Work Text:
Sial, pikir Kaeya. Tangannya secara naluriah meraba saku kanannya, tetapi tidak menemukan apa-apa. Penyadaran baru datang beberapa detik setelahnya: dia membuang senjatanya di perjalanan menuju tempat ini. Kontak dengan musuh, kehabisan peluru, dan peluru musuh mengenai senjatanya. Sepersekian sentimeter dari tangannya, bahkan jantungnya, keberuntungannya yang masih tersisa pun dihabiskan di pertemuan itu. Dia segera membuangnya dan menghilang di kegelapan.
Lalu, tibalah di bunker ini. Ruang dengan kode #302 di sisi barat laut Rhein, sebuah rumah milik seniman yang sudah ditinggalkan sejak 1943, yang memiliki ruang bawah tanah di dekat tangga menuju lantai dua, tepat di bawah ubin kesembilan dari kiri. Dia merasa bangga bisa tiba sendirian, selamat, sampai setengah jam kemudian dia mendengar derak yang aneh dari sisi lain bunker.
Sialan, umpat Kaeya lagi. Dia tidak punya apa-apa untuk mempertahankan diri, sementara sosok di hadapannya tersebut mulai bergerak mendekat. Lampu yang sekarat di atas kepalanya berkedip-kedip menyedihkan, hanya memberikan sedikit petunjuk tentang siapa penyerang (atau malah tuan rumah karena dialah penyerangnya?) yang muncul di hadapannya. Wanita, batin Kaeya. Matanya memicing waspada. Dan memegang senjata sungguhan. Moncong pistol mengarah lurus ke dadanya.
Seharusnya tidak ada yang mengetahui tempat ini kecuali kurang lebih dua puluh sembilan orang yang bergerak di bawah nama yang sama. Kemungkinannya hanya dua, kalau bukan orang yang berhasil membunuh rekannya yang sedang mencari suaka terakhir, maka—
—Kaeya pun menghabiskan sisa peruntungannya,
“Merah.”
Wanita itu bergeming.
“Sembilan.”
Ia semakin mendekat. Kaeya mulai bisa mengenali fitur wajahnya yang dingin dan pucat. Rambutnya hampir menutupi matanya, semerah anggur burgundy yang sangat dirindukannya (oh kapan terakhir kali dia bisa menikmati anggur dalam kedamaian?), pipinya agak tirus dengan mata yang cekung. Paling tidak, ia sudah berada di sini dua hari. Suaranya gemetar ketika ia mengucapkan kata pertamanya, “Rubah.”
“Iri Dengki.”
Wanita itu menambahkan lagi, “Empat belas.” Pistolnya mulai agak turun.
Kaeya melengkapi, “Pagar.”
Pistol itu sekarang tidak lagi mengincar nyawanya. “Kereta Kuda.”
Ada dua puluh sembilan orang anggota tim yang tersebar di seluruh Jerman. Namun mereka hanya mengenal atasan mereka sendiri, informasi hanya bisa ditukarkan di titik-titik vital yang sudah dihafal di seantero Jerman dengan serangkaian kata kunci yang baku. Mereka bisa mengenal anggota lain hanya jika diperkenalkan secara khusus. Tidak ada kooperasi dan jejaring yang terhubung karena pergerakan seperti itu mudah tercium; banyak sekali gerakan resistensi yang binasa karena mereka berusaha membesarkan diri.
Kaeya melirik, wanita itu sedang menatap dirinya yang sedang mengeluarkan ransum terakhir dari rompinya. Sekaleng ikan yang menyedihkan, yang sekarang harus dibagi dua. Kaeya pun membuka kaleng itu, hanya menggulung tutupnya seperempat. Dia hanya mengambil secubit, kemudian menyodorkan kaleng itu ke tengah-tengah, ke antara mereka berdua.
“Di mana saja kau bergerak?”
“Köln,” jawabnya, sembari mengambil kaleng tersebut. Ia juga hanya mengambil secubit, kemudian menutupnya kembali.
Kaeya mengangguk satu kali. “Aku bukan atasanmu. Kau simpan saja informasimu.”
“Kelompok 207 akan menyerahkan kota ini …,” ia tampak berpikir sebentar sembari memejamkan mata, “hari ini.”
“Kenapa kau mengatakannya padaku?”
“Kita satu tim. Lagipula, informasi yang Sekutu butuhkan dari kita barangkali akan sia-sia jika Kelompok 207 berhasil dengan negosiasinya.”
Kaeya memandang kaleng ikan dengan perut keroncongan. Terakhir kali dia makan adalah kemarin siang, sekerat roti nyaris basi tanpa rasa. Seperti ampas. Wanita itu memandang matanya, masihkah tersisa harapan di sana? Bagian bawah matanya berbayang-bayang hitam. Negosiasi. Mereka membawa informasi yang sama, walaupun samar-samar. Dia hanya mengutip dari informannya bahwa pihak yang berwenang tidak ingin lagi ada peperangan di sini, sehingga penyerahan diri diusahakan sedamai mungkin. Namun pihak mana yang ingin menginisiasi, atau maju bernegosiasi kepada Sekutu, dia belum berhasil memancing informasi itu keluar. Rencananya dia akan mengusahakan hal itu untuk dilaporkan kepada atasannya di Markas Utama, tetapi dia terjebak situasi dan harus berlindung di sini.
16 April, Kaeya mengingat-ingat tanggal hari ini. Sudah seminggu lebih dia bergerak ke arah Barat, semakin dekat dengan orang-orang yang bekerja sama dengannya, orang-orang yang seharusnya menjadi pembebas mereka. Perempuan itu mengerling ke arahnya. “Kau berasal dari mana?”
“Suatu tempat di daerah utara.”
Wanita itu tidak menanggapi untuk beberapa saat. “Lantas kenapa kau bekerja untuk negara ini?”
“Orangtua angkatku berasal dari Lübeck,” tanggapnya tanpa elaborasi. Perempuan itu tidak akan butuh informasi itu. Kaeya juga tidak mengerti mengapa dia dengan begitu mudahnya membuka masa lalunya untuk seseorang yang baru bertemu dengannya. “Kau?” dia mengedikkan dagu ke arah wanita itu, meminta pertukaran. Tidak ada yang gratis, pun di dunia bawah tanah seperti mereka. “Dari mana asalmu?”
“Kota ini,” jawabnya dengan ringan.
Tidak apa, pikir Kaeya. Tidak ada satupun dari mereka yang tahu apakah mereka memberikan informasi diri yang benar. Kaeya pun menyandarkan kepalanya di dinding. Ada getaran yang terasa di tanah. Entah sisi mana lagi yang dibom.
“Karena Sekutu akan mengebom kota besar-besaran pada 17 April, mendesak pertahanan kota untuk menyerah.”
Mata Kaeya membelalak.
“Mereka ingin membumihanguskannya. Taktik yang dianggap paling berhasil.”
“Ah,” Kaeya menyugar rambutnya frustrasi. “Dengan begitu, mereka akan lebih mudah maju ke timur, kan?”
“Tidak ada yang bisa dipertahankan lagi.”
Kaeya menghela napas. Memang tidak ada harapan—dia sudah melihatnya sejak awal tahun. Namun, berapa kota lagi yang akan menjadi mati dan bahkan mungkin menjadi tawanan untuk memenangkan perang ini? Berapa manusia lagi yang harus menjadi korban, lenyap dari sejarah, terlupakan begitu saja karena hanya dianggap sebagai angka? Dia tahu dia tidak bisa melakukan apa-apa dengan tangannya, tangannya hanya ada dua, lemah dan terluka, dan dia juga bukan orang yang bisa bertarung untuk mengubah arah perang, memegang tongkat komando untuk membuat perubahan yang menguntungkan orang banyak.
Keheningan menjeda mereka sekian lama, sampai-sampai Kaeya mengira wanita itu sedang tidur karena memejamkan matanya dan bergeming. Dia berusaha menerka waktu—barangkali sekarang sudah dekat tengah malam. 16 April, dia mengingat-ingat lagi.
17 April mereka ingin membumihanguskan kota.
Kaeya tersentak. Penyerangan habis-habisan, terlebih yang ditargetkan akan melumpuhkan kota, pasti akan dilakukan pada tengah malam buta. Dentang jam seakan-akan berbunyi di dalam kepalanya, hitung mundur menuju hukuman mati.
Mata wanita itu juga membelalak tajam. Mereka saling bertatapan dengan tegang, menunggu eksekusi. Detik demi detik berlalu dengan kesepahaman dan harapan yang sama: kota ini akan binasa dalam matinya, kemudian akankah bunker ini masih mampu menyelamatkan mereka?
Kaeya tidak tahu seberapa lama waktu telah berlalu dengan mereka yang sama-sama menatap dalam ketegangan. Kota masih senyap, tidak ada getaran, tidak ada bunyi alarm yang menegangkan. Seakan-akan memang sudah mati, dan para perebut pun tidak menginginkannya lagi.
Lalu, Kaeya merasa harus mengalah pada dirinya sendiri. Kapan terakhir kali dia tidur?
“Matamu,” adalah kata pertama yang dia dengar dari wanita itu saat dia tersadar. Mereka masih dalam posisi yang sama—dan dia terbangun karena alasan yang alami dan bukan karena alarm peringatan atau getaran ledakan. Kaeya pun meraba mata kanannya, terkadang dia masih merasakan sesuatu di sana seolah-olah matanya masih utuh dan bisa mengerjap sempurna.
Kaeya pun mengangguk. “1939.”
“Keluargamu selamat?”
“Mereka mengungsi.”
“Tapi kau tetap tinggal?”
“Mereka pulang ke kota asal mereka. Aku,” dia menggeleng, “bukan bagian dari sana.”
Perempuan itu mengangguk-angguk mafhum.
“Kau?”
“Aku bekerja di panti asuhan tempat aku dibesarkan. Mereka membawa sebagian besar anak-anak di panti ke kamp.”
“Dan kau melarikan diri?”
“Mereka memisahkanku dan menuju kamp berbeda. Aku kabur dan ditemukan oleh atasanku.”
Detik demi detik berlalu lagi dengan kekosongan dan ketegangan. Kaeya masih menunggu.
“Tidak ada apa-apa,” perempuan itu akhirnya berdiri, berjalan menuju pintu tempat mereka hampir saling bunuh beberapa jam sebelumnya.
“Mungkin mereka menunggu pagi.”
Ia menghilang di kegelapan. Kemudian, kembali lagi dari pintu tersebut. “Pukul empat.”
Kaeya menyandarkan kepalanya lagi. “Kita tunggu saja.”
Kaeya menghitung waktu tanpa melakukan apa-apa. Dia memejamkan mata tetapi tidak tertidur, dan perempuan itu juga bergeming di posisinya semula. Hingga waktunya matahari mungkin sudah terbit sesuai perkiraan Kaeya, dia pun beranjak.
“Aku ingin melihat keadaan.”
Perempuan itu juga bangkit tanpa diminta. Ia mengikuti Kaeya, diam membisu, dan Kaeya sengaja membiarkannya satu-dua langkah di belakangnya. Menunggu mungkinkah ada yang terjadi di detik-detik rawan; misalnya moncong pistol yang menempel di punggungnya, atau tiba-tiba saja peluru sudah melubangi punggungnya?
Sinar matahari yang pucat membuatnya refleks memicingkan mata. Dari jendela rumah tersebut, kota tampak bisu, tidak ada pengeboman atau bangunan yang baru saja dihancurkan. Düsseldorf terbangun di pagi hari seperti belakangan ini; masih berdarah, babak-belur dan berabu di mana-mana. Kaeya perlahan keluar dari pintu, dan perempuan itu menyeimbangkan langkahnya, melewati jalan demi jalan yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang hancur. Kota itu bagai kota mati, langit musim semi sendu dan sedikit kelabu. Tidak ada seorang pun orang yang berseragam terlihat berpatroli, suasana sunyi itu sedikit menegangkan.
“Jalan ke sana,” wanita itu menunjuk ke arah kiri dari jalan tempat mereka berada, “adalah jalan menuju pantiku.”
Kaeya menatap wanita itu sesaat sebelum bertanya, “Kau mau ke sana?”
Ia menatap ke jalan tersebut untuk beberapa saat, sebelum menoleh pada Kaeya seakan-akan meminta persetujuan. Kaeya secara naluriah mengangguk, dan mereka pun mengubah rute mereka yang sebelumnya pun tanpa rencana.
Jalan semakin mengecil, tetapi keadaan masih kurang lebih sama. Bangunan yang ditinggalkan, atau berusaha diperbaiki ala kadarnya dan ditinggali dengan pengamanan tak seberapa pada pintu-pintunya. Embusan angin membawa abu, harapan yang mati. Wanita itu berhenti di depan sebuah rumah yang tak lagi berbentuk, tak ada sedikit pun jejak yang menerangkan masa lalu rumah itu kecuali tatapan sendu wanita itu yang mengatakan segalanya tentang kesedihan.
“Di sini?” Kaeya berbisik.
Wanita itu hanya mengangguk. Kaeya melempar pandangan ke reruntuhan, dan, seolah-olah sedang menghadiri pemakaman, dia membisikkan doa. Tentang harapan-harapan yang semoga saja bisa tersambung kembali, kebahagiaan yang akan kembali datang, dan bagi mereka yang sudah beristirahat, semoga mereka tenang dan mendapatkan kebahagiaan lebih daripada kebahagiaan yang paling indah yang pernah mereka dapatkan di kehidupan ini.
Dia menunggu; wanita itu juga masih berdoa, menangkupkan tangannya di depan dada dengan khidmat.
Mereka kembali ke jalan utama dalam keheningan, menemukan orang-orang berseragam Sekutu sedang berkeliling.
Kemudian, salah satu dari mereka muncul dari belakang, menepuk bahu Kaeya, membuatnya refleks untuk hampir saja menarik tangan itu dan membantingnya, hanya berhenti ketika pria itu berucap,
“Merah.”
Ada serangkaian pembicaraan antara orang-orang penting di Rheinland pada malam hari sebelum tanggal tujuh belas, mencegah rencana serangan bumi hangus itu di menit-menit terakhir. Kota diserahkan secara damai, karena hasil peperangan sudah terlihat sejak musim dingin lalu. Tidak ada gunanya lagi mempertahankan, hanya akan menimbulkan lebih banyak korban.
Sekutu berparade pada tanggal delapan belas, Kaeya menyaksikan dari bayang-bayang di sudut bangunan yang masih berdiri, sisa-sisa harapan yang tidak mati dan bertahan dengan susah-payah. Mereka dibubarkan dalam kesunyian, mata-mata hanyalah orang-orang yang menyelam di kegelapan dan ketika terang tiba, mereka harus menyimpan semuanya seolah-olah petualangan mereka tak pernah terjadi. Keberadaannya sesenyap kebisuan malam. Tidak ada pengakuan, aksi heroik hanya akan dikenang ketika orang-orang sudah lupa akan luka perang. Mereka yang berparade yang menerima terima kasih dan dielu-elukan, dan untuk mereka: berakhir begitu saja.
“Setelah ini, apa?” Perempuan itu tidak beranjak dari sisinya, bahkan setelah mereka keluar dari Markas Utama dan dicabut data-datanya.
Kaeya, masih bersandar pada dinding gedung, menyilangkan tangannya di depan dada. “Ke mana kau akan pergi?”
“Aku akan tetap di sini.”
Kaeya bisa memahaminya. Wanita itu tumbuh di sini, menyaksikan keruntuhannya, dan akan memulai hidup yang baru ketika kota itu tumbuh kembali.
“Kau?”
“Apa yang bisa kulakukan di sini?”
Wanita itu mengernyit. “Kau tidak ingin pulang?”
“Aku tidak punya rumah,” Kaeya tertawa getir. “Tapi kita bisa memulai sesuatu yang baru di manapun, kan?”
Wanita itu menatapnya seperti mereka baru saja mengenal satu sama lain setengah menit yang lalu.
Kaeya pun mengulurkan tangan. “Kaeya Alberich.”
Wanita itu pura-pura mendengus, kemudian balas mengulurkan tangannya, “Rosaria.”
