Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 24 of light in the cities
Stats:
Published:
2026-06-05
Words:
2,869
Chapters:
1/1
Kudos:
6
Bookmarks:
1
Hits:
37

detak jantung kota (yang sampai pada dirinya)

Summary:

Ketika tabir itu tersingkap dari hadapannya—Nilou terlampau takjub dengan kota.

Detak jantung kota itu seperti sampai pada dirinya; tak habis-habis, dan ia tak pernah merasa sehidup ini.

Notes:

genshin impact © hoyoverse.
penulis tidak mengambil keuntungan komersial apapun dari pembuatan cerita ini. cerita ini adalah murni fiksional, tidak ada kaitannya dengan orang-orang di dunia nyata—jika terjadi persamaan maka hal itu adalah hal yang tidak disengaja.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Keramaian itu tampak hidup sekali. Mereka yang mengambil air saling bercanda, tertawa saat bercengkerama, saling memikul beban kendi yang jadi tak terlihat berat karena mereka melakukannya bersama-sama. Mata air itu tidak hanya menghidupi seisi kota, tetapi mereka yang memiliki ternak juga menggiring ternaknya ke sini, menggembalakannya di sisi yang agak jauh. Para gadis bahu-membahu membawa kendi, pemuda-pemuda datang membantu mereka, bertukar senyum dan saling melempar tawa.

Kedua pelayannya masih belum terlihat. Terakhir kali, Nilou melihat mereka berada di belakang kerumunan para gadis yang berebut untuk mengambil dari sumber utama kucuran airnya. Konon, mata air ini bertuah, bisa mengabulkan harapan. Seorang pendeta yang membawa kabar tersebut, setelah dia berhasil mengobati seorang pengikutnya yang sakit parah hingga nyaris mati. Semua orang pun berbondong-bondong datang ke sana—yang memperlihatkan bagi Nilou bahwa manusia di mana-mana rupanya sama saja. Di kampung halamannya, nun jauh di utara, mereka juga punya kebiasaan menggandrungi apapun yang katanya bertuah dan ajaib.

Namun Nilou datang bukan untuk alasan itu—walaupun jika memang ada tuahnya, maka lebih bagus—ia hanya menggunakannya sebagai dalih. Tanpa alasan yang cukup kuat, tidak akan mungkin ia diizinkan keluar.

Lama sekali ia menanti. Kedua pelayan masih tenggelam di kerumunan. Berkali-kali ia mengintip dari balik tabir, memicingkan mata, melawan sinar matahari yang sangat menyilaukan, dan mengipasi dirinya sendiri di dalam kereta itu, mereka belum juga berhasil mendapatkan satu kendi. Rasanya ia ingin sekali melelapkan diri, tak ada yang bisa ia lakukan di balik kerangkeng kain yang sebenarnya mudah sekali ditembus ini. Seringkali, Nilou membayangkan ia menjadi seperti orang-orang yang berkerumun itu—baju mereka tak pernah istimewa, rumah mereka tak mewah, tetapi mereka bebas melakukan apa saja tanpa terhalang tabir. Mereka bebas berjalan di mana saja: gunung, bukit, sungai, lembah, gurun, bahkan mungkin pantai—tempat yang dirasa Nilou hanya ada di dalam dongeng-dongeng.

Kedua pelayannya akhirnya terlihat keluar dari kerumunan saat matahari berada di puncak langit; tertatih-tatih membawa kendi yang berat. Nilou melihat mereka seperti titik kecil yang mencolok karena warna pakaian mereka yang cerah, kontras dengan kain-kain yang dikenakan oleh rakyat yang berkerumun. Air menciprat-ciprat dari mulut kendi, mereka berusaha menyeruak antrean yang mulai kacau karena orang-orang gusar akibat panas dan kerumunan seolah tak juga berkurang.

Kejadian itu begitu cepat, keributan terpantik menjadi rusuh. Orang-orang yang berada di sana terpancing, ajang tinju membuat lautan manusia menjadi gelombang badai. Kedua pelayannya berusaha untuk berlari, tetapi kendi yang berat menyulutkan mereka. Seseorang menyenggol dari belakang, dan pecahlah kendi itu. Nilou membelalak panik, hampir saja refleks melompat dari kereta untuk menyelamatkan mereka jika bukan karena dua penjaga yang dengan sigap mengangkat kereta usungnya. Kedua pelayannya tak kalah panik, meratapi kendi yang pecah berkeping-keping, dan keributan semakin meluas—sampai akhirnya seorang pemuda menyeruak dari sisi yang sebelumnya sepi, hanya dalam sekali hentakan tombak panjangnya dia berhasil membuat semua orang diam.

Penampilannya tidak seperti warga biasa, pakaiannya berwarna dan bersimbol, serta memakai penutup kepala yang setahu Nilou hanya dipakai oleh tokoh-tokoh tertentu. Dia pun berbicara, sayup-sayup terdengar dari tempat Nilou berada. Ia tidak bisa mengartikannya dengan baik, ia hanya baru bisa beberapa kata dasar dari tempat pendudukan yang baru ini. Segera saja, kerumunan itu pun bubar teratur, saling menunjuk untuk mengatur barisan di sepanjang mata air. Pemuda itu menunggu, menyaksikan mereka kembali dengan susunan yang lebih baik.

Pemuda itu pun menoleh ke arah pelayan-pelayan Nilou. Keduanya menunduk takut, tetapi pemuda itu kemudian bergumam, Nilou tak bisa membaca gerakan bibirnya. Dia hanya menunjuk tanah tempat dia berdiri, lalu pergi ke arah dia pertama kali menyeruak. Tak lama kemudian dia pun kembali dengan sebuah kendi besar, dan menyerahkannya pada keduanya. Dia tidak menerima tolakan, kedua pelayan Nilou pun membawa kendi itu dengan takut-takut kembali ke kereta usung tempat Nilou berada.

Mata mereka bertemu untuk sesaat, dan Nilou pun buru-buru menutup tabir karena merasa gugup.

 


 

Pria itu bukan orang biasa, persis seperti dugaan Nilou. Dia berada di barisan kedua dari orang-orang Kemet yang dihadiahi oleh Raja dari pihak Nilou malam itu; penghargaan yang diberikan kepada pihak Kemet yang berpihak pada mereka. Di sisinya, ada seorang yang berpakaian mirip, Nilou menyimpulkan bahwa pangkat mereka kurang lebih sama.

Mereka, orang-orang Kemet yang berpihak pada Parsa, diberi permata-permata yang indah, kain berwarna yang berharga, serta senjata-senjata buatan para penempa andalan Parsa. Setelah hadiah-hadiah diberikan, mereka juga mendiskusikan sistem pertahanan, penjagaan Kota Men-nefer setelah penyerangan dan perebutan kekuasaan. Nilou tidak beranjak dari sisi tabir, mengamati pemuda itu yang kerap kali berbicara dengan penerjemah mereka, sesekali mengangguk atas kalimat-kalimat dari penguasa Parsa sebelum diterjemahkan.

“Anda mengamati dia lagi?” salah satu pelayan yang telah bersamanya sejak ia kecil berbisik padanya. Ia baru saja membawakan sekeranjang buah untuk camilan Nilou yang tidak ingin beranjak sama sekali dari sana sejak kedatangan delegasi itu sebelum petang. “Dia yang memberikan kita kendi baru?”

Nilou mengangguk serius. Ia menyingkap tabir lebih lebar, memberikan ruang untuk pelayannya melihat ke arah ruang pertemuan. “Berarti benar, dia adalah jenderal di negara ini.”

“Apakah saya perlu mencari tahu untuk Anda?”

“Aku akan bertanya pada Ayahanda. Tapi jika kau mendapatkan informasi lain dari bisikan-bisikan mereka di dapur, segera katakan saja padaku.”

“Tentu saja, Yang Mulia.” Pelayan tersebut pun bersembunyi dari celah tabir yang dibukakan Nilou. “Sangat tepat untuk Anda, dan sedari awal dia sudah memperlihatkan kesetiaannya pada kita. Sungguh sepadan.”

Nilou tersenyum malu-malu. Ia masih membuat ruang tipis di tabir yang memisahkan ruang utama dengan ruang utama para putri itu, mengamati ruangan pertemuan yang masih diisi oleh diskusi intens tersebut. Lalu, seakan-akan mendengar suara hatinya, jenderal muda itu pun menoleh ke arah tabir tersebut, mata tajamnya langsung menemukan celahnya dan mata Nilou yang mengintip penasaran. Nilou terkesiap; mata panah langsung mengenai targetnya. Ia mematung, tergugu, sampai kemudian pemuda itu mengangguk ke arahnya walaupun tidak ada senyuman di wajahnya.

Lalu, dengan keberanian yang seketika saja naik ke ubun-ubunnya, Nilou pun balas mengangguk, lantas menyunggingkan senyum.

(Ia pun menutup tabir lagi. Oh indahnya jika ia bisa keluar begitu saja dan menatap dari dekat—)

 


 

Utusan Kemet rutin datang ke istana untuk bermacam-macam tujuan. Terkadang mereka membawa laporan, terkadang mereka berdiskusi, kali lainnya mereka belajar di ruang terbuka di luar bersama para penerjemah dari Parsa. Tidak selalu pemuda itu ikut berkunjung, memberi ruang dan waktu untuk Nilou mengumpulkan keberanian dan memupuk kerinduan. Setiap kali ada perwakilan atau delegasi yang dikabarkan datang, ia selalu menunggu di balik tabir atau menuju balkon, mengamati satu per satu anggota iring-iringan sebelum memutuskan apakah ia perlu mengintip atau tidak.

Sampai suatu ketika, ia memutuskan untuk melihat dari tabir yang lebih dekat malam itu, ketika jamuan besar-besaran diadakan oleh seorang petinggi yang baru saja datang dari Parsa.

“Anda pasti menarik perhatiannya, Yang Mulia,” pelayannya memberikan sentuhan terakhir pada hiasan kepalanya: sebuah mahkota kecil dari emas dan permata yang berkilauan. Ia juga membetulkan letak kain yang menutupi wajah Nilou dari bagian bawah matanya, dan ia mundur sedikit untuk memastikan bahwa tak ada cela dari penampilan Nilou. “Anda cantik sekali.”

Nilou meyakinkan dirinya sambil mematut diri di cermin. Ia membayangkan mata gelap pemuda itu dan tatapannya yang tajam, sungguh-sungguh seperti seorang jenderal yang teliti dan awas, berikut dengan ekspresinya yang dingin. Memikirkannya saja jantungnya sudah berdebar.

Hiburan tari-tarian adalah bagian yang sangat dinanti dari perjamuan. Para penari menghibur tamu-tamu yang sudah setengah mabuk, tak sedikit di antara mereka yang meminta penari-penari itu ke kamar mereka setelah acara usai. Terkadang, beberapa anak bangsawan yang pandai menari juga berada di sana, menghibur orang-orang yang khusus atau yang mereka incar. Bagian tengah ruangan sengaja dikosongkan sebagai panggung—tempat Nilou berada di sana malam itu, menari di tengah-tengah sebagai pusat perhatian, dikelilingi oleh para penari lain. Ia sudah mempelajari tari-tarian sejak kecil, satu-satunya hal yang menarik untuknya karena hanya itulah caranya menghibur diri di balik tembok istana.

Musik semakin nyaring dan meriah seiring puncak tarian. Penari-penari pengiringnya mulai mendekati para pria mabuk, penjaga-penjaga dan prajurit-prajurit yang berada di tepi lingkaran, para pegawai rendahan yang mulai kehilangan kendali atas diri mereka sendiri. Para bangsawan sendiri, yang berada di kumpulan lingkaran yang berbeda, masih menjaga diri mereka, duduk tegak tanpa gentar. Namun mata mereka jelalatan, mencari penari yang bisa mereka ajak bermalam. Nilou tidak peduli, ia hanya berusaha mengimpresi satu orang.

Dia duduk tenang, hampir-hampir tak menyentuh gelasnya selama Nilou memperhatikannya. Matanya bergerak ke beberapa penari lain, tetapi lebih sering ke arah Nilou. Setiap kali Nilou menyadari pandangannya, Nilou versi terbaik dirinya: gerakan yang indah yang esensinya dipersembahkan kepada dewa-dewi, mewakili kecantikan bunga-bunga dan kesuburan alam Parsa. Di balik cadarnya, Nilou tersenyum, riang tetapi pedih. Bagaimanapun ia tersenyum, pria itu tidak bisa melihatnya. Ia tidak bisa menunjukkan dirinya sepenuhnya, sebesar apapun keinginannya ataupun seindah apapun tariannya.

Pemuda itu memandanginya begitu lama, hingga akhir tarian. Namun, tidak ada inisiatif apapun setelahnya. Dia bergeming seperti patung, bahkan hingga Nilou dan rekan-rekan penarinya undur diri.

Tidak ada sepatah kata pun.

Bagi Nilou, pandangan sekarang tidak akan cukup.

 


 

Kali berikutnya perjamuan diadakan, Nilou tetap berada di kamarnya. Beberapa pelayan menyampaikan pesan dari bawah secara bergantian, bahwa kedatangannya dinantikan oleh penari-penari lainnya. Berkata bahwa mereka senang sekali dengan perhatian saat terakhir kali Nilou turut menari, dan suasana menjadi lebih meriah ketika sang putri turut serta. Namun ia tetap tidak ingin melakukannya—hanya kepada satu pelayan yang paling dipercayainya dia berkata bahwa tarian paling indah pun tidak akan bisa menarik perhatian sang jenderal muda itu. Mungkin ada cara lain, tetapi tidak malam ini. Mungkin ia bisa meminta seseorang untuk menyampaikan pesan, tetapi apakah mungkin dia akan menerima? Mungkin dia telah membawa satu orang penari malam itu, dan melupakan penari utamanya.

Nilou pergi ke balkon kamarnya, yang menghadap ke bagian belakang istana. Angin semilir malam itu membuatnya mengantuk, menggiringnya kepada ruang-ruang imajinasi. Seandainya saja ia berani dan nekat menyapa pemuda itu saat penampilan menarinya, seandainya ia mengirim seseorang untuk menyampaikan niatnya berkenalan, apa yang akan terjadi setelahnya? Mungkinkah mereka bisa bicara? Mungkinkah mereka bisa—

Bahkan ia bisa melihat sosok itu di depan matanya; di bawah sana, berjalan sendirian di taman belakang istana, menuju gerbang. Menghindari perjamuan, melarikan diri. Apakah tidak ada penari yang menarik hatinya? Apakah dunia bebas di luar sana lebih menyenangkan untuknya?

Ah, betapa dunia luar sangat menyenangkan. Bagaimana jika ….

Nilou menghilang dari balkon tak lama kemudian.

 


 

Ia sudah sering mengunjungi dan melihat kota ini sejak kedatangannya—tetapi melihatnya dari balik tabir terasa sangat berbeda. Ia melepaskan tudungnya, mengamati penerangan jalan yang berpendar dari area gerbang belakang istana, mengular memandunya menuju keramaian terdekat. Pasar Besar sangat semarak, masih dipenuhi oleh pengunjung meski telah beranjak tengah malam. Musik dan tari-tarian terdengar dari sudut-sudut yang berbeda, pedagang meneriakkan harga-harga, pertunjukan kecil di sekeliling lorong—semua terasa hidup dan mempesona. Tidak sama sekali sama dengan pertunjukan di dalam istana, maupun saat ia melihat keramaian dan kerumunan dari balik tabir kereta usung. Hidup dan menghidupkan—beginikah esensi kota dan seisinya saat bisa ia sentuh dengan tangannya sendiri? Hidup, karena semua terasa nyata di depan matanya. Menghidupkan, karena, coba lihatlah berapa banyak orang yang bisa makan dan bertahan karena terus bergerak di dalam kota? Air matanya nyaris merebak merasakan keindahan dan penyadarannya. Ia menyentuh barang dagangan, mengamati pertunjukan, dan melihat cara orang memasak di pinggir lorong pasar dan kerumunan lapar yang sama antusiasnya dengan dirinya. Ia bahkan telah lupa dengan tujuannya datang ke sini, lupa dengan seorang pemuda yang mengasingkan diri dari perjamuan dan berjalan ke arah sini—yang sebelum ini dikejarnya dan berusaha dia cari tahu. Rasa takjubnya membuatnya merasa menjadi bagian dari kota ini, bagian dari keramaian yang semarak dan tak pernah terjadi di dalam tembok istana yang penuh dengan aturan ketat dan larangan itu. Di sini pria dan wanita bebas berbicara, bebas bertukar tawa, dan mereka tak memandang satu sama lain berbeda.

Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga ia tak menyadari keributan-keributan kecil yang mulai terdengar, kasak-kusuk yang kemudian disusul oleh orang-orang yang berlari waspada, setengah ketakutan. Ada prajurit! Prajurit! Banyak sekali! Mereka membawa senjata!

Nilou baru menyadarinya ketika ada lebih banyak orang yang berlarian di sekitarnya, ia pun sontak turut berlari walaupun kebingungan.

Prajurit! Prajurit! Mereka mencari Bangsawan—

Nilou terjebak di lorong buntu. Ia berlari keluar ketika melihat bayang-bayang dari dalam kegelapan lorong, dan ia pun kembali ke dalam pasar yang ribut. Menembus keramaian yang berusaha mencari tahu, mencari jalan keluar. Ia bahkan sudah lupa dari arah mana ia masuk. Apa yang dilakukan prajurit-prajurit itu di sini? Apakah mereka musuh? Atau bagian dari pemberontak yang tidak senang dengan kedatangan orang-orang Parsa? Nilou berlari tak tentu arah, terus melangkah ketika ada celah, sampai akhirnya ia menabrak seseorang.

“Maaf!” semburnya, melangkah mundur dengan sempoyongan. Matanya membeliak, menghadapi tatapan dingin dan tajam itu.

“Jadi kau di sini,” ucap pemuda itu patah-patah, dengan bahasa milik Nilou dan bangsanya, dengan dialek milik mereka yang khas. “Mereka mencarimu.”

“Siapa? Siapa yang mencariku?” Barulah penyadaran itu menampar Nilou di dalam kepalanya sendiri: ia yang kabur dari istana. Seseorang pasti telah menyadarinya. Napasnya tercekat—ia tidak pernah mendengar hukuman tentang putri-putri yang kabur, tetapi di situlah masalahnya. Tidak pernah terjadi sebelumnya, bagaimana jika konsekuensinya melebihi apa yang ditakutkannya? Perintah apa yang diturunkan kepada para prajurit itu hingga mereka bisa membuat keramaian yang tak seharusnya?

Seolah-olah mengerti ketakutannya, pemuda itu pun menaikkan tudung jubah Nilou. “Ikut aku saja.” Dia merangkul pundak Nilou, membawanya menjauh.

Nilou menciut di dekapannya. Detak jantungnya terasa lebih besar daripada tubuhnya, tangan sang jenderal yang merangkul lengannya terasa panas untuk tubuh Nilou yang gemetaran. Langkahnya tegap dan tertata, seperti yang diharapkan dari seorang prajurit terdepan. Dia membawa Nilou keluar dari pasar melalui jalan yang cukup familier—yang mengarah kembali ke komplek istana. Namun dia mengajaknya melalui jalan memutar, melalui gerbang depan dan menghindari alur pengejaran.

Penjaga gerbang memberinya jalan, dan dia langsung menuju ke aula tempat Raja menunggu. Senyap sekali di sana, tak ada kehidupan yang semarak seperti di luar sana. Tidak ada lagi hidangan dan minum-minuman, walaupun jejaknya masih tersisa—bekas-bekas makanan dan wadahnya yang belum sempat dibereskan sepenuhnya karena kepanikan mendadak membubarkan kesenangan itu. Penerjemah pun maju, mengartikan kesaksian sang jenderal kalimat demi kalimat.

Saya menemukannya. Tersesat karena melihat-lihat teratai yang begitu indah di halaman belakang. Tidak jauh, tenang saja. Saya bersaksi dia aman dan tak seorang pun melukainya.

Dia pun melepaskan Nilou, lalu Nilou merasakan kekosongan paling aneh yang pernah ia rasakan dalam hidupnya. Ia memandangi sang jenderal sampai dia menghilang setelah berpamitan, dan aula itu terasa mati seolah-olah tak pernah ada jamuan meriah yang memabukkan, yang kenyataannya belum terlalu lama berlalu.

 


 

Nilou mengenang rangkulan itu dalam kerinduan yang mendalam. Tangan yang hangat itu kontras dengan tatapan dinginnya. Setelah melihatnya begitu dekat, ia sadar ukuran tubuh mereka tidak berbeda jauh, tetapi ketika merasakannya, jenderal itu terasa jauh lebih besar melingkupinya. Seperti pungguk yang sendu, ia menatap bulan sambil mengulang-ulang cerita di dalam kepalanya. Pemuda itu berada di suatu tempat di kota ini, entah di dalam ruang kantornya, kamar tidurnya, atau mungkin di dalam pasar yang ramai—Nilou iri memikirkannya—rasanya begitu dekat sekaligus begitu jauh.

 


 

Pada suatu malam, dengan kerinduan yang masih menyaingi hari sebelumnya, Nilou menikmati angin di balkonnya. Istana agak sepi, hanya beberapa utusan yang datang dan pergi bergantian sejak petang.

Namun, sosok tubuh yang datang dari gerbang itu bisa dikenalinya karena insting. Firasat hati yang sedang terpikat terkadang lebih kuat—dan meski jauh dan berada di bawah bayang-bayang awan yang menutupi rembulan, Nilou tahu itu adalah sang jenderal. Lalu, seolah-olah terpanggil, jenderal tersebut pun berhenti dan mendongak. Dengan sungkan-sungkan, Nilou mengangkat tangannya, melambaikan tangan pelan-pelan. Jenderal itu mengangguk. Hati Nilou membesar melebihi rongga dadanya. Jenderal bergeming selama beberapa saat, kemudian menghilang di dalam kegelapan lagi.

Jika Nilou rasa itu cukup, takdir berkata belum. Saat Nilou masih berusaha meredakan debar jantungnya yang tak karuan, siluet bergerak dari bawah, kemudian atap, dan mendarat di sudut lain balkonnya. Nilou kaget setengah mati, nyaris memekik jika tidak melihat sosok sesungguhnya.

Pria itu hanya mengedikkan bahunya. Nilou perlu beberapa waktu sebelum bisa menenangkan diri dan memilih kata-kata yang tepat. “Anda ….”

“Kau ingin ke sana?” dia membuat isyarat dengan ibu jari yang menunjuk ke balik bahunya—yang mengarah ke gerbang belakang istana, yang dipahami Nilou dengan mudah.

Tanpa berpikir panjang, Nilou mengangguk. Ia bergegas ke dalam, mengambil jubahnya, lalu kembali pada sang jenderal.

Jenderal itu mengucap kata maaf yang paling sopan dalam bahasa bangsa Nilou, kemudian mengangkat tubuhnya, membawanya turun dengan ringannya sambil menggendongnya—dia menjadi seorang jenderal tangguh yang telah menaklukkan negeri musuh bukan tanpa alasan.

Lalu, seisi kota terbuka untuk Nilou.

 


 

Merasakan kembali kehidupan itu di ujung jarinya, menghidu aroma masakan-masakan yang tak pernah ia lihat di dalam istana, menyaksikan pertunjukan yang lebih lucu daripada penyair satir istana, Nilou tidak pernah merasa sehidup ini. Seolah dahaga yang baru saja terpuaskan, ia mereguk tidak habis-habisnya. Seluruh pasar dijelajahinya, disentuhnya kain-kain yang dijual oleh para pedagang yang lihai berbicara, direkamnya seluruhnya dalam ingatan.

Kota adalah denyut sesungguhnya sebuah bangsa, pikir Nilou, dan meninggalkan seluruh istana dari perhitungannya. Istana dan isinya hanyalah kepala yang mengatur, tetapi jiwa, jantung, serta detaknya, semua terletak di dalam kebisingan kota. Gendang ditabuh, seruling dimainkan untuk musik muda-mudi, ini hanya Pasar Besar tetapi Nilou menemukan seluruh keindahan yang ia butuhkan di sini.

Sang jenderal tidak pernah pergi dari sisinya, terus berada dalam jarak yang membuat Nilou dapat merasakan kehangatannya, hingga mengantarkannya pulang kembali ke balkonnya.

“Apa kita bisa pergi lagi lain kali?”

“Saya akan membawa Anda pada dunia, Yang Mulia.” Jenderal itu menunduk takzim. “Dengan izin mereka atau tanpa izin mereka, karena Anda pantas mendapatkannya.”

Detak jantung kota itu seperti sampai pada dirinya; tak habis-habis, dan ia tak pernah merasa sehidup ini.

Notes:

a/n: karya ini memang fiksi, tapi aku berusaha membuatnya sedekat mungkin dengan realita memakai setting historis pendudukan kekaisaran persia (era akhemeniyah) di mesir (referensi dari artikel ensiklopedia ini). setting cerita terletak di kota men-nefer, yang sekarang dikenal dengan nama kota memphis.

Series this work belongs to: