Work Text:
Kapan terakhir kali rasanya James panik dan kelimpingan akan hal-hal seperti ini???
Bagaimana bisa, Martin, kekasihnya, tidak membalas pesan James sudah dua hari lamanya. Terdengar berlebihan namun ini baru pertama kali bagi James.
Pada awalnya James tidak ambil pusing kemarin saat Martin tidak mengabarinya seharian penuh karena James tau seminggu sebelumnya Martin bilang akan liburan bersama teman-temannya untuk ke menginap keluar kota selama tiga hari dan kemarin, merupakan hari terakhir.
Hari pertama, James menerima banyak foto pemandangan yang dikirimkan oleh kekasihnya. Kemudian saat malam pun, mereka sempat video call selama satu jam lebih untuk bertukar kabar dan berbagi informasi kegiatan keseharian.
Setelah itu keeseokan harinya pun sama, James menerima 10 bahkan lebih foto-foto yang menampilkan hal-hal yang dilihat Martin selama liburan. Dan adapun pesan Voice Note juga yang berisikan rengekan Martin tentang betapa terik matahari siang dan betapa kulitnya berubah kemerah-merahan. Dan banyak pesan-pesan tak penting lainnya.
Kemarin, di hari terakhir liburan, tidak ada satupun kabar dari Martin. James mencoba menghubungi beberapa kali, walaupun sedikit khawatir karena teleponnya tak diangkat, dia tak terlalu pusing karena dia yakin akan diberi kabar keesokan harinya.
Mungkin sibuk dalam perjalanan pulang, pikir James.
Namun hari ini tak tetap tak ada satupun kabar dari Martin. Serta nomor ponselnya tak aktif. Genap dua hari Martin tak memberikan kabar padanya. Jangka waktu sebentar namun terasa lama karena mereka tak pernah sehari pun tanpa bertukar kabar.
Hal tersebut membuat James panik kepikiran.
Apakah kendaraan yang ditumpangi Martin dan yang lain terjadi sesuatu?
Apakah benar Martin sudah pulang kemarin?
Apa yang mungkin terjadi?
James berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air untuk diminum. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Belum terlalu larut, biasanya Martin akan menelponnya di jam-jam ini.
Dibuangnya pikiran jelek yang menghampiri.
Apakah Martin dan kawan-kawan menambah waktu untuk berlibur?
Namun jika memang begitu, harusnya tak masalah untuk mengabari James, kan?
James mengambil ponselnya di kantong celana, berusaha untuk mencari kontak teman-teman Martin di ponselnya.
Martin. Martin. Martin.
Sial, bagaimana bisa dia tak memiliki satupun kontak dari teman-teman Martin.
Kemudian dibukanya Instagram untuk mencari info dari sana.
Sayangnya, James juga tak pernah mengikuti akun sosial media temannya Martin.
Apa ini? Kenapa rasanya James seperti pacar yang buruk?
Dilihatnya jumlah pengikut dan yang mengikuti Martin. Hm terlalu banyak.
Kemudian ditelusuri foto-foto yang diupload Martin, tak ada satupun nama-nama yang dikenalnya di postingan penanda yang diupload Martin. Tampaknya mereka bukan teman yang sama. Atau bukan?
Ah dia malas berasumsi lagi. Kepala James pusing.
Daripada menghabiskan waktu untuk menyusuri satu persatu dari ratusan pengikut Martin, lebih baik James mendatangi langsung indekos Martin. Dan menyaksikan dengan kepala sendiri mengenai kabar kekasihnya itu.
Setelah memutuskan untuk mengunjugi Martin, James mengganti pakaiannya, celana pendek menjadi jins panjang dan mengambil jaket yang cukup tebal. Dia akan langsung datang saja ke kos pacarnya.
James mengambil kunci motor yang tergantung dan segera keluar kamar. Tak lama dari itu dia memanaskan motornya sebentar kemudian kembali mengunci pintu kosnya.
James segera menjalankan kendaraannya dan membelah jalan pada larut malam ini, dia hapal betul lokasi yang ingin dituju nya karena sempat beberapa kali mengunjungi.
Jarak tempuh dari kos James dan Martin sekitar 10 menit perjalanan.
Apa yang akan James katakan jika bertemu Martin. Ah itu tak penting. Bagaimana jika dia sampai di sana dan Martin tidak ada di kosan?
Setelah memastikan motornya telah terkunci stang dan aman, dia memarkirkan motornya di depan gerbang kos-kosan Martin dengan rapi. Semoga tak ada yang terganggu dengan kendaraannya.
James segera membuka pagar dan menutupnya kembali, dia menemukan beberapa orang yang masih duduk-duduk di depan kamar sambil melakukan aktivitas.
“Eh gua nitip motor gua didepan sebentar ya. Gua mau ke kamar Martin.” Ujar James kepada salah satu pemuda disana yang pernah dilihatnya beberapa kali saat mengunjungi Martin.
“Oh iya bang,”
James segera menuju kamar Martin yang terletak di kamar terujung dari koridor.
Lampu kamar Martin gelap dan tak ada suara dari dalam. Apakah tidak ada Martin didalam?
James mengetuk pelan pintu kamar. Tak ada jawaban, kemudian di telponnya kembali ponsel kekasihnya.
Masih tak aktif.
James mencoba untuk untuk membuka pintu kamar dan ternyata tak terkunci.
Dibukanya lebih lebar pintu kamar itu dan membiarkan cahaya masuk lebih kedalam kamar.
Ditemukannya Martin bergelung diatas kasur dengan selimut menutupi keseluruhan tubuhnya dan hanya menampilkan rambutnya.
Rasa panik menyergap James dan menjalar keseluruh tubuh.
Dengan langkah pelan, James menuju sakelar lampu yang berada dekat dari posisinya sekarang dan menghidupi lampu kamar.
Setelah lampu kamar hidup, terlihat barang-barang Martin berserakan di lantai dan juga tas besar yang dibawa Martin saat liburan kemarin juga berada di pinggir kasur.
Setelah memastikan ada gerakan dari tubuh Martin yang berbaring meringkuk tersebut. Kemudian James menutup pelan pintu kamar Martin.
Dihampirinya Martin dan duduk di pinggir kasur.
“Martin.” panggil James sambil menyentuh pundak kekasihnya.
Gerangan kecil keluar dari mulut Martin.
“Martin bangun.” kembali di tepuk pelan pundak Martin.
Tak lama kemudian Martin menggerakan badannya dan meurunkan selimut yang menutupi kepalan dan menyesuaikan pandangan matanya dengan cahaya lampu kamar.
Setelah tersadar bahwa ada Kekasih hatinya di kamar, Martin langsung duduk berdiri kemudian di tahan James untuk tetap berbaring.
James meletakkan jemari nya ke dahi Martin. Panas.
“Kamu kapan sampe kos nya?”
“Tadi siang.” jawab Martin dengan suara serak.
James segera bangun dan mengambil segelas air untuk Martin.
“Makasih kak.” ujar Martin setelah menerima segelas air.
James ingin marah namun ditahan karena kekasihnya tampak seperti masih linglung.
“Hape kamu mati.”
“Ah iya kah? aku lupa taruh dimana, aku sampe kos langsung istirahat.”
Martin mengangkat selimutnya dan mencari-cari letak ponselnya. Seingatnya dia taruh di atas kasur sebelum tidur.
Setelah menemukan ponselnya dibawah bantal, Martin segera memberikan ponselnya ke James yang masih berdiri disamping kasur Martin.
“Ck.” James segera mengambil ponsel Martin dan mencoba mengakifkannya. Benar, ponsel Martin mati.
James menuju meja belajar Martin yang terdapat colokan dan juga charger ponsel Martin.
“Kamu kapan terakhir makan? Badan kamu panas.” tanya James sambil duduk di kursi.
Martin telah duduk di atas kasur, tampilannya berantakan,
“Sebelum berangkat tadi udah makan dulu kok.”
James segera berpindah ke kasur Martin untuk duduk lebih dekat.
“Kamu liburannya lebih dari tiga hari? Kok ga ngabarin aku?” Ujar James sambil memegang tangan Martin.
Martin menyenderkan kepalanya pada bahu James, “Engga kok, aku cuma tiga hari. Tadi pagi aku berangkat buat pulang nya.”
“Martin. Ini tanggal 12, kamu bilang kamu pulang tanggal 11.”
“……. emang ini tanggal 12?” tanya Martin lirih, nafas panasnya terhembus ke leher James.
“Kamu ngga ngabarin aku dua hari.”
“Uh?? aku ga tau….”
“Kamu udah ngerasa sakit dari kapan?”
“Dari pagi sebelum pulang aku mual terus gantian bawa mobilnya sama yang lain. Terus setelah nganterin mereka pulang satu persatu baru aku balik ke kos. Terus langsung istirahat.”
Dari jawaban tersebut Martin terdengar jujur, maka dari itu James membuka ponselnya untuk membuka aplikasi pesan antar. Martin harus segera makan untuk kembali istirahat.
“Aku mau pesen makanan sama obat.” ujar James sambil mencari-cari bubur atau makanan yang buka semalam ini.
“Kamu ngerasa sakit apa lagi selain demam?”
“Pusing sama tenggorokannya kering.”
James menghembuskan nafasnya pelan, tak ingin terdengar sedang marah. Bagaimana dia tak marah, kekasihnya tidur dua hari lebih dengan keadaan sakit. Jika dia tak nekat datang ke sini, apa yang akan terjadi pada Martin?
Bagaimana bisa teman-teman Martin tak ada yang mengeceknya? Martin tak keluar kamar selama dua hari!
“Martin, kamu udah tidur lebih dari dua puluh empat jam lebih. You made me worried to death.”
“Maaf.” lirih Martin.
Setelah memesan makanan dan obat pereda demam dan panas, James menyuruh Martin untuk berbaring kembali. Namun Martin tak bergeming dan tetap pada posisinya sambil memintil jaket James.
“Aku mau ambil hape kamu. Kamu harus ngecek hape kamu siapa tau Mama sama Papa nyariin.”
Setelah memastikan Martin makan dan minum obat serta telah mengabari kedua orang tuanya mengenai kemana saja Martin dua hari terakhir hilang tanpa kabar, James ingin kembali ke kosannya.
Jam menunjukkan pukul satu malam.
James berdiri dan mengambil kunci motornya, Martin yang melihat itu mendongak dan menatap kekasihnya bingung,
“Aku mau pulang.” ujar James.
“Can you stay?” pinta Martin dengan mata memelas.
Tak ada jawaban dari James,
“We can sleep together.”
Sambil memikirkan apa sebaiknya dia tetap di sini atau pulang, kantuk James datang sehingga dia menguap.
Ya, sebaiknya dia menginap. Terlalu bahaya untuk pulang dalam keadaan mengantuk. Dan juga besok kelasnya di siang hari, jadi dia masih punya waktu untuk bersiap sebelum kelas.
“Okay, i’ll stay.” Ujar James. Kemudian dia menanggalkan Jaket denim yang dipakainya dan mengambil celana boxer dari lemari Martin.
James telah mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual untuk tidur dan ingin mengunci pintu kamar Martin. Motornya sudah dia letakkan di parkiran dalam kosan Martin agar tak hilang.
Martin yang melihat James menggunakan terlihat sangat kasual dalam kos-kosannya tersipu malu. Ah, dia tak sabar ingin memeluk kekasih hatinya, namun dia takut akan menyebarkan virus. Apakah demam bisa menular??? Semoga tidak.
Kemudian Martin teringat bahwa dia tak ada kabar selama dua hari. Dia tak bisa membayangkan seberapa kalut kekasih hatinya. Apa yang ada dipikiran James saat Martin tak ada kabar tersebut? Apalagi mengetahui kabar terakhir yang dikirim Martin adalah pamitan dan info kalau dia sedang di jalan pulang.
James datang ketempatnya dan mendapati dirinya dalam keadaan sakit. Tanpa ocehan atau rengekan, James malah menunjukkan kasih sayangnya dengan mengurus dan menjaganya.
Pengorbanannya untuk datang di jam sebelas malam hanya untuk memastikan kekasih hatinya benar-benar masih hidup. Perasaan Martin membuncah, dia benar-benar menyayangi kekasih hatinya.
“Thank you,” ucap Martin kecil.
Bagaimana bisa Martin kedapatan jackpot seperti ini? Pacar yang tampan, keren, perhatian dan terlalu menyayanginya. Semua kriteria pacar yang ideal semua di ambil James. Bagaimana ini? Apakah Martin layak untuk James?
Dengan pemikiran melankoli itu, air mata Martin keluar dari ujung-ujung matanya.
James membalikkan tubuhnya setelah memastikan pintu kamar Martin terkunci dan lampu padam, kemudian dalam keadaan gelap dia melihat mata kekasih hatinya berkaca-kaca, James sedikit panik dan segera menghampirinya dan duduk di kasur.
“You okay?” tanya James.
Air mata Martin keluar lebih deras saat mendengar nada khawatir pacarnya.
“Can you hug me kak?”
“Yes, of course. Jelasin kenapa kamu nangis. Kepala kamu tambah pusing kah?” tanya James sambil menarik Martin kedalam pelukannya.
“Ngga sakit, cuma….. aku sayang kakak……”
Mendengar hal tersebut James terkekeh kecil, “ Okay. I love you too. Jangan nangis nanti tambah pusing.”
James mengambil air putih yang ada didekatnya tanpa melepas pelukan Martin.
Setelah memastikan Martin minum dan tidak mengeluarkan air mata lagi. James menaruh kembali gelas tersebut dan mengelap bagian mata Martin yang basah.
Dikecupnya pelan area wajah Martin. Tiny baby. Kekasih hatinya yang kecil namun sangat besar ini sangat lucu dan meggemaskan.
“Can we sleep now?” tanya James, yang dijawab anggukan oleh Martin.
Kemudian mereka berbaring, James membenahi selimut untuk menutupi dirinya dan Martin. Setelah dirasa cukup nyaman, James menghadap ke arah Martin.
“Oke, sekarang tidur.”
“Aku meluk kakak gapapa ya?”
“Heem.”
Lima menit dalam keadaan sunyi, Martin memeluk pinggang ramping kekasih hatinya, dan James membenamkan kepala Martin ke lehernya. Nafas mereka teratur dan berirama.
Martin merasa dirinya sedang berada di langit tertinggi, rasanya sangat menyenangkan memiliki kekasih hati seperti James.
Just close your eyes
You'll be alright
Come morning light
You and I'll be safe and sound
