Work Text:
Masih teringat dengan jelas di dalam kepala Jooyeon, bagaimana ia pertama kali jatuh cinta. Tentu saja tidak ada kelopak bunga berjatuhan atau kembang api yang menghiasi langit seperti di film romansa saat hal itu terjadi. Hanya pertemuan sederhana dengan seseorang yang kerap muncul di pandangannya. Jooyeon tidak terlalu percaya dengan hal yang bernama keajaiban, namun hari itu dirinya bersyukur kepada dunia ini karena akhirnya ia tahu apa yang dimaksud dengan jatuh cinta.
Sudah menjadi ajang setiap enam bulan sekali sekolahnya mengadakan lomba akustik di setiap akhir semester sebelum pembagian rapor. Jooyeon adalah satu-satunya orang di kelasnya yang mampu memainkan alat musik. Ia tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan teman-teman sekelasnya untuk maju sebagai perwakilan lomba. Siapa sangka pada hari yang ditunggu Jooyeon menghadapi kesulitan yang luar biasa. Senar gitarnya putus tepat sebelum lomba dimulai.
Tentu saja ia panik. Ia hanyalah bocah SMP yang masih diantar-jemput ibunya ke sekolah. Andai saja ia dapat mengendarai sepeda motor, mungkin ia akan melesat dengan cepat ke toko musik di dekat sekolahnya yang hanya berjarak 2 kilometer. Gilirannya dalam lomba ini tinggal dua undian, dengan berjalan kaki, tentu saja tidak akan tepat waktu. Rasa putus asa menggerogotinya, ia tidak mengenal siapapun di kelas lain, teman sekelasnya tidak begitu membantu, mereka hanya dapat menyumpah serapah Jooyeon yang tengah kesulitan.
“Senar gitar lo putus?”
Suara yang muncul tiba-tiba di tengah sempitnya lorong menuju ke atas panggung aula mengejutkan Jooyeon yang diliputi rasa bingung. Ia pun mengangguk dengan lemah.
“Pake gitar gue aja.”
“Eh?”
“Gue udah tampil. Mau beli senar dimana juga. Pake aja.”
“Boleh?”
“Boleh. Lo dari kelas apa?”
“Gue Jooyeon dari kelas 9-4,” ucap Jooyeon dengan sedikit malu-malu.
Laki-laki di hadapannya tersenyum. “Jiseok. Anak 9-2.”
Oh, kini Jooyeon mengetahui namanya. Jiseok. Terdengar asing di telinganya, namun wajah laki-laki itu sama sekali tidak dapat dikatakan asing karena Jooyeon kerap melihat wajahnya di beberapa kesempatan. Meskipun berada di tingkat yang sama dengannya, Jiseok sudah wara-wiri bersama band sekolah untuk tampil di acara-acara sekolah. Kemampuannya bermain gitar, berinteraksi dengan penonton, dan wajah tampannya membuat dirinya menjadi bintang sekolah dalam waktu yang singkat.
Setiap kali Jiseok tampil, ruang penonton yang tersisa tidaklah banyak. Jooyeon tentu merupakan salah satunya. Namun ia tidak pernah menonton dari jarak dekat. Terkadang dari pinggir kantin sembari menikmati es jeruk pesanannya, atau terkadang dari dekat koperasi sembari berpura-pura membeli pulpen yang hilang. Ia tidak ingin berbaur dengan penggemar perempuan Jiseok. Ia merasa cukup hanya dengan menonton laki-laki itu dari kejauhan.
“Oi, kelas 9-4 udah dipanggil tuh. Kok malah bengong?” ucap Jiseok sembari menepuk pundak Jooyeon.
“Ah iya! Tunggu sebentar ya, Jiseok. Gitarnya gue pake dulu!” ucap Jooyeon sambil berlarian.
“Aman.”
Dengan tergesa-gesa Jooyeon naik ke atas panggung. Kalau boleh jujur, rasanya semua makanan yang ia santap pagi tadi rasanya akan melesat keluar dari mulutnya. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah lomba pertamanya, penampilan di hadapan banyak orang untuk pertama kalinya dalam hidup. Bahkan untuk memikirkan apakah dirinya akan membuat kesalahan pun Jooyeon tidak sanggup. Ia hanya bisa menarik napas panjang dan memulai pertunjukan.
Ia membawakan lagu Amnesia oleh 5 Seconds of Summer. Alasannya sederhana, hanya karena lagu itu yang ia putar berkali-kali belakangan ini. Namun Jooyeon tidak tahu bahwa satu lagu itu akan mengubah masa remajanya. Sesekali ia melihat ke arah penonton yang terdiam menatap pertunjukannya. Ia tak paham, apakah mereka menyukai atau membencinya, namun Jooyeon tidak ingin berhenti, ia ingin menyelesaikan penampilannya. Jemarinya tetap menari indah di atas senar gitar, dan nyanyiannya tetap mengalun dari atas panggung.
Saat lagu berakhir, ia terdiam sesaat sebelum akhirnya ia menyadari bahwa tepuk tangan menggema riuh di penjuru aula. Tak sedikit pun dirinya dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya ketika ia mendapatkan begitu banyak dukungan dari orang lain di penampilan perdananya. Jika Jooyeon satu jam yang lalu melihat pemandangan ini, mungkin ia tidak akan percaya. Lamunannya harus buyar seketika saat pembawa acara memandunya untuk turun dari panggung.
Dengan wajah malu, Jooyeon tergesa-gesa turun dan menuju ke lorong belakang panggung. Ia berusaha mencari keberadaan sang pemilik gitar, namun tidak dapat ia temukan. Kemana perginya sang pemilik gitar yang menarik perhatiannya itu? Jooyeon berusaha bertanya kepada panitia yang berjaga, namun mereka tidak melihat Jiseok kembali ke belakang panggung. Jooyeon berkontemplasi pada dirinya sendiri, haruskah ia membawa gitar ini ke kelas Jiseok? Di tengah gemuruh pikirannya, sangat kebetulan yang luar biasa dirinya ingin pergi ke kamar kecil.
Sial. Kenapa harus dengan kondisi ia membawa gitar orang lain?
Peduli amat, pikirnya.
Jooyeon pun bergegas pergi ke kamar mandi. Namun hasrat buang airnya mendadak hilang saat ia menemukan si pemilik gitar sedang berdiri di depan cermin kamar mandi. Matanya tampak sembab seperti habis menangis hebat.
“Oi, amnesia,” panggil Jiseok.
“Gue?” tanya Jooyeon.
“Siapa lagi yang bawain lagu amnesia tadi kalau bukan lo?”
“Iya juga ya. Ini gitar lo, makasih ya, Jiseok…”
“Tanggung jawab lo.”
Jooyeon menatapnya dengan penuh kebingungan. “Tanggung jawab… apa ya?”
“Bisa gak kalau nyanyi jangan bikin orang sedih. Gue baru habis putus dari mantan gue, terus sekarang lo nyanyi lagu sedih! Terus mantan gue nonton lo tadi, dia jadi naksir lo! Tau gitu gue gak usah pinjemin gitar ke lo tadi,” ucap Jiseok tanpa jeda sedikit pun yang membuat Jooyeon panik.
“T-terus gue harus apa…”
“Entahlah. Nari saman kek, nari kecak kek, apa aja deh. Biar mantan gue gak naksir lo dan balikan ke gue!”
Aneh. Jiseok benar-benar aneh. Entah Jooyeon harus merasa panik, takut, geli, atau simpati, ia tidak tahu lagi. Melihat Jiseok dalam kondisi seperti ini merupakan perasaan yang terlalu kompleks dan sulit dimengerti oleh Jooyeon yang tidak pernah berhadapan dengan orang lain secara intens. Tanpa sadar ia terkekeh melihat air mata yang kembali mengalir di wajah Jiseok. Laki-laki di hadapannya sontak menatapnya dengan tatapan tajamnya.
“Ngapain ketawa?! Emang lo gak pernah diputusin sama pacar lo padahal baru pacaran seminggu?!” ucap Jiseok dengan penuh amarah.
“Gue gak pernah pacaran sih...”
“Kasian.”
“Kenapa kasian? Kan yang lebih kasian itu lo, karena diputusin padahal baru seminggu pacaran,” ucap Jooyeon dengan santainya yang ternyata tidak membuat suasana semakin membaik.
“Lo ngajak berantem ya?!”
“Nggak,” jawab Jooyeon masih dengan santainya.
“Dasar gak tau terima kasih!” ucap Jiseok sembari merebut gitarnya dari Jooyeon lalu melenggang pergi meninggalkan Jooyeon.
Namun belum sempat dirinya keluar dari toilet, Jooyeon kembali bersuara.
“Jiseok! Ayo beli pop ice sama sosis di depan sekolah! Gue yang bayar, karena lo udah minjemin gue gitar.”
Sesuai harapan Jooyeon, Jiseok berhenti berjalan. Tentu saja ia tidak langsung menoleh. Namun perlahan-lahan tubuhnya berbalik arah untuk berhadapan dengan Jooyeon. Tatapannya tidak setajam sebelumnya, ada sedikit harapan dan rasa senang yang mati-matian ia sembunyikan di baliknya. Ia berkacak pinggang lalu berbicara kepada Jooyeon dengan nada menantang.
“Cuma pop ice sama sosis aja? Gak ah, terlalu sedikit. Gak mau.”
“Iya, iya boleh yang lain juga… tapi jangan banyak-banyak… gue belum minta uang jajan lagi ke mama…”
“Oke, deal!” ucap Jiseok dengan penuh semangat. Kali ini wajah muramnya telah hilang, tergantikan oleh senyum lebarnya yang membuat Jooyeon tertegun.
Manis. Jiseok terlihat begitu manis saat tersenyum lebar. Aneh. Perasaan ini begitu aneh. Ia ingin melihat senyum Jiseok lebih lama lagi. Ia ingin membuat Jiseok tersenyum dan tertawa lebih banyak lagi. Apa yang harus ia lakukan? Perasaan macam apa ini? Sial. Ia tidak mengerti sama sekali. Namun jika ia harus mengorbankan uang jajannya yang tidak seberapa itu untuk membuat Jiseok tersenyum, ia tidak masalah.
“Kok lo bengong sih?! Gue bilang, gue tunggu lo nanti pulang sekolah. Lo harus tepatin janji lo!”
“Iya. Gue bakal tepatin janji gue.”
Saat Jiseok melenggang pergi meninggalkan Jooyeon sendiri, kakinya mendadak terasa lemas. Ia kira jatuh cinta akan terjadi seperti di film-film, dimana pasangan tersebut saling bertabrakan lalu jatuh dan menatap mata satu sama lain hingga keduanya jatuh cinta. Tapi antara dirinya dan Jiseok tak ada satu pun adegan tersebut yang terjadi di antara mereka. Alih-alih keduanya saling melontarkan ejekan satu sama lain. Namun hal tersebut yang membuat Jooyeon semakin ingin mengetahui Jiseok.
Pertama kali Jooyeon jatuh cinta, ia jatuh cinta dengan cara yang paling tidak biasa.
