Work Text:
Sejak kecil, Nakula dan Sadewa tumbuh begitu rapat hingga dunia seolah tidak pernah benar-benar belajar membedakan di mana satu jiwa berakhir dan jiwa lainnya bermula. Mereka seperti dua bayangan yang lahir dari cahaya yang sama—kembar, serupa, namun saling menggenapi dengan cara yang begitu unik. Rumah mereka kecil, dindingnya tipis, atapnya sering berisik dipukul hujan, dan dapurnya sempit sampai bahu mereka hampir selalu bersentuhan setiap kali berdiri bersama di sana. Namun di tempat sesederhana itu, mereka pernah memiliki sesuatu yang terdengar lebih suci daripada doa. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang diam-diam menjelma smara—cinta yang menetap terlalu lama di dalam dada manusia.
Sedari mereka kecil, akan selalu ada sekantong jeruk murah dari pasar malam yang kerap diletakkan ibu mereka di meja dapur kecil rumah itu—buah berkulit kasar dengan aroma citrus tajam yang perlahan memenuhi udara sempit di antara dinding tua dan cahaya lampu kekuningan. Bukan karena jeruk-jeruk itu istimewa, melainkan karena hanya rasa manis sederhana itulah yang cukup untuk dibagi berdua tanpa meninggalkan perasaan kurang pada salah satu dari mereka. Maka malam-malam mereka pun seakan selalu ditakdirkan untuk dipenuhi bunyi pisau kecil yang beradu lirih dengan piring plastik retak, tawa pelan yang menggantung hangat di udara, serta harum jeruk yang menetap lembut di ujung jemari bahkan setelah kantuk menidurkan keduanya ke dalam gelap malam.
Nakula tidak pernah suka mengupas kulitnya. Ia bilang pahitnya terlalu lama tinggal di kuku. Sang biru akan lebih memilih untuk mengambil pisau dapur tumpul milik ibu mereka—pisau tua dengan gagang kayu yang mulai retak dimakan usia—lalu membelah buah itu perlahan menjadi bagian-bagian kecil. Tangannya masih ceroboh kala itu; kadang potongannya terlalu tebal, kadang jus jeruknya tumpah membasahi meja, kadang pula ujung pisaunya hampir mengenai jemarinya sendiri. Namun Sadewa akan selalu menunggu dengan sabar di sampingnya, dagu bertumpu di lutut sambil memperhatikan adik kembarnya itu seolah sedang menyaksikan sesuatu yang jauh lebih indah daripada sekadar buah murah dari pasar malam.
Dan seperti sebuah ritual kecil yang tidak pernah berubah, Sadewa selalu mengambil potongan pertama.
Yang paling manis.
Yang paling sempurna.
Bukan karena rakus—tidak pernah begitu—melainkan karena setelahnya ia akan menyuapkan potongan berikutnya langsung ke mulut Nakula sambil tertawa kecil saat adiknya mulai mengomel. Tawa itu hangat, pelan, dan anehnya selalu terdengar seperti rumah. Seperti svarga kecil yang hanya mereka miliki berdua di tengah hidup yang sempit dan dunia yang tidak pernah benar-benar lembut kepada mereka.
Mungkin sejak awal memang begitu cara mereka mencintai.
Sadewa selalu memastikan Nakula mendapat bagian termanis setelah dirinya, dan Nakula selalu memotong sesuatu dengan tangannya sendiri hanya agar bisa dibagi bersama.
Kebiasaan itu bertahan terlalu lama.
Bahkan setelah hidup mereka berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kotor.
Mereka dibawa masuk ke Astra bahkan sebelum usia mereka genap dua puluh—usia ketika sebagian besar orang masih sibuk mencari arah hidup, sementara arah hidup mereka justru telah dipilihkan oleh dunia jauh sebelum keduanya sempat memahami arti pilihan itu sendiri.
Nama organisasi itu terdengar indah di telinga orang luar.
Astra.
Diambil dari kata yang berarti bintang, sesuatu yang seharusnya bersinar tinggi di langit seperti pertanda harapan atau takdir baik yang diturunkan para dewa. Gedungnya menjulang bersih dengan dinding kaca dan lorong putih tanpa noda, dipenuhi aroma kopi mahal, layar-layar digital, dan para peneliti berpakaian rapi yang berjalan membawa tablet seolah tempat itu tak lebih dari perusahaan teknologi modern biasa. Senyum-senyum sopan dipertukarkan di lobi, musik instrumental diperdengarkan dengan pelan dari speaker tersembunyi, dan logo Astra dipasang di mana-mana dengan desain minimalis yang terasa terlalu elegan untuk sesuatu yang sesungguhnya dibangun di atas begitu banyak kematian.
Namun jauh di bawah bangunan itu, di balik lift tanpa tombol angka dan pintu-pintu biometrik yang tidak tercatat di denah resmi, hal-hal lain dibiarkan tumbuh seperti kutukan. Tubuh manusia dibedah atas nama riset. Ingatan dihapus dan ditanam ulang seperti permainan. Informasi dipelintir sampai kebenaran terdengar lebih palsu daripada kebohongan. Orang-orang menghilang begitu saja dari dunia, lalu nama mereka perlahan dihapus dari arsip, percakapan, bahkan ingatan orang terdekat mereka sendiri. Di Astra, darah tidak pernah dibiarkan mengering terlalu lama; noda dibersihkan sebelum sempat meninggalkan bau, dan kematian dicatat serapi laporan administrasi biasa. Semua dilakukan dengan senyum tenang dan tangan bersarung putih, seolah kekejaman paling mengerikan akan terdengar jauh lebih suci jika dibungkus istilah ilmiah dan prosedur resmi.
Dan anehnya, Nakula serta Sadewa tumbuh begitu alami di tempat itu.
Sadewa direkrut terlebih dahulu, bukan karena koneksi ataupun keberuntungan. Melainkan, karena pikirannya terlalu cemerlang untuk diabaikan. Ia memahami pola dengan cara yang nyaris mengerikan; mampu membaca sistem tubuh manusia seperti orang lain membaca puisi, mampu memecahkan sesuatu yang rumit hanya dengan sekali lihat, seolah vidyā—pengetahuan yang dianugerahkan para dewa—memang sengaja ditanamkan ke dalam kepalanya sejak lahir. Para petinggi Astra menyukai caranya berpikir, tenang, presisi, tidak mudah goyah oleh moralitas. Mereka menunjuknya menjadi researcher bahkan sebelum Sadewa sendiri cukup dewasa untuk memahami bahwa di tempat seperti itu, kecerdasan sering kali hanya nama lain dari rantai yang dipasang lebih rapi.
Sementara Nakula, ia tidak pernah benar-benar diberi pilihan selain menjadi sesuatu yang mematikan.
Astra menemukan bakat itu terlalu cepat. Ketenangan tangannya saat memegang senjata, cara mata birunya tetap stabil bahkan ketika melihat tubuh manusia hancur, naluri alaminya membaca titik lemah seseorang hanya dari cara mereka bergerak atau bernapas. Tidak ada yang perlu diajarkan terlalu banyak kepadanya. Kekerasan menempel di tubuh Nakula seperti bayangan yang sejak awal memang ditakdirkan mengikutinya. Maka sementara Sadewa dipeluk laboratorium dan cahaya monitor, Nakula dibesarkan oleh ruang latihan bawah tanah yang dingin, suara tembakan yang memantul di dinding beton, serta instruksi-instruksi singkat tentang bagaimana membunuh seseorang secepat mungkin—atau sepelan mungkin jika diperlukan.
Dan di antara semua itu, mereka masih pulang bersama.
Masih berbagi meja makan kecil di apartemen sempit.
Masih membeli jeruk murah sepulang kerja.
Masih tertawa pelan seperti dua anak laki-laki biasa yang hidupnya belum disentuh dosa.
Seolah saṃsāra, lingkaran nasib yang kejam itu, tidak mulai melingkar sambil perlahan-lahan mencekik leher mereka.
Pada awalnya, semuanya masih terasa nyaris normal. Atau setidaknya, senormal hidup yang dibangun di atas rahasia dan darah dapat terasa bagi dua orang yang sejak muda telah diajari bahwa moral hanyalah kemewahan bagi mereka yang tidak perlu bertahan hidup. Hari-hari mereka berjalan tenang dengan ritme yang anehnya domestik; Sadewa menghabiskan sebagian besar waktunya di laboratorium bawah tanah Astra yang dingin dan nyaris tanpa jendela, ditemani cahaya monitor kebiruan, suara mesin pemindai saraf, serta tumpukan data medis yang memenuhi mejanya seperti mantra-mantra ilmiah modern.
Di sana, ia meneliti sistem saraf manusia, ambang rasa sakit, respons tubuh terhadap trauma, hingga cara ketakutan dapat dipelihara cukup lama di dalam otak seseorang untuk diubah menjadi alat kendali. Segala sesuatu di tangannya selalu tampak elegan—bahkan penderitaan pun terdengar indah saat dijelaskan dengan istilah-istilah yang keluar dari mulutnya. Para petinggi Astra menyebut pikirannya sebagai bentuk vidyā tertinggi, pengetahuan yang melampaui rasa iba. Dan Sadewa, dengan ketenangan yang sebenarnya ia sendiri paham betul mengandung dosa, terus menciptakan sistem demi sistem tanpa pernah benar-benar bertanya akan digunakan untuk apa semua temuannya itu.
Sementara itu, Nakula tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih sunyi dan mematikan.
Namanya mulai dibisikkan pelan di koridor-koridor Astra, layaknya kutukan yang tidak boleh dipanggil terlalu keras. Ia menjadi assassin elit organisasi—orang yang dikirim ketika negosiasi gagal, ketika ancaman tidak lagi bisa dibeli dengan uang atau dibungkam dengan manipulasi.
Jika Astra adalah tubuh raksasa yang bekerja diam-diam di balik dunia, maka Sadewa adalah otaknya, dan Nakula adalah tangan yang memastikan seluruh perintah itu benar-benar terlaksana. Ia bergerak cepat, bersih, nyaris tanpa jejak. Kematian datang melalui dirinya dengan ketenangan yang mengerikan, seperti malam yang turun terlalu pelan hingga orang-orang baru sadar telah tenggelam dalam gelap ketika semuanya sudah terlambat.
Dan sekali lagi, dengan begitu anehnya di tengah semua itu, mereka tetap pulang ke apartemen kecil yang sama. Tetap makan bersama di meja sempit yang sama. Tetap membeli jeruk murah sepulang kerja. Seolah dunia mereka tidak sedang dibangun di atas jeritan orang lain.
Bertahun-tahun mereka hidup seperti itu.
Sadewa menciptakan sistemnya.
Nakula menjadi tangan yang menjalankannya.
Dua saudara kembar yang tanpa sadar telah berubah menjadi roda-roda kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih busuk daripada yang pernah mereka pahami.
Sampai akhirnya, pada suatu malam yang tampak terlalu biasa untuk menghancurkan seluruh hidup mereka, Sadewa tanpa sengaja menemukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah disentuh oleh matanya. Malam itu berjalan tenang seperti malam-malam lain di Astra, laboratorium bawah tanah dipenuhi dengung mesin pendingin dan cahaya monitor yang berkedip lembut seperti bintang-bintang buatan manusia. Para researcher lain telah pulang lebih dulu, menyisakan lorong panjang yang sunyi dan aroma antiseptik yang dingin menempel di udara. Di luar sana, dunia mungkin sedang tertidur dengan damai. Namun jauh di bawah tanah, di tempat di mana Astra menyimpan dosa-dosanya paling dalam, sesuatu yang lama terkubur perlahan membuka mata.
Dan seperti semua tragedi besar yang lahir dari rasa ingin tahu manusia, semuanya dimulai dari satu kesalahan sederhana: seorang peneliti yang terlalu cerdas untuk berhenti bertanya.
Maka terkutuklah jiwa penemu yang hidup terlalu lama di dalam diri Sadewa—jiwa yang selalu haus pada kebenaran, bahkan ketika dunia berkali-kali memperingatkan bahwa beberapa pintu diciptakan untuk tetap tertutup. Ada rasa penasaran yang tumbuh di dalam dirinya layaknya agni kecil yang tidak pernah benar-benar padam; api sunyi yang sejak dulu membuatnya terus menggali lebih dalam, terus membedah lapisan demi lapisan rahasia sampai akhirnya ia lupa bahwa tidak semua pengetahuan diciptakan untuk menyelamatkan manusia. Beberapa hanya ada untuk menghancurkan mereka perlahan dari dalam.
Dan Astra mengetahui itu lebih baik daripada siapa pun.
Sebab organisasi seperti itu tidak dibangun dari beton, senjata, atau kekuasaan semata, melainkan dari rahasia-rahasia busuk yang dikubur hidup-hidup di bawah tanah bersama nama orang-orang yang menghilang tanpa kuburan. Astra hidup dari hal-hal yang tidak boleh diketahui dunia. Maka ketika Sadewa mulai berjalan terlalu jauh ke dalam lorong arsip mereka, ketika jemarinya mulai menyentuh file-file tua yang bahkan waktu sendiri tampak enggan mengingat keberadaannya, sesungguhnya nasibnya sudah ditentukan sejak saat itu juga.
Karena rasa ingin tahu adalah dosa paling berbahaya di tempat seperti Astra.
Ia membuat manusia melihat terlalu banyak. Dan orang yang melihat terlalu banyak tidak pernah dibiarkan hidup cukup lama untuk menceritakannya.
Awalnya sadewa hanya menemukan arsip lama yang nyaris tidak berarti apa apa.
Namun sekali lagi, terkutuklah rasa penasaran yang selalu bersemayam di dalam jiwa dan nadi Sadewa—rasa haus akan kebenaran yang hidup seperti agni abadi di dalam dadanya, membakar pelan setiap batas kewarasan dan naluri bertahan hidup yang seharusnya membuat manusia tahu kapan harus berhenti. Alih-alih merasa cukup setelah menemukan serpihan kejanggalan pertama, ia justru melangkah semakin jauh menembus lorong-lorong data Astra yang gelap dan nyaris terlupakan, membuka kembali arsip-arsip lama yang dipenuhi kode usang, laporan eksperimen yang separuh dihapus, serta file-file mati yang terkubur jauh di bawah lapisan enkripsi seperti jenazah yang sengaja disembunyikan dari cahaya. Jemarinya terus bergerak di atas layar tanpa ragu sedikit pun, sementara monitor pucat di hadapannya memantulkan bayangan wajahnya yang perlahan terlihat semakin asing bahkan bagi dirinya sendiri. Dan semakin dalam ia menggali, semakin terasa seolah ia sedang menuruni sumur tua tanpa dasar, tempat udara dipenuhi bau karat, darah, dan dosa yang telah membusuk terlalu lama.
Sampai akhirnya, di antara ratusan folder tak bernama dan data yang nyaris terhapus waktu, Sadewa menemukan sebuah folder kecil dengan kode proyek yang sudah tidak tercatat lagi di sistem utama Astra.
Folder itu terenkripsi dengan baik dan terselip jauh di dalam database internal Astra, tersembunyi di balik lapisan keamanan yang bahkan sebagian besar researcher tingkat tinggi tidak pernah tahu keberadaannya. Nama proyeknya sudah dihapus dari sistem utama bertahun-tahun lalu, seolah seseorang pernah berusaha memastikan keberadaan data itu lenyap sepenuhnya dari sejarah. Namun justru karena itulah rasa penasaran Sadewa semakin terusik. Ada sesuatu yang terasa ganjil—seperti bisikan kecil dari lorong gelap yang memanggil namanya perlahan.
Dan Sadewa, dengan kecerdasan yang selama ini membuat Astra begitu bangga padanya, memilih untuk tetap membuka pintu berisi pengetahuan terlarang itu.
Semakin banyak file yang dibaca, semakin terasa seperti memasuki ruang bawah tanah lain yang lebih dingin daripada laboratorium mana pun yang pernah ia pijak. Data-data itu tidak ditulis seperti laporan manusia; semuanya terlalu rapi, terlalu steril, terlalu tertata. Ada daftar transaksi manusia yang disusun layaknya inventaris barang dagangan. Data biologis anak-anak. Grafik perkembangan otak. Respons tubuh terhadap rasa takut. Catatan trauma berkepanjangan. Laporan keberhasilan conditioning psikologis. Di beberapa halaman, bahkan ada foto-foto kecil dengan kualitas buruk—anak-anak kurus bermata kosong yang menatap kamera seperti hewan percobaan yang belum cukup mengerti arti penderitaan.
Dan semakin Sadewa membaca, semakin terasa bahwa seluruh ruangan di sekelilingnya mulai menyempit.
Seolah udara tidak lagi cukup untuk dihirup.
Lalu ia menemukannya.
Dua nama.
Tersusun rapi di antara ratusan subjek lain seperti angka biasa dalam dokumen penelitian.
#0121201 - Sadewa.
#0121202 - Nakula.
Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Nama mereka ada di sana.
Lengkap dengan nomor identifikasi eksperimen.
Lengkap dengan usia saat pertama kali diperoleh.
Lengkap dengan evaluasi respons trauma.
Lengkap dengan harga.
Harga.
Betapa kecil dan kejinya hidup manusia dapat diringkas hanya menjadi deretan angka.
Mendadak seluruh kenangan masa kecil mereka terasa retak seperti kaca tipis yang dipukul terlalu keras. Rumah kecil mereka. Dapur sempit yang hangat. Jeruk murah dari pasar malam. Tangan ibu mereka yang mengusap rambut mereka sebelum tidur. Semua kenangan itu mendadak tampak seperti panggung rapuh yang dibangun Astra dengan begitu teliti demi membesarkan dua anak kecil menjadi sesuatu yang berguna.
Tidak ada kebetulan dalam hidup mereka. Tidak ada takdir indah yang mempertemukan mereka dengan organisasi itu. Sejak awal, hidup mereka telah dirancang seperti eksperimen panjang—līlā kejam yang dimainkan manusia-manusia berkuasa sambil berpura-pura menjadi dewa.
Mereka tidak pernah benar-benar direkrut.
Tidak pernah dipilih karena bakat.
Mereka dibeli.
Dipelihara.
Dibentuk perlahan.
Nakula diasah menjadi senjata.
Sadewa diasah menjadi otak yang mampu menciptakan lebih banyak senjata.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun bekerja di Astra, Sadewa merasa seluruh identitasnya runtuh dalam satu malam. Semua gelar, seluruh pencapaiannya, semua pujian tentang kejeniusannya mendadak terasa menjijikkan. Karena di mata Astra, dirinya bukan researcher hebat. Bukan ilmuwan. Bukan manusia.
Hanya eksperimen yang kebetulan berhasil bertahan hidup terlalu lama.
‘Sialan.’
Hari itu, Nakula dipanggil ke sebuah ruangan yang bahkan namanya sendiri telah lama terdengar seperti pertanda buruk di antara orang-orang Astra. Hollow—ruangan hitam tanpa jendela yang tersembunyi jauh di bawah gedung utama organisasi, tempat keputusan-keputusan paling kejam dilahirkan dengan suara tenang dan wajah tanpa emosi. Lorong menuju ke sana selalu terasa lebih dingin daripada bagian gedung lain, dengan lampu-lampu redup yang dipasang terlalu berjauhan hingga bayangan di lantai tampak memanjang seperti sesuatu yang hidup. Tidak ada yang pernah keluar dari Hollow membawa kabar baik. Tempat itu seakan menjadi semacam mulut gelap yang perlahan menelan manusia lalu memuntahkan kembali menjadi sesuatu yang telah kehilangan sebagian jiwanya.
Nakula sudah terlalu lama bekerja untuk Astra hingga tubuhnya hafal bagaimana cara bersikap di tempat seperti itu.
Ia berjalan menyusuri lorong dengan langkah stabil, bahu tegak, wajah datar, seperti assassin-assassin lain yang telah dibentuk organisasi menjadi mesin tanpa cela. Namun semakin dekat ia pada pintu besar berwarna hitam di ujung koridor, semakin terasa ada sesuatu yang tidak beres di dalam dadanya sendiri—sesuatu yang dingin dan berat, seperti firasat yang perlahan tumbuh menjadi luka bahkan sebelum disentuh. Dan ketika pintu Hollow terbuka pelan di hadapannya, memperlihatkan ruangan luas yang nyaris tenggelam sepenuhnya dalam gelap, Nakula mendadak merasa dirinya terlalu kecil di tengah semua itu.
Para petinggi Astra duduk berjajar di balik meja panjang dengan wajah yang nyaris tidak terlihat, hanya siluet samar yang disinari cahaya tipis dari layar hologram di hadapan mereka. Astra selalu seperti itu; semakin tinggi posisi seseorang, semakin sedikit sisi manusianya yang diperlihatkan. Mereka berbicara dengan suara datar dan tenang, seolah apa pun yang keluar dari mulut mereka tidak pernah benar-benar melibatkan nyawa manusia.
Maka ketika penjelasan itu dimulai—tentang pelanggaran kode etik, akses ilegal terhadap arsip rahasia, dan salinan data internal yang ditemukan di tangan Sadewa—seluruh kalimat tersebut dijatuhkan begitu saja seperti laporan administrasi biasa, tanpa kemarahan, tanpa nada menghakimi, tanpa sedikit pun rasa iba.
Dan Nakula tetap diam mendengarkannya.
Ia berdiri tegak dengan tangan terkepal di balik punggung, membiarkan kuku-kukunya sendiri menekan telapak sampai nyaris melukai kulit. Wajahnya tidak berubah, sebab selama bertahun-tahun Astra telah mengajarinya bahwa seorang assassin tidak boleh bereaksi terhadap apa pun. Mereka diajarkan cara menelan rasa takut, rasa bersalah, bahkan rasa kehilangan, lalu tetap berdiri seolah tubuh mereka tidak pernah memiliki hati sejak awal. Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nakula merasa seluruh pelatihan itu mulai retak perlahan di dalam dirinya. Ada sesuatu yang berdetak terlalu keras di dadanya, sesuatu yang membuat napasnya terasa salah, seolah udara di Hollow mendadak berubah terlalu tipis untuk dihirup.
Lalu kalimat itu akhirnya diucapkan.
Sadewa harus dilenyapkan.
Oleh Nakula sendiri.
Dan mendadak seluruh ruangan terasa sunyi. Nakula tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di sana sambil menatap gelap di depan matanya sendiri, sementara sesuatu di dalam tubuhnya perlahan runtuh tanpa suara. Dari semua kemungkinan buruk yang pernah ia bayangkan selama bekerja di Astra, ini tetap terasa mustahil.
Sadewa selalu terasa seperti sesuatu yang tidak akan pernah benar-benar bisa disentuh kematian. Ia terlalu hidup di dalam dirinya; terlalu lama menjadi rumah, menjadi suara pertama yang ia dengar setiap pagi, menjadi tangan yang selalu menyuapkan potongan jeruk paling manis sejak mereka masih kecil.
Bagaimana mungkin seseorang diminta membunuh separuh napasnya sendiri lalu tetap diharapkan hidup seperti biasa setelahnya?
Namun petinggi Astra kembali berbicara dengan suara yang tetap tenang, dan justru ketenangan itulah yang terasa paling kejam.
“Jika assassin lain yang turun tangan, kematian Researcher Sadewa tidak akan cepat.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman. Tidak diucapkan dengan nada tinggi atau kemarahan. Tapi Nakula tahu persis apa artinya, mungkin jauh lebih baik daripada siapa pun di ruangan itu. Ia tahu persis bagaimana Astra memperlakukan pengkhianat. Ia teramat tahu bahwa tubuh manusia bisa dibuat tetap hidup berhari-hari hanya untuk dipelajari reaksinya terhadap rasa sakit, ia tahu bagaimana suara seseorang berubah ketika mereka mulai memohon untuk dibunuh saja. Selama bertahun-tahun, dialah tangan yang melakukan semua itu. Dialah orang yang datang ketika organisasi ingin memastikan seseorang tidak hanya mati, tetapi hancur sepenuhnya sebelum kematiannya tiba.
Dan mendadak seluruh pekerjaannya sendiri terasa menjijikkan.
Saat Nakula pulang malam itu, apartemen mereka berada dalam keadaan hampir gelap sepenuhnya. Hanya lampu kecil di dekat dapur yang masih menyala redup, membiarkan cahaya kekuningannya jatuh samar ke ruang tengah dan membelah bayangan panjang di lantai. Di luar, hujan baru saja berhenti, sisa air masih menempel di ujung jaket Nakula dan membuat udara di sekelilingnya terasa dingin saat ia masuk ke dalam apartemen.
Sadewa sedang duduk santai di sofa dengan tablet di tangan, satu kaki terangkat malas ke atas dudukan sambil membaca sesuatu dengan wajah setenang biasanya. Cahaya layar memantul tipis di matanya, membuat pria itu tampak begitu biasa di tengah malam yang perlahan menghancurkan hidup mereka. Begitu hidup. Begitu rumah.
Lalu pintu tertutup pelan di belakang Nakula.
Dan di tangan kirinya ada satu plastik besar penuh jeruk.
Buah-buah berkulit oranye itu tampak terlalu cerah di tengah apartemen yang remang, bergesekan pelan satu sama lain setiap kali plastiknya bergerak. Jumlahnya terlalu banyak untuk sekadar camilan biasa, seolah Nakula membeli semuanya tanpa benar-benar berpikir, hanya karena otaknya mendadak tidak mampu mengingat apa pun selain satu hal kecil yang selalu menghubungkan mereka sejak dulu.
Tanpa mengatakan apa-apa, Nakula berjalan mendekat lalu meletakkan plastik itu di meja kecil tepat di depan Sadewa. Bunyi buah-buah itu saling beradu pelan terdengar aneh di tengah sunyi apartemen. Sadewa sempat melirik sekilas ke arah meja, alisnya sedikit terangkat bingung, namun sebelum ia sempat bertanya apa pun, Nakula sudah bergerak lagi.
Cepat.
Nyaris tergesa.
Ia langsung duduk di pangkuan Sadewa dan memeluk tubuh kakaknya erat-erat sampai napasnya sendiri terdengar patah di bahu pria itu. Tangannya melingkar kuat di pinggang Sadewa seperti seseorang yang sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak diambil dunia, sementara kepalanya tertunduk dalam di ceruk leher sang kakak. Seluruh tubuhnya gemetar kecil, dan meski Nakula berusaha diam, Sadewa tetap bisa merasakan napasnya yang kacau membasahi kulit lehernya perlahan.
Sadewa terdiam sesaat.
Tablet di tangannya perlahan diturunkan.
Layar bercahayanya dibiarkan mati sendiri di atas sofa ketika kedua tangan Sadewa akhirnya bergerak memeluk balik tubuh adiknya. Satu tangannya naik mengusap belakang kepala Nakula pelan, jemarinya menyelip lembut di rambut gelap yang sedikit lembap oleh udara malam, sementara tangan satunya lagi menahan pinggang Nakula erat seolah takut tubuh itu benar-benar runtuh kalau dilepaskan.
“Habis dari Hollow ya?” Suara Sadewa rendah dan tenang, nyaris terdengar terlalu lembut untuk pertanyaan seperti itu.
Nakula tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk kecil tanpa mengangkat wajahnya, namun gerakan sekecil itu sudah cukup untuk membuat pelukan Sadewa sedikit mengencang.
Dan saat itu, Sadewa langsung mengerti semuanya.
Tentang kenapa Nakula pulang membawa terlalu banyak jeruk.
Tentang kenapa tangannya terasa begitu dingin malam ini.
Tentang apa yang pasti baru saja diperintahkan Astra kepadanya.
Namun tidak ada keterkejutan di wajah Sadewa. Tidak ada amarah. Tidak ada penolakan.
Seolah jauh di dalam dirinya, ia memang sudah tahu bahwa hari seperti ini pada akhirnya akan datang juga.
Maka ia hanya menarik Nakula lebih dekat sampai tubuh mereka nyaris tidak memiliki jarak sama sekali, lalu mengusap punggung adiknya perlahan dengan ritme lembut seperti seseorang yang sedang mencoba menenangkan badai.
Setelah itu, Sadewa menunduk sedikit dan mencium kening Nakula lama sekali.
Lama sampai napas mereka bercampur hangat di udara apartemen yang sunyi.
Seolah ia sedang berusaha menghafal suhu tubuh adiknya sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Setelah itu, Sadewa menunduk sedikit dan mencium kening Nakula lama sekali.
Bukan sekadar kecupan singkat, melainkan sentuhan yang menetap tenang di sana seolah ia sedang mencoba menyimpan sesuatu ke dalam kulit adik kembarnya. Kehangatan, ketenangan, atau mungkin seluruh rasa sayang yang tidak akan sempat ia ucapkan satu per satu. Napas mereka bercampur perlahan di udara apartemen yang sunyi, hangat dan tipis seperti embun yang sebentar lagi menghilang sebelum matahari sempat melihatnya.
Lalu Sadewa menarik wajah Nakula ke dalam kedua telapak tangannya.
Pelan sekali.
Seolah wajah itu terbuat dari sesuatu yang terlalu rapuh untuk disentuh dunia terlalu keras.
Ibu jarinya bergerak perlahan menyapu pipi Nakula yang masih basah oleh sisa air mata, dan untuk sesaat mereka hanya saling menatap diam-diam. Mata Sadewa tampak lelah malam itu, namun tetap menyimpan kelembutan yang sama seperti bertahun-tahun lalu ketika mereka masih anak-anak dan tidur berhimpitan di lantai ruang tamu karena listrik rumah mati. Ada rasa tenang yang aneh di wajahnya sekarang, tenang yang justru membuat dada Nakula terasa semakin sempit.
Karena orang yang benar-benar takut biasanya akan berusaha bertahan.
Namun Sadewa sudah terlihat seperti seseorang yang perlahan belajar melepaskan.
Tanpa banyak bicara, bibirnya turun lagi pelan ke wajah Nakula. Keningnya dicium sekali lagi, lebih singkat kali ini, sebelum kecupan-kecupan kecil lain jatuh menyusuri pelipis, sudut mata, pipi, hingga ujung rahangnya. Tidak terburu-buru. Tidak dipenuhi gairah. Hanya lembut dan lama, seperti seseorang yang sedang mengingat bentuk rumahnya untuk terakhir kali sebelum pergi terlalu jauh.
Nakula tidak sanggup bergerak.
Ia hanya duduk diam di pangkuan Sadewa sambil merasakan setiap sentuhan itu singgah perlahan di kulitnya, dan entah kenapa justru itu yang terasa paling menyakitkan. Bukan darah. Bukan pisau. Bukan kenyataan bahwa malam ini akan merenggut salah satu dari mereka.
Melainkan cara Sadewa masih mampu mencintainya setenang ini di tengah semuanya.
Setelah kecupan terakhir jatuh di sudut bibirnya, Sadewa kembali menatap Nakula lama sekali. Jemarinya masih berada di wajah pria itu, mengusap pelan seolah sedang menenangkan sesuatu yang bahkan tidak bisa diperbaiki lagi. Ada banyak hal tertahan di matanya malam itu—takut, sedih, penyesalan—namun semuanya tenggelam jauh di bawah kasih sayang yang terlalu besar untuk disembunyikan.
Lalu perlahan Sadewa menarik Nakula mendekat dan mencium bibirnya.
Ciuman itu panjang.
Hening.
Dan terasa begitu penuh sampai dada Nakula nyaris sakit karenanya.
Tidak ada ketergesaan di sana. Tidak ada rasa panik. Mereka hanya saling mengecup perlahan sambil membiarkan napas masing-masing bercampur hangat di udara apartemen yang sunyi. Bibir Sadewa terasa sedikit asin oleh sisa air mata Nakula yang tadi sempat jatuh tanpa suara, sementara aroma samar sabun, kopi, dan malam yang menempel di tubuh mereka perlahan bercampur menjadi sesuatu yang terasa terlalu akrab untuk ditinggalkan.
Nakula memejamkan mata saat itu.
Karena untuk beberapa detik pendek di tengah ciuman itu, semuanya terasa seperti pulang.
Dan justru karena itulah dadanya terasa semakin sesak.
Beberapa waktu kemudian, mereka berpindah ke meja makan seperti dua orang yang sama-sama berpura-pura bahwa malam itu masih dapat berjalan biasa. Tidak ada pembicaraan apapun tentang Astra, tentang Hollow, ataupun tentang hukuman mati yang kini menggantung diam-diam di antara mereka seperti mṛtyu, bayangan kematian yang duduk tenang di sudut ruangan. Semua hal mengerikan itu sengaja dibiarkan tetap berada di luar percakapan, seolah dengan tidak menyebutnya keras-keras, mereka bisa menunda akhir sedikit lebih lama.
Dan Sadewa, dengan ketenangan yang selalu terasa nyaris tidak manusiawi itu, malah berdiri di dapur membuat nasi goreng seperti malam-malam biasa.
Suara minyak yang mendesis pelan memenuhi apartemen kecil mereka. Cahaya lampu dapur jatuh hangat di punggung Sadewa yang membelakangi Nakula, memantulkan siluet tubuh yang begitu familiar hingga terasa menyakitkan untuk dilihat terlalu lama. Lengan bajunya tergulung sampai siku, rambutnya sedikit berantakan, dan gerakannya tetap tenang, seolah dunia mereka tidak sedang runtuh perlahan malam ini.
Nakula hanya duduk diam memperhatikannya tanpa berkedip sedikit pun.
Takut jikakalau ia menoleh sebentar saja,
Sadewa akan hilang.
Mereka makan dalam sunyi setelahnya. Hanya ada bunyi sendok yang sesekali beradu pelan dengan piring dan napas rendah yang memenuhi udara apartemen kecil itu. Di luar sana, kota masih hidup seperti biasa, sementara di dalam sini, dua saudara kembar sedang duduk berhadapan sambil diam-diam belajar cara mengucapkan selamat tinggal.
Dan setelah semuanya selesai, setelah nasi goreng dihabiskan dan piring piring kotor dicuci lalu di letakkan di tempatnya semua, Nakula mengambil sekantong jeruk dari meja.
Jeruk-jeruk itu dibelahnya perlahan menjadi bagian-bagian kecil, persis seperti yang selalu ia lakukan sejak mereka masih anak-anak. Aroma citrus segera memenuhi ruangan, manis, segar, menusuk, seperti kenangan lama yang diperas hidup kembali. Pisau kecil di tangannya beradu pelan dengan talenan kayu, menghasilkan bunyi ritmis yang terdengar terlalu damai untuk malam seperti ini.
Di seberang meja, Sadewa duduk diam memperhatikannya.
Tampak begitu biasa.
Dan justru itu yang menghancurkan Nakula.
Karena organisasi baru saja menjatuhkan hukuman mati pada seseorang yang beberapa menit lalu masih berdiri di dapur membuat nasi goreng untuk adiknya.
Nakula menelan ludah keras. “Mas.”
“Hm?”
“Kalau…” suaranya pecah sedikit. “Kalau aku ga ceroboh dan ngebuat kita masuk Astra dulu, hidup kita bakal gimana ya?”
Sadewa tersenyum kecil.“Kamu bakal tetap nyebelin.”
Nakula tertawa pendek mendengar itu, tetapi suara kecil yang keluar dari bibirnya terdengar terlalu rapuh untuk benar-benar disebut tawa. Matanya mulai memerah sekarang, perlahan dipenuhi sesuatu yang sejak tadi berusaha ia tahan mati-matian sendirian. Di seberang meja, Sadewa hanya memperhatikannya tenang sebelum mengambil satu potong jeruk dari piring di tengah meja, potongan yang paling manis, seperti biasa. Lalu tanpa banyak pikir langsung menyuapkannya ke mulut Nakula dengan gerakan otomatis yang sudah hidup di tubuh mereka sejak kecil. Sesederhana itu. Sesering itu dilakukan sampai seharusnya tidak lagi terasa istimewa. Namun justru karena itulah dada Nakula terasa seperti diremas pelan dari dalam. Karena bahkan sekarang, bahkan setelah tahu bahwa adiknya pulang membawa perintah eksekusi untuk dirinya sendiri, Sadewa masih sempat melakukan hal kecil seperti memilihkan bagian terbaik untuknya terlebih dahulu.
Maka Nakula buru-buru menundukkan wajah sebelum sesuatu di dalam dirinya benar-benar runtuh di depan mata Sadewa. Tangannya bergerak mencengkeram pisau kecil di atas meja terlalu kuat sampai buku-buku jarinya memutih, sementara aroma citrus dari jeruk yang baru dipotong perlahan memenuhi udara dapur kecil mereka—manis, segar, dan entah kenapa terasa begitu menusuk malam itu. Bunyi jam dinding terdengar samar di tengah sunyi, bercampur napas mereka yang pelan dan sedikit tidak beraturan. Sadewa memperhatikan semua itu diam-diam sebelum akhirnya memanggilnya lirih.
“Nakula”
Nakula tidak menjawab. Bahunya hanya bergerak kecil seiring napas yang mulai terdengar goyah.
“Nakula, Lihat saya.”
Nakula langsung menggeleng pelan tanpa mengangkat kepala. “Aku ga bisa.”
Suara itu keluar serak dan pecah, seperti sesuatu yang terlalu lama dipaksa bertahan sebelum akhirnya mulai retak sedikit demi sedikit. Sunyi jatuh beberapa detik setelahnya, panjang dan berat, sampai akhirnya kursi Sadewa bergeser pelan di lantai.
Pria itu berdiri, berjalan memutari meja makan, lalu berhenti tepat di depan Nakula sebelum mengangkat dagunya perlahan dengan tangan yang begitu hangat dan hati-hati hingga rasanya hampir menyakitkan. Dan benar saja—mata adik tersayangnya itu sudah penuh air sekarang. Merah. Basah. Hancur dengan cara yang bahkan tidak lagi berusaha disembunyikan.
Sadewa menghela napas kecil sebelum menempelkan dahinya pelan ke dahi Nakula, membiarkan napas mereka bercampur di udara yang dipenuhi aroma jeruk dan rasa takut.
“Kula…”
Dan hanya dengan satu panggilan kecil itu, seluruh pertahanan Nakula runtuh begitu saja.
“Mereka nyuruh aku bunuh kamu…”
Kalimat itu keluar seperti sesuatu yang dipaksa merobek tenggorokannya sendiri saat lahir. Suaranya patah di tengah jalan, penuh rasa takut yang selama ini tidak pernah diizinkan hidup di dalam diri seorang assassin Astra. Sadewa memejamkan mata sesaat, bukan karena kaget ataupun takut, melainkan seperti seseorang yang akhirnya mendengar sesuatu yang sejak lama telah ia ketahui diam-diam. Tangannya naik mengusap pipi Nakula perlahan, ibu jarinya menyapu sudut mata yang mulai basah dengan gerakan lembut yang justru membuat Nakula semakin kacau.
“Aku ga mau mereka nyentuh kamu, mas…”
Kini suaranya benar-benar terdengar seperti permohonan.
“Aku tau mereka bakal ngapain kalau aku gagal.” Jemarinya mencengkeram baju Sadewa kuat-kuat sampai kainnya kusut. “Mereka bakal kirim orang lain. Mereka bakal bikin kamu menderita dulu baru dibunuh. Mereka selalu begitu kepada pengkhianat.”
“Nakula—”
“Aku tau cara kerja mereka,” potongnya cepat dengan napas mulai berantakan. “Aku yang ngerjain semuanya selama ini. Aku liat sendiri gimana orang-orang itu mati.”
Matanya penuh air sekarang, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menjadi assassin Astra, Nakula tampak benar-benar ketakutan. Bukan takut mati. Bukan takut gagal. Tetapi takut membayangkan rasa sakit itu menyentuh Sadewa.
“Aku ga bisa bayangin itu terjadi ke kamu…”
Lalu ia tertawa kecil lagi, tawa tipis yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan mana pun. Sementara ujung jarinya yang gemetar perlahan menyentuh wajah Sadewa seolah sedang memastikan pria itu masih benar-benar ada di depannya.
“Lucu ya…” bisiknya lirih. “Dari dulu kerjaanku bunuh orang. Tapi sekarang pas targetnya kamu…” Tenggorokannya tercekat sendiri sebelum kalimat berikutnya jatuh hampir seperti doa yang patah. “Aku bahkan ga kuat denger nama kamu disebut oleh mereka, Dew.”
Napasnya bergetar semakin keras setelah itu, dan saat akhirnya ia bicara lagi, suaranya terdengar begitu kecil di tengah apartemen yang sunyi.
Sadewa menatap Nakula begitu lama setelah kalimat itu jatuh di antara mereka. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, tidak ada penolakan, hanya kesedihan sunyi yang begitu tenang sampai terasa lebih menyakitkan untuk dilihat. Cahaya lampu dapur yang redup jatuh lembut di matanya, membuat pria itu tampak seperti sesuatu yang perlahan sedang mempersiapkan diri untuk hilang. Lalu tanpa terburu-buru, tangannya bergerak ke atas meja dan mengambil pisau kecil bekas memotong jeruk tadi. Bilah logam itu masih basah oleh sisa air buah, aroma citrus samar bercampur dengan dingin besi yang menempel di udara yang ada ditengah mereka.
Nakula langsung menegang begitu Sadewa menyodorkannya perlahan ke arah tangannya.
“Mas…”
Suara itu nyaris pecah bahkan sebelum selesai keluar.
Namun Sadewa tetap menatapnya lembut. “Na,” panggilnya pelan. “Lihat saya.”
Nakula langsung menggeleng cepat, terlalu cepat, seolah hanya dengan menatap wajah Sadewa saja dirinya bisa benar-benar runtuh malam ini. Tetapi Sadewa tetap menggenggam tangannya perlahan, hangat dan tenang, lalu memaksakan gagang pisau itu masuk sedikit demi sedikit ke telapak tangan Nakula yang gemetar. Sentuhan mereka terasa kontras, kulit Sadewa hangat, sementara jemari Nakula dingin seperti seseorang yang baru ditarik keluar dari dasar laut.
“Kalau cuma dibunuh,” suara Sadewa tetap rendah dan lembut, “mereka bakal curiga.”
Kalimat itu membuat wajah Nakula langsung kehilangan warna.
Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini bahkan sebelum Sadewa melanjutkannya.
“Astra punya prosedur untuk para pengkhianat.”
Nakula mencengkeram pisau itu kuat-kuat sampai sendi jarinya memutih. Dadanya terasa sesak. “Aku tau.”
“Mereka bakal cek tubuh saya.”
“Berhenti…”
“Ada pola luka yang harus ada.”
Dan mendadak Nakula bangkit berdiri terlalu cepat sampai kursinya bergeser keras di lantai. Napasnya kacau sekarang, matanya merah penuh sesuatu yang bahkan lebih buruk daripada takut, sementara tangan yang menggenggam pisau itu gemetar hebat seolah benda kecil tersebut jauh lebih berat daripada senjata apa pun yang pernah ia pegang selama hidupnya.
“Aku bilang berhenti.”
Suara itu pecah.
Benar-benar pecah.
Namun Sadewa justru ikut berdiri perlahan, lalu mendekat dengan langkah tenang yang terasa hampir kejam dalam kelembutannya sendiri. Tangannya terangkat mengusap belakang leher Nakula pelan—gerakan yang sama seperti bertahun-tahun lalu saat ia menenangkan adiknya dari mimpi buruk atau serangan panik diam-diam yang tak pernah diketahui siapa pun selain dirinya.
“Kalau kamu terlalu baik sama saya,” bisiknya lirih di dekat wajah Nakula, “mereka bakal tahu kamu ragu.”
Nakula menatapnya tidak percaya.
Dan mungkin itulah bagian paling menghancurkan dari semuanya.
Bukan Hollow.
Bukan Astra.
Bukan perintah membunuh itu sendiri.
Melainkan fakta bahwa Sadewa sedang berdiri di hadapannya sekarang, dengan tangan hangat dan suara lembut, sambil mengajari dirinya cara menghancurkan orang yang paling ia cintai di dunia.
“Mas minta aku nyakitin Mas?”
Kalimat itu keluar hampir seperti sesuatu yang dipaksa merobek tenggorokan Nakula sendiri. Matanya membelalak tidak percaya, sementara jemarinya mencengkeram pisau kecil itu begitu kuat sampai buku-buku jarinya memucat. Ada rasa marah, takut, dan hancur yang bercampur jadi satu di wajahnya sekarang; emosi yang terlalu penuh sampai tubuhnya sendiri tampak gemetar menahannya.
“Engga,” napasnya mulai kacau bahkan sebelum Sadewa sempat menjawab. “Engga, aku ga mau.”
Ia langsung mundur satu langkah, buru-buru menjauhkan pisaunya sendiri dari tubuh Sadewa seolah benda itu mendadak berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan. Kepalanya menggeleng terus-menerus. Cepat. Panik. Hampir liar.
“Aku ga bakal nyakitin kamu.” Suaranya naik tanpa sadar.
“Aku ga bakal bunuh kamu. Aku juga ga bakal biarin mereka nyentuh kamu, mas.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Nakula benar-benar terlihat seperti seseorang yang sedang berada di ambang runtuh. Napasnya terlalu cepat, matanya merah dan penuh sesuatu yang nyaris menyerupai ketakutan seekor hewan yang terpojok. Ia bahkan tidak lagi terdengar seperti assassin Astra yang selama ini dikenal dingin dan presisi. Yang tersisa sekarang hanyalah seorang adik yang sedang mati-matian mencoba mempertahankan satu-satunya orang yang ia punya di dunia.
“Kita pergi aja.”
Kalimat itu keluar mendadak.
Cepat.
Mentah.
Putus asa.
Nakula langsung mendekat lagi ke Sadewa, tangannya mencengkeram lengan pria itu kuat-kuat seolah takut kalau dilepas sedikit saja, dunia akan langsung merenggutnya pergi.
“Kita kabur. Sekarang. Malam ini.” napasnya bergetar hebat. “Aku punya akses kendaraan bawah. Aku bisa bawa kita keluar sebelum shift pergantian keamanan.”
Sadewa diam.
Namun Nakula terus bicara seperti seseorang yang takut kalau ia berhenti sedetik saja, kenyataan akan langsung menghancurkannya.
“Kita pindah negara, ganti identitas, apa aja! pokoknya ada caranya.” Matanya mulai basah lagi sekarang. “Pasti ada caranya.”
Dan itu mungkin bagian paling menyakitkan dari semuanya.
Karena Sadewa tahu Nakula sebenarnya juga mengerti.
Mereka sama-sama dibesarkan di Astra. Sama-sama tahu seperti apa organisasi itu bekerja di balik dinding-dinding hitamnya yang dingin. Tidak ada mantan aset di Astra. Tidak ada pengkhianat yang benar-benar berhasil menghilang. Orang-orang yang mencoba kabur mungkin sempat diberi ilusi kebebasan beberapa minggu, beberapa bulan, sebelum akhirnya ditemukan kembali dalam keadaan yang jauh lebih buruk daripada kematian itu sendiri.
Maka perlahan Sadewa mendekat lagi.
Tangannya naik menangkup wajah Nakula pelan, menahan pria itu agar berhenti gemetar sesaat. Ibu jarinya mengusap pipi Nakula perlahan, membersihkan air mata yang jatuh tanpa suara, sementara matanya menatap adiknya dengan kelembutan yang terasa begitu menyakitkan.
“Saya tahu kamu tidak bodoh, Nakula.” Suara Sadewa rendah sekali.
Tenang.
Namun justru karena itu dada Nakula terasa semakin sesak.
“Saya tahu sebenarnya kamu juga paham.”
Jemarinya turun menggenggam tangan Nakula yang dingin dan gemetar, lalu membawanya perlahan ke bibirnya. Satu per satu buku jari itu dikecup lembut, penuh kasih sayang, seolah ia sedang mencoba menenangkan luka yang tidak terlihat.
“Kita ga akan bisa kabur.” Kalimat itu diucapkan tanpa amarah, tanpa putus asa.
Hanya kenyataan yang terlalu lama mereka kenal.
“Astra ga bakal berhenti nyari kita. Dan kalau mereka akhirnya nangkep kita…” Sadewa berhenti sebentar. Napasnya terdengar berat seolah bahkan mengatakan kemungkinan itu saja sudah melelahkan. “Mereka ga bakal langsung bunuh kita. Mereka akan menyiksa kita sedemikan rupa sampai kematian akan terasa layaknya hadiah berharga.”
Nakula langsung menegang.
Karena mereka berdua tahu apa arti kalimat itu.
Astra tidak menghukum pengkhianat dengan cepat.
Astra menghancurkan mereka perlahan sampai tidak ada lagi yang tersisa selain rasa takut untuk dijadikan contoh bagi orang lain.
Dan Sadewa tahu Nakula pernah melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Maka jemarinya kembali mengusap pipi adiknya pelan sebelum akhirnya ia berbisik lirih, begitu lembut hingga terdengar hampir seperti doa.
“Saya cuma…” bibirnya sempat bergetar kecil sebelum tersenyum tipis. “Saya cuma ga sanggup kalau harus lihat mereka nyakitin kamu nanti.”
Dan kalimat itu terasa jauh lebih kejam daripada ancaman Astra mana pun.
Karena bahkan di ambang kematiannya sendiri, Sadewa masih lebih takut membayangkan Nakula terluka dibanding dirinya sendiri.
Maka setelah hening panjang yang terasa menyesakkan itu, Sadewa kembali mengecup jemari Nakula pelan sebelum akhirnya membisikkan kalimat yang perlahan menghancurkan seluruh sisa pertahanan di dada adiknya.
“Saya hanya ingin kamu tetap hidup.”
Kalimat itu menghantam Nakula jauh lebih keras daripada ancaman apa pun yang diberikan Astra di Hollow tadi. Ia langsung mundur satu langkah tanpa sadar, seolah napasnya sendiri mendadak terlalu berat untuk ditanggung tubuhnya. Pisau kecil itu masih bergetar di tangannya, bergerak pelan mengikuti gemetar jemarinya sendiri, sementara Sadewa hanya memperhatikannya diam dengan tatapan yang terlalu penuh cinta untuk malam seperti ini.
Lalu perlahan, tanpa rasa takut sedikit pun, Sadewa membuka dua kancing paling atas kemejanya sendiri.
Gerakannya tenang.
Nyaris lembut.
Kulit lehernya terlihat jelas di bawah cahaya dapur yang redup—hangat, hidup, dan begitu familiar bagi Nakula hingga dadanya langsung terasa nyeri. Itu tubuh yang sama yang pernah ia peluk saat kecil ketika mereka tidur berdempetan di malam hujan. Tubuh yang sama yang selalu berdiri di depannya setiap kali dunia terasa terlalu keras. Dan sekarang, tubuh itu sedang dipersembahkan kepadanya perlahan seperti sesuatu yang rela dihancurkan asal Nakula tetap bisa bertahan hidup setelahnya.
“Mas…”
Suara itu keluar kecil sekali, nyaris seperti sesuatu yang patah sebelum sempat lahir utuh. Jemari Nakula masih gemetar hebat saat menggenggam pisau kecil bekas memotong jeruk itu, sementara aroma citrus yang samar masih tertinggal di bilah logamnya, bercampur dengan dingin besi dan napas mereka yang mulai tidak teratur. Di bawah cahaya dapur yang redup, Sadewa tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dijatuhi hukuman mati oleh organisasinya sendiri. Tidak ada ketakutan di wajahnya, tidak ada penolakan, hanya tatapan lembut yang perlahan menghancurkan Nakula jauh lebih dalam daripada ancaman Astra mana pun.
Lalu Sadewa kembali mendekat.
Perlahan.
Hati-hati.
Seolah ia sedang menenangkan binatang terluka yang bisa hancur kapan saja di tangannya.
Ia menggenggam tangan Nakula yang dingin itu pelan, lalu membimbingnya naik sampai ujung bilah pisau menyentuh kulit hangat di lehernya sendiri. Dan detik logam dingin itu benar-benar menempel di sana, tubuh Nakula langsung menegang keras. Napasnya tercekat. Jantungnya terasa seperti diperas hidup-hidup di dalam dada. Ada sesuatu yang begitu salah dalam pemandangan itu sampai tubuhnya sendiri bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat menyusul, jemarinya hampir melepas pisaunya saat itu juga, seolah tubuhnya menolak menerima kenyataan bahwa tangan yang selama ini dipakai melindungi Sadewa kini sedang diarahkan ke leher orang yang sama.
“Dengar saya baik-baik” bisik Sadewa lirih, suaranya rendah dan begitu tenang hingga terdengar nyaris seperti doa. “Besok mereka pasti minta laporan. Mereka bakal lihat bekasnya.”
Nakula langsung memejam keras, menggeleng pelan seperti anak kecil yang tidak ingin mendengar sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk diterima.
“Jangan…”
Namun Sadewa tetap melanjutkan dengan kelembutan yang justru terasa lebih kejam.
“Kalau tubuh saya terlalu bersih, mereka bakal mulai curiga sama kamu.”
Dan kalimat itu membuat sesuatu di dalam diri Nakula runtuh perlahan. Napasnya pecah tanpa suara. Tangannya semakin gemetar di bawah genggaman Sadewa sampai pisaunya ikut bergetar kecil di udara.
“Aku ga bisa…” Kalimat itu terdengar begitu kecil dibanding seluruh rasa takut yang memenuhi dadanya.
Sadewa mengangkat tangan satunya lalu mengusap pipi Nakula perlahan, ibu jarinya menyapu sudut mata yang mulai basah dengan gerakan yang begitu familiar dan penuh kasih sayang hingga rasanya hampir menyakitkan untuk ditahan.
“Bisa.” katanya pelan.
“Aku ga bisa nyakitin Mas…”
Sadewa tersenyum kecil mendengar itu. Sedih sekali. Seolah ada ribuan perpisahan kecil yang disembunyikan di balik lengkung bibirnya.
“Padahal dari tadi tangan kamu udah gemetar cuma karena nahan diri.”
Dan Nakula tahu itu benar.
Sejak tadi ujung pisaunya berkali-kali menyentuh kulit Sadewa tipis-tipis tanpa sadar, meninggalkan tekanan kecil yang nyaris tidak terlihat. Bukan karena ia ingin menyiksa. Bukan karena ia menikmati rasa takut itu. Tetapi karena jauh di dalam dirinya, Nakula tahu kalau sekali saja ia benar-benar mulai melukai Sadewa, dirinya sendiri mungkin tidak akan pernah pulih setelahnya.
Sadewa lalu menarik tangannya sedikit lebih dekat lagi, membimbing ujung bilah itu perlahan dari bawah rahangnya turun ke leher dengan kesabaran yang menghancurkan.
“Pelan aja,” bisiknya lirih di tengah jarak napas mereka yang terlalu dekat. “Ga usah dalam-dalam.”
Dan mendadak dunia terasa berhenti bergerak.
Karena Sadewa mengatakannya dengan nada yang sama seperti dulu saat mengajarinya memotong jeruk di dapur kecil rumah mereka—pelan, sabar, takut jemari adiknya terluka oleh pisau.
Maka akhirnya bilah itu bergerak.
Sangat tipis.
Nyaris seperti belaian.
Meninggalkan garis merah kecil di kulit leher Sadewa.
Dan begitu darah pertama muncul, seluruh napas Nakula langsung runtuh berantakan. Pisau itu terlepas dari tangannya dengan bunyi nyaring saat jatuh ke atas dilantai, sementara matanya membelalak seolah ia baru sadar apa yang telah ia lakukan.
“Mas—”
Suara itu pecah sepenuhnya sekarang.
Namun Sadewa justru lebih cepat bergerak. Tangannya langsung menahan wajah Nakula sebelum pria itu benar-benar jatuh hancur oleh rasa bersalahnya sendiri. Garis darah tipis masih mengalir pelan di leher Sadewa, merahnya tampak begitu kontras di kulit pucat yang terlalu dikenali Nakula seperti mengenali rumahnya sendiri.
“Shh…”
Sadewa menunduk lalu mencium kening adiknya lama sekali.
Lembut.
Tenang.
Penuh kasih sayang yang nyaris terasa tidak manusiawi untuk situasi seperti ini.
“Lihat?” bisiknya sangat pelan. “Saya masih di sini.”
Tetapi Nakula tetap menangis. Diam-diam. Air matanya jatuh satu demi satu ke bahu Sadewa sementara tangannya mencengkeram baju kakaknya seperti orang tenggelam yang takut ditinggalkan sendirian di tengah laut gelap. Dan Sadewa hanya memeluknya lebih erat, terus mengusap belakang kepala Nakula perlahan dengan ritme yang menenangkan, seolah mereka bukan sedang membicarakan cara membunuh dirinya sendiri, melainkan sekadar dua saudara kembar yang mencoba bertahan dari mimpi buruk yang terlalu panjang.
Waktu terasa aneh malam itu. Terlalu lambat, terlalu lembut, seperti semesta sedang menahan napasnya sendiri agar akhir mereka tidak datang terlalu cepat.
Beberapa menit kemudian, setelah tangisan Nakula perlahan berubah menjadi napas patah yang lebih sunyi, Sadewa menarik tubuh mereka sedikit menjauh. Pelukannya terlepas pelan, meninggalkan hangat yang masih tertinggal samar di kulit Nakula, sementara garis luka tipis di leher Sadewa kini tampak lebih jelas di bawah cahaya dapur yang redup—merah samar, kecil, hampir tidak berarti jika dibandingkan dengan semua luka lain yang pernah Nakula ciptakan pada tubuh manusia sepanjang hidupnya. Namun justru karena itu dadanya terasa semakin sesak. Karena ini berbeda. Ini adalah luka pertama yang ia buat di tubuh Sadewa. Dan melihat darah itu muncul di kulit yang selama ini selalu ia lindungi terasa seperti menyaksikan sesuatu di dalam dirinya sendiri ikut disayat perlahan.
Maka Nakula tidak sanggup menatapnya terlalu lama.
Matanya langsung jatuh ke meja, ke piring kecil berisi potongan-potongan jeruk yang aromanya masih memenuhi udara seperti kenangan masa kecil yang dipaksa hidup kembali. Dan di tengah sunyi apartemen mereka yang sempit itu, Sadewa justru bergerak santai mengambil satu potong jeruk lagi dari piring. Jemarinya sempat berhenti sepersekian detik sebelum akhirnya buah itu disodorkan pelan ke arah Nakula, gerakannya begitu otomatis dan akrab seolah dunia mereka tidak sedang berada di ambang kehancuran.
“Mulutnya dibuka.” Suara Sadewa terdengar rendah dan lembut seperti biasa.
Dan entah kenapa, justru itu yang membuat Nakula semakin ingin menangis.
Namun tetap saja ia menurut. Perlahan membuka mulut sementara Sadewa menyuapkan potongan jeruk itu dengan tangan yang kini terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Rasa manis citrus langsung memenuhi lidah Nakula, segar dan familiar, dan dalam satu detik seluruh kenangan masa kecil mereka datang menghantamnya sekaligus—dapur kecil rumah lama mereka, lantai dingin tempat mereka duduk berhimpitan saat hujan turun di luar, kantong jeruk murah dari pasar malam, serta tangan Sadewa yang selalu memilihkan bagian paling manis untuknya terlebih dahulu bahkan ketika mereka sendiri tidak punya banyak hal untuk dibagi.
Dan sekarang tangan yang sama perlahan mulai kehilangan hangatnya sedikit demi sedikit.
Nakula langsung menutup wajahnya cepat.
“Aku benci mereka…”
Kalimat itu keluar pecah di sela napasnya yang gemetar.
Sadewa hanya tersenyum kecil. “Hm.”
“Aku benci tempat itu.” Napas Nakula tersendat lagi sebelum suaranya jatuh semakin lirih. “Aku benci diri aku sendiri.”
Untuk beberapa saat Sadewa tidak menjawab apa-apa. Ia hanya memperhatikan adiknya diam-diam dengan tatapan yang begitu lembut sampai terasa hampir menyakitkan. Lalu perlahan tangannya kembali terangkat, mengusap sisi wajah Nakula yang basah oleh air mata sebelum akhirnya berkata pelan,
“Jangan benci diri kamu.”
Nakula langsung tertawa kecil mendengar itu, tetapi suaranya terdengar lebih seperti sesuatu yang retak.
“Gimana caranya?”
Ia menatap Sadewa dengan mata merah penuh putus asa sekarang, seperti seseorang yang benar-benar kehilangan jalan pulang.
“Aku bahkan ga bisa lindungin kamu, mas.”
Dan kalimat itu membuat ekspresi Sadewa berubah sedikit.
Lembut sekali.
Karena lucunya, Nakula masih belum menyadari satu hal yang paling penting dari semuanya. Sejak awal sampai sekarang, semua yang ia lakukan malam ini justru adalah bentuk perlindungan paling putus asa yang bisa ia berikan. Ia sedang mencoba menyelamatkan Sadewa dari rasa sakit yang jauh lebih buruk, bahkan jika caranya harus menghancurkan dirinya sendiri setelahnya.
Maka Sadewa tidak membantah.
Ia hanya kembali mendekat perlahan, mendekat lagi sampai jarak di antara mereka lenyap sepenuhnya, lalu menarik tubuh Nakula ke dalam pelukannya erat-erat hingga wajah adiknya kembali tersembunyi di lehernya. Tangannya mengusap punggung Nakula perlahan, ritmis, penuh kasih sayang yang begitu tenang hingga terasa nyaris menyedihkan.
“Nakula sayang,” bisiknya lirih di antara rambut gelap Nakula. “Kalau nanti kamu berhasil keluar dari Astra…”
Kalimat itu menggantung sesaat di udara.
“Tolong hidup yang lama ya.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Nakula benar-benar merasa takut.
Bukan pada Astra.
Bukan pada Hollow.
Bukan bahkan pada darah di tangan mereka sendiri.
Melainkan pada cara Sadewa mengucapkan kalimat itu—terlalu lembut, terlalu tenang, seperti seseorang yang diam-diam sedang mengucapkan selamat tinggal tanpa ingin membuat orang yang ditinggalkan semakin hancur.
Mereka akhirnya pindah ke sofa ketika malam mulai terasa terlalu sunyi untuk ditanggung sambil duduk saling berhadapan di meja makan. Hampir seluruh lampu apartemen dimatikan, menyisakan cahaya redup dari dapur yang jatuh samar ke ruang tengah seperti sisa senja yang menolak mati sepenuhnya. Di meja depan, piring berisi potongan jeruk masih tertinggal bersama noda air citrus yang mengilap di permukaan kayu dan bercak darah kecil yang mulai mengering perlahan—merah tipis di tengah aroma manis buah, seperti luka yang menyamar menjadi kenangan.
Nakula kembali duduk di pangkuan Sadewa seperti sebelumnya, terlalu dekat sampai napas mereka saling bertabrakan pelan di ruang sempit antara dada dan leher. Tubuhnya menempel tanpa sisa jarak, kakinya mengapit pinggang sang kakak dengan genggaman yang tidak lagi ragu, lebih seperti takut kehilangan daripada keberanian untuk bertahan. Satu tangannya masih memegang pisau kecil itu, dingin dan berat di sela jari, tapi tidak lagi bergerak; hanya diam seperti saksi bisu yang tidak berani ikut campur dalam keheningan yang terlalu rapuh.
Sadewa tidak menjauh sama sekali. Justru tangannya mengunci Nakula lebih erat, menariknya sampai benar-benar melekat, seolah kalau ada satu inci jarak tersisa, dunia akan masuk dan merampasnya. Ia menunduk perlahan, lalu mencium pelipis Nakula dengan lama, kemudian turun ke rambutnya, ke garis dahi yang masih basah oleh sisa emosi yang tidak selesai, seolah setiap kecupan adalah cara diam-diam untuk mengingat bentuknya sebelum waktu mengambil semuanya.
Nakula langsung memeluknya lebih erat. Wajahnya kembali tenggelam di leher Sadewa, napasnya patah-patah, tapi ia tidak melepaskan pisau di tangannya. Jemarinya malah semakin mencengkeram punggung baju sang kakak, seolah tubuh itu adalah satu-satunya hal yang membuatnya tetap waras. Sadewa membalas pelukan itu dengan lebih dalam, tangan satunya mengusap punggung Nakula perlahan, naik turun seperti ritme yang sudah dihafal sejak mereka masih terlalu kecil untuk mengerti arti takut.
Lalu Sadewa mulai mencium wajah Nakula satu per satu dengan tenang, tidak tergesa, tidak terburu oleh apa pun yang menunggu di luar ruangan itu. Pelipisnya, sudut matanya yang masih basah, pipinya yang dingin oleh air mata, semuanya disentuh dengan bibir yang sama lembutnya seperti dulu. Nakula menutup mata, tapi tubuhnya tetap gemetar, terutama saat Sadewa menunduk lebih dalam, mencium garis rahangnya, lalu perlahan turun ke lehernya dengan napas yang hangat.
Pisau di tangan Nakula tetap ada di sana, tidak jatuh, tidak bergerak, hanya bergetar kecil mengikuti denyut di tangannya sendiri. Namun Sadewa tidak pernah melihatnya dengan ketakutan; seolah bahkan benda itu tidak lebih penting daripada cara ia masih memeluk adiknya seperti seseorang yang menolak mengakui akhir yang sudah berdiri di depan mata.
Sadewa dapat merasakan dingin bilah logam pisau tersebut bergerak pelan di bawah rahang, turun ke leher, lalu berhenti di dekat tulang selangka seperti hewan kecil yang ragu menggigit tuannya sendiri. Jemari Nakula gemetar hebat saat memegangnya. Bukan takut pada darah, bukan takut pada rasa sakit, melainkan takut pada kenyataan bahwa tubuh di hadapannya adalah Sadewa, orang yang selama ini selalu disentuhnya dengan kasih sayang, bukan luka.
Nakula perlahan mengangkat wajahnya sedikit. Matanya masih merah dan basah habis menangis, bibirnya gemetar pelan seolah seluruh tubuhnya sedang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk ditanggung sendiri. Dan sebelum ia sempat bicara, Sadewa sudah lebih dulu menariknya ke dalam ciuman panjang yang lembut dan hangat. Untuk beberapa detik, rasa yang memenuhi mulut mereka hanyalah manis-asam jeruk yang tadi mereka makan bersama; begitu familiar, begitu menyerupai rumah, sampai dada Nakula terasa nyeri karenanya.
Namun di tengah ciuman itu, tangan sang biru kembali bergerak.
Ujung pisau turun perlahan menyentuh kulit di bawah tulang selangka Sadewa. Kali ini tidak lagi setipis sebelumnya. Bilah itu menekan sedikit lebih dalam sebelum akhirnya membelah kulit pelan-pelan, membuka garis merah baru yang langsung mengeluarkan darah hangat dalam jumlah lebih banyak. Cairan itu merembes perlahan mengikuti lekuk tulang dada Sadewa, membasahi ujung kerah kemejanya yang sudah terbuka sebagian.
Sadewa menarik napas kecil di sela ciuman.
Tubuhnya sempat menegang sepersekian detik karena perih yang datang terlambat, namun ia tidak menjauh. Tidak menghentikan tangan Nakula. Justru jemarinya semakin erat mencengkeram pinggang adiknya, seolah ia sedang menahan Nakula agar tidak tenggelam lebih jauh ke dalam rasa bersalahnya sendiri.
Nakula mulai gemetar semakin parah.
Karena sekarang darah itu benar-benar ada di tangannya.
Hangat.
Merah.
Nyata.
Dan entah kenapa, justru itu membuat sesuatu di dalam dirinya pecah sepenuhnya.
Maka ujung pisau itu bergerak lagi.
Kali ini lebih panjang.
Menyayat miring dari dekat tulang selangka turun tipis ke dada atas Sadewa, cukup dalam untuk membuat darah langsung mengalir lebih deras dan napas pria itu tersendat kecil di balik ciuman mereka. Bunyi kain yang tersayat pelan terdengar samar ketika bilahnya ikut merobek bagian depan kemeja Sadewa sedikit demi sedikit.
Namun Sadewa tetap mencium Nakula dengan lembut. Tetap membiarkan bibir mereka saling menelan napas satu sama lain seolah rasa sakit itu bukan sesuatu yang penting malam ini.
“Good boy…” bisiknya lirih di sela bibir mereka, suaranya mulai sedikit berat oleh napas yang tertahan. “Kayak gitu.”. Dan kalimat itu menghancurkan Nakula jauh lebih dalam daripada darah mana pun yang kini mengotori tangannya sendiri.
Pujian itu yang membuat tangan Nakula semakin gemetar. Ada sesuatu yang terasa begitu salah dari cara Sadewa masih mampu berbicara selembut itu di tengah darah dan rasa sakit yang perlahan memenuhi tubuhnya sendiri. Pisau kecil di genggaman Nakula bergerak turun lagi dengan ragu-ragu, ujung bilahnya menyentuh dada Sadewa sebelum perlahan membelah kulit pucat itu dalam garis tipis yang memanjang miring di atas tulang selangkanya. Kali ini darah keluar lebih jelas—hangat, merah gelap, mengalir pelan seperti benang-benang rakta yang ditarik keluar dari tubuh seseorang dengan terlalu hati-hati agar tidak putus. Cairan itu meresap ke kerah kemeja Sadewa yang sudah terbuka sebagian, meninggalkan noda merah yang tampak begitu kontras di bawah cahaya lampu redup, seperti kelopak bunga aśoka yang dijatuhkan satu per satu ke atas kain putih.
Dan Nakula langsung mencium Sadewa lagi.
Cepat.
Panik.
Nyaris putus asa.
Seolah bibirnya sedang mencoba meminta maaf atas semua luka yang baru saja ia ciptakan dengan tangannya sendiri.
Ciuman mereka perlahan kehilangan bentuk. Tidak lagi lembut seperti sebelumnya, melainkan berubah menjadi sesuatu yang kacau dan basah oleh napas patah, rasa takut, dan cinta yang terlalu besar untuk tetap muat di dalam dada manusia. Aroma citrus dari jeruk yang tadi memenuhi mulut mereka kini bercampur dengan amis besi yang semakin pekat setiap kali bibir mereka bertemu lagi. Rasa manis-asam itu perlahan mati di lidah mereka, digantikan rasa darah yang hangat dan menyakitkan—seolah malam ini bahkan kenangan masa kecil mereka pun sedang berubah menjadi sesuatu yang berdarah.
Di sela ciuman itu, Sadewa mulai beberapa kali batuk kecil.
Suara rendah yang tertahan di tenggorokannya langsung membuat Nakula panik setiap kali terdengar. Tangannya buru-buru berhenti bergerak, pisaunya membeku di udara sementara matanya mencari wajah Sadewa dengan ketakutan telanjang seperti anak kecil yang baru sadar ia telah memecahkan sesuatu yang paling berharga di dunia. Namun Sadewa hanya mengusap pipinya pelan dengan jemari yang mulai sedikit dingin, lalu kembali menarik Nakula mendekat untuk mencium dia sekali lagi, seolah rasa sakit itu hanyalah hujan kecil yang tidak layak ditakuti.
“Gapapa…” Suaranya mulai terdengar lebih berat sekarang, rendah dan serak di sela napas yang semakin tidak stabil.
Nakula langsung menggeleng cepat. Air matanya jatuh lagi tanpa suara.
“Aku nyakitin Mas…”
Dan mendengar itu, Sadewa justru tersenyum kecil, senyum lelah yang terasa begitu lembut hingga hampir menyerupai belas kasihan seorang dewa kepada manusia yang sedang hancur di hadapannya.
“Gapapa, sayangku.”
Kalimat sederhana itu menghantam Nakula jauh lebih keras daripada ancaman Astra mana pun. Seolah dunia tiba-tiba kehilangan cara lain untuk menyakiti selain suara itu—suara yang terlalu lembut untuk diucapkan dalam situasi seperti ini, terlalu penuh kasih untuk seseorang yang sedang berdiri di ambang kehancuran. Maka untuk menghentikan dirinya sendiri agar tidak benar-benar runtuh malam itu, Nakula kembali mencium Sadewa lebih dalam, lebih rakus, seperti seseorang yang sedang mencoba menelan seluruh dunia sebelum dunia itu diambil darinya. Sementara di sela ciuman yang makin berantakan itu, pisau kecil di tangan sang biru tetap bergerak perlahan. Bukan lagi dengan keyakinan, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan, kepatuhan yang dipenuhi tangis yang tidak jadi keluar.
Sadewa tidak sedikitpun menghindar.
Ia justru membalas ciuman itu dengan cara yang sama lembutnya, seolah bibirnya adalah satu-satunya tempat di dunia yang masih bisa ia gunakan untuk mengatakan bahwa ia disini tanpa membuat Nakula semakin hancur. Tangannya tetap memegang Nakula erat di pinggang, menahan tubuh adiknya yang bergetar seperti daun yang dipaksa bertahan di tengah angin yang terlalu keras. Di setiap jeda napas, Sadewa masih sempat mengecup sudut bibirnya, pelan, seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang meski dunia mereka sudah lama berubah menjadi sesuatu yang tidak manusiawi.
Dan di tengah itu semua, Sadewa tetap menjadi Sadewa—yang justru paling sadar bahwa setiap detik yang berjalan bukan lagi milik mereka, melainkan milik sistem yang sudah lama menunggu momen ini terjadi.
Tangannya yang satu naik perlahan, menggenggam tangan Nakula yang memegang pisau, bukan untuk menghentikan, tapi untuk menstabilkan. Seolah ia sedang memastikan bahwa jika ini harus terjadi, maka setidaknya tidak ada yang akan tertinggal di tengah jalan dan menjadi lebih buruk dari yang seharusnya.
“Na…” bisiknya di sela ciuman yang mulai kehilangan arah, “jangan berhenti.”
Nakula tersentak kecil, napasnya patah di bibir Sadewa.
Bukan karena ia ingin.
Tapi karena tubuhnya tidak lagi mampu membedakan antara cinta dan kehancuran.
Pisau itu bergerak lagi, lebih lambat dari sebelumnya, seperti ragu yang dipaksa menjadi tindakan. Dan setiap kali Nakula berhenti sedetik saja, Sadewa justru mempererat pelukannya, mengecupnya lagi, seolah sedang mengingatkan bahwa dunia di luar ruangan ini tidak akan pernah memberikan mereka pilihan lain selain menyelesaikannya sampai akhir.
Karena di Astra, tidak ada luka yang boleh setengah.
Tidak ada pengkhianatan yang dibiarkan menggantung.
Dan tidak ada cinta yang diizinkan tetap utuh setelahnya.
Satu garis.
Satu luka.
Lalu satu ciuman lagi.
Kulit Sadewa terus terbuka sedikit demi sedikit di bawah ujung bilah yang gemetar; sayatan-sayatan tipis mulai memenuhi bahu, dada atas, hingga dekat lehernya seperti retakan halus pada patung suci yang perlahan dihancurkan oleh tangan pemujanya sendiri. Darah mengalir semakin banyak sekarang, hangat dan licin di jemari Nakula, membuat tubuh Sadewa perlahan berkilau merah di bawah cahaya redup apartemen mereka seperti altar kecil yang dipersembahkan kepada sesuatu yang terlalu kejam untuk disebut takdir.
Namun Sadewa menerima semuanya.
Tangannya tetap memeluk Nakula erat-erat, terus mengusap punggung adiknya perlahan dengan ritme yang hampir menyerupai doa. Seolah bahkan sekarang, saat tubuhnya sendiri sedang dibuka sedikit demi sedikit oleh orang yang paling ia cintai, yang paling ia takutkan tetap bukan kematian.
Melainkan bagaimana Nakula akan hidup setelah semua ini selesai.
Lampu ruang tengah kini hanya menyisakan cahaya keemasan yang lemah di tubuh mereka. Jeruk di meja tinggal beberapa potong. Aroma citrus bercampur darah memenuhi udara seperti kenangan masa kecil yang dibusukkan perlahan oleh nasib. Dan di tengah semua itu, Sadewa masih duduk diam di bawah tubuh adiknya seperti seseorang yang telah menerima akhir ceritanya sejak lama—setenang śānti sebelum dunia runtuh.
Napas mereka bercampur semakin kacau. Ciuman mereka berubah liar dan gemetar, penuh suara napas patah yang sulit dibedakan mana tangis dan mana desahan sakit. Nakula mencium Sadewa semakin dalam, seolah ingin menelan semua suara kecil yang keluar dari tenggorokan kakaknya agar pria itu tidak perlu merasakan apa pun lagi.
Lalu di sela ciuman itu, pisau kembali bergerak.
Kali ini tidak lagi sepenuhnya ragu.
Bilahnya menghujam pelan ke bahu Sadewa dengan suara basah samar yang nyaris tenggelam di antara napas mereka. Tidak terlalu dalam, namun cukup untuk membuat tubuh Sadewa menegang sesaat di bawahnya dan jari-jarinya mencengkeram pinggang Nakula lebih erat. Darah langsung merembes hangat dari luka itu, mengalir perlahan melewati tulang bahunya seperti sungai kecil berwarna merah gelap.
Nakula langsung membeku.
Matanya membelalak pelan seperti baru sadar bahwa tangannya benar-benar telah menancapkan pisau ke tubuh Sadewa.
Dan yang paling menghancurkan dari semuanya adalah fakta bahwa Sadewa tetap menariknya mendekat setelah itu.
Tetap menciumnya.
Tetap membelai belakang lehernya dengan penuh kasih sayang.
“Good boy…” bisiknya lirih tepat di bibir Nakula yang gemetar, suaranya kini terdengar lelah dan hangat sekaligus. “Mereka bakal percaya kalau kayak gini…”
Dan mendadak Nakula merasa dirinya lebih kejam daripada kematian itu sendiri.
Karena bahkan maut setidaknya datang untuk mengakhiri rasa sakit, sementara dirinya malam ini justru sedang memperpanjangnya sedikit demi sedikit dengan tangan yang gemetar dan cinta yang terlalu besar untuk berhenti. Dan kalimat Sadewa tadi—Mereka bakal percaya kalau kayak gini—akhirnya menghancurkan pertahanan terakhir yang masih tersisa di dalam dirinya. Sesuatu di dada Nakula runtuh pelan seperti bangunan tua yang sejak awal memang sudah retak, lalu pisau itu kembali bergerak di tangannya.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Dadah merah segar terciprat memenuhi kedua kembar seiring dengan tusukan-tusukan kecil yang lahir dari amarah, takut, dan putus asa yang sudah terlalu penuh untuk tetap tinggal diam di dalam tubuh manusia. Tidak cukup dalam untuk membunuh. Tidak diarahkan ke titik fatal mana pun. Hanya cukup untuk meninggalkan bukti. Sebuah bukti yang cukup untuk membuat Astra percaya bahwa assassin mereka benar-benar telah melakukan tugasnya tanpa keraguan. Namun setiap kali bilah itu masuk ke tubuh Sadewa—membelah kulit, menembus daging tipis, mengeluarkan darah hangat yang segera membasahi tangan dan pakaian mereka—Nakula langsung mencium kakaknya lebih dalam sesudahnya, seolah bibirnya sedang berusaha meminta maaf atas sesuatu yang bahkan tidak mungkin diampuni.
Dan ciuman mereka berubah menjadi sesuatu yang nyaris menyakitkan untuk dilihat.
Basah.
Patah.
Rakus oleh rasa takut kehilangan.
Nakula mencium Sadewa seperti orang tenggelam yang sedang berebut udara terakhirnya sendiri, seolah kalau ia cukup banyak mencium pria itu, luka-lukanya akan berhenti terasa sakit, darahnya akan berhenti keluar, dan malam ini tidak akan berakhir dengan salah satu dari mereka mati perlahan di bawah cahaya lampu apartemen yang redup.
Namun tubuh Sadewa mulai melemah sekarang, seiring dengan rintihan kecil yang lolos dari bibirnya saat ia merasakan sakit yang semakin menumpuk di dalam dirinya bersamaan dengan netranya menangkap bagaimana ususnya keluar perlahan melalui sayatan besar yang ada di tubuhnya.
Napasnya semakin berat di sela ciuman mereka. Sesekali batuk kecil keluar dari tenggorokannya, rendah dan tertahan, membawa rasa amis besi yang perlahan memenuhi mulut mereka setiap kali bibir itu bertemu lagi. Dan setiap kali darah Sadewa terasa di lidahnya, Nakula merasa dirinya ikut hancur sedikit demi sedikit dari dalam.
Tangan sang adik gemetar semakin hebat sampai pisaunya beberapa kali hampir terlepas.
“Aku benci mereka…” napasnya pecah di bibir Sadewa, serak dan penuh mata biru yang menumpahkan hujan dengan deras. “Aku benci semuanya…”
Namun Sadewa hanya memeluk pinggangnya lebih erat.
Masih sempat menenangkan dirinya.
Masih sempat mengusap pipinya pelan dengan jemari yang mulai dingin.
Padahal kemejanya sendiri sudah basah oleh darah, merah gelap yang terus menyebar perlahan di kain seperti bunga palāśa yang mekar terlalu banyak di musim kematian.
Dan akhirnya Nakula tidak sanggup lagi menahan dirinya sendiri.
Ia menunduk ke bahu Sadewa sambil terisak kecil, napasnya pecah berantakan di kulit yang kini dipenuhi luka dan darah hangat. Pisau itu masih tertancap dangkal di sisi tubuh Sadewa sekarang, naik turun pelan mengikuti napas pria itu yang mulai tidak teratur. Namun bahkan dalam keadaan seperti itu, Sadewa tetap mengusap rambut Nakula perlahan dengan ritme lembut yang sama seperti dulu—seperti saat mereka masih anak-anak dan satu-satunya hal yang perlu mereka pikirkan hanyalah siapa yang mendapat potongan jeruk paling manis malam itu.
“Mas…” suara Nakula hampir hilang sepenuhnya sekarang. “Aku takut.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Sadewa terlihat rapuh.
Benar-benar rapuh.
Bukan karena darah yang terus keluar dari tubuhnya, bukan karena napasnya yang mulai patah-patah, melainkan karena di matanya akhirnya muncul sesuatu yang selama ini ia sembunyikan mati-matian, rasa takut yang sangat manusiawi.
Rasa takut akan kematian.
Namun bahkan begitu, Sadewa tetap tersenyum kecil sebelum menunduk mencium kening adiknya lama sekali, seolah ingin meninggalkan seluruh kasih sayangnya di sana sebelum semuanya terlambat.
“Saya juga.”
Kalimat itu jatuh begitu pelan di antara mereka, namun rasanya seperti sesuatu yang diam-diam merobek dunia menjadi dua bagian.
Lalu Sadewa memeluk Nakula lebih erat lagi, sementara aroma jeruk dan darah perlahan memenuhi seluruh apartemen kecil mereka seperti doa terakhir yang membusuk di udara.
Setelah itu, waktu mulai kehilangan bentuknya sendiri.
Nakula sudah tidak tahu lagi berapa kali pisaunya bergerak malam itu. Tangannya mulai mati rasa. Bibirnya penuh darah. Dan tubuh Sadewa di bawahnya terasa semakin berat setiap detik, semakin hangat sekaligus semakin jauh dari genggamannya. Namun pria itu masih terus memeluknya. Masih terus membelai tengkuk Nakula pelan di sela napas yang mulai patah-patah, seolah bahkan sekarang pun Sadewa masih lebih sibuk menenangkan dirinya dibanding mempertahankan hidupnya sendiri.
Dan itu menghancurkan Nakula jauh lebih dalam daripada kematian mana pun.
Maka ia kembali mencium Sadewa.
Dalam.
Panik.
Putus asa.
Seolah kalau ia berhenti satu detik saja, dunia mereka benar-benar akan berakhir malam itu juga.
Pisau yang sejak tadi hanya meninggalkan luka-luka kecil akhirnya bergerak lagi dengan arah yang berbeda malam itu. Tidak lagi ragu, tidak lagi sekadar menyayat permukaan kulit atau membuka daging seperti doa putus asa yang takut didengar semesta.
Kali ini bilah itu masuk lebih dalam—tepat menghujam dada Sadewa. Menembus jantungnya. Dan saat logam itu benar-benar menembus, seolah ada sesuatu yang patah di udara di antara mereka.
Tubuh Sadewa langsung menegang di pelukan Nakula, seluruh ototnya mengunci seketika. Napasnya tersendat begitu tiba-tiba, seperti ada tangan tak terlihat yang meremas tenggorokannya dari dalam. Suara kecil yang lolos dari bibirnya terdengar pecah, nyaris tidak utuh, lebih seperti desahan yang kehilangan bentuknya di tengah jalan.
Nakula bisa merasakan getaran dari tubuh itu, perubahan yang terlalu cepat, terlalu tidak wajar. Hangat menjalar dari titik luka, merembes perlahan dan membuat kain di antara mereka menjadi berat, lembap, dan asing di kulit. Sadewa mencoba menarik napas lagi, tapi yang keluar justru terputus-putus, tidak pernah benar-benar sampai.
Matanya mulai kehilangan fokus, dan setiap tarikan udara terasa seperti perjuangan yang makin jauh dari kata berhasil.
Lalu Sadewa batuk.
Satu kali.
Dan darah hangat muncrat kecil di sela bibirnya.
Rasa amis besi berada di antara ciuman mereka dan langsung memenuhi mulut Nakula saat itu juga, menghancurkan sisa-sisa kesadaran yang masih berusaha ia pertahankan. Matanya membelalak lebar, seluruh tubuhnya membeku seperti seseorang yang baru sadar bahwa tangannya sendiri telah merobek sesuatu yang seharusnya tidak pernah disentuh manusia.
“Mas—” suaranya pecah total sekarang, serak dan penuh ketakutan, sementara tangannya buru-buru bergerak ingin menarik pisau itu keluar, panik seperti anak kecil yang mencoba membatalkan mimpi buruk sebelum semuanya terlambat. Namun Sadewa justru menahan pergelangan tangannya lemah-lemah.
Jangan.
Tidak ada kata yang benar-benar keluar dari bibirnya. Namun tatapan itu sudah cukup mengatakan semuanya. Karena mereka berdua tahu, mencabut pisau itu sekarang hanya akan membuat darah keluar lebih cepat, membuat akhir yang sedang datang berlari semakin tergesa-gesa menuju mereka.
Napas Sadewa mulai berubah setelah itu.
Pendek.
Berat.
Setiap tarikan udaranya terdengar seperti sesuatu yang dipaksa melewati paru-paru yang perlahan dipenuhi rakta, darah hangat yang kini merembes jauh di dalam tubuhnya sendiri. Dadanya naik turun tidak teratur di bawah tangan Nakula, sementara bibirnya mulai kehilangan warna sedikit demi sedikit. Namun anehnya, di tengah tubuhnya yang perlahan runtuh, Sadewa masih sempat menoleh pelan ke meja kecil di samping sofa.
Jeruk terakhir masih ada di sana.
Potongan kecil berwarna keemasan yang tampak begitu menyedihkan di tengah aroma darah yang semakin pekat memenuhi ruangan.
Dengan tangan yang mulai gemetar hebat, Sadewa mengulurkan jemarinya ke arah meja. Gerakannya lambat sekali sekarang, seolah seluruh tenaganya habis hanya untuk mengangkat satu tangan. Dan saat jemari dingin itu akhirnya menyentuh wajah Nakula sekilas, pria itu langsung merasa dadanya remuk seketika. Karena tangan yang selama ini selalu hangat saat membelai dirinya kini terasa sedingin hujan dini hari di bulan kematian.
Namun tetap saja Sadewa mengambil potongan jeruk itu.
Yang terakhir.
Yang paling manis.
Lalu dengan susah payah, Sadewa masih mengangkat tangannya—gerakannya sudah tidak lagi stabil, seperti tubuh yang dipaksa mengingat kebiasaan lama di saat ia sendiri hampir kehilangan kendali atas dirinya. Namun ia tetap melakukannya. Dengan lembut, dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu ketika mereka masih duduk berhimpitan di lantai dapur rumah kecil itu, membagi jeruk murah dari pasar malam, seolah dunia belum pernah mengenalkan mereka pada hal selain sederhana dan aman.
Dan di tengah rasa sakit yang perlahan merenggut napasnya, Sadewa masih sempat tersenyum.
Tipis.
Lemah.
Tapi nyata.
Senyum yang tidak lagi utuh, namun tetap cukup untuk membuat seluruh adegan itu terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak terjadi pada orang seperti mereka. Jemarinya yang mulai kehilangan kekuatan tetap berhasil menyentuh bibir Nakula, menyuapkan potongan kecil itu dengan hati-hati, seolah bahkan di ambang runtuhnya sendiri ia masih ingin memastikan adiknya merasakan sesuatu yang familiar—sesuatu yang tidak pernah berubah di antara semua kekacauan yang datang setelahnya.
Dan justru karena itu, momen itu menjadi jauh lebih menyakitkan daripada luka apa pun yang sedang perlahan menghabisinya malam ini.
Nakula langsung hancur.
Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan lagi sementara ia menggigit jeruk itu sambil menangis seperti anak kecil yang kehilangan rumahnya sendiri. Rasa citrus memenuhi mulutnya—manis, segar, menyakitkan—bercampur dengan darah Sadewa yang masih terasa di lidah mereka. Kenangan masa kecil, tawa-tawa kecil di dapur sempit, jeruk murah dari pasar malam, semua datang menghantam dirinya sekaligus seperti kutukan yang terlalu indah untuk dikenang di saat seperti ini.
“Jangan…” suaranya pecah total sekarang, napasnya terseret-seret di sela tangis yang tidak mampu lagi ia tahan. “Mas… tolong… tolong jangan tinggalin aku…”
Dan Sadewa menatapnya lama sekali setelah itu.
Lembut sekali.
Tatapan penuh kasih sayang yang terasa terlalu besar untuk muat di dalam tubuh manusia, sampai-sampai Nakula merasa dirinya akan mati hanya karena dilihat seperti itu untuk terakhir kalinya. Lalu perlahan, dengan sisa tenaga terakhir yang masih tersisa di tubuhnya, Sadewa menarik Nakula mendekat sedikit lagi.
Dan mencium bibirnya.
Untuk terakhir kali.
Ciuman itu terasa asin oleh air mata, amis oleh darah, dan samar-samar masih menyisakan rasa citrus jeruk di lidah mereka seperti sisa kenangan yang menolak pergi. Namun di balik semua rasa itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat memenuhi dada Sadewa sampai akhir hayatnya.
Rumah.
Itulah yang selalu ia rasakan dari Nakula.
Bahkan sampai detik terakhir.
Bahkan saat pisau itu masih tertancap dalam di dadanya sendiri.
Saat ciuman mereka akhirnya terlepas perlahan, napas Sadewa mulai goyah—bukan langsung hilang, tapi memudar seperti api kecil yang dibiarkan kehabisan oksigen di ruang sempit. Dadanya bergerak semakin pelan setiap kali mencoba menarik udara, seolah tubuhnya sendiri mulai lupa bagaimana caranya bertahan, sementara jemari dinginnya masih menempel lemah di pipi Nakula, tidak sepenuhnya ingin pergi, hanya tidak lagi punya cukup tenaga untuk tetap tinggal.
Sangat sebentar.
Terlalu sebentar untuk sesuatu yang selama ini mereka anggap tidak akan pernah berakhir.
Dan di detik-detik yang nyaris tidak lagi punya waktu itu, Sadewa masih menatapnya—bukan dengan takut, bukan dengan marah, tapi dengan sesuatu yang justru lebih menyakitkan, tenang yang dipaksa lahir dari kehilangan. Seolah ia sudah lebih dulu menerima apa yang bahkan belum selesai terjadi, dan yang tersisa hanya kebiasaan lama untuk tetap lembut sampai akhir.
Lalu perlahan, seperti seseorang yang akhirnya menyerah pada berat seluruh dunia, tangannya jatuh dari pipi Nakula.
Tidak dramatis.
Tidak ada perlawanan terakhir.
Hanya jatuh pelan, pasti, seperti garis yang selesai ditarik.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka lahir bersama di dunia ini, Sadewa berhenti bernapas.
Sementara Nakula tetap di sana, membeku di dalam pelukannya sendiri, memegang tubuh yang dulu selalu menjadi tempat pulang, dengan pisau yang masih tertancap sebagai saksi terakhir dari cara paling manusiawi yang berubah menjadi paling tidak mungkin. Di sekeliling mereka, aroma jeruk yang seharusnya hangat berubah menjadi sesuatu yang menusuk ingatan, bercampur dengan sunyi yang terlalu luas untuk sebuah apartemen kecil—seolah seluruh dunia ikut berhenti, hanya untuk memastikan bahwa momen itu benar-benar terjadi dan tidak bisa ditarik kembali.
Detik itu juga Nakula hancur sehancur-hancurnya.
Ia langsung menarik tubuh Sadewa lebih erat, terlalu erat sampai tangannya gemetar hebat, seolah dengan menekan cukup kuat ia bisa memaksa kenyataan berubah. Tapi yang ia peluk tetap diam. Terlalu diam.
“Aku… aku gak…” suaranya langsung pecah, tidak jadi kalimat. “‘Mas… m-mas dewa..…”
Lalu semuanya benar-benar lepas.
Tangisnya meledak keras, tanpa bentuk, tanpa kontrol, sampai tubuhnya ikut bergetar hebat di atas Sadewa. Ia mengguncang kakaknya lagi dan lagi, panik, putus asa, seperti seseorang yang baru sadar dunia sedang runtuh tapi sudah terlambat untuk lari.
“Bangun!” teriaknya, suara serak sampai hampir hilang. “Bangun, Mas! Tolong—tolong jangan gini!”
Napasnya tersedak di tengah teriakan itu, tapi ia tidak berhenti. Tangannya mencengkeram pakaian Sadewa sampai kusut, wajahnya basah penuh air mata yang jatuh tanpa jeda.
“Aku gak bisa… aku gak bisa…” katanya berulang-ulang, makin tidak jelas. “Aku gak bisa kalau Mas gak ada…”
Kepalanya menggeleng keras, berulang kali, seperti menolak seluruh dunia yang baru saja terjadi di depannya. Tubuhnya miring, menempel lagi ke dada Sadewa, seolah mencari tanda sekecil apa pun yang bisa membuat semua ini tidak nyata.
“Jangan tinggalin aku…” suaranya turun, pecah total, tapi justru makin keras secara emosi. “Aku minta… aku minta jangan…”
Tapi tidak ada jawaban.
Tidak ada napas yang menyahut.
Tidak ada tangan yang membalas.
Nakula langsung kehilangan semua bentuk dirinya.
Tangisnya meledak begitu saja, keras, pecah tanpa jeda, sampai suaranya sendiri terdengar asing di telinganya. Ia mengguncang tubuh Sadewa lagi dan lagi, seperti orang yang baru sadar dunia baru saja runtuh tapi tetap memaksa runtuh itu mundur.
“Bangun!” teriaknya, sampai suaranya serak di tengah jalan. “Mas, bangun—jangan gini!”
Tangannya mencengkeram pakaian Sadewa sampai jari-jarinya sakit sendiri, tapi ia tidak peduli. Ia menarik, mengguncang, menempelkan wajahnya lagi, seperti sedang mencari celah terakhir bahwa ini semua salah.
“Aku gak terima…” suaranya pecah, lebih rendah tapi lebih liar. “Aku gak terima, Mas… gak bisa gini…”
Napasnya hancur. Tersedak. Tidak rapi. Ia menolak berhenti bahkan saat tubuhnya sendiri mulai kehabisan tenaga, seolah berhenti berarti mengakui semuanya nyata.
“Aku masih di sini…” bisiknya tiba-tiba, seperti orang yang kehilangan arah. Lalu langsung berubah jadi teriakan lagi. “Aku masih di sini, Mas!”
Tapi Sadewa tetap tidak menjawab.
Tidak ada sentuhan balik.
Tidak ada suara pelan yang memanggilnya lagi.
Dan itu yang membuat Nakula benar-benar pecah.
Ia jatuh lagi ke tubuh itu, memeluknya seperti satu-satunya hal yang tersisa di dunia, sambil menangis keras sampai bahunya gemetar tidak karuan.
“Jangan tinggalin aku sendirian…” suaranya turun, patah total di akhir. “Tolong… jangan…”
Tapi tidak ada yang berubah.
Hanya sunyi yang makin tebal.
Dan Nakula yang terus menangis, seperti tubuhnya belum mengerti bahwa yang ia peluk sudah tidak akan pernah kembali lagi.
Nakula masih menangis keras, napasnya berantakan dan putus-putus, bahunya bergetar hebat saat ia tetap memeluk tubuh Sadewa seolah tidak ada bagian dari dirinya yang mau menerima kalau ini sudah selesai.
Tangannya mencengkeram pakaian Sadewa kuat sekali, tidak mau lepas sedikit pun, seperti kalau ia berhenti memegang, semuanya akan benar-benar hilang dari dunia. Wajahnya basah, matanya merah, tapi ia tetap di sana—menempel, mengguncang pelan kadang-kadang tanpa sadar, seperti tubuhnya masih mencari jawaban yang sudah tidak ada lagi.
“Mas…” suaranya pecah di tengah napas. “Mas… jangan gini…”
Ia menarik tubuh itu sedikit lagi, lalu langsung diam lagi, seperti baru sadar tidak ada reaksi apa pun yang bisa kembali. Sunyi yang datang setelahnya justru lebih keras daripada teriakan tadi.
“Aku masih di sini…” bisiknya, lebih pelan, hampir seperti tidak yakin pada kata-katanya sendiri. “Aku masih di sini…”
Tapi Sadewa tidak menjawab.
Tidak bergerak.
Dan Nakula tetap memeluknya erat, seperti satu-satunya cara dia bisa menahan dunia agar tidak ikut menghilang bersamanya. Ia kemudian menarik napas terpatah-patah di sela tangisnya, tubuhnya masih menempel erat pada Sadewa seolah jarak sekecil apa pun akan membuat semuanya benar-benar runtuh.
“Mas nyuruh aku tetap hidup…” suaranya serak, pecah di ujung kata. Ia tertawa kecil—bukan tawa yang lucu, tapi kosong, seperti refleks yang rusak. “Tapi gimana caranya aku tetap hidup kalau bagian aku yang paling penting ikut hilang sama kamu…”
Tangannya mencengkeram pakaian Sadewa lebih kuat, lalu melemah lagi, seolah ia sendiri tidak tahu harus marah atau runtuh lebih dalam. Bahunya bergetar, kepalanya menunduk, menempel di dada yang sudah tidak menjawab apa-apa.
“Kalau separuh aku mati di sini…” lanjutnya pelan, hampir seperti gumaman yang hancur di dalam dirinya sendiri, “terus aku yang tersisa ini siapa?”
Ia diam sebentar, napasnya tersengal, lalu menggeleng kecil berkali-kali.
“Aku gak ngerti, Mas…” suaranya turun, lebih lirih, lebih kosong. “Aku gak ngerti harus hidup kayak apa tanpa kamu.”
Dan setelah itu ia tidak bicara lagi, hanya tetap memeluk, seperti tubuhnya menolak melepaskan satu-satunya tempat di mana ia pernah merasa utuh.
