Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 22 of light in the cities
Stats:
Published:
2026-05-23
Words:
889
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
22

little lights smiling at me

Summary:

Di Osaka, Thoma jatuh cinta lagi.

(Mungkin sudah kesejuta kalinya untuk orang yang sama, tapi sungguh, dia masih bisa melakukannya lagi dan lagi.)

Ayaka masih menangkupkan tangannya di depan kuil Naga Putih Nakazakicho. Begitu lama dan khusuk, Thoma mencuri pandang berkali-kali dan berharap takkan ada pengunjung lain untuk sementara waktu agar tidak ada yang mengganggu momennya.

Notes:

genshin impact © hoyoverse.
penulis tidak mengambil keuntungan komersial apapun dari pembuatan cerita ini. cerita ini adalah murni fiksional, tidak ada kaitannya dengan orang-orang di dunia nyata—jika terjadi persamaan maka hal itu adalah hal yang tidak disengaja.

(Sekuel dari blue skies smiling at me.)

Work Text:

Di Osaka, Thoma jatuh cinta lagi.

(Mungkin sudah kesejuta kalinya untuk orang yang sama, tapi sungguh, dia masih bisa melakukannya lagi dan lagi.)

Ayaka masih menangkupkan tangannya di depan kuil Naga Putih Nakazakicho. Begitu lama dan khusuk, Thoma mencuri pandang berkali-kali dan berharap takkan ada pengunjung lain untuk sementara waktu agar tidak ada yang mengganggu momennya.

(Belakangan Thoma akan tersanjung begitu mengetahui bahwa orang-orang datang berdoa di sana salah satunya adalah untuk memohon tentang keberhasilan pernikahan. Untung saja dia mengetahuinya saat sudah kembali ke California, seandainya dia menyadari saat masih di Osaka, barangkali dia akan segera meminta tetua keluarga Kamisato mengesahkan hubungan mereka malam itu juga.)

Ayaka mengangkat kepalanya. Thoma lekas-lekas berpura-pura baru mengangkat kepalanya juga. Ayaka tersenyum, seraya bertanya, “Mau berkeliling lagi?”

“Boleh, ayo.”

Nakazakicho bersembunyi di Osaka seperti sebuah ruang yang tertinggal dalam waktu. Keluar dari area kuil tersebut, langkah Ayaka mengajak serta Thoma ke kafe yang seperti berasal dari berdekade-dekade sebelumnya, tersembunyi di bawah rimbunnya tanaman dan berbentuk seperti rumah kuno dengan bahan mayoritas dari kayu. Di sana mereka memesan dua gelas iced chai dan satu roti panggang yang dibagi dua, dan Ayaka berdiam begitu lama di depan rak buku tua. Ayaka masih pertengahan dua puluhan, tetapi kadang Thoma melihatnya berjiwa tua, mungkin karena ia dibesarkan oleh nilai-nilai tradisional yang masih dijunjung tinggi oleh para keluarganya, meskipun mereka telah membaur di dalam kehidupan urban. Ia besar dengan buku-buku filosofi dan musik klasik, tidak heran ia bertahan begitu lama di tempat ini dan menemukan kepingan lain dari memori yang bukan miliknya, tetapi terhubung dengannya dengan masa lalunya.

Barang-barang yang berdesakan di dalam kafe tersebut seolah-olah datang dari lorong waktu, secara bersamaan dari pintu-pintu asal yang berbeda. Thoma mengambil foto Ayaka di depan salah satunya; tangga tua dari kayu, dan meskipun Ayaka memakai dress pastel favoritnya, ia selalu cocok dengan segala situasi, bahkan di situasi klasik ini.

(Atau, mungkin hanya karena Thoma yang sedang jatuh cinta untuk kesekian kalinya ini.)

Jalan kecil Nakazakicho dibingkai oleh fasad-fasad bertema rustic dan Ayaka sengaja melangkah pelan-pelan menyusurinya. Di sini, warna-warni neon dan kilau cahaya kota terasa jauh sekali, tetapi bukan pula melulu tentang alam raya seperti yang terlihat di halaman belakang komplek perumahan keluarganya tempat mereka menginap beberapa hari belakangan. Waktu terasa berjalan lambat di sini—yang membuat Thoma bersyukur, karena besok mereka harus terbang kembali ke dunia urban yang membesarkan mereka beberapa tahun belakangan ini. Berada di sini seperti bernapas kembali, mencuri kepingan masa lalu dan mencoba berjalan di atasnya.

Mereka bersinggah lagi di sebuah kafe yang berbeda alih-alih secara mencolok, tetapi lebih kepada lembut dan menenangkan dengan warna birunya yang senada dengan pakaian dan rambut Ayaka. Thoma memotret Ayaka dari belakang saat memasukinya, dan langsung menjadikannya foto layar kunci ponselnya. Keduanya menghabiskan waktu hingga gelap di dalamnya, dua kali memesan makanan dan bercengkerama tentang apa saja yang harus mereka lakukan sekembalinya di California; Thoma dengan pekerjaan magangnya di sebuah studio film indie dan Ayaka yang ingin mencoba mendaftar untuk konferensi terbatas untuk para analis bisnis awal bulan depan.

Begitu keluar dari kafe tersebut, lampu-lampu kuning hangat sudah menyala menerangi jalur-jalur di Nakazakicho, jalan pulang malam itu adalah rona keemasan yang akan dikenang Thoma sampai bertahun-tahun kemudian.

 


 

Malam terakhir mereka di Osaka dihabiskan dengan Ayaka yang diam-diam mengajaknya menelusuri jalan keluar di komplek rumah keluarga besarnya menuju kebun dan padang rumput yang sebagian besar ditumbuhi oleh tanaman-tanaman obat koleksi keluarga. Ayaka menepuk rumput dingin di sampingnya, mengajak Thoma ikut serta untuk memandang langit yang nyaris tanpa bintang.

“Beberapa kali, saat aku masih kecil, aku pergi ke sini untuk liburan musim panas.” Ia mendongak, menunggu sesuatu. Begitu lama, sampai ia melanjutkan lagi, “Waktu itu, aku masih bisa menghitung bintang-bintangnya.”

“Mungkin malam ini agak mendung.” Thoma mengeluarkan ponselnya sebentar untuk mengecek ramalan cuaca yang ditampilkan di layar depannya. “Iya, benar. Malah katanya tengah malam nanti bakal hujan.”

“Oh,” Ayaka berucap pelan, tetapi tidak terdengar kecewa. Ia masih menunggu, memeluk kakinya yang menekuk di depan dadanya.

Thoma telah menjejakkan kaki begitu jauh dari tanah kelahirannya, dan di dalam darahnya dia membawa sejarah nenek moyangnya yang juga berasal dari jauh. Merantau adalah jalan hidup mereka, barangkali dalam beberapa generasi hingga ke dirinya, telah genap jejak satu keliling penuh bumi. Akan tetapi, di sini, di kota yang bukan tempat kelahirannya, pun bukan tempat kelahiran Ayaka, dia bisa menemukan ketenangan yang tidak pernah ditemukannya di manapun. Tidak di sudut sunyi apartemennya di California, tidak di atas gurun yang pernah dikunjunginya untuk mengejar hobinya.

“Ah, lihat,” bisik Ayaka, dan Thoma pun mengikuti arah yang ditunjukkan Ayaka dengan jarinya. Terbang rendah di atas pucuk-pucuk rumput, setitik cahaya berkelap-kelip segan. Thoma membelalak, dan hanya berani berisyarat dengan gerakan bibir, kunang-kunang! takut suaranya akan membuat makhluk itu ketakutan. Satu ekor lagi muncul dari kegelapan, dan mereka berkejaran, mengudara, kemudian menghilang lagi di balik pohon-pohon tinggi. Pandangan Thoma mengikuti mereka hingga mereka lenyap, dan seketika langsung merindukannya. Kapan terakhir kali dia melihat kunang-kunang? Bahkan di masa kecilnya yang jauh pun dia tidak bisa mengingatnya.

Padang itu sunyi. Sunyi cahaya, sunyi suara, sunyi dari bintang-bintang. Sedikit penerangan dari pekarangan belakang komplek rumah memberikan sedikit petunjuk untuk jalan pulang, tetapi mereka belum juga beranjak meski bulan sudah tinggi. “Nona Ayaka masih ingin di sini?”

Ayaka menatap matanya. Ia mengangguk singkat, mengulas senyum tipis. Kesunyian melingkupi seperti selimut yang sejuk, Thoma tahu dia bisa menganggap malam ini selamanya.

Di Osaka, Thoma jatuh cinta lagi.

Series this work belongs to: