Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-14
Words:
882
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
36
Hits:
318

Honey On Your Lips

Summary:

“cantik banget lu, jadi pingin gua cium.”
Martin cuma keceplosan.

masalahnya, Juhoon malah ngasih izin.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Hari ini Juhoon dan Martin lagi ngerjain tugas kelompok mereka bikin mading buat lomba ulang tahun sekolah. Mereka berdua yang mewakili kelas untuk lomba mading nya.

‎Kini mereka hanya berdua sedang berada di ruang tamu rumah Martin. Rumah Martin memang selalu sepi karena orang tuanya sibuk bekerja, dan Martin terbiasa tinggal sendiri.

‎Orang tuanya pun ga masalah dengan Martin yang sering membawa teman-temannya kerumah, asalkan Martin tidak kesepian.

‎Sebagian mading sudah selesai mereka buat, hanya tinggal menempelkan nya saja dan itu bisa dilanjutkan besok di sekolah dibantu dengan teman-teman kelas mereka lainnya.

‎Kini mereka duduk bersantai sambil istirahat. Sudah cukup lelah mempersiapkan semuanya, barang berantakan pun belum dibereskan oleh mereka.

‎Juhoon sedang bengong tiba-tiba menjilat bibirnya, ia merasa bibirnya kering. Juhoon mengambil tas sekolahnya dan mengecek apakah ada lip balm yang biasa ia pakai. Namun setelah ia menggali seluruh bagian tas nya ia tetap tidak menemukan lip balm yang ia cari.

‎"kenapa? nyari apa?" tanya Martin pada Juhoon.

‎"kayanya gua lupa bawa lip balm deh, bibir gua kering."

‎Martin yang mendengar itu langsung menatap bibir Juhoon dan benar, terlihat cukup kering bibir pink milik Juhoon.

‎"lu ada madu ga tin? pengganti lip balm deh" tanya Juhoon

‎"ada kayanya, gua cek dulu ke dapur" Martin kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan ke dapur untuk mengecek madu yang ada di dapur. Setelah menemukannya, Martin membawa madu tersebut ke ruang tamu dan memberikannya kepada Juhoon.

‎"makasih" Juhoon mengambil madu yang diberikan oleh Martin lalu ia langsung mengoleskan madu tersebut ke bibirnya.

‎Martin memperhatikan setiap pergerakan yang Juhoon lakukan hingga ia selesai mengoleskan madu di bibirnya.

‎Cantik.

‎Bibir itu sangat cantik, plumpy, pink, dan terlihat menggoda.

‎"cantik banget bibir lu, jadi pingin gua cium" ucap Martin dengan spontan.

‎Setelah mengatakan itu Martin melotot lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

‎"hah?" Juhoon menoleh dengan cepat ke arah Martin dengan muka bingung.

‎Martin langsung salah tingkah "eh, emm engga bermaksud tapi maksud gua— eee aduhh"

‎"maksud lu apaan tin?"

‎"engga, setan tadi yang ngomong" ucap Martin sambil menggaruk telinga karena merasa canggung dengan suasana yang sekarang terjadi.


‎"lu serius?" tanya Juhoon

‎Martin hanya bisa diam tidak menjawab pertanyaan.

‎"lu serius Ed?" tanya Juhoon kembali

M‎artin menghela napasnya lalu dengan gugup menjawab "iya..."

‎Juhoon menelan ludahnya gugup.

‎Suasana kini hening, hanya terdengar suara kipas yang berbunyi di sekitar mereka. Mereka saling menatap sekarang.

‎"Ju" panggil Martin.

‎"hmm?"

‎"gua boleh beneran engga?"

‎"boleh apanya?"


‎"cium lu"


‎Juhoon langsung menahan napasnya.

‎Pipinya mulai merona berwarna merah. Ia memalingkan wajahnya karena malu.

‎"kalo ngomong jangan ngawur"

‎"gua serius"
‎Suara Martin pelan dan dalam, bikin Juhoon jadi merinding. Juhoon tidak mendengar nada bicara yang bercanda sama sekali.

‎Pelan-pelan Juhoon kembali menatap Martin.

‎Martin diam dan menatap dengan dalam, menunggu jawaban pasti. tatapannya bikin Juhoon jadi malu dan salting.

‎"kalo gua bilang iya..." suara Juhoon pelan, "lu mau?" ia mengucap dengan suara pelan dan terdengar nada sedikit ragu.

‎Martin tersenyum mendengar ucapan Juhoon lalu menjawab "mau."

 

‎Hening sejenak.

 


‎Juhoon menggigit bibir bawahnya lalu menganggukan kepalanya.


‎Hal kecil yang berhasil bikin Martin langsung diam.
‎“serius?” tanya Martin memastikan.

‎Juhoon buru-buru menutupi wajahnya pakai tangan karena malu sendiri. “ih jangan disuruh ngulang, gua malu.."

‎Martin tersenyum melihat tingkah lucu Juhoon yang sedang menahan malu dan salting itu.

‎Martin menepuk paha nya, memberikan kode agar Juhoon segera duduk di atas pangkuan nya.

Juhoon sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya mendekat.

‎Juhoon mendekat lalu segera duduk di pangkuan Martin. Posisi mereka berdua kini saling berhadapan dan Martin memeluk pinggang Juhoon sedangkan Juhoon meremas baju di bagian bahu Martin.

‎Jarak mereka makin dekat.

‎Juhoon bahkan bisa mencium samar aroma parfum Martin sekarang.

‎dan beberapa detik setelahnya—

 

‎chuu~

 

‎Martin mencium Juhoon pelan.

‎Lembut.

‎Satu kata yang langsung terlintas di kepala Martin saat bibir mereka saling menempel.

‎Martin perlahan mulai melumat bibir bawah dan bibir atas Juhoon secara bergantian.

‎Lembut dan manis.

‎Itu yang Martin rasakan ketika ia mulai melumat bibir Juhoon.

‎Juhoon ikut melumat bibir Martin dengan pelan. Martin mengecup bibir Juhoon lagi, sesekali menjilat pelan sisa madu yang berada di bibir Juhoon. Juhoon meremas baju Martin dengan kencang selama sesi ciuman ini berlangsung.

‎Ciuman terpaksa harus berhenti karena Juhoon memundurkan kepalanya dan langsung menarik napas dalam-dalam. Martin pun melakukan hal yang sama, mereka sedang berebut oksigen yang terasa semakin menipis sekarang. muka mereka udah merah.

‎"bibir lu lembut dan manis"

‎"seenak ini ternyata combo bibir lu dan madu itu"

‎Juhoon salah tingkah, ia memukul bahu Martin lalu menyembunyikan mukanya di bahu Martin. Juhoon memeluk leher Martin dengan kencang lalu kepalanya ia goyangkan ke kanan dan ke kiri karena salah tingkah.

Martin yang melihat tingkah Juhoon tersenyum lebar, tidak kuat menahan rasa gemas nya kepada Juhoon. Ia membalas pelukan dan memeluk Juhoon semakin erat. Kini mereka pelukan dalam diam.

Tidak ada yang berbicara sekarang.

Mereka hanya diam sambil mendengarkan suara kipas dan detak jantung masing-masing yang masih berantakan setelah ciuman tadi.

Anehnya, tidak terasa canggung sama sekali. Justru terasa terlalu nyaman.

Entah sejak kapan hubungan mereka berubah sejauh ini.

Dari yang awalnya cuma teman dekat, sekarang malah saling berciuman di ruang tamu rumah yang sepi.

dan yang paling bahaya—

Tidak ada satupun dari mereka yang ingin menghentikannya.

tentang setelah ini hubungan mereka akan jadi apa…

Martin dan Juhoon sama-sama belum tahu.

tapi malam itu, untuk pertama kalinya, mereka sadar kalau perasaan ini sudah terlalu jauh untuk disebut 'cuma teman'.

Notes:

makasih udah mau baca, maaf jika masih banyak salah kata atau typo.