Work Text:
Kota adalah kolam keterhubungan yang luar biasa.
Di antara belasan juta penduduk Tokyo, belum termasuk yang datang dan pergi dengan pola acak dan tak terduga, Ayato tidak pernah mengira ternyata lingkarannya terlalu sempit—dan sedikit-banyak dia memikirkan soal takdir dan kebetulan.
Semula berawal dari bisikan dari kiri dan kanan soal manajer yang baru di divisi sebelah. Perusahaan tempatnya bekerja baru saja melakukan merger dan mempertahankan beberapa jabatan dari perusahaan asal. Sebaya denganmu, kata rekan-rekan kerjanya. Mau kenalan, nggak? Cantik, lho. Dan Ayato, yang lebih dari separuh hidupnya dihabiskan untuk mengejar pendidikan dan karir, merasa bahwa dia harus mempertahankan harga diri dan citranya melalui kemampuan untuk mendekati wanita. Juga demi menghindari celetukan lain dari warga seperti pria sekeren, semapan, sepintar Ayato payah dalam mendekati wanita?! maka Ayato pun memulai langkah pertama: meminjam novel romansa milik adiknya, Ayaka.
Dia, di sela kesibukannya, mencoba untuk membaca buku tersebut di waktu luangnya. Di kereta saat perjalanan pergi atau pulang bekerja, di jam makan siang, atau di akhir pekan saat dia menghabiskan waktu sendirian di kafe atau restoran, dia mencicil bacaan. Hidupnya belakangan ini terlalu sering disetir oleh video pendek atau materi yang berkaitan dengan pekerjaan, membaca buku terasa cukup menyegarkan dan membuatnya yakin bahwa ini bisa membuat branding diri yang bagus. Beberapa kali, di jam makan siang, dia tahu bahwa wanita itu melihatnya. Setidaknya, dari perspektif dirinya, dia terlihat lebih keren.
Laki-laki pintar itu seksi, Ayato mengingat kutipan dari buku itu di luar kepala. Tokoh utama di novel tersebut adalah laki-laki berkacamata, dan, tentu saja, meskipun matanya bisa melihat dengan cukup jelas dalam jarak dekat (dia hanya memakai kacamata sesekali jika terpaksa harus menyetir keluar kota), dia mengikuti citra itu dengan memakai kacamata netral saat membaca. Pencitraan pria kepala tiga yang bakal ditertawakan rekan-rekannya jika tahu motif aslinya. Untung saja, sampai saat ini mereka hanya mengira minusnya bertambah.
Ada banyak adegan-adegan yang cukup menjurus di novel tersebut. Dia hampir saja menegur Ayaka karena membaca novel seperti ini, sampai dia sadar bahwa adiknya bukanlah lagi gadis kecil yang suka mengekorinya. Ayaka sudah berusia pertengahan dua puluhan, wajar jika ia paham tentang hal-hal ini. Walaupun itu artinya Ayato harus pasang mata dan telinga lebih tajam lagi setiap kali pacar Ayaka, yang walaupun dikenalnya sejak kecil karena mereka bersahabat, mengajak Ayaka jalan-jalan di malam akhir pekan.
Kembali lagi pada novel yang digandrungi Ayato selama dua minggu belakangan, yang membuatnya dilirik oleh Nona Manajer itu beberapa kali di jam makan siang (dan satu kali di kafe dekat kantor ketika mereka tidak sengaja bertemu di akhir pekan). Novel itu ber-setting di dunia kerja yang membuat Ayato bisa memahami dan merasa terhubung dengan mudah. Dia bersyukur Ayaka memperkenalkannya pada buku itu terlebih dahulu. Ada banyak tips yang bisa ditirunya sebagai langkah awal untuk mendekati wanita yang satu kantor dengannya.
Pertama, buat wanita itu terkesan dengan penampilan yang keren. Beberapa wanita memang menyukai pria yang sedikit nakal, begitu kata novel tersebut, tetapi sebagian besar mencari ketenangan, kemapanan, dan kecerdasan. Perempuan suka teka-teki dan kejutan, sehingga kecerdasan diperlukan untuk membuat permainan tak terduga.
Oke, cek. Ayato merasa yakin dia bisa memenuhi sebagian di antaranya.
Kedua, berdasarkan cerita novel tersebut, berawal dari kecerdasan yang akan membuat kejutan-kejutan—berilah wanita itu kesan atau impresi yang menarik: bawalah ia ke tempat-tempat yang bisa meninggalkan kesan di kota yang awalnya terlihat monoton, tetapi kemudian persepsinya bisa berubah karena kejutan tersebut.
Di bagian ini, Ayato berpikir keras. Tokyo adalah metropolitan yang sibuk, individualis, penjara-penjara kapitalisme bersalut kemewahan dan kecemerlangan dalam bentuk gedung-gedung pencakar langit di dalamnya berlomba mencapai kemapanan. Waktu begitu cepat berlalu, orang-orang berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika matahari telah menghilang dengan dalih menghidupi kehidupan, tetapi mematikan rasa. Menggulirkan roda kapitalisme, tetapi menghentikan naluri akan keindahan. Kota adalah kotak paradoks dan ironisme, novel itu berkata-kata melalui sang tokoh wanita yang dingin tetapi haus akan cinta, banyak orang-orang munafik dan hati yang beku di sini. Memangnya ada harapan?
Namun, tokoh utama pria di novel tersebut menunjukkannya tempat-tempat yang perlahan meluluhkan gadis itu, sekaligus mengenal dan menerima masa lalunya yang membuatnya trauma. Pria itu mengajaknya melihat refleksi cahaya di dermaga saat malam hari, yang berkilauan seperti keping emas di antara perahu-perahu mesin yang terombang-ambing. Dia juga mengajak wanita itu ke jembatan penyeberangan dan melihat kota dari sana, yang diapit oleh gedung-gedung tinggi, dan berpura-pura menganggap lampu-lampu yang terlihat dari kejauhan sebagai bintang-bintang di langit, lantas membuat rasi mereka sendiri.
Oke, catat Ayato di dalam benaknya, jadilah penuh kejutan dan kreatif. Dia mungkin akan mencoba mengajak wanita itu ke tempat tinggi tempat seisi Tokyo bisa dilihat dalam perspektif yang berbeda jika mereka berdua sudah cukup akrab.
Setidaknya keakraban itu bisa dimulai pada suatu Jumat yang agak lengang dari beban pekerjaan, ketika Ayato pergi ke kafe tepat di seberang gedung kantornya di jam pulang kerja, membeli americano double shot dan mengambil tempat di dekat jendela. Buku, cek. Kacamata, cek. Kalaupun wanita itu kebetulan tidak ke sini, dia bisa saja menarik perhatian orang-orang lain dan menciptakan kabar yang bisa menyebar dari mulut ke mulut, seperti kekuatan branding produk dalam bisnis.
Cinta adalah komoditi, oh sulit sekali untuk tidak beranggapan seperti itu di zaman sekarang! Cinta bertalian dengan uang dan segala prosesnya, begitu kata buku itu, sehingga wanita si tokoh utama memiliki trauma di masa lalunya.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ketika Ayato mengangkat kepalanya dari halaman kedua ratus empat puluh delapan, wanita itu berada di barisan nomor dua di antrean untuk makan di tempat. Dia pura-pura sibuk membaca lagi (walaupun cuma bisa melewati dua paragraf) sampai akhirnya wanita itu menghampiri mejanya dengan satu gelas penuh americano pula.
“Hai. Kosong?” ia menunjuk kursi di hadapan Ayato dengan nada berbasa-basi, dan mengerjapkan matanya.
Ayato sudah beberapa kali berbicara dengannya secara formal untuk urusan pekerjaan dan dalam forum-forum rapat atau diskusi di kantor, atau sapaan-sapaan ringan di pagi atau sore hari di pantry, tetapi baru kali ini dia melihat cara wanita itu bicara padanya dengan sedikit … genit. Ayato pun mengangguk. “Ya. Kosong, silakan.”
Wanita itu bertopang dagu sambil mengerling pada buku yang dibaca Ayato. Ketika Ayato mengangkat pandangannya, ia tersenyum penuh arti. Bukan, batin Ayato, bukan kucing. Kedipan mata di awal barusan memberikan impresi seperti kucing yang lucu baginya, tetapi senyuman itu membuat kesan lain di dalam kepalanya tentang cara wanita ini menatap dan tersenyum.
Rubah. Ia seperti rubah yang … licik?
Membikin penasaran saja.
“Ayato-kun senang membaca?” sebutnya akrab, seolah-olah mereka sudah mengenal begitu lama.
“Dulu, saat masih sekolah, suka sekali.” Dia menaruh pembatas bukunya di halaman yang tengah dibukanya. “Sudah cukup lama sejak buku terakhir yang kuselesaikan.”
“Mmmm, jadi baru mulai baca lagi?” ia mengedikkan dagu ke buku tersebut.
“Ya. Aku penasaran dengan buku-buku koleksi adikku. Dia yang masih setia mengoleksi buku sampai sekarang.”
“Hmm.” Matanya berbinar-binar dengan cara yang membuat Ayato salah fokus. “Ceritanya bagus?”
“Bagus. Menarik,” Ayato mengangguk. “Menambah perspektif baru untukku.”
“Oh, baguslah.” Ia tersenyum sambil mengerling, dan ia menyeruput minumannya dengan cara yang malah mengalihkan fokus Ayato ke warna lipstiknya; merah jambu lembut tetapi mengilap. Ia menengok ke arah jendela, sedotan masih bertengger di sudut bibirnya.
“Miko-san suka membaca?” Ayato berusaha untuk membuka percakapan.
Yae Miko mengerling, menggigit sedotannya. “Lumayan,” jawabnya.
Sayang sekali, pembicaraan harus putus di situ karena sebuah panggilan merusak momen Ayato. Dia terpaksa berpamitan lebih dulu, tetapi dengan satu bekal di pikirannya: bagus. Yae Miko senang membaca, teruslah buat kesan seperti ini.
Ayato tenang-tenang saja, dia merasa punya banyak kesempatan dan topik lain yang bisa digali bersama.
Misalnya seperti saat lainnya, ketika secara (lagi-lagi), kebetulan, hanya mereka berdua yang ada di pantry untuk mengambil air putih, Yae Miko pun menggodanya,
“Sudah selesai novelnya?”
Ayato tertawa getir. “Belum. Minggu ini terlalu sibuk.”
Yae Miko tertawa kecil. “Ceritakan padaku kalau sudah selesai, ya.”
Ah, kesempatan. “Kamu mau baca juga?”
“Ah, nggak juga.” Ia tertawa renyah. “Aku cuma mau tahu pendapatmu.”
Akan ada potensi obrolan panjang setelah ini, dan Ayato terpacu untuk segera menyelesaikannya. Dia berusaha menyelesaikannya di akhir minggu tersebut, dan membawanya untuk dibaca saat dia makan siang sendirian di restoran di samping kafe langganannya pada siang Jumat yang, untungnya, agak longgar. Semua dengan rencana yang terpetakan cukup matang: dia bisa selesai pada Sabtu malam, lalu mengajak Yae Miko jalan berdua dengan dalih menceritakan soal buku tersebut.
Seolah-olah semesta memang sedang menghubungkan benang-benang di antara mereka, Yae Miko juga datang ke restoran tersebut. Lagi-lagi ia tersenyum seperti rubah yang punya seribu satu pikiran tak terduga ketika mendapati Ayato makan sambil membaca.
“Sepuluh halaman lagi.” Ayato menyisipkan penanda buku di antara halaman empat ratus sembilan puluh tiga dan empat ratus sembilan puluh empat.
“Oh my God, di situlah bagian menariknya.” Ia pun membuka sumpitnya. Restoran tersebut menjual masakan-masakan ala Asia Tenggara, dan aroma phở yang dipesan Yae Miko itu sangat menggoda. “Selamat makan!”
Sebagai seorang yang tahu cara berperilaku yang pantas di depan seorang wanita, Ayato yang hampir selesai makan pun maju duluan untuk membawa bill mereka berdua ke kasir. Dia menceritakan sedikit-sedikit tentang buku tersebut pada Yae Miko sambil meninggalkan bagian-bagian pentingnya untuk akhir pekan nanti—sambil diselingi cerita tentang pekerjaan mereka sehari-hari. Tepat di halaman kesepuluh, Yae Miko juga selesai makan, dan Ayato dengan gagah berani mengajukan diri untuk minta waktu Yae Miko di akhir minggu ini.
“Tentu,” Yae Miko mengedipkan mata. “Kita ketemu di mana?”
“Stasiun dekat sini?” Ayato memberi isyarat ke balik bahu dengan ibu jarinya.
“Ide bagus.” Yae Miko setuju tanpa berpikir panjang.
Ayato pun mengembalikan buku tersebut pada Ayaka di malam harinya dengan hati yang puas. Dia bertekad untuk membelikan Ayaka hadiah mahal setelah ini jika ‘kencan’nya lancar di akhir pekan ini.
Dia baru saja akan beranjak dari kamar adiknya tersebut ketika Ayaka memanggilnya kembali,
“Kakak,” ia kedengarannya sedang syok, kemudian melompat dari tempat tidurnya. “Bagaimana bisa ada tanda tangan Kak Kitsune di sini?”
Ayato mengangkat alis. “Maksudmu?”
Ayaka pun menunjuk pada halaman paling depan buku tersebut, sebuah tanda tangan asli dalam bentuk seperti hati terpatri di sudut. Di bawahnya, ada tulisan terima kasih sudah membaca! disertai dengan emoji mengedipkan mata. “Aku beli edisi tanpa tanda tangan! Hebat sekali Kak Ayato—bagaimana caranya Kakak bertemu dengannya?”
“Bertemu?” Ayato semakin kebingungan. “Aku tidak membawa buku ini ke mana-mana—bagaimana kamu tahu ini tanda tangan aslinya?”
Ayaka pun berlari ke rak bukunya. Ia mengambil sebuah buku yang bersampul merah muda pastel, membukakan halaman pertamanya untuk Ayato, “Ini buku lain yang ditulis Nona Kitsune. Sulit sekali dapat tanda tangan Nona Kitsune—preorder edisi pertama yang bertanda tangan asli selalu cepat ditutup karena terbatas dan banyak peminatnya. Nona Kitsune juga tidak pernah mengadakan sesi tanda tangan, jadi orang-orang selalu berebut.”
Ayato membandingkan kedua tanda tangan tersebut; sama persis. Dia mengerjap, mencoba mengingat-ingat apakah buku ini tertukar di suatu tempat dengan seseorang—tapi rasanya kemungkinannya terlalu kecil. Satu banding berapa milyar, buku ini tertukar dengan milik seseorang yang sama persis, dan milik orang tersebut adalah edisi terbatas dengan tanda tangan. Sampai kemudian Ayaka menyadari sesuatu—di sudut tanda tangan tersebut juga tertulis tanggal. 14.05.
“Empat belas Mei—kemarin, ya, Kak? Ketemu di mana?” Ayaka memohon-mohon.
Penyadaran itu kemudian menyambar Ayato bak petir. Kemarin dia hanya membawa dan membaca buku itu ke restoran untuk makan siang, dan sempat ditinggalkannya di meja ketika dia membayar makanannya dan Yae Miko. Kitsune, pikirnya. Rubah. Ia selalu membuat wajah seperti itu setiap kali mendapati Ayato membaca bukunya. Ia tidak ingin membacanya—tentu saja karena ia sudah tahu ceritanya bahkan sebelum buku itu lahir. Sekarang semuanya terpasang cocok seperti kepingan puzel terakhir pelengkap gambar besarnya:
Yae Miko adalah Nona Kitsune.
Dia membaca buku itu tepat di depan penulisnya sendiri.
Dia ingin mempraktikkan trik-trik mendekati wanita di depan orang yang membuat trik itu sendiri.
Kota adalah kolam keterhubungan yang luar biasa.
Dan Ayato tersenyum canggung ketika bertemu tatap dengan Yae Miko di stasiun tersebut. Yae Miko tertawa, seolah-olah sudah tahu apa yang terjadi. Wanita ini mungkin telah memetakan rencana, menghitung kemungkinan, dan membuat prediksi hasil, dan Ayato mengakui dirinya kalah telak.
“Kenapa?” perempuan itu terkekeh. “Sudah sadar, ya?”
“Seandainya aku tahu sejak awal,” Ayato berusaha tetap terlihat seperti dirinya sendiri. “Halo, Nona Kitsune,” dia mendeham.
Yae Miko tertawa lebih renyah. “Mau ke mana kita malam ini?”
Semua titik yang sudah direncanakan Ayato seperti di novel itu sudah buyar. Tak ada gunanya mengajak wanita yang sudah mengetahui segalanya, bahkan mungkin pernah mengalaminya sebelum menuliskannya.
Yae Miko melempar tebak-tebakan, “Rasi bintang bumi?” ia berisyarat tentang salah satu adegan di novel. “Atau keping emas dermaga?”
Ayato menggeleng. “Perempuan suka pria yang pintar memberikan kejutan, bukankah begitu?”
Yae Miko mengangkat alis. “Oh. Kamu belajar banyak, rupanya.”
Ayato membaca pola: Yae Miko mungkin menyukai pertunjukan cahaya yang indah, tetapi alamiah, terjadi dalam keseharian dan banyak luput dari kesadaran orang-orang. Bukan sesuatu yang dibuat-buat secara khusus seperti kembang api, pertunjukan drone, atau tarian cahaya oleh air mancur. Maka malam itu dia pun mengajak Yae Miko ke tepi kota, memperkenalkannya pada area tempat tinggalnya semasa kecil, dan bersinggah di suatu titik di tengah-tengah jalan perumahan tersebut.
“Masih ada,” gumam Ayato setengah tersenyum. “Dulu,” dia mendekati arena sempit di antara dua tembok rumah, “aku sering latihan di sini.”
Mereka memasuki arena tersebut, dan Yae Miko memilih untuk duduk di bangku panjang di tepian. Ayato mencari-cari sesuatu di sudut lapangan. “Kamu mantan pemain basket?”
“Hanya ikut kegiatan ekstrakurikuler. Ikut beberapa kompetisi saat SMP. Fokus belajar waktu SMA—dan semuanya selesai di sana.” Dia kembali ke tengah-tengah lapangan. “Sayang sekali. Dulu biasanya kami meninggalkan bola begitu saja di sini.” Dia berlari kecil, seperti melatih refleksnya lagi dan melompat di dekat ring, memasukkan bola imajiner ke sana. Dia mendarat dari lompatannya di dekat tiang lampu, menepuk-nepukkan tangannya yang sempat menyentuh ring. Dia pun menoleh ke belakang, ke sorot lampu putih yang meneranginya. “Sepertinya, kamu suka objek cahaya.”
Yae Miko mengerjap-ngerjap. “Bagaimana kamu tahu?”
“Kamu menulis banyak hal tentang cahaya kota di bukumu.” Ayato menyunggingkan senyum tipis.
Yae Miko tertawa kecil. “Cahaya, bagiku, adalah titik balik kebenaran. Banyak yang kusadari saat melihat cahaya kota.”
“Termasuk inspirasi cerita?” Ayato pun berjalan mendekatinya.
“Stop di situ,” perintah Yae Miko tiba-tiba sambil menunjuk titik tempat Ayato melangkah dengan kaki kanannya. “Nah, bagus.” Ia pun memotret. “Lighting bagus, angle tepat.” Ia mengacungkan jempolnya, nail art dengan hiasan di ujung berupa mutiara kecil merah jambu itu mencuri perhatian Ayato ketika dia melihat hasilnya dari dekat di ponsel Yae Miko.
“Kamu akan menulisku di ceritamu selanjutnya?”
Yae Miko mengerling, menyeringai tipis. Ia pun mengibaskan rambutnya ke balik bahunya, yang mengganggu layar ponselnya ketika ia mengamati foto tersebut. “Seseorang pernah bilang—jangan macam-macam dengan seorang penulis. Jika kamu menyakiti hatinya, dia akan membuatmu menjadi penjahat di ceritanya.” Kemudian, ia mengerling. “Tapi jika dia mencintaimu, dia akan memujamu berkali-kali lipat di ceritanya.”
Ayato memandang mata violetnya begitu betah, begitu lama. Binarnya terlihat sangat hidup meskipun ia tidak berada di bawah cahaya pencakar langit Tokyo, sinar Shinjuku yang gemerlap, atau lampu-lampu indah kanal di Shibuya di musim dingin. Hanya sesederhana lampu lapangan basket yang terlupakan, dan Ayato yakin bahwa jatuh cinta tak bisa memilih waktu.
“Kamu mau masuk dalam ceritaku?” Yae Miko mengedipkan matanya.
“Sebagai apa?” Ayato tertawa lembut.
“Kalau kamu nggak mau jadi antagonis,” Yae Miko berpura-pura membetulkan kerah kemeja Ayato yang baik-baik saja, “katakanlah kalimat itu, Kamisato Ayato.”
“Hmmm,” Ayato mengulum senyumannya, “aku jatuh cinta padamu, Nona.”
“Nona yang mana?” tanya Yae Miko sambil menelengkan kepala, setengah menggoda, “Nona Yae Miko, atau Nona Kitsune?”
“Apakah ada bedanya? Aku suka keduanya.”
