Chapter Text
Dulu, dunia itu hanya sebatas pagar kayu berwarna putih yang tingginya tidak seberapa. Di matanya, pagar itu adalah titik paling penting. Sebabnya, di balik pagar itu ia bisa melihat sang sahabat yang tengah berjongkok di tanah.
Tangannya tampak penuh dengan cat warna-warni yang mengotori, bahkan seluruh pakaiannya. Kakinya kecilnya melangkah masuk ke dalam, melewati celah pintu pagar yang tak pernah benar-benar dikunci. Ia berdiri tepat di belakang sang sahabat, mencoba memahami gumpalan warna yang ada di hadapannya.
"Lili, jangan main tanah terus. Nanti kuku kamu item-item, susah dibersihinnya."
Suara itu terdengar, Lili—nama yang di panggil membuat si empu seketika menolehkan kepala. Di belakangnya berdiri sosok anak kecil yang tengah menggenggam dua batang es krim yang masih terbungkus.
Ia ikut berjongkok, memperhatikan bagaimana sahabatnya yang sibuk mencoret-coret sesuatu di atas kain putih.
"Nira! liat aku bikin apa." ujarnya riang, ketika sahabatnya ikut berjongkok di sebelahnya tetapi memberi jarak.
Dahinya membentuk semburat kerutan halus, matanya yang bulat menatap lurus ke arah kain yang kini tak lagi putih, melainkan penuh dengan sapuan warna biru dan merah yang bertabrakan. Ia menyodorkan salah satu es krim itu ke arah Lili, namun tangannya ditarik kembali saat menyadari jemari sahabatnya masih basah oleh cat.
"Jangan dipegang dulu, tangan kamu kotor," ujarnya pelan. Nira kemudian merobek bungkus es krimnya sendiri dengan hati-hati, lalu kembali menoleh ke arah kain tadi. "Itu gambar apa? kucing?"
Lili menggeleng kuat, membuat beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan ikut bergoyang. "Bukan! itu aku lagi nyoba bikin baju. Nanti kalau Nira udah jadi dokter, bajunya harus ada warna biar gak bosen."
Nira terdiam sebentar, menatap kain penuh noda itu dan sosok Lili bergantian. Ada sedikit rasa geli yang menggelitik hatinya, namun ia hanya mendengus kecil sambil menyodorkan ujung es krim ke arah mulut Lili agar sahabatnya itu bisa mencicipi tanpa harus mengotori bungkusnya.
"Mana ada baju dokter warna-warni kayak pelangi gitu, Li." sahutnya pelan, tangannya yang bebas bergerak menyeka setetes cat yang hampir mengenai hidung mungil Lili. "Tapi... ya boleh deh, simpen aja dulu kainnya."
lili seketika mengulas senyum lebar, mantanya menyipit hingga membentuk bulan sabit yang cantik. Ia menerima suapan es krim dari Nira dengan riang, sama sekali tak menyadari kalau Nira menghafal bagaimana cara Lili tertawa.
●
●
●
●
●
Tujuh tahun berlalu, dan pagar putih itu tetap menjadi saksi bisu pertumbuhan mereka. Namun, musim panas di usia tiga belas tahun membawa hening yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Lili masih bisa mendengar segalanya. Ia bisa mendengar suara deru mobil di kejauhan, suara kicau burung di dahan pohon mangga depan rumah, dan yang paling penting-ia masih bisa mendengar suara berat Nira yang memanggil namanya. Hanya saja, ia tidak lagi bisa membalasnya.
Penyakit itu datang tanpa permisi. Awalnya hanya serak biasa, namun perlahan suara riang yang selalu memecah suasana itu menghilang sepenuhnya setelah meja operasi menjadi titik balik hidupnya. Pita suaranya menyerah, meninggalkan Lili dalam sunyi yang abadi.
Sore itu, Nira datang dengan langkah yang lebih berat. Ia tidak membawa es krim, melainkan sebuah buku saku tebal berisi panduan bahasa isyarat dan sebuah papan tulis kecil. Ia menatap Lili sedang duduk di kursi teras, menatap kosong ke arah bunga-bunga yang tertanam di halaman depan.
Nira ikut duduk di sebelahnya, memberi jarak yang sama seperti saat mereka masih kecil. Ia tidak bertanya, karena ia tahu jawabannya tidak akan pernah keluar dari bibir itu.
"Li," panggil Nira pelan.
Lili menoleh, netranya yang bulat masih sama, namun sorot matanya tampak berbeda. Ia tidak lagi menyahut dengan nada tinggi, ia hanya menatap sang sahabat dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Nira membuka buku di tangannya, jemarinya yang panjang bergerak kaku mengikuti gambar yang tertera di sana. Ia menggerakkan tangan kanannya, menguncupkan jari-jemari lalu menyentuh dagunya sendiri sebelum mengarahkannya pada Lili.
Terima kasih.
Lili tertegun. Ia tahu itu adalah isyarat pertama yang Nira pelajari, buru-buru ia mengambil papan tulis kecil di sampingnya dan menuliskan sesuatu dengan tergesa.
(Nira bego. Itu artinya makasih bukan halo)
Nira terdiam sebentar, menatap tulisan itu lalu mendengus kecil. "Tau, makasih karena kamu masih mau ngeliat aku, walaupun aku belum pinter bahasanya."
Lili tertawa tanpa suara, bahunya hanya berguncang pelan. Ia kembali menulis di papan itu, menunjukkan pada Nira dengan senyuman yang terpatri.
(Belajar yang bener. Nanti kalau Nira jadi dokter, siapa yang mau nerjemahin omongan aku?)
Nira menatap kalimat itu lama. Ia lalu meraih tangan Lili, menggenggam jemarinya dengan erat. "Nggak perlu ada yang nerjemahin, aku bakalan jadi suara kamu selamanya."
Lili hanya bisa tersenyum lebar hingga mata yang membentuk bulan sabit itu kini muncul kembali. Ia menerima kenyataan bahwa meski dunia merampas suaranya, nyatanya, Nira tetap bersamanya-belajar mengeja setiap isyarat yang tercipta dari jemarinya.
●
●
●
●
●
"Kavi?"
Ia tersentak dari alam bawah sadarnya, mendengar suara yang memanggil namanya—Kavilion, yang kerap di sapa Kavi—menoleh ke sumber suara. Di sebelahnya terdapat seorang laki-laki yang memanggilnya, namanya Jiksa, ia menyunggingkan senyum ketika melihat Kavi yang tampak kebingungan.
"Ayo, kelasnya udah selesai," ujarnya.
Kavi menghela napas, ia mengangguk pelan dan perlahan mulai memasukan barang-barangnya. Matanya menyapu sekitar yang sudah mulai kosong, satu persatu teman-temannya mulai berhamburan keluar kelas.
"Kamu mau pulang bareng aku, atau nungguin Seven?" tanya Jiksa memastikan, meskipun ia tahu jawabannya.
Kavi yang sudah selesai dengan urusan barangnya, jemarinya bergerak lincah di depan dada, membentuk pola-pola yang sudah sangat akrab bagi Jiksa.
(Aku pulang sama Seven, Jiksa. Tadi pagi udah janji)
Jiksa mengangguk mengerti, ia menyunggingkan senyum maklum lalu beranjak dari kursinya, mengajak Kavi untuk keluar kelas bersama. Langkah mereka beriringan menyusuri koridor kampus yang mulai ramai dengan mahasiswa yang ingin segera pulang.
Tepat di persimpangan koridor arah parkiran fakultas, Jiksa menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Kavi, menatap sahabatnya itu dengan sorot mata yang sedikit ragu seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu.
"Kavi, aku duluan ya," pamit Jiksa. Namun, ia tidak langsung pergi. Ia menahan pundak Kavi sebentar, memberikan tatapan yang lebih serius. "Kalau nanti Seven belum dateng atau tiba-tiba gak bisa, chat aku aja ya? siapa tau dia sibuk di lab terus lupa lagi jemput kamu."
Kavi tertegun sejenak, namun kemudian ia menyunggingkan senyum kecil dan mengangguk pelan. Tangannya melambai singkat ke arah Jiksa yang akhirnya benar-benar pergi menjauh.
Setelah punggung Jiksa menghilang di belokan, Kavi menghela napas. Ia berjalan perlahan menuju bangku panjang di pinggir selasar, tempat biasa Seven menjemputnya.
Sambil menunggu, Kavi mengeluarkan ponselnya, jarinya menari di atas layar untuk membuka ruang obrolan dengan Nira—nama yang masih ia simpan dengan sebutan itu sejak dulu.
[Nira, kelas aku udah selesai. Kamu di mana?]
Kavi menatap pesan itu. Centang dua abu-abu. Ia tahu Nira pasti masih sibuk dengan jurnal atau praktikum anatominya yang tidak ada habisnya. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit siang yang begitu terik, sama persis seperti warna langit di balik pagar putih rumah mereka sepuluh tahun yang lalu.
Dulu, Nira adalah orang yang belajar bahasa isyarat paling giat agar Kavi tidak merasa sendirian. Tapi sekarang, saat dunia kedokteran mulai menyita seluruh waktu laki-laki itu, Kavi seringkali bertanya-tanya dalam diam.
Apakah Nira masih sanggup menjadi "suaranya" di tengah riuhnya jadwal kuliah yang menggila?
Kavi memejamkan mata sebentar. Ia tidak takut menunggu, ia hanya takut jika suatu saat nanti, Nira benar-benar terbiasa tanpa kehadirannya di kursi sebelah mobilnya.
Suasana riuh laboratorium anatomi baru saja mereda. Seven menghela napas panjang, melepas jas putihnya dengan gerakan yang tampak lelah. Bahunya terasa kaku setelah berjam-jam berkutat dengan literatur medis yang seolah tidak ada ujungnya.
"Seven, mau ikut nongki bentar gak? anak-anak mau nyari makan di depan," celetuk temanya—Weiko sambil menyampirkan tasnya di bahu.
Di sebelahnya, Juwita—perempuan itu ikut menoleh, menanti jawaban dari laki-laki yang dikenal paling disiplin di angkatan mereka itu.
Seven menggeleng pelan sambil merapikan isi tasnya. "Gak dulu. Gue langsung pulang."
"Tumben amat, biasanya lu masih mau diskusi di perpus," sahut Juwita heran.
"Pacar gue biasanya langsung pulang. Kasihan kalau kelamaan nunggu."
Mendengar itu, Weiko dan Juwita hanya bisa saling lirik lalu mengangguk maklum. Mereka sudah hafal jika Seven sudah menyebut kata 'pacar', berarti tidak ada negosiasi lagi.
"Yaudah, salam buat si Kavi. Kita duluan ya," ujar Juwita, dihadiahi anggukan oleh Seven.
Setelah teman-temannya menjauh, Seven merogoh saku celananya, mengambil ponsel yang sejak tadi ia abaikan karena tuntutan praktikum. Matanya menangkap satu notifikasi pesan dari Kavi.
[Nira, kelas aku udah selesai. Kamu di mana?]
Jari Seven bergerak cepat membalas pesan itu.
[Aku jalan ke sana sekarang. Tunggu bentar]
Ia segera melangkah, membelah kerumunan mahasiswa dengan langkah-langkah lebarnya. Pikirannya melayang pada Kavi, apakah laki-laki itu sudah makan? apakah dia bosan menunggu di selasar yang panas itu? Rasa bersalah selalu merayap tiap kali Seven tersadar betapa dunianya sekarang seringkali membuat ia terlambat untuk Kavi.
Begitu sampai di area selasar, mata Seven langsung menangkap sosok yang ia cari. Kavi duduk di bangku panjang itu, namun kepalanya tampak tertunduk sedikit miring dengan mata yang terpejam rapat. Buku sketsa di pangkuannya nyaris merosot, tertahan oleh jemari yang lemas karena kantuk yang tak tertahankan.
Seven berjalan mendekat, langkahnya mendadak melambat agar tidak menimbulkan suara yang mengejutkan. Ia berdiri tepat di depan Kavi, membiarkan bayangan tubuhnya menutupi silau matahari yang mengenai wajah sang kekasih.
Napas Kavi terdengar teratur, sangat tenang di tengah hiruk-pikuk kampus. Seven berjongkok di hadapan Kavi—posisi yang sama persis seperti saat mereka masih kecil di balik pagar putih—memperhatikan bagaimana bulu mata Kavi yang lentik itu diam tak bergerak.
Seven diam sebentar, ia tidak langsung membangunkan. Ia lebih memilih memperhatikan wajah tenang Kavi yang terkena sinar matahari siang. Tangannya terangkat, pelan-pelan ia menyentuh pipi Kavi, mengusapnya lembut dengan ibu jari agar sang empu sadar akan kehadirannya.
"Li..." bisik Seven, hampir tak terdengar.
Kavi bergerak sedikit, mengerjap pelan sebelum akhirnya netra bulatnya bertemu dengan Seven yang tengah tersenyum. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun senyum tipis langsung terulas di bibirnya saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
Tanpa suara, Kavi menggerakkan tangannya yang masih lemas karena bangun tidur, membentuk isyarat yang sangat sederhana.
(Nira... lama.)
Seven mendengus kecil, namun tangannya tetap berada di pipi Kavi, ibu jarinya mengusap kulit halus itu. "Maaf. Tadi ada kuis dadakan. Ayo pulang."
Seven membantu Kavi berdiri, memastikan tas dan buku sketsa milik kekasihnya itu sudah terpegang dengan aman. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, dengan tangan Seven yang merangkul bahu Kavi.
Begitu sampai di depan mobil, Seven melakukan kebiasaan lamanya. Ia membukakan pintu untuk Kavi, menunggu sampai laki-laki itu duduk nyaman sebelum ia menutupnya perlahan dan berjalan memutar menuju kursi pengemudi.
Suasana di dalam mobil sempat hening, hanya suara mesin yang menderu halus. Seven tidak langsung menjalankan mobilnya, ia justru memutar tubuh menghadap Kavi yang tengah memasang sabuk pengaman.
"Gimana hari kamu sekarang?" tanya Seven pelan.
Sebuah pertanyaan sederhana, rutinitas lama yang tak pernah alpa ia tanyakan sejak mereka masih berada di taman kanak-kanak.
Kavi menoleh, senyumanya mengembang. Ia meletakkan ponselnya di atas pangkuan, lalu tangannya mulai bergerak lincah membentuk isyarat.
(Seru, Nira! tadi di kelas desain, dosennya muji pemilihan warna aku. Katanya makin berani)
Seven tertawa kecil, tangannya bergerak mengusap surai Kavi pelan. "Kamu emang harus di puji, soalnya jadi pacar aku."
Kavi memanyunkan bibirnya, tangannya kembali bergerak. (Apa sih, gak nyambung. Oh iya, kamu sendiri gimana? kuisnya susah?)
Seven menghela napas, menyandarkan punggungnya ke jok mobil sambil menatap Kavi dengan sorot mata yang melunak. "Lumayan. Anatomi nggak pernah bercanda. Tadi sempet pusing, tapi pas liat kamu, pusingnya hilang."
Mendengar itu, pipi Kavi sedikit bersemu merah. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, mencoba menyembunyikan senyuman sebelum kembali menatap Seven dan menggerakkan tangannya lagi.
(Gombal. Makanya jangan telat lagi, nanti aku diambil orang, baru tau rasa)
Seven mendengus, jemarinya bergerak mencubit hidung Kavi dengan gemas. "Gak bakalan aku biarin." ujarnya. "Mau langsung pulang?"
Kavi tampak berpikir sejenak, lalu ia membuat isyarat berbentuk lingkaran di depan perutnya. Tangannya kembali bergerak.
(Laper, mau makan mi ayam depan komplek aja, boleh?)
"Apapun buat kamu, Lili," sahut Seven lembut.
Ia akhirnya mulai menjalankan mobilnya, membelah jalanan kampus dengan satu tangan yang sesekali meraih jemari Kavi di atas konsol tengah, menggenggamnya erat.
Mobil Seven berhenti tepat di depan gerbang rumah Kavi setelah mereka selesai makan. Sebenarnya, Seven hanya perlu memajukan mobilnya beberapa meter lagi untuk sampai di depan rumahnya sendiri, karena memang sejak dulu pagar kayu putih itu menjadi pembatas antara dua dunia mereka.
Sore ini Seven rasanya enggan untuk langsung berpisah. Kuliah kedokteran yang memuakkan itu membuatnya ingin mencuri waktu lebih lama di dekat Kavi.
Mereka turun dari mobil, berjalan beriringan masuk ke dalam teras rumah yang suasananya masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Kavi dan Seven mulai melepas sepatu, menatanya dengan rapi di rak kayu yang terletak di samping pintu utama.
Begitu pintu terbuka, Seven tidak langsung masuk dengan sopan selayaknya tamu, ia justru menarik napas panjang dan berteriak kecil.
"Ibuk! Lili udah pulang!"
Suaranya menggema di ruang tengah. Seven memang sudah dianggap seperti anak sendiri di rumah ini, jadi berteriak memanggil ibu Kavi bukan lagi hal yang tabu baginya.
Kavi yang berdiri di sampingnya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan pacarnya itu. Ia menyenggol lengan Seven, memberikan tatapan seolah berkata untuk tidak berisik lewat kerutan di dahi.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang tergesa dari arah dapur. Seorang wanita paruh baya dengan celemek yang masih terikat di pinggang muncul dengan wajah sumringah.
"Ya ampun, Seven!" seru ibu Kavi, matanya berbinar melihat sosok tinggi yang kini berdiri di depan pintunya. Ia segera mendekat, mengabaikan Kavi sejenak hanya untuk menepuk bahu Seven dengan sayang.
"Ibuk kira kamu nggak bakal mampir lagi. Mentang-mentang udah jadi calon dokter, sibuk terus ya sampai lupa main ke sini?
Seven terkekeh, ia meraih tangan ibu Kavi dan mencium punggung tangannya dengan hormat. "Nggak lupa kok, buk. Memang jadwal di kampus lagi gila-gilaan aja. Ini mumpung kuisnya udah kelar, jadi mau numpang istirahat bentar di sini."
Kavi hanya memperhatikan interaksi itu dengan senyum kecil. Ia merasa sedikit hangat melihat bagaimana Seven masih diterima dengan begitu baik di rumahnya, seolah waktu tidak pernah merubah apa pun sejak mereka masih kecil.
"Bagus kalau gitu! pas banget ibuk baru selesai bikin cemilan. Ayo masuk, masuk! Lili, ajak Nira-mu itu ke ruang tengah ya," ujar ibu Kavi sambil menepuk lengan Kavi pelan.
Kavi mengangguk, jemarinya bergerak memberikan isyarat pada ibunya.
(Iya, buk. Nanti bawain minum yang dingin ya buat Nira, dia tadi pusing habis kuis)
Ibu Kavi tersenyum mengerti. Meskipun anaknya tidak lagi bisa bersuara, sang ibu sudah sangat mahir membaca setiap gerak jemari Kavi. "Iya, bawel. Sana, temenin Seven dulu."
Kavi lalu menoleh ke arah Seven, menarik ujung kemeja laki-laki itu sambil menggerakkan kepalanya, mengajak Seven untuk masuk lebih dalam ke rumah yang selalu menjadi saksi bisu perjalanan mereka dari sahabat hingga menjadi sepasang kekasih.
Seven mengekor di belakang Kavi menuju ruang tengah. Begitu dirinya menyentuh sofa yang empuk itu, Seven langsung menyandarkan kepalanya ke bahu sofa sambil memejamkan mata.
Kavi yang melihat itu merasa sedikit kasihan. Ia berjalan ke arah dapur sebentar, lalu kembali dengan sebuah bantal kecil di tangannya. Ia menyentuh bahu Seven pelan.
Seven membuka mata, lalu tersenyum tipis saat Kavi meletakkan bantal itu di pangkuannya sendiri. Kavi memberikan isyarat dengan kepalanya, menyuruh Seven tidur di sana.
"Tidur di sini?" tanya Seven memastikan.
Kavi mengangguk mantap. Ia duduk di sofa, lalu menepuk-nepuk pahanya yang sudah dialasi bantal. Tanpa perlu disuruh dua kali, Seven merebahkan kepalanya di sana. Posisi ini membuat Seven bisa menatap wajah Kavi dari bawah.
Kavi mengulas senyum, jemarinya bergerak lincah.
(Nira, kalau kamu capek, tidur aja bentar. Nanti kalau ibuk udah bawain minum aku bangunin)
Seven meraih salah satu tangan Kavi, menggenggam jemari yang tadi bergerak itu lalu mencium telapak tangannya lama. "Makasih ya, Li. Maaf ya hari ini aku telat terus jemputnya."
Kavi hanya menggeleng, tangannya yang bebas bergerak mengusap rambut Seven, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi dahi sang kekasih. Sensasi usapan lembut itu semakin membuat Seven merasa ingin tidur, matanya perlahan mulai berat.
"Li..." panggil Seven pelan, suaranya sudah mulai serak karena hampir terlelap.
Kavi menaikkan alisnya, menatap Seven dengan tatapan bertanya.
"Isyarat buat 'sayang' itu gimana?" tanya Seven sambil menatap mata Kavi dalam.
Kavi tertegun sebentar, pipinya merona. Ia lalu melepaskan tangannya dari rambut Seven, menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu menunjuk ke arah Seven.
Seven memperhatikan gerakan itu dengan saksama. Ia lalu mencoba menirunya dengan gerakan kaku, menyilangkan tangannya di depan dada lalu menunjuk balik ke arah Kavi.
"Gini?" tanya Seven.
Kavi mengangguk cepat, senyum bulan sabitnya muncul lagi.
"Sayang kamu, Lili," gumam Seven sebelum benar-benar memejamkan mata, membiarkan keheningan rumah Kavi menyerap semua lelahnya sore itu.
Kavi terdiam, ia tidak bisa membalas dengan suara, tapi ia menundukkan kepalanya sedikit lalu mengecup dahi Seven dengan sangat lembut. Dalam hati ia hanya berharap, semoga Seven tidak akan pernah lupa kalau di balik isyarat tangannya, ada banyak kata "sayang" yang ingin ia teriakkan setiap harinya.
