Work Text:
Dunia tak pernah terlalu ramah pada mereka yang berbeda.
Terkadang mereka menyingkirkan, melupakan, mengabaikan mereka yang hanya ingin menyaksikan dan sedikit peduli—hanya karena yang berbeda itu tampak tak umum. Yang bersayap dan bertanduk, yang dingin karena zaman dan yang berusaha mencari perhatian, yang tinggal di tepian tetapi tak menua seiring bergulirnya waktu.
Sara melihat Nara hidup dan tumbuh. Pohon-pohon berubah menjadi rumah-rumah, kegelapan rembulan ditemani oleh nyala obor dan pelita-pelita kecil di jendela-jendela. Wisteria mulai tumbuh di mana-mana, dibudidayakan oleh manusia karena mereka menyukai keindahan. Salah satu alasan mengapa orang-orang mulai mengernyit melihat kedatangannya dan Itto dari hutan—meskipun mereka hanya bermaksud berkunjung dan melihat-lihat kehidupan manusia.
Pergi, pergi! Kau membuat anakku takut!
Pergi, pergi! Usir dia! Dia bisa membawa bencana!
Anak-anak, jangan dekat-dekat dengan hutan! Oni itu bisa memakan kalian!
Mereka sudah membentuk rupa, berusaha menyamai manusia dan berupaya berkawan, karena hutan dan padang lapang terlalu sunyi untuk makhluk-makhluk yang hidup lebih lama dari sejarah. Namun tetap saja, mereka adalah tengu dan oni, sejatinya bukan manusia. Sayap dan tanduk adalah bagian dari diri mereka, yang membuat manusia-manusia tahu bahwa mereka bukan bagian dari orang-orang yang berada di sana.
(Padahal, ia dan Itto menyaksikan Nara hidup dan tumbuh lebih dulu daripada mereka. Bukan manusia yang men-hidup-kan Nara. Nara telah ada dan bernapas bahkan sebelum mereka memberi nama dan ciri.)
Tidak banyak yang mereka berdua inginkan. Paling tidak: ikut bercocok tanam dan memanen di ladang, bermain dengan anak-anak, berpamitan di malam hari setelah bercengkerama—alih-alih karena diusir.
Dunia tak pernah terlalu ramah pada mereka yang berbeda, bahkan pada saat bencana.
Sara melihat bagaimana orang-orang itu datang menyerang kuil-kuil. Itto membawa siapa saja yang masih bisa mereka selamatkan dari api besar yang menjalar hingga melalap habis kampung-kampung. Dia membawa orang-orang di punggungnya, menggendongnya, menjauhkan mereka dari api. Sara menyelamatkan hewan-hewan peliharaan yang terjebak, memberikan mereka kembali kepada pemiliknya yang harus mengungsi.
Namun, tetap saja. Mereka berlari takut. Mengusir. Menutup mata anak-anak mereka.
Sudah, sudah cukup kota kami habis. Pergi kalian, jangan membawa petaka kepada kami lagi.
Hari itu, kota habis karena perselisihan manusia; wisteria menjadi abu dan dedaunan layu. Manusia-manusia meratap, bersedih tetapi yang gundah bukan hanya mereka.
Di cabang pohon yang belum habis sepenuhnya menjadi arang dan akar besarnya menolak tercerabut, Sara menarik sayapnya, menyembunyikannya di punggung. Ia bersandar pada batang pohon, menyaksikan kota menjadi kelabu dan sendu. Mereka yang pernah hidup, kini pergi, tetapi alam hanya akan tidur sebentar sebelum bangkitnya kembali. Kota pasti akan tumbuh lagi, tapi akan ramahkah mereka?
“Hari yang panjang, heh?”
Di bawah sana, Itto juga duduk bersandar pada batang pohon tersebut. Dia juga memandang kota, memutar-mutar setangkai wisteria kecil di antara jari telunjuk dan ibu jarinya. Sara bahkan tidak tahu masih ada wisteria yang bertahan dari keganasan api.
Seakan-akan mendengar pertanyaan di benak Sara, Itto mendongak. Dia terkekeh, dan dia pun melompat ke cabang tempat Sara beristirahat. Dia menyerahkan tangkai kecil itu, dan mengangkat bahu. “Ada pohon yang tersisa di utara. Aku menyelamatkan dua puluh orang,” dia menggosok hidungnya bangga. “Kuilnya habis tidak bersisa.”
Sara menerima bunga itu dengan ragu, ia tidak sempat mengucapkan apa-apa, Itto kembali melompat turun dan bersandar di tempat yang sama seperti sebelumnya.
Matahari sudah tenggelam. Kota senyap, nyaris tanpa nyawa. Tidak ada lagi pelita-pelita di jendela, orang-orang masih ketakutan akan api yang menghancurkan kota mereka, sehingga tidak ada lagi yang menyalakan api malam itu. Bulan dan bintang-bintang merebut kekuasaan mereka kembali.
Sara membuka sayapnya, menyelimuti dirinya sendiri. Itto juga menutup mata dalam kesunyian.
Besok, matahari akan terbit lagi, benih akan tumbuh lagi. Bulan akan menjadi sabit lagi, kemudian manusia-manusia akan kembali menyalakan pelita-pelita dan mengadakan gencatan senjata. Pemenang hari ini bisa saja menjadi orang biasa esok hari, dan pecundang di lain hari. Sabit pun akan kembali penuh menjadi purnama, matahari akan tenggelam tetapi manusia menumbuhkan harapan. Kehidupan manusia bergulir seperti mati dan tumbuhnya kota ini, dan Nara akan menemukan napasnya kembali ketika orang lain datang memulihkan. Kekuasaan akan berganti, yang hari ini bukan siapa-siapa besok bisa menjadi yang punya segalanya. Yang hari ini berjaya besok bisa saja menderita.
Di mata mereka yang hidup lebih lama dari sejarah, manusia yang saling menumpahkan darah dan mencurangi itu bagai sekejapan mata saja—
“Oi, tengu!”
Sara mengerjap. Ia mencari-cari asal suara, menoleh ke kiri dan kanan, masih sempat mendengar orang-orang yang berkomentar soal sayap yang tidak lagi ia sembunyikan di balik punggungnya, oh, dia sedang cosplay—sayapnya kelihatan nyata, keren!
Di antara juntaian wisteria yang memenuhi sekitar Kasuga, diterangi oleh ribuan lentera, oni tersebut berlari menembus kerumunan dan membawa setangkai wisteria di tangan kanan, serta sebuah bungkusan kertas di tangan kirinya. “Kau meninggalkan makananmu di sana!”
Oh. Ia baru saja teringat—ia menunggu antrean makanan sebelum ia mengeluyur sendiri untuk melihat-lihat, dan membiarkan Itto di sana. Pria itu kemudian menghampirinya, dan Sara mempertimbangkan antara tangan kanan atau kiri Itto. Itto pun mengangkat bungkusan kertas itu, serta-merta Sara pun menggeleng, “Buatmu saja.”
“Eh, yang benar?!”
Sara mengangguk begitu saja. “Kau yang menunggunya.”
Itto memandang bungkusan itu dengan mata berbinar. Dia pun terkekeh. “Kalau begitu, ini untukmu!” Itto memberikan wisteria tersebut pada Sara, menyelipkannya di balik telinganya. “Berlawanan warna dengan matamu. Hmm, bagus.”
Barangkali, setelah ribuan tahun, Itto akhirnya paham tentang keserasian warna dan keindahan di baliknya. Sara pun menyentuh wisteria itu, dan walaupun Itto meletakkannya tak hati-hati dan miring, ia masih merasa tersanjung.
Dunia mungkin tak begitu ramah bagi yang berbeda—
—tetapi bagi mereka yang berbeda, mereka menciptakan dunia mereka sendiri.
(Di bawah kanopi wisteria, Sara mengakuinya: ribuan tahun berlalu, jutaan kelopak wisteria yang jatuh telah ia lewati, Nara jatuh dan bangkit beratus kali sejak ia pertama kali membuka mata, tetapi dunianya masih berdiri kokoh di hadapannya.)
