Actions

Work Header

Bandel.

Summary:

Arjuna '22 dengan pacar kecilnya yang bandel, Yudistira '24.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Jakarta, siang gini lagi panas-panasnya. Arjuna dan pacar kecilnya lagi jalan di pinggir trotoar, Yudis jalan duluan di depan Arjuna udah engga sabar katanya. Mereka udah janjian mau makan siang bareng, walau tadi kelas Arjuna selesai 2 jam lebih duluan daripada Yudis. Kenapa gak di kantin? Gatau, tanya aja pacar kecilnya itu yang ngajak makan di tempat baru deket indoapril, katanya sih mie yamin mereka enak.

“Dek, stop lari-lari.”

“Enggak lari Juna sayang.”

“Ini lagi panas banget dek, banyak debu juga.”

“Iya Juna, aku juga tauuu.”

Tapi Yudis masih aja jalan lebih cepat daripada Arjuna, kayak ngetes diri sendiri.

Napasnya mulai naik dikit, tetep aja dia gak berhenti atau pelanin langkah kakinya itu.

“Dek.”

“Apaan.”

“Pelan.”

“Aku gapapa.”

Beberapa langkah lagi, tiba-tiba Yudis berhenti, narik napas, lebih pendek, lebih berat.

“Beb.”

“GAPAPA.”

Arjuna yang dari tadi di belakang langsung maju ke sebelah pacarnya itu.

Enggak lari, tapi cepet.

“Yudis.”
Enggak dijawab.

“liat aku,” perintah yang lebih tua.

Yudis malah melengos dan lanjutin jalannya tapi kakinya dia langkah lebih lambat dari yang sebelumnya, tangan kirinya dia bawa ke dada.

“Aku cuma capek dikit,” kata yang lebih kecil pelan.

Arjuna langsung diem setengah detik.

“Minggir, duduk,” pinta Arjuna sedikit tegas.

“Enggak.”

“Yudis.”

“Kenapasih! Aku bilang gapapa.”

Arjuna geser dikit ke depan Yudis, sedikit narik tangan pacarnya itu buat duduk di tempat yang lebih adem. Bangku panjang depan warung madura pinggir jalan.

“Misi mas, numpang duduk sebentar yah. Kecapekan ini, panas.”

“Ohiyah silahkan mas-mas.”

Yudis duduk di bangku panjang dengan Arjuna yang berlutut di depan pacarnya itu.

Gak nyentuh dulu.

Cuma deket, hadap-hadapan.

“Dek, tarik napas.”

“Aku bisa sendiri.”

“Tarik.”

Yudis akhirnya narik napas.

Tapi setengah, putus.

Arjuna langsung gercep buka tasnya. Gak panik berisik, tapi gerakannya cepat.

Keluarin inhaler.

“Ini,” kata yang lebih tua sembari kasih inhaler ke tangan pacar kecilnya itu.

Yudis nolak tangan Arjuna dan bilang, “Gak usah.”

“Ambil.”

“Aku bilang gak usah Junaaa,” dengan kepala yang makin menunduk dan tangan kiri yang masih megangin dadanya.

Arjuna bawa kepalanya mendongak, semakin deket sama kepala Yudis.

“Ambil, sayangku,” ucap Arjuna dengan tatapan lembut dan senyum manisnya.

Sunyi sebentar.

Yudis akhirnya ambil inhaler dari tangan Arjuna, tangan mereka kesenggol dikit.
Gak ada yang lepas cepat.

Dia pakai.
Tarik napas pelan.
Sekali.
Dua kali.

Arjuna masih berlutut di depan pacar kecilnya itu, gak ngomong apa-apa tapi matanya gak lepas dari sayangnya.

Ada beberapa teman sekelas atau teman seangkatan Yudis yang lewatin mereka, dengan posisi Yudis yang duduk di bangku dan Arjuna yang berlutut sambil pegangin dua lutut Yudis. Tanpa tahu situasi, mereka lewat sambil teriak, “Cie Yudiiiiissss.”

Arjuna langsung pandang mereka galak, “Diem.”

“Eh iya maap Bang Juna,” ucap mereka kabur setelah ditatap galak oleh Arjuna.

Yudis mulai stabil, napasnya balik pelan. Tangan kirinya udah gak megangin dadanya lagi, kedua tangannya beralih ke tangan Arjuna di dua lutut dia.

“Kamu tadi lari kenapa.”

“Iseng wkwkwkwk.”

“Jangan iseng-iseng gitu kocak.”

“Ngejar mie yamin takut abis Juna, katanya enak banget. Aku takut keabisan.”

“Sampe harus lari panas-panasan dengan banyak debu gini?”

“Aku gak mati.”
Arjuna kaget, “…jangan ngomong gitu.”

 

Yudis ngelirik dia.

“Kau lebay.”

“Kau bandel.”

“Iya.”

“Jangan lagi.”

“…iya.”

Arjuna masih gak gerak, tangannya masih di lutut Yudis—ngecek, bukan nahan.

“Masih sesek?” tanya Arjuna pelan.

“Enggak.”

“Bener?”

“Iya.”

Arjuna baru bisa exhale, pelan banget. Seolah dia nahan napas dari awal.

Dia bawa dirinya duduk di sebelah pacar bandelnya itu, nyenderin kepalanya ke pacarnya yang lebih pendek.

Yudis nyenggol bahunya dikit.

“Aku gak mati tadi.”

“Mulut kau itu bisa stop asbun gak sih.”

“Ya tapi Aku gak mati.”

“…iya.”

Yudis lanjut berdiri.
Jalan lebih pelan kali ini.
Arjuna di samping Yudis, gak jauh.

Tangan mereka gak pegangan, langkah mereka sama dan gak ada yang ngomong lagi.

Tapi dari tadi—Arjuna gak pernah ninggalin jarak.

Notes:

Ditulis berdasarkan kebiasaan sy yg sering mimisan dan berharap mempunyai seseorang yg tanggap sperti Sun kepada Note.