Work Text:
Sinar mentari menyusupi celah-celah gorden, membuat silaunya menyapa Arjuna yang tengah terlelap.
Perlahan, ia membuka matanya dan mendapati sang kekasih yang masih bergeming di atas dadanya.
Cukup mengejutkan bagaimana Arjuna dapat terlelap semalam dengan posisi seperti itu. Sang kekasih juga tampaknya tertidur dengan pulas semalam meskipun sikapnya sedikit aneh sebelum keduanya pergi ke alam mimpi.
Biasanya, Yudistira menyapa sang Arjuna dengan penuh cinta usai mencari nafkah. Berbincang dengan hangat dan bertukar cerita atau memberi tahu hal-hal kecil yang ia temui di studio miliknya.
Tetapi, tidak ada sapaan atau ucapan cinta dari Yudis semalam. Lelaki dengan highlight hijau di rambutnya itu langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya tanpa berkata sepatah pun. Arjuna tentu saja khawatir dengan sikap kekasihnya itu, tapi ia memilih untuk diam sampai Yudis mulai angkat bicara yang sepertinya tidak dilakukan hingga mereka terlelap bersama.
Entah apa yang membuat suasana hati Yudis berantakan dan kelabu. Tetapi yang lucu adalah bagaimana dia tetap tidak bisa jauh-jauh dari Arjunanya sehingga memilih untuk terlelap di atas tubuh Arjuna. Untuk menghibur sang kekasih, Arjuna kali ini tidak banyak protes dan membiarkannya.
Kini pagi telah tiba, dan keduanya harus beranjak dari kasur mengingat pekan belum mencapai akhir.
“Yudis? Udah pagi” Arjuna memanggilnya dengan lembut.
Yudis tidak menjawabnya.
Arjuna menghela napasnya, tampaknya hari ini ia akan membuat alasan kepada bosnya untuk tidak berangkat.
Jemarinya mengusap lembut kepala sang kekasih yang kemudian dibalas dengan tatapan tajam dan alis yang bertaut. Ekspresi wajah yang jarang Yudistira keluarkan seharinya.
“Kamu nggak berangkat? Hm?” Arjuna kembali angkat bicara.
Yang ditanya kembali menenggelamkan wajahnya pada bagian dada Arjuna lalu menghela napasnya dengan berat.
Ah, rupanya memang ada masalah di studio miliknya kemarin.
Arjuna kembali mengusap kepala sang kekasih sambil sesekali menciumnya. Lalu, kedua tangannya menangkup wajah Yudistira hingga keduanya saling menatap. Sedikit lucu melihat bagaimana Yudistira masih berwajah masam. Tetapi Arjuna tidak menertawainya.
Ia mengusap kedua pipi sang kekasih, menyibakkan poninya hingga dua tindiknya terlihat. Kemudian mengecup keningnya dengan lembut. Seolah tahu kekasihnya masih belum merasa cukup, perlahan ciumannya turun hingga mencapai kedua pipi dan diakhiri dengan kening keduanya menyatu.
“Lagi capek, ya?” lagi-lagi Arjuna bertanya.
Yudistira kembali tak menjawab. Meskipun begitu, kini ekspresinya melembut. Wajahnya mendekati leher Arjuna dengan perlahan, menghirup aroma yang lebih tua seolah-olah tidak dapat bernapas tanpanya. Setelah itu memberikan kecupan-kecupan kecil dan meninggalkan beberapa tanda.
Beberapa desahan kecil lolos dari mulut sang Arjuna sambil kembali mengusap kepala sang kekasih dengan jari-jarinya.
Manik keduanya saling bertemu, memandangi satu sama lain sebelum akhirnya menyatukan bibir keduanya.
“Aku sayang Juna”
Ucap Yudistira sesaat setelah bibir keduanya berhenti menyatu.
