Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-07
Words:
1,146
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
3
Hits:
56

surat cinta (di umur) ketujuh

Summary:

surat cinta rahasia untuk juyo.

Notes:

crossposted from medium aikaivrse.

Work Text:

Changmin menatap penuh rasa keheranan mendapatkan sebuah pernyataan dari lelaki yang duduk bersebrangan dengannya terhalang meja; gue mau nagih utang. Seingatnya ia tidak pernah meminjam uang sepeserpun pada teman seperkuliahannya ini, bagaimana bisa tanpa aba-aba dia menagih utang padanya. Pipinya tak berhenti bergerak ㅡmengunyah potongan croffle kesukaannya, namun alisnya yang menukik tidak menggambarkan rasa senang menikmati makanan kesukaannya. “Kapan gue punya utang sama lo, Ju?”

Pertanyaan itu lolos dari mulut Changmin setelah lebih kurang tiga menit berlalu, hening waktu dihabiskan untuk mengunyah habis pastry yang ada di dalam mulutnya. Garis-garis kerutan semakin nampak di keningnya kala rungunya bukannya mendengar jawaban pasti, melainkan tawa halus yang mengalun dari sela bibir layaknya kucing itu. “Lima belas tahun yang lalu, mungkin? atau lebih ya?” Ujarannya seakan sarat akan ketidakpastian, namun lengkungan kecil di ujung bibirnya mengatakan sebaliknya.

Kantung kertas coklat berisi crofflenya ia letakan di atas meja, memandang serius lelaki berperawakan kucing di hadapannya. “Seriously, Ju? Lima belas tahun yang lalu berarti kita masih sekolah dasar, apa yang lo harapkan, gue bahkan gak ingat apa aja yang gue lakukan bulan lalu.” Keluhnya tidak percaya dengan perkataan lawan bicaranya saat ini.

Juyeon mengangguk mengerti dengan rendahnya kemampuan teman sebayanya ini dalam mengingat hal-hal kecil. Diraihnya cangkir berisikan coklat hangat ㅡyang sudah tidak lagi hangat, menyesap likuid kental berwarna coklat pekat guna membasahi kerongkongannya menunggu lelaki kucing itu mencari sesuatu di dalam ransel hitamnya. Keningnya kembali mengkerut memperhatikan raut wajah Juyeon berubah cerah, sepertinya berhasil menemukan barang yang dicari.

Likuid coklat yang seharusnya mengalir turun ke kerongkongannya kembali naik membuatnya tersedak saat Juyeon dengan senyuman lebarnya menyodorkan secarik kertas terlipat berwarna merah jambu yang sudah memudar dimakan waktu di atas meja ke arahnya. “Mau lo baca sendiri atau gue yang bacain?” Changmin seratus persen yakin jika Juyeon saat ini tengah menghinanya ㅡdalam konteks bergurau, terlihat dari alisnya yang bergerak naik-turun dan senyuman lucu menjengkelkan.

Setelah meredakan batuknya dengan tenang ㅡhanya sebuah tindakan penjagaan imej, tangannya yang jauh lebih kecil dari milik lelaki kucing itu meraih lipatan kertas tersebut yang ia yakini sebuah surat. Pipinya bersemu merah jambu seperti terkena sorotan panasnya sinar matahari di siang hari. Secarik kertas itu bertuliskan rangkaian kata dengan penulisan yang jauh dari kata bagus ㅡtulisan ceker ayam kata ibu. Ia bahkan harus membacanya berulang kali untuk mengerti maksud tulisan yang ada di dalam surat tersebut.

“Ju,”

 

“Ya?”

 

“Kok ini masih ada di lo?”

Juyeon tertawa mendapati ekspresi campur aduk di wajah teman seperjuangannya itu, “Lo bahkan gak nyangkal kalo surat itu buatan lo, Ji?” Ledeknya tanpa berniat menjawab pertanyaan dari lelaki menggemaskan layaknya hamster. “Halo Juyo! Juyo tadi keren banget kayak pahlawan di filem! Aku suka hihi. Aku mau Juyo jadi pahlawan aku! Ayo nikah nanti aku kasih jeli buat Juyo! Dari, rahasia. Titik dua lengkung, bunga matahari.” Tawa Juyeon semakin membesar kala melihat bagaimana wajah Changmin sepenuhnya merah padam hingga ke leher panjangnya dan telinganya saat ia mengucapkan isi surat dengan tepat ㅡpenuh canda pula.

Juyeon perlahan meredakan tawanya ketika Changmin menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat didefinisikan, seakan ingin bertanya banyak hal kepadanya namun tidak dapat diungkapkan. “Bunga matahari,” ekspresi Changmin melunak karenanya, mendengarkan Juyeon yang sepertinya akan memberinya penjelasan, “Cuma lo, orang terdekat gue yang sebegitu cintanya sama bunga matahari, Ji.”

Tak ayal penjelasan Juyeon cukup menarik kedua sudut bibir tipis milik Changmin meski sedikit. “Lo belum jawab pertanyaan gue, Lee. Kenapa masih ada di lo?” Changmin kembali bertanya setelah menetralkan kembali raut wajahnya menjadi seperti biasanya. Tangan berjari panjangnya kembali melipat kertas lusuh itu seperti sedia kala, dan menaruhnya di atas meja, tepat di tengah-tengah antara kedua tangan mereka.

Kok Lee?”

 

“Dari tadi lo manggil gue Ji, Lee Juyeon.”

 

Kan biar serasi, gue Ju, lo Ji.”

 

“Apa deh! Buruan jawab!”

Lagi, Juyeon tertawa lepas hanya karena reaksi Changmin yang mengelak rayuannya, begitu menggemaskan ㅡmenurutnya. “Mama yang simpan.” Juyeon berkata sedikit menyunggingkan senyuman, “Gue kira dulu bakal langsung dibuang sama Mama pas gue kasih tau ada yang naruh surat itu di tas gue, ternyata disimpan sampe sekarang.” jelasnya. Changmin tidak berbohong jika ia melihat binar cerah di mata Juyeon saat menceritakan hal itu.

Kantung crofflenya kembali mendapatkan perhatiannya, mulutnya kembali sibuk mengunyah makanan manis itu. “Jadi lo mau nagih utang nikah, ㅡsama gue?” Changmin bertanya disela aktivitas menikmati crofflenya. Juyeon mengangguk pasti, “Lo masih suka jeli kan? Yuk nikah. Ini gue kasih jeli seperti yang lo tulis di surat,” Juyeon secara harfiah menaruh dua buah jeli beruang berwarna merah dan biru di atas telapak tangan Changmin yang berada di atas meja.

Changmin mengangkat telapak tangannya yang tebuka, memperhatikan beda lain selain jeli yang berada di atas telapaknya, “Ini, cincin? Bunga?”. Juyeon mengangguk dengan pipi yang bersemu samar, “Maaf ya, bukan emas, gue masih harus ngumpulin sedikit lagi buat beli cincin yang bagus buat lo.” Changmin tersenyum mendengar penjelasan Juyeon tentang perjuangannya mengumpulkan pundi uang untuk membelikannya cincin emas yang indah.

“Ju, kenapa lo percaya surat ini? Gue nulis itu pas kelas satu, apa yang mau lo percaya dari bocah umur tujuh tahun nulis surat cinta?” Changmin kembali bertanya serius, menatap ke dalam manik jelaga Juyeon yang indah, mencari jawaban dari pertanyaannya. “Gue juga gak tau kenapa bisa percaya sama surat cinta buatan bocah iseng yang naruh suratnya di tas gue dulu,” Juyeon menerawang dengan pandangan yang tertuju pada lipatan surat usang di atas meja.

Senyuman kucingnya terukir kembali mengingat kembali kekonyolannya yang percaya pada surat cinta bocah kelas satu sekolah dasar. “But as time passed by, i understand why i believed that letter, Ji.” tatapan Juyeon beralih menatap kedua kelereng coklat manis milik Changmin. “Karena tanpa sadar, gue perlahan jatuh ke dalam pesona lo. Gue suka perhatian lo, gue suka cara lo bicara yang selalu excited, gue suka senyuman lo, dan gue suka lo datang ke gue pas lo lagi capek.”

Cringe ga sih Ji, gue takut lo ilfeel gue confess kayak gitu.” Changmin tentu tertawa saat kerandoman seorang Juyeon kembali disaat yang serius seperti ini. Juyeon diam-diam tersenyum lega, ia berhasil setidaknya membuat bunga mataharinya tertawa hari ini.

Tubuhnya menegang sesaat ketika Changmin meraih tangannya untuk digenggam, hatinya menghangat memperhatikan Changmin yang tersenyum lembut melihat tautan tangan mereka. “Mungkin Tuhan emang bikin kita terikat benang merah. Gue suka lo genggam kayak gini, hangat.” Juyeon tak memungkiri, hatinya benar bahagia mendengar kalimat sederhana itu keluar dari mulut calon pendamping hidupnya ini ㅡia sangat percaya diri jika Changmin akan menerimanya seratus persen.

“Tapi gue gak akan terima ajakan nikah lo sekarang.” Bohong jika Juyeon tidak merasakan sakit hati kala Changmin berkata demikian. “Bawa cincin yang benar, lamar gue lagi. Cincin bunganya tetep gue terima.” tak sampai semenit kemudian senyuman kembali menyungging indah di wajahnya.

“Gue sayang lo, Ji.”

Kecupan lembut diterima punggung tangan Changmin setelah Juyeon mengucapkan kalimat sakral padanya ㅡseratus persen berhasil membuatnya kembali bersemu hebat. Changmin tak membalas apapun ucapan Juyeon, namun sebuah ciuman yang mendarat tepat di sudut kiri bibir Juyeon cukup mengatakan semua perasaannya pada lelaki kucingnya.