudosnya🫶🏻

Chapter 1: strong dengan "G" besar

Chapter Text

Satu hal yang membuat Karuna Lukaisa betah tinggal di sebuah asrama yang di sediakan oleh sekolahnya, bukan karena ia akhirnya tidak usah bersusah payah menempuh jarak menuju sekolah yang cukup jauh.

Bukan juga karena fasilitasnya bagus, itu point kedua yang tak butuh keraguan, melainkan ia bertahan dan hidup di kamar 304 lantai 3. Semua kamar di desain untuk dua orang, namun entah keberuntungan dari mana selama setahun ini ia tinggal sendirian.

Terdengar aneh memang, itu artinya Karuna memiliki semua fasilitas di kamar itu sendiri. Mulai dari tempat tidur, meja belajar, dapur, kamar mandi, intinya semua hal yang berada di kamar tersebut.

Tetapi, keberuntungan itu tidak bertahan lama sampai suara ketukan di sore hari setelah Karuna pulang sekolah membuyarkan kesenangannya selama ini.

Ia yang sedang fokus mengerjakan tugas sembari mendengarkan musik lewat earphone terdiam, terdengar suara pintu di ketuk sebanyak tiga kali. Segera Karuna melepas earphone, beranjak dari meja belajar menuju pintu, memutar kenop pelan dan membukanya perlahan.

Di hadapannya, berdiri pak Hamar—pengurus asrama yang tersenyum tipis melihat kehadiran Karuna. "Selamat sore, dik Karuna."

"Selamat sore pak Ham, ada apa ya pak?" ia bertanya, bingung sebab pak Hamar tidak datang sendirian.

Di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang hanya diam dengan raut wajah datar yang begitu familiar, tidak mengeluarkan sepatah katapun, hanya melihat dan mendengarkan. Sebuah koper berada di genggamannya dengan tas yang tersampir di bahu.

Sosok itu Karuna kenali, ia memikirkan sesuatu di dalam benaknya.

"Mulai sekarang kamar kamu ada penghuni baru," pak Hamar bersuara, menoleh ke samping lalu kembali menatap Karuna. "Kenalin ini Samahita Sailum Pandu, kalian kayaknya udah saling tau kan?"

Samahita mengangguk sekilas, netranya tidak sengaja bertemu dengan Karuna yang tengah memandangnya sejak tadi. Dengan gerakan cepat Karuna mengalihkan pandangan kembali pada pak Hamar, ia berdeham lantas tersenyum.

"Iya pak, tau," ujarnya, berusaha untuk menetralkan suaranya.

"Ya udah kalau gitu, tolong dibantu ya temen sekamarnya kalo ada yang bingung," pesan pak Hamar sebelum pergi meninggalkan lorong lantai 3.

Karuna menganggukkan kepala, menatap kepergian pak Hamar yang menghilang setelah memasuki lift. Pintu kamar masih terbuka lebar, Samahita tidak bergerak, pemuda itu tetap diam pada posisinya membuat alis Karuna kontan terangkat.

"Ngehalangin pintu," Samahita bersuara.

Karuna memiringkan kepala, tidak mengerti dengan apa yang di maksud pemuda di hadapannya itu. "Maksudnya?"

Samahita tampak mengerling mata, ia mendengus pelan. "Terlalu pinter," ujarnya. "Gimana caranya gue bisa masuk kalo lu berdiri di tengah-tengah pintu?"

"Oh..." Karuna segera bergeser memberikan akses untuk Samahita masuk. Ia memejamkan mata berusaha menahan agar emosi tidak meluap. Menutup pintu dan ikut masuk ke dalam.

Mulai sekarang ini, ia akan berhadapan dengan manusia yang Karuna tahu bagaimana watak dan caranya berperilaku.

Karuna tidak tahu banyak tentang Samahita, tetapi siapa sih yang tidak mengenal nama itu? siswa yang namanya selalu menjadi langganan di urutan pertama kelas maupun satu angkatan. Siswa populer kebanggan guru, melihat Samahita di mading atau koridor bukanlah hal yang biasa.

Malahan terlalu biasa bagi Karuna. Ia sama sekali tidak pernah peduli atau ingin tahu tentang bagaimana Samahita menjalani hidup, ia juga bukan bagian dari barisan pengagum yang rela mengantre hanya untuk sekadar disapa oleh pemuda itu.

Bagi Karuna, Samahita hanyalah orang asing yang kebetulan menempati gedung sekolah yang sama. Namun sekarang, orang asing itu benar-benar berdiri di dalam ruang privasinya, meletakkan koper di samping tempat tidur kosong yang selama ini Karuna jadikan tempat menaruh tumpukan koleksi komik dan beberapa barang sebab ia kekurangan ruang untuk menaruh barang-barangnya.

​Samahita tidak langsung membongkar isi kopernya. Ia justru berdiri diam, mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tatapannya berhenti tepat pada meja belajar kedua—yang saat ini sedang penuh dengan tumpukan buku sekolah Karuna yang berantakan.

​"Barang lu," Samahita menunjuk meja itu dengan dagunya. "Pindahin."

​Karuna mengerjap, sedikit tersentak oleh nada perintah yang begitu lugas itu. "Eh, iya. Gue beresin sekarang."

​Dengan gerakan cepat yang sedikit serampangan, Karuna mulai memindahkan barang-barangnya. Ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah tengah menduduki tanah orang lain, padahal jelas-jelas ia yang lebih dulu menghuni kamar tersebut.

​Saat ia sedang sibuk menggeser tumpukan buku, langkah Samahita mendekat. Pemuda itu berdiri tepat di sampingnya, membuat Karuna sontak menghentikan aktivitasnya. Untuk pertama kalinya, Karuna berada dalam jarak sedekat ini dengan Samahita.

Ia tanpa sadar menahan napas, merasa sedikit terintimidasi oleh kehadiran Samahita yang tiba-tiba memangkas jarak. Karuna melirik dari sudut matanya, mendapati sosok itu berdiri tegak dengan tatapan yang masih tertuju pada meja belajar.

Karuna berdeham pelan, mencoba mengusir kecanggungan yang merayap. Ia meluruskan punggung, dan saat itulah ia menyadari sesuatu. Selama ini, Samahita selalu terlihat menjulang saat berdiri di atas podium aula atau ketika berjalan melewati koridor. Namun sekarang, saat mereka berdiri berdampingan tanpa ada jarak yang memisahkan, persepsi Karuna sedikit bergeser.

Ia mengerling ke arah cermin yang tertempel di pintu lemari, membandingkan tinggi badan mereka melalui pantulan di sana. Karuna mengernyit, kepalanya bergerak sedikit untuk memastikan bahwa matanya tidak salah lihat.

"Gue kira lu setinggi Metha," gumam Karuna tanpa sadar.

Samahita menoleh, menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya maksud dari kalimat yang baru saja ia dengar.

"Apa?" tanya Samahita.

Karuna sedikit tersentak, tidak menyangka gumamannya akan terdengar. Ia berdeham lagi, berusaha bersikap biasa saja. "Enggak. Gue cuma baru sadar kalau selisih kita nggak jauh banget. Paling cuma setengah senti."

Samahita tidak langsung menjawab. Ia menatap Karuna selama beberapa detik dengan ekspresi datar yang sulit dibaca—khas Samahita yang tidak tersentuh—sebelum akhirnya kembali membuang muka ke arah koper di bawah.

"Terus?" suara Samahita terdengar ketus, seolah pernyataan Karuna barusan hanyalah informasi sampah yang tidak perlu ia tanggapi.

"Ya... nggak apa-apa. Gue cuma baru tau aja," sahut Karuna, tangannya kembali sibuk menarik tumpukan buku catatan ke arah dadanya. Ia merasa sedikit konyol karena membahas masalah tinggi badan di saat suasana sedang setegang ini.

"Udah selesaikan urusan setengah sentinya?" Samahita kembali bersuara. "Kalau udah, cepet pindahin terutama yang di tempat tidur. Biar gue bisa naruh barang. Gue gak suka tempat kotor."

Karuna menggertakkan gigi, menahan diri agar tidak melempar salah satu buku paketnya ke arah pemuda itu. Sifat sombong Samahita ternyata jauh lebih parah daripada yang ia dengar dari mulut-mulut siswa lain.

Kamar 304 yang tadinya adalah surga paling tenang bagi Karuna, kini benar-benar telah berubah menjadi medan tempur dalam hitungan menit. Dan Karuna tahu, mulai malam ini, tidur tenangnya hanyalah tinggal sejarah.

Ia melempar tumpukan bukunya ke atas mejanya sendiri dengan bunyi yang cukup keras, melampiaskan sedikit rasa dongkol yang mulai memenuhi rongga dadanya. Ia segera beralih ke tempat tidur Samahita, menyambar beberapa barang dan koleksi komik yang masih berserakan di sana.

"Kamar ini gak kotor," ujar Karuna pelan, meski ia tahu Samahita pasti bisa mendengarnya. "Gue cuma perlu waktu buat reposisi."

Samahita tidak menyahut. Pemuda itu hanya berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, mengawasi setiap pergerakan Karuna seolah-olah ia adalah mandor yang sedang mengawasi kuli bangunan. Setelah tempat tidur itu benar-benar kosong, barulah Samahita menggerakkan kopernya mendekat dan menaruh tasnya di atas tempat tidur.

Karuna berdiri di tengah ruangan, menyeka dahi yang sedikit berkeringat, meski pendingin ruangan menyala. Ia menatap Samahita yang mulai membuka ritsleting tas dengan gerakan yang sangat teratur.

"Sebelum lu lanjut," Karuna berdeham, berusaha menarik atensi sang kutub utara. "Ada beberapa hal yang perlu lu tau soal asrama ini. Dan... soal kamar ini."

Samahita berhenti sejenak, namun tidak mendongak. Ia hanya diam, memberikan isyarat tak langsung agar Karuna melanjutkan kalimatnya.

"Peraturan asrama standar, jangan keluar di atas jam 10 malem. Jangan pernah ganggu tetangga dan jangan bawa hewan peliharaan." jelas Karuna lancar. "Satu lagi, kalo mau ngajak orang lain ke asrama harus ada surat izin dari pak Hamar."

Samahita hanya bergumam samar sebagai jawaban.

Karuna menarik napas panjang, ia melangkah mendekati meja belajarnya sendiri yang kini nampak sangat penuh. "Dan ini peraturan dari gue. Mengingat gue penghuni lama di sini."

Kali ini, Samahita mengangkat kepala. Ia menatap Karuna dengan tatapan datar seperti biasa, seolah sedang menunggu omong kosong apa lagi yang akan keluar dari mulut teman sekamar barunya itu.

"Satu, jangan sentuh meja gue. Barang-barang yang ada di atas meja ini punya privasi masing-masing. Dua, kalau lu mau dengerin musik atau nonton, pake earphone. Gue nggak suka berisik yang nggak perlu kalo lagi nugas. Dan tiga..." Karuna menjeda kalimatnya, menunjuk garis imajiner di tengah lantai keramik yang membelah area mereka.

"Jangan ngelewatin batas wilayah. Barang lu di sana, barang gue di sini. Gue gak mau liat ada kaos kaki atau buku lu yang nyasar ke area gue."

Samahita terdiam selama beberapa detik. Ia menatap garis yang ditunjuk Karuna, lalu kembali menatap wajah pemuda itu dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan. Sudut bibirnya sedikit bergerak, bukan senyuman, melainkan sebuah seringai tipis yang sarat akan nada meremehkan.

"Selesai?" tanya Samahita.

"Iya."

Samahita kembali menunduk, mengeluarkan beberapa buku tebal dari tasnya dan menyusunnya di atas meja dengan presisi yang luar biasa rapi. "Gue nggak punya hobi nyentuh barang orang lain, jadi lu nggak usah khawatir soal itu. Tapi soal peraturan kedua..."

Samahita melirik Karuna dari sudut matanya. "Lu sendiri tadi pake earphone pas gue dateng, tapi suara musiknya bocor sampe luar. Lu yang bikin aturan, lu juga yang harusnya belajar cara pake alat itu dengan bener."

Karuna tertegun. Ia reflek memegang lehernya, teringat saat Pak Hamar mengetuk pintu tadi. Ia memang menyetel musik cukup keras karena mengira tidak akan ada orang yang terganggu.

"Dan soal batas wilayah," Samahita melanjutkan sembari menegakkan tubuh. "Selama lu juga nggak berisik dan nggak ganggu waktu gue." Ia menggantung kalimatnya, membawa kakinya melangkah satu langkah lebih dekat hingga selisih setengah sentimeter itu kembali terpampang nyata di depan mata mereka.

"Gue gak peduli sama dunia lu."

Setelah mengatakan itu, Samahita kembali sibuk dengan barang-barangnya, meninggalkan Karuna yang hanya bisa berdiri mematung dengan kepalan tangan yang mengeras.

Benar-benar manusia tidak punya perasaan, batin Karuna. Dari awal mereka tidak pernah cocok untuk di satukan apalagi dalam ajang akademik maupun non akademik.

Karuna akan selalu menjadi yang kedua dengan Samahita yang selalu berada jauh di atasnya. Ia juga populer dan menjadi kebanggaan, namun Samahita jauh lebih dari itu.

Ia bahkan tidak mau membuang-buang waktu untuk sekedar iri atau merasa terkalahkan. Yang Karuna tahu, bahwa dirinya juga pintar, namun tak semenyebalkan Samahita yang merasa dunia adalah miliknya.